Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Masih peduli


__ADS_3

Melihat kedatangan Bayu di kamarnya itu, Haris langsung berpamitan untuk pulang kepada Rifki dan Bayu. Setelahnya dirinya pun bertugas untuk keluar dari kamar, kini hanya tinggal dua orang itu saja. Rifki merasa malas ketika hanya ada Bayu di kamarnya itu, seandainya ada Nadhira di dalam kamarnya mungkin dirinya akan merasa sangat betah.


Haris tidak ingin menganggu anaknya untuk beristirahat, apalagi Dokter menyarankan kepadanya untuk membiarkan Rifki istirahat sampai kondisinya benar benar stabil kembali. Dirinya pun menyerahkan penjagaan itu kepada Bayu dan juga anggota Gengcobra yang berjaga dirumah itu, sejak kejadian yang dialami oleh Rifki kemarin, membuatnya harus memperingatkan kepada anggota Gengcobra untuk menjaga Rifki dengan ketatnya.


Lagi lagi kenapa harus Bayu yang mengurusinya, kenapa bukan Nadhira saja? Rifki merasa jenuh jika hanya ada Bayu, seakan akan tidak ada hiburan yang membuatnya tertawa. Sejak kepergian dari istrinya itu dirinya jarang sekali menampakkan sebuah senyuman, bahkan untuk bercanda gurau saja dirinya sama sekali tidak pernah melakukan itu.


Sejak kepergian dari Nadhira, hidupnya terasa amat sepi. Dirinya ingin bisa seperti keluarga kecil pada umumnya, bermain dengan anak anaknya, bercanda gurau bersama dengan anak dan istrinya, bahkan tetap bersama meskipun dengan suka dan duka yang selalu dihadapinya. Akan tetapi, harapannya hanyalah sia sia, karena Nadhira memutuskan untuk tidak kembali kepadanya.


Rifki ingin sekali mengetahui bagaimana wajah dari anaknya, dirinya merasa senang ketika mendengar bahwa Nadhira telah melahirkan seorang putri dengan selamat. Akan tetapi dirinya menyesali perbuatannya karena datang terlambat kedesa itu, sehingga ketika dirinya datang, istri dan anaknya telah diusir dari desa dan dirinya tidak tau kemana perginya keduanya itu.


"Rif, apa masih pusing?" Tanya Bayu yang melihat Rifki memijat keningnya seperti tengah merasakan sakit kepala yang parah.


"Aku nggak papa kok, Bay. Nanti juga bakalan hilang sendiri pusingnya,"


"Sebaiknya kau istirahat dulu saja, Rif. Jangan terlalu banyak pikiran saat ini,"


"Kau boleh keluar, Bay. Aku mau ganti baju dulu," Ucap Rifki.


"Kalo ada apa apa, panggil saja diriku, Rif. Aku ada diluar, jangan kayak kemarin malam,"


"Aku sudah memanggilmu, Bay. Kamu saja yang ngak dengar panggilanku kemarin,"


"Iya kah? Kok aku ngak tau?"


"Telingamu yang budeg kali, sudah pergi sana."


"Iya iya, aku beneran, Rif. Kalau ada apa apa cepat panggil diriku, atau nggak setidaknya telponlah diriku aku akan berjaga 24 jam penuh jika perlu,"


"Kau lebay banget, Bay. Jika dirimu terus terusan seperti ini, kau justru membuat kepalaku semakin pusing karena tidak membiarkanku istirahat,"


"Bukan seperti itu, Rif. Istirahatlah, aku akan berjaga,"


"Gimana diriku bisa istirahat dengan pakaian seperti ini? Mending kau keluar,"


"Kita kan sama sama laki, kenapa harus malu?"


Rifki ingin sekali memukul lelaki yang ada dihadapannya itu, dirinya merasa sangat geram dengan apa yang dikatakan oleh Bayu. Seakan akan Bayu tidak akan membiarkan untuk bisa istirahat kalau seperti ini, apalagi dengan kebawelannya yang seperti seorang perempuan itu.


"Pergi atau aku pecat sebagai anak buah?" Tanya Rifki dengan geramnya.


