
Mereka yang mendapatkan pesan suara dari kelompok Fajar segera bergegas menuju ketempat dimana Fajar dan yang lainnya berada, Fajar segera membuat Nadhira dan Rifki duduk sambil menunggu anggota Gengcobra yang lainnya berkumpul.
Fajar begitu terkejut ketika melihat banyaknya luka sayatan yang ada di sekujur tubuh Rifki, dan bahkan baju yang dikenakan oleh Rifki telah disobek sobek dengan begitu banyaknya darah dibaju tersebut.
Sementara Nadhira tidak mengalami luka serius, Nadhira hanya tidak sadarkan diri karena kelelahan saja, Fajar mencoba untuk membuat Nadhira tersadarkan dari pingsannya, akan tetapi Nadhira sama sekali tidak merespon dirinya.
"Apa yang terjadi kepada mereka?" Tanya Bayu yang baru tiba ditempat itu dengan tergesa gesa.
Bayu pun segera mendekat kearah kedua sahabatnya yang tidak sadarkan diri itu, ia memeriksa keadaan Rifki yang terlihat begitu lemah dan juga denyut nadinya sedikit melambat daripada sebelumnya sementara Nadhira denyut nadinya normal akan tetapi dia tidak sadarkan diri karena kelelahan.
"Rifki sadarlah! Dhira apa yang terjadi denganmu?" Bayu mencoba untuk menyadarkan keduanya dengan menggoyang goyangkan tubuh mereka, akan tetapi keduanya masih tetap tidak sadarkan diri.
"Saya tidak tau Tuan Bayu, saya menemukannya sudah salam kondisi seperti ini" Ucap Fajar.
"Bagaimana kalian bisa menemukan keduanya? Aku tadi lewat ditempat ini tapi tidak menemukan keberadaan mereka berdua".
"Kami dituntun oleh seorang mahluk gaib yang telah merasuki rekan kami, dia bilang bahwa mahluk tersebut adalah mahluk yang sering mengikuti Tuan Muda Rifki"
"Mahluk gaib? Bagaimana bisa?".
"Kami juga tidak tau, dia mengaku bahwa namanya adalah Raka, dan dia menuntun kami untuk mendekat ketempat ini dengan cara merasuki salah satu rekan kami Tuan Bayu".
"Baiklah, cepat bawa Rifki ke dalam mobil, biar aku yang akan mengangkat tubuh Nadhira, kita harus segera membawanya kerumah sakit secepatnya, aku takut terjadi sesuatu dengan Rifki karena darahnya bercucuran begitu banyak".
"Baiklah Tuan".
Fajar dan yang lainnya segera mengangkat tubuh Rifki untuk pergi dari tempat itu, sementara Bayu segera mengangkat tubuh Nadhira yang juga segera pergi dari tempat tersebut.
Mereka segera membawa Nadhira dan Rifki menuju kerumah sakit dengan segera mungkin, sesampainya disana para dokter segera menangani keduanya, beberapa alat medis pun mulai dipasang ditubuh Rifki yang mengalami luka paling parah sementara Nadhira hanya dipasangkan sebuah infusan dan juga selang oksigen.
"Semoga mereka baik baik saja" Ucap Bayu yang melihat Nadhira dipasangkan infus sementara Rifki dibawa masuk kedalam sebuah ruangan gawat darurat karena luka yang dimilikinya.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" Haris datang dengan paniknya ketika dirinya diberi kabar oleh anggota Gengcobra bahwa Rifki masuk kedalam rumah sakit saat ini.
"Rifki kehilangan banyak darah Om, Dokter sedang menanganinya saat ini, terlalu banyak luka yang sedang dia alami Om" Ucap Bayu yang mendekat kearah Haris.
"Ya Allah, Rifki".
"Om yang sabar ya, kita hanya bisa berdoa semoga Rifki baik baik saja, aku yakin bahwa Rifki akan segera sembuh dan akan kembali lagi bersama dengan kita".
"Semoga saja Rifki mampu bertahan kali ini, lalu bagaimana dengan gadis itu? Apa dia terluka parah seperti Rifki saat ini?".
"Dia hanya tidak sadarkan diri karena kelelahan saja kok Om, keadaannya jauh lebih baik sekarang setelah ditangani oleh Dokter".
