
Ana terus mencari keberadaan Rifki dan terus berlari kesana kemari, sampai saat ini dirinya belum juga menemukan keberadaan dari suaminya itu. Ia tidak tahu lagi harus mencarinya ke mana, penjagaan di sana begitu sangat ketat akan tetapi rasa takut di dalam hatinya masih terus bergentayangan.
Sudah hampir 30 menit dirinya mencari akan tetapi belum ditemukan juga keberadaannya, suasana di tempat itu sangatlah ramai sehingga dirinya agak kesulitan untuk mencari di mana keberadaan Rifki. Dengan pakaian panjangnya dan juga cadarnya dirinya terus berlarian tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya, yang ada di dalam hatinya hanyalah keselamatan dari Rifki.
"Kemana aku harus mencari dia? Rifki, semoga aku belum terlambat untuk menyelamatkan dirimu, Sayang. Aku tidak akan pernah membiarkan dirimu kenapa kenapa, selama masih ada aku, aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakaimu," Guman Ana lirih.
Ana terlihat panik sendiri saat ini, ketika dirinya tidak bisa menemukan keberadaan dari Rifki, orang yang paling dicintainya. Biar bagaimanapun caranya itu, dirinya harus menemukannya dan menyelamatkan dirinya sebelum semuanya terlambat nantinya.
"Acara bunga api seperti ini akan banyak orang yang berdatangan ketempat yang ramai ini. Tuan Muda memerintahkan kita untuk memeriksa setiap pengunjung yang datang, mungkin diantara mereka ada Nona Muda dan Nona kecil,"
Mendengar itu membuat Ana menghentikan langkahnya, Nona Muda siapa yang dimaksudkan itu? Lalu siapa juga Nona kecil itu? Perasaannya semakin terluka jika mengetahui bahwa Rifki memang memiliki wanita lain yang ada disisinya saat ini bahkan dirinya juga sudah memiliki anak lagi dari wanita itu.
Wanita mana yang berhasil merebut hatinya dari dirinya itu, wanita seperti apakah itu yang mampu membuat Rifki terpikat dengannya. Semuanya seakan akan mimpi bagi Ana, dan mimpi itu sangat tidak diharapkan olehnya saat ini.
"Baik Zan," Ucap seseorang yang berada disebelahnya itu.
Salah satu anggota Gengcobra itu, merasa bingung dengan siapa yang harus mereka cari saat ini. Dirinya bahkan belum pernah melihat orang yang dimaksudkan itu secara langsung, lantas hal itulah yang membuat mereka kebingungan dengan siapa yang harus dicari saat ini.
"Tapi aku belum pernah melihat wajahnya, aku termasuk anggota baru, yang baru bergabung 5 tahun lalu. Bagaimana bisa mengenalinya?"
"Apa kamu pernah diperlihatkan foto Non Dhira sebelumnya? Nah itu dia adalah Nona Muda, yang harus kita cari saat ini," Jelas sosok yang dipanggil dengan sebutan Zan, nama lengkapnya adalah Farzan.
"Oh foto yang itu, aku tahu kalau soal foto itu. Jadi ini mencari orang yang ada di dalam foto itu?"
"Iya, usahakan wanita yang ada di dalam foto itu ditemukan. Biar Tuan Muda tidak sedih lagi,"
"Baiklah kami akan melaksanakan itu,"
Mendengar itu kembali, membuat Ana tersenyum dengan sendirinya. Tuduhannya sebelumnya ternyata salah, bahkan sampai saat ini Rifki masih mencarinya, akan tetapi dirinya tidak tau Nona kecil yang dimaksudkan itu siapa. Yang Ana tau, Rifki tidak mengetahui bahwa dirinya sudah melahirkan seorang anak perempuan, bagaimana bisa dia tau bahwa adanya anak perempuan yang bersama dengan dirinya saat ini.
"Baiklah, kita berpencar lagi. Jangan sampai ada seseorang yang terlewatkan untuk diperiksa,"
"Baik!"
Anggota Gengcobra pun langsung berpencar kembali, setiap tahunnya mereka akan melakukan hal seperti itu untuk mencari tahu mengenai keberadaan dari Nadhira beserta anaknya itu. Meskipun mereka sama sekali tidak menemukan keberadaan keduanya, akan tetapi mereka tetap melakukan hal itu untuk mencari keduanya.
Ana berdiam diri sambil memperhatikan anggota Gengcobra yang kembali berpencar, seperti terkena angin yang begitu sejuk sehingga membuatnya merasa senang dan damai saat ini. Bukan karena apa apa, tapi karena Rifki yang masih mencarinya sampai saat ini.
