Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Keysa jatuh


__ADS_3

Ana lalu membuatkan minuman untuk mereka, setelah minuman selesai dibuat, dirinya langsung bergegas untuk memberikan minuman tersebut. Ana langsung menyodorkan minuman tersebut dihadapan mereka, dan menaruhnya diatas meja.


"Ini minumannya Tuan Muda," Ucapannya sambil menyodorkan minuman kepada mereka, Ana pun meletakkan minuman itu di hadapan mereka satu persatu.


"Terima kasih ya Bi Ana," Ucap Rifki sambil tersenyum kearah Ana.


"Iya Tuan Muda, saya kembali kedalam dulu. Kalau butuh sesuatu panggil saja,"


Rifki pun menganggukkan kepalanya kepada Ana, Ana sendiri pun langsung bergegas untuk masuk ke dalam rumah besar itu. Pandangan Ayu sejak tadi terarah kepada wanita yang memakai cadar itu, baru pertama kali ini dirinya melihat wanita itu ada di rumah Kakaknya.


"Siapa dia, Kak? Kenapa wanita itu ada di rumah ini? Apa dia pekerja baru disini? Kenapa Kakak tidak bilang kepadaku kalau memperkerjakan seseorang?" Tanya Ayu kepada Rifki.


"Pembantu baru di rumah ini, dia mulai bekerja hari ini. Jadi pantas kalian tidak mengetahuinya, sejak kemarin dia datang kemari. Bukannya Kakak tidak ingin memberitahukan hal ini kepada kalian, tapi Kakak belum sempat untuk memberitahu kalian soal ini. Nanti Kakak mau memberitahu Papa," Ucap Rifki sambil menjelaskan kepada Ayu.


"Kakak butuh pekerja baru? Kenapa nggak cari aja di Surya Jayantara? Disana kan jauh lebih terjamin kepercayaan, kenapa harus orang seperti dia?" Tanya Ayu sambil menunjuk kearah Ana.


"Ayu. Nggak baik bicara seperti itu, apalagi dengan orang yang baru dikenal, mungkin saja kan dia membutuhkan uang. Kita tidak tau kehidupannya seperti apa,"


"Lah iya, Kak. Kenapa Kakak harus memperkerjakan orang yang sama sekali belum Kakak kenal itu disini, bagaimana jika dia ingin berbuat jahat kepada Kakak dan ingin mencelakakan Kakak?"


"Kak, sebelum menerima orang lain, kenapa Kakak tidak berdiskusi dengan kita terlebih dulu? Kita bisa mengobrol soal ini sebelumnya," Tanya Hafis.


"Kalian menyalahkan Kakak? Gara gara nggak ngomong terlebih dulu sama kalian?" Tanya Rifki dengan tatapan yang tidak enak.


"Bukan begitu, Kak. Ayu hanya takut Kakak kenapa kenapa," Ucap Ayu.


"Kenapa dia harus pakai cadar? Apa Kakak tidak takut bahwa itu adalah musuh kakak yang menyamar sebagai pembantu? Lagian kita sendiri juga tidak mengetahui wajahnya," Ucap Hafis.


Hafis takut bahwa kejadian ketika Rifki diculik akan terulang lagi, dirinya tidak ingin kakak ipar sekaligus Kakak angkatnya itu kenapa napa. Apalagi dirinya yang sudah tinggal bersama dengan Gengcobra sejak kecil, dan dia sangat tahu bahwa kakaknya itu sering dicelakai oleh orang orang jahat yang mengincar nyawanya.


Bukannya dia ingin berburuk sangka kepada orang lain, akan tetapi lebih tepatnya dirinya ingin berjaga jaga agar Rifki tidak kenapa napa. Kalau bukan karena Rifki saat itu, dirinya tidak tahu nasibnya akan jadi seperti apa ketika disekap oleh orang yang telah membunuh kakaknya.