Haris hanya mengangguk, ia tau bahwa ini adalah resikonya untuk menyelamatkan permata itu dari orang orang yang berniat jahat untuk memilikinya, tak beberapa lama kemudian salah satu Dokter keluar dari tempat dimana Rifki ditangani.
"Permisi, dengan keluarga Mas Rifki" Ucap Dokter itu.
"Iya Dok, saya orang tuanya" Ucap Haris.
"Pasien mengalami pendarahan yang cukup parah karena luka tusukan yang ada diperutnya dan luka sayatan yang ada dipunggung, stok darah dirumah sakit sedang kosong, kami harap ada yang ingin mendonorkan darah untuk pasien".
"Ambil darah saya saja Dok, saya adalah orang tuanya dan darah saya pasti cocok untuknya".
"Baiklah Pak, mari ikut dengan kami untuk pemeriksaan".
Haris pun mengikuti langkah Dokter tersebut untuk menuju ketempat dimana Rifki ditangani, Haris merasa terluka ketika melihat tubuh anak laki lakinya terbaring kembali diatas kasur rumah sakit tanpa memakai sebuah baju dengan begitu banyak alat yang terpasang begitu rapi didada bidangnya itu dengan selang selang yang panjang.
Haris pun mengikuti langkah Dokter tersebut untuk menuju ketempat dimana Rifki ditangani, Haris merasa terluka ketika melihat tubuh anak laki lakinya terbaring kembali diatas kasur rumah sakit tanpa memakai sebuah baju dengan begitu banyak alat yang terpasang begitu rapi didada bidangnya itu dengan selang selang yang panjang.
__ADS_1
Haris pun segera diminta untuk duduk disebuah kursi yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit, dan segera melakukan pemeriksaan untuk kondisi dari Haris, apakah dirinya siap atau tidak untuk mendonorkan darahnya kepada Rifki.
Hasil pemeriksaan itu begitu bagus hingga proses pendonoran itu akan segera mereka laksanakan, sebuah jarum yang terlihat cukup besar daripada jarum infus segera ditancapkan diurat Haris untuk mengambil darahnya.
"Bagaimana kondisi anak saya Dok? Kapan dia akan sadarkan diri?" Tanya Haris disaat proses pengambilan darah itu.
"Sulit untuk mengatakannya Pak, meskipun dia telah kehilangan darah begitu banyak tapi kondisinya baik baik saja dan bahkan luka yang ada didalam perutnya juga sudah mulai tertutup dengan sendirinya, hal ini sangat tidak wajar terjadi kepada seorang manusia biasa, jadi tim medis kami hanya menjahit luka diluarnya saja, dia hanya membutuhkan donor darah, dan saya sendiri belum mengetahui kapan dia akan tersadarkan Pak".
"Syukurlah kalau dia baik baik saja, tapi kenapa anda bisa mengatakan bahwa anak kandung saya bukan manusia biasa?".
"Karena ini tidak pernah terjadi sebelumnya Pak, luka tusukan yang ada diperutnya sedikit tembus sampai diperut bagian belakang, dan begitu banyak memar diperutnya saat ini seperti terkena hantaman benda yang sangat keras, akan tetapi luka tusukan yang ada didalam perutnya menutup dengan sendirinya, meskipun masih belum tertutup dengan sempurna masih ada bekas garisan".
"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya Haris dengan membuka matanya lebar lebar.
"Saya juga tidak mengerti Pak, ini terjadi diluar nalar manusia"
Haris merasa tidak terkejut dengan hal itu, kondisi yang dialami oleh Rifki kali ini mungkin adalah bantuan dari leluhurnya hingga Rifki mampu tertolong sebelumnya dirinya dapat dibawa kerumah sakit.
*****
Sudah lima jam berlalu didalam rumah sakit itu, akan tetapi Nadhira yang tidak sadarkan diri itu tak kunjung membuka kedua matanya, hal itu membuat Bayu dan Fajar semakin tidak tenang karenanya, Bayu dan Fajar tengah menjaganya saat ini dan berharap bahwa Nadhira akan segera sadarkan diri.
Nadhira merasakan perih ditangan kirinya, dimana selang infus sedang terpasang disana, dirinya juga merasakan sesuatu yang terpasang pada hidungnya hingga membuat pernafasannya terasa begitu sejuk, dengan perlahan lahan Nadhira mulai membuka kedua matanya.