"Baiklah baiklah, aku pergi saja. Tapi jangan lupa untuk menghubungiku,"


Bayu lalu keluar dari dalam kamar Rifki dan langsung membuat Rifki merasa lega. Rifki langsung memegangi keningnya seperti tengah merasakan sesuatu sebelumnya, dirinya merasa bahwa sebelumnya dia merasa adanya Nadhira disampingnya. Tapi mengapa saat ini dia tidak ada didekatnya? Pikirannya benar benar kacau saat ini, apalagi dengan kejadian kemarin.


Rifki tidak mengetahui bahwa sebelumnya Nadhira telah mencium keningnya cukup lama, akan tetapi dirinya mendadak merasakan detak jantung yang berdebar setelah memegangi keningnya yang habis dicium oleh Nadhira itu.


Rifki sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, bahkan ketika bangun pakaiannya sudah bersimbah darah. Akan tetapi, sama sekali tidak ada luka sedikitpun ditubuhnya itu, darah siapa yang ada didalam pakaiannya itu? Melihat darah tersebut, seketika membuat Rifki merasa sedih.


Siapa yang telah melindunginya itu? Bahkan orang itu sama sekali tidak membiarkan dirinya terluka sedikitpun. Rifki sama sekali tidak mengetahui kejadiannya seperti apa, yang membuatnya merasa heran lagi adalah mengapa ada Hendra disaat kejadian itu? Apalagi tubuhnya begitu banyak luka sayatan, sebelum mengatakan pelakunya tiba tiba dirinya dibunuh begitu saja.


Jikalau orang yang membunuh Hendra itu sangat menginginkan kematian Rifki, kenapa tidak membunuhnya lebih dulu sebelum anggota Gengcobra datang. Ketika dirinya tidak sadarkan diri, bukankah hal itu akan sangat mudah untuk membunuhnya saat itu juga? Itulah yang menjadi beban pikiran yang berat bagi Rifki.


Jika Hendra yang merencanakan ini semua, itu tidak mungkin karena Rifki tau bahwa Hendra adalah orang kepercayaan dari Kakeknya. Bagaimana mungkin Hendra melakukan itu kepadanya, lantas apa tujuannya melakukan itu? Hal itu semakin membuat Rifki merasa bingung dengan kejadian semalam.


Rifki pun langsung melepaskan pakaiannya itu, sebelumnya sebuah kertas jatuh dari pakaiannya itu kelantai. Melihat itu, Rifki langsung segera memungutnya dilantai, ia tidak ingat pernah melihat kertas itu sebelumnya.


"Kertas apa ini?"


Dirinya mengingat bahwa sebelumnya tidak ada kertas tersebut didalam saku pakaiannya, entah sejak kapan kertas itu sudah ada didalam bajunya. Ia tidak tau itu kertas apa, akan tetapi kertas putih tersebut terdapat sebuah noda bercak darah. Sehingga kertas tersebut sedikit berbau anyir darah, dan darah itu sudah kering sehingga terlihat berwarna sedikit kecoklatan.

__ADS_1


Rifki langsung membuka gulungan kertas tersebut karena penasarannya, dia begitu sangat merasa penasaran dengan kertas tersebut kenapa ada didalam saku bajunya. Dirinya pun melihat sebuah tulisan yang hampir tidak bisa dibaca dengan jelas, sepertinya sang penulis tidak menulisnya dengan benar.


Rifki lalu membaca tulisan yang ada didalam kertas itu, dirinya pun menampakkan sebuah senyuman tipis. Ketika melihat bentuk dari tulisan tersebut, dirinya mengetahui siapa seseorang yang telah menulis didalam kertas putih yang berlumuran darah itu.


(Isi surat :


Orang yang baik didepanmu belum tentu memang baik. Kau harus lebih berhati hati lagi, atau nyawamu sendiri yang akan menjadi taruhan, dasar ceroboh. Apa kau ingin mati ditangan orang itu dengan begitu mudahnya? Daripada dihabisi orang lain, mending aku sendiri yang menghabisimu! Dihabisi orang lain atau diriku bukannya sama saja?)


Rifki membaca surat itu dengan berbagai macam ekspresi, bagaimana bisa seorang pembunuh justru menuliskan sebuah surat kepadanya. Apalagi surat tersebut terdiri dari ancaman, di saat situasi merasa sangat bingung justru adanya surat tersebut membuat Rifki bertanya tanya.


