Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Antara kain kafan dan baju pengantin


__ADS_3

Menyaksikan pernikahan itu membuat Sarah sangat bahagia, sekarang Nadhira telah resmi menjadi milik Rifki sepenuhnya sesuai dengan keinginannya tersebut, Rifki lalu memasangkan sebuah cincin pernikahan dijari manis Nadhira begitupun juga Nadhira yang memasangkan cincin pernikahan dijari manis Rifki.


"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri, selamat menempuh hidup baru" Ucap penghulu tersebut kepada Rifki dan Nadhira.


"Terima kasih Pak" Ucap Rifki dan Nadhira dengan bersamaan.


"Pengantin wanitanya silahkan mencium tangan suami anda"


Nadhira pun meraih tangan Rifki untuk mencium tangan suaminya itu dan dilanjutkan dengan Rifki yang mencium kening Nadhira dengan penuh kasih sayang dan kelembutan untuk Nadhira.


Nadhira yang merasakan ciuman itu langsung memejamkan kekedua matanya, ciuman dari Rifki seketika membuat jantung berdebar debar tidak karuhan, mereka berdua pun melanjutkan dengan menyalami dan mencium tangan Haris, Putri, dan juga Sarah.


"Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah ya Nak" Ucap Putri.


"Semoga tidak ada yang bisa memisahkan kalian berdua, hingga maut datang menjemput" Ucap Haris.


"Aamiin" Ucap Rifki dan Nadhira bersamaan.


Nadhira dan Rifki lalu meminta restu kepada David beserta istrinya, David merasa bahagia menyaksikan pernikahan dari keponakannya itu, David lalu memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya karena dirinya yang dipercaya oleh Sarah untuk menjaga Nadhira.


"Jangan pernah sakiti hati keponakanku Nak, jika kau berani melakukan itu, Om akan menghajarmu nanti" Ucap David kepada Rifki.


"Om tenang saja, selama ada Rifki tidak akan pernah ada yang menyakiti Nadhira, Rifki akan selalu ada untuk Nadhira disaat suka dan dukanya" Ucap Rifki.


"Om pegang kata kata itu"


Rifki tersenyum mendengar ucapan dari David, keduanya pun kembali mendatangi Sarah yang terbaring dengan lemah diatas kasur rumah sakit, Rifki dan Nadhira lalu memegangi tangan Sarah bersamaan.


"Semoga kebahagiaan akan selalu menyertai kalian berdua dan tidak akan ada yang mampu untuk memisahkan kalian, doa Oma akan senantiasa untuk kalian, Oma merasa sangat bahagia atas pernikahan kalian ini, sekarang Oma merasa tenang untuk pergi dalam damai"


"Oma harus sembuh demi Dhira, jangan tinggalkan Dhira seperti ini Oma, Mama telah pergi meninggalkan Dhira, tolong jangan lakukan itu Oma, Dhira mohon" Ucap Nadhira.


"Nak, usia seseorang tidak mampu ditebak sampai kapan, cepat atau lambat manusia pasti akan merasakan kematian, inilah saatnya untuk Oma pergi menghadap kepada Sang Maha Kuasa"


"Oma hiks.. hiks.. kenapa Oma ingin meninggalkan Dhira, kenapa Oma? Kenapa?"


"Oma merasa bahagia ketika menyaksikan kedua cucu Oma menikah, Oma berterima kasih kepada Tuhan karena membiarkan Oma untuk hidup sampai detik dimana kalian menikah"


Sarah pun melambaikan tangan kepada Nandhita untuk menyuruh Nandhita mendekat kearahnya juga, Nandhita yang melihat itu pun segera mendekat kearah Sarah yang terbaring tidak berdaya diikuti oleh Stevan dibelakangnya.


"Oma sangat menyayangi kalian berdua, jangan pernah memutuskan tali silaturahmi antara kalian ya Nak, sesama saudara harus bisa saling melindungi satu sama lain"


"Kami akan selalu menjaga hubungan kami Oma, aku dan Nadhira tidak akan pernah memutuskan tali silaturahmi itu" Ucap Nandhita dengan linangan air mata membasahi pipinya.


"Dhira berjanji kepada Oma, Dhira tidak akan pernah memusuhi Kakak Dhira sendiri" Ucap Nadhira.