"Dia benar benar keras kepala. Sabarlah Rif, kalau anak kita sudah dewasa nanti, kita akan bertemu kembali dan hidup bahagia bersama sama. Aku sangat merindukan dirimu, aku tidak sabar akan menanti hari itu tiba. Aku akan berusaha untuk selalu melindungimu, Rif. Aku tidak akan membiarkan dirimu kenapa kenapa,"
Ana kembali bergegas untuk mencari Rifki, dirinya merasa tidak tenang jika belum menemukan Rifki. Pikirannya terus memikirkan tentang orang orang yang membicarakan tentang Rifki sebelumnya, dirinya sangat takut kalau Rifki sampai kenapa-napa tanpa dirinya bisa berbuat apa-apa.
Ana akan sangat terluka jika dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan suaminya itu, kalau sampai Rifki kenapa napa yang terluka pertama kali adalah dirinya. Ana sangat menyayangi Rifki, sehingga dirinya tidak mau Rifki kenapa napa di saat Rifki jauh darinya.
Apapun caranya akan Anda lakukan hanya demi Rifki, dirinya tidak akan memaafkan siapapun yang berani untuk mencelakainya. Meskipun nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya nantinya, dia bahkan tidak takut kehilangan nyawa asalkan Rifki baik baik saja.
"Jika dirinya tidak ada diarea alun alun kota ini, mungkin saja dia berada didalam gedung. Bagaimana bisa dia tidak hadir disaat acara yang diadakan olehnya ini," Guman Ana.
Ana berpikir bahwa Rifki hadir di acara itu meskipun dirinya tidak tahu letak dari Rifki, dirinya tidak akan menyerah begitu saja dan akan terus berusaha untuk mencari Rifki kemanapun dirinya pergi. Baginya keselamatan Rifki adalah hal yang utama, daripada nyawanya sendiri.
Ana segera bergegas menuju ke arah sebuah gedung yang berada di sana untuk memeriksa keberadaan Rifki, cukup banyak gedung tinggi yang mengitari alun alun kota itu. Hal itu membuatnya sangat kesulitan untuk mencari Rifki, tapi dirinya tidak akan menyerah begitu saja.
__ADS_1
*****
Rifki dan Bayu kini berada disebuah ruangan, ruangan tersebut menghubungkan tempatnya dengan pemandangan luar yang menampakkan seluruh indahnya alun alun kota. Rifki berada didalam gedung yang cukup besar, sambil berdiri didepan kaca besar sambil menyaksikan ramainya kota.
"Disana memang ramai, tapi setiap hari hatiku merasa sedih dan kesepian. Bay, apa kamu tidak mengetahui kabar apapun mengenai Dhira?" Tanya Rifki kepada Bayu.
"Tidak Rif, sejak kejadian dirinya diusir dari desa, kami semua sudah tidak mengetahui kabarnya. Entah dimana dirinya berada saat ini, keberadaannya sama sekali tidak diketahui,"
"Hari ini adalah tepat hari ulang tahun anakku, sudah 11 tahun usianya sekarang. Aku ngak tau wajahnya seperti apa, apa dirinya baik baik saja, apa dia membenci Ayahnya, aku ngak tau semuanya. Dimana keberadaan kalian berdua? Kalian sama sekali tidak pernah memberitahu apapun kepadaku,"
"Tenang saja, Rif. Mereka pasti baik baik saja kok, saldo didalam rekening itu semakin berkurang itu artinya mereka masih hidup,"
"Aku tau, Bay. Aku sangat merindukan Dhira, aku ingin bertemu dengannya, meskipun hanya sesaat setidaknya aku bisa melihatnya baik baik saja. Ya Allah, pertemukan diriku dengan istriku walaupun hanya sesaat, aku ingin melihatnya dengan keadaan baik baik saja," Setetes air mata pun keluar dipelupuk matanya yang indah itu.
"Aamiin,"
Ana terus berlarian untuk mencari tau dimana keberadaan dari Rifki, dengan pakaian panjangnya itu dirinya terus berlari tanpa mengenal lelah. Dirinya tidak mau kalau Rifki akan kenapa kenapa nantinya, dan dia tidak mau bahwa dia akan terlambat untuk menyelamatkan Rifki.
"Kamu dimana sih, Rif. Aku harus mencarimu dimana? Beri aku petunjuk,"
Tepat pukul 10 malam, sebagian anggota Gengcobra pun langsung menyalakan bunga api itu, ledakannya pun menghiasi langit langit yang gelap dengan indahnya itu. Melihat bunga api yang saling bersahutan untuk meledak, membuat Ana semakin merasa tidak tenang, itu artinya dirinya tidak memiliki banyak waktu lagi untuk bisa menyelamatkan Rifki.
