
Bi Ira membawa Rifki kesuatu tempat yang ada dirumah itu, lebih tepatnya dihalaman belakang rumah Nadhira, dan halaman itu tidak terlalu lebar sehingga tidak digunakan oleh Nadhira berlatih, Nadhira biasanya ketempat itu hanya untuk menenangkan pikirannya dan menghindari dari keributan yang ada dipikirannya.
Bi Ira mengajak Rifki untuk duduk disebuah gazebo yang berbatasan dengan sebuah kolam ikan nila, etah apa yang ingin ia bicarakan dengan Rifki, sejak datang ketempat itu Bi Ira hanya memperhatikan kolam ikan tersebut, tanpa mengatakan suatu kata pun kepada Rifki.
"Maaf Bi, apa yang ingin Bibi bicarakan dengan Rifki? Rifki siap mendengarnya" Ucap Rifki.
"Apa kau benar benar mencintai Nadhira?" Tanya Bi Ira tanpa menoleh kearah Rifki.
"Rifki sangat mencintai Nadhira Bi, Rifki tau bahwa hal ini sangat menyakiti perasaannya saat ini Bi, Rifki akan berusaha untuk bisa mendapatkan restu dari Mama, Rifki tidak mau kehilangan Nadhira".
"Jika kau mencintai Nadhira maka perjuangkan dirinya, Bibi tidak ingin melihat Nadhira terluka lagi, meskipun Bibi hanyalah Ibu angkatnya saja, tapi Bibi mampu merasakan apa yang tengah ia rasakan Nak, Nadhira sudah menderita selama ini, dan jika kau tidak benar benar mencintai Nadhira maka lupakan dia, jauhi dia, biarkan dia hidup bahagia, Bibi tau bahwa dia sangat terluka ketika melihat dirimu bersama dengan wanita lain, Bibi mohon jangan membuat Nadhira menangis" Ucap Bi Ira sambil kedua mata yang mulai berkaca kaca.
"Aku mengerti perasaan Bibi, aku juga tidak ingin mempermainkan perasaan Nadhira, tapi aku berharap bahwa Bibi akan selalu mendukungku untuk mendapatkan hati Nadhira kembali dan restu dari kedua orang tuaku Bi".
"Bibi hanya bisa berdoa, semoga kalian bisa bersama nantinya, Bibi hanya tidak ingin melihat Nadhira menangis lagi, sudah cukup orang tuanya menyakiti dirinya jangan dirimu juga ikut menyakitinya, banyak hal yang telah ia lewati, Lia pun pasti akan terluka ketika melihat anaknya bersedih".
"Aku berjanji padamu Bi dan aku berjanji kepada Tante Lia, aku akan mencintai Nadhira selamanya dan tidak akan pernah meninggalkan dirinya".
"Nak, jangan berjanji seperti itu jika tidak bisa untuk menepatinya, kau sendiri sudah dijodohkan dengan wanita lain, bagaimana bisa kau mencintai Nadhira sementara disisimu ada wanita lain?".
"Aku akan berusaha untuk membatalkan perjodohan itu Bi, biar bagaimanapun perjodohan itu tidak akan pernah melemahkan tekatku Bi, dengan kata bismillah aku tidak akan mundur ditengah tengah, sebelum aku bisa memiliki Nadhira, mungkin aku akan menjauh darinya dan aku akan kembali untuk meminta Nadhira".
"Apapun keputusanmu nantinya, Bibi akan selalu mendukungmu".
"Inilah yang diinginkan oleh Nadhira, dia pasti akan memintaku untuk menjauhinya nanti, dan ragaku akan benar benar menjauh dari dirinya tapi tidak dengan hatiku Bi, hatiku akan selalu bersamanya, tolong jaga Nadhira untukku".
"Kau tenang saja soal Nadhira, Bibi akan selalu mendampinginya untuk melangkah".
"Makasih Bi karena telah menyayangi Nadhira seperti anak kandung Bibi sendiri dan terima kasih atas kebaikan yang telah Bibi berikan kepada Nadhira selama ini, aku bahkan tidak akan pernah mampu untuk membalas kebaikan yang telah Bibi berikan".
"Nak, Bibi sangat menyayangi Nadhira, dia adalah anak sahabat Bibi waktu kecil, dan hanya Nadhira yang Bibi miliki saat ini".
"Jadi, Tante Lia dan Bibi adalah sahabat sejak kecil? Ini sangat kebetulan sekali, kebetulan yang sangat indah".
"Iya, ceritanya sangat panjang untuk diceritakan, dan Bibi juga tidak menyangka bahwa Lia akan pergi secepat ini meninggal kita semua, Lia begitu baik kepada Bibi dan Bibi tidak akan pernah bisa membalas kebaikannya itu".
