Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Akhir dari semuanya


__ADS_3

Tatapan yang diberikan oleh Rifki kepada kedua orang itu terlihat sangat mengerikan dan mengintimidasi seseorang yang ditatap dengan tatapan seperti itu, Panji pun mengepalkan kedua tangannya dengan eratnya seakan akan dirinya tidak terima dengan kepergian dari cucunya itu.


"Kalian tidak akan selamat," Ucapnya kepada kedua orang lelaki itu.


Aji dan Anhar langsung bergegas mengangkat senjata yang ada ditangannya itu secara bersama, mereka lalu memasang kuda kuda untuk bersiap siap menerima serangan yang akan dilontarkan oleh Panji menggunakan tubuh Rifki.


Panji pun langsung menyerang kearah keduanya itu dengan serangan yang cukup kuat, hingga keduanya pun langsung terpental begitu saja. Tatapan kedua mata Rifki nampak begitu sangat menajam, seakan akan tengah menyimpan sebuah kemarahan yang cukup besar.


Aji dan Anhar terlihat sangat kewalahan untuk menghadapi Rifki, anak buahnya pun mencoba untuk mengalahkan Rifki akan tetapi mereka sama sekali tidak bisa untuk menyentuh seorang Rifki. Anak buahnya kini melawan inti anggota Gengcobra dan anggota Gengcobra lainnya yang masih tersisa, pertarungan itu terlihat begitu sengit.


Pertarungan itu terlihat sangat mengerikan, seakan akan kedua belah pihak nampak terlihat sangat kuat dan tenaga mereka tidak habisnya. Karena bantuan dari para jin dan setan membuatnya seakan akan tidak mampu untuk merasakan kelelahan sama sekali.


Nadhira yang menyaksikan hal itu nampak gelisah karena menghawatirkan Rifki saat ini, bukan karena Rifki yang dirasuki oleh sosok arwah dari Panji, akan tetapi dirinya lebih menghawatirkan tentang luka yang ada ditubuh Rifki.


"Papa, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Nadhira gelisah kepada Haris.


"Papa juga tidak tau, Nak. Biarkan Rifki yang akan menyelesaikan semuanya dengan segera. Papa tidak tau harus berbuat apa saat ini,"


"Dhira tidak bisa melihat Rifki berjuang sendirian, Pa. Dhira punya permata ini, mungkin saja Papa tau bagaimana caranya untuk menyelamatkan Rifki dari pertarungan itu,"


"Percumah saja, kamu belum bisa mengendalikannya, Nak. Bahkan kamu tidak bisa merasakan energinya selama ini bukan?"


"Lalu Dhira harus bagaimana, Pa? Dhira tidak bisa membiarkan Rifki begitu saja, Dhira takut terjadi sesuatu dengan Rifki."


Nadhira kembali fokus kepada pertarungan tersebut, mereka seakan akan tengah seperti memojokkan posisi Rifki untuk lebih dekat lagi dengan jurang yang berada tidak jauh dari tempat tersebut. Mereka berada disebuah puncak gunung sehingga dikanan dan kiri mereka dipenuhi oleh jurang jurang yang sangat dalam dan tidak mampu diketahui ujungnya melalui tempat tersebut.


Rifki melakukan gerakan yang sangat lincah untuk melawan mereka semua, sama sekali tidak ada keraguan didalam wajahnya. Pertarungan tersebut semakin menegangkan disaat keduanya sama sama terluka dan bahkan Aji dan Anhar memiliki luka yang paling banyak untuk saat ini.


"Tangkap mereka, Pak!"


Tak beberapa lama kemudian, Fajar datang bersama dengan para polisi ketempat itu. Melihat kedatangan tersebut langsung membuat Aji dan Anhar mendorong tubuh Rifki menuju ke jurang, dan saat itu posisi Rifki ternyata sudah berada ditepi jurang.


"Rifki!" Teriak Nadhira.


Nadhira lalu berlari menghampiri Rifki, kesadaran Panji kini tengah beralih kepada Rifki, tubuhnya kini seakan akan melayang diudara dan siap untuk terjun bebas kedasar jurang itu akan tetapi tiba tiba Nadhira berdiri dihadapannya.


"Rifki, kau tidak boleh pergi!" Teriak Nadhira dengan kencangnya.


Nadhira lalu memegangi erat tangan Rifki mengunakan kedua tangannya dengan penuh tenaga, dan menarik tubuh Rifki dengan sekencang mungkin yang ia bisa agar Rifki tidak terjatuh ke jurang itu.


