Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Bersama Melda


__ADS_3

Putri pun ragu untuk mengizinkan kedua orang itu menemui anaknya, dirinya sendiri bahkan tidak mampu untuk membuat Rifki keluar dari kamarnya lalu bagaimana dengan orang lain. Putri pun nampak sedang berpikir saat ini antara mengizinkan ataupun tidak mengizinkan.


"Apa kalian yakin bisa membuatnya membukakan pintu?"


"Kami belum mencobanya, mungkin saja berhasil. Dengan adanya Melda disebelahnya mungkin dirinya akan merasa tenang,"


"Baiklah,"


Nandhita dan Stevan pun langsung bergegas menuju kedepan pintu kamar Rifki, keduanya pun saling berpandangan satu sama lain untuk melemparkan pertanyaan tanpa lisan. Keduanya pun ragu bahwa Rifki akan mau membukanya, akan tetapi apa salahnya untuk mencoba dan siapa tau Rifki akan membukakan pintu untuk keduanya.


Tok tok tok


"Rifki buka pintunya!" Teriak seseorang dari luar kamar tersebut.


Mendengar suara tersebut langsung membuat Rifki mendongakkan wajahnya, ia sangat mengenali suara tersebut. Rifki pun langsung berjalan mendekat kearah pintunya dan membukanya, nampak sosok Nandhita dan juga suaminya tengah berdiri didepan pintu kamar tersebut.


Melihat Rifki yang nampak menyedihkan tersebut langsung membuat Nandhita meneteskan air matanya, ia tau apa yang dirasakan oleh Rifki saat ini. Mendengar tentang apa yang terjadi kepada Nadhira membuatnya langsung pulang ke Indonesia.


"Kakak," Ucap Rifki lirih.


"Apa yang terjadi dengan Nadhira dan juga dirimu?" Tanya Nandhita dengan linangan air mata.


"Ceritanya sangat panjang Kak, maafkan aku yang tidak mampu untuk menjaga Nadhira dengan baik. Aku berjanji, bahwa tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi Nadhira didalam hatiku,"


"Apa yang diucapkan oleh Nadhira waktu itu benar hiks.. hiks.. hiks.. bahwa saat itu adalah pertemuan terakhir kita berdua, dan dia mengatakan bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi,"


"Kak, dia tega meninggalkanku dengan luka." Ucap Rifki sambil menyerahkan secarik kertas kepada Nandhita dan Stevan.


Keduanya pun membaca surat yang ditulis oleh Nadhira itu, keduanya terkejut ketika mengetahui bahwa Nadhira tengah hamil waktu itu. Dalam keadaan seperti itu, dirinya tetap melindungi sosok Rifki tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri.


Nandhita tidak bisa membayangkan tentang kejadian waktu itu, seorang ibu hamil yang tengah melawan banyak orang hanya untuk bisa menyelamatkan orang yang disayanginya, dan rela mengorbankan nyawanya hanya untuk orang tersebut.


"Dia hamil?" Tanya Nandhita setelah selesai membaca secarik kertas yang ada ditangannya itu.


"Pasti ini sangat berat bagimu, Adik ipar. Aku tau apa yang kamu rasakan waktu saat ini, kamu harus mengikhlaskan kepergiannya ya, biarkan dia tenang dialam barunya," Ucap Stevan.


Rifki pun memejamkan matanya disaat rasa sesak yang ada didadanya kembali menyeruak disekujur tubuhnya itu, bahkan sejak lama Nadhira sudah merasakan bahwa kejadian seperti ini akan terjadi, akan tetapi Rifki sama sekali tidak menyadari akan hal itu.


Pandangan Rifki pun tertuju pada bayi yang ada didalam gendongan Nandhita, bayi yang masih berusia 8 bulan tersebut nampak begitu lucu dan juga mampu untuk menarik perhatian dari Rifki. Nandhita yang mengetahui arah pandangan Rifki itu pun langsung menyerahkan anaknya untuk digendong oleh Rifki.


"Dia anak kami berdua, Rif. Namanya Melda,"


Rifki pun menggendong bayi mungil tersebut dengan linangan air mata, ia sangat menginginkan kehadiran seorang anak didalam rumah tangganya bersama dengan Nadhira, akan tetapi keinginannya itu tidak akan pernah menjadi kenyataan karena Nadhira telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Melda," Ucap Rifki mengulangi nama anak dari Nandhita dan Stevan.


"Kami tau, kamu merasa kehilangan atas kepergian dari Nadhira, kami juga merasakan itu, dan kamu yang sabar ya. Kami berdua mengizinkanmu untuk menggendong Melda kecil kami untuk sesaat, sebagai pengobat rindumu terhadap anakmu sendiri, semoga dengan adanya Melda kamu bisa lebih tenang ya," Ucap Stevan sambil menepuk pundak Rifki pelan.


