
Sena tengah berdiri tidak jauh dari rumah besar milik Rifki, sementara dibelakangnya terdapat tiga orang pria yang berbadan sangat kekar. Keempatnya seakan akan seperti tengah mengawasi rumah itu, entah apa yang mereka cari didalam rumah itu.
Tiba tiba seseorang muncul diantara keempatnya, seorang pria yang nampak kurus kering berlarian dengan nafas yang tergesa gesa. Pria itu langsung menghampiri Sena dan ketiga anak buahnya itu.
"Informasi apa yang kau dapatkan?" Tanya Sena kepada lelaki kurus itu.
"Bos, wanita yang bernama Nadhira itu telah meninggal sekitar 16 tahun yang lalu. Telah terjadi pertarungan sebelumnya hingga dirinya tewas masuk kedalam jurang, sampai sekarang jasadnya tidak ditemukan." Pria itu memberi laporan kepada Sena.
"Dia sudah meninggal? Tapi ramalan itu mengatakan bahwa aku akan mati ditangannya. Aku rasa dia belum mati, coba selidiki lebih lanjut!" Sena pun memberi perintah kepada lelaki kurus tersebut.
"Itu yang saya ketahui selama ini, selama saya bekerja dirumah itu saya tidak pernah mendengar kabar tentang wanita itu."
"Benarkah? Apa mungkin mereka merahasiakan sesuatu dariku? Dhira tidak mungkin mati dengan mudah. Aku yakin itu, dia pasti masih hidup tapi menyamar. Kembalilah bekerja, cari informasi yang banyak untukku."
"Baik Bos! Tapi ada kejanggalan besar dirumah itu."
"Kejanggalan seperti apa?"
"Didalam sana ada wanita bercadar yang menurutku mencurigakan, Bos. Selama ada penyerangan dirumah itu, dia paling awal maju akan tetapi dengan cara sembunyi sembunyi,"
Lelaki itu pun menceritakan kejanggalan itu kepada Sena, sehingga Sena pun mencurigai Ana adalah sebagai Nadhira. Sena pun tersenyum sangat misterius, ia yakin bahwa wanita itu memang benar adalah Nadhira.
"Berhati hatilah dalam melangkah selanjutnya, dia memang begitu licik dan cerdik. Pancing wanita itu keluar untuk bertemu denganku, kalau memang benar dia adalah Nadhira, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri. Tapi jika dia bukan Nadhira, bawa dia kehutan dan bunuh dia agar tidak ada yang tau rencana kita."
"Baik Bos! Tepat gerhana bulan merah yang akan terjadi lusa nanti, aku akan membawanya dihadapanmu."
"Bagus! Lanjutkan tugasmu, dan jangan sampai ada yang mencurigaimu."
"Siap laksanakan, Bos!"
Pria paruh baya tersebut langsung berjalan masuk kedalam gerbang rumah besar itu, dirinya sudah bekerja disana beberapa tahun terakhir dan ternyata dia adalah mata mata dari Sena. Namanya Pak Cholil, dia bekerja sebagai tukang kebun dirumah tersebut sehingga bebas masuk keluar dari halaman rumah Rifki.
*****
Ana kini tengah duduk didapur sambil mengupas sayur sayuran untuk memasak hari ini, dirinya ditemani oleh Bi Sari yang sudah seperti teman bercerita sekaligus bercanda. Bi Sari merasa nyaman jika berbicara dengan Ana, karena akan selalu ditanggapi dengan saran saran bermanfaat akan tetapi tidak menjatuhkan.
"An, kamu sudah 4 tahun kerja disini, tapi aku tidak pernah mendengar kau menceritakan kehidupanmu atau sekedar pengalamanmu. Selalu saja diriku yang merepotkanmu dengan cerita ceritaku," Ucap Bi Sari sambil mengupas wortel.
"Mbak saja yang cerita, aku tidak pandai bercerita soal pengalamanku. Lagian tidak ada yang menarik dalam hidupku," Ucap Ana yang tersenyum tulus dibalik cadarnya.