Nadhira begitu sangat buram, hal pertama yang ia lihat adalah langit langit rumah sakit dimana dirinya terbaring saat ini, Nadhira mencoba untuk mengedipkan matanya beberapa kali dan berharap bahwa pandangannya akan semakin jelas.
"Dimana aku?" Tanya Nadhira.
"Dhira, kau sudah sadar"
Suara Bayu terdengar jelas oleh Nadhira hingga membuat Nadhira menoleh kepadanya, tak beberapa lama kemudian akhirnya pandangan Nadhira semakin terlihat jelas dan dia segera bangkit dari tidurnya.
"Dhira tenang dulu, kau baru sadarkan diri" Ucap Bayu yang segera memegangi pundak Nadhira.
"Bay bagaimana keadaan Rifki, aku tidak mau kehilangan dirinya Bay, aku harus menemuinya" Setetes air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Nadhira yang indah.
"Kau tenang saja ya, Rifki baik baik saja kok, Dokter sekarang sedang menanganinya, kau tenang dulu, kau baru sadarkan diri".
"Bagaimana aku bisa tenang Bay? Hiks.. hiks.. hiks.. aku sangat takut Rifki kenapa kenapa, ini semua salahku Bay, aku ingin bertemu dengan Rifki, tolong bawa aku untuk menemuinya".
"Baiklah Dhira jika kau memaksa seperti itu, kami tidak akan bisa mencegahnya".
Fajar segera mengambilkan sebuah kursi dorong untuk Nadhira, dan dengan bantuan dari Bayu dan Fajar Nadhira segera duduk dikursi tersebut, Bayu segera mendorongnya menuju keruangan Rifki sementara Fajar mengikutinya dari samping sambil membawakan infus Nadhira.
Nadhira meneteskan air matanya ketika melihat tubuh Rifki yang terbaring tidak berdaya dengan begitu banyak selang yang terpasang didadanya tanpa tertutup sehelai kain pun didada bidangnya itu, dan juga dua buah infusan ditangan kirinya, yang satu adalah cairan infus dan yang satunya adalah darah yang telah didonorkan kepadanya.
"Rifki..".
Bayu segera mendorong kursi roda yang dinaiki oleh Nadhira tersebut untuk mendekat kearah dimana Rifki tengah terbaring tidak berdaya saat ini, Nadhira meraih tangan kanan Rifki dengan kedua tangannya.
"Tinggalkan aku Bay, aku hanya ingin bersama dengan Rifki untuk saat ini"
"Baiklah Dhira, kalau ada apa apa panggil saja diriku, aku ada didepan pintu".
Nadhira hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bayu tanpa menoleh kearahnya karena dirinya saat ini sedang fokus dengan Rifki, Bayu dan Fajar segera bergegas meninggalkan tempat itu untuk membiarkan Nadhira bersama dengan Rifki, keduanya pun langsung berdiri didepan pintu ruangan itu untuk berjaga jaga.
"Rifki, sampai kapan kau akan tertidur seperti ini? Hiks.. hiks.. hiks.. apa kau tidak ingin bercanda gurau bersamaku lagi? Bukalah matamu Rif hiks.. hiks.. jangan tinggalkan aku seperti ini Rif".
Sebutir kristal jatuh dari pelupuk mata Nadhira dan menetes kepada tangan kanan Rifki, Rifki yang merasakan air yang menetes ke tangannya segera mengernyitkan dahinya dan jari jari Rifki yang dipegang oleh Nadhira ia gerakkan sedikit.
__ADS_1
Merasakan pergerakan tangan Rifki membuat Nadhira berhenti menangis, sebenarnya Rifki sudah sadarkan sejak tadi akan tetapi karena kondisi yang masih lemah membuatnya memutuskan untuk tidur kembali, Bayu memberitahukan kepadanya bahwa Nadhira belum sadarkan diri sehingga membuat Rifki menunggu Nadhira sadar sambil tidur.
Rifki tidak mengetahui kapan Nadhira masuk kedalam ruangan rawatnya, akan tetapi setelah merasakan adanya sebutir air mata yang jatuh mengenai tangannya membuat dirinya terbangun dari tidurnya.
"Kenapa kau menangis Dhira?" Tanya Rifki ketika melihat Nadhira meneteskan air matany sambil memegangi tangannya dengan erat.
"Kau sudah sadar Rif" Nadhira begitu terkejut mendengar suara Rifki yang lirih dan langsung segera menoleh kearah wajah Rifki.
