
Nadhira pun menghapus air matanya, segala kenangan indah bersama Rifki seketika melintas dalam bayangannya kembali, dimana Rifki yang selalu menghapus air matanya ketika dia sedang menangis dan dengan penuh kasih sayang.
"Dhira" Ucap Nimas yang tiba tiba muncul didekat Nadhira.
"Nimas, kau sudah terbangun?"
"Sebenarnya belum waktunya untuk bangun dari bertapaku, tapi aku merasa tidak tenang karena dirimu, kau merasa sedih sehingga membuatku semakin cemas"
"Maafkan aku telah menganggumu".
"Bukan masalah, melihatmu baik baik saja sudah membuatku tenang kok Dhira, aku akan berusaha untuk menjagamu sebagai penebusan kesalahan yang telah aku lakukan".
"Semuanya sudah berlalu Nimas, inilah takdir yang harus aku lalui, meskipun kau tidak melakukan hal itu sebelumnya akan tetapi takdir sendiri yang akan menentukan jalannya agar tercapai".
"Kau benar, tapi aku masih merasa bersalah dengan dirimu Dhira, melihatmu sedih seperti ini mengingatkanku tentang Dilham, tapi kau jangan menyerah begitu saja Dhira, aku yakin kau bisa bersama dengan Rifki lagi".
"Tidak usah membual Nimas, buktinya kau juga tidak bisa bersama dengan mantan kekasihmu itu, kenapa kau bisa mengatakan itu kepadaku"
"Bukannya aku tidak bisa bersama Dhira, kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama, bahkan pangkat kami berbeda, jika dibandingkan dengan diriku, aku bukan apa apa dimatanya".
"Pangkat? Apakah dialam gaib juga ada tingkatannya?"
"Kau belum sepenuhnya mengetahui alam gaib Dhira, Dilham lebih tinggi kedudukannya daripada diriku, jika aku dengan Raka maka lebih tinggi pangkat yang aku miliki daripada Raka".
"Kan aku belum pernah masuk kealam gaib, jadi wajar saja lah aku tidak mengetahui soal itu"
Nimas mencoba untuk menghibur Nadhira yang sedang sedih, meskipun dirinya tau bahwa keduanya tidak bisa bersama akan tetapi kekuatan cinta itu begitu luar biasa, dan hal itulah yang pernah disampaikan oleh Pangeran Kian kepadanya.
*****
Beberapa hari kemudian, Rifki berjalan disebuah lorong cafe yang terkenal dikota itu, dengan memakai jas biru kehitaman dengan beberapa anak buahnya dibelakangnya, disampingnya terdapat seorang wanita yang memakai baju yang serasi dengan Rifki, dan nampak sekali wanita itu tersenyum dengan sangat gembiranya.
Rifki menelusuri lorong cafe tersebut dan menyita banyak perhatian dari orang orang sekitar, eskpresi yang ditunjukkan oleh Rifki berbeda jauh dari wanita itu, yakni terlihat begitu dingin tanpa adanya senyuman yang ada didalam wajahnya.
Rifki terlihat seperti seorang CEO yang kejam dan dingin, Rifki berjalan dengan sangat tegak dihadapan semua orang, melihat kedatangan Rifki ditempat itu seketika membuat pandangan semua orang tertuju kepadanya dengan rasa penuh kekaguman.
Melihat kedatangan Rifki beserta anak buahnya itu membuat pemilik cafe tersebut segera mendatangi mereka, karena ia tahu bahwa tamunya kali ini bukanlah orang biasa, melainkan pemilik dari perusahaan Abriyanta Groub.
"Bisa saya bantu Tuan dan Nyonya?"
"Apa wanita itu sudah datang?" Tanya wanita yang berada didekat Rifki.
"Sudah Nyonya, dia ada diruangan VVIP sekarang".
"Rifki mau kekamar mandi dulu Ma, setelah itu Rifki akan menyusul Mama" Ucap Rifki kepada wanita itu.
Wanita itu tidak lain adalah Putri yang telah menyiapkan sebuah pertemuan antara Rifki dengan anak temannya tersebut, Rifki sama sekali tidak bisa menolak keinginan dari Mamanya itu untuk menjodohkan dirinya dengan orang yang sama sekali tidak ia kenali tersebut.
"Baiklah, setelah itu kamu datang ya, jangan lama lama, Mama tunggu".
"Iya Ma".
Rifki segera bergegas menuju kekamar mandi dan diikuti oleh beberapa anak buahnya, sementara beberapa yang lainnya mengikuti Putri menuju keruang VVIP yang telah disediakan didalam gedung cafe tersebut.
