
Mendengar gerutu Rifki membuat Bayu tidak mampu untuk menahan tawanya, begitu pun Nadhira yang hanya tersenyum tipis kearah Rifki saja, sudah sangat lama sekali bagi Nadhira tidak melihat ekspresi wajah Rifki yang memonyongkan bibirnya.
"Sini biar aku sembuhin dengan sebuah pukulan, biasanya kau akan langsung sembuh dengan itu, mungkin saja kali ini akan bisa sembuh dengan mudah dan cepat"
"Emang ada ya cara kaya gitu?"
"Gila kau Bay, gimana kalo aku yang menggantikan posisi Rifki sebagai lawanmu? Bukankah itu sangat bagus? Jadi aku bisa sekalian latihan juga dengan dirimu" Sela Nadhira.
"Kalo itu mah aku ngak mampu Dhira, lebih baik bertarung dengan serigala langsung daripada harus dengan dirimu"
"Kenapa emang? Bukankah aku juga akan membantu menyembuhkanmu juga Bay? Mungkin saja dengan pukulanku maka pikiranmu akan berfungsi lagi".
"Itu tidak perlu Dhira, kalau pun kau terluka nanti akibat pertarungan itu, pasti pasukan Rifki akan menghajarku sampai babak belur, dan itu jauh lebih menakutkan daripada melawan hewan buas secara langsung".
"Dan kalau kau mau melawan Rifki, lawanlah aku juga dong, kalau kau mencelakai Rifki bukankah itu sama saja dengan membangunkan anggota Gengcobra?".
"Ngak deh Dhira, kalau Rifki yang terluka palingan aku hanya dipenjara saja, tapi kalau dirimu bisa bisa jiwaku juga ikut dilenyapkan, ngak deh Dhira ngak jadi, daripada aku harus kehilangan nyawaku ditanganmu, membayangkannya saja sudah sangat mengerikan bagiku".
"Pilihan yang sangat bijak, cukup diam daripada membuatku harus baku hantam".
"Ya ya ya ya".
Ketiganya pun menikmati kenyamanan air mancur tersebut, tak beberapa lama kemudian Nadhira mengajak Rifki untuk kembali keruangan tempat Rifki menginap karena Rifki akan melakukan pemeriksaan lanjutan sehingga dokter memintanya untuk kembali keruangan tersebut.
"Gimana hasil pemeriksaannya Dok? Kapan Rifki boleh pulang?" Tanya Nadhira kepada Dokter setelah memeriksa keadaan Rifki.
"Keadaannya sudah membaik, besok sepertinya sudah diizinkan untuk pulang".
"Alhamdulillah".
"Baiklah, saya mau memeriksa yang lainnya juga"
"Iya Dok, terima kasih".
Nadhira merasa senang mendengarnya karena akhirnya Rifki diizinkan untuk pulang, setelah itu Dokter tersebut segera bergegas meninggalkan ruangan inap Rifki.
"Akhirnya besok kau sudah diizinkan untuk pulang Rif, aku sangat senang mendengarnya, selamat ya".
"Iya Dhira, akhirnya aku sudah dibolehkan untuk pulang, aku sudah tidak sabar untuk datang kemarkas untuk bergabung dengan yang lainnya".
"Jangan latihan dulu Rif, lukamu belum sembuh sepenuhnya, justru itu akan berbahaya untuk dirimu".
"Tenang saja, aku tidak seperti dirimu Dhira, yang nekat melawan pencopet padahal luka jahitannya masih belum kering sepenuhnya".
"Aku melakukan itu juga karana ingin menolong seorang wanita, apalagi wanita itu mendapatkan julukan seorang ibu, bagaimana mungkin aku membiarkannya begitu saja, lagian kita juga tidak tau masa depan, bisa jadi dia juga akan menyelamatkan diriku dikemudian hari".
"Kau boleh melakukan apapun itu Dhira, tapi ingat nyawamu itu cuma ada satu dan kau tidak memiliki nyawa seribu, jika sudah menghilang maka tidak akan mampu untuk dikembalikan".
"Bukankah kita tidak akan tau sampai kapan kita akan hidup? Meskipun aku berhati hati sekalipun itu, jika Allah sudah mentakdirkan diriku hidup sampai disitu maka Allah pasti akan mencabutnya juga kan".
"Tapi ngak begitu juga caranya Dhira, aku tidak mau ada bantahan lagi, kau tidak boleh bertindak gegabah lagi seperti itu".
"Iya iya bawel".
