Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Perjuangan Nadhira


__ADS_3

Haris dan Aryabima berada dijaring yang berbeda, akan tetapi mereka bersebelahan. Sementara, anggota inti Gengcobra lainnya juga berpisah dijaring mereka masing masing kecuali Bayu dan Andre yang berada dijaring yang sama.


"Harus ada yang memancing mereka untuk pergi dari sini terlebih dahulu," Ucap Aryabima.


"Memancing mereka? Bagaimana bisa memancing mereka untuk pergi dari sini Tuan?" Tanya Fajar yang kebingungan dengan ide dari Aryabima.


"Dengan satu jaring yang harus terlepas, dan 10 orang itu harus memancing mereka untuk pergi agar yang lainnya bisa selamat," Jelas Haris yang mengerti maksudn dari ucapan Aryabima.


"Kami siap melaksanakan perintah Tuan," Ucap anggota Gengcobra yang terpisah dari jaring Aryabima dan Haris secara bersamaan.


"Tidak, aku tidak bisa mengorbankan kalian dalam hal seperti ini, kalian harus menjadi pelindung Rifki," Ucap Aryabima.


Auuuu.... Auuuuuu.....


Suara ngaungan pun terdengar dari kawanan binatang buas tersebut, mereka seperti mendapat mangsa baru saat ini. Melinat orang orang yang bergantung diatas membuat mereka langsung mendongakkan wajahnya keatas.


Kawanan serigala kalau menyerang tidak pernah sendirian, mereka akan menyerang secara berkawan. Dan karena itu, mereka mengaung untuk memanggil kawannya yang lain agar berkumpul ditempat tersebut, untuk menunggu mangsa mereka terjatuh.


"Sial, jika meraka terus mengaung maka akan banyak serigala yang datang kemari," Umpat Bayu.


"Semakin banyak yang datang akan membuat kita semakin kewalahan untuk menghadapi para serigala itu," Sambung Vano.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan tetap bergelantungan diatas sini? Cepat atau lambat kita semua akan jatuh, tidak ada tali yang mampu menahan beban kita lama kelamaan," Ucap Reno.


"Butuh beberapa hari Ren, kau lihat tali yang besar itu? Itu bahkan sanggup untuk menarik mobil truk yang sangat besar," Seru Fajar sambil menunjuk keatas, lebih tepatnya kearah tali yang mengikat jaring jaring tersebut.


"Diamlah, itu hanya istilah saja," Jawab Reno.


"Iya ya hanya istilah, sekarang nyawa kita taruhannya kau tau itu, kita harus pikirkan gimana caranya untuk bisa lepas dari sini dan juga terbebas dari kawanan binatang buas itu,"


"Coba pikirkan hal itu,"


"Otakku sangat minim, untuk memikirkan hal itu saja sudah sangat pusing."


*****


Nadhira terus mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk keluar dari kamarnya itu, ia pun menemukan beberapa selimut yang ada didalam almari pakaiannya. Nadhira lalu mengikatnya menjadi satu hingga membentuk seperti sebuah tali yang panjang, ia mengikatnya dengan sangat erat sehingga akan aman jika dia turun melalui tali tali dari selimut tersebut.


"Seperti ini cukup kuat, semoga saja aku bisa mendarat sampai tanah dengan aman,"


Nadhira langsung membawanya keluar menuju ke balkonnya, Nadhira pun mengikatnya kearah pagar balkon tersebut. Nadhira mencoba menariknya dengan sekuat tenaga akan tetapi ikatan tersebut cukup kuat hingga membuat Nadhira merasa yakin bahwa itu adalah aman.


Ia pun menerawang seberapa tinggi balkon kamarnya dengan tanah yang ada dibawahnya. Nadhira lalu melepaskan selimut tersebut hingga ikatan selimut yang bersambungan itu sampai di rerumputan halaman rumah Nadhira.


"Sepertinya ini sangat kuat. Aku harus pergi dari sini dan menyelamatkan Rifki, Rifki tidak memiliki banyak waktu lagi,"


Nadhira pun perlahan lahan mulai turun melalui tali tersebut, meskipun agak merinding ketika melihat bawah akan tetapi dirinya tidak boleh menyerah begitu saja. Salah satu anggota Gengcobra melihat Nadhira sedang bergelantungan dari dalam ruangan melalui sebuah cendela kaca yang cukup besar.


"Astaga, Non Dhira!" Teriaknya.


"Woi Non Dhira mau kabur!"


"Cepat datangi semuanya, jangan biarkan Non Dhira kenapa napa!"


Mereka pun segera bergegas untuk menuju kehalaman rumah tersebut, dengan cepatnya mereka segera berlari untuk menangkap Nadhira yang sedang bergelantungan dengan nekatnya itu. Sesampainya dihalaman hal itu langsung membuat Nadhira sangat terkejut.


