
Ana adalah nama samaran dari Nadhira, semenjak dirinya melahirkan Kinara, dia merubah namanya menjadi Ana. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini Kinara menginjakkan usia yang ke 10 tahunnya, dan menjadi seorang gadis kecil yang cantik.
"Uhukk uhukk.. Ada apa ini ribut ribut?" Tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat sakit sakitan itu.
"Kinara buat masalah lagi, Bu. Entah sudah berapa kali kita diprotes oleh masyarakat sekitar, 1 bulan ini aja udah sampai 50 orang yang datang kerumah gara gara Nara, entah akan lebih banyak lagi atau gimana nantinya. Lama lama seluruhnya akan protes ke kita nanti," Ucap Ana kesal.
"Sabarlah, namanya juga anak kecil, Nak. Kamu juga pernah mengalami masa masa itu kan? Perlahan lahan Kinara juga akan paham dengan sendirinya nantinya," Ucap Bu Siti.
"Selalu saja bela Nara,"
"Mama ngak boleh marah marah, nanti cepat tua loh." Ucap Kinara kecil.
"Siapa yang ngajarin ngomong gitu?" Tanya Ana.
"Tante Siska," Jawab Kinara polos.
"Eh kapan Tante ngajarin gitu? Kok jadi Tante yang disalahin sih?" Protes Siska.
"Siska, kamu ajarin apa saja ke anakku?"
"Kakak ngak boleh marah marah, nanti darah tinggi loh. Gitu yang bener Kinar, bukan kayak ucapanmu tadi,"
"Eh iya lupa, Tan. Maafin Kinar ya karena dialognya salah," Ucap Kinara.
"Mantap, nanti diperbaiki lagi ya? Kita buat Mamamu marah marah lagi,"
"Siap Tante,"
Keponakan sama Tantenya itu pun membuat Ana terlihat sangat pusing, tidak tau lagi apa yang akan dirinya katakan disaat keduanya sudah sekongkol seperti itu. Kinara sering kali membuat Ana marah, bahkan Kinara lebih mendengarkan ucapan Siska daripada dirinya.
"Mama, Nara pergi dulu ya, da...." Ucap Kinara sambil bergegas keluar rumah.
"Mau kemana kamu? Mama belum selesai ngomong!" Tanya Ana dengan sedikit teriak kepada anaknya itu.
"Mau main! Nanti aja dilanjut omelannya, Ma!" Teriak Kinara sambil berlari menjauh.
"Anak ini benar benar,"
Melihat itu hanya membuat Ana menggeleng gelengkan kepalanya, benar benar anak yang membuat dirinya darah tinggi. Sementara Siska hanya terkekeh pelan menyaksikan kepergian dari Kinara kecil.
"Sudahlah, Kak. Kinara itu bestiku," Ucap Siska hingga membuat Ana melotot.
"Lihat lah, Bu. Ngak ada bedanya sama Rifki, sama sama ngak bisa diatur dan keras kepala, main pergi begitu aja. Kayak ngak pernah dengerin ucapanku," Keluh Ana kepada Bu Siti.
"Namanya juga anaknya, Nak. Sudah pasti dia mirip sama Ayahnya, kalo mirip sama orang lain itu yang gawat. Pasti Ibunya dulu juga seperti itu, mangkanya nurun ke anaknya," Ucap Bu Siti.
"Ngak Bu, hanya Rifki yang nakal seperti itu, bahkan ucapanku aja tidak pernah didengarkan olehnya itu. Kenapa Kinara justru sama seperti dia sih, ngak ada mirip miripnya denganku,"
"Sabarlah, anak kecil yang nakal itu sudah sewajarnya aja. Kalo sampai pendiam, itu yang harus dibawa ke psikolog,"
Bu siti pun hanya terkekeh pelan ketika melihat Ana yang sebal seperti itu, tanpa adanya Kinara dan Ana dalam kehidupan mereka, mungkin akan terasa sepi dan tidak seperti ini. Apalagi Siska yang belum dipercayai momongan, 5 tahun yang lalu, Siska menikah dengan seorang pemuda akan tetapi suaminya itu kini sedang merantau jauh dari Siska.
******
Seorang pria tengah sibuk fokus untuk menyetir, dibelakang pria itu terdapat seorang lelaki yang seperti Tuan Besar, dengan jas hitam yang melekat ditubuhnya. Sementara lelaki itu kini tengah fokus kepada ponselnya, sepertinya pekerjaannya itu begitu menumpuk hingga membuatnya harus bekerja meskipun masih berada didalam mobil.
Tak beberapa lama kemudian, suara ponsel milik pria yang tengah menyetir itu berbunyi dan hal itu langsung membuatnya bergegas untuk menerima panggilan masuk yang ada dilayar ponsel itu. Ketika baru mengangkatnya, suara seorang wanita langsung berteriak hingga membuat pria itu sangat terkejut.
