Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Datanglah seorang penolong


__ADS_3

Nadhira mengusap pipi Rifki dengan pelan, ia pun menghapus noda darah yang mengalir dari sudut bibir Rifki, merasakan bahwa Rifki sudah tidak sadarkan diri membuat Nadhira menangis sejadi jadinya dan bahkan dirinya kehilangan kendali akan dirinya sendiri dan terus berteriak, teriakan itu mengandung sebuah kekecewaan yang sangat besar bagi siapa saja yang mendengarnya.


Nadhira segera mengalungkan tangan Rifki kelehernya dan membantu Rifki untuk berdiri, dirinya harus membawa Rifki pergi dari tempat itu untuk mencari bantuan ditengah tengah hutan seperti ini, akan sangat sulit untuk membawa Rifki kerumah sakit dalam keadaan seperti ini.


"Rifki bertahanlah".


Dengan susah payah Nadhira membuat Rifki berdiri, ia pun mengalungkan kedua tangan Rifki kelehernya dan mencoba untuk berjalan membawa Rifki pergi dari tempat itu, setelah cukup lama berjalan akhirnya tenaga Nadhira sudah tidak mampu lagi untuk diajak berkompromi.


Nadhira tidak ingin menjatuhkan Rifki, sehingga dirinya segera menurunkan Rifki dari bahunya dengan perlahan lahan sebelum tenaganya benar benar habis, setelah itu Nadhira menyandarkan tubuh Rifki disebuah pohon yang cukup besar.


"Kau harus bertahan Rif, jangan tinggalkan diriku".


Nadhira memegangi tangan Rifki dengan erat dan menempelkan tangan tanya Rifki kepada pipinya, ia berharap bahwa Rifki akan membuka kedua matanya dan menatapnya seperti sebelumnya.


"Rifki, apa kau mendengarkan suaraku? Bangunlah Rif, aku mohon hiks.. hiks.. hiks.. jangan tinggalkan aku seperti ini Rif hiks.. aku mohon kepadamu, bertahanlah demi diriku".


"Maafkan aku Dhira, aku begitu lemah sampai sampai aku tidak mampu membuka kedua mataku, aku tidak tau, sampai kapan aku akan bertahan dalam kondisi seperti ini" Batin Rifki.


Rifki masih mampu untuk mendengar suara Nadhira, akan tetapi dirinya tidak mampu untuk berbuat apa apa, bahkan genggaman tangan Nadhira tidak mampu ia balas.


"Jika kau pergi dari hidupku, aku mohon bawalah diriku ikut serta bersamamu Rifki, aku tidak ingin berpisah dari dirimu, bagaimana aku bisa menjalani hari hariku tanpa kehadiranmu".


Nadhira mengenggam erat tangan Rifki dan dia sangat berharap bahwa Rifki mampu mendengar suaranya dan Rifki akan membuka kedua matanya itu untuk menatap kearahnya, mata indah itu kini tengah tertutup dengan sangat rapatnya.


Wajah Rifki terlihat begitu memperihatinkan dengan banyaknya luka memar yang ada disudut bibirnya, ada dipipinya bahkan ada luka memar yang ada di pelipis kanan dan kirinya, dan luka memar itu tertutup oleh darah segar yang masih mengalir.


Nadhira menandangi sekitarnya yang nampak masih gelap gulita, dan itu artinya adzan subuh belum berkumandang, tiba tiba Nadhira melihat seseorang dengan memakai jubah hitam yang menutupi kepalanya, dan orang itu memakai sebuah penutup wajah yang serasi dengan jubahnya.


"Siapa kau!" Ucap Nadhira ketakutan.


"Tenanglah, aku bukanlah orang jahat" Ucapnya dibalik penutup wajahnya.


Rifki mampu mendengarkan ucapan itu akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa, walaupun hanya sekedar bersuara saja dirinya tidak mampu untuk melakukan itu, apalagi hanya untuk membuka kedua matanya itu.


"Apa yang kau inginkan dari kami?" Tanya Nadhira sambil memeluk tubuh Rifki.


"Aku hanya ingin menyelamatkan nyawanya saja, aku adalah utusan dari Pangeran Kian, untuk membantu keturunannya itu, kau tidak perlu khawatir tentang kedatanganku ketempat ini".


Pangeran Kian mengutus seseorang untuk menyelamatkan keturunannya itu, karena masih ada tugas yang penting belum Rifki selesaikan, sehingga Pangeran Kian harus berusaha untuk dapat menolong keturunannya itu, yang sebenarnya ditugaskan untuk menghancurkan keris pusaka xingsi dan juga permata iblis.


