
Rifki tengah membaca sebuah buku dihalaman rumahnya kali ini, dirinya begitu serius dimalam hari itu, entah apa yang membuatnya seserius itu, akan tetapi tiba tiba seorang laki laki menghampirinya begitu saja hingga membuatnya terkejut.
"Kau harus secepatnya pergi dari sini Nak dan selamatkan orang yang kau cintai itu, karena sebentar lagi gerhana bulan merah darah akan terjadi, dan disaat itu kekuatan dari permata iblis akan melemah" Ucap lelaki itu yang tidak lain adalah Haris, Papa kandung Rifki.
"Maksud Papa apa? Apakah nyawa Nadhira dalam bahaya saat ini?" Tanya Rifki terkejut.
"Kau adalah pemilik keris pusaka xingsi Nak, hanya kau yang bisa menolongnya dari kejaran orang orang jahat yang menginginkan permata iblis itu, jangan sampai mereka mendapatkan permata itu atau tidak mereka akan menjadi bahaya bagi semua orang".
"Apa yang Papa bicarakan?".
"Beberapa tahun yang lalu, disaat gerhana bulan merah darah terjadi, mereka sempat menyerang rumah Nadhira dan berniat untuk menculiknya, untung saat itu Papa cepat datang untuk menyelamatkannya kalau terlambat mungkin dia akan kehilangan nyawanya karena permata yang diambil secara paksa dari dalam tubuhnya".
"Kenapa Papa baru mengatakan hal ini sekarang kepada Rifki, bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada Nadhira saat ini".
"Cepatlah pergi Rifki, selamatkan dirinya dan jangan sampai permata itu jatuh kepada orang yang salah".
"Baiklah Pa, aku akan segera pergi kerumah Nadhira untuk menemuinya sekarang".
Rifki segera menaruh bukunya diatas meja yang ada digazebo rumahnya, dirinya segera bergegas pergi dari rumahnya untuk menemui Nadhira, dirinya tidak membawa anak buahnya karena Rifki pergi menggunakan sepedah motor miliknya dan langsung memecah kesunyian malam ini.
Rifki tidak ingin terjadi sesuatu kepada Nadhira sehingga dirinya mempercepat laju sepeda motornya agar segera sampai dirumah Nadhira, ia tidak ingin terlambat untuk dapat menyelamatkan nyawa Nadhira kali ini.
Tak beberapa lama kemudian akhirnya Rifki sampai dirumah Nadhira, ia merasakan adanya energi gaib yang sangat mencengkeramnya, dirinya tidak mempedulikan hal itu dan langsung membuka gerbang utaman rumah itu.
Entah kenapa rumah itu terlihat begitu sepi, ia melihat kearah pos yang tidak jauh dari gerbang utama, ia melihat bahwa ada dua orang laki laki yang tengah tergeletak dilantainya dan dirinya segera mendekat kearah keduanya itu untuk memeriksanya.
"Apa! Bagaimana bisa Pak Mun dan Pak Santo terkena obat tidur seperti ini".
Rifki terkejut ketika merasakan pernafasan keduanya baik baik saja akan tetapi keduanya sangat sulit untuk dibangunkan olehnya, meskipun beberapa kali ia menggoyangkan tubuh keduanya akan tetapi keduanya tak kunjung sadarkan diri, dan Rifki menebak bahwa keduanya terkena obat tidur.
"Aku harus memeriksa keadaan Nadhira"
*****
Waktu semakin lama semakin mendekati pukul 9 malam, perasaan Nadhira kini bercampur aduk entah dirinya bingung harus berbuat apa, dirinya pun segera menghubungi Rifki dan berharap bahwa Rifki akan datang dan membantunya.
Setelah beberapa menit dirinya mengubungi Rifki akan tetapi Rifki sama sekali tidak menerima panggilan itu, nomornya pun susah untuk dihubungi hingga membuat Nadhira semakin cemas dengan apa yang terjadi kepada Rifki kali ini, tidak biasanya dia akan seperti itu.
"Bagaimana Dhira? Apakah Rifki mau datang kemari?".
"Dia sama sekali tidak bisa dihubungi Nimas, aku semakin khawatir dengan dirinya, tidak biasanya dia akan sulit dihubungi seperti ini" Ucap Nadhira sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Nadhira begitu cemas ketika sebentar lagi gerhana bulan merah berdarah akan terjadi akan tetapi dirinya jauh lebih cemas ketika nomer hp Rifki tidak mampu untuk dihubungi seperti sekarang ini.
Tok tok tok
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamar Nadhira, Nadhira segera bangkit dari duduknya untuk melihat siapa yang tengah mengetuk pintu tersebut, dirinya segera membukanya dan ia terkejut ketika Sarah sudah berdiri didepannya.
"Ada apa Oma?" Tanya Nadhira.
