
Rifki memerintahkan anggota Gengcobra untuk mencari Nadhira sampai ketemu, setelah mendengarkan ucapan Bayu, Rifki semakin yakin bahwa Nadhira masih hidup sampai saat ini. Dirinya tidak tau bagaimana kondisi Nadhira saat ini, dan dirinya tidak ingin bahwa dia telat untuk menyelamatkan Nadhira nantinya.
"Bagaimana?" Tanya Rifki.
"Belum ada kabar apapun dari anggota Gengcobra, Rif. Mereka masih berusaha untuk mencarinya, kamu yang tenang ya, kita semua akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menemukan keberadaan dari Nadhira," Ucap Bayu.
"Semakin bertambah hari, semakin membuatku tidak tenang, Bay. Aku takut dia kenapa kenapa, apa lagi dia sedang mengandung anakku, ku harap mereka baik baik saja,"
"Iya Rif, semoga mereka baik baik saja, dan bertemu dengan keluarga yang baik. Sehingga Nadhira akan aman bersama mereka sebelum kita menemukan dirinya,"
"Semoga saja."
Dirinya pun memerintahkan kepada Bayu untuk keluar dari dalam ruangannya itu, dan membiarkan dirinya sendirian untuk sementara waktu. Harapannya untuk menemukan keberadaan Nadhira itu hanyalah menjadi harapan, bahkan banyaknya anggota Gengcobra tidak mampu untuk menemukan keberadaan dari Nadhira.
*****
"Kak, tadi aku kepasar, dan ngak sengaja nemuin cadar yang bagus banget. Aku ingat kalo Kakak juga pengen bercadar, jadi aku belikan untuk Kakak," Ucap seorang gadis kepada Nadhira.
Keduanya kini berada dihalaman depan rumah yang sedarhana itu, sejak tinggal bersama dengan mereka. Nadhira mulai memakai jilban dan berpakaian panjang, dan dirinya ingin mencoba untuk memakai cadar seperti yang sering dipakai oleh Siska.
"Bagus, kainnya juga halus banget, Sis. Maafin aku ya, sering ngerepotin dirimu dan keluarga kalian," Ucap Nadhira yang merasa bahwa dirinya hanya menumpang dirumah itu tanpa adanya pemasukkan.
"Kak, Siska melakukan ini dengan ikhlas. Selama Siska mampu untuk membiayai kalian berdua, Siska sudah merasa senang kok."
Ucapan itu yang selalu sering Siska ucapkan kepada Nadhira, dan Nadhira pun sampai hafal dengan ucapan tersebut. Siska lalu membantu Nadhira untuk memakaikan cadar itu diwajah Nadhira, Nadhira pun terlihat cantik dengan cadarnya.
"Gimana?" Tanya Nadhira.
"Cantik Kak, pengap atau ngak Kak?" Tanya Siska balik.
"Nyaman kok, ngak pengap. Ajari Kakak bercadar ya? Kalo makan biar ngak belepotan nanti,"
"Itu soal gampang, Kak. Nanti Siska ajarin deh,"
Nadhira pun tersenyum dibalik cadarnya itu, tak beberapa lama kemudian dirinya merasa bahwa anak yang ada didalam perutnya itu menendangnya dengan sangat kerasnya. Nadhira pun memekik lirih ketika merasakan tendangan itu, ia pun lalu mengusap perutnya dengan perlahan lahan.
"Ada apa, Kak?" Tanya Siska khawatir mendengar Nadhira memekik lirih.
"Dia nendang perut Kakak, keras banget deh. Sepertinya dia merasa senang deh,"
"Boleh Siska sentuh, Kak?"
"Boleh,"
Siska pun langsung menempelkan telapak tangannya diperut Nadhira, ia pun tersenyum setelah merasakan ada yang bergerak gerak diperut Nadhira itu. Ia pun mengusapnya dengan perlahan lahan, hingga membuat bayi yang ada diperut Nadhira terus menendangnya dengan keras.
