
Terdengar suara percikan air didalam kamar mandi tersebut, tak beberapa lama kemudian Rifki keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian yang polos sambil mengusap usap rambutnya menggunakan handuk yang ada ditangannya.
"Dimana?"
"Apanya Rif?"
"Sisir kamu sama peralatan make up kamu sayang, aku mau merias wajahmu, bukankah sudah ku katakan tadi?"
"Emang kamu bisa?"
"Bisa dong, Rifki gitu loh, apa sih yang Rifki tidak bisa? Untuk Dhira mah semuanya bisa"
"Ada didalam laci sana"
Rifki pun berjalan menuju kelaci yang ditunjukkan oleh Nadhira, Rifki melihat begitu banyak peralatan make up disana akan tetapi dirinya sama sekali tidak paham soal itu dan akhirnya ia mengambil semuanya didalam genggamannya.
"Dhira, apa ini? Kenapa banyak banget? Emang cewek kalo mau make up itu banyak banget ya? Dan namanya apa aja?" Ucap Rifki sambil berjalan kearah Nadhira.
"Emang banyak Rif, tapi ngak dibawa kesini semuanya juga kali Rifki, hanya pelembab, bedak, lip blam saja kalo yang lainnya kembaliin ketempatnya semula"
"Idih pake nyuruh lagi, yang mana yang kau maksud itu? Aku ngak paham"
Nadhira pun menguap mendengar jawaban itu, bisa bisanya mau merias wajahnya akan tetapi dirinya sendiri saja tidak paham dengan peralatan make up untuk merias wajah.
"Eh kau sudah mengantuk?" Tanya Rifki ketika Nadhira menguap tiba tiba.
"Melihatmu seperti itu membuatku sangat mengantuk"
"Baru juga bangun udah mau tidur lagi, memang aku senyaman itu kan ya? Sampe sampe Nadhira yang tidak bisa tidur dengan nyenyak pun malah suka tidur"
"Sangat nyaman"
"Nanti aja tidurnya, aku mau main make up make up an dulu"
"Itu bukan mainan!"
"Yayaya, bukan mainan tapi separuh napasnya ciwi ciwi seperti dirimu, apa yang kau sebutkan tadi? Yang mana saja Dhira?"
"Ini, ini, ini, dan ini"
"Terus yang lainnya buat apa? Jika hanya benda sedikit itu buat meriasmu"
"Kembalikan aja ke laci seperti sebelumnya, jangan sampe rusak sedikitpun"
"Seberharga itukah benda benda ini, lalu bagaimana kalau aku membuangnya saja sekarang?"
"Kau yang akan ku buang ditong sampah terlebih dulu, ingat itu!"
"Ngeri amat"
Rifki segera berjalan kembali kearah laci untuk mengembalikan peralatan make up yang tidak dipakai dengan bergidik ngeri membayangkan ketika dirinya akan dibuang ditong sampah oleh Nadhira, sungguh Nadhira sangat menyayangi alat make upnya daripada dirinya.
Setelah meletakkannya kembali, Rifki segera bergegas menuju ketempat dimana Nadhira sedang duduk disebuah sofa sambil menatap Rifki dengan tajam Karena dirinya takut terjadi sesuatu dengan peralatan make upnya karena Rifki.
Rifki pun menyisir rambut Nadhira dengan pelan dan sesekali dirinya mencium aroma sampo milik Nadhira yang begitu wangi bagi dirinya itu, dengan perlahan lahan Rifki menyisir rambut Nadhira hingga membuat Nadhira tertawa sendiri.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?"
"Mukamu itu loh yang lucu banget deh, kayak mau praktek di laboratorium saja, serius amat dirimu buat nyisir rambutku".
"Loh harus, aku ngak mau kalo Nadhiraku kesakitan gara gara aku sisirin apalagi nanti rambutnya ada yang rontok, aku ngak mau itu sayang, biar diriku kelihatannya lembut gitu lo, sekalian praktek biologi mau? Biar nanti makin pro"
"Bukankah hal itu juga sangat menyakitkan bagiku? Lihatlah aku sekarang tidak bisa berjalan dengan baik gara gara dirimu"
"Bukankah lebih baik aku yang menusukmu, kau kan juga menikmatinya sayang, daripada tusukan sebuah pisau yang pernah kau terima"
"Sama saja, keduanya pun menyakitkan"
"Udah tau sakit masih saja suka menolong orang"
"Yang ku tolong dari pisau itu adalah dirimu sayang, bukan orang lain lagi"
"Sama saja, jangan lakukan hal itu lagi" Ucap Rifki sambil memonyongkan bibirnya.
