
Melihat Rifki yang dibawa pergi begitu saja dari tempat itu membuat Theo dan kedua wanita itu nampak begitu geramnya, seandainya Rifki tidak dibawa pergi dari sana mungkin rencana mereka akan berhasil, Rifki akan berbuat macam macam kepada Nadhira dibawah alam sadarnya hingga membuat Nadhira akan membencinya, itulah yang mereka inginkan sebelumnya akan tetapi rencana mereka tersebut harus musnah ketika Rifki pergi.
"Sial! Mereka membawa Rifki pergi begitu saja dari sini, rencana kita benar benar gagal kali ini, hanya butuh waktu sedikit lagi tapi kenapa mereka harus membawanya pergi!" Umpat Theo dengan sangat marahnya melihat Rifki pergi.
"Sepertinya hal ini akan semakin sulit, bagaimana caranya untuk memisahkan kedua orang itu!" Clara pun ikut marah karena usahanya gagal.
"Kita harus bisa melakukan itu, bagaimanapun caranya itu, aku harus mendapatkan Nadhira".
Plok plok plok
Tanpa ketiganya sadari bahwa kini Nadhira tengah berdiri dibelakang mereka dan mendengarkan semua ucapan mereka, mendengar itu membuat Nadhira bertepuk tangan dengan apa yang telah mereka rencanakan sebelumnya untuk menjebak Rifki, mendengar tepuk tangan tersebut membuat ketiganya segera menoleh kebelakang.
"Dhira" Ucap Theo pelan.
"Oh jadi semua ini adalah perbuatan kalian? Hebat sekali, rencana yang sangat bagus, entah hadiah apa yang harus aku berikan kepada kalian karena rencana yang bagus itu" Puji Nadhira kepada ketiganya.
"Ini tidak seperti apa yang kau dengar Dhira, aku bisa jelaskan semuanya kepadamu Dhira".
"Apa lagi yang perlu kau jelaskan kepadaku Theo? Aku tidak menduga bahwa kau akan melakukan ini kepada Rifki, ku pikir kau telah berubah tapi ternyata kau sama sekali tidak berubah Theo, aku sangat kecewa sama kamu Theo".
"Dhira aku melakukan ini karena aku cinta sama kamu, sejak kehadiran Rifki disini kau begitu berubah kepadaku Dhria" Ucap Theo mengutarakan isi hatinya kepada Nadhira.
"Cinta kau bilang? Jangan mengotori nama cinta dengan ambisimu Theo, aku sama sekali tidak suka dengan apa yang kau lakukan malam ini, ku pikir kau sudah berubah menjadi lebih baik, tapi nyatanya kau masih sama seperti dulu, aku benar benar tidak menyangka dengan apa yang kau lakukan Theo".
"Dhira tolong maafkan diriku, aku ingin berada disisimu seperti dulu Dhira".
Nadhira menghela nafasnya dan menarik nafasnya dalam dalam mendengarkan ucapan Theo, ia tidak menyangka bahwa pesta pembukaan cabang barunya akan berakhir seperti ini, ini adalah hari yang sangat penting baginya akan tetapi Theo dengan teganga menghancurkan hari bahagianya itu.
"Aku bertanya sekali lagi kepadamu Theo dan jawab dengan jujur, aku paling tidak suka untuk dibohongi Theo, apa kau juga yang telah melaporkan Rifki kekantor polisi sebelumnya?" Tanya Nadhira dengan menatap tajam kearah Theo.
Theo hanya mengangguk kepada Nadhira, karena memang benar dirinya yang telah melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian, melihat anggukan tersebut membuat Nadhira memejamkan kedua matanya seraya menghadap keatas untuk menatap langit yang tengah bertaburkan bintang bintang itu.
"Dhira maafkan aku, aku tidak suka melihatmu dekat dengan Rifki, aku berubah hanya untukmu Dhira tapi ternyata kau lebih memilih Rifki daripada diriku".
"Asal kau tau Theo, Rifki menyayangiku dengan begitu tulus dan tidak pernah melarangku untuk bersama siapapun, itulah bedanya dirimu dengan dirinya, kau bahkan tidak akan pernah bisa untuk menjadi seperti dirinya".
"Dhira aku janji aku tidak akan melakukan ini lagi, tapi aku mohon maafkan diriku Dhira".
"Untuk kali ini aku akan memaafkanmu Theo"
"Terima kasih Dhira" Ucap Theo dengan bahagianya.
"Tapi tolong jangan pernah kembali lagi kekantorku maupun di kehidupanku lagi, aku sangat kecewa denganmu Theo, benar benar kecewa".
