Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Perpisahan yang tak diinginkan


__ADS_3

Melihat Nadhira memakannya dengan gemesnya membuat Stevan merasa sangat senang, tidak biasanya Nandhita akan mau memakan cemilan dan berbeda dengan saat ini, dia bersyukur karena masih ada makanan yang dapat masuk kedalam perutnya itu meskipun hanya sekedar cemilan saja.


"Tumben mau cemilan, biasanya aja langsung balik lagi tuh dari perut" Ucap Stevan.


"Milik Dhira, rasanya enak, gurih" Ucap Nandhita tanpa mengalihkan pandangannya dari cemilan tersebut.


"Jadi kalo bukan milik Adek ipar ngak mau?"


"Ngak! Rasanya beda ngak enak"


Stevan hanya tersenyum sambil mengusap pelan punggung Nandhita, melihatnya memakan cemilan seperti itu rasanya sangat menyenangkan bagi Stevan akan tetapi tidak dengan Nadhira yang merasa sebal dengan Kakaknya itu.


"Nah kan, dengerin ucapan Kak Dhita" Bisik Rifki ditelinga Nadhira.


"Iya sayang" Jawab Nadhira meskipun dengan bibir yang mencerucut.


Nadhira pun memakan cemilan yang dimakan oleh Nandhita sebelumnya yang ada ditangannya saat ini, ia pun mencoba untuk menikmati cemilan tersebut sambil menatap kearah televisi yang ada didepannya itu, sementara Rifki hanya bisa menahan tawanya melihat wajah jengkel yang tertera dimuka Nadhira.


"Sudah dong wajahnya jangan ditekuk seperti itu" Ucap Rifki seraya menyandarkan kepala Nadhira didalam dada bidangnya itu.


"Masih jengkel dengan Kakak, udah salad buahku dihabiskan sekarang lagi cemilanku diambil olehnya" Jawab Nadhira dengan cemberutnya.


"Ngak kasihan apa dengan Kakakmu yang belakangan ini tidak doyan makan? Nanti aku belikan lagi yang banyak untukmu sayang"


"Tapi kan itu milikku Rif"


"Tingkahmu aneh sekali Dhira, kayak anak kecil banget yang rebutan mainan"


"Ngak tau, sebel aja gitu Rif"


"Sudah, kamu belom makan kan? Ayo kedapur kita buat makanan bareng bareng"


"Aku mau lumpia basah yang isinya wortel, kentang, sama jagung manis Rif"


"Baiklah, kita buat sekarang"


Rifki bangkit dari duduknya dan mengajak Nadhira untuk berdiri juga, keduanya pun berjalan menuju kedapur, Rifki langsung menyiapkan sayur sayuran yang diperlukan untuk membuat makanan yang diinginkan oleh Nadhira.


Rifki pun menyerahkan sayur sayuran itu kepada Nadhira untuk dipotongi kecil kecil, sementara Rifki tengah sibuk untuk membuat adonan kulit lumpianya, Nadhira memotongi sayuran itu kecil kecil dan berbentuk seperti dadu.


Setelah semuanya selesai, Rifki pun mengambil alih sayuran yang dipotong kecil kecil oleh Nadhira sebelumnya, ia pun mencucinya dengan bersih dan memasukkannya kedalam sebuah adonan, setelahnya ia menatanya diatas kulit lumpia yang telah ia buat sebelumnya.


Setelah selesai Rifki pun mencelupkannya kedalam adonan basah dan dilanjutkan dengan mencelupnya diatas adonan tepung panir halus, dan lanjut untuk digoreng sampai berubah warna menjadi kecoklatan.


Bau harum dari masakan itu pun membuat Nandhita merasa lapar, ia pun segera menghampiri kedua orang yang tengah memasak itu, Rifki menghidangkan beberapa lumpia yang telah ia tata diatas piring didepan Nadhira.


"Silahkan dinikmati Tuan Puteri" Ucap Rifki.


"Makasih sayang" Ucap Nadhira.


Nadhira pun mengambil sebuah lumpia itu dari piringnya, ketika hendak memasukkannya kedalam mulutnya tak beberapa lama kemudian Nandhita mengambil semuanya sepiring hal itu membuat Nadhira kembali sebal karena Kakaknya itu, Rifki yang melihat itu pun langsung bergegas memberi Nadhira sepiring lagi.


"Sudah, ini aku ganti yang baru" Ucap Rifki.


Nadhira hanya mengangguk kepada Rifki dan sesekali memberi sebuah senyuman kepada Rifki, Nadhira pun memakan lumpia tersebut sambil memegangi piringnya dengan erat karena takut Nandhita akan mengambilnya lagi.


