Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Terlambat


__ADS_3

Rifki langsung melepaskan selang oksigen yang terpasang di hidungnya, dan mencabut semua infus dan kabel yang ada ditubuhnya begitu saja. Seberapa keras usaha Putri dan Ayu menghentikannya, akan tetapi keduanya tidak bisa melakukan itu.


Keramaian itu langsung mendatangkan beberapa orang kedalam ruangan itu, terlihat seorang Dokter dan beberapa perawat yang ada disana. Mereka mencoba untuk menghalangi Rifki, dan Rifki pun melihat seorang perawat tengah menyiapkan sebuah jarum suntik.


"Jangan bius aku, Dok. Aku tidak ingin kabur tanpa alasan, aku hanya ingin menyelamatkan istriku. Dia tidak bersalah, dan jika aku telat maka aku akan kehilangannya untuk selamanya. Tolong jangan bius aku," Ucap Rifki sambil memegangi tangan seorang dokter yang membawa suntikan.


"Tapi kondisi anda akan semakin memburuk jika anda pergi dari sini,"


"Aku tidak peduli, Dok. Aku hanya ingin istriku kembali,"


*****


Nadhira tengah berada disebuah ruangan, kedua tangannya tengah diborgol dengan eratnya. Didalam ruangan itu terdapat seorang dokter yang tengah memberi tanda dipakaian Nadhira, yang dimana tanda itu digunakan sebagai sasaran dalam pelaksanaan hukuman.


Tanda itu menunjukkan jantungnya, dan Nadhira hanya bisa pasrah menerima semuanya. Nadhira tidak mampu untuk menolak takdirnya yang harus mati hari ini, siap atau tidaknya hukuman itu tetap akan dilaksanakan hari ini.


Setelah diberi tanda, Nadhira pun dibawa menuju kearah tanah lapang yang ada disebuah gedung. Diperjalanan menuju ke lapangan, Nadhira diiringi oleh beberapa orang dengan membawa senjata berapi disekelilingnya. Kedua tangannya di borgol ke belakang dan dipegangi dengan sangat erat.


Nadhira berjalan melewati perkumpulan para orang yang menginginkan dia mati, hingga dirinya menghentikan langkahnya tepat dihadapan Rendi dan Sena. Nadhira menatap dengan lekat kearah keduanya, dan sebuah senyuman pun muncul dalam wajahnya.


"Selamat menuju ke alam baka," Ucap Sena dengan bangganya karena berhasil memfitnah Nadhira.


"Aku akhirnya tau bahwa ada seorang Ibu yang memperlakukan anaknya sebagai boneka, demi memenuhi ambisinya." Ucap Nadhira dan kembali melanjutkan langkah kakinya.


Nadhira memperlambat jalannya ketika berpapasan dengan Susi, sekilas dirinya melihat kearah Susi dan kembali membuang muka dari hadapannya. Nadhira di giring menuju ketengah lapangan yang dimana sudah terdapat sebuah tiang yang tegak berdiri, dirinya di posisikan berdiri dengan kedua tangan diikat kebelakang.


"Apa keinginan terakhirmu?" Tanya salah satu dari orang yang membawa Nadhira kepada Nadhira.


"Aku ingin bertemu dengan suamiku, tapi itu percuma. Sekarang sudah tidak ada lagi keinginanku," Ucap Nadhira dengan tatapan kosong.


Disatu sisi, Rifki tengah berlari untuk kabur dari rumah sakit itu. Dirinya ingin menghentikan hukuman yang akan diterima oleh Nadhira, bahkan dia sama sekali tidak peduli dengan kesehatannya sendiri.


Dibelakangnya terlihat beberapa anggota Gengcobra yang tengah mengejarnya saat ini, Rifki berlarian didalam lorong rumah sakit dengan dikejar oleh anggota Gengcobra. Rifki ingin pergi untuk menolong Nadhira, karena Nadhira sama sekali tidak salah dalam hal ini.


Rifki mengetahui kejadian yang sebenarnya, bagaimana Amanda tewas dan beberapa orang lainnya. Sena benar benar licik, sehingga dirinya bisa memalsukan kejadian yang sebenarnya kepada publik. Disini, Nadhira lah yang dianggap salah, bahkan dia menjadi penyebab utama kematian orang orang itu.