"Tante Lia sudah tenang dialam sana, dia pasti sangat bangga memiliki seorang sahabat seperti Bibi yang begitu baik kepada anaknya, meskipun sampai sekarang jasadnya tidak ditemukan, aku sangat berharap bahwa beliau masih hidup".
"Iya Nak, Bibi juga mengharapkan hal itu".
"Baiklah Bi, aku ingin menemui Nadhira".
"Iya, dia ada dihalaman depan sekarang".
"Iya Bi".
Rifki segera bangkit dari duduknya dan segera bergegas pergi dari tempat itu, sementara Bi Ira hanya memandangi kepergiannya sampai sebuah tembok menghalangi pandangannya.
Rifki segera menuju kehalaman depan rumah tersebut untuk menemui Nadhira, dibalik sebuah kaca cendela yang ada diruang tamu itu Rifki dapat melihat bahwa saat ini Nadhira sedang berlatih menggunakan tongkat miliknya.
"Gerakan yang sangat indah, memahami satu jurus lebih menakutkan daripada mempelajari begitu banyak jurus" Guman Rifki pelan.
Rifki segera bergegas menuju kesebuah gazebo yang tidak jauh dari tempat Nadhira berlatih untuk memperhatikan jurus jurus yang dilakukan oleh Nadhira, Nadhira mengulang ngulangi terus gerakan yang sama dan mencoba untuk menyempurnakan gerakan tersebut.
Rifki terus memperhatikan gerakan yang dilakukan oleh Nadhira, Nadhira hanya mempelajari satu jurus untuk pagi ini, akan tetapi gerakan gerakan itu terus diulang sampai dirinya benar benar paham dengan gerakan jurus tersebut.
"Memahami satu jurus dengan detail dan lincah menggerakkannya lebih menakutkan daripada hanya menghafal banyak jurus" Guman Rifki.
Ternyata Nadhira berlatih dengan metode yang diberikan oleh Rifki, meskipun banyak jurus yang sudah dipahami oleh Nadhira akan tetapi dirinya lebih memilih untuk mendalami satu persatu jurus tersebut agar gerakannya lebih memudahkan dirinya untuk melawan musuhnya.
Rifki tersenyum melihat Nadhira berlatih, akan tetapi Rifki mampu melihat bahwa gerakan Nadhira tidak seperti dahulu, entah apa yang terjadi kepada beberapa tahun belakangan ini, Rifki pun masuk kedalam lamunannya.
Cukup lama sekali dirinya melamun hingga tiba tiba sebuah ujing tongkat diarahkan kepadanya, hal itu seketika membuat Rifki tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Sudah cukup memperhatikannya?" Tanya Nadhira dengan sinisnya.
"Sudah, kenapa gerakanmu banyak berubah?" Tanya Rifki balik dengan penuh selidik.
"Bukan urusanmu, kau sudah sadar, sebaiknya segera pergi dari rumahku" Usir Nadhira.
"Tapi aku masih sakit Dhira, apa kau tega mengusirku dalam keadaan seperti ini?".
"Sakit apa emang? Bagian mana yang sakit? Tapi Masih bisa berjalankan? Atau perlu aku panggilkan ambulan untuk mengangkutmu pergi dari rumahku ini secepatnya?"
"Hatiku yang sakit, dibagian sini" Ucap Rifki sambil menunjuk kearah dadanya, "Aku sudah lelah dengan yang namanya ambulan, rumah sakit, obat obatan" Ucap Rifki dengan tersenyum lebar.
"Tidak usah bercanda Rifki! Apa kau tidak dengar apa yang aku ucapkan tadi? Cepat pergi dari rumahku".
"Kenapa kau mengusirku seperti itu hm? Aku akan adukan ini dengan Oma nanti, bagaimana bisa cucunya mengusir pemimpin Abriyanta Groub dari rumahnya seperti itu".
"Oma tidak ada dirumah sekarang, bagaimana kau bisa mengadukannya kepada Oma?".
Rifki terdiam karena dirinya baru menyadari bahwa Sarah tidak ada dirumah kali ini, sejak semalam darinya tidak melihat adanya tanda tanda Sarah dirumah itu dan tidak seperti biasanya.
"Oh iya.. Oma kemana?".
"Dia ada diluar negeri, dirumah anaknya".
"Kapan Oma akan pulang?".
"Ngak tau, eh... Kenapa kau malah mengajakku ngobrol sih, cepat pergi dari sini!".
"Kenapa kamu sangat menginginkan aku pergi darimu? Apa kau sudah tidak memiliki perasaan apapun kepadaku? Ya setidaknya hormati aku sebagai tamu disini".
