
Beberapa minggu kemudian, kini usia kandungan Nadhira sudah mencapai 3 bulan, perutnya yang rata sebelumnya itu pun sudah sedikit membuncit karena janin yang ada diperutnya sudah sedikit besar, Nadhira tengah tidur siang saat ini sementara Rifki sedang pergi untuk bekerja.
Tok tok tok
Tiba tiba pintu kamar Nadhira diketuk oleh seseorang dari luar, Nadhira yang tadinya tengah asik menikmati tidur siangnya itupun terasa terganggu karena ketukan pintu itu, ia pun membuka kedua matanya dengan malas.
"Masuk" Ucap Nadhira sambil menguap.
Bi Sari pun masuk kedalam kamar Nadhira sambil membawakan makan siang untuk Nadhira dan juga segelas susu ibu hamil untuk Nadhira, ia pun berjalan mendekat kearah Nadhira dan menaruh nampan yang ia bawa diatas nakas dekat tempat tidur Nadhira itu.
"Silahkan dimakan dulu Nona Muda, lalu diminum susunya" Ucap Bi Sari.
"Iya Bi, dilemari es ada salad ngak Bi?" Tanya Nadhira balik kepada Bi Sari.
"Tinggal satu tepak Nona, mau diambilkan?"
"Iya Bi, setelah itu tolong belikan lagi ya, ini uangnya" Nadhira pun memberikan dua lembar uang seratus ribuan kepada Bi Sari.
"Baik Nona Muda"
Bi Sari itu pun bergegas pergi meninggalkan kamar majikannya, ini adalah kebiasaanya setiap hari yang selalu mengantarkan makanan kekamar Nadhira jika Nadhira belom makan siang dimeja makan bawah, karena perintah dari Rifki yang harus dilaksanakan tanpa adanya bantahan sedikitpun.
Nadhira pun mengambil nampan tersebut dan menaruhnya didepannya, ia lalu membuka tutup nampan itu dan menampakkan sebuah nasi dan lauk ikan bakar yang menggoda selera, tak lupa juga dengan beberapa sayuran sehat.
Klunting
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel milik Nadhira, Nadhira pun segera bergegas untuk mengambil ponselnya dan melihat siapa yang tengah mengirim pesan kepadanya, dan Nadhira pun tersenyum ketika nama Rifki terpampang jelas dilayar ponselnya.
Rifki : Selamat siang sayang, makan dulu gih setelah itu minum susunya biar kenyang, jangan lupa sholat cinta, see you my angel
Nadhira tersenyum sendiri ketika membaca pesan dari Rifki, setiap pukul 11.30 Rifki selalu mengirimkan pesan kepadanya tanpa telat sedikitpun, begitupun para pembantunya yang selalu tepat waktu untuk mengantarkan makanan kepadanya.
"Lihatlah Nak, Papamu begitu perhatian kan, sehat sehat ya didalam perut Mama" Ucap Nadhira sambil mengusap perutnya.
Nadhira pun membalas pesan tersebut, setelah dirinya langsung memakan makanan itu dengan lahap, setelah selesai makan Nadhira pun meminum susunya yang masih hangat itu, terasa melegakan jika sudah masuk kedalam perutnya.
Setelahnya dirinya langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia pun mandi siang dan mengganti pakaiannya, setelah itu dirinya pun melaksanakan sholat dhuhur.
*****
Hari minggu pun telah tiba, pagi ini Rifki ingin menghabiskan sepanjang harinya untuk bersama dengan Nadhira, Nadhira dan Rifki kini tengah berada digazebo yang ada dihalaman depan rumah mereka, Rifki tak henti hentinya untuk terus mengusap usap perut Nadhira yang sedikit membesar itu.
"Cepat keluar dong Nak, ayo main sama Papa, nanti kita akan main gelut gelutan, Papa ajarin deh" Ucap Rifki yang mengajak calon anaknya itu mengobrol.
"Semua itu butuh proses Papa, masih kurang enam bulan lagi Adek lahir, nanti Papa bakalan kewalahan menghadapi Adek" Ucap Nadhira.
"Papa udah ngak sabar nih pengen segera main main dengan malaikat kecil kita ini"
"Kamu ingin punya anak laki laki atau perempuan Rif? Bagaimana kalau nanti anak kita ini perempuan?"