"Dia ngak boleh kenapa kenapa, aku harus segera menemukannya bagaimanapun caranya. Aku ngak akan membiarkan sesuatu terjadi dengan Rifki,"
Didalam sebuah gedung, perhatian Rifki kini tengah terarah kepada bunga api yang meledak dengan sangat indah itu, bukan hanya disatu sisi mereka menyalakannya, akan tetapi disetiap ujung dan sisi alun alun kota itu. Warna langit malam yang hitam itu, menambah keindahan ledakan bunga api tersebut, dan mewarnainya dengan keindahan.
"Selamat ulang tahun, Nak. Semoga kau melihat bunga api yang Papa nyalakan ini, ini semua untukmu. Tepat dijam ini kau lahir kedunia, tapi Papa sama sekali belum pernah menggendongmu bahkan Papa belum pernah sama sekali menyentuhmu. Semoga kau dan Ibumu baik baik saja ya, semoga dengan melihat ini kau akan senang, Nak. Maafin Papa yang tidak pernah menemanimu selama ini, Papa sayang kalian berdua," Ucap Rifki dengan nada parau seperti tengah tersayat sayat hatinya.
"Tante, ini indah banget. Aku belum pernah melihat pemandangan seindah ini sebelumnya, Tante apakah di sini selalu menyalakan bunga api?" Ucap Kinara sambil tercengang menatap langit.
"Iya Nara, setiap tahunnya di sini akan ada perayaan pesta bunga api. Jadi, setiap tahun di sini akan sangat ramai dengan orang-orang yang ingin melihat acara pesta itu bahkan begitu banyak penjual yang berjualan di tempat ini." Jelas Siska kepada Kinara.
"Jadi tahun depan masih ada acara ini dong, Tan? Nara suka banget lihat acara pesta bunga api seperti ini, bunga api itu sangat indah."
"Nara suka melihat pesta bunga api? Tahun depan kita lihat lagi," Ucap Siska yang juga ikut kagum melihat kearah langit.
"Suka banget, Tan. Tahun depan ajak Nara kemari lagi ya?"
"Iya. Kalau Nara suka, nanti Tante dan Mamamu akan mengajakmu kemari lagi untuk melihat pesta bunga api tahun depan,"
"Beneran, Tan?" Tanya Kinara dengan semangatnya.
"Iya Kinara, Tante kan nggak pernah bohong."
"Asyikkkk..."
Kinara pun terpanah dengan indahnya pemandangan bunga api dimalam hari itu, bukan hanya 1 kali letusan saja, akan tetapi berkali kali. Hal itu pun terjadi selama 2 jam penuh, entah berapa banyak petasan bunga api yang dibeli oleh Rifki. Seluruhnya pun menikmati saat saat itu, bahkan mereka semua menatap kearah indahnya langit dimalam itu.
Rifki tidak mengetahui bahwa anaknya sendiri kini juga ikut serta menikmatinya, bahkan anaknya begitu sangat senang dan bahagia. Kinara tidak tau bahwa ini adalah pesta bunga api untuknya, yang ia tau bahwa dirinya merasa bahagia ketika melihatnya.
"Tante, ledakkannya bagus sekali. Sampai memenuhi langitnya," Ucap Kinara kagum.
__ADS_1
"Tahun depan, kita lihat lagi yuk,"
"Ayukkk!!" Jawab Kinara dengan semangatnya.
Perayaan pesta bunga api itu dihadiri oleh banyak sekali orang, bahkan tiap tahunnya hanya perayaan itu saja yang mampu membuat semua orang berkumpul di suatu wilayah. Perayaan pesta bunga api telah menjadi topik terhangat tiap tahunnya, dan banyak sekali orang orang yang mengabadikan moment tersebut dalam sebuah file diponsel mereka masing masing.
Disuatu tempat, terlihat seseorang tengah menaburkan sesuatu diminuman dan makanan yang akan dikonsumsi oleh Rifki. Para pelayan yang ada disana sama sekali tidak menyadari akan hal itu, meskipun penjaganya begitu ketat akan tetapi orang tersebut masih mampu untuk melakukan itu.
******
Rifki dan Bayu kini berada di sebuah ruangan yang cukup besar, di dalam ruangan itu keduanya menghadap ke arah kaca jendela yang ada di sana. Kaca jendela itu sangatlah besar sehingga mampu melihat indahnya pesta bunga api dari sana, karena saking besarnya mereka juga mampu melihat lingkungan yang ada di alun alun kota itu.
"Diluar sana sangat ramai, Rif. Ribuan orang datang ke alun alun kota demi menyaksikan acara pesta bunga api, anggota Gengcobra pun sudah menyebar di sana untuk mencari keberadaan Nadhira siapa tahu dirinya ikut hadir dalam acara ini," Lapor Bayu.