"Aku tidak pernah menerimamu sebagai tamu disini, dan kehadiranmu disini membuatku sangat tidak nyaman, kau sudah memiliki tunangan, untuk apa kau masih tetap disini?".
"Tunangan? Rasanya aku seperti tidak pernah tunangan dengan siapapun, kenapa bisa aku memiliki seorang tunangan?".
"Sebenarnya aku punya salah apa sih sama kamu Dhira? Sampai sampai kau membenciku seperti itu? Kau bahkan tidak datang padahal kau sudah berjanji kepadaku untuk menemaniku pulang dari rumah sakit waktu itu".
"Kamu tidak salah, aku mohon lupakanlah aku dan segera pergi dari kehidupanku".
"Apa? Kenapa? Bagaimana bisa?".
"CEPAT PERGI DARI SINI RIFKI! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi mulai sekarang, kenapa kau tanya kepadaku? Kau adalah seorang Tuan Muda, bagaimana kau bisa tidak mengetahui apapun" Bentak Nadhira kepada Rifki tiba tiba.
"Apakah karena perjodohan itu sehingga kau marah dengan diriku Dhira? Apakah kau ingin aku membatalkan itu? Akan aku lakukan Dhira".
"Tidak! Mulai sekarang lupakan aku Rifki, aku tidak ingin menyakiti hati seorang wanita, sebaiknya kau pergi dari rumahku".
Rifki segera bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Nadhira, setelah membentak Rifki, Nadhira sendiri yang menangis, Rifki tidak mampu dan tidak bisa melihat Nadhira menangis seperti itu, akan tetapi ketika Rifki ingin menghapus air matanya itu, tiba tiba Nadhira menangkis tangan tersebut.
"AKU BILANG PERGI DARI SINI RIFKI!"
"Jangan menangis Dhira, aku tidak bisa melihatmu menangis seperti ini, aku minta maaf kepadamu Dhira, entah kesalahan apa yang telah aku lakukan hingga membuatmu semarah ini denganku".
"Kamu tidak salah Rif, pertemuan kita lah yang salah".
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan Dhira? Kenapa bisa pertemuan kita adalah sebuah kesalahan?".
Nadhira hanya membuang mukanya dari hadapan Rifki, ia pun mengusapi air matanya sendiri dengan kasarnya, Rifki mencoba untuk menyentuh pipi Nadhira akan tetapi Nadhira berulang ulang kali terus menangkis tangan tersebut.
"Rifki hentikan! Jangan sentuh aku lagi".
"Dhira, aku hanya ingin menghapus air matamu saja, jangan menangis".
"Aku tidak akan memangis kalau kau pergi dari sini dan melupakan aku, aku benci dengan dirimu Rifki!"
__ADS_1
"Baiklah jika itu keinginanmu, maka aku akan pergi selamanya dari hidupmu, anggap saja Rifki sudah mati mulai detik ini, dan jika kau bertemu dengan Rifki itu bukanlah dirinya lagi" Ucap Rifki dengan nada dingin kepada Nadhira.
Nadhira hanya mengangguk kepada Rifki dengan anggukan yang sangat berat baginya, setelah itu ia hanya bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Rifki karena ia tidak sanggup untuk menatap kearah Rifki karena sedang menahan air mataya.
"Terima kasih atas semuanya Dhira, terima kasih atas kebahagiaan yang pernah kau berikan kepadaku walaupun hanya sesaat, terima kasih karena telah menjadi penguat dalam kehidupanku, anggap saja kita tidak pernah bertemu dan tidak pernah saling mengenal satu sama lain".
"Rifki..." Guman Nadhira pelan dan hanya terlihat pergerakan bibirnya saja.
"Dhira, maafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan kepadamu, semoga kau bahagia dan menemukan seseorang yang akan membuatmu bahagia, dan mencintaimu dengan tulus, Rifkimu sudah mati Dhira, apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu kepadanya untuk yang terakhir kalinya?".
"Aku hanya berharap bahwa Rifki akan mendapatkan kebahagiaan yang pantas untuk dia dapatkan, Rifkiku akan selalu hidup abadi didalam hatiku, dan lupakanlah aku segera".
"Baiklah jika hanya itu yang ingin kau katakan kepadanya, Rifki pamit untuk selamanya".
Rifki yang selalu hangat dengan dirinya tersebut berubah menjadi Rifki yang dingin dihadapan Nadhira, hal itu membuat Nadhira merasa seperti kehilangan sosok Rifki yang sesungguhnya.
"BAY! BAY!" Teriak Rifki memanggil Bayu.