"Makasih ya, Kakak ipar. Bolehkah Rifki ajak masuk dia kekamar?"


"Iya, jaga dia dengan baik ya."


Rifki pun menggendong bayinya ada ditangannya itu dengan perlahan lahan dan membawanya masuk kedalam kamarnya. Ia pun menimang bayi tersebut dengan penuh kasih sayangnya, air matanya pun menetes disaat memandangi wajah bayi yang mungil itu.


"Melda, nama yang bagus. Sayang sekali Tantemu tidak ada disini, dia sangat bahagia ketika melihat fotomu waktu itu, dan kini kau ada disini bersamaku tapi tidak dengan Tantemu, Nak."


Melda kecil seakan akan mengerti dengan ucapan Rifki, dirinya pun memandangi wajah Rifki tanpa berkedip. Ia pun ikut tertawa ketika melihat Rifki tersenyum kepadanya, Rifki mengusap pelan kepala bayi gemoy itu dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus ia berikan.


"Kamu mau ngomong apa ke Om, Nak?" Tanya Rifki ketika melihatnya membuka mulutnya.


Mendengar pertanyaan itu langsung membuat Melda tertawa, Melda memang mudah tertawa meskipun hal itu tidak lucu, tapi bagi seorang bayi yang baru helajar mengenai dunia hal itu sangat menarik. Dari kejauhan Haris dan Putri tengah menyaksikan anaknya bermain dengan Melda dengan bahagianya.

__ADS_1


"Melda kecil, Om punya mainan loh, mau lihat?"


Rifki pun menaruh Melda diatas kasurnya, Melda yang memang sudah bisa tengkurap itu pun tidak mau tidur terlentang dan memilih untuk bergerak tengkurap. Melihat itu justru membuat Rifki tertawa dengan bayi mungkil yang berusia 8 bulan itu, Rifki pun memberikan mainan yang disimpannya ketika Nadhira hamil anak pertamanya dulu.


Waktu kandungan Nadhira masih berusia 5 bulan, Rifki sudah membelikan begitu banyak mainan untuk anaknya, akan tetapi anak yang ditunggu tunggunya itu ternyata meninggal sebelum dirinya sempat dilahirkan kedunia ini.


Melda seakan akan menjadi antusias dengan mainan yang dibawa oleh Rifki, ia pun berusaha untuk merayap mencapai tempat dimana Rifki berada. Karena dirinya yang belum bisa untuk merayap itu pun membuat Rifki tersenyum, ia lalu menggendong kembali Melda.


"Melda suka yang ini ya? Ini Om kasih deh untuk Melda cantik,"


Rifki pun mengenggamkan mainan itu ditangan bayi yang ada didalam pangkuannya itu, anak itu seakan akan menyukai mainan tersebut dan berusaha untuk memakannya meskipun dirinya belum memiliki gigi.


"Kok dimanan sih, Nak? Ini kan bukan makanan. Melda lapar ya?"


Air liur Melda pun menetes ditangan Rifki, seperti bayi pada umumnya jika mengunyah sesuatu pasti akan mengeluarkan air liur. Melda berusaha untuk mengunyah mainan itu meskipun tidak ada rasanya, dan dengan gusi tanpa gigi tersebut.


"Cepat besar ya, Nak. Kalo Tantemu kembali nanti, pasti akan mengajakmu bermain,"


Disatu sisi, Putri pun meneteskan air matanya ketika mendengar ucapan Rifki kepada anak yang ada didalam gendongannya itu, Rifki masih mengharapkan Nadhira hidup kembali walaupun pada raga yang lainnya.


"Mas," Panggil Putri lirih kepada suaminya yang ada disebelahnya.


"Biarkan dia bermain dengan Melda, mungkin dengan cara seperti itu dia bisa melupakan kesedihannya. Lagian orang tuanya juga telah mengizinkan Melda kecil untuk bersama dengan Rifki beberapa saat,"


"Apa sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Dhira? Dia tengah mengandung cucu kita, dia yang telah menyelamatkan anak kita."


"Aku sudah berusaha untuk mencarinya, tapi sama sekali tidak menemukan jasadnya dan hanya ada jasad anggota Gengcobra yang jatuh dijurang itu. Mungkinkah dia masih selamat tapi berada ditempat yang berbeda?"