Waktu pun menjelang sore hari, kedua orang tua Rifki menjenguk Rifki kerumah sakit, keduanya melihat Rifki tengah bercanda gurau bersama Nadhira, candaan keduanya terasa begitu seru dan tak henti hentinya keduanya tertawa bersama.
"Rifki, bagaimana kabarmu?" Tanya Putri yang seketika membuat keduanya terkejut.
Kedatangan kedua orang tua Rifki begitu tiba tiba sehingga keduanya tidak menyadari kedatangan Haris dan Putri ketempat itu, dan hal itu sontak membuat Nadhira menghentikan tawanya.
"Aku sudah membaik kok Ma" Jawab Rifki.
"Kata Dokter Rifki sudah diperbolehkan untuk pulang besok Tante, karena kondisinya sudah normal" Ucap Nadhira memberitahukan kondisi Rifki.
"Syukur Alhamdulillah" Ucap Haris dan Putri secara bersamaan.
Nadhira pun bangkit dari duduknya untuk merapikan barang barang diatas meja yang ada diruangan Rifki, karena waktunya sudah sore hal itu membuat Nadhira berpamitan untuk pulang.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya Rif, nanti Oma nyari in, lagian juga sudah ada orang tuamu yang menjagamu disini" Ucap Nadhira seraya berpamitan kepada Rifki.
"Kenapa buru buru sekali Dhira? Aku masih ingin bercanda bersamamu, apa tidak bisa kamu pulang nanti nanti saja?" Tanya Rifki.
__ADS_1
"Aku juga masih ingin berada disini denganmu, tapi masih banyak pekerjaan kantor yang belum aku selesaikan Rif".
"Ya udah ngak apa apa, besok datang kesini lagi ya".
"Insya Allah" Nadhira tersenyum kearah Rifki.
Senyuman diwajahnya Nadhira terlihat begitu manis kearah Rifki, dan membuat Rifki ikut tersenyum juga, Nadhira segera berpamitan kepada Rifki dan juga kedua orang tuanya itu.
"Kamu pulang naik apa Dhira?" Tanya Putri.
"Naik taksi Tan, lagian jaraknya juga tidak terlalu jauh dari rumahku".
"Biar Tante saja yang nganterin".
"Ngak usah Tan, malah ngerepotin Tante nantinya".
"Ngak kok, sudah jangan sungkan sungkan seperti itu, lagian Tante juga mau keluar ke mini market".
"Iya Dhira, biarkan Mama yang mengantarmu pulang" Sela Rifki.
"Baiklah" Pasrah Nadhira.
"Mari Dhira" Ajak Putri.
Nadhira hanya mengangguk kepada Putri, dan keduanya pun segera bergegas keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Rifki dan Haris, sesampainya didepan ruang rawat inap Rifki, Putri segera memerintahkan kepada Bayu untuk mengantarkan keduanya dengan mobil.
Ketiga orang itu segera bergegas menuju mobil mereka yang terparkir rapi diparkiran rumah sakit, disepanjang lobi yang mereka lewati, Putri dan Nadhira hanya berdiam diri tanpa ada kata kata yang terucapkan diantara keduanya.
"Kenapa perasaanku mendadak berubah menjadi tidak enak sekali seperti ini, ada apa ini?" Batin Nadhira sambil terus melangkah.
Sesampainya mereka didepan mobil, ketiganya segera masuk kedalam mobil tersebut, Nadhira duduk disamping Putri dengan tubuh yang sedikit gemetaran daripada sebelumnya, mungkin ini pertama kali dirinya berada didekat Putri seperti ini.
"Tante mau beli apa di mini market?" Tanya Nadhira mencoba untuk mencairkan suasana.
"Cuma mau beli cemilan saja untuk Rifki, kali aja dia bosan dengan masakan rumah sakit" Jawab Putri dengan sedikit senyuman yang tersungging diujung bibirnya kepada Nadhira.
"Oh seperti itu".
Setelah beberapa lama perjalanan kemudian Putri meminta kepada Bayu untuk berhenti disebuah cafe', dan permintaan itu seketika membuat Bayu merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Putri.
"Tante kenapa tiba tiba meminta berhenti disebuah cafe'? Kita kan sebentar lagi sudah sampai dirumah Nadhira Tan".
"Sudahlah, Tante ingin berbicara sesuatu kepada Nadhira" Ucap Putri.
"Apa yang ingin Tante bicarakan denganku? Kenapa tidak bicara disini saja Tan?" Tanya Nadhira dengan keheranan dengan permintaan dari Putri.