"Apapun jenis kelaminnya nanti itu adalah anak kita sayang, entah itu perempuan ataupun laki laki kita harus bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, kita harus menjaganya dengan baik, menyayanginya dengan tulus, dan membimbing serta mendidiknya dengan benar, agar kelak dia akan bermanfaat bagi nusa, bangsa dan negara"
"Kau adalah Papa yang terbaik Rif, semoga saja anak anak kita memiliki akhlak yang baik"
"Kau juga, kau adalah Mama yang terbaik, madrasah pertama bagi seorang anak ada pada ibunya sayang, aku harap anak kita tumbuh menjadi anak yang baik, mampu membanggakan kedua orang tuanya sekaligus mampu membawa kita menuju syurga-Nya"
"Aamiin ya Allah"
Rifki pun berjongkok didepan Nadhira dan mensejajarkan tinggi badannya dengan perut Nadhira, ia pun mengecup perut tersebut dan hal itu langsung membuat Nadhira tertawa karena merasa sangat geli dengan tindakan Rifki.
"Rif, aku ingin jalan jalan, aku bosen dirumah terus"
"Jalan jalan kemana?" Tanya Rifki sambil berdiri.
"Muter muter kota, tapi pakek sepedah motor"
"Ganti pakaian dulu"
"Makasih sayang"
Nadhira pun masuk kedalam rumahnya itu untuk mengganti pakaiannya, tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya keluar dengan pakaian yang sedikit rapi akan tetapi memakai sebuah celana panjang yang sedikit lebar, melihat itu membuat Rifki langsung bangkit dari duduknya.
"Ayo sayang, sudah siap"
"Ditambah paket jilbab sepertinya makin cantik deh, coba pake jilbab Dhira"
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya sayang, buruan pake jilbabnya, setelah itu kita akan jalan jalan"
"Tunggu sebentar ya"
Nadhira kembali masuk kedalam rumahnya untuk mengambil sebuah jilbab, melihat itu membuat Rifki tersenyum tipis dan segera berjalan menuju sepeda motornya yang ada digarasi miliknya itu, sejak Nadhira ingin jalan jalan naik sepeda motor jadinya Rifki membawa sepeda itu dan menaruhnya dirumah.
Setelah cukup lama akhirnya Nadhira keluar dengan memakai jilbab berwarna biru terang sesuai dengan bajunya yang berwarna abu abu terang itu, melihat itu membuat Rifki begitu terpanah dengan pesona wajah Nadhira yang tertutup oleh jilbab.
"Nah ini baru bener"
"Ayo berangkat Rif, aku sudah selesai"
"Iya ayo sayang, jalan lupa pake juga helmnya"
Nadhira pun mengangguk kepada Rifki, Rifki lalu memakaikan helm kepada Nadhira dengan perlahan lahan, setelahnya ia pun memakai helmnya sendiri, keduanya lalu menaiki sepeda motor itu dan langsung bergegas meluncur keluar dari halaman rumah tersebut setelah Pak Santo membukakan pintu gerbang utama untuk keduanya.
"Kita jalan jalan kemana sayang?"
"Ke alun alun kota saja sayang"
"Baiklah cintaku"
Keduanya pun bergegas menuju ke alun alun kota yang jaraknya lumayan jauh dari rumah keduanya, Nadhira sangat menikmati hal itu, ia pun menyandarkan kepalanya dibahu suaminya itu dengan tangan yang memeluk erat tubuh Rifki.
Setelah sekian cukup lama akhirnya mereka telah sampai disebuah parkiran yang berada tidak jauh dari alun alun kota itu, Nadhira segera turun dari sepedahnya itu dan Rifki membantu Nadhira untuk melepaskan helm yang ada dikepala Nadhira.
Rifki pun memegangi erat tangan Nadhira dan menariknya untuk masuk kedalam area alun alun kota itu, Nadhira merasa sangat senang jika berada di alun alun kota itu karena dirinya dapat mengingat kenangan kenangan bersama dengan Rifki sebelumnya dan hal itulah adalah hal yang sangat menyenangkan untuk diulang kembali.
Rifki mengajak Nadhira untuk duduk disebuah kursi yang ada ditepi alun alun kota itu, dibawah rimbunnya pepohonan membuat area tempat duduk tersebut terasa begitu sejuk dan cukup menenangkan perasaan.
"Kalo disini aku teringat kembali dengan Kak Rahel, Rif" Ucap Nadhira mengingat tentang sosok Rahel, Rahel adalah Kakak dari Hafis yang menjadi Adik angkat Rifki saat ini.