Mungkin jika bukan karena Rifki dan takdir yang Allah berikan, bisa jadi saat itu dirinya sudah meregangkan nyawa karena tidak diberi makan. Beruntunglah dirinya yang dipertemukan oleh Allah dengan Rifki beserta keluarganya, sehingga dirinya bisa hidup dengan layak hingga saat ini bahkan menikah dengan anak dari keluarga yang telah menyelamatkannya.


"Hafis, tidak pantas mencurigai orang seperti itu. Apalagi dia adalah wanita baik baik, dia menjaga kecantikannya untuk suaminya bukan ingin menyusup ke rumah ini. Jadi kita harus menghormati pilihannya untuk memakai cadar," Ucap Rifki.


"Tapi kak aku takut kalau kejadian itu terulang lagi, bahkan anggota Gengcobra pun sampai bisa lalai. Emang Kakak sudah tau asal usulnya dari mana?"


"Dia adalah teman Dokter Affan, kamu kenal kan siapa Dokter Affan itu?"


"Aku kenal kok Kak, dengan Dokter Affan, dia kan suami sahabat kakak yang jadi Dokter itu kan?"


"Iya dan tadi dia sudah ngobrol sama Kakak, katanya dia sendiri yang menyarankan bahwa wanita itu bekerja di sini. Jadi Kakak menerimanya,"


"Kakak harus berhati hati dengan dia, aku takutnya dia memang pura pura baik hanya didepan Kakak. Banyak hal yang seperti itu,"


"Jangan berpikir negatif dulu,"


Ayu pun tidak mempermasalahkan soal itu, asalkan Kakaknya dijaga ketat oleh anggota Gengcobra. Meskipun dia tidak tau asal usul dari wanita tersebut, akan tetapi dirinya yakin bahwa wanita itu tidak memiliki niat buruk kepada Kakaknya itu.


Ayu lalu mengambil minuman yang ada didepannya, dirinya pun langsung menyesapnya dengan perlahan lahan. Ayu pun terdiam beberapa saat, dirinya pun menatap kearah Rifki dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Ada apa, Ay?" Tanya Rifki karena tatapan Ayu yang terarah keadanya.


"Sayang didalam minumanmu ada perasan lemonnya, nggak?" Tanya Ayu kepada Hafis.


"Nggak ada tuh, emang ada apa sayang?" Jawab Hafis.


"Kak Rifki, kenapa Bi Ana membuatkanku lemon tea? Apa Kakak menyuruhnya untuk memberikan lemon?" Tanya Ayu.


"Kakak nggak nyuruh untuk buatkan lemon tea, apa perlu minumannya diganti saja?" Tanya Rifki.

__ADS_1


"Nggak perlu, Kak. Aku suka sekali sama lemon tea, hanya saja kenapa Bi Ana bisa tau kalau aku suka lemon tea. Padahal punya Mas Hafis nggak diberi perasan lemon, tadi Ayu kira emang dibuatkan lemon tea untuk kami berdua,"


Ayu merasa aneh dengan hal itu, tadinya dirinya tidak terlalu memedulikan itu. Akan tetapi ketika melihat Hafis yang meminumnya dengan enak membuatnya aneh, karena Hafis sendiri tidak suka minuman yang rasanya ada asam asamnya. Memang keduanya adalah sepasang suami istri, akan tetapi memiliki kesukaan yang berbeda.


Hafis tidak terlalu suka dengan makanan atau minuman yang mengandung asam, sehingga hal itu membuat Ayu merasa aneh karena Hafis mampu menikmati minuman itu. Nyatanya, minuman yang diminum oleh suaminya itu tidak ada perasan lemon dan hanya ada didalam minumannya saja.


"Mungkin dia diberitahu oleh Bi Sari, dia kan pembantu baru disini, Ay. Jelas dia harus belajar untuk membuat kita senang," Jelas Rifki.


"Iya juga sih, Kak."