"Kita harus segera menemukannya, entah dalam kondisi hidup ataupun telah tiada. Aku tidak bisa membiarkan anak kita seperti ini, Mas. Kasihan dia,"


"Iya, aku akan berusaha untuk mencarinya,"


Kembali lagi kepada Rifki yang tengah bermain dengan Melda, Melda kecil tersebut masih sibuk untuk mengunyah mainan yang ada ditangannya itu, meskipun tidak memiliki gigi akan tetapi Melda sama sekali tidak menyerah terus mengunyah.


Rifki lun membuka mulut Melda dengan satu tangannya, nampak terlihat 2 gigi yang seukuran biji selasih timbul digusinya, hal itu membuat Rifki tersenyum ketika melihat gigi Melda mulai tumbuh meskipun terlihat samar samar.


"Keponakan Om gusinya gatal ya? Mangkanya dikunyah terus mainannya, sini Om gendong. Melda kalo besar mau jadi apa, Nak? Pasti cantik sekali nantinya"


Rifki pun menggendong Melda dengan berdiri, keduanya nampak seperti Ayah dan anak yang sedang berbahagia. Melda pun tersenyum kearah Rifki ketika Rifki mulai menghibur Melda dengan tawa dan juga suaranya, tak beberapa lama kemudian Melda pun mulai menangis karena mengantuk.


"Melda sayang, kenapa nangis? Melda mau makan atau mau tidur ini? Melda ngantuk ya?"


Rifki pun menyandarkan kepala Melda didadanya, ia menepuk pelan punggung Melda agar Melda berhenti menangis saat ini. Ia pun menyanyikan lagu untuk Melda dan menimang nimangnya. Rifki merasakan sesuatu yang mengalir membasahi tubuhnya dan rasanya hangat.


"Ah Melda buang air kecil ya? Untung saja ngak dikasur tadi, yah Om jadi bau nih nantinya."


Melda yang sedang ditimang timang olrh Rifki itu pun perlahan lahan mulai memejamkan kedua matanya. Melda tertidur didalam gendongan Rifki, merasakan Melda yang telah tertidur nyenyak membuat Rifki tersenyum tipis sambil memandangi wajah Melda kecil yang memejamkan matanya.


Rifki pun mengecup kening Melda dengan penuh kasih sayang, dirinya sudah menganggap Melda sebagai anaknya sendiri. Ada sekitar 1 jam Rifki terus menimangnya, setelah itu dirinya berjalan keluar dari kamarnya, dan mendapati bahwa Papa dan Mamanya berada diluar kamarnya.


Belum sempat keduanya mengobrol dengan Rifki, Rifki lalu menaruh telunjuknya didepan bibirnya dan memberi tanda kepada keduanya untuk tidak berisik karana akan membangunkan Melda nantinya. Putri yang mengerti maksud Rifki pun hanya menganggukkan kepalanya kepada anaknya itu.


Rifki pun membawa Melda kepada Ibunya untuk ditidurkan bersama dengan Ibunya, Nandhita yang sedang duduk dikursi yang ada dikamar untuknya berserta suaminya pun terkejut ketika melihat kedatangan Rifki ketempat itu.


"Kak, Melda sudah tidur," Ucap Rifki kepada Nandhita dan memberikan Melda kepada Ibunya.


"Terima kasih ya sudah menidurkan Melda, biasanya Melda sangat sulit kalo diajak tidur. Mungkin dia nyaman denganmu kali Rif," Ucap Nandhita.


"Mungkin dianya terlalu ngantuk kali Kak,"


"Tapi kok bajumu basah? Melda nakal ya?"

__ADS_1


"Ngak apa apa kok, Kak. Namanya juga anak kecil, lagian Rifki masih bisa ganti baju."


"Yasudah setelah ini ganti baju ya, Kakak mau nidufkan Melda dulu,"


"Makasih ya Kak Dhita, sudah mengizinkan aku untuk bermain dengan Melda. Kalo bangun nanti, aku boleh ngak main sama dia lagi?"


"Boleh, Adik ipar. Anggap saja Melda seperti anakmu sendiri, dan sayangi dia seperti anakmu sendiri. Kami tau apa yang kamu rasakan, dan kami tidak akan melarang anak kami untuk bermain dengan Om nya." Jawab Stevan kepada Rifki.


"Kalo begitu, kalian istirahat saja dulu. Aku mau kembali kekamar,"


"Kamu kan belom makan? Ngak makan dulu, Adik ipar?" Tanya Stevan kepada Rifki.


"Aku sudah kenyang, Kak. Melihat Melda saja sudah membuatku merasa lega,"


Rifki pun keluar dari dalam kamar tersebut dengan menundukkan kepalanya, perasaan sedihnya Kembali menyelimuti hatinya. Tidak ada yang mampu membuatnya tertawa kembali dalam waktu yang lama selain hadirnya sosok Nadhira didalam kehidupannya itu.