"Syukurlah kalau begitu"


Nandhita dan Nadhira memegangi tangan Sarah dengan eratnya, keduanya pun membenamkan wajahnya kedalam pelukan hangat Sarah, Sarah berusaha untuk memeluk kekedua cucunya itu pelukan untuk yang terakhir kalinya.


"Selalu berbahagialah, jangan ada pertengkaran diantara kalian berdua" Ucap Sarah sambil memeluk kedua cucu kesayangannya itu.


"Nandhita dan Nadhira berjanji kepada Oma, bahwa kami akan tetap menjaga hubungan persaudaraan diantara kami" Ucap Nandhita.


"Dhira berjanji Oma, bahwa Dhira dan Kakak akan selalu menjaga keutuhan keluarga kita"


Nandhita dan Nadhira tak henti hentinya terisak mendengar ucapan Sarah, mereka ingin menghentikan waktu untuk saat ini akan tetapi mereka tidak mampu untuk melakukan itu, ditempat itu kini kian menjadi sunyi dan hanya terdengar suara isak tangis yang memilukan.


"Biarkan Oma pergi ya Nak, jangan pernah menangisi kepergian Oma, kematian tidak selalu menakutkan, izinkan Oma pergi" Ucap Sarah.

__ADS_1


"Apa yang Oma katakan?" Tanya Nadhira.


Mendengar perkataan itu membuat Nandhita dan Nadhira segera bangkit dari pelukan tubuh Sarah, keduanya menatap kearah wajah Sarah yang terlihat sangat sayup dan lemahnya.


"Dimana Rifki?" Tanya Sarah.


"Ada apa Oma? Rifki ada disini untuk Oma" Ucap Rifki sambil berdiri didekat Nadhira yang ada dihadapan Sarah yang terbaring dengan lemah.


"Tolong bimbing Oma sekarang Nak, Oma sudah tidak sanggup lagi" Ucap Sarah semakin lemah dan menatap kearah Rifki.


"Baiklah Oma" Ucap Rifki.


Mendengar ucapan itu seketika membuat air mata Nadhira menetes membasahi tangan Sarah begitupun dengan Rifki, Nandhita segera melepaskan pelukannya itu untuk membiarkan Rifki mendekat kearah dimana Sarah terbaring.


Nandhita memberikan jalan kepada Rifki agar Rifki mampu untuk membimbing Sarah, Rifki sendiri pun merasa sangat sedih ketika Sarah mengatakan hal tersebut kepadanya dan Rifki pun mendekatkan wajahnya kepada wajah Sarah.


"Rifki minta maaf kepada Oma atas segala salah dan khilaf Rifki selama ini" Ucap Rifki yang mendekat kearah telinga Sarah.


"Iya Nak, Oma juga minta maaf jika Oma memiliki kesalahan yang tidak Oma sengaja, tolong jaga Nadhira dengan baik untuk Oma, sampaikanlah maaf Oma kepada semuanya".


"Rifki akan menyampaikannya Oma, Rifki akan selalu menjaga Nadhira sesuai dengan janji Rifki dihadapan Oma, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Nadhira didalam hati Rifki"


"Aku percayakan hal itu kepadamu, tolong bimbing Oma untuk terkahir kalinya Nak" Air mata Sarah menetes secara perlahan lahan diujung matanya.


"Baiklah Oma, tolong ikuti ucapan Rifki ya Oma, bismillahirrahmanirrahim.. Ashadualla ilahailallah" Ucap Rifki dengan bibir yang bergetar lirih.


"As.. hadu.. alla ila.. ha.. ilallah" Ucap Sarah dengan terbata bata.


"Wa ashadu anna muhammadarrasulullah"


"Wa as.. hadu an.. na mu.. ham.. madar.. rasulullah" Ucapan Sarah semakin tidak terdengar.


Setelah mengatakan itu kedua mata Sarah langsung terpejam begitu saja, diujung matanya tercipta sebuah keristal bening yang siap untuk menetes kapapun, melihat itu membuat Rifki meneteskan air matanya.


Tiiiiittttttt...


Dilayar monitor yang ada ditempat itu yang terhubung dengan detak jantung dari Sarah pun menunjukkan garis lurus yang artinya jantung Sarah sudah tidak berdetak lagi.


Rifki pun menyentuh denyut nadi ditangan Sarah yang sudah tidak berdetak lagi, ia pun mendekatkan jari telunjuknya dihidung Sarah yang sudah tidak terasa adanya pernafasannya, Sarah benar benar telah pergi meninggalkan semuanya.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un" Ucap Rifki sambil menutupkan kedua mata Sarah.


