
Ketika mendengar kedua anggota geng tersebut membuat keributan membuat Nadhira merasa cemas akan tetapi setelah mengingat ucapan Rifki perasaan sedihnya kembali muncul dan dia tidak ingin mendengar lagi tentang kedua orang itu.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu Dhira? Jika keduanya sampai sampai berkelahi seperti itu, apa kau tega melihat mereka terluka? Aku tau, kau masih memiliki perasaan kepada Rifki bukan? Apa kau ingin melihat Rifki terluka lagi"
"Bukankah kau dengar sendiri tadi dia bilang apa? Dia bahkan sudah tidak ingin mengenal diriku lagi, bukankah dia juga meminta kepadaku untuk tidak ikut campur dalam urusannya? Biarkan saja dia, aku tidak peduli lagi dengan mereka".
"Ratu iblis, tolonglah bujuk si kepala batu ini, apa kau juga ingin keturunan dari Pangeran Kian celaka lagi? Apa kau sudah tidak mau membalas kebaikan dari Pangeran Kian kepadamu?" Rayu Raka.
Raka merasa gemes dengan sikap Nadhira yang seolah olah tidak peduli itu, akan tetapi dia tau bahwa Nadhira masih memiliki perasaan yang mendalam kepada Rifki.
Memang benar dimulutnya dia tidak mengatakan bahwa dia sangat menyayangi Rifki dan mempedulikan dirinya akan tetapi didalam hatinya masih terukir nama Rifki dengan begitu indah disana.
"Dhira, apa kau sungguh yakin kalau kau akan membiarkan Rifki dalam bahaya? Aku tau, kau sangat ingin menghentikan pertarungan itu bukan, tapi kau masih sakit hati dengan ucapan Rifki tadi, dan ucapan itu membuatmu sangat membenci dirinya".
"Bagaimana bisa aku membenci Rifki? Bahkan sampai kapanpun aku tidak akan bisa melakukan itu Nimas, tapi aku tidak ingin membuatnya semakin sulit untuk melupakan diriku".
"Itu bisa dipikirkan soal nanti, apa kau ingin melihat banyak orang yang terluka akibat pertarungan itu? Apalagi anggota Gengcobra dan Gengters juga tengah bertarung saat ini Dhira, coba pikirkan lagi Dhira".
Nadhira hanya bediam diri mendengar ucapan dari Nimas, ia pun memikirkan kembali mengenai perkataan Nimas kepadanya, jika dia tidak datang maka keduanya ataupun bahkan akan banyak yang mengalami luka luka.
"Baiklah, dimana keberadaan mereka saat ini?"
"Ada disekitar danau tempat dimana kau dan Rifki menikmati masa kecilmu dulu".
Nadhira mengangguk, dan berkata "Pak Mun bawa aku menuju kearah danau yang dekat dengan rumah lamaku sekarang juga".
"Baik Non".
*****
Anggota Gengters sepertinya sudah mencapai batas mereka, mereka sama sekali tidak dapat mengalahkan kemampuan dari anggota Gengcobra, meskipun mereka menang dalam jumlah akan tetapi mereka kalah soal kekuatan fisik, entah metode seperti apa yang digunakan oleh mereka dalam melatih anggotanya itu.
Anggota Gengcobra seakan akan tidak ada batasan kemampuan mereka untuk bertarung, akan tetapi disatu sisi mereka terlihat begitu kelelahan tapi mereka tidak menunjukkan soal itu karena akan membuat mereka dalam bahaya setelah karena anggota Gengters akan tau bahwa kini mereka sedang lemah.
Tak beberapa lama kemudian Nadhira sampai ditempat tersebut dan melihat bahwa anggota Gengters sekarang banyak yang sudah terbaring diatas tanah dengan begitu banyak luka memar ditubuhnya mereka terutama dibagian wajah.
"Apa yang terjadi" Guman Nadhira.
"Kenapa kau ada disini Dhira?" Tanya Bayu yang telah selesai membuat memar diwajah musuhnya.
"Dimana Rifki dan Theo?"
Bayu menunjuk kearah dimana Theo dan Rifki saling berkelahi menggunakan lirikannya, Nadhira mengikuti lirikan dari Bayu yang mendapati bahwa Rifki dan Theo tengah bertarung dikejauhan dan dekat dengan tepi danau.
"Apa kau ingin menghentikan mereka Dhira? Sebaiknya kau tidak melakukan itu Dhira"
"Aku harus melakukan itu Bay"
"Dhira tunggu".
