Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Rifki tidak sadarkan diri


__ADS_3

Nadhira dan juga Rifki kini tengah terlelap begitu lama hingga mereka tidak menyadari bahwa saat ini matahari mulai sedikit terbenam, dan hal itu membuat hutan tersebut terlihat semakin sunyi dan menyeramkan diikuti dengan suara suara hewan yang mampu melemahkan mental seseorang.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya Nadhira mulai membuka kedua matanya, dan ia begitu terkejut ketika dirinya sudah berbantalkan pangkuan Rifki, sementara Rifki yang merasakan pergerakan dari Nadhira segera membuka kedua matanya.


"Kau sudah bangun Dhira, aku pikir kau akan terbangun esok hari sekalian menunggu sinar matahari terbit" Ucap Rifki.


"Bagaimana aku bisa tertidur begitu sangat lama dipangkuanmu, kakimu pasti sakit dan kram kan karena menahan diriku? Maafkan aku Rif".


"Bukan masalah kok Dhira, aku sendiri juga tidak tega untuk membangunkan dirimu, kau pasti sangat kelelahan sekali Dhira hingga kau bisa tidur selama itu walaupun diantara semak semak seperti ini".


"Ngak kok Rif, sepertinya kita akan terjebak dihutan lagi malam ini, kenapa kau tidak membangun diriku sebelumnya Rif, kalau saja aku bangun lebih awal, kita bisa melanjutkan perjalanan lagi".


"Wajahmu tidak bisa berbohong kepadaku Dhira, dalam keadaan tidur saja kau terlihat sangat kelelahan lalu bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kau tidak kelelahan?".


"Apa kau memperhatikan diriku saat tertidur? Aku pasti kelihatan jelek kan?" Tanya Nadhira dengan begitu terkejut.


"Tidak, aku hanya memperhatikan wajah seorang bidadari yang begitu cantik ada didepanku, seorang bidadari yang mampu membuat hatiku merasa tenang walau hanya dengan senyumannya".


Nadhira merasa malu ketika dipuji oleh Rifki seperti itu, hingga membuatnya langsung menoleh dan membuang mukanya dari Rifki dengan kedua pipi yang mulai merah merona dan terasa panas itu.


"Kenapa wajahnya disembunyikan seperti itu?" Tanya Rifki sambil memegangi pipi Nadhira dan menolehkan wajahnya kepadanya.


Nadhira pun tidak mempedulikan pertanyaan Rifki, dan berpura pura mengalihkan pandangannya dari wajah Rifki menuju kearah langit yang perlahan lahan mulai terlihat gelap itu, dengan seutas senyuman tipis dari wajahnya.


"Jadi Dhira sudah tidak mau lagi melihat wajahku nih?" Tanya Rifki dengan nada menggoda.


"Ngak, bosen melihat wajahmu terus"


"Beneran sudah bosen melihat wajahku?".


"Iya, sangat bosan".


"Akh..." Desah Rifki kesakitan tiba tiba.


"Rifki kau kenapa?" Tanya Nadhira dan langsung menoleh kearah wajah Rifki dengan khawatirnya.


Melihat Nadhira yang menoleh kearahnya dengan khawatirnya membuat Rifki tersenyum dengan lebar tiba tiba kearah Nadhira, dan hal itu seketika membuat Nadhira merasa jengkel.


"Rifki! nyebelin banget sih kami ini!" Ucapnya sambil mencubit lengan Rifki.


"Maaf maaf, tadi kamu bilang tidak mau melihat wajahku lagi? Kenapa masih dilihatin aja?"


"Ngak kok, aku ngak ngelihat wajahmu".


"Kamu lucu kalau lagi ngambek seperti ini Dhira, aku jadi teringat waktu kita kecil dulu"


"Emang apa yang kau ingat? Kau bahkan sebelumnya mengatakan kalau ingatanmu itu sedikit bermasalah bukan?".


"Iya bermasalah untuk mengingat orang lain selain dirimu, bagaimana aku bisa melupakan tentang seorang gadis kecil yang mendorongku didepan gerbang sekolah hanya karena kakinya yang sakit".


"Kau mengingatnya? Bagaimana bisa?" Ucap Nadhira sambil membuang muka dari Rifki.


"Bagaimana aku bisa lupa? Dan bahkan ekspresi itu sama sekali tidak berubah sampai sekarang, dan bahkan gadis itu pernah dibawa kekantor sekolah bagaikan seorang tahanan oleh guru olah raga, tapi gadis itu malah bilang kalau guru olah raganya mau menjadikan dirinya sebagai menantu".