Rifki mengusap pelan puncak kepala Nadhira merasakan belaian lembut dari Rifki membuat Nadhira menyandarkan kepalanya didada bidang Rifki yang tengah duduk disebelahnya itu, Nadhira sangat menikmati akan hal itu.


"Masakan buatanmu selalu enak Rif" Ucap Nadhira seraya tersenyum kearah Rifki.


"Makannya pelan pelan saja sayang"


Nadhira mengangguk dengan cepat untuk mengiyakan ucapan Rifki, ia pun memelankan cara mengunyahnya, melihat itu membuat Nadhira tersenyum kearahnya senyuman yang selalu membuat Nadhira candu.


*****


Keesokan paginya, Nandhita tengah bersiap siap untuk berangkat ke bandara, keduanya diantar oleh Rifki dan Nadhira menuju ke bandara, ketika mengetahui bahwa mereka akan pergi membuat Nadhira merasa sangat sedih.


"Kalian yakin mau berangkat sekarang?" Tanya Nadhira dengan kedua mata yang mulai berkaca kaca menahan tangisannya.


"Jaga diri baik baik ya Dek" Ucap Nandhita.

__ADS_1


Rifki dan Stevan keduanya tengah sibuk untuk memasukkan barang barang yang akan keduanya bawa kedalam mobil, terlalu banyak barang yang harus Stevan bawa termasuk juga obat obatan sebagai persiapan untuk terbang.


Setelah selesai, mereka pun masuk kedalam mobil tersebut dan langsung disopir oleh Pak Mun untuk meninggalkan rumah besar itu, kini rumah itu akan terlihat sepi tanpa kehadiran dari Stevan dan Nandhita.


"Nanti kalo ada waktu main ketanah air lagi ya Kak" Ucap Nadhira seraya berharap Kakaknya tersebut mengiyakan ucapannya.


"Iya Dek, nanti kalo Kakak udah lahiran kamu main kesana bareng Rifki ya" Ucap Nandhita sambil mengusap pelan perut ratanya.


Karena baru menginjak beberapa minggu saja, perut Nandhita pun masih terlihat rata, bahkan orang orang tidak akan percaya kalau Nandhita itu hamil, Nadhira pun mengusap pelan perut rata Nandhita berharap bahwa dirinya juga akan segera dikaruniai seorang malaikat kecil.


"Tenang tenang didalam perut ya keponakan kecilku, kalo sudah keluar nanti, kita main bareng, kalo masih didalam jangan nakal nakal kasihan Ibumu nanti" Ucap Nadhira seraya tersenyum kearah perut Nandhita.


"Iya Tante, Tante juga jaga kesehatan ya, kami akan baik baik saja kok" Ucap Nandhita mewakili anaknya yang belum lahir itu.


"Anak pinter, nanti kalo udah gede Tante ajarin bikin Mamamu marah ya Nak, kita akan jadi satu tim pengerusuh nanti, biar Mamamu kewalahan nanti ya Nak"


"Dhira ngak boleh gitu, masak keponakan sendiri diajari nakal sih, seharusnya diajarin biar tambah pinter" Ucap Rifki seraya mengusap pelan puncak kepala Nadhira.


"Kan itu juga termasuk pinter sayang, pinter bikin rusuh, kapan lagi sayang, biar Kak Dhita makin bingung dan kewalahan nanti, pasti nanti anak Kak Dhita gemesin"


"Begitulah adek lucknut, minta di buang ke jurang keknya" Ucap Nandhita.


"Sok inggris, kalo Kakak jauh nanti pasti akan merindukan diriku" Ejek Nadhira.


"Siapa yang akan merindukan Adek yang resek seperti dirimu itu Dhira"


"Idih, lihat saja nanti, dijamin bakalan merindukan diriku"


Nadhira mengusap perut Nandhita pelan, meskipun perut itu masih datar akan tetapi ada kesenangan tersendiri bagi Nadhira, Nadhira pun menjatuhkan kepalanya untuk bersandar dipundak Rifki dan memeluk tubuh pria yang dicintainya itu, dan dirinya berharap bahwa adanya benih benihnya Rifki didalam perutnya saat ini.


Tak beberapa lama kemudian sampailah mobil mereka masuk kedalam parkiran yang ada dibandara, Pak Mun mencari parkiran yang masih kosong untuk memarkirkan mobil mereka, setelahnya ketiga pria itu langsung mengeluarkan beberapa koper dari dalam mobil yang mereka naiki itu.