Nadhira bergegas mendatangi mereka berdua, sementara disatu sisi sekilas Rifki melihat Nadhira yang bergegas kearahnya akan tetapi dirinya langsung berganti menyerang balik kearah Theo, Rifki yang tadinya hanya berada diposisi bertahan kini berubah menjadi posisi menyerang.
Setiap serangan yang Rifki berikan hanya mampu ditangkis oleh Theo dan dia tidak mampu untuk memberikan serangan balik kepada Rifki, Rifki memaksanya berada didalam posisi bertahan tanpa membiarkannya mampu menyerang balik kearahnya.
"Sudah cukup!" Ucap Rifki dan langsung memberikan sebuah tendangan yang keras kepada Theo.
Tendangan tersebut seketika membuat Theo terguncang dan akhirnya tumbang ketanah, ia tidak berhenti begitu saja akan tetapi tendangannya terus diarahkan kearah Theo yang sudah tersegal segal pernafasannya.
Belum sempat tendangan itu mengenai Theo, Nadhira segera menendang balik kaki Rifki untuk menangkis dengan tendangan yang tidak kalah keras darinya, dan hal itu membuat Rifki terpental akan tetapi dirinya langsung melakukan gerakan memutar agar tidak jatuh ditanah.
Tendangan dari Nadhira seketika menciptakan sebuah bercak kemerahan dikaki Rifki, akan tetapi Rifki hanya tersenyum tipis ketika merasakan kebas akibat dari serangan Nadhira yang tiba tiba hanya untuk menangkis serangannya yang ia berikan kepada Theo.
"Akhirnya kita bertemu lagi Dhira, bukankah ini sangat menyenangkan sekali? Hem... Sepertinya kau berani menentangku dengan membiarkan wanita itu begitu saja, mulai saat ini aku tidak akan segan segan lagi dengan dirimu".
Melihat Nadhira berada didepannya membuat Rifki hanya bisa berdiri dengan tegaknya, sementara Nadhira segera bergegas membantu Theo untuk berdiri kembali setelah mendapatkan tendangan bebas dari Rifki.
"Kau benar benar kelewatan Rif, aku sangat kecewa dengan dirimu yang sekarang Rif" Ucap Nadhira dan langsung menatap kearah Rifki.
__ADS_1
"Aku tidak perduli, kau sudah terlanjur membuat masalah denganku, jadi terimalah akibatnya jika berhadapan dengan diriku" Ucapnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada bidangnya.
"RIFKI!" Bentak Nadhira.
"DHIRA! Aku sama sekali tidak suka dibentak seperti itu" Bentak Rifki balik kepada Nadhira yang tidak kalah keras dari bentakan Nadhira.
Bentakan dari Rifki tersebut seketika membuat Nadhira meneteskan air matanya, selama ini Rifki tidak pernah membentaknya seperti itu, akan tetapi kali ini terasa begitu menyakitkan baginya, melihat Nadhira menangis seketika membuat Rifki mengepalkan kedua tangannya hingga berkeringat.
Didalam tangisannya Nadhira mengepalkan kedua tangannya dengan begitu eratnya hingga telapak tangan itu terlihat memutih karena tidak ada darah yang mengalir disana, dan Rifki dapat melihat bahwa Nadhira ingin sekali melontarkan sebuah pukulan kepadanya.
"Kenapa? Kenapa kau berubah seperti ini Rif".
"Aku berubah? Itu semua bukan urusanmu lagi".
"Aku kecewa dengan dirimu Rif".
"Emang kau pikir aku peduli dengan itu? Itu bukan urusanku lagi, kau tidak suka denganku, itu urusanmu sendiri bukan diriku".
"Kau sudah kelewatan Rifki"
"Sadar Dhira, kau sendiri yang telah merubahku menjadi seperti ini, bukankah ini adalah kemauanmu? Jadi jangan pernah ikut campur dalam urusanku" Ucap Rifki dengan entengnya.
"Aku sama sekali tidak menyangka dengan apa yang kau lakukan saat ini Rifki, aku menyesal karena aku telah salah mengagumi dirimu"
"Aku tidak pernah memintamu untuk mengagumiku, apa kau marah denganku? Bisakah ini diselesaikannya dengan pertarungan? Aku sangat menantikan itu" Tanya Rifki sambil menatap kearah kepalan tangan Nadhira.
"Kau!"
Entah kenapa Nadhira tiba tiba melontarkan sebuah pukulan kepada Rifki, akan tetapi Rifki segera menangkisnya dan memukul Nadhira kembali, dan langsung membuat Nadhira termundur beberapa langkah kebelakang.
"Akh.."
"Dhira" Teriak Theo.