"OMA!!!" Teriak Nadhira histeris.


Nadhira langsung menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk Sarah, menyaksikan itu membuat semuanya menangis, Nandhita yang sesenggukan itu pun langsung membenamkan wajahnya didada suaminya, ia menangis sejadi jadinya.


Siapa sangka bahwa Sarah akan pergi secepat ini untuk meninggalkan mereka semua, suasana ditempat itu pun kini diselimuti oleh suasana duka yang sangat mendalam, kepergian dari Sarah menciptakan air mata.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un" Ucap mereka semua dengan lirihnya ketika mendengar ucapan Rifki yang menandakan bahwa Sarah telah dijemput oleh malaikat maut saat ini.


Putri yang menyaksikan kejadian tersebut langsung membenamkan wajahnya didalam pelukan Haris, dan dapat didengar isak tangis lirih dari mulutnya, sementara itu Haris langsung mengusap pelan punggung istri tercintanya itu.


"Innailaihi wa innailaihi roji'un, Mama.. hiks.. hiks.. Mama telah pergi menyusul Papa" David pun terisak tangis melihat kepergian dari Sarah.


Setelah kepergian dari Papanya waktu itu, David hanya memiliki Sarah seorang diri, dan kini Sarah pun ikut pergi untuk meninggalkan dirinya, ia pun menjatuhkan tubuhnya dilantai dan bersandar disebuah tembok yang ada diujung kamar itu.


"Kenapa Oma pergi secepat ini meninggal Dhira hiks.. hiks.. bangun Oma jangan tinggalkan Dhira, Dhira mohon kepada Oma, Oma tidak mungkin meninggal hiks.. hiks.. huaa... Oma bangun! Hiks.. hiks.. hiks.." Nadhira menggoyang goyangkan tubuh Sarah berharap bahwa Sarah tidak akan meninggalkan dirinya.


Rifki mengusap pelan kepala Nadhira yang sedang berteriak histeris melihat kepergian dari Sarah untuk selama lamanya, Nadhira terus menggoyang goyangkan tubuh Sarah, dan berteriak, "Oma bangun jangan tinggalkan Dhira!"

__ADS_1


"Tenanglah Dhira, jangan menangis" Ucap Rifki.


"Oma tidak pergi kan Rif? Oma tidak mungkin meninggalkan diriku kan? Oma pasti akan baik baik saja kan?" Nadhira sangat sulit untuk menerima kenyataan bahwa Sarah sudah tiada.


"Oma sudah tenang disana, memang sangat sulit untuk menerima kenyataannya Dhira, tapi ini adalah kebenarannya"


"Tidak mungkin! Kau hanya bercanda kan? Oma hanya tidak sadarkan diri saja, Oma pasti baik baik saja" Linangan air matanya membasahi kedua pipi Nadhira.


Rifki pun menarik tangan Nadhira dan menjatuhkan Nadhira kedalam pelukannya, Rifki memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya dan berharap bahwa istrinya itu akan merasa lebih tenang, ia tidak tahan ketika melihat Nadhira menangis histeris seperti itu.


"Oma tidak mungkin meninggal kan Rif? Oma tidak mungkin meninggalkan kita" Tanya Nadhira dengan isak tangisnya.


"Kita ikhlaskan kepergian Oma ya sayang, biarkan Oma tenang dialam sana" Ucap Rifki sambil membelai rambut Nadhira.


"Kau bohong! Oma masih hidup, dia tidak akan meninggalkanku Rif, kau pembohong! Aku tidak percaya ucapanmu Rifki!" Ucap Nadhira sambil melepaskan pelukannya itu dan memukul dada Rifki berkali kali.


Rifki memejamkan matanya dan menghela nafas berat, air matanya ikut menetes melihat Nadhira yang menangis seperti itu, pukulan dari Nadhira tidak begitu menyakitkan baginya akan tetapi tangisan Nadhira itulah yang bagaikan menusuk jantungnya.


"Oma masih hidup hiks.. hiks.. hiks.. Oma tidak mungkin meninggalkanku" Bantah Nadhira.


Rifki menatap wajah Nadhira yang sembab karena tangisannya itu, ia pun menggerakkan kedua tangannya untuk menyentuh wajah Nadhira dan menghapus air mata Nadhira.


