
Nadhira pun memetik setangkai bunga mawar merah tersebut dan memberikannya kepada Rifki, bunga itu memiliki kelopak yang paling indah daripada yang lainnya dan begitu harum jika didekatkan dengan hidung untuk dihirup.
"Ini untukmu" Ucap Nadhira sambil menyodorkan bunga tersebut.
"Terima kasih" Ucap Rifki sambil menerima bunga mawar merah tersebut.
Bahkan dibawa alam sadarnya pun Nadhira masih ingat untuk memberikan setangkai bunga yang indah itu kepada Rifki, hal itu membuat Rifki merasa sangat bahagia dan Rifki beberapa kali mencium wangi dari bunga tersebut.
"Dhira ayo kembali kekamar, ini sudah malam dan udara diluar akan semakin dingin nantinya" Ajak Rifki.
"Ngak mau, didalam ngak asik, aku ngak bisa lihat bintang bintang" Jawab Nadhira sambil melepaskan pegangan tangan Rifki.
"Mau jalan sendiri atau digendong?"
"Gendong" Jawab Nadhira dengan manjanya.
"Baiklah"
Rifki segera membungkuk dihadapan Nadhira agar Nadhira dapat naik kepunggungnya, akan tetapi Nadhira menolaknya begitu saja, dan menyuruh Rifki untuk bangkit berdiri.
"Kenapa? Mau gendong depan?".
Mendengar pertanyaan itu membuat Nadhira mengangguk, Rifki segera mengangkat tubuh Nadhira layaknya sebuah karung beras, dan bergegas kembali masuk kemarkas itu sementara Nadhira berusaha untuk memberontak minta turun karena bukan itu yang ia inginkan.
"Aaaa.... Lepaskan aku! Aku ngak mau digendong"
"Sudah diamlah" Ucap Rifki menyuruh Nadhira untuk diam dalam gendongannya.
"Ngak mau, turunkan aku, tolong! Tolong!"
"Bukannya tadi kau bilang aku jahat ya? Sekarang sudah tidak ada ampunan lagi".
"Ngak mau! Mama aku diculik! Mama tolong aku diculik" Teriak Nadhira.
"Astaga Dhira, kenapa harus berteriak seperti itu sih, yang mau nyulik kamu itu siapa"
"Mama! Mama! Tolong Mama! Dia mau menculikku".
"Allahu Akbar, astaghfirullah hal azim, astaghfirullah hal azim, nih anak kenapa sih".
Teriakan tersebut membuat Bayu dan lainnya tertawa ketika melihat tingkah Nadhira yang diluar nalar manusia normal itu, ini benar benar menjadi hiburan yang bagus untuk anggota Gengcobra karena mereka dapat melihat sosok pemuda yang menjadi pimpinan mereka menaklukkan seorang wanita.
Mendengar Nadhira yang memanggil Mamanya membuat Rifki merasa sedih karena orang yang dipanggilnya telah lama meninggal dunia dan hal itu membuat hati Rifki sedikit tersayat dengan ucapan dari Nadhira itu.
"Mama hiks.. hiks.. aku diculik".
"Kenapa kau malah mengadu ke Mama mu itu? Apa kau ingin aku disumpahi oleh Mama mu di akhirat sana? Bagaimana kalau Mamamu mengutukku disana nanti Dhira?" Tanya Rifki.
"Akhirat? Kau pasti bohong kan? Mama ku masih hidup sampai saat ini, hiks.. hiks.. hiks.. kau jahat Mama ku masih hidup".
Pertanyaan Rifki tersebut langsung membuat Nadhira menangis sesenggukan, Rifki pun seakan akan tidak peduli dengan hal itu, ia terus membawa Nadhira masuk kedalam kamarnya kembali dan menurunkan diatas kasur kamarnya tersebut.
"Kenapa nangis?" Tanya Rifki sambil berlutut didepan Nadhira dan menghapus air matanya.
"Perutku sakit hiks.. hiks.. hiks..".
"Udah tau perutnya pernah terluka masih saja minum minuman seperti itu, lain kali jangan minum lagi ya, entah apa jadinya dirimu jika minum minuman itu lagi tanpa ada yang mengawasi seperti ini, Dhira Dhira kau benar benar sangat nekat sekali".
Nadhira hanya bisa membuang mukanya saja dan tidak berani untuk menatap kearah Rifki saat ini, meskipun begitu wajah cemberutnya pun tidak luntur dari wajahnya saat ini, dan hal itu justru membuat Rifki tertawa karena dia sangat jarang melihat wajah Nadhira seperti itu.