"Sudah ku katakan bukan? Aku bisa saja berbuat nekat denganmu jika kau terus saja menghalangi jalanku Dhira"
"Karena kau berani menghalangi jalanku Dhira".
Nadhira tidak menyangka bahwa Rifki akan melontarkan sebuah pukulan tepat dibagian uluh hatinya, pukul yang diberikan Rifki tidak terlalu keras kepada Nadhira akan tetapi Nadhira masih mampu untuk merasakan sakitnya.
Melihat itu Rifki langsung memerintahkan kepada para anak buahnya segera bergegas pergi dari tempat itu, ia tidak ingin berlama lama berhadapan dengan Nadhira ditempat itu, apalagi sampai melukai Nadhira nantinya.
"Rifki! Kenapa kau tega menyakiti Nadhira"
Teriakan Theo tersebut langsung membuat Rifki menghentikan langkahnya, dirinya juga tengah merasa sakit ketika Nadhira terluka akan tetapi Rifki sama sekali tidak menunjukkan hal itu kepada siapapun termasuk anak buahnya juga.
"Jika kau menginginkan dia maka bawalah dia pergi dari sini, aku tidak peduli lagi dengan dirinya, sebaiknya kau jaga dia dan jangan pernah menghalangi langkahku atau bahkan ikut campur dalam urusanku" Ucap Rifki dengan nada dingin tanpa menoleh.
"Rifki, kau akan menyesali apa yang telah kau perbuat kepada Nadhira nanti, akan ku pastikan mau akan membayar semuanya"
"Jika kau tidak terima dengan keputusanku maka kau bebas bertarung denganku ketika kau bertemu dengan diriku dimanapun itu, dan aku akan selalu meladenimu sekarang ataupun nanti".
"Lihat saja nanti!"
"Aku telah salah menilaimu Rif, mulai sekarang aku tidak mau lagi bertemu denganmu, kau jahat! Aku sangat membencimu Rif" Ucap Nadhira yang ikut angkat bicara.
"Itu jauh lebih baik".
Nadhira terlalu kecewa dengan sikap Rifki yang berubah itu, ia pun kembali mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat dan berniat membuat Rifki terluka, ia pun mengeluarkan tongkatnya dari saku bajunya.
Sringggg....
Nadhira langsung menekan sebuah tombol yang ada ditongkatnya itu dan langsung membuat tongkat itu memanjang begitu saja dan hingga menciptakan sebuah bunyi yang sangat nyaring.
Mendengar bunyi dari tongkat tersebut membuat Rifki segera menoleh kearah Nadhira, ia begitu terkejut ketika mengetahui bahwa Nadhira sudah berada didekatnya dan hendak mengayunkan sebuah tongkat itu kepadanya.
Melihat itu dengan segera membuat Rifki langsung menghindar agar tidak terkena ayunan tongkat tersebut, sementara Nadhira merasa jengkel karena Rifki dengan mudah menghindarinya.
__ADS_1
"Apa kau berniat membunuhku? Baiklah aku akan meladeni tantanganmu itu, jangan salahkan aku jika aku melukaimu nanti" Tanya Rifki.
Nadhira tanpa berkata kata langsung menyerang kearah Rifki, ia tidak ingin kalah dari Rifki, untuk mengurangi rasa sakit hatinya kepada Rifki, Nadhira langsung menyerang Rifki dan berniat untuk menyakitinya.
"Gerakanmu sangat lambat, kau tidak akan bisa melukaiku Dhira".
"Aku tidak peduli".
Rifki memancarkan sebuah senyuman kepada Nadhira, akan tetapi Nadhira menanggapi hal itu sebagai penghinaan untuknya karena dia tidak akan bisa melukai Rifki, Rifki tau bahwa Nadhira akan mengeluarkan pisaau kecil yang berbentuk seperti pena tersebut dari balik saku bajunya oleh karena itu lah yang membuat Rifki tersenyum.
Nadhira pun mengayunkan pisau tersebut dan Rifki sama sekali tidak menghindarinya dan alhasil pisau itu langsung menggores lengan Rifki begitu saja, Rifki yang merasakan perih dilengannya membuat dia langsung memegangi lengannya yang sudah tersayat oleh Nadhira itu.
"Akh... Kau cukup licik Dhira" Puji Rifki karena Nadhira sudah berhasil melukainya.
Nadhira yang melihat darah merembes keluar dari lengan Rifki hanya mampu memegangi erat pisau yang ada ditangannya itu, Nadhira memancarkan senyum tipis ketika melihat tujuannya berhasil dicapai olehnya akan tetapi air matanya ikut serta membasahi kedua pipinya.