"Rifki! Sudahlah jangan bahas itu lagi, mood banget bikin orang sebal".


Rifki seketika tertawa melihat tingkah lucu Nadhira, sudah lama dirinya tidak pernah menggoda Nadhira dan membuatnya semakin sebal dengan dirinya itu, malam ini dirinya merasa puas untuk menggoda Nadhira hingga membuatnya tertawa.


"Dhira lihat, banyak sekali kunang kunang yang datang ketempat ini" Ucap Rifki sambil menunjuk kesuatu arah.


Nadhira segera menoleh ketempat dimana Rifki menunjukkan dimana kunang kunang itu, nampak terlihat begitu indah karena gemerlapnya, dan hal itu membuat Nadhira bangkit berdiri merasa kagum dengan keindahan itu.

__ADS_1


"Rifki ini sangat indah"


Nadhira segera berlari kearah kunang kunang itu dan menari nari dengan bahagianya melihat keindahan kunang kunang, melihat Nadhira bahagia membuat Rifki ikut tersenyum bahagia.


"Rifki lihat, bukankah ini sangat indah?"


"Iya Dhira, kau terlihat sangat indah".


"Bukan aku, tapi kunang kunangnya".


"Iya ya, tapi aku dengar bahwa kunang kunang adalah kukunya orang meninggal".


"Benarkah? Tapi ini sangat indah, bahkan indah sekali".


Nadhira seakan akan menyatu dengan keindahan dari kunang kunang itu, Rifki melihat Nadhira seakan akan tidak ingin untuk kehilangannya, dan Nadhira segera berlari kearah Rifki dengan bahagianya.


"Rifki aku belum pernah melihat kunang kunang, ternyata mereka begitu indah" Ucap Nadhira sambil menatap kedua mata Rifki.


"Kau benar Dhira, jadilah cahaya yang mampu menerangi kegelapan yang ada dalam hidupku Dhira, seperti kunang kunang itu".


Nadhira tersenyum kearah Rifki dan mengusap pipi Rifki dengan begitu lembutnya, "Kau adalah penerang dalam hidupku Rifki, selama ada dirimu dalam hidupku maka semuanya akan baik baik saja".


Keduanya pun saling bercanda gurau untuk mengisi keheningan dihutan malam ini, seketika Rifki merasa perutnya sangat sakit, hingga membuat dirinya menghentikan tawanya dan memegangi perutnya sambil menggeram kesakitan.


"Rifki kamu kenapa?".


"Udaranya begitu dingin Dhira" Ucap Rifki beralasan.


"Sebentar aku akan mencari kayu bakar dulu ya, buat bikin api unggun, agar tubuhmu terasa hangat nantinya" Ucap Nadhira lalu berdiri.


"Ngak usah Dhira, tetap disini saja" Ucap Rifki dan segera memegangi tangan Nadhira.


"Tanganmu panas banget Rif" Nadhira terkejut ketika tangan Rifki memeganginya.


Nadhira pun membungkuk dihadapan Rifki yang perlahan lahan menutup matanya itu, ia pun segera mengarahkan punggung tangannya kekening Rifki untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"Kau demam Rif? Tubuhmu panas sekali".


"Dhira jangan pergi".


"Rifki, aku disini, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa tubuhmu mendadak panas seperti ini"


Rifki pun tidak sadarkan diri dengan memegangi tangan Nadhira dengan eratnya, melihat itu membuat Nadhira merasa sedih dan tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.


*****


Anggota Gengcobra yang mendengar perintah dari Haris segera bergegas menuju kehutan untuk mencari tau tentang keberadaan Tuan Muda mereka, Haris mengatakan bahwa Nadhira dan Rifki tengah berada di hutan terdekat dari rumah Nadhira, Haris melihat Rifki dan Nadhira masuk kedalam hutan.


Haris tidak bisa berbuat apa apa untuk membantu keduanya, karana dirinya yang sudah tidak mampu untuk beladiri sehingga ia memutuskan untuk kembali dan memerintahkan anggota Gengcobra untuk segera bergegas mencari keduanya.


Anggota Gengcobra dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menelusuri hutan tersebut, yang masing masing diketuai oleh Bayu, Reno, Vano, Andra dan juga Fajar.