"Ya Allah, Non Dhira ngapain disana?" Teriak salah satu anggota Gengcobra.


"Minggir kalian semua!" Teriak Nadhira.


"Non, itu tinggi banget loh, gimana kalo Non Dhira jatuh nanti?" Tanyanya dengan khawatir dengan apa yang dilakukan oleh Nona Muda mereka itu.


"Kalo kalian ngak minggir sekarang, aku lompat nih!" Ancam Nadhira kepada mereka.


"Jangan Non, haduh kami bisa mati kalo Non Dhira loncat dari sana!"


"Pergi kalian semua!"


Nadhira masih tetap bergelantungan diatas karena anggota Gengcobra tidak mau pergi dari tempatnya itu. Tanpa Nadhira sadari bahwa ikatannya yang paling atas perlahan lahan mulai sedikit terlepas, Nadhira yang merasakan itu pun langsung membelalakkan kedua matanya.


"Aaaa...."


Ikatan itu pun terlepas begitu saja, Nadhira meluncur dengan cepat menuju ketanah. Akan tetapi, anggota Gengcobra dengan sigap langsung memberikan sebuah kasur dibawah Nadhira sehingga Nadhira pun terjatuh diatas kasur. Melihat itu langsung membuat anggota Gengcobra bernafas dengan leganya, karena Nona Muda mereka mendarat dengan aman.

__ADS_1


Nadhira pun memegangi jantungnya yang berdetak sangat kencangnya itu, untung saja anggota Gengcobra dengan sigap menyediakan kasur untuknya mendarat. Ketika mereka semua berlari keluar rumah, beberapa anggota Gengcobra langsung bergegas mengambil sebuah kasur yang tidak terlalu besar, mereka tau bahwa tali dari selimut tersebut tidaklah terlalu kuat sehingga hal seperti ini akan terjadi.


"Non Dhira ngak papa kan?" Tanya Andre, salah satu anggota inti Gengcobra yang diperintahkan untuk menjaga Nadhira ditempat itu.


"Ngak apa apa, hanya perutku sedikit sakit," Ucap Nadhira sambil memegangi perutnya.


"Ya Allah, Non. Kenapa nekat seperti ini sih Non, bagaimana kalo terjadi sesuatu dengan Non Dhira, apa kita antarkan ke rumah sakit saja?"


"Ngak usah, aku ingin segera menyusul Rifki."


Nadhira langsung bangkit berdiri dari kasur tersebut, dan langsung dicegah oleh Andre. Hal itu langsung membuat Nadhira memukul dada Andre dengan sangat kerasnya, agar lelaki itu membiarkan dirinya untuk pergi dari sana.


"Maaf Non, anda tidak boleh kemana mana," Ucap Andre sambil menyengir akibat pukulan dari Nadhira.


"Minggir! Rifki membutuhkanku," Perintah Nadhira.


"Tapi Non, anda dilarang pergi dari rumah ini, ini perintah dari Tuan Besar,"


"Kalian melarangku? Berani sekali kalian menentang ucapanku sekarang!" Sentak Nadhira.


"Kami tidak berani menentangmu Nona Muda, tapi kami juga tidak berani menentang ucapan Tuan Besar kalau tidak kami akan dibunuh olehnya,"


"Minggir kalian semua!"


"Ngak Nona, lebih baik Nona ikut kami kembali kekamar Nona,"


Bhukkk... Bhukkk...


Nadhira pun menghajar anggota Gengcobra yang mencoba untuk menghalanginya, meskipun anggota Gengcobra sama sekali tidak melawannya akan tetapi Nadhira terus menghujani mereka dengan pukulan maupun tendangan yang ia bisa.


Anggota Gengcobra tersebut pun kewalahan untuk mencegah tindakan dari Nadhira, tidak ada diantara mereka yang bisa mencegah apa yang dilakukan oleh Nadhira saat ini. Melihat itu langsung membuat Nadhira berlari keluar dari halaman rumahnya, sementara anggota Gengcobra langsung mengejarnya begitu saja.


Dengan segera Nadhira menghentikan sebuah taksi yang melintas didepan rumahnya itu, Nadhira pun langsung masuk kedalam taksi tersebut dan menutup pintunya, ia pun meminta kepada sang sopir untuk segera menjalankan taksinya.


"NONA MUDA!" Teriak anggota Gengcobra yang kalah cepat dengan gerakan Nadhira.


Mereka pun menghentikan langkah kakinya karena merkea tidak akan sanggup untuk mengejar Nadhira dengan berlari, beberapa anggota Gengcobra langsung bergegas masuk kembali kehalaman rumah tersebut untuk menaiki mobilnya mengejar Nadhira.


