Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kebahagiaan yang dinantikan


__ADS_3

Nadhira dan Sarah saling berpandangan satu sama lain ketika mendengar ucapan Rifki yang begitu tulus dan tegas dengan tekadnya kepada Nadhira, Nadhira memegangi lengan Sarah dengan eratnya dan sedikit menganggukkan kepalanya kepada Sarah.


"Pulanglah lalu tidur dengan nyenyak, jangan pernah kau bermimpi untuk mendapatkan hati cucuku yang cantik ini".


"Oma mengusirku untuk pergi dari sini? Kenapa Oma?" Tanya Rifki dengan nada begitu terkejut mendengar ucapan Sarah.


"Iya, pergilah dari sini sekarang juga, jangan coba coba kau mendekati Nadhira".


"Tidak Oma, tolong beri Rifki kesempatan sekali lagi Oma, biarkan Rifki mendampingi Nadhira, Rifki tidak ingin ada yang menyakiti Nadhira".


"Itu tidak perlu, kenapa kau harus memilih cucuku? Sementara diluar sana banyak yang lebih baik daripada dirinya itu".


"Rifki sangat mencintai Nadhira dengan tulus Oma, Rifki tidak peduli dengan sosok yang lebih sempurna daripada dirinya diluar sana karena memang Rifki bukanlah manusia yang sempurna seperti yang Oma inginkan itu, tugas Rifki hanyalah menyempurnakan bukan meminta yang lebih sempurna daripada dirinya Oma".


"Kenapa kamu tidak mau pergi? Pergilah sebelum jalan keluar dari sini Oma tutup".


"Ngak Oma, Rifki akan tetap disini"


Rifki tetap pada pendiriannya untuk dapat bersama dengan Nadhira, ia terus memohon kepada Sarah agar mengizinkan dirinya untuk memiliki Nadhira dengan sepenuhnya.


"Menurutmu bagaimana dengan pemuda ini Nak?" Tanya Sarah kepada Nadhira.


"Dibelakangmu ada sosok yang lebih sempurna daripada diriku Rif, lebih cantik daripada aku, lebih baik daripada aku, dan lebih segalanya daripada aku" Ucap Nadhira dan seketika membuat seluruhnya menoleh kebelakang Rifki kecuali Rifki sendiri.


Rifki sama sekali tidak mempedulikan ucapan Nadhira mengenai sosok yang ada dibelakangnya, meskipun seluruh menoleh kearah dimana yang ditunjuk oleh Nadhira akan tetapi Rifki tetap menatap wajah Nadhira yang ada dibelakang punggung Sarah.


"Aku tidak peduli Dhira, kecantikan hanyalah sesaat didunia ini, seberapapun cantik orang tersebut itu akan sia sia karena semuanya akan berakhir didalam tanah, tapi kecantikan akhlak akan sampai ke jannah, aku melihatmu bukan dari wajahmu Dhira, tapi dari hatimu" Jawab Rifki dengan mantapnya.


"Apa kau serius dengan ucapanmu? Lihatlah sesaat dirinya, dia tersenyum kepadamu dan kau pasti akan mencintainya nanti".


"Biarkan saja, aku hanya memilihmu untuk menjadi pendamping dalam hidupku Dhira bukan orang itu, meskipun dia tersenyum kepadaku bukan berarti dia yang terbaik untuk diriku".


Mendengar jawaban itu membuat Nadhira tersenyum, ia pun memegangi tangan Sarah dengan eratnya, sementara Sarah masih tidak bergeming karena itu, ia belum puas untuk mendengar jawaban dari Rifki.


"Bagaimana kalau orang yang ada dibelakangmu adalah seseorang yang paling kau rindukan?" Tanya Sarah kepada Rifki.


"Hanya Nadhira yang aku rindukan Oma dan hanya ada dirinya yang ada didalam hatiku selama ini"


"Apa itu kepuasanmu?"


"Iya Oma, Rifki tidak perduli dengan sosok yang sesempurna apapun itu, yang Rifki inginkan hanyalah Nadhira seorang".


"Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan hati Nadhira, tapi wujudkanlah mimpimu itu"


"Maksud Oma?"


Rifki sama sekali tidak tau apa yang dimaksud oleh Sarah saat ini, dia tidak diperbolehkan untuk memiliki Nadhira akan tetapi dia malah menyuruhnya untuk mewujudkan mimpinya itu, dan entah kenapa Rifki sama sekali tidak paham soal ucapan itu.


Rifki merasa heran kenapa sejak tadi Nadhira tersenyum kearahnya sedangkan Sarah mengatakan bahwa dia telah menjodohkan Nadhira dengan orang lain, bahkan mendengar ucapan Sarah membuat senyuman diwajah tersebut Nadhira mengembang begitu saja.


"Aku serahkan tanggung jawab Nadhira sepenuhnya kepadamu dan jangan pernah pulangkan dia kepada Oma, tolong jaga dan lindungilah dia dengan baik, jangan pernah sakiti hatinya sekecil apapun itu, sudah cukup dirinya menderita selama ini, Oma tidak ingin melihat lagi air matanya jatuh".


"Itu artinya Oma menyetujui hubungan kami?" Tanya Rifki dan langsung dibalas anggukan oleh Sarah.


"Iya Nak, mendengar jawabanmu membuat Oma merasa tenang jika Nadhira hidup bersamamu".


"Terima kasih Oma, Rifki janji kepada Oma bahwa Rifki akan menjadi suami yang baik bagi Nadhira dan Ayah yang baik bagi anak anak kami, Rifki janji tidak akan pernah menyakiti hati Nadhira dan akan selalu bersama Nadhira hingga ajal menjemput, Rifki akan selalu membimbing Nadhira dan menemani dirinya disuka dan duka" Senyuman kebahagiaan tercipta diwajah Rifki dengan kedua mata yang berkaca kaca.


Mendengar itu membuat air mata kebahagiaan Nadhira menetes begitu saja, ini adalah hal yang paling dinantikan oleh keduanya, mendengar jawaban itu seketika membuat suasana haru ditempat tersebut.


Bi Ira dan juga lainnya yang menyaksikan itu pun ikut menangis haru, ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi semuanya, Bi Ira menangis sesenggukan mendengar itu hal yang paling diimpikan olehnya sekarang akan menjadi kenyataan.


"Jangan pernah menyakiti hati cucuku ini, kau adalah pilihannya dan jangan sia siakan seseorang yang mampu mencintaimu dengan tulus seperti cucuku ini" Ucap Sarah sambil memegangi pipi Nadhira yang basah karena air mata.


"Oma" Ucap Nadhira dan langsung menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Sarah.


Sarah membalas pelukan tersebut dan mengusap pelan punggung Nadhira yang bergetar karena isak tangis tersebut, merasakan ucapan lembut dari Sarah membuat Nadhira merasa sangat nyaman.


"Oma tidak menyangka bahwa kau sudah sebesar ini Nak, dan kau akan menjadi istri orang lain untuk meninggalkan Oma sendirian, huftt.. rasanya rumah ini akan kembali sepi seperti sebelumnya, terima kasih telah menemani Oma selama ini Nak"


"Oma, Nadhira akan tetap menjadi cucu Oma sampai kapan pun, selamanya akan menjadi cucu Oma dan Dhira mau tinggal bersama Oma seterusnya, Dhira ngak mau pergi Oma".


"Jadilah istri yang baik Nak, terima semua kekurangan suamimu, karena surga seorang istri ada ditelapak kaki suaminya, seandainya Lia tau bahwa anaknya akan menikah dengan orang yang tepat mungkin dia akan bahagia, kedua cucuku akan pergi kerumah mertuanya disaat yang bersamaan"


"Dhira tidak mau pergi Oma, Dhira mau bersama Oma disini dan terus menemani Oma hingga tua nanti, Dhira ngak mau berpisah dengan Oma"

__ADS_1


"Kau harus mengikuti calon suamimu Nak, kemanapun dia berada kau harus ada disebelahnya".