Dengan kesusahan Nadhira tidak mau menyerah begitu saja, ia berusaha untuk membuat Rifki selamat dari bahaya. Akan tetapi pijakan kakinya sedikit meleset karena pasir yang terlihat kurang kuat untuk dipijak.


"Dhira!!!"


"Kau harus selamat, Rif."


Alangkah disayangnya, Nadhira justru yang terjauh dijurang tersebut untuk menggantikan posisi Rifki. Tangan Rifki sudah tidak mampu untuk memegangi tangan Nadhira, Nadhira seakan akan tengah terjun dengan bebas.


Tubuh Nadhira terpental keudara sementara tubuh Rifki langsung kembali kedaratan yang ada ditempat itu, bukan Rifki yang terjatuh akan tetapi justru Nadhira yang telah menggantikan posisinya itu. Melihat itu langsung membuat air mata Rifki menetes begitu saja, ia pun tidak menyangka dengan apa yang terjadi kali ini.


Terlihat sebuah senyuman diwajah Nadhira untuk Rifki yang terakhir kalinya, Rifki pun menjatuhkan tubuhnya diatas tanah sementara tangannya terus berusaha untuk menggapai tangan Nadhira akan tetapi tangan Nadhira sudah tidak mampu untuk digapai lagi.


Nadhira melambaikan tangannya kepada Rifki, ia merasakan bahwa tubuhnya sangat ringan melayang di udara. Nadhira yakin bahwa setelah ini, nyawanya tidak akan tertolong lagi karena jurang tersebut cukup dalam hingga ujung jurang pun tidak mampu terlihat.


Nadhira pun memejamkan kedua matanya, ia memegangi perutnya dan mengusapnya pelan. Sama sekali tidak ada penyesalan didalam hatinya karena menyelamatkan Rifki, akan tetapi dirinya merasa sedih bahwa anak yang ada didalam kandungnya ikut serta kehilangan nyawa bersamanya.


"Maafin Mama, Nak. Kau harus ikut Mama pergi dengan cara seperti ini, maafin Mama karena telah membawamu pergi ke syurga-Nya sebelum kau bisa melihat indahnya dunia ini" Ucapnya lirih.


Jurang tempat Nadhira terjatuh itu pun terlalu dalam, sehingga Nadhira yang jatuh tersebut masih melayang di udara dan belum mencapai pada dasarnya. Dengan itu Nadhira tau bahwa jurang tersebut sangatlah dalam, butuh waktu beberapa menit untuk dirinya mencapai daratan.


"TIDAK!!!" Teriak Rifki ketika melihat sosok wanita yang dicintainya terjatuh dijurang tersebut.

__ADS_1


Air mata Rifki tidak mampu ditahan lagi ketika menyaksikan Nadhira yang jatuh sementara dirinya tidak bisa berbuat apa apa saat ini. Melihat itu langsung membuat Haris bergegas untuk mendatangi Rifki yang tengah berteriak itu, ia pun melihat Nadhira yang sedang terjun bebas.


"Tidak mungkin," Ucapnya lirih.


Setelah terpentalnya tubuh Nadhira, hal itu membuat para polisi yang dibawa oleh Fajar sebelumnya langsung menangkap Aji dan Anhar beserta anak buah mereka, tanpa meninggalkan satu orang pun yang lolos dari tempat tersebut.


Tubuh Nadhira pun perlahan lahan sudah tidak terlihat lagi dari tempat dimana Rifki berada, tangisnya tidak mampu untuk ditahan lagi. Ia tidak kuasa ketika menyaksikan orang yang sangat ia sayangi jatuh begitu saja ke dasar jurang, dan siapapun yang jatuh dari ketinggian seperti itu diyakini tidak akan pernah selamat.


Nadhira memejamkan kedua matanya seraya merasakan tubuhnya yang terus terjatuh kebawah itu, cukup lama dirinya melayang diudara yang menandakan bahwa jurang tersebut begitu dalamnya. Entah sampai kapan dirinya akan melayang layang seperti itu, dirinya merasa sudah sangat siap untuk kehilangan nyawanya hanya demi sosok yang paling dicintainya.


Nadhira sama sekali tidak menyesali dengan apa yang dirinya lakukan saat ini, apapun akan dia lakukan asalkan Rifki baik baik saja. Nadhira tidak memedulikan nyawanya sendiri selama ini, melihat Rifki baik baik saja sudah cukup baginya.


