Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Mempersiapkan pernikahan


__ADS_3

Pagi ini Nadhira masih terlelap dalam tidurnya yang nyenyak, entah sedang bermimpi seperti apakah dirinya saat ini hingga membuatnya tersenyum tipis meskipun masih dalam keadaan tidur yang nyenyak sepeti sekarang ini dan senyuman itu menandakan suasana hatinya yang sedang merasa sangat bahagia saat ini.


"Sampai kapan kau akan tertidur seperti ini Dhira, bukankah kau hari ini mau keluar dengan Rifkimu, mengapa waktu rasanya sangat lambat untuk saat ini daripada biasanya" Ucapnya sambil menggeliat.


Nadhira pun membuka matanya lebar lebar dan memandang ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 2 dini hari, sebegitu tidak sabarnya kah dirinya untuk mempersiapkan pernikahannya sehingga untuk tidur pun masih kepikiran dengan rencana pernikahan itu.


"Ternyata masih jam 2 pagi, ku pikir aku tidur sudah sangat lama, mungkinkah karena aku yang merasa tidak sabaran sehingga waktu terasa begitu lama?"


Nadhira pun kembali memejamkan matanya akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa tidur karena rasa yang tidak sabarannya mulai menghantui dirinya, itu adalah saat saat bahagia yang selama ini dirinya nanti nantikan untuk bisa berjuang bersama dengan sosok yang dicintainya.


Sudah sangat lama dirinya menantikan hal itu hingga membuatnya merasa sangat tidak sabaran untuk saat ini, kebahagiaan yang dirinya nanti nantikan akan segera menghampiri dirinya dan orang yang sangat ia cintai itu.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya pun tertidur kembali setelah kelelahan untuk terus menghayal tentang apa saja yang akan mereka lakukan setelah bersama nanti, memikirkan tentang kebahagiaan berkeluarga dan memiliki seorang anak yang akan melengkapi kebahagiaan mereka.


"Dhira, sampai kapan kau akan tidur seperti ini, bagun Nak, ini sudah siang loh" Tiba tiba terdengar suara seseorang disebelah Nadhira.


Nadhira yang mendengar itu seketika membuatnya membuka kedua matanya dengan malasnya, ia pun mendapati sosok Bi Ira tengah duduk didekatnya dengan sebuah senyuman yang merekah indah tersungging diujung bibirnya.


Nadhira melihat pancaran sinar cahaya yang begitu terang masuk kedalam kamarnya karena gorden kamarnya telah dibuka dengan lebar oleh Bi Ira agar Nadhira segera bangun dari tidurnya saat ini.


"Jam berapa ini Bu?" Tanya Nadhira dengan malasnya.


"Sudah jam 7 pagi loh" Jawab Bi Ira.


"Astaghfirullah, aku belom sholat subuh!" Teriak Nadhira dan langsung bergegas untuk masuk kedalam kamar mandi.


Bi Ira pun menggelengkan kepalanya melihat tindakan yang dilakukan oleh Nadhira kali ini, tidak seperti biasanya Nadhira akan bangun pagi pagi entah kenapa kali ini dirinya bangun kesiangan seperti itu.


Sejak semalam Nadhira terus bergadang karena dirinya tidak bisa tidur karena adanya sesuatu kebahagiaan yang akan datang hingga membuatnya baru tertidur ketika hendak adzan subuh sehingga hal itu membuat dirinya terbangun kesiangan kali ini.


"Ibu tunggu dibawah, oh iya Rifki sudah datang diruang tamu" Ucap Bi Ira lagi lagi dan hal itu membuat Nadhira menjadi sedikit panik karena dirinya yang belum bersiap siap untuk jalan.


"Apa! Dia sudah datang, kenapa Ibu tidak membangun aku sejak tadi sih, pasti dia menunggu sangat lama"


"Ibu pikir kamu sudah bangun Nak, kan biasanya kamu bangunnya begitu pagi dan berolah raga terlebih dahulu sebelum mandi, dia juga baru datang kok itu sebabnya Ibu masuk kekamarmu untuk memberitahumu eh kamunya masih tidur dengan nyenyaknya".


"Bu, tolong bilang ke dia ya, tunggu 20 menit lagi, Dhira mau siap siap dulu".


"Iya, sudah Ibu bilangin kok".


"Cepet banget, bilangin ke dia apa?"


"Ibu tadi bilang kalau kamu belom siap siap, jadi dia pasti akan nungguin, lagian memang benarkan apa yang Ibu katakan ke dia tadi, ternyata kamu sendiri juga belum siap siap".


"Oke Bu".


Bi Ira pun segera bergegas meninggalkan kamar Nadhira tersebut untuk kembali melakukan aktivitasnya dan dirinya menemani Rifki untuk mengobrol sambil menunggu Nadhira datang.