"Tapi Dhira ngak mau Oma, Dhira ingin selalu tinggal bersama Oma"


"Jika seperti itu mintalah kepada suamimu, apakah dia akan menyetujuinya?".


"Apapun yang membuat Nadhira bahagia, Rifki akan menyetujuinya Oma, kemanapun Dhira mau Rifki akan selalu ada disampingnya untuk menemaninya sampai ajal menjemput" Ucap Rifki.


"Lihatlah, kau memang tidak salah pilih Nak, semoga kalian akan selalu bersama dan tidak akan ada yang mampu memisahkan kalian meskipun itu adalah maut sekalipun"


Jawaban itu membuat Nadhira merasa bahagia karena Rifki akan selalu menuruti keinginannya, Nadhira merasa sangat beruntung karena memiliki Rifki yang selalu menerima kekurangannya dan juga selalu ada untuknya.


"Pergilah Nak, mintalah restu kepada Ayahmu juga, apapun yang telah Ayahmu lakukan kepadamu, jangan pernah membenci dirinya" Ucap Sarah sambil melepaskan pelukan tersebut.


Seketika itu membuat Nadhira terdiam begitu saja, bukannya Nadhira tidak ingin menemui Papanya akan tetapi Nadhira teringat kembali tentang kejadian yang menimpa Mamanya waktu itu yang disebabkan oleh Rendi dan Sena.


Mendengar kediaman dari Nadhira membuat Rifki segera mendekat kearahnya dan memegangi pundak Nadhira hingga membuat Nadhira menoleh kearahnya saat ini.


"Apa kau masih membenci Papamu sendiri Dhira?" Tanya Rifki.


"Aku tidak membencinya Rif dan sampai kapanpun aku tidak bisa melakukan itu Rif, hanya saja aku sendiri masih merasa kehilangan Mama gara gara dia" Ucap Nadhira.


"Aku tau apa yang kamu rasakan saat ini Dhira, jika aku berada diposisimu juga pasti akan melakukan hal yang sama, jika kau tidak ingin menemuinya maka biarlah aku sendiri yang akan datang kepadanya untuk meminta restunya"


"Aku ikut denganmu"


"Apa kau yakin untuk melakukan itu Dhira? Jangan paksakan dirimu jika kau merasa tidak yakin, aku hanya tidak ingin kau lebih terluka lagi nantinya jika bertemu dengan Papamu dan juga Amanda"


"Aku... Aku hanya ingin menemanimu"


"Baiklah, kita berangkat sekarang?"


"Iya Rif"


Rifki dan Nadhira langsung bergegas berpamitan kepada Sarah dan juga yang lainnya, keduanya langsung masuk kedalam mobil milik Rifki yang disupir langsung oleh Bayu, didalam mobil tersebut hanya ada Rifki, Nadhira, Bayu dan juga Susi saja, sedangkan yang lainnya kembali kemarkas.


Nadhira merasa gugup ketika mobil itu sudah berjalan meninggalkan halaman rumahnya, Rifki yang melihat itu segera memegangi tangan Nadhira dengan sangat erat dan mencoba untuk menenangkan perasaan Nadhira saat ini.


"Aku tau kau pasti masih kecewa dengan Papamu kan Dhira? Tapi ingatlah, dia juga pernah membesar dirimu Dhira, menimangmu disaat kau masih kecil"


"Tapi Rif, dia juga yang merenggut nyawa Mama dan memisahkan aku dari Mama, aku tidak tau apa yang dialami Mama waktu itu, pasti dia sangat kecewa ketika mengetahui bahwa Papa lebih memilih simpanannya daripada dirinya"


"Tapi Rif, aku tidak bisa menghilangkan perasaan kecewaku, aku sangat kecewa ketika mengetahuinya Rif, bagaimana mungkin aku bisa menghilangkan rasa kekecewaan itu?"