"Kamu pasti punya pengalaman terbaik, kan? Nah jangan bilang kalau hidupmu tidak menarik,"
"Hidupku cuma simpel saja, Mbak. Dari bangun pagi sampai tidur malam hanya bekerja saja,"
"Terus cerita dong, gimana kamu bisa bertemu dengan suamimu? Mungkin ada sedikit pengalaman,"
"Aku dan dia itu adalah sahabat, Mbak Sar. Sejak kecil selalu bersama, jika aku menceritakan tentang dirinya, mungkin tidak akan kelar seribu tahun sekalipun."
Keduanya pun saling mengobrol tanpa Ana yang bercerita, hanya Bi Sari saja yang bercerita sementara Ana hanya menanggapinya dengan senyuman ataupun saran saran yang ada didalam isi kepalanya. Seperti biasanya, Ana tidak pernah menceritakan tentang dirinya ataupun jati dirinya kepada siapapun, tanpa terkecuali sedikitpun.
Ia tau resikonya bila mengungkapkan jati dirinya, sehingga dirinya tidak mau siapapun tau tentang dirinya, meskipun dirinya sudah berkerja bertahun tahun akan tetapi tidak seorangpun yang tau tentang identitasnya sesungguhnya.
Ana tidak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah menguping pembicaraannya itu, untuk berjaga jaga akan hal itu mangkanya Ana tidak pernah menceritakan tentang dirinya sendiri kepada orang lain meskipun teman dekatnya sendiri.
"Mbak Ana, tadi Tuan Muda mencarimu," Ucap seseorang yang tiba tiba muncul hingga membuat keduanya pun sontak terkejut.
"Mencariku? Ada apa?" Tanya Ana dengan kedua mata yang terbuka dengan lebarnya.
"Aku nggak tau, Mbak Ana. Soalnya tadi cuma disuruh untuk menggilin saja,"
"Terus, Tuan Muda dimana sekarang?"
"Ada diteras depan. Dia menyuruh untuk kamu datang segera kesana,"
__ADS_1
"Hanya aku saja? Atau yang lain juga?"
"Hanya dirimu saja, Mbak. Apa kamu habis melakukan kesalahan?"
"Nggak tau, Mbak. Setahuku aku tidak melakukan apapun."
"Nggak penting itu, mending kamu datangi dia sekarang, sebelum dia marah nantinya."
"Baiklah."
Ana pun langsung meninggalkan pekerjaannya itu, dirinya tiba tiba merasa khawatir ketika dipanggil oleh Rifki saat ini. Ana takut jika telah melakukan kesalahan sehingga identitasnya terkuak oleh Rifki, akan tetapi jika Ana tidak mendatanginya maka Rifki akan semakin yakin bahwa dirinya adalah Nadhira.
Dirinya melihat Rifki yang duduk sendirian diteras rumah dengan sebuah ponsel didalam genggamannya. Rifki terlihat begitu sibuk dengan ponselnya itu, bahkan dirinya tidak menyadari bahwa Ana sudah berdiri dihadapannya akan tetapi sedikit jauh.
"Ada apa Tuan Muda memanggil saya?" Tanya Ana karena tidak mendapatkan respon apapun dari Rifki ketika dirinya datang.
"Soal penyusup kemarin malam, apa kamu tau?" Tanya Rifki.
"Penyusup? Penyusup apa maksud Tuan Muda? Saya tidak paham."
"Nih lihat."
Rifki pun langsung menaruh ponselnya dimeja untuk dilihat oleh Ana, terlihat sebuah rekaman cctv ada didalam ponsel itu. Ana pun sontak langsung membelalakkan matanya sekaligus memegangi dadanya yang berdegup kencang, ternyata Rifki telah memasang sebuah cctv dihalaman rumah itu.
"Jelaskan!" Rifki pun menyuruh Ana untuk menjelaskannya.
"Itu Tuan Muda.., kemarin malam saya tidak tau kalau dia penyusup, dia mencurigakan dan saya takut jika dirinya berbuat macam macam kepada penghuni rumah ini."
"Jadi kamu menghadangnya seorang diri? Kenapa tidak teriak atau panggil panggil yang lainnya?"
"Tidak sempat untuk melakukan itu, Tuan Muda. Jika saya berteriak meminta bantuan, belum tentu didengar."
Ana pun menjawabnya dengan kedua tangan yang gemetaran sekaligus berkeringat dingin, dirinya takut salah menjawab pertanyaan dari Rifki sehingga akan membongkar rahasianya itu.
"Soal itu, saya berhutang budi dengan keluarga ini karena telah menerima saya untuk bekerja ditempat ini sebelumnya. Jadi..."
