
Nadhira memandangi wajah Rifki yang tertidur dengan terlihat sangat pulas itu, setetes air mata pun jatuh dari pelupuk matanya. Nadhira menguap pelan kepala Rifki dengan penuh kasih sayang, wajah yang terlihat sangat kelelahan itu membuatnya menitihkan air matanya.
"Kau begitu berarti bagiku, Rif. Hanya dirimu dan anak kita yang aku punya saat ini, hanya kalian berdua saja. Papa, Mama, Kak Dhita, Oma, semuanya telah pergi meninggalkan diriku, Rif. Hanya kalianlah semangatku untuk terus hidup didunia ini, bagaimana aku bisa membahayakan kalian?"
Wajah Nadhira sama sekali tidak teralihkan kepada Rifki, ingin sekali rasanya dirinya kembali seperti dahulu dan berbahagia bersama dengan orang yang paling dicintainya itu. Akan tetapi, takdir belumlah membuka jalan untuk mereka kembali bersama karena masih ada musuh yang terus mengincarnya.
Nadhira pun memegangi ujung bibir Rifki yang masih terlihat membiru itu, ada sebuah rasa sakit yang masih membekas disana. Kedua matanya terus berkaca kaca, ia tidak tega melihat Rifki seperti ini bahkan dirinya tidak akan mampu melihat darah lelaki itu menetes sedikit pun itu.
"Setelah aku menyelesaikan semuanya, dan mengungkap kebusukan wanita itu, kita akan kembali bersama sama seperti dulu, Rif. Untuk saat ini, jangan lakukan tindakan seperti ini lagi ya? Hatiku rasanya sangat sakit melihatmu seperti ini, Sayang. Bertahanlah dan jaga dirimu baik baik, aku sayang kamu."
*****
4 Tahun kemudian....
Sena telah bebas dari dalam penjara. Kali ini Ana tengah termenung dihalaman rumah besar itu, dirinya tau bahwa saat ini adalah hari dimana Mama tirinya itu bebas setelah menjalani hukumam kurung beberapa tahun akibat percobaan pembunuhan terharap Rendi.
Hanya Lia satu satunya kunci kebenaran dibalik rahasia yang ada dimasa lalu, hanya Lia yang tau kejadian pembunuhan terhadap Aji yang telah dilakukan oleh Sena. Oleh karena itu, Sena berusaha untuk menyingkirkan Lia, akan tetapi sebuah ramalan mengatakan bahwa akhir dari kehidupan Sena ada digenggaman tangan Nadhira.
"Bi Ana kenapa?" Tanya seseorang yang tiba tiba muncul didekatnya hingga membuat Ana sangat terkejut.
"Ih... Pak Santo ngagetin aja, kurang kerjaan banget sih, Pak. Bisa nggak sih kalau datang jangan pake ngagetin seperti itu lain kali," Omel Ana kepada Pak Santo.
"Haduh Mbak Ana, lagian kamu sendiri ngapain ngelamun disini mulu? Nanti kesambet baru tau rasa loh,"
"Yang ada akunya yang jantung karena anda, Pak. Gimana kalo sampe aku mati karena serangan jantung? Emang Bapak mau tanggung jawab?"
"Jangan galak galak seperti itu atuh, Mbak Ana. Kalo mati dikerjaan nanti minta dibuatkan asuransi kematian ke Tuan Muda, Mbak. Jadi jangan khawatir,"
"Ngawur aja kalo ngomong!"
Pandangan Ana pun kembali menerowong kedepan seperti tatapan kosong, dirinya masih memikirkan tentang kebebasan dari Sena. Tidak tau lagi apa yang harus dirinya lakukan, bahkan sampai detik ini sama sekali tidak ada kabar tentang Sapta yang tengah mencari Lia.
Sapta bahkan tidak pernah menghubungi Ana sejak keduanya bertemu didalam goa waktu itu, Ana berharap bahwa lelaki itu tidak akan berbohong kepadanya, dan akan membawa Lia untuk kembali bersamanya nantinya. Akan tetapi, keyakinan itu perlahan lahan dibuat ragu, karena sampai detik ini tidak ada kabar apapun dari Sapta.