"Hallo sayang, ada apa dijam segini telpon?" Tanya seorang lelaki melalui sambungan telponnya.
"Beliin martabak dong, anakmu sedang pengen makan martabak didalam perutku," Ucap seorang wanita dari seberang sana melalui ponsel tersebut.
"Tapi aku masih kerja sayang, nanti ya kalo pulang kerja aku belikan yang banyak. Lagian aku juga baru berangkat kerja sayang, ngak enak sama Tuan Muda nanti,"
"Pengennya sekarang, bagaimana kalo anakmu ileran nantinya? Minta izin dulu saja, pokoknya pengennya sekarang ya harus sekarang."
"Iya deh iya, aku antarin majikanku dulu ya, habis itu aku langsung belikan. Tunggu aku dirumah, jangan kemana mana sebelum aku datang,"
"Oke, ditunggu segera."
Lelaki yang sedang menyetir itu pun langsung memutuskan sambungan telponnya, ketika hendak meletakkan ponselnya tersebut tiba tiba seorang anak kecil melintas didepan mobilnya itu. Seketika itu juga lelaki tersebut langsung mengerem mendadak hingga membuat seorang pria dibelakangnya pun terbentur disandaran kursi yang ada didepannya itu.
"Bisa nyetir ngak sih?" Tanya lelaki itu dengan kesalnya karena jidadnya yang terbentur disandaran kursi sambil mengusap usapnya pelan.
"Maaf Rif, ada anak kecil yang nyebrang jalan tanpa lihat lihat tiba tiba, jadi aku harus mengerem mendadak seperti ini tadi," Ucap pria itu merasa bersalah.
"Kau nabrak anak kecil, Bay?" Tanya lelaki sambil membelalakkan kedua matanya.
"Untung saja belom sampai ketabrak, Rif."
__ADS_1
"Kita lihat dia sekarang,"
"Baik Rif."
Keduanya pun langsung bergegas untuk keluar dari dalam mobil untuk melihat anak kecil yang ditabrak itu. Untung saja anak itu belum sempat tertabrak mobilnya, akan tetapi anak itu sedang menangis karena dirinya reflek terjatuh hingga membuat telapak tangannya terluka.
"Ya Allah, kamu ngak papa kan, Nak?" Lelaki itu langsung membantu anak kecil tersebut untuk berdiri lagi.
"Kalo mau nyebrang jalan itu lihat lihat dulu, kalo ketabrak gimana? Om bisa bisa berurusan sama polisi gara gara dirimu, ini jalan raya bukan mainan kanak kanak. Kalo ketabrak siapa yang repot?" Omel pria itu kepada gadis kecil tersebut.
"Sudah, Bay. Jangan marahi dia seperti itu, kamu juga salah karena nyetir pake main hp, seharunya kamu ngomongnya lebih halus dikit sama anak kecil. Jangan memarahinya seperti ini,"
"Maaf, Rif. Biar anak ini tidak keterusan seperti itu, apalagi ini bukan areanya untuk bermain lari larian."
"Ngak begitu cara ngasih tau seorang anak kecil yang benar, bukannya patuh nanti dia malah ketakutan lagi. Nanti kalo dia trauma gimana?"
"Iya maaf, Rif. Aku kelepasan tadi,"
"Lain kali jangan diulang, sebelum memarahi orang lain, koreksi dirimu sendiri apakah sudah benar atau belom. Meskipun dia anak kecil, jangan pernah meremehkan mereka karena usia,"
"Iya Rif, aku akan selalu mengingat itu."
Kedua lelaki itu adalah Bayu dan Rifki, 1 tahun yang lalu Bayu telah menikah dengan seorang wanita yang bernama Laras, keduanya pun bertemu disebuah acara perusahaan milik Rifki, dan kini istrinya itu tengah mengandung anaknya yang berusia 3 bulan.
Rifki pun mengusap pelan punggung anak itu untuk menenangkannya, akan tetapi anak itu masih menangis dengan terisak. Entah kenapa tiba tiba Rifki merasakan sesuatu yang berbeda dengan anak yang ada didepannya itu, dirinya seolah olah merasa sakit hati ketika melihat anak itu menangis. Anak itu masih berusia sekitar 10 tahun menurut Rifki, akan tetapi Rifki merasa begitu dekat dengannya.
"Maafin Om ya? Om ngak sengaja tadi, jangan nangis ya? Nanti Om akan marahi temen Om ini, karena sudah mengomelimu tadi. Om bener bener minta maaf," Ucap Rifki.
"Tanganku sakit, Om. Hiks.. hiks.. hiks.. " Anak itu pun merengek karena melihat tangannya yang terluka namun tidak terlalu parah, dan darah keluar meskipun sedikit.