Mereka membangi kelompok dan masing masing terdiri dari 15 orang dimasing masing kelompok, Bayu memimpin anggotanya menuju kehutan terdalam yang belum pernah dikunjungi oleh orang orang, Reno memimpin anggotanya menuju kebagian terluar dari hutan tersebut.


Vano memimpin anggotanya menuju kearah terbalik dari Bayu, Andra memimpin pasukannya menuju kesisi lain hutan yang sedikit jauh dari desa Mawar merah dan Fajar memimpin anggotanya menuju ke sekitar desa Mawar Merah.


Fajar merasa bahwa Rifki berada disana karena sebelumnya Rifki pernah mengajaknya untuk mendatangi desa tersebut demi mencari Nadhira didalamnya sehingga dia memutuskan untuk mencari ketempat itu.


"Dhira! Rifki! Kalian dimana" Teriak Bayu.


"Sepertinya kita harus lebih masuk kedalam hutan itu deh Tuan, sebentar lagi malam akan tiba".

__ADS_1


"Baiklah, kita akan masuk kedalam, persiapkan diri kalian masing masing siapa tau ada hewan berbisa didalam sana" Ucap Bayu.


"Baik Tuan".


Bayu pun melangkah masuk kedalam hutan yang terdalam, ia berharap bahwa dirinya akan segera menemukan keberadaan dari kedua sahabatnya itu, dan dia berharap bahwa keduanya akan baik baik saja sampai mereka datang.


"Dhira! Rifki!".


"Tuan Muda!".


"Tuan Bayu! Sepertinya jalan itu pernah dilewati sebelumnya, apa mungkin Tuan Muda ada disana" Ucap salah satu anggotanya sambil menunjuk kearah semak semak yang telah diinjak.


"Ayo kita cari disana".


Bayu segera memimpin anggotanya menuju kearah yang ditunjukkan oleh salah satu anak buahnya itu, malam pun tiba hingga membuat pandangan mereka begitu pendek sehingga mereka tidak mampu melihat jalanan yang ada ditempat itu.


"Dhira! Rifki! Kalian dimana!" Teriak Bayu.


Beberapa meter dari mereka, Nadhira sedang mengumpulkan kayu bakar disekitar Rifki untuk dapat menghangatkan tubuh Rifki, awalnya dengan Nadhira tidak tega melihat Rifki yang sudah tidak sadarkan diri tersebut hingga dirinya pelan pelan untuk melepaskan pegangan tangan itu.


Nadhira sedang mencoba untuk menyalakan sebuah api menggunakan bebatuan yang ada disekitarnya, rasanya sangat sulit untuk melakukan itu, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menyerah untuk terus mencoba dan mencobanya, meskipun tangannya kini tengah bengkak karena batu tersebut.


Kegagalan itu sama sekali tidak membuat Nadhira menyerah, ia pun terus mencobanya dan berharap bahwa api akan segera menyala, setelah gagal berkali kali akhirnya sebuah api pun mulai menyala dan hal itu membuat Nadhira merasa senang.


"Rifki lihat, apinya sudah nyala" Ucap Nadhira dengan gembira dan dia menatap kearah Rifki yang terpejam dan hal itu membuat Nadhira seketika merasa sedih, "Rifki, aku tau kau tidak akan menyahuti suaraku kali ini, tapi kau harus bertahan demi diriku, kau tidak boleh meninggalkan diriku"


Nadhira pun memegangi tangan Rifki dan berharap bahwa suhu tubuh Rifki turun, kedua mata Rifki terpejam begitu rapatnya, Nadhira memandangi wajah Rifki dengan linangan air mata, malam itu terasa sangat sunyi bagi Nadhira dan hanya terdengar suara hewan hewan melata yang sangat menakutkan ditempat itu.


"Kau harus bertahan Rif hiks.. kau pernah berjanji kepadaku bahwa kau akan selalu menemaniku, jika harus pergi maka biarkan diriku yang pergi terlebih dulu hiks.. hiks.. kau adalah laki laki yang paling berarti bagiku setelah Papa pergi meninggalkan diriku Rif, hanya kau yang aku miliki"


Ditengah tengah tebaran kunang kunang yang bergemerlapan dihutan itu, Nadhira menangis dihadapan Rifki, karena Rifki yang sudah tidak sadarkan diri, Nadhira mengigit bibirnya sendiri agar suara isak tangisnya mampu ia tahan.