"Apa kau memiliki hubungan dengan Pangeran Kian? Siapa kau sebenarnya? Apa kau bisa menyelamatkan Rifki? Tolong selamatkan Rifkiku".


Orang itu segera mendekat kearah dimana Rifki sedang bersandar dan memeriksa denyut nadinya untuk mengetahui kondisi dari Rifki, dan orang itu segera membuka baju Rifki dengan tinggi agar dia mampu mengetahui luka tusukan itu.


Darah yang mengalir keluar tersebut pun mulai sedikit kering sebagian hingga membuat dirinya kesusahan untuk membuka baju Rifki yang sudah berlumuran darah itu, Nadhira yang melihat itu tidak mampu berkata kata ataupun berbuat apa apa kepada Rifki.


"Cukup dalam juga lukanya".


Setelah bajunya terbuka orang itu segera menabur sebuah serbuk kepada luka yang ada diperut Rifki, dan Rifki mengernyitkan dahinya karena perih yang ia rasakan saat ini, melihat itu membuat Nadhira segera meneluk tubuh Rifki dan berharap bahwa Rifki mampu untuk menahan rasa sakit itu.


Rifki yang tadinya tidak sadarkan diri menurut Nadhira, tiba tiba mengernyitkan dahinya karana rasa sakit dari taburan serbuk tersebut membuat Nadhira merasa cemas karena itu, ia sangat takut untuk kehilangan Rifki dari kehidupannya.


"Apa yang terjadi dengan Rifki?" Tanya Nadhira yang mencemaskan keadaan Rifki.

__ADS_1


Akan tetapi pertanyaan dari Nadhira sama sekali tidak dijawab oleh orang itu, sementara orang itu terus memberikan bubuk putih kepada luka yang dimiliki oleh Rifki, Nadhira memegangi pipi Rifki yang kini tengah bermandikan keringat yang bercucuran.


"Aarghhhh...." Teriak Rifki seketika.


"Rifki kau kenapa? Apa yang terjadi kepada Rifki? Kenapa dia berteriak seperti ini?" Nadhira begitu panik ketika melihat Rifki terus berteriak kesakitan dan terus memeluk tubuh Rifki dengan eratnya.


Orang itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Nadhira, Rifki merasakan bahwa orang tersebut tengah menyalurkan eneginya kepada luka Rifki hingga hal itu membuatnya kesakitan akan tetapi suara isak tangis Nadhira yang begitu menyakitkan terdengar begitu lirih olehnya.


Nadhira tidak mengetahui apa yang sedang dialami oleh Rifki saat ini, Rifki mencoba untuk dapat menggerakkan tangannya dan dirinya mengepalkan kedua tangannya dengan begitu erat karena rasa sakit yang ia terima saat ini.


"Aarghhhh....."


Rifki mengepalkan tangannya dengan begitu kuatnya dan mencoba untuk bangkit dari tidurnya itu, akan tetapi Nadhira segera memeluknya dengan erat karena ia tidak ingin pengobatan yang diberikan oleh utusan Pangeran Kian gagal.


"Rifki tenanglah aku mohon".


Keringat mulai bercucuran dari tubuh Rifki dan pernafasannya mulai memburu karena rasa sakit yang ia rasakan saat ini, Rifki terus berteriak ketika merasakan bahwa orang itu menekan lukanya dengan sangat kerasnya.


Rifki pun menggerakkan seluruh tubuhnya karena rasa sakit itu, dan berusaha untuk menghindar dari tekanan yang diberikan oleh orang yang tidak ia kenali tersebut, rasa sakit itu lebih menyakitkan daripada ketika sebuah pisau menancap pada perutnya itu.


"Jangan banyak bergerak atau lukamu akan semakin parah nantinya, kau telah kehilangan begitu banyak darah saat ini, jika tidak segera ditolong maka kau akan kehilangan nyawamu sendiri" Ucap orang tersebut kepada Rifki.


Mendengar ucapan orang itu seketika membuat Nadhira memegangi tangan Rifki dengan eratnya dan mendekapnya dalam pelukannya itu agar Rifki tidak banyak bergerak, Nadhira sangat tidak tega ketika melihat Rifki kesakitan seperti itu apalagi kini tubuhnya terasa begitu dingin dengan keringat yang tiada hentinya untuk mengalir.


"Rifki jangan banyak bergerak, aku mohon kepadamu hiks.. hiks.. hiks.. apa kau mendengar suaraku sekarang Rif, aku mohon tenanglah, aku tidak ingin kehilangan dirimu Rifki, bertahanlah demi diriku Rifki aku mohon" Tangis Nadhira.