"Dasar pembunuh yang licik, diam diam ternyata kau berani memelukku, pantas saja bajuku penuh dengan darah padahal aku tidak ngapa ngapain. Berani sekali dirimu," Ucap Rifki sambil mengenggam erat kertas tersebut.


Rifki lalu memegangi baju yang bersimbah darah itu dengan sangat eratnya, kini dirinya tahu siapa pemilik dari darah itu. Rifki lalu mendekapnya di dalam dadanya, tersirat sebuah kerinduan yang teramat sangat di dalam hatinya.


Tatapannya menatap nanar kearah pakaian yang sebelumnya dirinya pakai itu, ada perasaan sedih didalam hatinya setelah membaca surat tersebut. Rifki pun sedikit gemetaran ketika menyentuh bercak darah yang telah mengering itu, bukan karena banyaknya darah yang ada disana, melainkan karena siapa pemilik bercan darah itu.


"Bay!"


Rifki pun berteriak memanggil Bayu, minta mengapa lelaki itu sangat sulit untuk dipanggil, cukup lama dirinya menunggu kedatangannya akhirnya lelaki itu datang. Dengan segera Bayu langsung menghampiri dirinya, karena dirinya takut jika terlambat maka Rifki akan marah kepadanya.


"Ada apa, Rif? Tadi aku ada di luar dan nggak denger kamu panggil diriku, untung saja ada Bi Sari yang memberitahuku," Ucap Bayu.


"Bilang kepada anggota Gengcobra, nggak perlu menyelidiki masalah kasus kematian dari Pak Hendra. Lupakan saja kasus itu,"


Bayu begitu sangat terkejut mendengarnya, bagaimana mungkin Rifki bisa melupakan kasus tersebut begitu saja. Sementara Pak Hendra adalah orang kepercayaan yang sangat dipercayai oleh kakeknya, akan tetapi mengapa tiba-tiba lelaki itu justru memerintahkannya untuk melupakan kasus tersebut.


"Kenapa tiba tiba seperti ini? Apa ada masalah yang besar telah terjadi? Apa dirimu diancam oleh seseorang?" Bayu begitu penasaran.


"Aku bilang lupakan kasus ini ya lupakan, atau enggak kita akan berhadapan dengan orang yang sangat kejam. Pembunuh itu sangat licik, kalau kita semakin memperparah maka bakalan banyak korban yang terjadi,"


"Lalu apa hubungannya, Rif? Ya namanya pembunuh harus mempertanggungjawabkan semuanya, dia sudah tega membunuh Pak Hendra bahkan dia seperti telah menyiksanya terlebih dulu,"


"Yang kau hadapi itu bukan orang lain, tapi dia adalah Nadhira sendiri. Memang kau mau berurusan dengan dia? Dengan caranya seperti ini Apa kau tidak takut jika dia membunuhmu dengan cara yang licik?"


"Itulah yang sulit aku mengerti, Bay. Mengapa dirinya tiba tiba membunuh Pak Hendra, Apa kesalahan Pak Hendra sehingga membuatnya langsung membunuhnya begitu saja?"


"Aku nggak tahu Rif, soal itu. Bagaimana kamu bisa tahu bahwa pelakunya adalah Nadhira?"


Rifki lalu menyerahkan sebuah kertas yang dirinya pegang sejak tadi kepada Bayu, Bayu langsung menerimanya begitu saja dan membacanya. Padahal di dalam surat itu tidak menuliskan tentang identitas dari pelaku, akan tetapi Rifki begitu paham bahwa itu adalah tulisan dari Nadhira.


"Aku nggak tahu masalah Pak Hendra apaan dengan diriku, sehingga wanita itu dengan tega membunuhnya. Apakah dia masih peduli dengan nyawaku? Bahkan dia tidak membiarkanku terluka," Ucap Rifki sambil berjalan membelakangi Bayu.


"Bagaimana kau yakin bahwa itu adalah tulisan Nadhira?"


"Bay, kita sudah bersama dengannya sejak kecil sampai dewasa. Bagaimana mungkin aku tidak hafal dengan tulisannya itu? Kita tumbuh dewasa bersama sama dan melewati setiap hal secara bersama sama, tulisannya sama sekali tidak pernah berubah terlihat seperti cakar ayam."