Tak beberapa lama kemudian akhirnya Nadhira datang dengan pakaian sederhananya dan langsung bergegas untuk menghampiri Rifki dan Bi Ira yang sedang mengobrol saat ini.


"Akhirnya calon pengantin wanita datang juga, yang ditunggu tunggu sejak tadi, lihatlah calon suamimu menunggumu begitu lama sayang" Ucap Sarah ketika melihat Nadhira datang.


"Maaf baru bangun Oma" Ucap Nadhira.


"Tumben? Apakah tidurmu sangat nyenyak tadi malam Dhira sehingga bangunmu begitu siang kali ini?" Tanya Rifki.


"Sangat nyenyak sampai sampai aku tidak bisa tidur pulas malam ini, mungkin aku baru tertidur tadi pukul 3 pagi" Keluh Nadhira.


"Setelah ini kau pasti bisa tertidur dengan sangat pulas Nak, bagaimana tidak suamimu akan terus memelukmu nantinya" Goda Sarah.


"Betul sekali Nyonya, pasti mereka akan sangat betah jika berada didalam kamar berdua" Tambah Bi Ira.


"Tenang saja Oma, aku akan berusaha untuk membuatnya tertidur dengan pulas nantinya bahkan sampai tidak mau bangkit dari kasurnya karena sangking pulasnya" Ucap Rifki.


"Kalian ini ngomong apa sih?" Tanya Nadhira dengan malu.


Seketika hal itu membuat wajah Nadhira terlihat memerah merona karena godaan tersebut, ia pun menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya karena malunya.


"Sudah ah, ayo berangkat sekarang juga Rif" Ajak Nadhira dengan malunya.


"Iya ya berangkat, pamitan dulu gih" Ucap Rifki.


"Oma Dhira berangkat dulu ya" Ucap Nadhira sambil meraih tangan Sarah untuk menciumnya.


"Iya Nak, hati hati dijalan" Ucap Sarah.


"Bu Dhira berangkat ya" Ucap Nadhira lagi dan kali ini dirinya meraih tangan Bi Ira dan menciumnya.


"Iya hati hati Nak" Ucap Bi Ira.


Rifki juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Nadhira, keduanya pun segera bergegas keluar dari rumah itu untuk menuju kearah mobil milik Rifki yang saat ini tengah disopir oleh Bayu, belakangan ini Bayu terasa sangat direpotkan oleh Rifki untuk mengantarnya kemana mana.


"Berangkat sekarang juga apa?" Tanya Bayu.


"Ngak, tahun depan baru berangkatnya" Jawab Rifki dengan ketusnya.


"Berarti nikahnya juga tahun depan dong"


"Minta ditabok atau gimana kau ini Bay? Ya sekarang lah orang udah siap juga"

__ADS_1


"Santuy lah kayak ayam mau kawin saja kau ini, ya udah buruan masuk"


"Gitu kek dari tadi".


Bayu segera membukakan pintu untuk Rifki dan membiarkan dirinya masuk kedalam mobil itu, keduanya pun masuk kedalam mobil dan setelah itu Bayu pun segera masuk kedalam mobil terserah, mereka pun bergegas pergi meninggalkan halaman rumah Nadhira.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang untuk memecah keramaian kota pagi ini, mobil tersebut memasuki parkiran sebuah bangunan yang cukup mewah dan adanya berbagai macam gaun pengantin yang indah terpajang disana.


"Ayo turun" Ajak Rifki.


Rifki pun menjulurkan tangannya kepada Nadhira, Nadhira langsung menerima tangan Rifki dan memeganginya dengan erat, keduanya pun turun dari mobil tersebut untuk bergegas masuk kedalam bangunan yang mewah itu.


"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" Sapa seorang karyawan didalam toko besar itu.


"Keluarkan semua gaun pengantin yang paling bagus ditoko ini" Ucap Rifki.


"Baik Tuan, mari ikut saya".


Karyawan tersebut segera bergegas menunjukkan tempat dimana gaun pengantin berada, sementara Nadhira dan Rifki mengikutinya dari belakang sambil bergandengan tangan hingga membuat semua pegawai karyawan yang ada ditempat itu merasa sangat iri kepada keduanya.


"Ini yang paling bagus disini Tuan" Ucap karyawan tersebut sambil menunjuk sebuah gaun yang penuh dengan pernak pernik yang indah dan dirajut dengan sangat teliti.


"Ada yang lain Mbak?" Tanya Nadhira.


"Kenapa dengan gaun ini Dhira? Gaun ini akan terlihat bagus jika kau yang memakainya nanti diacara pernikahan kita" Tanya Rifki.


"Ngak suka aja, terlalu banyak pernak pernik Rif, nanti kalo dipake biasanya ngak terlalu nyaman, cuma indah dilihat saja tapi kalo dipake ngak nyaman" Jawab Nadhira.