"Kak Rahel sudah tenang disana sayang"
"Oh iya, bagaimana kabar Kak Hakam sekarang ya? Apakah dia sudah menikah?"
"Ngak tau Dhira, dia tidak pernah datang berkunjung untuk menemui Hafis, jadi sudah ngak ada kabar lagi tentangnya sejak kejadian waktu itu"
"Ini sudah menjadi takdir Dhira, Kak Rahel adalah sebuah contoh yang baik untuk kaum wanita, dia rela kehilangan nyawanya asalkan kesuciannya tetapi terjaga, dan bahkan rela menanggung rasa sakitnya kematian demi harga dirinya"
"Kak Rahel orang yang baik, tapi tidak diperlakukan dengan baik oleh orang lain, dan sekarang dia telah merasa tenang dialam barunya"
"Iya Dhira"
"Rif, pengen permen kapas itu" Nadhira menunjuk kearah pedagang permen kapas yang berada cukup jauh dari keduanya.
"Kamu disini saja, biar aku belikan supaya kamu tidak kecapean nantinya"
"Jangan lama lama"
"Iya sayang, jangan kemana mana"
Rifki pun langsung bangkit dari duduknya untuk menuju kearah penjual permen kapas itu, Nadhira menatap kepergian Rifki tanpa mengalihkan pandangannya dari Rifki, Rifki adalah sosok seorang lelaki yang sangat sabar baginya, dan hal itu membuat Nadhira sangat kagum dengan kesabaran dari lelaki itu.
Meskipun banyak permintaan dirinya yang aneh aneh dan bahkan membuat Rifki kesusahan akan tetapi Rifki sama sekali tidak bisa marah dengan dirinya itu, Rifki selalu bersikap lembut kepadanya meskipun Nadhira selalu membuatnya marah.
"Terima kasih Ya Allah karena telah mengirimkan kepadaku lelaki baik sepertinya, suami yang sangat menyayangiku dan selalu membimbingku, Ya Allah tolong jaga dia untukku kemampuan dia melangkah, hamba sangat menyayanginya, dibalik setiap cobaan yang telah aku lalui, Engkau mengirimkan kepadaku sosok yang selalu membuatku kuat"
Rifki tersenyum kearah Nadhira dari kejauhan, hal itu seketika membuat senyuman diwajah Nadhira ikut mengembang dengan cerahnya, tidak ada hal yang membahagiakan selain melihat wajah orang yang kita sayangi tersenyum dengan bahagianya.
"Hai cewek cantik" Tiba tiba ada sosok lelaki mendekati Nadhira.
Karena baju Nadhira yang agak besar sehingga perut Nadhira yang sedikit buncit itu pun tidak terlihat, dan wajah Nadhira yang cantik membuat perhatian lelaki itu terarah kepada Nadhira.
"Boleh kenalan ngak?" Ucap lelaki itu lagi.
"Ngak" Jawab Nadhira simpel.
"Jangan sombong sombong gitu napa Mbak, nanti ngak laku loh"
"Bukan urusanmu"
Nadhira pun membuang muka dari orang tersebut sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya, orang itu pun dengan lancangnya langsung duduk disebelah Nadhira, dan hal itu langsung membuat Nadhira menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Aku sudah menikah ya Mas! Jangan ganggu aku" Ucap Nadhira dengan tegas.
"Ngak percaya, masak sudah menikah malah duduk disini sendirian lagi, emang suamimu mana?"
Tanpa berkata kata Nadhira lalu bangkit dari duduknya karena merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran lelaki itu, melihat itu membuat lelaki tersebut langsung menarik tangan kiri Nadhira akan tetapi kepalan tangan kanannya langsung menonjok hidung lelaki tersebut hingga lelaki itu mengalami mimisan.
"Arghhh...." Teriak lelaki itu kesakitan.
"LANCANG SEKALI KAU!" Bentak Nadhira.
"Berani sekali kau memukulku! Awas kamu ya" Lelaki itu langsung bangkit dari duduknya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Nadhira.
"Emang aku takut dengan ancamanmu?"
Lelaki tersebut berusaha untuk memegang tubuh Nadhira, belom sempat lelaki itu menyentuh tubuh Nadhira tiba tiba tubuhnya terpental begitu saja akibat dari tendangan Rifki yang tiba tiba muncul disebelah Nadhira saat ini.
"Hajar saja dia Rif, berani sekali dia menyentuhku" Ucap Nadhira dengan marahnya.
"Menyentuhmu?" Rifki langsung mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Nadhira.