"Jikalau diriku tidak ada kabar, jangan pernah menceriku lagi, Dhira. Dan mungkin saat itu diriku sudah dibunuh oleh anak buah dari Mama tirimu itu, kau hanya perlu mendoakan diriku, agar diriku bisa membawa Tante Lia pulang kembali," Kata kata itulah yang terus terngiang ngiang ditelinganya.
"Yah kok bengong lagi sih, Mbak?"
"Mungkinkah dia sudah tiada," Guman Ana pelan, hingga yang terlihat hanyalah gerakan mulutnya tanpa adanya suara yang ikut serta keluar dari dalam mulutnya itu.
"Mbak Ana ngomong apa?" Tanya Pak Santo yang mengetahui gerakan bibir Ana.
Ana yang sedang diajak berbicara pun masih terbengong, seakan akan begitu banyak beban yang sedang ia pikirkan saat ini, bahkan ketika Pak Santo mengajaknya berbicara pun sama sekali tidak dihiraukan olehnya. Merasa diabaikan oleh Ana, Pak Santo pun melambai lambaikan tangannya didepan mata Ana.
"Astaghfirullah, Mbak Ana. Kok bengong lagi sih, Mbak?" Ucap Pak Santo dengan nada yang keras hingga membuat Ana terkejut.
"Ih... Pak Santo kebiasaan deh, ada apa sih, Pak?" Tanya Ana sambil mengangkat kedua tangannya untuk menutupi kedua telinganya.
"Mbak, ini masih pagi loh, kenapa sudah bengong mulu kayak begini? Emang kagak takut kalau kesambet nanti?"
"Bengong? Apa aku dari tadi bengong, Pak?"
__ADS_1
"Dipanggilin dari tadi kagak nyahut sama sekali, emang mikirin apa sih, Mbak?"
"Sebenernya aku kepikiran sama anak dan suamiku, Pak. Kenapa ya rumah tanggaku jadi seperti ini setelah kami menikah? Seandainya waktu bisa diulang, ah rasanya itu hanyalah sia sia kan. Mana mungkin manusia mampu mengulang waktu seperti dulu,"
Pak Santo pun langsung duduk didekat Ana, pandangannya pun langsung menerawang jauh kesana. Entah apa yang dipikirkan oleh Pak Santo saat ini, seakan akan ada luka yang tersembunyi yang sedang dirinya pikirkan.
"Iya ya, kenapa semuanya jadi begini ya?" Ucap Pak Santo setelah terdiam cukup lama.
"Emang apa yang sedang Pak Santo pikirkan?" Tanya Ana dengan antusias karena rasa penasarannya.
"Aku dan istriku sangat berhutang budi dengan Non Dhira, kita hanya orang asing tapi dia memperlakukan kita seperti keluarga sendiri bahkan aku dan istriku diberi rumah olehnya. Tapi kenapa dia melupakan kita disini," Curhat Pak Santo tiba tiba karena teringat dengan Nadhira.
"Emang Non Dhira pergi kemana, Pak? Ada yang tau kepergiannya?"
"Entahlah kemana dirinya pergi, Mbak. Sudah 15 tahun dia pergi meninggalkan rumah ini, dan selama itu Tuan Muda tersiksa dengan kerinduan. Dia orang baik, semenjak dirinya pergi saat itu juga keceriaan didalam rumah ini hilang.
Mbak Ana tau sendiri kan? Mana ada canda tawa dirumah ini selain dari Nona Keysa, itu pun hanya dirinya seorang tanpa ditanggapi oleh Tuan Muda. Aku sudah bertahun tahun kerja disini, tapi 15 tahun belakangan ini, rumah ini terasa sunyi dan sepi, tidak seperti saat awal pertama kali Non Dhira datang kerumah ini. Jika dibilang rindu, memang kami sangat rindu dengan dia,"
"Bukannya dirinya juga sudah jatuh kejurang ya, Pak? Bapak sendiri kan pernah cerita waktu itu kepadaku,"
"Memang dia jatuh ke jurang demi menyelamatkan suaminya, tapi kami masih merasa yakin bahwa dia memang masih hidup. Tuan Muda sendiri juga merasa yakin bahwa Non Dhira sudah melahirkan seorang anak perempuan,"
"Sayang sekali ya, Pak. Pasti ada alasan tersendiri kenapa dirinya tidak mau kembali,"
"Mungkin bisa jadi. Eh kenapa jadi bahas Non Dhira?" Tanya Pak Santo sambil menguap kedua matanya yang sedikit berair ketika mengingat tentang sosok Nadhira. "Tadi Mbak Ana mau cerita apa? Emang suami Mbak nggak mau pulang lagi, ya?"