"Ya udah, ganti saja".


Karyawan toko itu pun segera bergegas untuk mengambilkan gaun pengantin yang lainnya yang terlihat lebih simpel daripada sebelumnya akan tetapi akan terlihat sangat anggun jika dipakai oleh Nadhira.


Gaun tersebut nampak begitu indah dengan motif bunga mawar yang mengelilinginya, gaun tersebut berwarna hijau tua dan terlihat dengan hiasan bunga yang berwarna emas.


"Bagaimana kalau yang ini Tuan? Kalau yang ini kainnya lebih halus daripada sebelumnya" Tanya karyawan tersebut kepada Rifki.


"Apa tidak ada warna yang lain Mbak? Saya kurang suka dengan warna ini, terlalu mencolok" Ucap Rifki


"Kalo yang model seperti ini hanya tersisa yang warna ini saja Tuan"


"Model yang lainnya saja Mbak"


"Bentar saya ambilkan Tuan" Dan karyawan itu bergegas untuk mencari gaun yang lainnya.


Setelah cukup lama dan begitu banyak mereka memilih gaun yang akan digunakan didalam pesta pernikahan tersebut akhirnya mereka menemukan pakaian yang sesuai dengan keinginan mereka, gaun yang terlihat sederhana dan juga warna yang elegan membuat Nadhira tertarik dengan gaun tersebut.


"Iya bentar" Ucap Nadhira langsung bangkit dari duduknya itu.


Akhirnya Nadhira berjalan kearah ruang ganti dengan diikuti oleh beberapa karyawan untuk mencoba baju tersebut, setelah cukup lama kemudian akhirnya Nadhira keluar dari ruangan itu dengan memakai gaun pengantin yang mereka pilih.


"Gimana Rif?" Tanya Nadhira sambil berputar putar untuk menunjukkan kecocokan baju itu.


"Perfect Dhira, kau terlihat sangat cantik dengan menggunakan gaun ini" Puji Rifki.


"Tapi sepertinya aku merasa kegendutan dengan pakaian ini Rif, nanti orang orang akan berpikir kalau aku gendut"


"Mana ada? Sudah itu saja Dhira, aku lebih suka kamu pake gaun yang itu nantinya".


"Ngak ngak, aku mau ganti saja".


"Sudah 30 baju tidak ada yang cocok denganmu Dhira, apa kita harus pindah mencari ketoko yang lainnya juga? Siapa tau ada yang lebih cocok untukmu"


"Ya sudah ini aja deh, lagian kau juga suka yang kan? Maka ini saja, nanti pilih lagi juga ditoko yang lainnya Rif, biar ada baju gantinya".


"Baiklah jika seperti itu kemauanmu Tuan Puteri".


*****


Sebagian besar anggota Gengcobra tengah mempersiapkan dekorasi digedung yang telah disewa oleh Rifki untuk melaksanakan pernikahan dengan Nadhira, dan setengahnya lagi mereka tetap berjaga jaga dimarkas agar tidak terjadinya penyerangan tiba tiba didalam markas itu.


Anggota Gengcobra yang mendekorasi ditempat itu pun terlihat sangat sibuk sekali, mereka bekerja dengan tugas mereka masing masing, dan tidak ada yang berdiam diri saja ditempat itu.


"Eh itu sebaiknya ditaroh dipojok sana saja biar tambah bagus" Ucap Reno berkomentar.


"Bagaimana kalo hiasan bunga ini ditaruh diujung ruangan?" Tanya Vano yang meminta pendapat dari Reno dan yang lainnya.


"Jangan, mending ditaroh di pojok saja" Ucap Fajar sambil menunjuk kearah tepi dekat dengan meja yang akan digunakan untuk menaruh makanan.


"Idih seleramu rendah sekali Jar, jangan disana lah mending dilangit langit bagunan ini saja" Saran Vano.


"Emang kelihatan kalo ditaroh sana? Mikir dong woi"


"Iya juga sih, bagaimana kalo ditaruh didekat pelaminan? Kan indah juga nantinya".


"Lah pelaminannya saja sudah penuh bunga, masak iya harus ditambah lagi?"


"Stop! Kenapa kalian malah berdebat sih bukannya langsung kerja saja" Sela Reno.


"Kan aku hanya meminta pendapat, emang salah ya?" Tanya Vano dengan polos.

__ADS_1


"Ngak juga sih, ya sudah taroh sana saja didekat pintu masuk" Ucap Reno.


"Baiklah".


Vano segera menaruh hiasan bunga tersebut ditempat yang dimaksud oleh Reno, ia pun memasang berbagai bentuk tirai yang terlibat indah untuk sebagai hiasan tempat pernikahan itu.