Bayu pun memikirkan apa yang dikatakan oleh Rifki, dirinya mencoba untuk meneliti tulisan tersebut dan dirinya pun merasa yakin bahwa itu adalah tulisan dari Nadhira. Sekali lihat saja Rifki sudah tahu bahwa itu adalah tulisan milik istrinya, bahkan tulisan tangannya saja sudah dihafal oleh Rifki apalagi dengan kata-kata terakhir dari surat tersebut.


Rifki merasa tidak perlu untuk melanjutkan kasus ini, karena dirinya sendiri sudah tahu siapa pelakunya. Entah sampai kapan dirinya harus bersembunyi dari Rifki, Rifki hanya menyesali satu hal, yakni mengapa dia tidak sadarkan diri lebih awal agar bisa bertemu dengan Nadhira.


Ini benar-benar tidak adil bagi Rifki, Nadhira bisa memeluknya sepuas hati ketika dia tidak sadarkan diri. Sementara dirinya bahkan sama sekali tidak merasakan pelukan itu, karena saat itu posisi Rifki sedang tidak sadarkan diri.


"Apa mungkin pak Hendra mau mencelakaimu, Rif? Tapi mengapa tiba tiba Pak Hendra ingin membunuhmu? Inilah yang membuatku merasa bingung, Rif. Terus mengapa Nadhira harus membunuhnya dengan diam diam? Mengapa dia pergi sebelum menunggumu sadar,"


"Sangat sulit untuk memahami wanita, Bay. Bahkan aku sendiri pun tidak paham dengan dirinya, padahal aku adalah suaminya. Dia sangat curang kepadaku, dia dengan sepuas hati memelukku ketika aku tidak sadarkan diri, tapi diriku apa? Bahkan aku tidak tahu bahwa dia hadir,"


"Itu artinya dia masih peduli denganmu, Rif. Hanya dia yang tahu alasan mengapa Pak Hendra ingin mencelakaimu, apakah memang benar pak Hendra ingin membunuhmu? Di sini juga ada yang aneh, jika bukan Pak Hendra pelakunya lantas mengapa pak Hendra ada di hutan itu? Nadhira tidak mungkin kan membawa Pak Hendra pergi ke sana lalu dibunuh begitu saja? Nadhira tidak akan melakukan hal seperti itu, apalagi dengan orang kepercayaan dari kakekmu."


"Jika benar pak Hendra ingin mencelakai ku, lantas apa yang dirinya incar dariku? Bukankah Jika dia membunuhku maka seluruh anggota Gengcobra akan menargetkannya sebagai sasarannya. Bukankah sama saja dengan bunuh diri?"

__ADS_1


"Bisa jadikan rencananya sudah direncanakan sejak lama, kalau bukan seperti itu maka dia tidak akan mungkin bisa membawamu pergi dari acara itu. Tapi nyatanya dia bisa melakukan itu, bahkan seluruh anggota Gengcobra tidak menyadarinya,"


"Mungkin Nadhira saja yang mengetahui soal itu, apa yang dirinya ketahui dan apa yang tidak aku ketahui? Kita harus segera mencari Nadhira, aku tidak mau dia melakukan hal yang nekat seperti ini lagi. Apalagi dia sedang terluka saat ini, darah yang ada di dalam baju ini adalah miliknya,"


"Iya Rif, kami semua akan berusaha untuk terus mencarinya,"


"Baiklah, kau boleh keluar sekarang."


"Iya,"


Bayu pun bergegas untuk keluar dari ruang kamar milik Rifki, sementara Rifki masih mengenggam erat pakaian yang ada ditangannya itu. Melihat noda bercak darah itu semakin membuatnya bersedih, apalagi dengan adanya sebuah surat yang ada didalam baju tersebut.


Bukan karena ancaman yang diberikan oleh Nadhira kepadanya itu, melainkan karena dirinya mengetahui bahwa Nadhira tengah terluka saat ini. Nadhira berani untuk memeluknya ketika dirinya tidak sadarkan diri, akan tetapi Nadhira tidak berani untuk bertemu dengannya ketika dirinya sadar.