"Bukannya nggak mau pulang, Pak Santo. Tapi dia terjerat disebuah negara yang jauh disana, dirinya tidak punya ongkos pulang sekaligus masa kontraknya belum selesai."
"Masa kontraknya sampai 15 tahun, Mbak? Lama banget,"
"Yang sabar aja, Mbak. Pasti akan ada saatnya kalian bersama lagi,"
"Aamiin."
Ana pun kembali melamun, terlalu banyak beban yang tengah dirinya pikirkan saat ini. Ia mendapatkan kabar bahwa Sena telah keluar dari dalam penjara, dan dirinya tidak mengetahui keberadaannya saat ini. Ana mengetahui bahwa Sena telah keluar ketika dirinya datang kekantor polisi, dia ingin mengetahui hal itu akan tetapi semenjak itu pikirannya menjadi berantakan.
Beberapa tahun ini dirinya merasa aman karena wanita itu masih mendekam dipenjara, akan tetapi sekarang nampaknya dirinya merasa gelisah sekaligus khawatir dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
"Lama lama kesambet nih orang, ngeri juga sih," Ucap Pak Santo sambil merasa merinding ketika melihat Ana yang kembali melamun.
Pak Santo pun perlahan lahan menjauh dari Ana, tiba tiba dirinya kerasa merinding didekat Ana karena takut jika Ana akan kesurupan nantinya. Ana pun menatap sekilas kepergian dari Pak Santo, melihat itu dirinya hanya menghela nafas dengan kasarnya.
"Seandainya ada Nimas disini, jadi diriku tidak se khawatir ini saat ini," Mendadak ingatan mengenai Nimas pun muncul didalam ingatannya, Nimas adalah ratu iblis yang pernah mengikutinya kemanapun dirinya pergi.
Ketika kejadian waktu itu, Nimas meleburkan jiwanya hingga lenyap hanya untuk menyelamatkannya, sehingga tidak ada lagi Nimas dialam ini. Ketika membayangkan waktu sebelumnys, tiba tiba Ana melihat seseorang yang melintas didepan gerbang rumah tersebut.
Melihat itu langsung membuatnya bangkit dari duduknya, dirinya pun langsung bergegas untuk menuju ke gerbang rumah tersebut, dan Pak Santo yang melihatnya pun langsung terkejut dan menyusulnya menuju ke luar gerbang.
"Ada apa, Mbak?" Tanya Pak Santo yang kebingungan.
"Tadi aku melihat seseorang yang lewat sini, Pak. Tapi kenapa nggak ada?" Tanyanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri jalanan yang ada didepan rumah besar itu.
__ADS_1
"Mungkin hanya orang lewat kali, Mbak. Ini kan jalanan umum dan siapapun boleh lewat kesini. Jadi mana mungkin terlihat aneh bukan?"
"Iya juga sih, Pak. Tapi wajahnya seperti tidak asing bagiku, mangkanya langsung aku datangi kemari,"
"Mungkin hanya firasat Mbak Ana kali,"
"Ya sudah, Pak. Aku kembali masuk saja, pusing denger suara Pak Santo yang melengking,"
"Dih..."
Ana pun langsung kembali masuk kedalam halaman rumah itu, dan dikejauhan terlihat orang yang tadinya melintas didepan rumah tersebut, nampak orang itu seperti tengah mencari angkutan umum. Akan tetapi, orang itu tak kunjung mendapatkan angkutan umum yang melintas disana, seakan akan hanya ada sepeda motor dan mobil pribadi saja yang melintas.
"Gawat, aku harus kerumah sakit sekarang. Ibu sedang drop lagi, Ya Allah jangan ambil Ibu dulu sebelum aku menemukan jati diriku, dan aku juga belum membahagiakan dia disisa umurnya ini. Semoga semuanya baik baik saja," Ucap orang itu panik.