Rifki memegangi lengannya dengan sangat erat, hingga darahnya mengalir disela sela jemarinya, darah itu terasa begitu lengket ditangannya, dan hal itu menciptakan sebuah rasa perih bagi Rifki akan tetapi hatinya merasa bahagia karena luka itu sepadan dengan rasa sakit yang ia berikan kepada Nadhira sebelumnya.
"Kenapa kau tidak menghindarinya?" Tanya Nadhira dengan tangan yang gemetaran.
Rifki lalu mundur beberapa langkah kebelakang ketika merasakan ada yang aneh dengan luka sayatan yang diberikan oleh Nadhira kepadanya, kepalanya terasa sedikit pusing dan terasa sedikit berat untuk berdiri tegak.
"Kau curang Dhira" Ucapnya sambil berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Apa maksudmu?".
"Tapi sayang sekali bahwa obat bius itu tidak akan berpengaruh kepadaku".
"Obat bius? Bagaimana bisa ada obat bius disini"
Nadhira begitu terkejut ketika mendengar bahwa ada obat bius didalam pisau kecilnya itu, Rifki mampu merasakan obat bius tersebut karena bantuan dari khodam yang ada didalam tubuhnya, hingga dia bisa menahan efeknya itu.
Lukanya semakin lama semakin mengeluarkan banyak darah, hingga separuh lengan baju Rifki yang awalnya berwarna terang kini perlahan lahan berwarna lebih gelap karena terkena darah yang mengalir dari lengannya itu.
Pisau itu memang kecil akan tetapi tajamnya pisau itu mampu untuk menciptakan luka paling dalam dan jika terkena terkena kulit lengan akan menggores sampai ketulang tulang sekalian.
"Kenapa kau pura pura tidak tau Dhira? Itu adalah senjata milikmu, bagaimana bisa kau sendiri tidak tau soal itu?".
"Aku sama sekali tidak tau kalau ada obat bius dipisau ini Rifki, kenapa dipisau kecil ini ada obat biusnya sementara aku tidak mengetahuinya?"
"Kau sangat licik Dhira, aku akan buat perhitungan denganmu nanti".
"Rifki maafkan aku, aku benar benar tidak tau soal ini, aku baru tau setelah kau mengatakan ini kepadaku"
"Ngak usah sok baik didepanku Dhira, kau sangat licik" Ucap Rifki dengan nafas yang mulai tidak teratur karena efek dari obat bius tersebut.
Setelah mengatakan itu, Rifki kembali melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu dengan bantuan dari Bayu, ia sama sekali tidak mempedulikan Nadhira yang tengah menangis ditempat itu, dan dirinya segera masuk kedalam mobilnya kembali untuk meninggalkan tempat itu.
Bayu dan seluruh anggota Gengcobra yang menyaksikan kejadian itu benar benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat itu, dimana Rifki yang sangat mencintai Nadhira dengan tega memberikan sebuah pukulan yang keras kepada Nadhira saat ini.
Mobil yang mereka naiki tersebut segera bergegas melaju pergi jauh dari tempat itu dan meninggal Nadhira berserta anggota Gengters dan juga Theo ditempat itu.
Didalam mobil itu Bayu langsung mengobati luka Rifki dan membalutnya dengan erat agar darah dari luka tersebut tidak keluar begitu banyak, meskipun dapat dilihat bahwa sesekali Rifki meringis kesakitan karena luka goresan tersebut akan tetapi dirinya masih mampu untuk menahannya.
"Apakah benar dipisau itu ada obat bius? Kenapa sebelumnya kau mengatakan itu kepada Nadhira?" Tanya Bayu yang merasa aneh.
"Memang ada, tapi pengaruhnya sangat sedikit, mungkin ada yang sengaja memberikannya secara diam diam tanpa sepengetahuan dari Nadhira, jika pisau itu digunakan untuk menyakiti orang lain maka akan berbahaya Bay".
"Kau harus lebih berhati hati Rif, apa kau benar benar baik baik saja setelah terkena sayatan pisau itu Rif?".
"Aku baik baik saja, untung saja ada yang melindungiku Bay, kalau tidak mungkin aku sudah tidak sadarkan diri tadi".
"Astaga Rifki, kau harus lebih berhati hati setelah ini".
"Kau benar Bay".
Mendengar jawaban Rifki membuat Bayu berpikir dengan sangat kerasnya, kenapa ada orang yang memberikan sebuah obat bius kepada pisau kecil milik Nadhira itu.
__ADS_1