Ayu pun kembali menikmati minumannya itu, Keysa yang duduk dipangkuan Rifki pun terlihat hanya berdiam diri karena sangking nyamannya mungkin. Keysa sama sekali tidak mempedulikan ucapan para orang dewasa itu, karena dirinya juga tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan saat ini.


Ana tau bahwa Adiknya iparnya sangat menyukai minuman lemon tea, sehingga dirinya membuatkan Ayu minuman tersebut. Jika Ayu bertamu dirumahnya dulu, dirinya selalu minta dibuatkan minuman lemon tea sehingga dirinya tau betul bahwa Ayu sangat menyukai minuman dengan rasa yang ada asam asamnya sedikit.


Keysa masih tetap berada dipangkuan Rifki, Rifki pun memberinya cemilan sehingga gadis kecil itu terlalu fokus dengan cemilannya. Dengan pipi yang cubby, gadis itu memakan cemilan yang terbuat dari coklat lezat itu, sehingga membuat Rifki terlalu gemas dengan gadis kecil itu.


"Om, Keysa mau coklat lagi," Ucap Keysa kecil meskipun ditangan kanan dan kirinya masih penuh dengan cemilan.


"Cemilannya ada didalam, Nak. Biar Om suruh Bibi ambilkan ya?" Tanya Rifki kepada Keysa kecil.


"Nggak mau, Keysa mau ambil sendiri. Kata Mama Keysa sudah besar, jadi harus mandiri,"


Rifki pun tertawa mendengar ucapan dari Keysa, entah apa yang diajarkan oleh Ayu selama ini kepadanya. Sehingga gadis kecil itu tidak mau disebut anak kecil, bahkan dirinya akan berusaha untuk melakukan apapun sendiri tanpa bantuan dari orang lain.


"Bisa?"


"Bisa dong, Om. Keysa mau ambil dulu,"


"Pintar banget sih keponakannya Om ini, Om bangga banget sama Keysa,"


Rifki pun menurunkan Keysa kecil dari pangkuannya itu, Keysa rasanya lebih dekat dengan Rifki daripada Ayahnya sendiri. Kalau dirinya main dirumah Rifki, dia tidak ingin pulang bahkan sangat sulit untuk membujuknya ketika diajak untuk pulang, kalaupun diberitahu bahwa hendak kerumah Rifki maka dirinya akan terlihat sangat senang dan kebingungan untuk membawa barang barang miliknya yang ingin dibawa.


"Keysa jangan lari lari, nanti jatuh," Seru Rifki ketika melihat Keysa yang berlari menuju kedalam rumah besar itu.


Ana tengah membersihkan ruang tamu, dirinya pun melihat Keysa yang berlarian masuk kerumah itu. Tiba tiba Keysa pun terjatuh karena lantainya yang licin, hal itu langsung membuat Ana segera berlari untuk membantunya karena gadis itu terjatuh.


"Aduh sakit, Tante. Kakiku sakit," Ucap Keysa sambil menangis sesenggukan.


Ana pun panik ketika melihat anak itu menangis, akan tetapi dirinya mencoba untuk menenangkan anak tersebut. Keysa kecil pun langsung menghapus air matanya ketika mengingat ucapan dari Papanya kalau Keysa sudah besar dan tidak boleh menangis.


"Haduh Non, hati hati kalau berlarian. Non nggak papa kan?" Tanya Ana kepada gadis kecil itu.


"Namaku Keysa, Tante. Bukan Non," Ucap Keysa polos.


Karena memang Keysa tidak pernah dipanggil Nona, biasanya pembantu yang ada dirumahnya akan memanggil Keysa bukan dengan sebutan Non. Mendengar Keysa yang memanggilnya Tante, membuat Ana menatap sendu kearahnya, dia adalah keponakannya sendiri tapi tidak ada yang mengetahui itu selain Ana.


"Tante?" Tanya Ana kepada gadis itu.


