
Nadhira berusaha untuk membuka pintu kamarnya akan tetapi Haris masih memasang kunci dipintu luar kamar Nadhira sehingga Nadhira tidak dapat membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan yang ia miliki saat ini.
"Pa! Buka pintunya! Aku harus cari Rifki, Pa! Pa, Dhira mohon jangan kunciin Dhira dikamar seperti ini, Pa. Buka pintunya sekarang, Dhira harus menyelamatkan Rifki," Teriak Nadhira yang berusaha untuk membuka pintu kamarnya itu.
Tidak ada sahutan apapun dari luar kamar Nadhira itu, Nadhira tidak mungkin lewat balkon kamarnya karena itu terlalu tinggi untuk dilewati dan dirinya tidak mau membahayakan anak yang ada didalam rahimnya saat ini.
"Pa! Dhira mohon, biarkan Dhira ikut mencari Rifki, Dhira ngak mau Rifki kenapa napa. Pa, bukain pintunya sekarang, aku mohon. Biarkan aku keluar dari sini Pa!, Pa! Tolong bukakan pintunya sekarang!"
Nadhira mendengar suara mobil yang dinyalakan dan hal itu pun langsung Nadhira berlari kearah balkonnya, ia melihat mobil yang dinaiki oleh Haris melaju meninggalkan halaman rumahnya.
"Pa!! Jangan tinggalkan Dhira! Pa tunggu Dhira! Papa ngak boleh pergi gitu saja. Dhira mau ikut Pa! Jangan kunciin Dhira seperti ini Pa! Dhira mohon sama Papa" Teriak Nadhira dengan kencangnya.
Mobil itu melaju dengan kencang keluar dari halaman rumah Nadhira, melihat itu langsung membuat Nadhira menjatuhkan tubuhnya dilantai begitu saja. Linangan air mata membasahi wajahnya, isakan tangis pun keluar dari mulutnya.
"Aku harus keluar dari sini secepatnya, aku harus mencari Rifki. Aku tidak akan pernah membiarkan Rifkiku kenapa napa, Rifki harus baik baik saja, aku harus segera menyelamatkannya sebelum semuanya terlambat,"
Nadhira pun menghapus air matanya dengan kasar, Nadhira tidak mau menjadi lemah begitu saja untuk saat ini. Nadhira langsung bangkit dari duduknya menuju kekamarnya untuk mencari cara bagaimana dirinya bisa keluar dari dalam kamarnya itu.
"Jika Papa sendiri tidak mengizinkanku keluar dengan mudah dari kamarku ini, aku akan berjuang untuk bisa menyelamatkan nyawa suamiku dengan caraku sendiri. Bagaimanapun caranya itu, aku tidak akan menyerah dengan mudah, selama aku masih bernafas aku tidak akan membiarkan apapun terjadi kepada suamiku,"
Nadhira pun membuka lemarinya untuk mencari sesuatu yang bisa membawanya keluar dari dalam kamarnya itu, meskipun ia berteriak sekencang apapun itu anggota Gengcobra yang berjaga ditempat itu tidak akan pernah membiarkan dirinya untuk keluar dari kamarnya.
"Bagaimana aku bisa keluar dari sini? Aku harus pergi untuk mencari Rifki secepatnya, aku tidak mau terlambat untuk menolong suamiku, aku tidak mau dia kenapa kenapa."
*****
Rifki tersadar dari pingsannya dengan tubuh yang sudah dipenuhi oleh luka memar dan darah. Ia merasakan sakit disekujur tubuhnya itu, tangan dan kakinya tengah diikat dengan eratnya disebuah pohon yang ada dipuncak gunung dengan diputari oleh jurang yang teramat dalam.
"Lepaskan!" Teriak Rifki.
Rifki teringat akan sesuatu sebelum dirinya terjatuh tidak sadarkan diri, ia teringat bahwa dirinya sedang bertarung dengan orang orang yang ingin mencelakakan dirinya dan juga keluarganya itu. Akan tetapi, tiba tiba ada seseorang yang memukul leher belakangnya dengan kayu sehingga dirinya tidak sadarkan diri.
"Melepaskanmu, tidak akan pernah!" Sentak seseorang yang kini berada dihadapan Rifki.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya! Lepaskan!"
"Kau pasti tau apa keinginanku. Kau telah membunuh anakku, dan nyawa harus dibalas dengan nyawa. Serahkan keris pusaka xingsi itu, maka aku akan berikan kematian yang tidak menyakitkan untukmu,"
"Sampai kapan pun itu, aku tidak akan pernah menyerahkan keris pusaka xingsi kepada kalian, meskipun nyawaku sendiri akan menjadi taruhannya. Orang jahat seperti kalian tidak pantas memiliki keris pusaka xingsi itu,"
Ctarrr...