Kebahagiaan yang ada diwajah Theo perlahan memudar begitu saja setelah mendengar ucapan Nadhira selanjutnya itu, itu artinya Nadhira meminta kepada Theo untuk menjauhinya, setelah mengatakan itu Nadhira segera bergegas pergi dari tempat itu dengan rasa kecewanya kepada Theo.
"Dhira maafkan aku, tolong jangan lakukan ini kepadaku Dhira, dengarkan penjelasanku" Ucap Theo yang berusaha untuk mengejar Nadhira.
Nadhira sama sekali tidak mempedulikan hal itu dan dirinya langsung bergegas masuk kedalam mobilnya, Nadhira benar benar kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Theo kali ini dan dirinya tidak akan mampu untuk memaafkan kesalahan yang telah Theo lakukan kepada Rifki.
Nadhira segera menutup pintu mobil tersebut dengan rapatnya, Theo terus mengetuk kaca mobil Nadhira dan berharap bahwa Nadhira akan membukakan pintu untuk dirinya, akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mempedulikan dirinya yang ada diluar sana.
"Jalan Pak Mun" Ucap Nadhira memperintahkan kepada Pak Mun untuk menjalankan mobilnya.
"Baik Non".
Pak Mun segera menjalankan mobil tersebut untuk meninggalkan tempat itu, sementara Theo hanya menatap kepergian dari mobil itu dengan perasaan yang bercampur aduk, dirinya tidak menyangka bahwa Nadhira akan semarah itu kepadanya, dan Nadhira sendiri bahkan tidak ingin lagi bertemu dengan dirinya itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi Non?" Tanya Pak Mun keheranan dengan sikap Nadhira kali ini.
"Aku hanya kecewa dengan dia Pak, berani beraninya dia menjebak Rifki dalam acara sepenting ini, dengan menggunakan obat perang**ng".
"Eh busyet dah, tega bener bocah tengik itu Non" Ucap Pak Mun yang begitu terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Nanti tolong beritahu Pak Santo untuk jangan pernah mengizinkan dirinya masuk kedalam rumahku maupun halaman rumahku, aku akan memperkerjakan beberapa orang digerbang depan, aku tidak mau lagi bertemu dengan dirinya Pak".
"Baik Non, nanti saya akan memberitahukan hal ini kepada Pak Santo, lalu bagaimana dengan teman Non Dhira itu? Apa dia baik baik saja?".
"Aku ngak tau soal itu Pak, para anak buahnya segera membawanya pergi dari cabang perusahaan baruku, setelah mengetahui bahwa dia telah meminum obat tersebut Pak".
"Non tenang saja, obat itu tidak akan bertahan lama jika dia bisa mengendalikan pikirannya".
"Benarkah? Apa Pak Mun pernah meminumnya?".
Pak Mun hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Nadhira, dirinya pernah meminumnya disaat akan berhubungan suami istri dengan istrinya, sehingga dirinya cukup berpengalaman dalam menggunakan obat tersebut, hal itu membuat Nadhira merasa lebih tenang dengan keadaan Rifki.
Mobil yang keduanya kendarai itu melesat menembus kegelapan malam, setelah cukup lama perjalanan akhinya mobil tersebut sampai juga dirumah Nadhira, melihat kedatangannya itu membuat Pak Santo segera membukakan pintu gerbang tersebut untuk mobil yang Nadhira naiki itu.
Nadhira sehingga turun dari mobilnya ketika mobil itu telah berhenti dan dirinya segera bergegas masuk kedalam rumahnya, sementara Pak Mun segera menghampiri Pak Santo untuk mengatakan apa yang telah dikatakan oleh Nadhira kepadanya sebelum mereka sampai dirumah tersebut.
Pak Santo merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Pak Mun bahwa Nadhira sudah tidak ingin melihat Theo datang untuk menemuinya dan bahkan Pak Mun menyuruh Pak Santo untuk tidak mengizinkan Theo masuk, dan akan menambah penjagaan digerbang utama itu.
"Sepertinya Non Dhira benar benar terluka dan kecewa dengan apa yang dilakukan oleh bocah tengik itu kali ini ya Pak Mun" Ucap Pak Santo.
"Kau benar San, dia bahkan sudah tidak ingin lagi bertemu dengan pemuda itu"
"Tapi itu juga salahnya sendiri sih Pak, pemuda yang bernama Rifki itu juga adalah pemuda yang paling dicintai oleh Non Dhira, ya jelas lah Non Dhira bakalan marah jika terjadi sesuatu dengan pemuda yang dicintainya itu".
"Iya juga sih".
*****
Keesokan harinya Nadhira tengah menikmati roti tawar dengan selai nanas sambil menonton televisi, seketika dirinya menghentikan makannya ketika di televisi itu memberitakan bahwa nanti malam akan terjadi fenomena alam yang berupa gerhana bulan merah berdarah seperti yang terjadi dibeberapa tahun yang lalu.