"Yang berlalu biarlah berlalu Dhira, jangan pernah menyimpan sebuah dendam didalam hatimu, dendam ibarat sebuah buah yang kau simpan didalam saku bajumu, lama kelamaan buah itu juga akan busuk dan tercium sangat tidak enak, jika kau terus menyimpannya maka kau sendiri yang merasa tidak enak, dan solusinya adalah menyingkirkan buah busuk itu"


"Benar itu Dhira, aku setuju dengan ucapan bocah tolol ini, ya meskipun otaknya kadang bijak kadang ngak, tapi itu benar" Sela Susi sambil menunjuk kearah Rifki yang duduk dibelakangnya bersama dengan Nadhira.


"Sudah diamlah, jangan ikut campur urusan mereka" Tegur Bayu kepada Susi.


"Eh kenapa kau jadi yang menyuruhku diam? Eh aku lupa, kau akan pengawal pribadinya pantas saja kau sangat membela dia".


"Diam atau ku lakban tuh mulutmu sekalian".


"Iya ya aku diam, gitu aja marah".


"Mulutmu emang tidak bisa dikondisikan Sus, apa pasienmu ngak langsung naik darah kalo seperti itu?"


"Ya kali naik darah, palingan juga langsung is dead".


"Tega sekali kau Sus".


"Lebih tega lagi sama tuh bocah, enak saja dia mau milikin temenku seutuhnya lagi, bagaimana kalo dia suka mukul nanti, bisa bisa jadi KDRT" Sindir Susi.


"Kenapa jadi diriku sih yang kena sasaranmu? Emang aku punya salah apa sebenernya dengan dirimu itu? Sensitif banget deh" Tanya Rifki.


"Karena kau sering menjitak kepalaku dan itu tidak bisa dimaafkan sama sekali" Jawab Susi.


"Emang orang yang ada disebelahmu ngak?"


"Iya juga sih, tapi kan ngak separah dirimu Rif".


"Udah overdosis dong?"


"Sudah tidak tertolong tau ngak sih".

__ADS_1


Nadhira hanya tersenyum mendengar ocehan dari teman temannya itu, melihat senyuman Nadhira mengembang membuat ketiganya merasa senang, akhirnya mereka bisa membuat Nadhira tertawa.


"Jangan sedih Dhira, hari bahagiamu akan tiba" Ucap Susi sambil menoleh kearah Nadhira.


"Aku tidak menyangka bahwa kalian akan segera menikah secepat ini" Tambah Bayu.


"Setidaknya aku masih memiliki kalian yang selalu membuatku tertawa, aku merasa seperti orang yang sangat beruntung didunia ini, meskipun bukan karena beruntung memiliki keluarga" Ucap Nadhira sambil meneteskan air mata bahagia.


"Kami akan selalu ada untukmu Dhira, karena kita adalah best friends forever, benarkan?" Ucap Susi.


"Aku setuju dengan ucapan Susi kali ini" Ucap Rifki.


"Iya Dhira, kita adalah teman dan akan selalu seperti itu seterusnya" Tambah Bayu.


"Kau bisa menganggapku apapun Dhira, entah teman berantem, sahabat, seorang Kakak, dan apapun itu" Ucap Rifki sambil menatap kearah Nadhira.


"Terima kasih Rif, kau yang terbaik".


"Kalo ingin bermesraan jangan disini woi, apa kau tidak kasihan dengan temanmu ini ha?" Omel Susi.


"Kau dan Bayu sama sama jomblo, bagaimana kalau kalian bersama saja? Bukankah itu ide yang bagus? Benerkan apa yang aku katakan Dhira?"


"Kau benar Rif? Bagaimana kalau kita jodohkan aja kedua orang itu?"


"Ide yang bagus Dhira".


"Eh kalian mau jadi mak comblang ha?" Tegur Susi.


"Bisa jadi, kalian cocok sekali" Jawab Nadhira dan Rifki secara bersamaan.


Karena terlalu serunya bercanda gurau didalam mobil hingga membuat mereka tidak menyadari bahwa sudah sampai ditempat tujuan mereka, yakni rumah lama Nadhira yang sudah ditinggalkan oleh Nadhira sejak lama.