Mereka bertiga menaruh barang barang mereka itu ditempat penitipan barang, para petugas bandara segera mengambil barang barang tersebut untuk dimasukkan kedalam bagasi pesawat terbang tersebut untuk ditata dengan rapi.


Masih ada waktu satu jam lebih untuk menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawa kedua orang itu untuk pergi dari sana, sehingga kelimanya masih duduk duduk didalam bandara untuk menunggu waktu keberangkatan mereka.


"Ngak ada yang ketinggalan kan Kak?" Tanya Nadhira yang takut kalo sesuatu milik Nandhita tertinggal sehingga mereka harus bolak balik untuk mengambilnya.


"Ada yang ketinggalan sayang" Ucap Nandhita sedikit panik kepada Stevan.


"Apa?" Tanya ketiganya bersamaan sambil menatap tajam kearah Nandhita.


"Jejakku yang ada dirumah" Jawab Nandhita dengan santainya.


"Udah disapu sama Bi Sari" Ucap Nadhira sambil menjulurkan lidahnya mengejek Nadhira.


"Emang dikolong ranjang juga disapu?"


"Ngapain sampek ke kolong kolong segala? Mau cosplay jadi tikus?"


"Jadi kecoak"


Semua melongo mendengar jawaban dari Nandhita itu, mereka telah serius bertanya akan tetapi dengan entengnya Nandhita menjawab sedemikian, Nadhira hampir saja mengumpat karena ucapan Nandhita akan tetapi dirinya berhasil mengendalikan dirinya agar tidak mengumpat karena itu.


"Kak tanganku berat loh, sekali tonjok bisa hilang tuh hidung Kakak" Ucap Nadhira sambil melirik dan memutar bola matanya malas.


"Mau baku hantam denganku?" Tanya Stevan.


"Langkahi dulu diriku sebelum menyentuh Nadhiraku" Ucap Rifki dengan santainya.


"Galak amat Bang" Ucap Stevan.


"Siapa suruh mau ngajak istriku baku hantam, sebelum baku hantam dengan dia, lawan aku dulu"


"Kalo melawan dirimu, jelas ngak ada kesempatan untuk menang sedikitpun, kalo melawan Dhira masih ada kemungkinan untuk menang"


"Justru Kakak salah jika berpikiran seperti itu, dia bahkan jauh lebih galak dan ganas daripada diriku"


"Benarkah? Aku ngak yakin dengan ucapanmu itu, jika dia hebat kenapa dirimu berkorban untuk dirinya"


Stevan menolak percaya dengan ucapan dari Rifki yang mengatakan bahwa Nadhira lebih galak daripada dirinya, karena yang ia ketahui adalah Rifki yang hebat dalam beladiri, akan tetapi dirinya melupakan satu hal yakni disaat Rifki diculik dari pernikahannya, Nadhira melawan begitu banyak anggota Gengters sendirian.

__ADS_1


"Karena dirinya adalah wanita terhebatku dan aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dirinya"


"Kau sangat mencintainya?"


"Jika Kakak ipar bertanya seperti itu, maka aku hanya bisa menjawab bahwa hidupku sepenuhnya adalah miliknya sekarang, aku sendiri tidak berhak atas diriku sendiri karena jiwa ragaku milik Nadhira, cintaku kepadanya tidak mampu diukur oleh apapun"


Mendengar itu membuat Nadhira langsung memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya, dia hanyalah orang lain yang masuk kedalam kehidupan Rifki akan tetapi kini dirinya sudah memiliki Rifki dengan sepenuhnya dan menjadi orang yang sangat berarti bagi dirinya itu.


"Kau beruntung sekali memiliki Rifki sebagai suamimu Adik ipar" Ucap Stevan.


"Kakak ipar juga, Kakak begitu beruntung memiliki Kak Dhita, karena tidak pernah ada lelaki lain yang bisa meluluhkan hatinya itu kecuali Kakak ipar, jaga dia dengan baik ya Kakak ipar"


"Tanpa diminta sekalipun itu, Kakakmu ini akan selalu menjaga Kakak tercintamu itu Adek ipar"


"Baguslah, jangan buat diriku yang turun tangan sendiri untuk menghajarmu nanti"


"Adek ipar ngak boleh galak galak, kasihan suamimu nanti kalo kau melakukan KDRT dengan dirinya"


"Soal Rifki aku yang urus, kalian tenang saja"


Tak beberapa lama kemudian waktu menunjukkan kurang 40 menit lagi pesawat akan berangkat, Stevan dan Nandhita pun bangkit dari duduknya diikuti oleh Nadhira dan Rifki.