"Apakah Rifki akan menikah dengan wanita lain jika aku mati? Rasanya aku tidak iklas untuk melihat itu, tapi dia berhak bahagia, meskipun bukan diriku yang menjadi penyebab kebahagiaannya. Sayang, maafkan aku dan kau harus tetap hidup," Ucap Nadhira lirih sambil merasakan tubuhnya yang terus terjatuh kebawah.


Sementara disatu sisi, Rifki terasa gelagapan ketika melihat orang yang dicintainya terjatuh dari atas jurang itu. Ia tidak mau kehilangan Nadhira secepat ini dan bahkan usia pernikahannya belum genap setahun penuh, dan bayangan tentang masa tua mereka mendadak langsung sirna begitu saja.


Rifki sama sekali tidak memerhatikan disekitarnya, yang ia perhatikan hanyalah jurang yang seakan akan tidak berdasar itu, ia tidak mampu menyaksikan Nadhira yang terjatuh kejurang tersebut. Rifki mencoba untuk meraihnya meskipun hal itu sama sekali tidak berguna dan sia sia saja, akan tetapi tangannya terus melambai kebawah berharap bahwa Nadhira bisa kembali.


"DHIRA!! JANGAN TINGGALKAN AKU!" Teriak Rifki dengan keputusasaan.


Rifki hendak ikut melompat kedalam jurang tersebut akan tetapi langsung dihadang oleh inti anggota Gengcobra yang ada ditempat itu, mereka tidak akan membiarkan Rifki meloncat dari jurang tersebut demi menyusul Nadhira.


Mereka sudah cukup kehilangan Aryabima yang selaku Tuan Besar bagi mereka, dan juga Nadhira yang mereka anggap sebagai Nona Muda itu. Mereka tidak ingin kehilangan sosok Rifki juga, selama ini mereka hidup karena pertolongan dari keluarga Abriyanta dan mereka tidak ingin kehilangan keluarga tersebut.


"Lepaskan aku! Biarkan aku menyusul Nadhira, dia tidak boleh meninggalkanku," Ucap Rifki yang berusaha memberontak meminta untuk dilepaskan.


"Tidak Tuan Muda, tolong jangan bertindak nekat seperti ini. Kami tidak mau terjadi sesuatu dengan anda," Ucap Reno.


"Kalian tidak mau terjadi sesuatu denganku, tapi bagaimana dengan Nadhira? Apa kalian bisa menyelamatkan nyawanya untuk diriku!" Sentak Rifki dengan nada mengebu gebu.


"Tenanglah Rif, Papa tau apa yang kamu rasakan," Ucap Haris yang berusaha untuk menenangkan anaknya itu.


"Ngak bisa! Rifki harus menyusul Dhira, Rifki ngak mau hidup sendirian tanpa Dhira."


Beberapa saat kemudian, Rifki langsung memuntahkan seteguk darah segar. Melihat itu membuat Haris langsung mentotok peredaran darahnya, Rifki merasakan nyeri yang teramat sangat dibagian dadanya.


"Akh..."


Rifki memegangi dadanya yang terasa nyeri dan bahkan darah yang keluar dari mulutnya itu seakan akan terus mengalir dengan serasnya. Haris mencoba untuk merasakan energi keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuh Rifki, akan tetapi dirinya justru sangat terkejut saat ini.


"Keris pusaka itu hancur? Itu artinya, pemilik permata iblis itu sudah tidak selamat lagi." Ucap Haris dengan linangan air mata.


"Tidak mungkin," Ucap Rifki lirih sebelum dirinya kehilangan kesadarannya.


Haris langsung menangkap tubuh Rifki dan menepuk pelan pipi Rifki untuk menyadarkan anaknya itu kepada tubuhnya, "Rifki bangun, Rifki jangan tinggalkan Papa. Rifki bangun!" Teriak Haris mencoba untuk menyadarkan Rifki.


Rasa sakit yang kini dirasakan oleh Rifki membuatnya sampai tidak sadarkan diri saat ini, air matanya pun terus meleleh dan menetes melalui ujung matanya itu. Ia tidak mampu untuk menerima kenyataan bahwa Nadhira telah jatuh kedasar jurang saat ini.


Detak jantung Rifki pun melemah saat ini, bahkan denyutan nadi yang ada ditangannya hampir tidak terasa ketika disentuh. Merasakan itu, langsung membuat Haris nampak begitu sangat histeris, ia tidak mau kehilangan anaknya itu juga.