"Gerhana bulan merah berdarah? Itu artinya malam ini kekuatan permata iblis akan melemah, dan hal itu pasti akan dimanfaatkan oleh para dukun sakti seperti beberapa tahun yang lalu untuk dapat merebut permata ini" Guman Nadhira.
Seketika raut wajah Nadhira menjadi begitu sedih membayangkan hal yang pernah terjadi kepadanya hingga membuat dirinya mengalami sebuah cidera yang sangat parah, dengan teganya orang orang itu memukul persendian kakinya menggunakan sebuah kayu yang cukup besar hingga membuat dirinya merasa kesakitan.
Nadhira segera mematikan televisinya dan langsung bergegas masuk kedalam kamarnya dengan perasaan sedihnya, ia tidak mau hal itu terjadi lagi, apalagi kekuatan permata itu akan melemah nantinya sehingga akan membuat Nimas kesusahan.
"Ada apa Dhira?" Tanya Nimas yang tiba tiba muncul disebelah Nadhira.
"Apa kau tau bahwa nanti malam adalah malam gerhana bulan merah berdarah?" Tanya Nadhira balik kepada Nimas.
"Aku tau itu, aku sebenarnya juga memikirkan hal itu Dhira, aku sangat takut untuk melawan para dukun itu apalagi dengan kekuatanku yang juga ikut melemah karena permata itu, apa mungkin kita harus pergi jauh dari sini Dhira?" Tanya Nimas.
"Pergi kemana? Energi permata itu akan mudah dilacak oleh mereka, apalagi dimalam gerhana bulan seperti ini, energi mereka pasti akan meningkat".
"Kau benar Dhira, lalu kita harus bagaimana?".
"Aku tidak tau".
Beberapa jam kemudian Sarah masuk kedalam kamar Nadhira untuk memeriksa keadaan Nadhira yang sejak pagi berada didalam kamarnya, ia takut kalau Nadhira sakit tiba tiba sehingga dirinya tidak keluar dari kamarnya sendiri, dan hal itu membuat Sarah mendatangi Nadhira kekamarnya.
"Dhira kamu kenapa?" Tanya Sarah sambil membuka pintu kamar Nadhira.
"Oma" Ucap Nadhira ketika melihat Sarah masuk kedalam kamarnya tiba tiba.
"Apa kamu sakit Nak? Kenapa sejak pagi kamu dikamar terus?" Tanya Sarah.
"Dhira ngak apa apa kok Oma".
Sarah segera mendekat kearah kursi yang ada dikamar Nadhira tempat dimana Nadhira kini tengah duduk termenung sambil menatap kearah cendela yang ada dikamarnya itu, Sarah segar duduk disebelah Nadhira dan menatap wajah Nadhira yang terlihat begitu sembab.
"Apa kau menangis Nak? Kenapa? Sini cerita sama Oma sayang, jangan dipendam sendiri seperti itu".
Sarah segera memeluk Nadhira dan Nadhira segera membalas pelukan tersebut, ia tidak tau apa yang harus ia katakan kepada Sarah, bahkan hal ini menyangkut dengan alam gaib yang sama sekali tidak dapat ia lihat maupun ia pahami.
__ADS_1
"Katakan kepada Oma, siapa yang telah membuatmu menangis seperti ini?".
"Bukan apa apa kok Oma, Dhira hanya merindukan Mama saja, entah kenapa Dhira tiba tiba teringat dengan Mama".
"Beneran kamu ngak apa apa Dhira?"
"Iya Oma, Dhira ngk apa apa kok".
"Kalau Dhira ada masalah cerita sama Oma ya sayang, Oma siap kok mendengarkan cerita keluh kesah Nadhira selama ini, siapa tau juga Oma bisa membantu Dhira kalau Oma mampu".
"Oma adalah Oma yang terbaik buat Dhira, terima kasih Oma, Dhira sangat menyayangi Oma".
"Dhira sudah makan belom? Oma lihat sejak pagi Dhira didalam kamar terus, Oma khawatir kalau Dhira demam atau yang lain sebagainya".
"Sudah kok Oma, tadi pagi Dhira sudah makan nasi sama makan roti dibawah".
"Kalau siang? Dhira belum makan kan?".
"Belum Oma".
"Ya sudah Oma akan menyuruh Bi Ira untuk membawakan makanan untukmu kemari, sudah jangan sedih lagi ya, doakan saja semoga almarhum Lia bahagia disana bersama dengan bidadari bidadari cantik".
"Iya Oma".