"Astaga, bisa sampai terluka seperti ini. Pasti kena aspal ya?"
"Iya Om, hiks.. hiks.. hiks.. Tanganku sakit,"
"Biar Om obati dulu ya? Jangan nangis, nanti cantiknya hilang loh,"
"Iya Om,"
Gadis kecil itu pun mengusap air matanya dengan kasar, caranya mengusap air mata langsung membuatnya teringat tentang Nadhira. Ia lalu mengajak anak kecil tersebut untuk masuk kedalam mobilnya, dirinya pun langsung mengeluarkan kotak P3K untuk mengobati luka yang ada ditelapak tangan gadis kecil itu.
"Namanya siapa, Nak?" Tanya Rifki.
"Nara? Nama yang bagus, cantik seperti orangnya."
"Kata Mama nama itu adalah pemberian dari seseorang," Ucap Kinara sambil mengusap ingusnya yang keluar dengan punggung tangannya.
"Boleh Om tau nama Ibumu, Nak?"
"Mamaku namanya Ana, Om. Memang ada apa, Om?" Tanya Kinara penasaran.
"Ngak papa, mungkin saja Om kenal dengan Mamamu, Nak. Secara kan temen Om banyak disini,"
"Oh seperti itu? Apa Om kenal dengan Mamaku?"
"Entahlah, Om juga pelupa. Tapi Om ngak pernah punya teman yang namanya Ana,"
"Berarti Om bukan teman Mamaku,"
"Mungkin saja,"
Rifki tidak mengetahui bahwa anak kecil yang ada dihadapannya saat ini adalah anaknya sendiri yang selama ini dicari cari, dengan telatennya Rifki mengobati luka anak tersebut. Bahkan Rifki tidak mengetahui bahwa Ana yang dimaksud adalah istrinya sendiri, yang sedang menyamarkan identitasnya itu.
"Om sakit," Keluh Kinara ketika obat yang ada ditangan Rifki mulai menyentuh lukanya.
"Om tiup ya, biar mendingan,"
Rifki pun meniup luka yang ada ditelapak tangan Kinara, hingga membuat Kinara merasa lebih mendingan sakitnya daripada sebelumnya. Setelah itu, Rifki pun memakaikan handsaplass ditelapak tangan anak tersebut setelah memberinya obat.
"Tangan Nara ngak papa kan, Om? Mama pasti marah kalo tau Nara terluka, Mama ngak suka lihat Nara terluka, Om. Tangan Nara ngak papa kan? Ngak sampai dipotong kan?"
"Ngak mungkin dipotong, Nak. Ini hanya luka kecil, perlahan lahan akan sembuh sendiri nanti," Ucap Rifki terkekeh pelan mendengar ucapan Kinara.
Bagaimana bisa luka sekecil itu akan membuat tangan gadis kecil itu di amputasi. Melihat Rifki yang tersenyum membuat Bayu merasa lega, selama ini Rifki tidak pernah memperlihatkan senyumannya itu kepada siapapun.
Semenjak kepergian dari Nadhira, Rifki terus terlihat murung dan sering mengurung diri dikamarnya. Dirinya tidak suka diganggu oleh siapapun itu, bahkan orang tuanya sendiri pun. Akan tetapi, bertemu dengan Kinara saat ini, membuat senyuman yang bertahun tahun hilang itu pun kembali.
"Om serius kan? Tangan Nara ngak akan dipotong kan? Nara takut, Om."
"Ngak mungkin, Nak. Nara pegang saja ucapan, Om. Kalau sampai ada yang berani memotong tangan Nara, Nara bilang aja ke Om. Nanti Om yang akan potong tangan mereka,"
__ADS_1
"Kata Mama, kalo terluka nantinya bakalan dipotong sama dokter. Soalnya, dulu Ayahnya temenku juga begitu, Om. Dia ketabrak mobil dan tangannya harus dipotong oleh dokter, jadi Nara takut, Om. Gimana nanti kalo tangan Nara dipotong? Nara ngak bisa jajan lagi dong, terus Nara ngak bisa buat Mama marah marah lagi nanti," Kinara begitu polos hingga membuat Rifki terkekeh.
"Memangnya Mama Nara suka marah ya?"
"Iya Om, dia suka banget marahin Nara. Tapi Nenek sama Tante selalu baik dan belain Nara, Bahkan Mama akan diomelin sama Nenek, kalo dia ngomelin Nara."
"Bilangin ke Mamanya, jangan marah marah Ma, nanti keriputan loh, gitu ya?"