Setelah membalikkan Melda kepada kedua orang tuanya, hati Rifki kembali merasa kesepian. Tidak ada senyuman diwajahnya, tidak ada lagi keceriaan seperti sebelumnya, tidak ada lagi suaranya yang menghiasi ruangan tersebut, dan dirinya benar benar merasa kesepian.


*****


Belakangan hari ini, Rifki terlihat sangat murung, dan bahkan jarang keluar dari kamarnya itu. Rifki memilih untuk mengerjakan pekerjaan kantornya dirumah, daripada harus pergi kekantor.


Sejak tidak adanya Nadhira disisinya, Rifki jarang sekali berkomunikasi kepada siapapun, bahkan penghuni rumah tersebut tidak pernah mendengar suara dari Rifki. Semangatnya benar benar telah hilang apalagi semenjak Nandhita dan Stevan bali keluar negeri beberapa hari yang lalu dan membawa Melda ikut serta bersama keduanya.


Rifki tidak mungkin bisa mencegah mereka untuk membawa Melda pergi, apalagi memisahkan Melda dari kedua orang tuanya itu. Dirinya akan terlihat sangat kejam jika melakukan hal tersebut hanya untuk membuatnya merasa bahagia, bukankah itu egois namanya jika Rifki mencegah Melda pergi bersama dengan kedua orang tuanya.


Rifki kini tengah terduduk dilantai dan bersandar diujung kasurnya, ia terlihat begitu menyedihkan dengan rambut dan baju yang berantakan. Dirinya sama sekali tidak mempedulikan kondisinya sendiri, dan bayangan bayangan tentang Nadhira terus bermuculan didalam ingatannya itu.


Tok tok tok


"Rifki!" Panggil seseorang dari luar kamarnya itu.


"Pergilah, aku ngak mau diganggu!" Teriak Rifki kepada orang tersebut.


Belakangan ini, Rifki nampak begitu murung dan bahkan dirinya akan mudah sekali marah ketika seseorang menganggunya begitu saja. Dirinya benar benar tidak ingin ditemui oleh siapapun, bahkan kedua orang tuanya saja tidak dibiarkan olehnya masuk kedalam kamar itu.


Kamar yang selalu tertata rapi itu pun kini nampak begitu sangat berantakan, bahkan pecahan kaca pun dibiarkan begitu saja dilantai. Kamar yang selalu nampak begitu indah dan nyaman itu kini telah berubah menjadi seperti gudang tempat dimana Rifki mengurung dirinya sendiri.


"Aku mempunyai kabar penting untukmu," Ucap seseorang lagi.


Rifki sangat mengenali suara tersebut, itu adalah suara dari Bayu yang mencoba untuk berbicara kepada Rifki. Dirinya sebenarnya takut untuk membuat Rifki marah, akan tetapi dia tidak tega jika melihat sahabatnya itu mengurung diri terus terusan didalam kamar itu.


"Bukankah aku sudah bilang pergi, ya PERGI!" Bentak Rifki dari dalam kamarnya.


"Ini tentang Nadhira," Ucap Bayu.


Ceklek


Mendengar bahwa itu adalah tentang Nadhira, Rifki lalu membuka pintu kamarnya. Bayu pun terkejut ketika melihat kondisi fisik Rifki yang berantakan itu, bahkan rambutnya saja tidak disisir, pakaiannya pun nampak begitu kumuh seakan akan tidak terawat.


"Rifki, kenapa dirimu jadi seperti ini?"


"Katakan atau pergi dari sini!" Sentak Rifki.


"Jenazah anggota Gengcobra yang jatuh dijurang itu sudah ditemukan semuanya, tapi untuk Nadhira kami tidak menemukannya sama sekali."


"Maksudmu apa!?"


"Jangan marah dulu, ada kemungkinan bahwa Dhira masih hidup sampai saat ini. Kami juga menemukan sobekan bajunya, sandal yang ia pakai, dan bahkan kalung yang selama ini dia pakai."


"Kalung? Dimana kalungnya?"

__ADS_1


Baju lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Ia pun memberikannya kepada Rifki, dengan buru buru Rifki lalu menerimanya, dan membuka kotak kecil tersebut.


Nampaklah sebuah kalung yang bandulnya telah hancur hangus, seakan akan kalung tersebut terbakar api yang sangat panas. Ia pun tidak merasakan energi apapun dari dalam kalung itu, tidak seperti dulunya yang bahkan tanpa menyentuhnya sekalipun itu dia bisa merasakannya.


__ADS_2