"Didepan ada Rifki Nak" Ucap Sarah.
"Rifki? Baik Oma, Dhira akan segera menemuinya".
Nadhira segera menutup pintu kamarnya tersebut dan langsung bergegas untuk menemui Rifki, Rifki yang melihat kedatangan Nadhira segera bangkit dari duduknya, sementara Nadhira segera berlari kearahnya dan memeluknya dengan sangat erat.
"Kenapa kamu menangis Dhira? Ada apa?" Tanya Rifki ketika mendengar isak tangis lirih.
Nadhira merasa bahagia ketika dirinya mendapati bahwa Rifki tengah baik baik saja sekarang, Rifki segera mengusap punggung dan kepala Nadhira dengan pelan berharap bahwa Nadhira akan merasa lebih tenang daripada sebelumnya.
Nadhira melepaskan pelukannya itu dan menatap kearah wajah Rifki dengan linangan air matanya, melihat itu membuat Rifki segera mengapus air mata yang hendak menetes itu sambil tersenyum tipis kearah Nadhira.
"Jangan menangis, ada apa?" Ucap Rifki.
__ADS_1
"Aku takut kamu kenapa kenapa Rif, aku mencoba untuk menghubungimu tapi kau sama sekali tidak mengangkat telpon dariku, aku sangat cemas dengan dirimu Rif" Ucap Nadhira.
"Maafkan aku Dhira hpku pecah tadi, dan tidak bisa dinyalakan, sudah jangan menangis lagi ya, aku baik baik saja kok, bukankah kau sudah bertemu denganku? Lalu kenapa kau masih menangis?".
"Kenapa bisa pecah sih? Aku sangat cemas dengan dirimu Rifki, aku takut kau kenapa kenapa" Ucapnya sambil memukul dada Rifki.
"Gimana lagi Dhira, orang hpnya yang mau salto sendiri, ya sudah aku biarkan saja daripada aku mementingkan hpnya tapi nyawaku taruhannya, kan lebih baik hpnya saja yang hancur".
"Bisa ngak sih jangan bercanda disaat seperti ini" Ucap Nadhira sambil memukul pelan dada Rifki.
"Aku ngak bercanda Dhira".
Rifki segera mengeluarkan hpnya dari dalam sakunya bajunya dan langsung menunjukkan kepada Nadhira bahwa hpnya kini tengah hancur, layarnya telah pecah, dan bahkan sudah tidak bisa lagi untuk dinyalakan sehingga tidak mampu untuk mengangkat telepon dari Nadhira.
"Kenapa bisa begini?" Nadhira pun mengambil hp yang ada ditangan Rifki itu.
"Dia salto dari sakuku Dhira dan tidak sengaja langsung dilindas oleh mobil yang sedang melanju dengan cepatnya".
"Ya ampun Rif, tapi kamu ngak apa apa kan?".
"Apa yang bisa terjadi denganku sih Dhira"
"Aku takut kamu kenapa kenapa Rif, aku tidak bisa melihatmu terluka".
"Yang terpenting adalah dirimu Dhira, sebentar lagi kekuatan permata iblis itu akan melemah dan mereka telah mengepung rumahmu saat ini Dhira, aku tidak mau kehilangan dirimu, apapun akan aku lakukan agar dirimu bisa selamat, termasuk dengan mengorbankan hidupku sendiri Dhira".
"Jangan katakan itu Rif, jika akhirnya kita akan mati nantinya, biarkan aku lebih dulu pergi dari dunia ini, aku tidak ingin berpisah darimu walaupun hanya sehari saja".
Rifki mengatakan bahwa sebelum dirinya sampai dirumah Nadhira malam ini, ia melihat beberapa orang tengah bersembunyi dibalik rimbunnya semak-semak yang ada didepan rumah Nadhira, mereka tengah bersiap siap untuk menangkap Nadhira ketika gerhana bulan merah terjadi.
Mendengar itu membuat Sarah yang sedang mendengarkan mereka dengan diam diam merasa terkejut karena dirinya bahkan tidak menyadari bahwa malam ini adalah malam gerhana bulan merah kalau bukan dari pembicaraan keduanya.
Sarah segera mendatangi keduanya, ia tidak menyangka bahwa pemuda tersebut mengetahui tentang sebuah permata iblis, karena hanya orang yang hebat yang mampu merasakan aura permata itu yang begitu samar.
"Apa yang kalian bicarakan" Ucap Sarah.
Keduanya merasa terkejut karena tiba tiba Sarah mendatangi keduanya dengan wajah yang begitu sangat paniknya, dan hal itu juga membuat keduanya merasa semakin panik.
"Siapa dirimu sebenarnya? Kenapa kau mengetahui soal permata itu?" Tanya Sarah kepada Rifki
"Apa yang Oma katakan?" Tanya Nadhira dengan kebingungan mengenai pertanyaan yang diberikan oleh Sarah kepada Rifki.