"Tidak akan enak jika harus berbicara dimobil seperti ini, alangkah baiknya kita berbicara di cafe sambil meminum minuman".
"Baiklah Tan".
Bayu pun memarkirkan mobil tersebut didepan sebuah cafe yang dia temui saat ini, setelah selesai memarkirkan mobil tersebut, Putri dan Nadhira segera turun dari mobil itu dan berjalan masuk kedalam cafe tersebut, sementara Bayu tetap berada didalam mobil untuk menunggu keduanya.
Putri memesan dua gelas minuman untuk keduanya, Putri memilih sebuah meja yang jauh dari keramaian dan meja tersebut termasuk kedalam meja vvip, Nadhira sendiri merasa sangat gugup dengan hal itu, entah apa yang ingin disampaikan oleh Putri kepadanya tiba tiba seperti ini.
"Apa yang ingin Tante bicarakan kepadaku?" Tanya Nadhira yang merasa kebingungan.
"Apa kau sangat mencintai Rifki?".
"Iya Tan, aku sangat mencintainya".
"Kalian sudah sama sama besarkan? Bisakah kau menjauhi anak Tante sekarang juga?" Tanya Putri dengan menatap tajam kearah Nadhira.
Deg..
Nadhira yang mendengar pertanyaan itu seketika terdiam seribu bahasa, ia tidak mengetahui kenapa Putri menanyakan hal seperti itu kepadanya, wajah yang tadinya nampak seutas senyuman kini senyum tersebut langsung luntur begitu saja.
"A... Apa mak.. sud Tante?" Tanya Nadhira dengan terbata bata.
"Aku tau ini akan sulit, Tante mohon kepadamu, jauhi Rifki sekarang juga, karena kalian tidak boleh bersama, Tante tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua!".
Seketika tercipta sebuah kristal putih bening dipelupuk mata Nadhira, kata kata itu begitu sangat menyakitkan baginya, bagaimana bisa dia menjauhi orang yang ia cintai begitu saja, dan hal itu adalah hal yang paling sulit baginya.
__ADS_1
"Ke.. kenapa Tan? Apakah aku telah melakukan suatu kesalahan?"
"Kau tidak salah Dhira, karena Rifki sudah Tante jodohkan dengan anak sahabat Tante sejak dulu, jadi tolong, jauhi Rifki mulai saat ini"
"Aku tidak bisa Tan".
"Jika kau sangat mencintai Rifki, maka biarkan dia hidup bahagia dengan orang pilihan Tante, apapun akan Tante berikan kepadamu asalkan kau menjauhi Rifki, bahkan salah satu cabang perusahaan Abriyanta Groub pun akan aku berikan jika kau menginginkan itu".
"Aku tidak butuh itu Tan, jika Tante menginginkan aku menjauh dari Rifki, aku akan melakukannya sekarang juga, aku sama sekali tidak membutuhkan harta itu! Jika Tante mengira bahwa cintaku hanya karena harta, Tante salah besar, aku mencintai Rifki dengan tulus dan bukan karena menginginkan sebuah harta" Ucap Nadhira dengan linangan air mata.
"Baguslah kalau begitu, jauhi Rifki mulai saat ini juga, jangan pernah lagi menemui Rifki ataupun hanya sekedar menghubunginya saja, jika kau benar benar mencintainya maka lupakanlah cinta itu".
"Jika itu Tante inginkan, aku akan pergi selama lamanya dari kehidupan Rifki".
"Aku pegang ucapanmu Dhira".
"Saya permisi Tan!"
Nadhira segera bergegas meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewanya atas ucapan yang dilontarkan oleh Putri kepadanya kali ini, ia tidak menyangka bahwa Putri akan mengatakan hal tersebut kepadanya.
Melihat Nadhira yang bergegas pergi dengan rasa kecewanya, seketika membuat air mata Putri ikut menetes, ia sebenarnya tidak tega mengatakan itu kepada Nadhira akan tetapi dirinya tidak ingin kehilangan putra tercintanya.
"Maafkan aku Dhira, seandainya permata itu tidak ada didalam tubuhmu, Tante pasti mengizinkan dirimu untuk bersama dengan Rifki, kalian berdua tidak akan bisa bersama, Tante tau ini pasti sangat menyakitkan bagimu, dan asal kau tau ini lebih baik daripada melihat kematian orang yang kau sayangi" Ucap Putri dengan lirihnya.