"Kenapa kau jadi manja seperti ini sih Rif? Beda banget dari biasanya".
"Manjaku hanya padamu sayang, bukan yang lainnya"
Rifki pun mengikat rambut Nadhira bagaikan anak kecil yang dikuncir dua, Nadhira yang melihat itu dari cermin pun hanya bisa menepuk jidatnya dengan tangan kanannya dan melihat itu membuat Rifki memukul tangan Nadhira lalu mencium jidat yang sebelumnya ditepuk oleh Nadhira.
"Ih tangan nakal! Mau dihukum rupanya" Ucap Rifki sambil mempelototi tangan kanan Nadhira.
"Heiii ini tanganku" Nadhira lalu menarik tangan kanannya tersebut dan memasukkannya ke dekapan tangan kirinya.
"Udah tau, aku ngak nanya sayang, berani sekali lagi memukul kening istriku, akan ku hukum tangan itu"
__ADS_1
"Teserah maumu"
Kruyuk kruyuk
Seketika terdengar suara perut Nadhira berbunyi untuk meminta diisi, mendengar itu membuat Nadhira merasa malu kepada Rifki dan memegangi perutnya dengan kedua tangannya, dan hal itu seketika membuat Rifki tertawa.
"Kesayanganku lapar ternyata" Ucap Rifki sambil mengusap pelan perut Nadhira.
"Belum ada anakmu didalam" Gerutu Nadhira.
"Sebentar lagi kan ada, masih butuh proses sayang, aku akan berjuang lebih keras untuk itu, kalo bisa aku akan membikin ibunya tidak bisa jalan"
"Sayang laper" Ucap Nadhira dengan manjanya.
"Mau makan apa?" Tanya Rifki.
"Masakanmu, terserah apapun itu asalkan itu masakanmu bukan masakan Ibu Ira"
"Kamu ngak nyidam kan? Bisa bisanya langsung jadi bocil nih perut, hebatnya diriku"
"Ngak! Buruan gih masak, keburu mati kelaparan diriku, pengen makan aja masakanmu, sudah bertahun tahun tidak merasakan makanan buatanmu itu, aku sangat rindu"
"Baiklah jika itu keinginan Tuan Puteri saya akan laksanakan, tunggu 20 menit ya mau siapkan dulu"
"Ikut!"
"Hem? Yakin bisa jalan sampe kebawah sana?"
"Gendong lah, lelakiku kan kuat"
"Manja banget astaghfirullah, untung sayang kalo ngak udah aku tinggal dikolong jembatan"
"Aw... Sakit Dhira" Keluh Rifki ketika mendapat cubitan dari Nadhira.
Setelah melontarkan ucapan tersebut Nadhira langsung mencubit kasar lengan Rifki hingga membuat Rifki menyengir kesakitan, melihat Rifki yang berteriak kesakitan membuat Nadhira segera mengusap lengan panjang yang habis dicubit itu.
"Kau telah melakukan KDRT denganku Dhira, tega banget" Ucap Rifki sambil melangkip lengan bajunya dan memperlihatkan lengan putih yang terdapat bekas kemerahan dari cubitan Nadhira.
"Maaf sayang, habisnya gemes sih pengen ku tampol aja tuh muka"
"Kenapa ngak sekalian aja ditendang terus dibanting? Kan mayan sakitnya daripada hanya ditampol doang"
"Pengennya gitu tapi akunya ngak kuat"
"Bagaimana kalo kamu saja yang aku banting dikasur? Kan enak sambil main"
"Ya sudah sini aku gendong, pegangan yang erat"
Rifki pun segera bergegas mengangkat tubuh Nadhira kedalam gendongannya sementara Nadhira langsung mengalungkan tangannya keleher Rifki dengan penuh kemanjaan.
Rifki lalu membawa Nadhira keluar dari kamar tersebut didalam gendongannya, Nadhira segera meraih gagang pintu seraya untuk membukakan pintu tersebut akan tetapi keduanya begitu terkejut ketika Bayu dan anggota Gengcobra sudah berada didepan ruang kamar Nadhira.