Sebuah cambukan langsung dilontarkan kearah tubuh Rifki, Rifki merasakan panas dan perih dari luka cambukan tersebut akan tetapi hal itu justru membuatnya tertawa lebih keras lagi. Rasa sakit itu sama sekali tidak menjadi beban bagi Rifki, setiap cambukan yang dilontarkan akan membuat Rifki semakin tertawa.
"Jika aku mati, maka keris pusaka itu akan lenyap bersama denganku. Aku belum punya anak, sehingga keris itu akan berhenti berpindah tangan disaat aku telah tiada," Ucap Rifki dengan senyuman yang mengembang cerah.
Rifki merasa yakin dengan kata katanya itu, ia yakin bahwa dengan kehilangan nyawa maka keris itu akan ikut serta lenyap bersama dengannya. Entah benar atau tidaknya ia hanya yakin kepada Tuhan yang Maha Esa tentang takdir yang telah ditentukan kepadanya itu.
"Omong kosong macam apa yang kau katakan!" Sentak orang tersebut kepada Rifki.
"Kau boleh menganggap ini adalah omong kosong, tapi ini adalah kenyataannya. Haha... Kau tidak akan pernah bisa merebut keris pusaka xingsi itu dari diriku, tidak akan pernah bisa,"
"Aku lupa, bahwa kekuatanmu ada pada istrimu, lantas bagaimana jika aku akan mencelakakan dirinya? Kau bahkan tidak bisa berbuat apa apa,"
"Sehelai rambutnya yang jatuh karena dirimu, maka nyawamu yang akan menjadi taruhannya. Berani kau mencelakakan dirinya, akan ku bunuh kalian semua," Rifki mengatakan itu dengan santainya karena ia yakin bahwa Haris dan Aryabima tidak akan membiarkan Nadhira kenapa kenapa.
Meskipun Rifki terlihat santai saat ini, akan tetapi pikirannya terus menerus memikirkan tentang Nadhira. Mereka tidak akan pernah tau tentang permata iblis yang ada didalam tubuh Nadhira selama Nadhira memakai kalung pemberian dari Nimas, sehingga nyawanya akan aman.
Mereka hanya tau mengenai keris pusaka xingsi akan tetapi tidak mengetahui bahwa kekuatannya sudah terbagi menjadi dua. Hanya keturunan dari Pangeran Kian yang mengetahui soal itu, yang mereka ketahui hanyalah keris pusaka xingsi dan permata iblis itu berbeda akan tetapi itulah pembagian kekuatan menjadi dua bagian.
"Hahahaha... Kau hanya bisa berkata seperti itu untuk menakut nakuti kita, tapi kita sama sekali tidak takut dengan ancamanmu itu,"
"Siapa yang coba menakut nakuti? Sudah ada lebih dari puluhan nyawa yang mati ditanganku sendiri, apa kalian juga mau mendaftarkan diri sebagai korban selanjutnya?"
"Cambuki dia!"
Ctarr... Cttarrr...
__ADS_1
Bahkan pakaian Rifki kali ini bersimbah darah akibat cambukan yang sangat keras kepadanya itu. Akan tetapi, senyuman diwajah Rifki sama sekali tidak luntur dan bahkan seakana akan dirinya tengah menikmati rasa sakit itu.
"Apa segini saja kemapun yang kalian miliki? Ternyata kalian begitu lemah ya," Ejek Rifki ditengah tengah hujanan cambuk itu.
Keris pusaka xingsi tersebut membuat kulit Rifki tidak mampu merasakan sakitnya cambukan tersebut. Energi dari keris pusaka xingsi membuat kulit Rifki kebal akan rasa sakit dan hal itulah yang membuat Rifki masih bisa tertawa dengan kerasnya untuk saat ini, bahkan cambukan itu terasa seperti sebuah buku ayam yang menyentuh kulitnya.
"Apa kau menggunakan energi keris pusaka xingsi untuk ilmu kebal? Itu tidak akan bertahan lama," Ucapnya dengan sombong.
"Bukan aku yang menggunakannya, tapi energi itu sendiri yang melindungiku saat ini," Jawab Rifki dengan senyumannya mengejek.
"Tidak mungkin!"
"Terserahmu, percaya atau tidaknya itu urusanmu,"
Rifki semakin tertawa melihat wajah orang tersebut terlihat sangat marah, akan tetapi tawa tersebut langsung sirna ketika orang itu mengarahkan telapak tangannya kearah dada Rifki. Rifki merasakan bahwa ada yang dihisap dalam tubuhnya melalui telapak tangan tersebut, ia yakin bahwa orang tersebut mencoba untuk menarik keris pusaka xingsi tersebut.
"Kau tidak akan bisa tertawa lagi," Ucapnya.