Ketika sampai di gerbang rumah sakit, tiba tiba Rifki menabrakkan dirinya ditembok karena mendadak kepalanya terasa sangat pusing. Bayu yang memang berada tidak jauh darinya pun langsung bergegas mendekat kearahnya, dirinya pun langsung memegangi tubuh Rifki dengan eratnya.


"Dhira nggak boleh pergi, Bay. Aku harus menghentikannya," Ucap Rifki dengan histeris.


"Kita hentikan sama sama, Rif. Dhira harus tetap hidup," Ucap Bayu.


Rifki pun mengangguk kepada Bayu, tak beberapa lama kemudian sosok Reno pun datang sambil mengendarai sebuah mobil. Bayu dan Rifki langsung bergegas masuk kedalam mobil itu, sementara yang lainnya masuk kedalam mobil masing masing.


*****


Mereka mengikat tangan Nadhira dengan eratnya, bahkan Nadhira tidak akan mampu melepaskannya sendirian. Nadhira sama sekali tidak memberontak, meskipun ikatan itu terasa menyakitkan di pergelangan tangannya karena sangking eratnya.


"Pak, bisa kah anda memberiku waktu 5 menit untuk menatap ke langit dan berdoa? Hanya 5 menit, setelah itu anda boleh menutup kedua mata saya," Ucap Nadhira ketika melihat sebuah kain yang digunakan untuk menutup kedua matanya.


"Baiklah, aku beri waktu hanya 5 menit. Lakukan apa yang kau inginkan," Ucapnya kepada Nadhira.


"Terima kasih."


Nadhira pun memejamkan kedua matanya seraya merasakan hembusan angin di sekitarnya, terasa sangat tenang dan damai meskipun dirinya berada tidak jauh dari pasukan bersenjata. Nadhira memandang kearah langit nan luas, begitu banyak mimpi yang belum sempat ia raih.


"Ini tidak terlalu menakutkan. Paling hanya terasa perih sesaat, setelahnya udah nggak terasa lagi sakitnya. Sudah biasa dengan luka, kenapa masih takut terluka? Rifki maaf ya, aku harus pergi secepat ini darimu. Aku ingin kau datang, dan memelukku disaat aku hendak meregangkan nyawa, dan aku ingin mati didalam pelukanmu sayang."

__ADS_1


Rendi yang melihat Nadhira menikmati udara di sisa nyawanya, mendadak hatinya terasa sakit entah kenapa. Rendi merasa hatinya sakit, tapi ia tidak mengetahui mengapa dirinya merasakan hal seperti itu ketika melihat wanita yang hendak dihukum mati saat ini.


Beberapa saat telah berlalu, Rendi melihat mereka mulai menutup kedua mata Nadhira. Karena fokusnya dalam melihat, sehingga dirinya tidak menyadari ada yang datang mendekat kearahnya. Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat mulus di pipi kirinya.


"Kau jahat, Mas. Kau biarkan putri kandungmu sendiri mati, hanya demi putri angkatmu dan wanita iblis ini!" Seorang wanita muncul didepan Rendi dengan linangan air matanya.


"Kau siapa?" Tanya Rendi kebingungan dan sulit untuk mengingat.


"Aku adalah Ibunya. Kau boleh melupakanku, tapi tidak dengan anakmu sendiri. Dia adalah Nadhira! Putrimu kandungmu sendiri, Mas. Hentikan semuanya sekarang, sebelum kau menyesali semuanya!"


"Apa kau adalah Lia?"


"Iya, aku memang Lia dan aku sudah ingat semuanya. Kau tidak berhak merenggut nyawa anakku, aku tidak akan pernah membiarkannya begitu saja."


"Apa buktinya kalau dia adalah Dhira? Dhira sudah mati belasan tahun yang lalu, bagaimana bisa orang yang mati hidup lagi?" Tanya Sena sambil menjatuhkan Rendi dari hadapan Lia.


"Dasar wanita licik. Kau lah pembunuh yang sebenarnya, bukan anakku."


Lia bergegas pergi menuju ke tengah lapangan untuk menghentikannya, akan tetapi tindakannya itu langsung dicegah oleh pasukan bersenjata lainnya. Lia sama sekali tidak di perbolehkan untuk mendekat kearah lapangan, meskipun memberontak seperti apapun itu, ia akan tetap gagal melakukannya.


"Dhira!!! Lepaskan aku!!! Dhira!!! Dhira tidak bersalah!!!" Teriak Lia.