"Eh sayang, kenapa Aunty ditendang sih? Udah ngak sabar ya untuk main sama Aunty? Cepat keluar dong, nanti kita main sama sama."
"Sebentar lagi keluar kok Aunty, siap siap untuk aku repotkan ya nanti," Jawab Nadhira sambil cengengesan.
"Aunty tunggu ya, Nak. Keponakan Aunty sehat sehat didalam, jangan merepotkan Ibumu kalo lahiran nanti ya?"
"Siap Aunty."
Nadhira yang menggenakkan pakaian panjang dan juga bercadar itu, seakan akan tidak bisa dikenali oleh siapapun. Perut buncitnya itu juga tidak jelas terlihat ketika memakai pakaian seperti itu, semenjak tinggal bersama keduanya, dirinya terus memperbaiki dirinya sendiri.
Ada pengaruh yang luar biasa dikeluarga kecil itu, meskipun mereka tinggal ditempat yang sangat sederhana dan jauh dari kata mewah, akan tetapi keluarga itu nampak begitu bahagia.
Inilah keluarga yang dihadapkan oleh Nadhira selama ini, akan tetapi dirinya tidak mampu membohongi perasaannya sendiri bahwa dirinya sangat merindukan sosok Rifki. Ada sesuatu yang membuat dirinya tidak akan pernah bisa untuk bertemu dengan Rifki didunia ini, dan hal itu menjadi penghalang terbesar bagi keduanya.
"Tunggu anak kita dewasa ya, sayang. Aku pasti akan kembali bersamamu, aku akan berusaha dengan apapun yang aku bisa" Ucap Nadhira sambil mengusap perut buncitnya itu.
*****
Rifki kini tengah duduk sendirian disebuah gazebo yang ada dihalaman rumahnya, dari kejauhan terdapat Putri dan Haris yang terus memperhatikan anaknya itu. Kini tubuh Rifki bertambah kurus karena tidak ada semangat untuk makan, dan bahkan makan saja pun biasanya sekali dalam sehari.
Kalau ada Nadhira dirumah itu, biasanya dirinya akan makan sebanyak 3 kali. Makan dipagi hari ketika hendak berangkat kerja, makan disiang hari ketika berada dikantor, dan makan dimalam hari ketika dirinya sudah pulang bekerja. Akan tetapi, belakangan ini dirinya hanya makan siang saja, dan bahkan kadang pun hanya meminum air saja.
Rifki duduk ditempat itu sendirian sambil memegangi sebuah kotak kecil yang berisikan liontin berbentuk love kecil berwarna putih terang. Barang tersebut adalah sebuah benda yang ingin dia berikan kepada Nadhira disaat hari ulang tahun pernikahan mereka, akan tetapi Nadhira justru pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Rifki mengenggam erat benda tersebut dengan tangan kanannya, pandangannya lurus entah kemana saat ini. Badannya yang kurus dan seperti tidak bertenaga itu membuatnya nampak begitu sangat menyedihkan, bahkan Putri dan Haris tidak sanggup untuk melihat kondisi anaknya itu.
__ADS_1
"Semakin bertambah hari, semakin tidak tega melihat anak kita seperti itu, Mas. Apakah tidak ada cara lain agar dia bisa bersemangat lagi?" Ucap Putri kepada Haris yang berada disampingnya itu.
"Sangat sulit untuk mengembalikan semangat lagi, Dek. Dirinya masih terus kepikiran dengan Nadhira, didalam hatinya seakan akan tidak mampu untuk diisi oleh wanita lain."
"Bagaimana kalau kita menjodohkan saja dia, Mas? Siapa tau dengan kehadiran dari wanita didalam hidupnya, maka dia akan berubah,"
"Memang bisa seperti itu? Kamu tau sendiri kan kalau anak kita itu keras kepala sekali?"