"Ini sangat menyakitkan Tuan, rasanya seperti digigit semut merah, haha..." Setelah mengatakan itu, justru Rifki kembali tertawa lagi.
"Kau!"
Lelaki tersebut pun mendorong tangannya dengan kuat, tubuh Rifki yang terhampit dari batang pohon dan tangan orang tersebut pun merasa sakit. Tak beberapa lama kemudian seteguk darah segar keluar dari ujung bibirnya.
"Kau akan segera mati!"
"Niatmu sangat baik, Tuan. Aku merasa terharu ketika mendengarnya, semoga malaikat maut juga segera melirikmu, agar kita bisa sama sama menuju neraka," Bahkan walau dalam keadaan seperti itu, Rifki masih saja bisa bercanda.
"Kenapa kau masih bisa tertawa?"
"Karena sebentar lagi, kita akan menuju ke neraka bersama sama, karena aku tidak mau pergi sendirian. Hanya disini aku bisa tertawa sepuasku, sebelumnya disana tawa itu dilarang,"
"Kau sendiri yang akan pergi ke neraka, dan aku akan mengantarmu kesana. Sebentar lagi kau tidak akan bisa tertawa lagi,"
"Sebentar lagi sebentar lagi, kapan itu akan terjadi? Rupanya kau hanya omong kosong doang,"
Anak buah dari orang tersebut pun langsung memukuli tubuh Rifki bersama sama, dan hal itu membuat Rifki langsung terlihat lemas. Tali yang mengikat tubuhnya itu pun tidak membiarkan tubuhnya jatuh ketanah begitu saja, Rifki pun memejamkan matanya merasakan rasa sakit yang tengah ia raksasa saat ini, akan tetapi senyumannya sama sekali tidak luntur.
Darah segarnya itu pun keluar dari mulut, hidung dan juga pelipisnya. Rifki nampak terlihat sangat memperihatinkan saat ini karena lukanya, apalagi dirinya yang sudah tidak mampu untuk mengangkat kepalanya dengan tegaknya.
Mereka pun menghentikan aksinya ketika sudah tidak mendapatkan respon dari Rifki, wajah Rifki terarah kepada tanah sehingga mereka tidak mengetahui ekspresi wajahnya saat ini. Meskipun dirinya memejamkan kedua matanya akan tetapi senyumannya masih tetap ada diwajahnya itu.
"Maafkan aku sayang, aku melanggar janjiku lagi," Ucap Rifki lirih.
Rifki teringat dengan Nadhira dan janji yang ia ucapkan kepada istri tercintanya itu, bahwa Rifki tidak akan pergi mendahului Nadhira. Rifki pun tersenyum disaat ia memejamkan kedua matanya karena membayangkan wajah Nadhira yang sedang tersenyum kepadanya saat ini.
"Kamu manis, aku sangat suka sayang," Ucap Rifki lirih dan bahkan tidak terdengar.
Lelaki tersebut pun mencengkeram erat dagu Rifki dan membuat Rifki mendongak kearahnya. Darah yang keluar dari ujung bibir Rifki tersebut membuat senyuman diwajah Rifki terlihat sangat menyeramkan jika dilihat.
"Rupanya kau masih bisa tersenyum,"
"Tidak ada yang bisa aku lakukan, selain tersenyum. Dia sangat cantik, seperti seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Maafkan aku sayang, aku pergi tidak izin terlebih dahulu kepadamu"
Bayangan Nadhira terus melintas didalam ingatannya itu, senyuman Nadhira terlihat sangat tulus kepada Rifki. Hal itulah yang membuat Rifki merasa sangat tenang dan damai, bayangan Nadhira itulah yang menjadi sumber kekuatan untuk Rifki.
Mereka pun kembali mencambuknya dengan kerasnya akan tetapi Rifki sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Mereka melakukan itu agar membuat Rifki lemah dan akan dengan mudah untuk merampas keris pusaka xingsi dari dalam tubuh Rifki.
Darahnya terus bercucuran dengan derasnya, Rifki pun memejamkan matanya dengan sebuah senyuman yang terpampang jelas diwajahnya. Dirinya seakan akan tidak merasakan sakit dari cambukan itu, akan tetapi dirinya merasa bersedih karena keluar rumah tanpa memberitahukan hal ini kepada Nadhira.
"Ini hukuman yang pantas aku dapatkan karena aku pergi tanpa meminta izin kepadamu, maafkan aku Dhira," Ucap Rifki pelan meskipun begitu darah terus bercucuran dari ujung bibirnya.
*****
"Ayah, bukankah ini tempatnya? Kenapa sepi?" Tanya Haris ketika telah sampai ditempat yang dimaksud oleh surat tersebut.
"Itu mobil Rifki," Aryabima pun menunjuk kesebuah arah yang berada cukup jauh darinya.