Mendengar teriakkan itu membuat Nadhira mengernyitkan dahinya, dirinya pernah mendengar suara itu tapi dia lupa dimana. Suara itu adalah suara yang paling dia rindukan, dan setitik air mata merembes keluar dari kain yang menutupi kedua matanya.


"Mama, apakah Mama masih hidup? Ataukah hanya pendengaranku yang salah?" Guman Nadhira lirih ketika mendengar teriakan itu.


Teriakan seorang ibu berbeda jauh dari yang lainnya, dan suara itu yang paling dia rindukan selamanya. Nadhira bahkan tidak bisa berbuat apa apa, bahkan walaupun hanya sekedar memeluk tubuh orang yang paling di rindukannya.


Pasukan Brimob pun tengah siap dengan senjata mereka, bahkan senjata api mereka telah diarahkan kepada tanda yang telah dibuat sebelumnya di dada Nadhira. Mereka hanya tinggal menunggu perintah dari atasannya untuk menembak jantung Nadhira, dan di pastikan bahwa Nadhira tidak akan merasa sakit begitu lama.


Nadhira hanya mampu mendengar keributan ditempat itu tanpa bisa melihatnya, hanya ada kegelapan yang dirinya lihat dan rasa perih dari ikatan itu. Ini belum dilaksanakan hukuman mati, akan tetapi dirinya sudah lelah dengan rasa sakit dan dunia yang terlalu bising.


Nadhira diminta untuk berdoa sebelum aba aba dimulai, dan disaat itu juga bibirnya bergetar pertanda bahwa dirinya tengah menangis. Nadhira terus meyakinkan dirinya bahwa hal ini tidaklah sakit, dan meskipun sakit tapi hal itu tidak akan berlangsung lama.


"Hitungan mundur dimulai, tiga..... dua..... Sa...."


"Hentikan! Kalian menghukum orang yang salah!" Teriak Rifki yang baru tiba ditempat itu.


Dooorrrrr....


"Ya Allah..." Teriak Nadhira.


Sebuah peluru melesat menembus didada Nadhira, rasa yang teramat sakit pun kini tengah dirinya rasakan. Peluru itu berhasil melesat sebelum ada aba aba mulai dari petugas dan menembus dada Nadhira begitu saja, kejadian itu pun tidak dapat dihindarkan lagi.


Rifki pun membulatkan kedua matanya ketika melihat darah keluar dari luka tembakkan itu, dirinya pun langsung bergegas menuju ke lapangan.


"Dhira!!!!" Teriak Rifki histeris.


"Dhira!! Tidak mungkin!" Teriak Lia yang langsung berlutut ditempat itu ketika melihat peluru itu menembus dada anaknya.


"Dhira!!!" Teriak orang orang yang menyayangi Nadhira.


"Nona muda!!" Teriak anggota Gengcobra serempak.


Seluruhnya bahkan tidak mampu menahan air matanya, dan seketika itu kesedihan menyelimuti tempat itu. Semuanya telah terjadi, tidak akan ada yang bisa untuk memutar waktu kembali, dan segalanya telah terlambat untuk dihentikan.


Tidak ada yang bisa menghentikan Rifki, karena anggota Gengcobra berusaha untuk membukakan jalan untuknya. Bayu pun menjelaskan kepada orang orang yang ada disana, bahwa mereka telah menghukum orang yang salah. Seketika itu terjadilah kekacauan ditempat itu, dan anggota Gengcobra tidak terima bahwa Nyonya mereka dihukum mati.

__ADS_1


Rifki langsung berlari menuju ketempat dimana Nadhira berada, dirinya langsung melepaskan ikatan tangan Nadhira. Setelah ikatan itu dibuka, tubuhnya pun langsung ambruk begitu saja dan Rifki langsung siap siaga untuk menangkapnya.


Rifki pun membuka penutup mata Nadhira, dan menyandarkan kepalanya didada bidangnya. Nadhira berusaha untuk menoleh kearah Rifki, dan dirinya pun tersenyum melihat Rifki sudah bangun dari komanya.


"Dhira kau harus bertahan, aku akan segera membawamu ke rumah sakit. Kau harus bertahan,"


Nadhira menggeleng gelengkan kepalanya pelan sambil menahan rasa sakitnya, "Percuma, yang terkena tembak adalah jantungku, aku sudah tidak tahan lagi, Rif."


"Tidak, kau harus kuat demi diriku. Maafkan aku karena telat untuk datang, hikss... Hiks... Hiks... Kau harus sembuh," Isakkan tangis pun keluar dari mulut Rifki.