"Iya sayang"
Rifki lalu berjalan menuju kearah lelaki itu dan menarik kerah baju laki laki itu dengan kuat, Rifki pun melontarkan sebuah pukulan sangat keras kearah pipi orang tersebut tanpa rasa belas kasih, orang itu lalu menggeram kesakitan.
"Ampun Mas ampun!" Teriak lelaki itu meminta ampun kepada Rifki.
"Jangan beri ampun dia Rif, dia telah lancang" Teriak Nadhira sambil mengusap perutnya.
"Berani sekali kau menyentuh istriku! Bahkan sehelai rambutnya pun aku tidak rela jika kau melihatnya apalagi kau menyentuh istriku"
Bhukk
Rifki terus memukuli orang tersebut hingga menciptakan luka lebab dibeberapa bagian tubuh dari orang tersebut, masyarakat sekitar tempat itu tidak ada yang berani untuk menghentikan apa yang telah dilakukan oleh Rifki itu.
Hal itu menarik perhatian banyak orang hingga membuat pihak keamanan segera memisahkan keduanya, Rifki nampak terlihat sangat emosi kali ini, tatapannya masih tajam kearah lelaki itu yang kini tengah dipegangi oleh pihak keamanan begitupun dengan Rifki.
"Lepaskan aku! Aku sama sekali tidak rela jika istriku disentuh oleh lelaki sepertinya" Teriak Rifki.
"Mas tenang dulu, masalah ini bisa dibicarakan baik baik Mas" Ucap pihak keamanan yang sedang memegangi tangan Rifki.
"Dibicarakan baik baik apanya! Seumur hidup aku tidak akan pernah rela jika istriku disentuh oleh lelaki lain, orang sepertinya tidak pantas untuk hidup! Aku akan membawa masalah ini ke meja hukum!"
"Lepaskan suamiku!" Ucap Nadhira sambil meraih tangan suaminya itu.
Mereka pun melepaskan pegangannya dari tangan Rifki, melihat itu Nadhira lngsung memeluk lengan suaminya tersebut, Rifki pun nampak terlihat sedang menelpon seseorang dari seberang, tak beberapa lama kemudian beberapa polisi langsung datang ketempat itu sesuai dengan panggilan dari Rifki.
"Tangkap dia Pak!" Ucap Nadhira.
Tanpa menunggu jawaban dari polisi tersebut Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk pergi dari tempat itu, ia juga tidak lupa mengambil permen kapas yang sebelumnya ia taruh di atas sebuah kursi yang diduduki oleh Nadhira sebelumnya.
"Kamu ngak apa apa kan sayang?" Tanya Rifki ketika keduanya sudah berada diujung lain alun alun itu.
"Ngak apa apa kok" Ucap Nadhira.
"Syukurlah, nih sayang pesananmu tadi" Ucap Rifki sambil menyerahkan dua bungkus permen kapas kepada Nadhira.
"Masih ya sayang, makin cinta deh" Nadhira pun mencium pipi Rifki hingga membuat perhatian setiap pengunjung yang datang ke alun alun kota itu tertuju kepada keduanya.
"Iya sama sama sayang"
"Kamu ngak mau juga Rif?"
"Ngak, buat kamu saja sayang, aku ngak terlalu suka manis soalnya"
Nadhira lalu membuka bungkus permen kapas itu dan memakannya, rasa manis yang meleleh dimulutnya menciptakan rasa manis yang begitu lumer bagi Nadhira, Nadhira sangat menikmati permen kapas itu.
Rifki menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Nadhira, ia merasa gemes ketika melihat sedang menikmati sesuatu yang sangat dirinya sukai seperti itu, tak henti hentinya dirinya terus tersenyum kepada Nadhira.
Setelah habis Nadhira lalu mengajak Rifki untuk pergi dari alun alun kota itu karena dirinya sudah merasa sangat bosan disana saat ini, keduanya lalu melajukan kembali sepeda motor tersebut untuk meninggalkan tempat itu.
"Mau kemana lagi sayang?" Tanya Rifki yang sedang fokus dengan menyetirnya.
"Kemana aja, asal bersamamu" Jawab Nadhira.
"Baiklah, kita akan keliling kota"
__ADS_1
Rifki langsung tancap gas untuk pergi dari sana, sesuai dengan ucapannya sebelum itu Rifki mengajak Nadhira untuk keliling kota dengan bersepedah layaknya seperti pasangan biasa pada umumnya tanpa adanya perbedaan kedudukan.