Rifki terus berteriak untuk memanggil Bayu dan hal itu membuat Nadhira kebingungan, Bayu yang tengah asik menikmati masakan Bi Ira pun segera bergegas untuk menyahuti panggilan tersebut, dan dirinya segera menemui Rifki yang ada dihalaman depan rumah Nadhira.
"Ada apa Tuan Muda?" Tanya Bayu setelah tiba disana dengan segera.
"Lama banget sih! Kemana aja" Tanya Rifki balik dengan nada marah.
"Maafkan saya, habis masakan Bi Ira enak sekali".
"Ayo pergi dari sini" Ucap Rifki dingin.
"Tapi ..".
Bayu tidak bisa melanjutkan perkataannya karena Rifki langsung bergegas pergi dari tempat itu tanpa menatap kearah Nadhira terlebih dahulu, Rifki seakan akan tidak menganggap kehadiran Nadhira ditempat itu, hingga hal itu membuat Bayu kebingungan harus bertindak seperti apa dan ia memutuskan untuk berpamitan dengan Nadhira.
Melihat itu membuat Nadhira mengangguk kepada Bayu dan menatap kepergian Rifki dengan perasaan sedihnya, tapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa, dia ingin Rifki segera membenci dirinya agar mudah untuk melupakan dirinya.
Rifki segera bergegas menuju keluar dari rumah Nadhira, Rifki berjalan dengan ekspresi wajah yang begitu dingin hingga membuat Pak Santo yang ingin bertanya kepadanya seketika memutuskan untuk memendam kembali pertanyaannya itu, dan Rifki melintasi Pak Santo begitu saja sementara Bayu hanya mengangguk kepada Pak Santo dan hal itu dibalas anggukan balik olehnya.
Rifki segera bergegas masuk kedalam mobilnya yang tengah terparkir didepan rumah Nadhira semalam sejak kedatangan Bayu ketempat itu, setelah itu Bayu segera menjalankan mobil itu tanpa banyak bertanya kepada Rifki.
Melihat mobil itu yang tengah melintas pergi dari tempat tersebut membuat Nadhira menjatuhkan tubuhnya diatas rerumputan yang ada dihalaman itu, ia pun memeluk lututnya sendiri dan membenamkan wajahnya diantara lututnya.
"Dhira" Ucap Bi Ira yang tengah mendatangi Nadhira.
Nadhira seketika mendongakkan wajahnya kearah Bi Ira yang tengah berjalan kearahnya saat ini, Nadhira pun dengan segera menghapus air matanya itu dan berpura pura untuk tersenyum dihadapan Bi Ira.
"Semuanya baik baik saja kok Bu" Ucap Nadhira dengan sebuah senyuman tipis akan tetapi masih ada bercak keristal putih diujung matanya.
"Ibu tau apa yang kamu rasakan Nak, jangan berbohong dengan Ibu".
"Semuanya sudah berakhir Bu, Rifki sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi".
"Bukankah itu yang kamu inginkan Nak? Kenapa kamu menangis seperti itu?".
"Dhira ngak nangis, Dhira mau kekamar dulu".
Nadhira segera berbalik dan meninggalkan Bi Ira yang tengah berada disana, ketika wajah mereka tidak saling pandang satu sama lain, tiba tiba air mata Nadhira menetes dengan sendirinya.
Nadhira segera bergegas menuju kekamarnya, setibanya disana ia segera menjatuhkan dirinya dibalik pintu kamar tersebut dan menutup pintunya dari dalam, ia pun teringat dengan kata kata terakhir Rifki sebelumnya dan perkataan itu seketika bergema ditelinganya.
"Maafkan aku, aku telah menyakiti hatimu Rif, entah apakah aku bisa menjalani hari hariku tanpa dirimu disampingku, penantian bertahun tahun yang aku tunggu kini semuanya telah lenyap, pernikahan itu hanyalah rencana akan tetapi Allah tidak menakdirkan kita untuk bersama".
Nadhira pun memejamkan matanya dan sekilas bayangan bayangan masalalunya yang menghantui dirinya seketika muncul didalam ingatannya, kebersamaan yang selalu mereka lalui bersama kini hanya tinggal sebuah kenangan yang indah.
Nadhira menggenggam kedua tangannya dengan erat dan mendekapnya didepan dadanya, bayangan bayangan kebersamaan keduanya bermunculan hingga menciptakan sebuah tangisan diujung mata Nadhira, bibirnya bergetar karena ia sudah tidak mampu lagi untuk menahan air mata yang akan jatuh.
__ADS_1
Ingatan itu terus bersahutan dengan suara Rifki sebelumnya, janji janji yang telah lama terucap bermunculan diiringi dengan suara Rifki sebelum dirinya pergi meninggalkan rumah Nadhira.