"Cinta datang karena terbiasa, mungkin dengan cara seperti itu dia bisa terbiasa dengan orang lain tanpa adanya Nadhira dihidupnya."
"Lalu mau dijodohkan dengan siapa? Wanita mana yang mampu mencintai Rifki dengan tulus?"
*****
Putri dan Haris lalu mendatangi Rifki yang tengah melamun digazebo itu, bahkan kedatangan keduanya sama sekali tidak memberi respon apapun kepada Rifki. Sampai akhirnya Putri berbicara memanggil namanya, barulah Rifki menoleh kepadanya.
"Ada apa, Ma?" Tanya Rifki dengan suara beratnya.
"Kenapa kamu jadi seperti ini sih, Nak?" Ucap Putri dengan kedua mata yang berkaca kaca.
"Balikin Nadhira kepada Rifki, Ma. Rifki hanya mau Nadhira bukan yang lainnya,"
"Dia sudah ngak ada, Nak. Bagaimana cara Mama untuk bisa mengembalikan dia? Beritahu Mama, Mama akan lakukan segala cara agar membuatmu kembali ceria seperti sebelumnya."
"Cari dia sampai ketemu, Ma. Kembalikan dia kepadaku,"
"Bagaimana cara Mama mencarinya? Dia bahkan sudah ngak ada,"
"Dia masih hidup Ma! Dhira belum meninggal, dia tidak mungkin meninggalkan Rifki!" Sentak Rifki.
Belakangan ini, Rifki terlihat sangat kasar dan tidak seperti biasanya. Bahkan dirinya berani berkata kasar kepada kedua orang tuanya, akan sangat sulit untuk mengembalikan mood Rifki jika seperti ini.
Rifki langsung bangkit dari duduknya dengan segera, dirinya pun langsung melangkah untuk meninggalkan kedua orang tuanya itu tanpa mau mendengarkan ucapan dari keduanya. Kepergian Nadhira dalam hidupnya begitu sangat merubah dirinya, yang dulunya adalah lelaki yang patuh kepada kedua orang tuanya, bahkan berbicara kasar saja tidak pernah, dan kini berubah menjadi lelaki kasar, mudah emosi, bahkan tidak suka bertemu orang lain.
"Rifki!" Panggil Putri.
"Biarkan Rifki tenang dulu, aku takut dia justru akan nekat nantinya," Ucap Haris dan langsung mengenggam erat pergelangan tangan Putri yang hendak menyusul Rifki itu.
"Aku tau, akan sulit untuk mengembalikan moodnya itu jika seperti ini,"
Putri pun hanya pasrah dan langsung mendudukkan dirinya digazebo itu, ia tidak bisa berbuat apa apa untuk menenangkan pikiran anaknya itu.
Ketika hendak masuk kedalam kamarnya, tiba tiba seorang gadis memeluknya dari belakang. Rifki pun tersentak kaget dan reflek untuk membuat gadis itu terjatuh dilantai dengan kerasnya, ia lalu menoleh kearah gadis itu yang saat ini sedang mengeluh.
"Kakak jahat banget sih," Keluh Ayu yang sedang duduk dilantai itu.
"Ngapain kemari?" Tanya Rifki dengan nada dingin dan mampu melukai hati.
"Kak Rifki kok kasar gitu sih sama, Ayu? Ayu kan hanya rindu Kakak, Kakak ngak asik!"
Ayu berusaha untuk bangkit berdiri, dirinya pun mengibas ngibaskan tangannya seperti tengah menghilangkan debu saja. Bahkan Rifki sama sekali tidak membantunya untuk bangkit berdiri, jadi dirinya harus berusaha bangkit sendiri tanpa dibantu oleh tangan Kakaknya itu.
"Jangan ganggu Kakak!"
"Awas aja sampe Kak Dhira balik, Ayu bakalan aduin ke dia semuanya nanti."
"SURUH DIA BALIK, SEKARANG JUGA!" Bentak Rifki kepada Ayu dan langsung membuat Ayu terdiam diri.