"Nggak papa kan kalo aku mau panggil Tante? Tante pake penutup muka jadi tidak lihat wajah Tante itu tua atau muda, jadi aku panggilnya Tante."


Tak beberapa lama kemudian, Rifki pun masuk kedalam rumahnya dengan gelisah karena mendengar suara Keysa yang menangis sekaligus khawatir dengan gadis itu. Dirinya pun terkejut ketika melihat Keysa sedang dibantu berdiri oleh Ana, dan dirinya langsung bergegas untuk mendekat kearah keduanya.


"Keysa kenapa?" Tanya Rifki dengan tegasnya.


"Non Keysa jatuh, Tuan Muda. Jadi saya membantunya untuk berdiri," Ucap Ana sambil menundukkan kepalanya.


Rifki pun tidak mempedulikan ucapan Ana, dirinya pun langsung berlutut didepan Keysa karena takut Keysa kenapa kenapa. Ana melihat bagaimana besar rasa kekhawatiran Rifki kepada keponakannya itu, seandainya yang terjatuh adalah Kinara mungkin Rifki akan jauh lebih khawatir.


Ayu dan Hafis pun juga ikut mendekat kearah Keysa, suara tangisannya itu sangat keras sehingga membuat mereka langsung bergegas untuk menuju ketempat dimana Keysa berada. Rifki seperti sudah menganggap Keysa seperti anaknya sendiri, sehingga disinilah Rifki sangat khawatir daripada kedua orang tua Keysa.


Sayangnya, Rifki tidak mengetahui tentang anaknya sendiri karena Ana yang telah menyembunyikan dirinya dari dunia luar. Bahkan, Ana sama sekali tidak pernah membuat keduanya bertemu, Rifki pun mencari anggota tubuh Keysa yang terluka karena takut gadis kecil itu kenapa kenapa.

__ADS_1


"Keysa nggak papa kok, Om. Hanya lutut Keysa yang sakit," Ucap Keysa kepada Rifki.


"Kenapa bisa jatuh sih, Keysa? Om Rifki tadi kan sudah bilang, jangan main lari lari," Ucap Ayu.


"Sudahlah Ay, namanya juga anak kecil. Jangan dimarahi seperti itu," Ucap Rifki.


Ayu tau bahwa Rifki tidak tega ketika mendengar Keysa dimarahi olehnya, Rifki ingin sekali bertemu dengan anak kandungnya dan sangat ingin untuk bermain bersama sama. Wajar saja jika dirinya sangat menyayangi Keysa, dan dirinya sendiri juga telah menganggap Keysa seperti anaknya sendiri.


"Mana yang sakit? Biar Om obati ya?" Ucap Rifki panik.


"Yang sebelah sini, Om." Keysa pun menunjuk kearah lutut kanannya.


Tanpa lama lama, Rifki lalu menggendong tubuh kecil itu dan mendudukkannya disebuah kursi. Ana yang melihat perhatian Rifki kepada Keysa membuatnya merasa sedikit sakit, dan bahkan dirinya merasa cemburu karena anaknya tidak mendapatkan itu justru orang lain yang mendapatkannya.


Rifki pun bergegas untuk mengambilkan minyak urut untuk meringankan sakit Keysa, karena kaki Keysa sama sekali tidak memiliki luka. Tak beberapa lama kemudian, Haris tiba tiba masuk kedalam rumah itu dan mendekat kearah Rifki dan Keysa.


"Keysa kenapa? Kenapa dia menangis?" Tanya Haris ketika melihat mata sembab Keysa.


"Dia jatuh dilantai tadi, Pa. Tapi syukurlah nggak ada luka," Ucap Rifki sambil menoleh kearah Haris yang baru saja tiba itu.


"Astaghfirullah, kenapa bisa jatuh?" Ucap Haris terkejut.