"Aku mau jalan jalan" Ucap Nadhira sambil berdiri.
"Sudah duduk aja" Ucap Rifki sambil memegangi Nadhira untuk duduk, "Duduk manis disini, ngak boleh ada kata jalan jalan"
"Baiklah".
Beberapa saat setelah mengatakan itu, Nadhira kembali berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari Rifki.
__ADS_1
"Hei kau mau kemana?" Tanya Rifki.
"Duduk manis".
"Itu berdiri dan berjalan Dhira bukan duduk manis, sini biar aku beritahu duduk manis itu seperti apa".
Rifki pun bangkit dan segera mendekati Nadhira, entah bagaimana bisa berdiri disebut dengan duduk manis, dan hal itu sontak membuat Rifki memijat keningnya sendiri.
Rifki pun menarik tangan Nadhira dan menyuruhnya untuk duduk ditepi ranjang kamar itu, baru sekejap dia duduk Nadhira pun langsung berdiri diatas kasur dan melompat lompat seperti anak kecil.
"Yee asik, aku bisa terbang" Ucap Nadhira dengan kegirangan.
"Astaga naga Dhira, itu digunakan untuk tidur bukan melompat lompat seperti itu, lebih parah daripada anak kecil deh, mungkin ini bisa di abadikan haha... Awas aja ya nanti kalo sadar, hmm.. biar aku rekam saja nih bocah" Ucap Rifki lalu mengeluarkan hp nya dari saku bajunya.
Rifki pun memencet sebuah aplikasi bertuliskan camera pada telpon genggamnya tersebut, dan ia pun menyalakan kamera untuk merekam apa yang tengah dilakukan oleh Nadhira itu yang menurutnya akan sangat lucu.
"Rifki ayo ikut lompat lompat"
"Ehhhh...".
Belum selesai Rifki merekam Nadhira tiba tiba Nadhira menarik tangannya untuk ikut bergabung melompat lompat diatas kasur, dan hal itu sontak membuat Rifki berteriak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nadhira.
Setelah kelelahan dan hal itu membuat Nadhira langsung duduk untuk beristirahat, Rifki merasa lega akhirnya Nadhira berhenti untuk bersikap seperti anak kecil, ia pun segera turun dari kasurnya, entah bagaimana acak acakan kamarnya saat ini.
Nadhira pun ikut duduk ditepi kasur tersebut, sementara Rifki berdiri disebelahnya sambil menatap wajah Nadhira yang kelelahan saat ini, entah bertapa lucunya wajah itu bagi Rifki.
"Sudah kelelahan belom?" Tanya Rifki.
"Sudah" Jawab Nadhira.
"Entah sampai kapan efeknya akan habis, sepertinya aku harus menjagamu sendiri disini, baru juga ditinggal keluar sebentar saja eh sudah ikut keluar mulu apalagi kau keluar lewat jendela seperti itu, lompat lompat ngak jelas lagi".
"Jangan pergi, aku tadi mencarimu, tapi justru orang lain yang aku temui diluar sana".
"Lalu kau mencariku lewat jendela gitu Dhira? Kenapa tidak lewat pintu? Atau lewat atap rumah sekalian? Kali aja kan bisa terbang tuh, bagus juga kan" Tanya Rifki yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nadhira saat ini.
"Dikurung? Siapa yang berani mengurung macan seperti dirimu Dhira? Apa dia tidak takut dengan amukanmu? Lalu apa yang kau lakukan?".
"Kabur lewat jendela"
"Seperti tadi begitu? Orang mabuk ternyata masih bisa berpikir juga ya, tapi kenapa pikirannya sedikit konslet sih? Untung belom meledak tuh"
Nadhira mengangguk pelan mendengar pertanyaan Rifki, dan hal itu sontak membuat Rifki menepuk jidatnya sendiri, dia berpikir bahwa didalam keadaan mabuk seperti ini Nadhira tidak akan mampu berbohong dan dia akan mengatakan hal yang sejujurnya.
"Boleh aku tanya sesuatu kepadamu Dhira? Tapi kau harus menjawabku dengan jujur, kamu mengerti?" Nadhira mengangguk pelan pertanda bahwa Rifki boleh mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya.