Nadhira memejamkan kedua matanya sambil merasakan rasa sakit yang tengah ia rasakan, rasanya teramat sangat luar biasa sakitnya. Dirinya bahkan terlihat kesulitan untuk mengambil nafas, rasa sesak didadanya semakin parah hingga setetes darah keluar dari ujung bibirnya.


"Mama," Seorang gadis remaja mendekat kearah Nadhira yang terbaring dengan bersandarkan dada bidang Rifki.


Mendengar panggilan dari anak itu, langsung membuat Rifki menoleh kearahnya. Wajah yang sama sekali tidak asing baginya, begitupun juga dengan Kinara yang terus menatapnya dengan linangan air mata.


"Siapa kamu?" Tanya Rifki.


"Dia adalah anakmu, Rif. Namanya Kinara," Ucap Nadhira lemah sambil memegangi erat tangan Rifki.


"Dia anakku?"


"Rif, aku sudah menjaga anak kita dengan baik. Sekarang, aku berikan tugas itu kepadamu untuk merawat dan menjaganya. Dia anak kita satu satunya, darah dagingmu."


"Maksud Mama apa? Om baik adalah ayahku?" Tanya Kinara yang masih mengingat tentang Rifki sebelumnya.


"Iya sayang, dia adalah ayahmu."


Kinara pun semakin histeris, orang yang selama ini dirinya cari ternyata selalu ada didekatnya, dan bahkan sama sekali tidak ia ketahui. Nadhira masih menggenggam erat tangan Rifki, dari kuatnya genggaman itu dapat diketahui bertapa sakitnya dirinya saat ini.


"Dhira," Ucap seseorang dengan sesenggukan ketika melihat Nadhira yang terbaring lemah.


Nadhira pun melirik kearah seseorang yang memanggilnya itu, tapi Nadhira tidak mengenali wajah dari wanita yang ada dihadapannya itu. Akan tetapi, Nadhira dapat mengetahui sosok tersebut hanya dengan nada bicaranya.


"Mama masih hidup?" Tanya Nadhira dengan nada bicara yang terbata bata.


"Iya Nak, maafkan Mama selama ini yang telah meninggalkan Dhira."


Nadhira merasa bahagia karena dapat bertemu dengan Lia meskipun diakhir kisahnya, ia hanya menyesali satu hal. Yakni, kenapa dia harus pergi disaat semua orang yang dicintainya telah kembali? Ini sangat menyakitkan.


"Akhirnya keinginanku jadi kenyataan, dan maafkan anakmu ini, Ma. Dhira tidur dulu ya? Dhira tunggu kalian semua di syurga-Nya."


Seketika ucapan itu membuat seluruhnya berlutut dihadapan Nadhira, wajahnya semakin lama terlihat sangat pucat. Air matanya terus saja mengalir tanpa ada penghalang, dan dirinya menatap satu persatu orang yang ada ditempat itu.


"Rif, rasanya sakit sekali, aku tidak tahan lagi. Bantu aku," Ucap Nadhira dengan berat karena kedua matanya ingin sekali terpejam.


"Dhira jangan bilang seperti itu, aku nggak mau kamu pergi seperti ini," Ucap Rifki.


"Bebaskan aku dari rasa sakit ini, Rif. Aku mohon, ikhlaskan aku pergi,"


Rifki pun hanya bisa mengangguk pelan, air matanya pun menetes mengenai pipi Nadhira. Melihat anggukan itu, Nadhira pun tersenyum tipis meskipun dapat dilihat rasa sakit dari raut wajahnya.


"Aku rindu pelukanmu, Sayang. Peluk aku dengan erat sampai aku terpejam, jangan pernah lepaskan aku sampai hembusan nafas terakhirku," Ucap Nadhira lirih tapi masih mampu untuk didengar Rifki.


Rifki pun memeluk tubuh Nadhira dengan sangat eratnya, bahkan kekuatan dari wanita itu telah menghilang. Nadhira merasa bahwa tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk digerakkan, seperti seluruhnya tengah terasa mati rasa.


Ditengah tengah pelukannya itu, Rifki pun mulai membimbing Nadhira, dan diikuti oleh Nadhira dengan perlahan lahan. Tiada satu kata pun yang keluar dari mulut orang orang yang tengah mengelilinginya, hanya terdengar suara isakkan tangis tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2