Haris dan Putri langsung mendatangi keduanya itu, melihat Ayu yang dibentak oleh Rifki membuatnya merasa tidak enak hati. Kedatangan Haris dan Putri ketempat itu langsung membuat Rifki pergi begitu saja, dirinya langsung masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu dengan kerasnya.
Bukan hanya seperti itu saja, akan tetapi dirinya juga mengunci pintu itu dari dalam dan tidak membiarkan siapapun untuk masuk kedalam kamarnya itu. Dirinya benar benar tidak suka untuk diganggu, bahkan meskipun itu adalah keluarganya sendiri.
"Ma, Kakak ngebentak Ayu," Ucap Ayu dengan kedua mata yang terus mengalirkan air mata.
Untuk pertama kalinya dirinya mendapatkan bentakkan dari Rifki, dan untuk pertama kalinya dirinya menginjak kaki ditempat itu. Awalnya dia berniat untuk mengunjungi Kakaknya itu, karena sekian lama mereka tidak bertemu, dan bahkan Putri dan Haris belakangan ini tinggal bersama Rifki.
Kedua orang tuanya itu tidak ingin meninggalkan Rifki walaupun sebentar saja. Mereka tidak mau jika Rifki akan berbuat nekat nantinya, dan dia tidak mau anak laki lakinya itu kenapa kenapa tanpa pengawasan dari keduanya itu.
"Jangan nangis ya? Kakakmu sedang badmood, nangi kalo moodnya kembali stabil dia ngak akan ngebentak Ayu kok," Ucap Putri mencoba untuk menenangkan anaknya itu.
"Kakak jahat! Ayu benci sama Kakak,"
__ADS_1
"Ayu ngak boleh ngomong kayak gitu, Kakakmu seperti ini karena Kak Dhira yang pergi meninggalkan dirinya," Ucap Haris sambil mengusap puncak kepala Ayu dengan perlahan lahan.
"Tapi Kakak ngebentak Ayu, Pa. Ayu ngak tau apa salah Ayu kepada dia, tadi dia juga ndorong Ayu sampai jatuh."
"Sabar ya, Ay. Kakakmu kehilangan jati dirinya, atas kematian dari Istrinya," Putri pun merangkul tubuh Ayu dengan eratnya.
"Ma, sampai kapan Kakak akan seperti ini terus? Ayu rindu Kakak Rifki yang dulu,"
****
2 Bulan kemudian...
Sinar rembulan malam tengah menyinari dunia, disaat bulan purnama yang terang benderang adanya dua orang yang tengah duduk disebuah angkringan yang ada didepan rumah. Terlihat seperti keluarga yang harmonis, dan melihat itu menciptakan sebuah pemandangan yang sangat indah.
Nadhira tengah duduk disebuah angkringan yang ada didepan gubuk sederhana itu. Ia duduk bersama Bu Siti, seorang wanita paruh baya yang telah merawatnya selama ini, usia kandungan Nadhira kini menginjak 9 bulan, akan tetapi anak yang ada didalam perutnya tak kunjung keluar.
"Nak, kamu terlalu bertah ya didalam? Cepatlah keluar, Mama ingin bermain denganmu," Ucap Nadhira sambil mengusap perutnya.
"Sebentar lagi dia akan keluar, Nak. Apa kamu sudah memikirkan nama untuk dia?"
"Sudah Bu, tapi entah anak yang ada didalam perutku ini laki laki atau perempuan."
"Apapun jenis kelaminnya nanti, dia tetaplah anakmu, Nak. Kamu harus menerimanya,"
"Bukan seperti itu, Bu. Dia anak Rifki, dan aku hanya berharap bahwa dia akan segera keluar, dan persalinannya nanti akan lancar. Karena dia jauh dari Ayahnya, aku takut kalau diriku belum sempat untuk memberitahukan hal ini kepada anakku, Bu. Jika nanti aku tidak selamat setelah melahirkan anak ini, tolong jaga dia ya, Bu? Beritahukan ini kepada Rifki, bahwa dia adalah anakku dan dia."