Melihat anggukan Nadhira membuat Rifki tersenyum tipis, Rifki pun memegang erat kedua tangan Nadhira sementara Nadhira mengenggam kembali kedua tangan Rifki saat ini akan tetapi Nadhira masih tidak mau untuk menatap kearah Rifki dan masih dengan ekspresi cemberut.
"Kamu suka ayam kecap?" Tanya Rifki sambil menatap wajah Nadhira.
"Suka" Ucap Nadhira dengan wajah yang berseri dihadapan Rifki.
"Baiklah, kalau urusan makanan kau memang nomer satu Dhira hehe... Makanmu banyak tapi ngak gendut gendut, bagaimana kalo ikut program diet ya, apa mungkin hanya tinggal tulang dan kulit saja tuh badan, pasti makin lucu" Ucap Rifki sambil tertawa.
"Aku ngak gendut, aku ngak mau gendut".
"Iya ya, Dhira emang ngak gendut kok beneran deh pokoknya, gajah yang gendut bukan Dhira, Dhiraku mah kerempeng kayak lidi lurus, ngak gendut sama sekali".
Rifki tidak habis pikir dengan Nadhira saat ini, ketika dirinya menyebutkan nama makanan dihadapan Nadhira, Nadhira justru langsung menciptakan ekspresi wajah berseri dihadapannya itu.
"Apa kau mencintai Theo?" Tanya Rifki dengan serius.
Pertanyaan tersebut langsung membuat Nadhira merubah ekspresinya dan membuang muka dari Rifki, Rifki pun terus berusaha untuk membuat Nadhira menatap wajahnya dengan menggerakkan kedua tangannya untuk menangkap wajah Nadhira.
"Aku tidak pernah mencintai Theo selama ini, aku hanya menganggap Theo sebagai teman baikku saja, Theo sangat mencintaiku dan aku tidak akan pernah bisa untuk membalas cintanya itu"
"Kenapa?"
__ADS_1
Nadhira hanya menggelengkan kepalanya, ia pun tidak menjawab kenapa dia tidak dapat mencintai Theo, dan Nadhira hanya berdiam diri dengan seribu bahasa, sementara Rifki merasa sedikit bahagia mendengarnya karena rasa cemburu akan hadir disaat Nadhira bersama dengan Theo.
"Apa kau mencintaiku Dhira?" Tanya Rifki sambil menatap kedua mata Nadhira dan langsung dibalas anggukan oleh Nadhira.
"Aku sangat mencintaimu Rifki, aku tidak bisa membuka hati untuk orang lain, dan hanya ada dirimu yang ada di hatiku".
"Lalu kenapa kau memintaku untuk melupakanmu sebelumnya Dhira? Dan kenapa kau tega meneteskan darahku waktu itu?"
"Aku terpaksa melakukan itu Rifki, agar kau tidak membantah kedua orang tuamu yang ingin menjodohkan dirimu dengan wanita lain".
"Aku tau itu, meskipun kau tidak mengatakan langsung kepadaku"
Nadhira hanya berdiam diri ketika mendengar perkataan Rifki, justru dirinya kembali membuang muka dari hadapan Rifki, dan hal itu membuat Rifki sangat gemas dengan wajah cemberutnya itu.
"Bolehkah aku meminta sesuatu denganmu? Jika kau benar benar mencintaiku, maka kau pasti akan menuruti keinginanku Dhira".
"Iya"
"Jika aku meminta kepadamu untuk melupakan diriku apa kamu mau melakukannya untukku? Aku harap kau bisa melupakan diriku Dhira".
"Ngak mau, aku ngak mau melakukan itu".
"Bukannya kau bilang bahwa kau mencintaiku? Lalu kenapa sebelumnya kau memintaku untuk melupakan dirimu Dhira? Bukankah itu sama saja?".
"Itu sangat jauh berbeda, aku tidak akan pernah bisa melupakan dirimu Rifki, tapi jika kau yang melupakan diriku itu tidak akan terlalu menyakitkan bagiku karena aku masih mengingat dirimu dalam hidupku, jangan pernah memintaku untuk melupakan dirimu".
"Itu pun sama dengan apa yang aku rasakan Dhira, bagaimana bisa aku melupakan dirimu? Dan aku hanya meminta kepadamu agar kau melupakan diriku saja Dhira, hanya beberapa waktu saja".
"Cinta tidak harus melupakan, cinta adalah berjuang bersama sama untuk masa depan, kenapa kau memintaku untuk melupakan dirimu?".