"Aku merasa bahwa Dhira juga hadir disini, aku yakin itu, Bay. Apapun yang terjadi, kalian harus menemukan Dhira, aku ingin segera menemukan anak dan istriku. Aku sangat berharap bahwa mereka sedang baik-baik saja saat ini,"
"Baik Rif, aku sudah memerintahkan seluruh anggota Gengcobra untuk mencarinya. Semoga saja dirinya benar benar hadir dalam acara ini,"
"Baiklah kalau begitu, keluarlah,"
Rifki pun menyuruh Bayu untuk keluar dari ruangannya itu, dirinya ingin sendirian saat ini tanpa diganggu oleh siapapun itu. Setiap harinya, hanya ada kesunyian didalam hatinya tanpa adanya kehadiran dari Nadhira disisinya.
Makanan yang telah ditaburkan obat itu kini sudah berada didalam ruangan yang dimana Rifki berada saat ini, tanpa disadari oleh orang lain bahwa diluar ruangan itu terdapat seseorang yang tengah mengawasi Rifki dari luar.
Diluar ruangan itu terdapat beberapa anggota Gengcobra yang diperintahkan oleh Bayu untuk menjaga Rifki, karena Rifki ingin sendiri hal itu membuat Bayu meninggalkan dirinya. Akan tetapi, Bayu lebih meningkatkan penjagaan diluar ruangan tersebut untuk melindungi Rifki.
Ledakkan demi ledakkan kini tengah terjadi dilangit langit kota malam ini, Rifki terus memperhatikan hal itu. Sebenarnya musnahnya keris pusaka xingsi juga berpengaruh kepada kepekaannya tentang alam gaib yang ada disekitarnya, memang Rifki masih mampu untuk melihatnya akan tetapi dirinya tidak mampu merasakan kehadirannya.
Keris itu sudah musnah, tapi nyawa Rifki tetap menjadi incaran orang orang jahat yang mengira bahwa keris pusaka xingsi masih bersama dengan Rifki. Karena mereka berpikir bahwa anak yang ada didalam kandungan Nadhira waktu itu sudah tiada, dan artinya keris pusaka xingsi itu akan kembali kepada pemiliknya.
Rifki seakan akan tengah tidak berselera untuk makan, sehingga makanan itu sama sekali tidak disentuh olehnya. Melihat itu membuat orang yang tengah mengawasinya menjadi kesal, karena dirinya tidak memakannya lantas bagaimana bisa dia membawa Rifki pergi dari tempat itu.
Jika dirinya masih sadar, akan sangat sulit untuk melakukan itu, karena Rifki akan melawannya begitu saja. Rifki yang memang hebat dalam beladiri itu pun bukanlah tandingan dari mereka semua, bahkan mereka akan kalah jika melawan Rifki meskipun dengan cara keroyokan.
Akhirnya orang itu pun mengeluarkan sebuah alat yang cukup kecil, yakni sebuah sumplit yang mampu melemparkan sebuah jarum yang telah dilabur dengan obat bius. Dia lalu menembakkan jarum tersebut dileher Rifki, Rifki merasakan sesuatu yang nyeri dilehernya.
"Akh... Jarum apa ini?" Rifki mencabut jarum yang tertancap dilehernya itu.
Dirinya pun mencium jarum itu dan mendapati bahwa adanya obat bius yang diberikan dijarum itu. Dirinya pun begitu terkejut, dan rasa nyeri pun menjalar disekitar kulitnya yang tertancap itu.
"Siaalll! Siapa yang melakukan ini!"
Obat bius itu adalah obat yang paling kuat, meskipun terkena sedikit akan tetapi hal itu mampu membuat orang tidak sadarkan diri. Pandangan Rifki pun mulai berkunang kunang, sekilas dirinya melihat orang yang masuk kedalam ruangan itu melalui cendela ruangan tersebut, Rifki tidak mengenali orang itu.
"Siapa kau?" Tanya Rifki sambil memegangi kepalanya.
"Kau ngak perlu tau siapa diriku,"
Pandangan Rifki pun terlihat memburam sehingga dirinya tidak bisa mengetahui siapa orang yang ada dihadapannya itu, orang itu mencoba untuk mendekat kearah Rifki, hal itu langsung membuat Rifki melontarkan sebuah tendangan dan pukulan semampu dan sebisanya untuk melindungi dirinya, meskipun serangannya itu tidak mengenai sasaran.
"Rifki Rifki, ternyata kau begitu lemah ya sekarang. Apa yang ingin kau serang? Aku disini bukan disana," Ucapnya dengan nada liciknya.
__ADS_1
"Maumu apa?" Tanya Rifki sambil memegangi kepalanya yang terasa berat itu, bahkan kedua matanya ingin sekali terpejam saat itu.