"Siapa dirimu sebenarnya?" Tanya Rifki yang memotong pembicaraan dari Ana yang tengah menjelaskan.
"Maksud Tuan Muda apa?"
"Jurus yang kau gunakan sama persis dengan apa yang aku pelajari, aku tidak pernah mengajarkanmu jurus seperti itu, bagaimana bisa kau lincah dan mahir dalam menggunakannya? Jurus itu buatan dari Kakekku, dan hanya orang tertentu saja yang tau dan tidak dipelajari dalam umum. Yang mempelajarinya hanyalah anak buahku dan juga istriku, Kau belajar darimana ilmu itu? Karena tak seorang pun yang tau tentang jurus itu."
Deg...
Rasanya bagai dihantam oleh sebuah batu besar didalam dadanya, Ana begitu terpukul dengan pertanyaan yang entah akan dijawab seperti apa olehnya. Melihat Ana yang hanya berdiam diri, Rifki langsung berdiri dari tempat duduknya itu dan dirinya pun mendekat kearah Ana.
"Tuan Muda... Anda mau ngapain?" Tanya Ana panik karena Rifki menatapnya tajam.
"Jawab pertanyaanku, Ana. Atau kau memang benar menyembunyikan identitasmu didepanku," Rifki langsung to the point dihadapan Ana.
"Saya tidak pernah menyembunyikan identitas saya, Tuan Muda. Tuan Muda sudah mengetahuinya dengan melihat KTP saya, kan?"
"Bukan itu maksudku. Darimana jurus yang kau pelajari itu berasal? Katakan semuanya kepadaku. Aku tidak pernah melihatmu bertarung secara langsung, yang aku tau kau hanya wanita yang tidak bisa beladiri tapi cerdik. Bagaimana kalau kita bertarung sekarang? Dan juga untuk menguji kemampuanmu."
"Kenapa kau mengujiku seperti ini, Rif. Apa kau sudah tau bahwa aku adalah Nadhira? Mungkin diriku harus secepatnya pergi dari tempat ini, agar identitasku tidak terbongkar." Batin Ana menjerit.
Pikiran dan hatinya kini tengah saling berdebat, sehingga Ana terlihat seperti tengah melamun. Tantangan yang diucapkan oleh Rifki bukanlah main main, dirinya menyesali perbuatannya yang sangat ceroboh itu, hingga bahkan dirinya tidak menyadari bahwa Rifki telah memasang sebuah cctv diarea rumah itu.
"Kenapa hanya diam saja?" Tanya Rifki yang jaraknya kini begitu menipis dengan posisi Ana.
"Saya tidak bisa bertarung dengan anda, Tuan Muda. Jurus yang saya pelajari itu berasal dari pelatihan yang pernah saya ikuti."
"Pelatihan?"
__ADS_1
"Benar. Saya pernah ikuti pelatihan itu diyayasan Surya Jayantara, dan hanya sedikit yang saya bisa."
"Tidak pernah ada wanita luar yang mempelajari seni itu dari Surya Jayantara, aku akan memanggil Pak Hendra untuk datang kemari sebagai pembuktian."
Ana pun terlihat tengah bersusah payah untuk meneguk silivanya sendiri, rasanya detak jantungnya hendak berhenti berdetak saat ini juga, dan rasanya dirinya ingin menghilang dari dunia detik ini. Ingin rasanya dirinya menangis detik ini, akan tetapi air matanya sama sekali tidak mau keluar.
"Jika itu kemauan anda, maka itu hak anda untuk memanggilnya kemari, Tuan Muda. Biarkan Pak Hendra yang akan menjelaskannya nanti," Putus Ana walaupun dengan hati yang berat karena takut akan identitasnya terbongkar.
Rifki tidak mempercayai apa yang dirinya dengar saat ini, kenapa justru wanita yang ada dihadapannya terlihat menantangnya sekarang? Rifki pun tersenyum kecut karena dirinya melupakan sesuatu, bahwasanya Nadhira itu licik dan pintar dalam bermain kata kata.
Rifki pun kembali mengambil ponsel yang dirinya letakkan itu, dia lantas memencet nomor Pak Hendra didalam ponselnya itu, dan dirinya pun melakukan sebuah panggilan kepada nomor ponsel milik Pak Hendra itu.