Sarah merasa bahwa Rifki bukanlah pemuda biasa, dirinya pun menyentuh pundak Rifki, sementara Rifki kebingungan harus menjawab pertanyaan itu seperti apa, apakah dia harus mengatakan jati dirinya kepada Sarah akan tetapi dirinya tidak akan mampu untuk mengatakan hal itu.
"Dhira sebenarnya Oma sudah mengetahui sejak awal mengenai permata iblis itu, bahkan sebelum Oma melahirkan Lia".
Nadhira begitu terkejut mendengarnya, itu artinya Sarah sudah mengetahui tentang permata iblis itu sebelumnya, akan tetapi kenapa dia tidak pernah mengatakan hal itu kepada Nadhira selama ini, Rifki pun tidak kalah terkejutnya dengan hal itu, bagaimana mungkin Sarah dapat mengetahui permata itu.
"Apa hubungannya orang ini dengan permata iblis, kenapa dia bisa mengetahui bahwa permata iblis itu kini berada didalam tubuh Nadhira" Nimas pun ikut terkejut mendengarnya.
Rifki mencoba untuk merasakan energi yang dikeluarkan oleh Sarah akan tetapi dirinya tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan energi permata atau sebagainya, Sarah adalah manusia biasa yang tidak sama seperti dirinya sehingga Rifki tidak bisa merasakan energi lain dari tubuh Sarah.
"Jadi Oma sudah mengetahuinya?".
"Iya Nak, ini adalah hal yang paling Oma takutkan untuk terjadi, ternyata bukan Lia yang memiliki permata itu, tapi justru dirimu Nak, pernah diramalkan bahwa seseorang dari keturunan keluarga kita bahwa akan ada seorang anak perempuan yang lahir dan dia akan memiliki permata itu".
"Jadi ramalan itu benar Oma?" Tanya Rifki yang membuka matanya lebar lebar.
"Apa kau sangat menyayangi Dhira?" Tanya Sarah kepada Rifki.
"Iya Oma, aku tidak akan pernah membiarkan Nadhira dalam bahaya"
"Kalau begitu cepat bawa Dhira pergi dari sini, lindungi dia dari kejaran orang orang itu, mungkin mereka bisa mengepung rumah ini, tapi jangan biarkan Nadhira jatuh ditangan mereka Rifki, aku yakin kau bukanlah pemuda biasa".
__ADS_1
"Apa Oma tidak ikut dengan kami?"
"Tidak Nak, yang terpenting adalah nyawa Nadhira, kau harus menyelamatkannya bagaimanapun caranya itu, jangan biarkan mereka mengambil permata itu, atau tidak nyawa Nadhira akan dalam bahaya".
Sarah segera menyuruh keduanya untuk pergi dari tempat itu, akan tetapi Nadhira tidak mau meninggalkan dirinya sendiri ditempat itu, apalagi mereka kini tengah mengitari rumahnya dan mereka begitu ahli dalam ilmu hitam yang akan mampu mencelakai Sarah dengan mudah nantinya.
"Aku tidak mau pergi meninggalkan Oma, aku tidak mau melihat Oma dalam bahaya" Nadhira memeluk tubuh Sarah dengan eratnya.
"Mereka hanya akan mengincar dirimu Dhira, Oma tidak akan berada dalam bahaya, tenang saja".
"Dhira tidak mau Oma".
Sarah segera membalas pelukan Nadhira yang kini tengah berlinangan air mata itu, Sarah tidak punya pilihan lain selain menyuruh Rifki untuk membawa Nadhira pergi dari tempat itu, akan tetapi Nadhira tetap memaksa untuk tidak meninggalkan Sarah dirumah itu.
"Aku tidak bisa meninggalkan Oma begitu saja, tidak ada waktu lagi Dhira".
Rifki segera menarik tangan Sarah dari pelukan Nadhira, dan membawa Sarah menuju kesebuah kamar yang diduga adalah kamar dari Sarah sendiri, Sarah sama sekali tidak mengerti kenapa pemuda itu mengajaknya masuk kedalam kamarnya sendiri.
"Apa yang akan kau lakukan Rifki?" Tanya Nadhira.
"Aku akan membuat pagar gaib dikamar ini, dan para mahluk gaib itu tidak akan mampu untuk menembusnya dengan mudah" Ucap Rifki sambil memandangi area sekitarnya itu.
Rifki memang mampu untuk membuat pagar gaib agar tidak mudah untuk ditembus oleh orang orang yang ingin berniat jahat, apalagi serangan mahluk gaib yang tak kasat mata itu, hal itu membuat Nimas terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Rifki kali ini.