Mendengar suara Nadhira membuat Rifki dengan perlahan lahan mulai membuka kepalan tangannya itu, Nadhira merasa lebih tenang ketika Rifki dapat mendengarnya perkataan itu meskipun teriakan Rifki terus berdengung ditempat itu.


"Arghhhh..."


"Jika aku bisa mengambil rasa sakitmu itu, aku akan mengambil sekarang juga Rif hiks.. hiks.. hiks.. dan memindahkannya kedalam tubuhku sendiri, aku tidak sanggup jika harus melihatmu seperti ini, Rifki aku mohon bertahanlah demi diriku, kau pasti bisa Rif".


Tangisan Nadhira itu langsung membuat Rifki membuka matanya sedikit, tanpa Nadhira ketahui bahwa kini Rifki tengah menangis ketika mendengar Nadhira mengatakan hal seperti itu, ini adalah hal yang sangat menyakitkan dan dirinya juga tidak akan pernah sanggup untuk melihat Nadhira terluka dan bahkan merasakan hal yang sama.


"Dhira.. Dhira.. akh.." Rifki memanggil nama Nadhira beberapa kali dengan lemahnya.


"Aku ada disini untukmu Rif, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu Rifki, kau harus bertahan demi diriku Rif, kau pasti kuat dan aku sangat yakin akan hal itu" Ucap Nadhira sambil mengusap pelan punggung Rifki yang ada didalam pelukannya itu.


Rifki mengangguk pelan kepada Nadhira, rasa sakit itu sudah lebih mendingan saat ini daripada sebelumnya sehingga Rifki sudah tidak berteriak lagi, entah berkurang karena energi itu atau berkurang karena kehangatan dari Nadhira yang diberikan kepadanya saat ini.


Setelah cukup lama Rifki merasa lebih baik dan sudah tidak terlalu sakit, tiba tiba dirinya kembali merasa begitu sakit karena orang itu memegangi dadanya dan mengalirkan sebuah energi hingga membuat keris pusaka xingsi yang ada didalam tubuhnya itu bereaksi kembali.


"Argahhhh.... Sakit...."


"Apa yang kau lakukan kepada Rifki!".


Rifki merasakan energi yang sangat besar yang masuk kedalam tubuhnya melalui tangan dari orang itu, hingga membuat jantungnya berdetak dengan kencangnya, tangan orang itu menekan area jantungnya dan tekanannya itu ia arahkan kebawah sampai menyentuh kembali luka tusukan yang ada dibagian perut Rifki dan hal itu membuat Rifki sangat kesakitan dan berteriak kembali.


"Arghhhh... Lepaskan!"


"Rifki"


Rifki sudah tidak tahan untuk menahan rasa sakit itu dan hal itu sontak membuat Rifki langsung dapat menggerakkan tangannya untuk memegangi tangan orang yang kini menekan lukanya itu dengan eratnya, ia mencoba untuk mengangkat tangan itu dari lukanya saat ini karena rasa perihnya.

__ADS_1


Rifki akhirnya dapat menghela nafas dengan leganya beberapa kali ketika orang itu segera melepaskan tekanannya terhadap luka dari Rifki disaat Rifki berusaha untuk mengangkat tangannya dari lukanya, dan Rifki langsung melepaskan pegangan tangannya dari tangan orang tersebut.


"Pengobatannya belum selesai Nak, setelah adzan subuh berkumandang nanti, tubuhku akan perlahan lahan menghilang lagi dan aku tidak akan bisa mengobatimu untuk itu, kita harus bisa memanfaatkan waktu dengan baik dan segera mengobati lukamu itu" Ucap orang itu.


"Itu sakit sekali" Ucap Rifki dengan lemah.


"Tahanlah, kau adalah satu satunya keturunan dari Pangeran Kian yang masih tersisa didunia ini dan kau masih memiliki banyak tugas yang perlu kau lakukan didalam kehidupan ini, itulah kenapa kau yang terpilih menjadi keturunannya".


"Apa yang terjadi dengan Rifki? Tolong hentikan ini semua, jangan sakiti Rifki lagi aku mohon hiks.. hiks.. hiks.. tubuhnya sangat lemah saat ini, aku mohon jangan sakiti Rifki ku" Tangis Nadhira yang tidak sanggup menahan air matanya ketika melihat Rifki menjerit kesakitan.


"Jika pengobatan ini dihentikan begitu saja, aku tidak tau sampai kapan Rifki akan bernafas, apalagi didalam hutan seperti ini, butuh waktu lama untuk membawanya kerumah sakit, dengan energi yang aku berikan Rifki akan mampu bertahan beberapa hari sampai kau bisa membawanya kerumah sakit".