"Kenapa sepi sekali?" Tanya Nadhira.


"Aku juga ngak tau Dhira, ayo turun dan memeriksanya sendiri didalam".


Nadhira hanya mengangguk kepada Rifki, mereka pun segera turun keluar dari mobil itu dan berjalan menuju kegerbang utama rumah tersebut, keempat orang itu begitu terkejut ketika telah sampai digerbang rumah itu.


"Sejak kapan rumah ini dijual?" Tanya Nadhira dengan perasaan sedihnya.


Ketika mereka telah sampai didepan gerbang, mereka melihat bahwa digerbang itu terdapat tulisan bahwa rumah tersebut telah dijual, dan entah kemana perginya Rendi beserta dengan Amanda.


Melihat tulisan rumah itu dijual membuat Nadhira merasa sangat sedih karena disanalah tempat dimana penuh dengan kenangan masa kecilnya, apalagi tempat itu terdapat sebuah kenangan dimana dirinya bersama dengan Mamanya.


"Jangan sedih Dhira, aku akan beli rumah ini untuk dirimu" Ucap Rifki.


"Makasih Rif, kemana Papa pergi?"


"Aku tidak tau Dhira, aku akan memerintahkan anggota Gengcobra untuk mencarinya, jangan khawatir soal itu".


"Iya Rif".


"Dhira, aku merasa suasana disini sangat berbeda dari sebelumnya" Ucap Susi.


"Maksud kamu apa Sus?" Tanya Nadhira.


"Dulu kalau aku datang kemari aku merasa sangat nyaman Dhira, penuh kehangatan didalam rumah itu, tapi lihatlah sekarang rumah itu rasanya begitu sayup dan tidak ada kebahagiaan didalamnya, bahkan bunga bunga yang kita tanam bersama sama pun sudah layu dan tidak tersisa"


"Kau benar Sus, rumah bukanlah sebuah tempat tapi rumah adalah adanya sebuah keluarga, jika tempat itu sudah tidak ada kehangatan dari sebuah keluarga maka untuk tinggal saja sudah tidak nyaman, dan pulang bukanlah kepada rumah tapi kepada orang tua" Jawab Rifki.


"Akankah rumah itu kembali seperti dulu? Dimana selalu ada kebahagiaan didalamnya, aku sangat merindukan masa kecilku" Ucap Nadhira.


"Bagaimana kalau kita menyuruh Bi Ira tinggal disini Dhira? Supaya nanti kita memiliki rumah untuk pulang suatu saat nanti" Saran Rifki.


"Apakah Ibu mau tinggal disini Rif?" Tanya Nadhira.


"Pasti, dia kan juga butuh keluarga Dhira, bagaimana kalau Fika dan anak panti lainnya bisa datang kapan saja dirumah ini? Bukankah rumah ini akan kembali hangat seperti dulu?".


"Kau benar Rif, suatu saat nanti kita juga bisa pulang kemari dan berkumpul bersama".


"Iya Dhira, dan Bi Ira pasti tidak akan menolak, lagi pula dirumahmu yang sekarang juga sudah ada Bi Sari yang menemani Oma, kau kan ingin kalau Bi Ira dan Pak Santo segera menikah, bagaimana kalau ini sebagai hadiah pernikahannya?"


"Bagaimana kau tau hal itu Rif? Siapa yang mengatakan itu kepadamu?".


"Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku Dhira, bagaimana mungkin hal yang membahagiakan seperti itu aku tidak mengetahuinya?"

__ADS_1


Nadhira justru tersenyum mendengar pertanyaan itu, setelah cukup lama memperhatikan rumah tersebut Rifki mengajak yang lainnya untuk pulang karena percuma saja jika berlama lama ditempat itu sementara pemilik rumah tidak ada dirumahnya.


Nadhira hanya pasrah mendengar ajakan dari Rifki, setelah itu keempatnya segera bergegas kembali masuk kedalam mobil pribadi milik Rifki, dan setelahnya mobil tersebut segera melaju untuk meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2