Keris pusaka xingsi dan permata iblis tersebut saling berhubungan, ketika permata iblis telah lenyap artinya pemiliknya telah tiada, dan hal itu membuat keris pusaka xingsi ikut lenyap bersamaan dengan lenyapnya permata iblis.


Lenyapnya keris pusaka xingsi dan permata iblis adalah akhir dari kisah Pangeran Kian dan juga Ratu iblis, jiwa mereka telah melebur dan lenyap begitu saja. Mereka tidak akan bisa kembali ataupun menampakkan diri didunia ini lagi, ini adalah akhir dari perjalanan mereka.


"Rifki bangun! Jangan tinggalkan Papa seperti ini. Rifki, kau harus bertahan demi Papa, Papa mohon kepadamu Nak, bangun! Rifki kau harus bertahan, Rifki bangun!"


Haris nampak kebingungan dengan apa yang terjadi kepada keluarganya saat ini, ia telah kehilangan Ayah dan menantunya begitu saja, dan dirinya tidak ingin kehilangan Rifki juga untuk kali ini. Tubuh anaknya tersebut terasa sedikit dingin dan seakan akan kondisinya keritis untuk saat ini.


Wajah Rifki pun terlihat sangat pucat seperti tidak ada darah yang mengalir kedalam tubuhnya itu. Melihat itu langsung membuat inti anggota Gengcobra berlutut disamping Rifki, tidak ada yang menyangka bahwa kematian keduanya itu pun terjadi secara bersama sama.


"Tuan Muda, jangan tinggalkan kami semua seperti ini," Ucap Reno, orang yang paling dekat dengan Rifki selama ini. Dirinya seakan akan tidak terima dengan kepergian dari Rifki, Nadhira dan juga Aryabima.

__ADS_1


Meskipun mereka bukanlah saudara kandung, akan tetapi Rifki telah menganggap mereka seperti saudaranya sendiri. Semenjak tinggal didalam Surya Jayantara, hal itu membuat Rifki tidak pernah membedakan kedudukan diantara mereka.


"Rifki, aku tidak menyangka bahwa akhirnya akan seperti ini. Bangunlah teman, meskipun aku terlalu menyebalkan untukmu tapi kaulah teman terbaik untukku," Ucap Fajar.


"Rifki, sejak kecil kita bersama selama ini. Tapi kenapa kau dan Nadhira harus pergi meninggalkan kita secepat ini? Dan kami bahkan belum disusahkan oleh anak kalian berdua," Ucap Bayu.


Mereka bahkan tidak mampu untuk menerima keadaan saat ini, meskipun Rifki masih bernafas akan tetapi detak jantungnya semakin lama semakin melambat, dan juga darah yang keluar dari lukanya semakin surut pertanda bahwa dirinya kehabisan darah karena disertai wajah yang sangat pucat.


Mereka pun meneteskan air mata sambil berlutut memutari tubuh Rifki yang terbaring tidak berdaya itu. Rifki adalah orang yang sangat baik untuk mereka semua dan dia beserta keluarganya telah memberikan mereka kehidupan yang layak selama ini.


Aryabima telah pergi untuk selama lamanya, akibat dari banyaknya luka tusukan yang ia terima. Nadhira pun terjatuh kedasar jurang yang diduga bahwa tidak akan pernah selamat ketika jatuh dijurang itu, sementara Rifki hancur beserta hancurnya keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuhnya.


Angin yang sejak tadi menyelimuti tempat tersebut pun mendadak menghilang, sekarang hanya tinggal ketenangan disana, langit yang mendung berubah menjadi terang, dan kicauan merdu dari beberapa burung pun terdengar gembira.


Aura tempat yang sebelumnya terasa mencengkeram itu mendadak sirna setelah Nadhira terjatuh dari bukit itu. Pertarungan antara Ratu iblis dan mahluk yang menyeramkan itu berhenti, dan mereka lenyap begitu saja dari tempat itu.


"Rifki tidak boleh meninggalkan Papa seperti ini, bagun Nak, Papa mohon. Rifki, Rifki dengar suara Papa kan, Nak? Papa mohon bukalah matamu, tataplah Papa untuk sesaat,"


Apakah ini akhir dari kisah mereka? Bahkan impian mereka untuk memiliki seorang anak pun belum terwujud sampai saat ini. Sudah tidak mampu untuk diceritakan lagi seberapa besarnya kesedihan Haris saat ini jika harus kehilangan 3 keluarganya didalam hari yang sama.