"Kata Tante ngak gitu Om, kata Tante begini, jangan marah marah ya, Ma. Nanti darah tingginya kumat,"
Mendengar itu langsung membuat keduanya tertawa, Kinara dan Rifki itu langsung tertawa bersama sama. Berbicara dengan anak yang baru ditemuinya itu pun membuat Rifki merasa asik, bahkan Kinara pun merasa nyaman bercanda dengan sosok seperti Rifki.
"Tantemu benar, Nak. Bilang aja begitu, biar ngak marah marah terus sama Nara,"
"Om baik juga begitu sama Mamanya ya, Om? Kok Om bisa ngajarin Nara begitu?"
"Iya, Om dulu waktu kecil itu nakal banget, Nara. Sampai sampai Mama Om itu mukul Om dengan keras pake sapu sampai patah jadi dua,"
"Terus Om nangis? Mama ngak pernah mukul Nara,"
"Iya nangis dipojokan kamar,"
Keduanya pun kembali tertawa, entah apa yang membuat mereka tertawa, itu hanyalah cerita yang simpel akan tetapi mampu membuat keduanya tertawa. Kinara tidak ada bedanya dengan Rifki, memang karena hubungan keduanya adalah anak dan Ayahnya.
"Akh.. Tangan Nara kembali sakit, Om." Nara pun mengeluh karena tangannya merasa perih.
"Sini biar Om tiupin lagi,"
Rifki pun meraih tangan mungil milik Kinara, dirinya pun meniupinya dengan pelan. Kinara yang memang tidak pernah terluka itu pun membuatnya tidak mampu untuk menahan rasa sakitnya, hal itu langsung membuat Kinara kembali bersedih karena sakit yang dirinya rasakan.
"Om, tangan Nara ngak mungkin dipotong kan? Nara takut kalo Nara ngak punya tangan lagi,"
"Ngak Nak, bagaimana bisa dipotong? Inikan luka kecil saja,"
"Tapi Nara takut kayak tangannya Ayah temen Nara, Om. Dia juga ketabrak mobil sama kayak Nara tadi,"
"Itu kasusnya berbeda, Nak. Tangan Nara ngak mungkin dipotong sama dokter, yang ada bakalan diobatin sama dokter,"
"Nara ngak mau ketemu dokter, Om saja yang ngobatin Nara, Nara takut."
"Iya, Om yang obatin."
"Makasih Om,"
"Lain kali kalo dijalan hati hati ya? Banyak kendaraan yang lalu lalang disini, jangan main lari larian sembarangan. Takutnya nanti malah ketabrak lagi, nanti yang sakit Nara sendiri kan?" Ucap Rifki dengan sabarnya kepada anak itu.
"Maafin Nara ya, Om? Lain kali Nara janji ngak akan main dijalanan lagi,"
"Anak pinter," Rifki pun mengacak acak rambut Kinara karena gemasnya.
Kinara merasa senang ketika Rifki melakukan hal itu kepadanya, Kinara yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya itu pun terlihat bahagia. Kinara merasa sangat senang ketika bertemu dengan Rifki, apalagi Rifki yang terlihat baik untuknya.
"Boleh ngak Nara panggil Om dengan sebutan Om baik? Karena Om sangat baik sama Nara,"
"Boleh, Nak. Mau Om antarkan pulang?"
"Ngak usah, Om. Lagian rumah Nara dekat sini kok, terima kasih ya Om sudah ngobatin Nara,"
"Sama sama cantik,"
"Nara pulang dulu ya, Om? Takut Mama nungguin Nara, soalnya Nara mainnya terlalu lama,"
"Baiklah,"
Kinara pun bergegas untuk meninggalkan mobil tersebut, dirinya pun berlarian lirih sambil bersenandung pelan. Seakan akan gadis kecil itu kini tengah merasa sangat bahagia, entah apa yang membuatnya seperti itu.
"Rif, kita telat 15 menit," Ucap Bayu sambil melihat kearah jam tangan yang melilit dipergelangan tangannya itu.
"Kalo begitu ayo berangkat, sebelum makin telat meetingnya."
"Baik, Rif."
Bayu pun langsung menutup pintu mobil tersebut dengan sebuah tombol, mobil yang terbuka sebelumnya itu pun langsung tertutup seketika. Setelahnya, mobil tersebut pun melaju pergi dari tempat tersebut.
"Mengapa kamu tiba tiba menanyakan siapa nama Ibunya, Rif?"
"Anak itu mengingatkanku dengan Dhira, Bay. Entah mengapa aku merasa begitu dekat dengan anak itu, sehingga aku menjadi penasaran dan ingin tau siapa nama Ibunya itu."
"Mungkin kamu terlalu merindukan Nadhira, Rif. Jadi kamu merasa bahwa anak itu adalah anakmu, tapi nama Ibunya itu Ana bukan Nadhira."
__ADS_1
"Kau benar, Bay. Entah dimana dirinya berada saat ini, semoga saja mereka baik baik saja,"