Dengan cepat mereka pun melajukan mobil tersebut untuk mengejar Nona Mudanya, karena mereka tidak ingin terjadi sesuatu dengan Nona Mudanya itu. Tak beberapa lama kemudian akhirnya mereka bisa menyusul mobil taksi yang dinaiki oleh Nadhira, melihat itu langsung membuat Nadhira meminta kepada sopir itu untuk mempercepat laju taksinya.


"Aku akan membayar 3 kali lipat jika perlu, tolong Pak. Suami saya tidak bisa menunggu terlalu lama lagi,"


"Tapi Mbak..."


"Pak, abaikan mobil yang dibelakang. Kita harus segera sampai dilokasi itu, aku ngak mau suamiku kenapa kenapa!" Sentak Nadhira kepada sang sopir.


"Baik Mbak,"


Tidak ada pilihan lain selain menurut kepada penumpangnya itu, ia pun melajukan mobil tersebut lebih cepat lagi. Tak beberapa lama kemudian ponsel milik Nadhira itu pun berdering, ia melihat bahwa nama Andre tertera didalam ponsel miliknya itu.


Nadhira pun mengabaikan telpon tersebut akan tetapi berulang ulang kali Andre memanggilnya. Karena jengkelnya akhinya Nadhira pun mengangkat telpon tersebut.


"Non jangan nekat kesana sendirian," Ucap Andre dari seberang sana.


"Aku ngak peduli! Aku harus menyelamatkan suamiku," Ucap Nadhira dengan nada tinggi.


"Saya tau Non, sebaiknya kita kekantor polisi terlebih dahulu. Saya tidak bermaksud untuk menghentikan anda, Tuan Besar memberitahukan kepada saya bahwa mereka terkena jebakan disana, lebih baik kita lapor kepada polisi," Saran Andre.


"Jebakan? Jebakan apa yang kau maksud itu?"


Nadhira sangat terkejut mendengarnya, bagaimana mungkin Haris dan Aryabima terkena jebakan disana, lalu bagaimana dengan nasib Rifki jika mereka tidak bisa menyelamatkan diri dari jebakan tersebut.


"Mereka terkena jebakan jaring Nona Muda, dan dibawah mereka ada begitu banyak serigala. Jika kita kesana dengan keadaan seperti ini, kita sama saja dengan mengantarkan nyawa sendiri,"


"Lalu bagaimana?"


"Berhentilah Non, ikut ke mobil kita saja,"


"Baiklah,"


Nadhira pun memutuskan telponnya tersebut, ia pun meminta kepada sopir taksi yang menghentikan lanju mobilnya itu. Setelahnya, Nadhira langsung memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada sang sopir itu, sesuai dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya.


Melihat mobil taksi yang berhenti membuat anggota Gengcobra yang menyopir mobil yang ada dibelakangnya pun ikut menghentikan laju mobilnya. Beberapa anggota Gengcobra langsung keluar dari dalam mobil itu untuk mendatangi Nadhira yang sudah turun.

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Nadhira kepada Andre.


"Sebaiknya kita cari bantuan Nona Muda, Tuan Besar dan yang lainnya terkena jebakan. Beberapa anggota Gengcobra lainnya sudah berangkat kesana untuk membantunya, mungkin Nona Muda memiliki solusi untuk hal ini,"


"Jika disana hanya jebakan, lantas kemana mereka membawa Rifki pergi? Mungkin Rifki sudah datang kesana tapi mereka membawa Rifki pergi dari tempat itu. Mereka tau bahwa kita akan menyusulnya sehingga mereka membawa Rifki menghindar,"


"Lalu kita cari dimana Nona? Akan sangat sulit jika mencari seseorang tanpa mengetahui kemana dia pergi,"


"Hanya ada satu tempat, kita pergi kesana!"


Nadhira pun terpikirkan dengan keberadaan dari Desa Mawar Merah, yang diincar oleh mereka adalah keris pusaka xingsi sementara keris itu berada didalam tubuh Rifki. Desa Mawar Merah adalah satu satunya tempat dimana kedua kekuatan itu berasal, hal itulah yang membuat Nadhira terpikirkan dengan keberadaan dari desa itu.


Nadhira lalu bergegas masuk kedalam mobil tersebut dan diikuti oleh anggota Gengcobra lainnya, ada tiga mobil yang mengikuti mobil yang dinaiki oleh Nadhira saat ini, dan ada sekitar 50 anggota Gengcobra yang menjaga Nadhira sekarang.