Mereka bahkan terlihat sangat mengkhawatirkan Keysa kecil, bahkan meskipun hanya jatuh tidak terlalu keras pun membuat mereka gelisah. Haris sendiri pun sepertinya tengah mengkhawatirkan gadis kecil tersebut, sehingga Ana yang melihatnya pun ingin sekali menitihkan air matanya.


"Keysa mau ambil cemilan, Kakek. Tapi sandal Keysa licin banget," Ucap Keysa.


"Ayu, kenapa kamu memakaikan sandal yang licin kepada Keysa? Udah buang saja sandalnya, nanti beli lagi yang baru. Lain kali jangan belikan Keysa sandal yang licin, kalo dia jatuh lagi gimana? Keysa nanti terluka," Ucap Rifki sambil melepaskan sandal yang dipakai oleh Keysa.


"Iya Kak, maaf. Nanti aku akan belikan dia yang baru," Jawab Ayu.


Ayu tidak bisa membantah ucapan dari Rifki, dirinya pun merasa bersalah karena sandal yang dipakai oleh Keysa ternyata licin dilantai. Apalagi Rifki tidak suka jika melihat Keysa terluka, karena Keysa yang telah membuatnya bangkit kembali dari keterpurukannya setelah kepergian dari Nadhira dirumah itu.


Keysa yang hanya keponakannya saja akan tetapi dirinya begitu khawatir kepadanya, apalagi jika yang jatuh adalah anaknya sendiri. Mungkin dirinya akan sangat marah besar jika mengetahui bahwa anaknya terluka didepannya, sayang sekali Kinara tidak tinggal bersamanya saat ini.


"Siapa dia?" Tanya Haris ketika tidak sengaja melihat kearah Ana yang berdiri dikejauhan sambil membawa sebuah sapu.


"Dia pembantu baru disini, Pa. Ada apa?" Tanya Rifki sambil melihat kearah Ana.


"Kamu menerima seorang pekerja lagi, Rif? Kenapa harus wanita yang tertutup seperti itu? Kalau dia mau berbuat macam macam denganmu gimana? Kita juga nggak tau identitas aslinya," Ucap Haris dengan nada keras sehingga Ana dapat mendengarnya.


"Pa. Maafin Rifki karena tidak bilang kepada Papa sebelumnya,"


"Papa nggak suka kamu menerima orang asal asalan,"


"Dokter Affan sendiri yang menyarankan dia, Pa. Lagian hubunganku dengan Dokter Affan sangat baik, mana mungkin Dokter Affan ingin mencelakakan diriku dengan menyuruhnya untuk bekerja disini," Ucap Rifki yakin.


"Tapi kamu harus berhati hati, Papa nggak ingin terjadi sesuatu kepadamu lagi, Rif. Apalagi musuh musuh kita yang terus berusaha mencelakakan dirimu selama ini,"


"Iya Pa, Rifki paham kok soal itu. Papa tenang saja, Rifki tidak akan kenapa kenapa lagi,"


"Boleh Papa bicara berdua dengannya? Papa hanya ingin memastikan bahwa wanita itu adalah wanita baik baik atau nggaknya,"


"Boleh kok, Pa. Ajak saja dia keruang kerja Rifki,"


Haris pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari Rifki, Rifki mengizinkannya karena dirinya sendiri juga ingin Papanya memastikan Ana bahwa dia adalah wanita baik baik. Haris harus lebih ekstra hati hati dengan orang yang ada disekitarnya anak anaknya, karena bisa saja musuhnya menyamar menjadi orang yang ada disekitarnya anak anaknya itu.


"Ikut aku sekarang," Ucap Haris kepada Ana dan langsung berlalu pergi dari tempat itu.


...****************...


Hai...

__ADS_1


Ada yang masih setia mengikuti cerita Nadhira? Maaf karena sering telat untuk mengirimkan naskah karena kesibukan Author yang sangat padat, jangan lupa dukungannya agar Author inget untuk terus update :v


__ADS_2