"Rif, apa kau yakin akan menerima perjodohan itu?" Tanya Bayu yang ikut serta mengawal Rifki.
"Aku tidak punya pilihan lain Bay, aku juga tidak ingin melihat Mama bunuh diri tapi disatu sisi aku juga tidak ingin kehilangan Nadhira, kau tau sendirikan kalau aku sangat mencintai Nadhira" Jawab Rifki.
"Iya Rif aku tau itu, aku hanya bisa berdoa semoga Tante Putri dan Om Haris bisa merestui hubunganmu dengan Nadhira, aku juga merasa sedih jika kedua sahabatku bersedih seperti ini".
"Aku tidak tau apa yang dirasakan oleh Nadhira saat ini, dia pasti juga merasa sedih Bay, aku tidak tau harus berbuat apa untuk saat ini, jika aku menolak perjodohan ini aku pasti akan menyakiti hati Mama, tapi jika aku menerimanya juga aku pasti akan menyakiti hati Nadhira".
"Yang sabar ya Rif, takdir sedang mencari jalannya sendiri saat ini".
Rifki hanya mengangguk kepada Bayu, sebenarnya dirinya hanya beralasan untuk pergi kekamar mandi akan tetapi yang sebenarnya Rifki ingin mengulur waktu dan menenangkan pikirannya sendiri.
"Apa kau tau bagaimana caranya membuat seorang wanita membenciku?" Tanya Rifki tiba tiba.
"Membencimu? Sepertinya itu akan sangat sulit Rif, pada dasarnya kau kan good looking, siapa sih yang bisa membencimu selain Nadhira? Bahkan pertemuan pertama kalian dia berani menyambutmu dengan senjatanya".
"Kau ini! Dhira bukan membenciku waktu itu, dia hanya kesal denganku gara gara aku meninggalkannya cukup lama".
"Kalo soal itu, jangan tanya kepadaku Rif, soalnya aku sendiri belum pernah disukai oleh seorang gadis".
"Kau terlalu dingin sih, eh.."
__ADS_1
Setelah cukup lama didalam lobi kamar mandi, Rifki memutuskan untuk menemui Mamanya setelah dirinya mampu mengendalikan perasaannya, Rifki segera bergegas menuju keruang VVIP yang ada dicafe tersebut dan langsung membuka pintunya.
"Maaf aku telat" Ucap Rifki tanpa basa basi.
"Duduklah Nak".
Rifki yang berwajah datar segera duduk disebelah gadis yang tidak ia kenali atas perintah dari Putri, Rifki sama sekali tidak menampakkan senyumnya hingga membuat gadis yang sedang berbincang bincang dengan Putri sebelumnya mendadak diam dengan tangan gemetaran.
Gadis itu terlihat begitu cantik dengan pakaian feminim berwarna biru langit yang ia kenakan, akan tetapi Rifki sama sekali tidak tertarik dengan wanita tersebut, baginya hanya Nadhira lah wanita yang tercantik yang pernah ia temui selain Mamanya.
"Rifki kenalkan ini namanya Syaqila, Nak Syaqila ini Rifki anak Tante" Ucap Putri yang memperkenalkan keduanya.
"Hai.. perkenalkan nama saya Syaqila" Ucap Syaqila sambil menyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Rifki.
"Rifki" Ucap Rifki dengan dingin dan langsung mengalihkan pandangannya tanpa menerima jabatan tangan Syaqila justru malah menyilangkan tangannya didepan dadanya.
"Rifki! Jaga sikap kamu, jangan seperti itu, kau harus lebih lembut lagi kepada Syaqila".
"Aku sudah menuruti semua kemauan Mama, ini juga bukan kemauan Rifki sendiri, Rifki sama sekali tidak suka dipaksa paksa Ma" Jawab Rifki.
"Rifki! Cepat minta maaf kepada Qila sekarang juga, kau tidak boleh seperti itu kepadanya".
"Sudah Tante Qila paham kok, itu juga bukan masalah bagi Qila juga" Sela Syaqila.
"Maafkan anak Tante ya Nak Qila, Tante akan mengajarkan kepadanya agar lebih lembut lagi kepadamu" Putri merasa tidak enak dengan apa yang telah dilakukan oleh Rifki.
"Ngak apa apa kok Tan, wajar juga jika Rifki bersikap seperti itu kepada Qila, karena kita juga baru bertemu hari ini Tan".
"Kamu anak baik Qila, Tante percaya kalau kamu bisa bersama dengan Rifki dan menemani Rifki hingga ajak menjemput nanti".