"Kamu pasti baik baik saja, dan mampu membesarkan anak ini nanti. Jangan katakan hal hal yang seperti itu, dan yakinlah bahwa semuanya akan baik baik saja."
"Aku takut, Bu. Aku hanya memiliki satu ginjal saja saat ini, kemungkinan kecil bahwa diriku bisa selamat ketika melahirkannya,"
"Masih ada kemungkinan, jangan pernah menyerah seperti ini, kamu masih bisa selamat. Meskipun kemungkinan itu sangat kecil, akan tetapi masih ada harapan,"
"Bu, ini adalah hal yang paling aku takutkan. Bukan takut akan kematian, akan tetapi takut dengan nasib anakku nantinya. Jika aku mati, lalu bagaimana dengan nasibnya nanti, apakah Rifki akan datang menemuinya?"
"Nak, semuanya akan baik baik saja. Yakinlah kepada takdir Allah, Dokter hanya bisa memperkirakan saja tapi takdir ada di genggaman Allah. Jangan mudah menyerah seperti ini, kau pasti bisa membesarkan dirinya, dan menemani setiap langkahnya."
"Aku merasa tidak yakin soal itu, Bu. Jika aku mati, tolong berikan bayi ini kepada Rifki ya? Tolong suruh dia jaga dengan baik anak ini,"
"Nak, jangan katakan soal itu."
"Bu, berjanjilah kepadaku. Aku mohon," Kedua mata Nadhira mulai berkaca kaca saat ini.
"Baiklah, aku akan lakukan apa yang kamu minta. Tapi, jangan menyerah seperti ini,"
"Iya Bu, itu sudah cukup bagiku. Terima kasih, atas kebaikan kalian selama ini kepadaku,"
"Kamu sudah Ibu anggap sebagai anak sendiri, jangan sungkan sungkan sama Ibu,"
Nadhira pun tersenyum dengan cerahnya dibalik cadar yang ia gunakan saat ini, mulai saat ini dirinya akan memakai cadar. Tiba tiba dirinya merasa perutnya mulas, semakin lama rasanya seperti semakin sakit.
"Bu, perutku sakit." Keluh Nadhira sambil memegangi perutnya itu.
"Apa kamu mau lahiran, Nak?" Tanya Bu Siti dengan paniknya.
"Sepertinya Bu, sakit sekali," Nadhira pun bangkit dari duduknya.
Ada bercak darah ditempat dirinya duduk sebelumnya itu, keduanya pun langsung panik ketika melihat darah tersebut. Bu Siti lalu berteriak untuk meminta bantuan para tetangganya itu, keringat dingin menyelimuti sekujur tubuh Nadhira.
"Panggil bidan desa!" Teriak seorang warga.
"Cari bantuan!"
"Bu, sakit sekali." Tangis Nadhira pun pecah sambil memegangi perutnya itu.
Seorang warga datang ketempat itu sambil mengendarai sebuah mobil ambulance desa, dengan bantuan para warga, Nadhira dibawa masuk kedalam ambulance tersebut. Nadhira dibaringkan diatas bangkar yang ada didalam ambulance, didalamnya terdapat Bu siti, dan dua warga lainnya.
"Bu, sakit..." Keluh Nadhira dengan isak tangisnya.
"Ambil nafas, tahan, dan keluarkan. Bersabarlah Nak, kita akan segera sampai,” Bu Siti pun memberi arahan kepada Nadhira.
Nadhira mencoba untuk mengikuti arahan tersebut, perutnya pun semakin terasa sakit seiring berjalannya waktu. Setetes demi setetes air mata pun meluncur melalui ujung matanya, inikah rasanya sakitnya melahirkan, dirinya baru tau soal itu.
__ADS_1
"Mama, bantu aku," Ucap Nadhira lirih.