"Kami berangkat dulu ya" Ucap Nandhita.


Nadhira pun menjatuhkan pelukannya kepada tubuh Kakaknya itu, Nadhira memeluk tubuh Nandhita dengan sangat eratnya seakan akan dirinya tidak ingin perpisahan itu terjadi akan tetapi ini adalah sebuah keharusan untuk keduanya berpisah.


Nadhira memeluk tubuh Nandhita dengan erat seakan akan dirinya tidak akan lagi untuk dapat melihat saudaranya itu, entah akan seperti apa masa depan nanti mungkinkah Nadhira akan pergi terlebih dulu ataukah Nandhita yang akan pergi terlebih dulu, Nadhira hanya merasa bahwa dia tidak akan bertemu kembali dengan Kakaknya.


Pelukan hangat tersebut terjadi begitu lama, tanpa Nandhita ketahui bahwa kini Nadhira sedang menangis didalam pelukannya itu, sangat berat untuk melepaskan kepergian dari Nandhita kali ini, ada perasaan yang hilang didalam hatinya.


"Kakak harus baik baik saja" Ucap Nadhira yang terisak tangis didalam pelukan Nandhita.


"Dirimu juga harus baik baik saja, jaga kesehatanmu Dek, hidup dengan satu ginjal itu tidak mudah, kau harus benar benar memperhatikan dirimu, jangan hanya karena ingin melindungi orang lain kau rela membuat dirimu terluka" Bisik Nandhita.


"Maafin Dhira yang selalu membuat semua orang khawatir dengan kondisi Dhira, Dhira takut terjadi sesuatu dengan Kakak"


"Kakak akan baik baik saja Dhira, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti, disaat anak anak kita tubuh dewasa nanti"


"Aku harap juga begitu Kak, aku tidak yakin bahwa kita akan bertemu lagi, Dhira sangat menyayangi Kakak"


"Jangan katakan seperti itu, kita pasti bisa bertemu kembali suatu saat nanti"


"Ini hanya firasat Dhira Kak, Dhira sangat takut"


"Seandainya Mama masih ada, semuanya akan baik baik saja Dek"


"Dhira yakin bahwa Mama masih ada Kak, kita akan menemukannya suatu saat nanti, meskipun tidak menemukan jasadnya setidaknya Dhira akan meminta kepada Allah semoga dia mempertemukan diriku dengan makamnya"


Nandhita mengusap pelan kepala Nadhira, ini adalah perpisahan yang sangat memberatkan, dimana dirinya harus mengikuti suaminya kemanapun suaminya berada dan harus perpisah dari saudara satu satunya itu.


"Sayang ayo berangkat" Ucap Stevan yang memegangi tangan Nandhita.


"Jaga kesehatan ya Dhira, kau harus baik baik saja, Rif titip Adekku ya, jangan sakiti dia, jaga dia dengan benar, kau tau kan apa yang dialami oleh Nadhira saat ini?" Nandhita menatap penuh harap kepada Rifki.


"Kak Dhita tenang saja, aku berjanji untuk selalu menjaganya didepan Oma Sarah, dan aku tidak akan pernah mengingkari janji itu" Ucap Rifki.


"Aku percaya kepadamu, jangan pernah merusak kepercayaanku terhadapmu"


"Iya Kak, Dhira akan aman bersamaku"


Rifki pun menarik tubuh Nadhira untuk menjauh dari Nandhita yang hendak pergi jauh itu, Rifki pun langsung memeluk tubuh Nadhira, Nadhira yang tengah terisak itu pun sudah tidak mampu untuk membendung air matanya.


Nadhira menangis didalam pelukan Rifki hingga membuat jas yang digunakan oleh Rifki itu basah karena air matanya, sementara Stevan memegangi tangan Nandhita dengan erat seraya untuk mengajaknya pergi dari sana.


"Kami berangkat dulu ya, tolong jagain Nadhira" Ucap Nandhita yang sedikit tidak tenang untuk meninggalkan Nadhira.


"Kakak tenang saja, ada aku disini yang akan selalu menjaga Nadhira dengan baik" Jawab Rifki.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam warahmatullahi wa bharakatuh" Jawab Nadhira dan Rifki bersamaan.

__ADS_1


Nandhita dan Stevan pun melenggang pergi dari tempat itu, dengan berat hati keduanya melangkah pergi untuk memasuki pesawat terbang yang telah ia sewa itu, Rifki menatap kepergian keduanya dalam diam sementara Nadhira tidak berani untuk melihat kepergian dari keduanya itu.


__ADS_2