"Tante bisa aja".
"Ya sudah Mama mau ketoilet dulu, kalian mengobrol saja berdua, siapa tau bisa saling kenal nantinya".
"Iya Tan".
"Rifki, bersikaplah lebih lembut kepada Qila ya, jangan buat dia terluka, cepat atau lambat kalian berdua juga bakalan menikah nantinya".
Rifki hanya membuang mukanya tanpa menjawab ucapan dari Mamanya, sementara Syaqila hanya bisa tersenyum pahit melihat tindakan dari Rifki, Putri pun pergi meninggalkan tempat tersebut dan membiarkan keduanya saling mengobrol.
"Kenapa harus seperti pria dingin ini sih, bisa bisa kehidupanku akan hancur nantinya kalau tinggal dengan orang sedingin dan secuek ini" Batin Syaqila menjerit.
Tiada percakapan diantara keduanya sampai datanglah seorang wanita yang membuka pintu ruangan tersebut untuk mengantarkan beberapa makanan dan minuman yang telah mereka pesan sebelumnya kedalamnya.
"Selamat menikmati makanan kami, Tuan dan Nona". Ucap pelayan wanita tersebut.
"Terima kasih" Ucap Syaqila.
Pelayan wanita tersebut hanya menganggukkan kepalanya dan segera bergegas pergi dari tempat itu, keheningan ditempat itu kini mulai kembali, meskipun masih ada orang didalamnya akan tetapi ditempat itu tiada percakapan sama sekali.
"Kamu tidak makan?" Tanya Syaqila yang memberanikan diri untuk memulai percakapan".
"Tidak" Jawab Rifki singkat dan jelas.
"Kenapa?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Syaqila, Rifki justru hanya berdiam diri dan tidak mempedulikan sosok gadis yang ada didepannya itu, melihat Rifki yang hanya diam saja membuat Syaqila ingin sekali menjerit dan ingin segera mengakhiri pertemuan ini.
"Aku dengar kamu hebat dalam beladiri ya, bolehkah aku belajar beladiri denganmu?"
"Silahkan".
"Beneran boleh?"
"Iya".
"Aku dengar dari Tante Putri, kalau kamu suka latihan beladiri, dan bahkan memiliki sebuah organisasi geng gitu ya, boleh aku tau nama gengnya apa?".
"Terlalu banyak tau, akan memperpendek umurmu" Jawab Rifki dengan nada cuek dan dingin.
"Maaf jika aku banyak bertanya, aku hanya ingin mengenalmu lebih dalam lagi".
Setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Syaqila hanya dibalas dengan satu kata saja oleh Rifki, dan hal itu membuat Syaqila merasa seperti dirinya yang mencoba untuk mengejar ngejar Rifki, padahal sebenarnya dirinya juga tidak tertarik dengan perjodohan ini akan tetapi karena paksaan dari kedua orang tuanya akhirnya dia mau menurutinya.
Cukup lama sekali keduanya berada didalam ruangan tersebut, akan tetapi tiada percakapan diantara keduanya sampai beberapa lama kemudian akhirnya Putri kembali masuk kedalam ruangan tersebut, setelah kedatangan Putri hal itu membuat Rifki berpamitan ingin kembali kemarkasnya.
__ADS_1
"Kenapa buru buru seperti itu sih Rif, lagain markasmu itu juga tidak bakalan pindah tempat kok, meskipun hari ini kau tidak datang kesana juga" Ucap Putri ketika mendengar anaknya ingin pulang.
Rifki hanya diam membisu mendengar ucapan dari Putri, Rifki sudah tidak ingin lama lama ditempat seperti itu dengan orang yang bahkan sama sekali tidak ia kenali ataupun ia cintai, rasanya seperti begitu hambar berada disana.
"Qila juga ingin berpamitan untuk pulang Tante, ini juga sudah malam, Mama pasti sudah menunggu Qila dirumah karena Qila belum juga pulang".
"Kenapa terburu buru Qila? Tante sudah izin ke Mama mu juga kok, pasti Mama mu mengerti, Kalian bahkan tidak menikmati makanannya sedikitpun".
"Qila sudah kenyang kok Tante, sebelum kesini tadi Qila sudah makan juga"
"Yakin kamu sudah kenyang Nak?".
"Iya Tante".
"Maafkan sikap anak Tante hari ini ya Qila, cepat atau lambat dia pasti akan berubah dengan sendirinya nanti, kau yang sabar ya Nak".