"Ternyata dia masih peduli denganku, aku tidak habis pikir dengan jalan pikirannya itu. Dia menyembunyikan dirinya dariku, tapi dia datang untuk menolongku. Dhira apa yang membuatmu seperti ini kepadaku? Apa kau tidak ingin pulang kerumah untuk berkumpul kembali seperti dulu?"


*****


Ana berjalan menuju ke rumahnya dengan sempoyongan, begitu banyak luka yang ada di tubuhnya saat ini sehingga membuatnya tidak bisa berjalan dengan tegap. Rasa nyeri seakan akan tengah menyelimuti seluruh tubuhnya, darah miliknya pun bercucuran membasahi pakaian yang hitam legam itu.


Saat ini matahari sudah naik ke atas sehingga pagi itu nampak begitu cerah, dirinya berjalan seorang diri disebuah jalanan yang berada didekat tempat tinggalnya itu. Tiba tiba tubuh anak kecil pun langsung menabraknya begitu saja, sehingga dirinya harus menahan rasa nyeri tersebut dan membiarkan gadis kecil itu berhambur kedalam pelukannya.


"Mama kemana saja? Nara sudah nungguin Mama sangat lama. Nara ngak bisa tidur semalaman karena mikirin Mama terus, Nara takut Mama kenapa kenapa diluar sana," Ucap Kinara sambil memeluk tubuh Ana dengan sangat eratnya.


"Akhirnya Kakak pulang juga, Semalaman Nara terus menangis minta diantarin ke Mamanya. Kakak ngak papa kan?" Tanya Siska ketika melihat Ana hanya berdiam diri saja.


"Aku ngak papa kok, Sis. Hanya lelah saja," Jawab Ana sambil mengusap pelan puncak kepala Kinara.


Wajah Ana terlihat pucat saat ini, seakan akan wajah itu tengah menahan sebuah rasa sakit. Siska yang paham dengan itu langsung menarik tangan Kinara agar menjauh dari Ana, Kinara sendiri pun merasa bingung atas apa yang dilakukan oleh Siska.


"Tante Nara masih kangen sama Mama," Ucap Kinara sambil menatap Siska.


"Nara main dulu ya? Tante mau ngomong sama Mama,"


"Tapi Tan..."


"Nara dengerin apa yang dikatakan Tante Siska," Sela Ana dan mengusap pelan puncak kepala Kinara.


"Iya Ma," Jawab Kinara.


Kinara langsung bergegas untuk pergi dari sana, kini hanya tinggal Ana dan Siska saja. Siska lalu mengajak Ana untuk masuk kedalam rumah mereka, dan Ana hanya menurut saja tanpa banyak membantah karena dirinya sendiri juga sedang menahan rasa sakit akibat perkelahian dan luka sayatan yang ada di tubuhnya itu.


"Kakak sakit? Mata Kakak begitu suntuk, apa semalam Kakak tidak tidur?" Tanya Siska panik kepada Ana.


"Aku ngak papa kok, Sis. Hanya kelelahan saja dan butuh istirahat, setelah istirahat pasti akan baik baik saja kok," Jawab Ana.


"Kakak jangan bohong sama Siska, Kakak ngak akan bisa bohong kepada Siska. Semalaman Kakak kemana saja? Kami semua mengkhawatirkan dirimu, apalagi Kinara yang semalaman terjaga untuk menunggu Kakak,"


"Kinara tidak tidur? Kalo dia sakit bagaimana Siska? Kenapa tidak menyuruhnya untuk tidur?"


"Aku sudah menyuruhnya untuk tidur sebelumnya, Kak. Tapi Nara masih saja terjaga, dirinya memutuskan untuk tidur bersama Ibu, tapi ketika Siska mengintipnya dia masih belum juga tidur,"


Bahkan ketika mendengar bahwa Kinara terjaga, Ana pun nampak begitu gelisah hingga melupakan rasa sakit yang tengah dirinya rasakan itu.


...----------------...


Hai semua....


Ada yang rindu nggak sama Author?

__ADS_1


Awalnya aku mau buat keduanya musuhan 😂 tapi nggak jadi, pusing lama lama diriku...


Semoga mengobati rindu kalian ya... See you


__ADS_2