"Dengarkan aku, malaikat maut telah menjemputnya, kita sebagai manusia tidak bisa berbuat apa apa, segalanya sudah ditentukan oleh Allah, termasuk juga jodoh, maut dan rezeki, iklaskan kepergiannya Dhira jangan membuat Oma terbebani dengan ketidak iklasan itu".


"Ngak mungkin! Arghh... Oma tidak mungkin meninggalkan diriku" Nadhira pun menjatuhkan dirinya berlutut ditempatnya.


Melihat itu membuat Rifki ikut serta berlutut didepan Nadhira, ia pun memegangi tangan Nadhira dengan sangat eratnya, tangan yang bergetar itu pun terlihat seperti berkeringat dingin.


"Menangislah jika itu membuatmu tenang, Allah lebih sayang kepada Oma, itulah mengapa Allah memanggilnya kembali ke surga-Nya"


Nadhira pun menyandarkan kepalanya didada suaminya itu, meskipun masih terdengar isak tangis Nadhira lirih Rifki tetap memeluknya dengan sangat eratnya, mendengar isak tangis Nadhira seperti itu membuat hatinya terasa seperti tersayat sayat.


Nadhira begitu sangat sulit untuk menerima kenyataannya, dimana disaat dirinya menikah dengan orang yang dicintainya justru disaat itulah dirinya kehilangan sosok seorang Nenek yang sangat ia sayangi itu.


"Ini semua salahku Rif, seandainya itu tidak terjadi mungkin Oma tidak akan meninggalkanku seperti ini"


"Ini juga salahku Dhira, seandainya obat bius itu tidak merasukiku mungkin semuanya tidak akan terjadi seperti ini, Oma pasti akan baik baik saja".


"Ini bukan salahmu Rif, ini salahku karena tidak bisa melindungi Oma saat itu, aku sangat menyesal karena membuat Oma celaka".


"Tidak ada yang perlu disesali Dhira, semuanya sudah terjadi dan ini adalah takdir, meskipun kita berusaha untuk menghindarinya tapi jika takdir sudah berkata lain maka dia akan mencari jalannya sendiri kita tidak akan bisa merubah takdir seseorang"


"Mama telah pergi meninggalkanku terlebih dulu dan sekarang Oma pun ikut pergi meninggalkan diriku, kenapa mereka harus meninggalkanku seperti ini hiks.. hiks.. hiks.."


"Kita hanyalah tanah yang diberi nyawa Dhira dan suatu saat nanti akan kembali ketanah, tidak akan ada yang tau takdir seseorang akan seperti apa karena itu telah ditentukan sebelum kita lahir kedunia ini, jangan menangis sayang, aku akan selalu ada untukmu dimanapun kamu berada"


Nadhira memeluk tubuh Rifki dengan eratnya, Nadhira tidak sanggup untuk menahan kesedihannya itu lagi, sementara Rifki memejamkan matanya dan sesekali menghapus air mata yang mengalir melalui pipinya, ia tidak mampu untuk melihat Nadhira menangis seperti itu, Rifki pun mengusap pelan punggung Nadhira.


"Oma, terima kasih atas kasih sayang yang selama ini Oma berikan kepada kita berdua, Oma selalu ada untuk kita berdua, semoga kebaikan Oma mampu membawa Oma menuju jannah-Nya" Ucap Nandhita.


"Ini hanya mimpi, Oma tidak mungkin meninggalkan kita Kak, ini adalah mimpi terburuk bagiku" Ucap Nadhira yang masih berada didalam pelukan Rifki.


"Sudah, ikhlasin kepergiannya ya, jangan menghambat jalannya dengan tangisan, biarkan Oma pergi dengan tenang" Ucap Rifki.


Nadhira mengangguk pelan akan tetapi suara isak tangisnya sama sekali tidak mereda, Nadhira pun membenamkan wajahnya kedalam pelukan hangat Rifki, sementara Rifki terus membelainya dengan penuh kelembutan.


"Ayo pulang, kita sambut kedatangan jenazah Oma dirumah" Ajak Rifki kepada Nadhira.


"Ngak mau Rif, aku masih ingin disini"

__ADS_1


"Baiklah"


Tak beberapa lama datanglah beberapa Suster dan seorang Dokter untuk memeriksa Sarah, merasakan bahwa Sarah sudah tidak bernafas lagi membuat mereka melepaskan peralatan medis yang tertempel ditubuh Sarah.


__ADS_2