"Kau tau Rif, saat kita pertama kali bertemu, berkenalan dan bahkan sampai saat ini kita masih bersama, tumbuh bersama, dan bahkan melewati suka duka bersama, disaat keluargaku menyakitiku kau hadir sebagai penyemangat bagiku untuk mengobati luka di hatiku,


Dan bahkan disaat keluargaku tidak menganggap kehadiranku kau selalu ada untukku dan menganggapku begitu berharga bagimu, jika bukan karena kehadiranmu dalam hidupku, mungkin aku tidak akan pernah memiliki penyemangat untuk terus hidup, dan mungkin aku sudah mati sejak dulu,


Bagiku kau sangat berarti Rif, disaat Papa menginginkan kematianku, kau justru hadir dan melindungiku, dan disaat aku kritis hingga hampir kehilangan nyawaku, kau selalu menemaniku dan menyemangatiku untuk terus bertahan sampai detik ini Rifki,


Hanya wajahmu yang aku lihat disaat aku membuka mataku, aku pikir disaat aku telah melewati masa kritisku aku akan melihat wajah orang tuaku, tapi nyatanya hanya dirimu yang aku lihat, kau mengenggam tanganku dengan sangat eratnya, kau yang membuatku bertahan selama ini,


Aku kuat karena kehadiranmu dalam hidupku saat itu dan bahkan sampai sekarang, kau pun harus sama Rif, kau harus kuat dan bertahan demi diriku, kau tidak boleh meninggalkan diriku seperti ini Rif, kau adalah laki laki kedua setelah Papaku yang paling aku sayangi Rif, aku tidak mau kehilangan dirimu


Kau hadir menciptakan sebuah canda tawa untukku, kehadiranmu membuat hidupku jauh lebih bermakna, kau mewarnai kehidupanku yang bagaikan kanvas putih polos tanpa adanya coretan sedikitpun, disaat aku berpikir untuk mengakhiri hidupku kau justru hadir dan memberikan sebuah kehangatan bagiku".


Nadhira memegangi tangan Rifki dengan eratnya, dan menempelkannya kepada pipinya, tangan yang panas tersebut mulai terasa dingin karena terkena air mata Nadhira yang terus mengalir membasahi tangan Rifki.


Isak tangis lirih dari mulut Nadhira terdengar begitu memilukan, dan siapapun yang melihatnya akan ikut serta menangis, begitu banyak kenangan yang tidak mampu untuk diceritakan oleh Nadhira, tentang bagaimana dirinya mampu bertahan karena kehadiran sosok Rifki dalam hidupnya.


Setelah dirinya dilukai oleh seorang lelaki yang dipanggilnya dengan sebutan 'Papa' hanya Rifki yang selalu ada menemaninya didalam suka maupun duka, dimana semua orang menghancurkan kehidupannya hanya Rifki yang memperbaiki semuanya.


"Kau adalah lentera penerang dalam hatiku, kau lah candaku disaat diriku merasa sepi, disaat hidupku merasa berada didalam kegelapan kau hadir sebagai penerangnya, kau mengajarkanku tentang sebuah ketegaran, keikhlasan, kebaikan, dan bahkan tentang arti sebuah kehidupan, Rifki.. kaulah satu satu alasanku untuk hidup, jika kau pergi meninggalkanku maka bawalah aku bersamamu, tiada artinya aku hidup tanpa dirimu".


Nadhira memandangi wajah Rifki yang bersinar karena cahaya api unggun yang ada didekat mereka, wajah itu terlihat begitu damai dan tenang, wajah itu begitu indah, meskipun terpejam akan tetapi masih terlihat senyum tipis diwajahnya.


Nadhira segera menjatuhkan kepalanya kepada dada Rifki dan memeluknya dengan erat seolah olah dirinya akan kehilangan Rifki untuk selama lamanya, momen itu dihiasi oleh gemerlapan kunang kunang yang berterbangan memutari keduanya.


"Rifki, aku sangat menyayangi dirimu".


Rifki sama sekali tidak merespon ucapan Nadhira, Nadhira merasa nyaman ketika menyandarkan kepalanya didada bidang Rifki, ia pun memejamkan matanya dan berharap bahwa Rifki akan menyambutnya ketika dia mulai membuka matanya.


"Ya Allah, ambil saja nyawaku ini, aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan orang yang paling aku cintai lagi, ambil saja nyawaku untuk menggantikan nyawanya, biarkan dia tetap hidup".

__ADS_1


Karena lelahnya menangis, akhirnya Nadhira pun tertidur dengan memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya, malam ini adalah malam terberat bagi Nadhira disaat dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk Rifki.


__ADS_2