Orang tersebut pun langsung menghilang dari tempat itu, dan dirinya berlari dengan sekuat tenaganya untuk bisa segera sampai dirumah sakit yang dia tuju. Disatu sisi, Ana kembali duduk ditempatnya duduk sebelumnya, dirinya pun mengingat ingat tentang wajah orang yang lewat didepan rumah tersebut.
"Sepertinya aku kenal dengan orang itu, wajahnya juga sama sekali tidak asing."
*Flash back on*
Disebuah taman bunga yang sedang bermekaran, sosok anak kecil dan juga wanita dewasa sedang duduk saling berhadapan diatas tikar. keduanya saling mengutas sebuah senyuman diwajah mereka, nampak seperti tidak ada beban yang ada didalam hidup mereka.
"Mama, kalau besar nanti, aku akan membawa Mama jalan jalan keseluruh dunia. Kita akan menikmati pemandangan yang indah bersama sama, Mama selalu ada untukku kan?" Tanya gadis kecil tersebut.
"Dhira mau bawa Mama kemana?" Tanya wanita itu.
"Ke dunia yang dimana Mama akan bahagia, dunia yang sangat luas. Dhira janji akan membuat Mama bahagia, kalau aku sudah sukses nanti,"
"Melihat Dhira yang tersenyum seperti ini saja sudah membuat Mama bahagia, Nak. Kamu kesayangan Mama, senyumnya jangan pernah luntur,"
"Iya Ma, Dhira nggak akan nangis lagi kok, kan ada Mama yang selalu jagain Dhira selama ini. Dhira sayang sekali sama Mama,"
"Kamu adalah semangat Mama, Nak. Mama jauh lebih sayang kepada Dhira,"
Gadis kecil yang dipanggil Dhira pun langsung menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan Mamanya, ada kehangatan cinta yang dirinya rasakan saat ini, rasa yang akan menjadi hal paling dirindukan selamanya.
*Flash back off*
Seketika air matanya jatuh ketika ingatan itu melintas didalam pikirannya, dimana dirinya sedang piknik berdua dengan Lia waktu dahulu. Dirinya sangat merindukan Lia, merindukan akan kehangatan cinta dan kasih sayangnya kepada Nadhira waktu kecil.
"Ma, apakah tadi itu Mama?"
Ingatan masalalunya bersama dengan Lia pun terus berputar didalam kepalanya, bahkan sekilas ingatan orang itu lewat didepan rumah tersebut pun ikut serta terbayang didalam ingatannya itu. Wajah wanita yang sebelumnya dirinya lihat, wajah itu nampak begitu mirip dengan Lia. Akan tetapi, ketika dirinya mencari kemana perginya orang itu, dia tidak menemukan sama sekali seseorang yang ia cari tersebut.
"Aku harus cari Mama secepat mungkin, aku tidak mau Sena lebih dulu menemukan Mama. Aku takut Mama kenapa kenapa karena ulah Sena, aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi. Jika benar orang itu adalah Mama, berarti Mama ada disekitarku selama ini, aku harus membawanya pulang!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hallo besti... gimana kabarnya? Insya Allah baik ya. Aamiin
Dunia real live Author sedang tidak baik baik saja, tapi tenang saja Author tidak akan menggantung novel ini kok, kalo Author berani menggantung artinya Author udah ngak ada didunia 😁 eh bukan niat bundir yak, tapi kisah hidup Author sangat sangat rumit dan memang suka bermain main dengan nyawa sendiri.
__ADS_1
Maaf sebelumnya karena langsung skip tahunnya, karena pikiran ini sudah down banget untuk mikir dan ditambah lagi banyak pikiran yang harus Author pikirkan.
Jadi harap dimaklumi apa adanya bukan ada apanya, hehe... Mohon maaf atas keterlambatan updatenya readers 🙏 Author akan berusaha semaksimal mungkin untuk update bab bab selanjutnya, tetap setia dengan Author ya, jangan lupa dukungan dan suport nya... Dukungan kalian begitu berarti buat Author agar terus semangat berkarya... Jangan lupa mampir juga di novel Author yang judulnya "Pelatihku" see you next time ♥️ Author tunggu kehadirannya