Mobil mobil itupun melaju meninggalkan tempat tersebut, anggota Gengcobra hanya bisa menuruti kemauan dari Nadhira tanpa membantahnya. Memang Nadhira maupun Rifki tidak suka dibantah, apalagi dalam keadaan terdesak seperti ini sehingga mereka hanya menuruti ucapan Nadhira.


"Ndre, perintahkan anggota Gengcobra yang ada dimobil sebelah untuk menuju kekantor polisi," Ucap Nadhira memerintahkan kepada Andre.


"Baik Nona Muda, perintah anda akan saya laksanakan segera,"


"Bagus,"


*****


Darah bercucuran keluar dari mulut dan juga anggota tubuh Rifki yang terkena cambukan. Rifki terlihat tidak berdaya saat ini apalagi ikatan yang sangat erat ditubuh, kaki, dan juga tangannya itu. Akan tetapi, Rifki masih mampu untuk tersenyum dengan cerahnya, wajah Rifki terlihat sedikit bercahaya dan jiwa karismanya pun keluar.


"Kalian tidak akan bisa memiliki keris pusaka xingsi ini, jika aku mati. Maka, aku akan ikut serta menghancurkannya detik ini," Ucap Rifki dengan senyuman yang mengembang.


"Hentikan! Atau aku akan menyakiti seluruh keluargamu," Ancamnya.


Orang itu pun langsung mengeluarkan ponselnya, ia mengarahkan layar ponselnya kearah Rifki. Dimana didalam vidio tersebut terlihat Aryabima, Haris, dan anggota Gengcobra lainnya sedang berjuang. Dibawah mereka terdapat beberapa serigala liar yang sedang mengaung.


Aryabima dan Haris terus berteriak untuk meminta dilepaskan. Melihat itu, langsung membuat Rifki mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat. Ia pun menatap tajam kearah sosok lelaki yang tengah berada didepannya itu.


"Nyawa mereka, ada ditanganku."


"Brengseekkkk!!" Sentak Rifki, "Lepaskan mereka, mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini. Lepaskan mereka!"


"Hahaha... Lepaskan mereka? Aku dengan susah payah menangkap mereka tapi kau memintaku untuk melepaskan mereka? Itu tidak akan mungkin."


"Lepaskan mereka, atau ku bunuh kalian semua!"


Rifki nampak terlihat sangat emosi kali ini, ia sama sekali tidak memedulikan rasa sakit yang ada didalam tubuhnya itu. Ia mengepalkan tangannya dengan erat dan mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut dengan sekuat tenaga yang ia miliki.


"Aku sangat takut hahaha... Sebaiknya kau serahkan keris pusaka xingsi itu kepadaku, atau nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya,"


"Sampai mati, aku tidak akan pernah menyerahkan keris pusaka xingsi ini kepada kalian. Kalian tidak akan pernah mendapatkan keris ini,"


"Kau keras kepala sekali!"


Plakkk...


Orang tersebut pun memukul kepala Rifki dengan sangat kerasnya menggunakan sebuah batang kayu. Hal itu langsung membuat kepala Rifki mengeluarkan darah, Rifki merasakan pusing yang teramat sangat dari luka tersebut.


Darah yang mengucur deras tersebut langsung mengalir ke pipi Rifki, darah itu juga menetes mengenai pakaian Rifki. Rifki memejamkan kedua matanya merasakan rasa sakit yang ada dikeningnya itu, rasa sakit bercampur dengan pusing yang kini ia rasakan.


"Kau ada ditanganku! Jangan pernah melawanku!" Sentak orang tersebut sambil mengencangkan erat dagu Rifki.


"Kau pikir aku takut denganmu? Lepaskan mereka!"


"Tidak akan pernah! Nyawa kalian berada didalam genggamanku, begitu mudah aku bisa membunuh kalian semua sekarang,"


"Tong kosong nyaring bunyinya, kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Bunuh aku kalau bisa dan lepaskan mereka semua,"


"Kau boleh berkata seperti itu, sebentar lagi kau tidak akan bisa berkata lagi dan bahkan kau tidak akan bisa tersenyum kembali,"


Orang tersebut pun memegangi dada Rifki dan menekankan dengan erat. Rifki pun merasakan sakit yang teramat sangat, seakan akan tenaga yang ada didalam tubuhnya dihisap begitu saja oleh lelaki tersebut.


"Akh... Apa hanya ini yang kamu bisa?" Rifki pun mendes*h kesakitan karena ulahnya.


"Kau tidak akan bisa melawanku, akan ku renggut sendiri keris pusaka xingsi itu dari dalam tubuhmu!"


"Kau tidak akan mampu, jika kau renggut paksa, maka kekuatannya akan hilang, bukankah itu percumah saja?"

__ADS_1


"Omong kosong! Keris itu akan tetap memiliki kekuatan,"


__ADS_2