Nadhira melewati lobi cafe tersebut dengan linangan air mata dan begitu tergesa gesa untuk segera meninggalkan tempat tersebut, Bayu yang sedang duduk didalam mobil melihat Nadhira berlari keluar dari cafe, dirinya pun langsung keluar dari mobil.
"Dhira ada apa? Kenapa kau menangis seperti itu? Katakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Dhira?" Tanya Bayu ketika melihat linangan air mata dipipi Nadhira.
"Bukan apa apa, permisi".
Nadhira segera bergegas melewati tubuh Bayu begitu saja, dia tidak mau menatap kearah wajah temannya itu dan justru memilih langsung meninggalkan tempat tersebut.
"Dhira kau mau kemana? Dhira! Dhira!".
Nadhira sama sekali tidak mendengarkan panggilan dari Bayu dan terus berlari menjauh dari Bayu, Bayu merasa ada yang aneh dengan Nadhira, entah apa yang terjadi didalam hingga membuat Nadhira menangis seperti itu.
Tak beberapa lama kemudian Putri pun keluar dari cafe tersebut, melihat itu membuat Bayu segera bergegas untuk menemuinya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Nadhira.
"Tante, Dhira kenapa? Kenapa dia menangis seperti itu? Apa terjadi sesuatu didalam?"
"Ngak tau, setelah menerima telfon dia jadi seperti itu" Bohong Putri.
"Apa sebaiknya kita menyusul Nadhira? Aku takut terjadi sesuatu dengan dirinya"
"Tidak usah, aku masih ada perlu, ayo jalan".
"Baik Tan".
Bayu pun tidak bisa membantah ucapan Putri, ia pun akhirnya segera masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut, sementara Nadhira kini tengah berlari disebuah jalanan yang sangat sepi dimalam hari ini.
Nadhira pun menjatuhkan dirinya diaspal jalanan tersebut dengan kerasnya hingga kedua lututnya tergores oleh aspal, Nadhira masih tidak menyangka bahwa Putri akan mengatakan hal itu untuk memisahkan dirinya dengan Rifki, dan mengingat hal itu membuat Nadhira menangis sejadi jadinya.
"Arghhhhhh..... Kenapa!" Teriak Nadhira.
Perkataan perkataan itu seakan akan terus bergentayangan didalam ingatannya, dan hal itu membuat hatinya semakin sakit ketika mengingatnya, entah kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga membuat Putri mengatakan hal itu kepada Nadhira.
"Aku tidak bisa melakukan itu hiks.. hiks.. hiks.. aku sangat menyayangi Rifki, aku tidak akan sanggup jika harus menjauhinya apalagi melihat dia bersama orang pilihan dari orang tuanya".
Nadhira pun mencoba untuk bangkit dari duduknya dan segera bergegas kembali kerumahnya, Nadhira memutuskan untuk jalan kaki sambil menenangkan pikirannya, karena jarak antara dirinya dengan rumahnya sudah tidak terlalu jauh hingga hanya membutuhkan sekitar 30 menit untuk berjalan.
Setelah berjalan cukup lama akhirnya dirinya telah sampai didepan pintu gerbang rumahnya, dan dirinya segera membuka pintu gerbang tersebut tanpa bantuan dari Pak Santo, melihat itu membuat Pak Santo segera bergegas menemuinya.
"Non Dhira sudah pulang, kenapa Non Dhira menangis seperti itu?" Tanya Pak Santo ketika melihat adanya air mata dipelupuk matanya.
"Ngak apa apa".
Nadhira segera bergegas meninggalkan Pak Santo dengan langkah begitu lesu, seakan akan nyawanya sudah tidak ada pada tempatnya, dan hal itu membuat Pak Santo sangat kebingungan malam ini karena tidak biasanya Nadhira bersedih seperti itu.
"Ada apa dengan Non Dhira? Kenapa dia menangis seperti itu, apa Non Dhira kembali dari rumah sakit dengan jalan kaki?"
Sebelumnya Pak Santo tidak menyadari akan kedatangan sebuah kendaraan didepan rumah Nadhira, akan tetapi tiba tiba Nadhira masuk begitu saja kerumahnya, sehingga Pak Santo menduga bahwa Nadhira pulang dengan jalan kaki.
__ADS_1
Pak Santo kebingungan dengan apa yang terjadi kepada Nadhira, ia tau bahwa laki laki yang dicintai oleh majikannya itu kini tengah masuk rumah sakit akan tetapi tidak biasanya Nadhira akan datang dengan linangan air mata seperti itu.