"Sudah dari tadi Dhira, dari tadi aku menunggumu sadar disini, aku merasa bahagia karena aku bisa melihatmu lagi Dhira" Ucap Rifki yang masih lemah.
"Rifki, aku sangat takut untuk kehilanganmu, kau tau, bertapa takutnya diriku disaat kau tidak sadarkan diri dihutan, aku sangat takut Rif".
"Justru aku lebih takut disaat aku sudah sadarkan diri akan tetapi dirimu belum kunjung sadarkan diri Dhira, aku baik baik saja Dhira, jangan menangis lagi".
"Jangan tinggalkan aku lagi Rif".
Rifki menggerakkan tangannya kanannya yang tengah dipegangi oleh Nadhira itu untuk menghapus air mata Nadhira, dengan perlahan lahan Rifki mengusap air matanya yang ada dipelupuk mata Nadhira yang hendak menetes itu.
"Jangan nangis lagi ya Dhira, aku tidak ingin melihat air matamu jatuh begitu saja".
Nadhira mengangguk sambil menghapus air mata yang tersisa dipelupuk matanya dan tersenyum kearah Rifki, hal itu membuat Rifki ikut tersenyum meskipun hanya begitu tipis.
"Anak pintar, bagaimana keadaanmu Dhira?"
"Aku baik baik saja Rif".
"Alhamdulillah".
Nadhira mengenggam erat tangan Rifki, seakan akan dirinya tidak ingin melepaskan pegangan tangan tersebut, Rifki pun memandangi tubuhnya yang hanya tertutup oleh kain dibagian pusar kebawahnya saja akan tetapi dadanya terbuka begitu jelas dengan banyaknya alat yang menempel disana.
Rifki pun merasa tidak enak ketika dilihat oleh Nadhira dalam keadaan seperti itu, apalagi luka jahitan yang ada diperutnya yang hanya tertutupi oleh kain kasa saja, sementara luka memarnya terlihat begitu jelas tanpa tertutupi apapun, dan hal itu sangat tidak enak untuk dilihat.
Luka luka sayatan yang ada didada Rifki pun tidak tertutup oleh kain kasa sepenuhnya hingga luka itu mampu dilihat begitu jelas apalagi goresannya terlihat lebih merah dan sangat jelas, dan hal itu membuat Rifki merasa sedikit risih.
"Dhira, apa aku terlihat sangat mengerikan dengan luka luka ini? Aku merasa sangat tidak nyaman untuk melihatnya" Tanya Rifki yang merasa tidak enak untuk dilihat oleh Nadhira.
"Kau masih terlihat tampan kok Rif, asal kau tetap hidup itu bukanlah masalah".
"Dhira tolong selimutnya, tubuhku tidak bisa digerakkan untuk saat ini mungkin karena efek obat bius yang belum hilang".
Nadhira pun mengangguk dan meraih selimut yang ada dibawah Rifki, Nadhira pun segera menutupi tubuh Rifki yang hanya terlihat dadanya itu dengan kain selimut, dan sekarang dada bidang tersebut sudah tertutup oleh selimut.
"Makasih"
Dokter pun datang dan masuk kedalam ruang rawat Rifki untuk memeriksa keadaannya, ia terkejut karena pasiennya menutupi tubuhnya dan ia berpikir bahwa Rifki merasa kedinginan, akan tetapi keterkejutannya itu segera terpecahkan ketika melihat seorang wanita ada didekatnya.
"Permisi, diperiksa dulu ya Mas" Ucap Dokter tersebut kepada Rifki.
"Iya Dok" Jawab Rifki.
"Mbak Dhira sudah ditungguin oleh Dokter diruangannya Mbak Dhira tadi" Ucap Dokter itu kepada Nadhira.
"Tapi Dok saya tidak mau kembali, saya ingin tetap disini bersama dengan Rifki".
"Dhira, kamu istirahat saja dulu ya dikamar inapmu, aku baik baik saja kok, kamu juga butuh istirahat yang lama juga"
"Ngak mau, aku tetap ingin disini bersamamu Rif, aku tidak mau kembali".
"Baiklah jika Mbak Dhira memaksa, biar saya priksa sekalian saja, tapi setelah itu Mbak Dhira kembali keruangan Mbak lagi ya" Putus Dokter tersebut.
__ADS_1
"Iya Dok".