*****
Malam harinya hati Nadhira semakin tidak tenang, dirinya menatap kearah langit yang luas itu, ia melihat kearah bulan dan ternyata gerhana bulan merah berdarah itu belum dimulai, didalam berita televisi waktu lagi memberitahukan bahwa gerhana tersebut terjadi disaat pukul 10 malam, akan tetapi saat ini masih menunjukkan pukul 7 malam.
"Kurang tiga jam lagi" Guman Nadhira pelan dan perasaannya kini tengah merasa sangat cemas.
"Tiga jam adalah waktu yang sangat singkat untuk saat ini, tapi satu jam untuk nanti akan terasa seperti setahun bahkan dua tahun penuh" Ucap Nimas yang menanggapi gumanan Nadhira.
"Kau benar Nimas, untuk saat ini kita bisa bernafas lega, tapi nanti? Aku tidak tau apakah aku masih bisa hidup atau tidak, jika permata ini secara paksa dikeluarkan bukankah itu akan membahayakan nyawaku sendiri?".
"Iya Dhira, jika itu dikeluarkan secara paksa, tidak ada pilihan lain selain mengorbankan jiwaku sendiri agar mereka tidak dapat memiliki permata itu, tapi hal itu juga sama halnya dengan mengorbankan nyawamu juga Dhira".
"Mungkinkah hidupku akan sampai disini Nimas?".
"Semoga saja kekuatan Pangeran Kian datang untuk membantu kita, dan menyelamatkan kita dari situasi seperti ini Dhira, berdoalah semoga Pangeran Kian mengirimkan seseorang untuk membantu kita".
"Semoga saja Nimas".
Nadhira memegangi lututnya dengan sangat erat takut akan lutut tersebut kembali mengalami cidera lagi seperti sebelumnya, dimana lututnya itu pernah dipatahkan oleh orang orang jahat yang tengah mengincar permata iblis hingga membuatnya menjerit kesakitan dan tidak mampu untuk berjalan dalam waktu yang sangat lama.
Nadhira bahkan tidak sanggup untuk membayangkan hal itu, dimana dirinya harus menahan rasa nyeri yang teramat sangat itu dan juga menahan dirinya untuk tidak berlatih beladiri lagi dalam waktu berbulan bulan lamanya, dan hal itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi dirinya.
"Apakah aku harus menghubungi Rifki?"
"Apa kau yakin Rifki bisa membantumu? Aku tau sih bahwa Rifki memang ahli dalam dunia gaib, tapi berurusan dengan dukun dan mahluk gaib lainnya itu adalah hal yang tidak mudah Dhira".
"Mungkin saja dia bisa membantu kita Nimas, lalu kepada siapa lagi kita akan meminta bantuan selain kepada Rifki? Kalau kita menghadapinya sendiri pun tidak akan mampu, apalagi Rifki memintaku untuk tidak berlatih beladiri, besok adalah hari terakhir dimana aku tidak boleh berlatih olehnya".
"Jika itu menurutmu yang terbaik maka aku hanya bisa menurut saja Dhira, dan semoga saja dia bisa membantu dirimu".
"Tapi, aku takut terjadi sesuatu kepadanya kalau dia ikut campur dalam hal ini Nimas, dan aku tidak ingin dia terluka karena ini".
Nadhira merasa dalam dilema kali ini, ia tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahnya apalagi taruhannya adalah nyawa, para dukun itu bukanlah orang sembarangan sehingga akan dengan mudah untuk mencelakai dirinya maupun Rifki nantinya dan Nadhira tidak ingin itu terjadi.
Bagi Nadhira sendiri adalah cukup dirinya saja yang terluka, dan jangan sampai orang lain ikut terluka karenanya, ia merasa bimbang antara melibatkan Rifki dalam masalahnya atau tidak, karena kedua pilihan itu akan sangat membahayakan baginya ataupun Rifki nantinya.
Rifki sendiri tidak akan segan segan untuk memberikan nyawanya hanya untuk melindungi Nadhira, dan Nadhira tidak ingin itu terjadi karena dirinya tidak ingin kehilangan Rifki untuk selama lamanya, sejak mimpi buruk yang ia alami waktu itu membuat Nadhira sangat takut bahwa Rifki terluka.
Waktu terus berjalan hingga tak terasa bahwa kini tengah menunjukkan pukul 8 malam, dan tak lama lagi gerhana bulan merah berdarah itu akan segera terjadi dan kekuatan yang dimiliki oleh permata iblis perlahan lahan akan melemah begitupun dengan kekuatan yang dimiliki oleh Nimas.
__ADS_1
Nadhira semakin cemas memikirkan akan hal itu, ia merasa tidak tenang untuk malam ini, entah apa yang harus ia lakukan selanjutnya, dirinya sangat bingung untuk menentukan sebuah keputusan yang akan ia ambil selanjutnya.