"Lupakan saja pertanyaanku Dhira, sekarang istirahat lah dengan nyenyak".
Ketika Rifki akan bangkit berdiri untuk bergegas menjauh dari Nadhira, dengan seketika Nadhira menarik tangan Rifki hingga membuat Rifki terjatuh dan hampir bibirnya bersentuhan dengan Nadhira akan tetapi untung saja dia segera bertindak.
Saat ini wajahnya dengan wajah Nadhira hanya berjarak beberapa senti saja, dan hal itu membuat jantung Rifki berdegup kencang dengan nafas yang tidak setabil lagi, ia pun mengepalkan tangannya karena kencangnya detak jantungnya saat ini.
Kedua matanya kini tengah saling bertatapan satu sama lain, Rifki seakan akan tidak mampu bergerak untuk berdiri dan pergi dari hadapan Nadhira saat ini, tubuhnya seakan akan tengah terpaku ditempat itu tanpa mampu digerakkan lagi.
"Ya Allah kenapa disaat Nadhira mabuk dia lebih agresif seperti ini, ujian besar apa lagi yang akan menimpa diriku" Batin Rifki menjerit.
Kini giliran Rifki yang membuang muka dari hadapan Nadhira, seandainya Nadhira sadar dengan apa yang ia lakukan saat ini mungkin Nadhira akan sangat malu untuk menatap wajah Rifki ataupun hanya mendengar namanya diucapkan oleh orang lain pun dia akan sangat malu nantinya.
Nadhira pun menjatuhkan kepalanya didada bidang Rifki yang saat ini sedang berdegup kencang, Rifki pun memejamkan matanya dengan tangan yang bergetar panas dingin karana Nadhira, sedangkan Nadhira sendiri tetap terasa begitu tenang.
"Sangat nyaman dan hangat" Ucap Nadhira lirih.
Rifki mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan lahan untuk menenangkan degup jantungnya yang seakan akan tidak setabil tersebut, entah apa yang tengah ia rasakan saat ini.
Rifki pun menggerakkan tangannya secara perlahan lahan untuk dapat mengusap kepala Nadhira dengan pelan agar Nadhira merasa lebih tenang dan Rifki ingin Nadhira segera tertidur agar efek minuman beralkohol tersebut semakin cepat dinetralkan.
"Jangan pergi, aku tidak mau kehilangan dirimu Rifki".
"Bukannya kau tadi mengatakan aku adalah orang yang sangat jahat ya? Kenapa sekarang kau malah mencegahku untuk pergi?".
"Ngak boleh, kamu ngak boleh pergi, aku hanya mau bersama denganmu".
"Ku harap kau melupakan malam ini Dhira, atau kau akan merasa malu ketika sadar nanti, sungguh sebaiknya kau lupakan saja malam ini, benar benar kau harus melupakannya".
Nadhira pun tertidur sambil memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya, sementara Rifki masih mematung ditempatnya saat ini, Rifki merasakan bahwa Nadhira sudah benar benar tertidur dengan pulasnya dan dia berniat untuk melepaskan pelukan tersebut agar Nadhira bisa istirahat dengan nyaman.
"Tidak, jangan pergi, jangan tinggalkan aku lagi" Ucap Nadhira yang merasakan bahwa Rifki berniat untuk melepaskan pelukannya itu.
"Aku tidak akan pergi Dhira"
"Aku tidak percaya dengan perkataanmu lagi Rif, kau pernah bilang kalau kau tidak akan pergi lagi, tapi ternyata kau justru pergi meninggalkan diriku dan berubah menjadi orang yang tidak aku kenali".
"Dhira dengarkan aku, aku melakukan itu karena ada suatu alasan dan aku tidak ingin kau bertindak gegabah hanya karena diriku, Mama dan gadis itu selalu mengawasiku Dhira, jika mereka tau bahwa masih ada cinta diantara kita, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dirimu, aku belum tau apa yang sedang diincar oleh gadis itu dariku, aku dapat merasakan kehadiran orang yang mau berniat jahat kepadaku oleh karena itu aku tidak ingin melibatkan dirimu dalam masalahku".
__ADS_1
Rifki tertawa sendiri mendengar ucapannya tersebut, bagaimana Nadhira bisa memahaminya dalam keadaan mabuk seperti ini, meskipun dia menjelaskan semuanya pun Nadhira belum tentu dapat memahaminya ataupun mengingat apa yang telah ia katakan saat ini.