Tak berselang lama, Pak Hendra yang dimaksud itu pun mengangkat telpon dari Rifki. Mendengar bahwa telponnya telah diangkat, denyut jantung Ana semakin tidak beraturan hingga membuat tangannya gemetaran sekaligus berkeringat dingin saat itu juga.
"Pak Hendra," Ucap Rifki.
"Ada apa, Tuan Muda? Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Hendra yang memang sengaja telponnya dikeraskan oleh Rifki sehingga Ana bisa mendengarnya.
"Pak Hendra, apakah di Surya Jayantara pernah ada seorang wanita yang bernama Novialiana belajar beladiri ditempat itu?" Tanya Rifki yang langsung pada intinya.
"Sebentar saya cek dulu datanya, Tuan Muda. Karena terlalu banyak yang belajar disini, sehingga butuh waktu beberapa jam untuk mencarinya. Kalau sudah ditemukan nanti saya akan langsung hubungi,"
"Nggak perlu di cek disana, kemari dan bawa berkas berkasnya. Aku tunggu dirumah sekarang!"
"Baiklah jika itu kemauan anda, Tuan Muda. Saya jalan kesana sekarang,"
"Aku tunggu!'
Tut... Tut... Tut...
Rifki pun langsung memutuskan sambungan sepihak, dirinya langsung kembali duduk ditempatnya sebelumnya, sementara Ana hanya berdiri tanpa bisa bergerak sedikitpun dari posisinya itu.
Disatu sisi tanpa disadari keduanya, seseorang tengah menguping pembicaraan keduanya sambil menyalakan alat rekam yang ada diponselnya itu. Sosok tersebut langsung mengirimkan rekaman itu kepada seseorang diseberang ponselnya itu, dan ketika sudah cukup rekaman sebagai informasi, ia lalu pergi dari tempat itu.
*****
Tingg!!!
Terdengar suara ponsel yang berbunyi, yang menandakan adanya sebuah pesan masuk. Sosok seorang wanita langsung mengambil ponselnya itu, dirinya pun menerima beberapa pesan dari Cholil sang mata matanya.
Karena penasaran dengan apa yang didapatkan oleh Cholil, Sena langsung membuka pesan tersebut dan memutar sebuah rekaman yang telah disampaikan oleh Cholil dari seberang sana. Rekaman yang berisikan percakapan antara Rifki dan Ana, dan dibagian bawa pesan itu tertulis "Sepertinya memang benar wanita itu adalah Nadhira".
Sena pun memutar pesan suara itu dengan nada yang kencang, dirinya pun mencoba memahami setiap percakapan antara keduanya itu. Dari percakapan tersebut, dirinya bisa mengetahui bahwa Rifki pun juga tengah mencurigai Ana yang diyakini adalah Nadhira yang telah merubah identitasnya.
"Jadi benar Nadhira masih hidup," Guman Sena sambil tersenyum misterius.
"Toni! Toni!" Lantas Sena langsung berteriak memanggil anak buahnya yang bernama Toni.
Pria yang bertubuh kekar nan tinggi tersebut terlihat tengah berlari kearahnya, dengan segera dirinya bergegas untuk memenuhi panggilan dari majikannya itu. Sena mampu membayarnya tinggi oleh karena itu dirinya tidak mau menyia nyiakan hal itu.
"Ada apa, Bos?" Tanya Toni ketika sudah sampai dihadapan Sena.
"Aku memberimu tugas. Cepat tangkap wanita yang bernama Ana itu, dan bawa dia kehadapanku secepatnya!" Sena pun memberi perintahnya.
"Siap laksanakan perintah, Bos! Saya akan membawanya kemari secepat mungkin."
Toni yang diperintahkan itu langsung bergegas pergi dari tempat itu, dirinya harus memikirkan cara bagaimana membawa wanita itu datang dihadapan Sena secepatnya, dan tanpa menyusahkan jika anggota Gengcobra sampai ikut campur dalam hal ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Situasinya sangat tidak bersahabat dengan Ana atau Nadhira dan juga Rifki saat ini, kelengahan keduanya telah menciptakan masalah yang lebih...
Apakah keduanya bisa bersama lagi?
__ADS_1
Duhh... penasaran? Jangan lupa subscribe ya, biar tau kalau Author sudah update... See you