"Kalian ngapain disini?" Tanya Rifki.
"Nadhira kenapa Rif? Kenapa digendong seperti itu? Apa dia sakit?" Tanya Bayu balik.
"Kenapa? Kepo banget sih" Celetuk Nadhira.
"Kami hanya khawatir Dhira"
"Ngak perlu, lagian aku juga bersama dengan Rifki apalagi dirumahku sendiri bukan dirumah sakit"
"Kalian bisa pergi sekarang, atau Tuan Puteri ku ini akan marah" Ucap Rifki.
"Huss huss" Ucap Nadhira mengusir Bayu dan yang lainnya itu.
Bayu yang menyaksikan keduanya itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, ia pun segera bergegas minggir untuk membiarkan Rifki yang telah menggendong Nadhira untuk pergi, dan melihat itu membuat Rifki segera bergegas untuk pergi menuruni tangga yang berada tidak jauh darinya.
"Apakah orang yang telah menikah tingkahnya seperti itu Tuan Bayu?" Tanya salah satu orang yang sedang bersama dengan Bayu.
"Entahlah, aku belom nikah juga, tanya aja tuh sama mereka, kenapa harus tanya keaku?"
"Coba deh Tuan Bayu nikah dulu, nanti kalo sudah tau kasih tau kami dong"
"Dasar bocah semprul! Enak aja kalo ngomong, mau ku tabok pake pesawat ha?" Umpat Bayu yang begitu kesal.
"Ampun Tuan Bayu tolong jangan lakukan itu, tapi kalo di tampol pake uang saya mau"
"Dasar mata duitan"
Kembali lagi ke drama Nadhira dan Rifki, Rifki membawa Nadhira untuk menuruni tangga tersebut dengan perlahan lahan, hingga sampailah mereka disebuah meja makan yang dekat dengan dapur.
Dengan perlahan lahan Rifki menurunkan Nadhira kesebuah kursi yang menghadap kearah dapur tersebut, setelahnya Rifki segera bergegas menuju ke kemari es yang tidak jauh dari tempat Nadhira untuk mengambil sesuatu, dan tiba tiba keduanya didatangi oleh Nandhita dan Stevan yang ikut duduk dimeja makan dekat Nadhira.
"Tumben baru bangun Dek?" Tanya Nadhira.
__ADS_1
"Noh penyebabnya" Nadhira menunjuk kearah Rifki yang sedang menakai celemek untuk memulai masak.
"Cieee pasangan baru nih ye, habis berapa ronde semalam?" Canda Stevan kepada Rifki.
Mendengar pertanyaan itu membuat Rifki menoleh kearah Stevan yang duduk disebelah Nandhita, mendengar pertanyaan itu membuat Rifki hanya menyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Nadhira yang mendengarnya saja seketika kedua pipinya memerah.
"Oh dah berpuluh puluh lah Kakak ipar" Jawab Rifki.
"Wih keren haha..." Stevan tertawa mendengar itu.
"Mau masak apa Rif?" Tanya Nandhita.
"Masak apa aja Kak Dhita, entah bayi besar ini minta dibuatin apa"
"Sekalian ya buat kita juga"
"Enak aja, aku buat khusus buat wanitaku tau, Kakak ipar minta saja tuh sama suami Kakak"
"Heiii... Yok lah kita lomba masak!" Tantang Stevan.
"Ayok siapa takut" Ucap Rifki dengan sombongnya.
Rifki melempar sebuah celemek yang lainnya kearah Stevan dan langsung ditangkap oleh Stevan, kedua lelaki tersebut segera mengambil peralatan masak mereka masing masing, sementara Nadhira dan Nandhita hanya menahan tawa ketika melihat tingkah laku keduanya itu.
Bi Ira dan Bi Sari yang mendengar keributan tersebut langsung bergegas untuk menuju kedapur, dirinya sejak tadi memasakkan tamu tamu yang datang didepan hingga tidak menyadari bahwa kedua menantu dirumah itu beradu memasak.
"Bu!" Panggil Nadhira.
"Ada apa ini? Kenapa ribut ribut?" Tanya Bi Ira.