"Tidak masalah kok Tan, hanya butuh waktu untuk soal itu, membuka hati untuk memasukkan orang baru juga tidak mudah kok Tan, semoga saja dia bisa membuka hatinya untuk Qila nanti".
"Tante akan selalu berdoa untuk hal itu, makasih ya Qila sudah datang malam ini".
"Iya Tante, sama sama".
Rifki segera bangkit dari duduknya dan bersiap siap untuk pergi dari tempat itu, Putri dan juga Syaqila juga mengikutinya untuk pergi dari tempat itu, setelah mereka keluar dari ruangan VVIP mereka langsung dikawal oleh anak buah Rifki.
Ketiganya segera bergegas menuju ketempat parkiran mobil yang ada dicafe tersebut, ketika mereka lewat ditempat itu, seketika juga pandangan seluruh terarah kepadanya, dan mereka menduga bahwa rombongan Rifki bukanlah orang biasa sehingga dikawal oleh begitu banyak bodyguard.
"Syaqila pulangnya naik apa?" Tanya Putri.
"Saya naik taksi aja Tante" Jawab Syaqila.
"Biarkan Rifki yang mengantarmu pulang ya, Rifki tolong antarkan Syaqila pulang".
"Iya Ma".
"Tante senang sekali berkenalan denganmu Qila, cepatlah menikah, biar Mama bisa mendapatkan momongan dari kalian".
"Tapi Tante..."
"Tante tidak memaksa kok, kalau kamu sudah siap saja maka pernikahan itu akan dilaksanakan".
"Tapi Tan, apakah Rifki setuju soal itu?".
"Dia pasti setuju kok Nak".
Rifki hanya berdiam diri selama pembicaraan itu berlangsung, ia sama sekali tidak menanggapi ataupun hanya sekedar tersenyum tipis pun dia tidak melakukan hal itu, justru dia hanya diam saja san menampakkan wajah dinginnya.
"Ya sudah Tante pergi dulu ya".
"Kenapa Tante tidak sekalian saja dengan kami?".
"Tante masih ada acara Qila, kalian pulang dulu saja, ya sudah Mama jalan dulu ya Rif, jagain Syaqila juga, antarkan dia sampai dirumah".
"Iya Ma".
Putri segera masuk kedalam mobil yang akan membawanya pergi dari tempat itu, sementara Rifki hanya berdiam diri disamping mobilnya karena dirinya merasakan kehadiran dari aura permata iblis didekat tempat dirinya berdiri.
"Kenapa aku merasakan kehadiran Nadhira ditempat ini, energi permata itu terasa begitu pekat disini, apakah Nadhira ada disini juga" Batin Rifki.
Tanpa keduanya sadari bahwa kini Nadhira tengah berdiri tidak jauh dari mereka, sebenarnya Nadhira tidak berniat untuk kembali kedalam rumahnya akan tetapi karena urusan perusahaannya itu membuat Nadhira harus segera kembali dan menyelesaikan masalah yang terjadi.
Malam ini Nadhira ingin membeli sesuatu untuk dimakan sebagai makan malamnya dirumah, akan tetapi dirinya tidak menyangka bahwa pemilik Abriyanta Groub juga ada ditempat itu, ia juga melihat bahwa Putri begitu akrab dengan wanita yang ada disamping Rifki saat ini.
Nadhira memandang kearah mereka dengan perasaan yang begitu campur aduk dan bagaikan tersayat sayat sebuah pisau tajam, akan tetapi dirinya hanya mampu memendam perasaannya untuk dapat melihat mereka bahagia.
Nadhira segera membalikkan badannya dari mereka, karena Nadhira sendiri sudah tidak sanggup untuk melihat itu semua, Nadhira pun menjatuhkan dirinya dan bersandar disebuah tembok yang ada didekatnya, ia tidak menyangka bahwa setelah sekian lama dirinya pergi akan bertemu dengan Rifki secepat ini sehingga luka yang sudah perlahan tertutupi kini bertambah semakin parah.
"Kenapa tidak masuk?" Tanya Syaqila kepada Rifki yang hanya berdiam diri.
"Bay antarkan dia pulang" Ucap Rifki yang justru meminta kepada Bayu.
"Apa?"
"Antarkan dia pulang"
"Tapi kenapa harus aku?"
__ADS_1
Rifki sama sekali tidak peduli dengan gadis yang ada disampingnya itu, ia pun dengan mudahnya menyerahkan tanggung jawabnya itu kepada Bayu, sementara Nadhira memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu sebelum dirinya sempat memesan makanan ditempat tersebut.