"Nimas aku juga membutuhkan bantuan dari dirimu, gabungkan energi permata iblis dengan keris pusaka xingsi agar tercipta sebuah perisai yang tidak bisa ditembus oleh mahluk mahluk gaib itu" Ucap Rifki kepada Nimas hingga membuat Nimas kebingungan.
"Keris pusaka xingsi? Keris itu telah lama hilang, bagaimana bisa aku menggabungkan energi permata yang aku miliki kepasa keris itu? Sementara aku sendiri tidak mengetahui dimana keberadaan dari keris pusaka xingsi sekarang" Tanya Nimas.
"Apa kau mengetahui mengenai keris pusaka xingsi itu Rif?" Tanya Nadhira yang juga terkejut.
"Apa hubungannya dirimu dengan keris pusaka xingsi?" Tanya Sarah yang kebingungan.
"Keris itu ada didalam tubuhku dan akulah pemilik dari keris itu" Ucap Rifki.
Seketika ucapan tersebut membuat mereka diam membisu, bagaikan sebuah petir yang menyambar ketiganya dengan sangat kerasnya, karena mereka tidak menyangka bahwa Rifki adalah pemilik dari keris pusaka xingsi yang selama ini menjadi incaran bagi semua orang.
Nimas begitu terkejut ketika mendengar ucapan Rifki, orang yang selama ia cari selama ini telah berada didepan matanya selama ini, ia tidak menyangka bahwa keturunan dari Pangeran Kian adalah Rifki sendiri, pantas saja Rifki mampu untuk bersosialisasi dengan mahluk gaib maupun mengalihkan sebuah energi gaib kepada Nadhira selama ini.
"Dilham, apa kau sudah mengetahuinya selama ini? Tapi kenapa kau tidak memberitahukan hal ini kepadaku sebelumnya, aku tidak akan memaafkanmu soal ini Dilham, ingat itu" Ucap Nimas yang nampak sedang mengomel seorang diri.
"Bagaimana bisa Rifki! Kita telah mencari keris itu selama ini tapi kenapa kau tidak memberitahukan hal ini kepadaku" Ucap Nadhira.
"Dhira ada begitu banyak alasannya kenapa aku tidak memberitahukan hal ini kepadamu sebelumnya, meskipun keris itu kini telah ada bersamaku tapi aku tidak bisa mengeluarkan permata itu dari dalam tubuhmu Dhira".
"Aku hanya takut dirimu dalam bahaya Rifki, bagaimana kalau orang lain tau soal itu, mereka justru akan mengincar keris pusaka itu nantinya".
"Kamu tenang saja Dhira, aku mampu untuk mengendalikan energi keris ini".
"Apa kau adalah keturunan dari Pangeran Kian?" Tanya Sarah.
"Kenapa aku sama sekali tidak merasakan keberadaan dari keris itu? Jadi dirimu adalah keturunan dari Ayah angkatku?" Ucap Nimas.
"Iya kalian benar, aku adalah pemilik keris pusaka xingsi, aku adalah keturunan dari Pangeran Kian, dan aku sengaja menyamarkan energi keris pusaka xingsi ini agar tidak mampu untuk diketahui oleh semua orang atau bahkan para mahluk gaib" Ucap Rifki yang menjawab setiap pertanyaan yang diberikan kepadanya saat ini.
"Kau harus benar benar bisa menyembunyikan identitasmu itu, jangan sampai ada yang mengetahui soal itu Nak" Ucap Sarah yang begitu khawatir ketika mendengar bahwa kedua benda pusaka kini telah muncul kembali didunia ini.
"Iya Oma, selama ini tidak ada yang mengetahui soal itu, aku juga meminta kepada kalian untuk menyembunyikan hal ini".
"Kau tidak perlu khawatir Rif, mereka boleh mengetahui bahwa aku adalah pemilik dari permata iblis itu, tapi aku tidak akan membiarkan mereka mengetahui soal keris pusaka xingsi itu" Ucap Nadhira meyakinkan Rifki.
"Kau tenang saja, rahasia ini akan tetap terjaga walaupun sampai diriku tiada nanti" Ucap Sarah.
"Rifki sangat percaya kepada Oma".
__ADS_1
Rifki merasa yakin bahwa mereka tidak akan pernah membocorkan soal ini kepada siapapun, begitupun dengan Nimas karena dirinya juga tidak ingin kalau sampai pemilik keris pusaka xingsi itu berada dalam bahaya sehingga Dilham akan turun tangan sendiri untuk melindunginya.
Dilham adalah pengawal pribadi dari Pangeran Kian, dan juga cinta pertama dari Nimas, akan tetapi keduanya terpisahkan karena sebuah insiden pembantaian yang terjadi didesa Mawar Merah, hingga membuat keduanya mengorbankan diri mereka hingga sampai sekarang hanya jiwa mereka yang masih hidup sementara tubuh mereka sudah lama tiada dan menjadi mahluk astral.