__ADS_1
Keduanya serta beberapa anggota Gengcobra langsung berlari menuju ketempat yang dimaksud oleh Aryabima itu. Mereka sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Rifki ataupun orang orang yang mengirim pesan tersebut, mereka justru terkejut ketika begitu banyak orang yang sudah terbaring disana dengan simbahan darah.
"CEPAT CARI RIFKI!" Teriak Aryabima memerintahkan anggota Gengcobra.
"Baik Tuan!" Jawab mereka serempak.
Anggota Gengcobra langsung berpencar untuk menjelajahi tempat tersebut demi mencari Rifki, mereka pun memeriksa satu persatu orang yang terbaring tanpa nyawa itu. Setelah lama mencarinya, mereka sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Rifki.
"Tuan, Tuan Muda tidak ada disini, kami sudah mencarinya," Ucap Reno memberi laporan kepada Aryabima dan Haris.
"Ayah, gimana ini?" Tanya Haris panik.
"Perintahkan seluruh anggota Gengcobra untuk segera mencarinya, apapun yang terjadi, kita harus segera menemukannya,"
"Baik Tuan!"
Reno langsung menghubungi anggota Gengcobra lainnya untuk segera ikut mencari Rifki. Aryabima melihat sebuah bekas darah seperti darah seseorang yang telah diseret pergi dari tempat tersebut, ia pun yakin bahwa itu adalah darah milik Rifki.
"Tunggu!" Ucap Aryabima menghentikan langkah kaki dari Haris.
"Ada apa Ayah?" Tanya Haris.
"Lihatlah bekas darah itu, kenapa hanya satu orang saja yang diseret untuk dibawa pergi dari tempat ini? Mungkinkah itu bekas darah milik Rifki?"
"Ayah benar, tapi jika itu darah milik Rifki, artinya Rifki..." Haris pun menggantung perkataannya.
"Tidak mungkin, Rifki hanya terluka saja, mungkin orang itu membawa Rifki pergi hanya untuk mengambil keris pusaka xingsi itu,"
"Tapi Ayah, kenapa darahnya begitu banyak?"
"Rifki tidak bisa mati selama keris pusaka xingsi menjaganya, apalagi belum ada keturunannya yang lahir kedunia ini,"
"Kita harus segera mencarinya, Ayah. Aku takut Rifki kenapa kenapa,"
"Iya, ayo kita cari lagi. Kita ikuti jejak ini, mungkin jejak ini akan membawa kita kepada Rifki,"
Mereka pun langsung mengikuti kemana arah darah tersebut membimbingnya, dan bekas darah tersebut berhenti ditengah tengah hutan. Hal itu langsung membuat Aryabima menghentikan langkah kaki mereka semua.
"Tidak! Ini jebakan!" Teriaknya.
Setelah berteriak seperti itu, saat itu juga sebuah jaring melesat mengenai mereka, dan mereka pun terperangkap dalam sebuah jaring yang sama. Ada sekitar 10 jaring yang dipasang ditempat tersebut dan masing masing jaring tersebut terdapat 10 anggota Gengcobra.
"Arghhhh...." Teriak mereka bersamaan karena sangking terkejutnya.
Mereka pun melayang keatas karena jaring tersebut yang membawanya keatas, mereka semua pun menggantung ditempat yang berdesak desakan itu.
"Woi keluar kau! Jangan sembunyi!" Teriak Aryabima.
"Lepaskan!" Teriak Haris.
Meskipun mereka berteriak akan tetapi sama sekali tidak ada orang yang muncul dihadapan mereka. Mereka hanya melihat rimbunnya pepohonan dari atas dan juga penuh dengan tanaman yang menjulang tinggi.
"Ayah, bagaimana ini?" Tanya Haris.
"Kita harus menyelamatkan diri dari sini, kita harus cari cara untuk terbebas dari jaring ini,"
"Iya, tapi bagaimana Ayah? Ini tinggi sekali,"
Tak beberapa lama kemudian terdengar suara beberapa serigala liar yang menggaung, para binatang buas tersebut langsung berkumpul dibawah mereka semua sambil menggeram menantikan mereka untuk jatuh dari tempat tersebut.
"Sial! Mereka membuat kita susah!," Umpat Haris.
"Tuan! Masih banyak lagi," Teriak Reno dan menunjuk kearah yang berbeda dari kedatangan para binatang buas tersebut.
"Bagaimana bisa mereka berkumpul ditempat ini? Mungkin ada yang sengaja melepaskan mereka semua," Ucap Aryabima yang melihat kedatangan para binatang buas tersebut.
"Lalu bagaimana Tuan? Jika kita nekat melepaskan diri dari sini, kita akan menjadi santapan mereka," Tanya Reno.
__ADS_1