Fajar pun memasang sebuah bingkai foto Nadhira dan Rifki yang terlihat cukup besar dan berat didepan pintu masuk gedung itu dengan bertuliskan *Mohon doa restu* untuk kedua mempelai pengantin itu.


"Kiri kiri" Ucap Reno berkomentar.


"Disini?" Tanya Fajar sambil sedikit menggeser kekiri.


"Kurang keatas dikit"


"Disini?"


"Geser kekiri lagi"


"Apakah disini sudah bagus?"


"Kenapa malah menceng sih, coba yang sebelah kiri sedikit diatasin"


"Seperti ini? Atau kurang keatas?"


"Kok malah jelek sih, geser kekanan dikit".


"Kanan kanan Jar, kanan" Tambah Vano.


"Nih kau yang pasang saja" Ucap Fajar dengan sebalnya dan langsung menyerahkan bingkai tersebut kepada Reno.


"Eh kau memerintahku?" Tanya Reno dengan nada yang sedikit sensitif.


"Kau yang paling tau, mangkanya itu kau yang harus memasangnya sendiri biar sesuai dengan keinginanmu itu" Ucap Fajar dengan ringannya.


"Huft nih bocah ngak ada sopan sopannya" Reno menghela nafas panjang karena ucapan Fajar.


Fajar pun bergegas pergi dari tempat itu agar tidak kena omelan Reno jika bingkai itu telah terpasang, ia pun memilih untuk melakukan hal yang lain agar tidak disalahkan oleh mereka karena berdiam diri tanpa membantu yang lainnya.


*****


"Ma, menurut Mama yang bagus yang mana?" Tanya seorang gadis berjalan mendekat kearah Putri sambil membawa beberapa kertas undangan pernikahan.


Gadis itu mencoba untuk memilih kertas undangan yang paling bagus akan tetapi dirinya kebingungan karena semuanya terlalu bagus untuk bisa dipilih yang paling bagus, gadis itu tidak lain adalah Ayu Adik perempuannya Rifki.


"Menurutmu yang mana Nak?" Tanya Putri sambil menerima beberapa bentuk undangan itu.


"Semuanya bagus Ma, Ayu tidak bisa memilihnya" Keluh Ayu karena tidak menemukan yang sesuai untuk pernikahan Kakaknya.


"Bagaimana kalau yang ini?" Tanya Putri sambil mengangkat sebuah undangan pernikahan yang memiliki bentuk yang lucu.


"Terlalu berlebihan hiasannya Ma" Ucap Ayu.


"Bagaimana kalau yang ini?" Tanya Putri lagi akan tetapi kali ini dirinya mengangkat sebuah undangan pernikahan seperti sebuah buku kecil dengan sampul yang terpasang bunga plastik.


"Adek kurang suka dengan ini Ma, sama sekali tidak elegan kalo dipandang, seperti terlalu mencolok akan hiasannya Ma".


"Kalo yang ini? Bagus kan terlihat begitu cantik kalo dipandangi dengan jarak dekat"


"Ngakk... Jangan yang itu, kalo dekat saja terlihat bagus kalo jauh mah kayak jelek sekali Ma"


"Ini bagaimana? Bukankah ini juga bagus? Modelnya juga sangat menarik daripada yang lainnya"


"Ngak ada yang lain apa Ma? Warnanya tidak suka, Ayu tidak setuju kalo yang itu.".


"Yang ini?".


"Terlalu kekanak kanakan Ma, masak iya undangan pernikahan CEO Abriyanta Groub seperti itu, ngak lucu sama sekali Ma".


"Ini bagus ngak?"


"Bagus sih tapi masak pernikahan Kakak harus pake undangan seperti itu sih Ma, kayak ngak ada yang lainnya saja"


"Terus yang mana Adek" Ucap Putri yang sedikit geram kepada Ayu.


"Yang lainnya Ma".


"Ya udah ini saja, yang terakhir"


"Aaa Mama, selera Mama kurang bagus deh, masak seperti itu dibilang bagus sih".


"Sudah sana minta pendapat sama Papamu, Mama pusing mikirinnya" Ucap Putri yang langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu.


"Ih Mama, dimintai bantuan pun seperti itu" Rengek Ayu yang ditinggal Mamanya pergi.


Ayu pun terlihat sedikit sebal dengan apa yang dilakukan oleh Putri, ia pun kembali memilih undangan pernikahan yang paling bagus untuk Kakaknya itu seorang diri tanpa meminta bantuan kepada siapapun karena baginya percuma saja meminta karena sama sekali tidak menemukan jawabannya.


"Apa ini bagus? Tidak tidak, mending yang ini saja, bagaimana aku bisa memilihnya? Semua kelihatannya sama saja,, Aaa Tuhan tolong bantu aku"


Brakkk

__ADS_1


__ADS_2