"Biarin saja mereka, mending Ibu dan Bi Sari duduk disini saja sama kita berdua"
Bi Ira dan Bi Sari segera mendekat kearah keduanya, keduanya pun langsung duduk didekat Nadhira dan juga Nandhita untuk menyaksikan adegan lomba memasak tiba tiba tersebut.
Disatu sisi Rifki tengah memotong beberapa sayuran yang tadi ia pilih untuk membuat makanan, entah makanan seperti apa yang sedang ia buat tersebut, sementara Stevan sedang sibuk untuk memotong daging ayam dan memasukkannya ke blender.
"Eh Kakak mau buat apa?" Tanya Rifki yang menyaksikan apa yang dilakukan oleh Stevan.
"Kepo aja nih bocah" Jawab Stevan.
"Idih kayak saingan beneran aja"
"Eh disini dirimu itu musuhku, jadi sesama musuh ngak boleh saling tau"
"Iya ya baiklah, aku mau buatkan makanan yang paling spesial buat istri tercinta, makanan spesial ala chef Rifki"
"Sejak kapan kau jadi chef?"
"Dari kecil juga aku hobi memasak, ya aku juluki sendirilah kalo diriku itu adalah seorang chef"
"Idih, memuji diri sendiri itu ngak baik loh, emang makanan apa an?"
"Kepo!" Jawab Rifki dengan menyeringai penuh dengan kemenangan.
Stevan mengepalkan tangannya gemes kepada Rifki karena pertanyaan dijawab begitu saja oleh Rifki, melihat itu membuat Rifki hanya bisa cengengesan untuk menanggapi kegemesan dari Kakak iparnya itu.
Tidak ada kata kata lagi yang keluar dari mulut keduanya karena sedang fokus pada masakan mereka masing masing, Rifki tengah fokus untuk memotong beberapa sayuran yang akan ia masak saat ini sementara Stevan sibuk mencuci daging ayam hingga bersih.
Kedua lelaki itu kini tengah sibuk untuk membuat makanan entah makanan seperti apa yang keduanya masak itu, Rifki yang sudah terbiasa dengan memasak itu pun tanpa kesulitan sama sekali untuk memasak sesuatu, sementara Stevan yang baru beberapa kali kedapur pun terus mencoba mengingat ingat resep makanan yang pernah ia baca sebelumnya.
"Jangan kebanyakan bengong Kak, kalo seperti itu makanannya ngak akan jadi jadi" Tegur Rifki ketika melihat Stevan mencoba mengingat ingat resep masakan yang akan ia buat.
"Resek banget sih lo" Timpal Stevan.
"Mau aku bantu? Kali aja Kakak ipar tidak bisa membedakan mana garam dan mana gula"
"Meskipun aku tidak bisa masak tapi aku masih bisa membedakan hal itu kali, kita ini musuh sekarang jadi jangan banyak bicara"
"Iya ya, kita musuh disini, tapi aku tidak suka bermusuhan dalam memasak, aku sukanya bermusuhan dalam bertarung"
"Bagaimana kalo bergulat diranjang?"
"Nah itu masalahnya, bagaimana mungkin aku menyebut Nadhiraku sebagai musuhku"
Stevan hanya menanggapi ucapan Adek iparnya yang tidak bisa berhenti berbicara tersebut hanya dengan gelakan tawa, bagi Stevan sendiri Rifki adalah sosok lelaki yang begitu hangat dan memiliki sejuta cara untuk membuat Nadhira bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai kak, kali aja tertarik dengan judul yang ini, silahkan mampir juga ya, heppy reading
Blurb
Aliando Ivander sang idola sekolah. Dia mencintai murid baru yang ada di sekolahnya. Tepat di hari pertama gadis itu sekolah, dia langsung menyatakan perasaannya.
"Aku tidak minta persetujuanmu dan aku tidak menerima penolakan!" Itu kalimat andalannya.
__ADS_1
Alisha Leandra gadis cantik murid pindahan dengan terpaksa harus menjalin hubungan dengan Aliando. Bagaimana dia menghadapi fans gilanya Aliando? Bagaimana akhirnya dia bisa menerima Aliando? dan apakah misteri kehidupan Alisha bisa diterima oleh Aliando? Karena ternyata Aliando bukan satu-satunya pria dalam hidupnya.