Hancurnya keris pusaka xingsi dan permata iblis menjadi akhir dari kisah mereka, kisah cinta antara Rifki dan Nadhira. Akan tetapi, cinta keduanya akan tetap abadi didalam hati keduanya.


*****


Disebuah tempat yang sangat indah, terdapat sepasang kekasih yang tengah duduk sambil berhadapan ditengah tengah lebatnya bunga bunga yang indah serta berwarna warni. Nadhira dengan senyuman tipis nan cantik duduk berhadapan dengan Rifki yang juga tengah tersenyum kearah Nadhira.


"Aku mencintaimu Rif, apapun akan aku lakukan hanya untuk dirimu. Kau lah pelita dalam kegelapan yang aku miliki selamanya, kau lah satu satunya alasanku untuk bertahan selama ini, dan kau lah alasan untukku terlalu tersenyum bahagia. Rifki, aku sangat mencintaimu, cinta kita tidak akan pernah pudar dan akan selamanya tertulis dilangit, aku sangat mencintaimu Rif."


"Aku juga sangat mencintaimu, Dhira. Kaulah cinta terakhir dalam hidupku selamanya, aku harap, cinta kita akan dikenang selamanya. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita berdua, hanya kau yang berhak untuk memiliki hatiku dan hanya aku yang berhak ada didalam hatimu. Dhira, kita akan selalu bersama,"


"Kita tidak akan pernah terpisahkan, Rif. Tidak akan ada yang bisa melakukan itu, meskipun itu adalah kematian sendiri, kita akan selalu bersama,"


"Iya sayang, kita tiada akan pernah terpisahkan. Selamanya akan bersama, hatiku hanya milikmu seorang, dan kau akan selalu hidup didalam hatiku ini Dhira."


"Kau harus tetap hidup Rif, bangunlah sayang. Jika kau tidak bangun maka kita tidak akan pernah bisa bersama, bangunlah sayang, sadarlah dari komamu. Aku akan selalu hidup dalam hatimu," Nadhira pun menggerakkan tangannya untuk menyentuh dada Rifki dengan perlahan lahan.


"Aku akan melakukan kewajibanku Dhira, datanglah kembali kedalam kehidupanku nanti,"


"Percayalah, takdir sendiri yang akan mempersatukan kita berdua, kita tidak akan pernah terpisahkan entah bagaimanapun caranya itu,"


"Aku sangat menyayangimu, Dhira. Sampai kapanpun, tidak akan pernah ada yang menggantikan dirimu didalam hidupku,"


"Dan sampai kapanpun juga, tidak akan pernah ada yang bisa memiliki hatiku selain dirimu,"


......Dapatkah selamanya kita bersama? Rifki kau adalah lelaki terbaik bagiku, apapun akan aku lakukan untuk keselamatanmu.......


...Rifki mungkin saat ini kita akan berpisah selamanya tapi yakinlah bahwa aku akan selamanya tetap mencintaimu dan hanya dirimu yang ada didalam hatiku....


......Rifki ku korbankan nyawaku agar kau mampu selamat meskipun akhirnya aku yang pergi lebih dulu darimu, jika kamu pergi lebih dulu. Aku tidak akan sanggup untuk menerima kenyataannya, dan sesuai dengan janjiku maka biarkan aku pergi.......


...Rifki, aku mencintaimu karena Allah, jika ini adalah takdirku untuk berpisah denganku, aku iklas atas semuanya. Terima kasih karena telah mewarnai hidupku yang kosong, see you next time lelaki baikku kita akan berjumpa disyurga-Nya suatu saat nanti....


......Semoga cinta kita tetap abadi sampai akhir nanti, selamanya......


...****************...


Next ngak?


Oh iya, karena kesibukan Author didunia nyata jadi author sering telat kirim naskah. harap dimaklumi ya


Jangan lupa juga mampir dikarya Author yang lainnya yang judulnya *Pelatihku*. mengisahkan tentang masa masa disekolah,

__ADS_1


Sosok yang dingin itu telah menjadi pelatih beladiriku, tapi aku tau dibalik sikapnya yang dingin, dirinya begitu baik. Yuk ikuti kisah Afrenzo dan Risda yang super bikin emosi dan nangis bawang, kurangnya kasih sayang dari orang tua membuat Risda menjadi keras kepala dan kasar. karena masalalu yang kelam membuat kepribadian Afrenzo menjadi dingin dan pendiam. Yuk disimak yak


__ADS_2