Merasakan bahwa kini Rifki mampu bernafas dengan lega membuat Nadhira ikut lega, akan tetapi seketika pernyataan dari orang tersebut membuat Nadhira mencoba untuk membujuk Rifki agar dia mau untuk melanjutkan pengobatannya.


"Rifki, biarkan dia mengobatimu ya, aku ada disini untukmu Rifki, kau pasti akan baik baik saja, aku tidak tau kapan anggota Gengcobra akan datang untuk menolong kita, dan aku tidak ingin kehilangan dirimu, kita lanjutkan pengobatannya ya?" Ucap Nadhira sambil mengusap punggung Rifki dan Rifki masih dapat mendengar isak tangisnya.


"Dhira, aku sudah tidak kuat lagi, biarkan aku pergi sekarang Dhira".


Rifki merasa bahwa tubuhnya terasa begitu lemah dan rasa sakit tersebut terus menyerangnya terus menerus, hal itu sudah tidak mampu untuk ditahan olehnya, ia berpikir bahwa ini adalah akhir baginya.


"Tidak Rif, tolong jangan tinggalkan aku hiks.. hiks.. kau pasti bisa bertahan demi diriku, kau harus kuat Rifki aku mohon" Nadhira memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya.


"Dhira, jangan menangis Dhira, aku tidak ingin melihatmu menangis seperti ini, karena aku sudah tidak mampu lagi untuk menghapus air matamu itu" Ucap Rifki pelan dengan lemasnya dan meneteskan air matanya.


"Kau pasti bisa bertahan Rifki, kita akan berjuang bersama sama, kau pasti bisa Rifki, Rifkiku adalah pemuda yang sangat kuatkan, kita hadapi bersama sama, biarkan dia mengobatimu ya Rif" Ucap Nadhira sambil memeluk tubuh Rifki dengan erat.


"Itu akan sia sia Dhira, aku benar benar sudah tidak sanggup untuk bertahan lagi Dhira".


"Rifki, jangan katakan hal seperti itu aku mohon, kau harus bertahan Rif, aku melarangmu untuk menyerah, dan kau tidak boleh menyerah begitu saja Rifki, kau pasti bisa".


"Maafkan aku Dhira uhuk.. uhuk.." Rifki terbatuk batuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Tidak! Aku melarangmu untuk pergi Rifki! kau tidak boleh pergi dariku hiks.. hiks.. hiks.. kau pernah berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan meninggalkan diriku Rifki, jika harus pergi maka biarkan aku yang pergi terlebih dahulu, aku melarangmu untuk melakukan itu".


"Jangan menangis Dhira"


"Rifki, kau harus bertahan demi diriku ya, biarkan dia mengobatimu Rifki, kita tidak boleh menyia nyiakan waktu Rif, apa pun hasilnya nanti kau harus bertahan".


Rifki mengangguk pelan kepada Nadhira dan menuruti apa yang dikatakan oleh Nadhira saat ini, hal itu membuat Nadhira merasa bahagia atas keputusan dari Rifki dan dirinya juga merasa sedih ketika harus melihat Rifki kesakitan seperti itu.


Melihat anggukan pelan dari Rifki tersebut membuat orang itu segera menekan kembali luka tusukan yang ada diperut Rifki sambil mengalirkan sebuah energi gaib kepada Rifki, dan hal itu sontak membuat Rifki kembali berteriak lagi.


"Arghhh....." Rifki kembali berteriak kesakitan sementara Nadhira memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya seolah olah dia merasakan apa yang dirasakan oleh Rifki.


Melihat Rifki yang kembali berteriak membuat Nadhira meneteskan air matanya, ia pun membisikkan sholawat nabi kepada Rifki dan berharap bahwa Rifki akan merasa tenang, Nadhira sendiri kembali mengusap pelan punggung Rifki yang tengah memejamkan matanya saat ini.


Tangan Rifki mengepal begitu kuatnya karena rasa sakit itu, melihat itu membuat Nadhira segera memegangi tangan tersebut dengan eratnya, dan mengusapnya dengan pelan.


"Tenanglah Rif" Bisik Nadhira.


Sesaat kemudian Rifki kembali merasa tenang dan hal itu membuat orang tersebut mampu menghentikan pendarahan yang dialami oleh Rifki dengan begitu tenang dan mampu untuk menutup lukanya dengan kekuatan gaib meskipun hal itu tidak mampu menutup luka itu sepenuhnya.


"Kenapa dia tidak bergerak?" Tanya Nadhira dengan paniknya karena tidak ada gerakan dari Rifki dan bahkan Rifki pun memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2