Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Sang pawang telah tiba


__ADS_3

Citra terus memeriksa satu persatu dari mereka akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan bukti apa apa setelah melakukan interaksi dengan mereka semua, ia pun kembali berwajah masam karena tidak menemukan bukti apa apa setelah pemeriksaan itu.


"Bagaimana kalau Nona Muda semakin marah dengan diriku" Gumannya pelan.


"Berdoalah semoga pemuda yang kemarin datang ketempat ini, sepertinya dia memiliki hubungan yang sangat erat dengan Nona Muda" Bisik salah satu rekan kerjanya kepada Citra ketika mendengar gumanan dari Citra sebelumnya.


"Kau benar, tapi bagaimana bisa dia datang ketempat ini tiba tiba? Kita juga belum mengetahui latar belakangnya seperti apa".


Mendengar itu membuat rekan kerjanya segera menutup mulutnya entah apa yang tengah ia pikirkan, dan hal itu membuat Citra segera bergegas menemui Nadhira yang tengah menunggu.


"Bagaimana?" Tanya Nadhira ketika melihat Citra berjalan mendekat kearahnya.


"Maaf Nona Muda, kami tidak menemukan apa apa".


"Ngak ada yang mengaku? Apa mereka tidak tau kita sedang berurusan dengan siapa? Dia bisa saja dengan mudah menghancurkan perusahaan ini, apa kalian ingin itu terjadi ha?" Ucap Nadhira dengan marahnya kepada semua orang.


"Apa yang kau katakan Dhira?" Tanya Theo yang merasa bingung dengan apa yang dimaksud oleh Nadhira saat ini.


"Dia bukanlah tandingan perusahan ini, dan aku tidak akan pernah memaafkan pelakunya itu, biarpun orang itu adalah orang terdekatku sendiri, aku adalah CEO diperusahan ini, berani beraninya orang itu menentang ucapanku, dan bertindak semaunya sendiri" Ucap Nadhira dengan tegasnya dan dapat didengar oleh seluruhnya.


Nadhira segera bangkit dari duduknya dan bergegas mendatangi sekumpulan orang orang itu, melihat itu membuat mereka ketakutan hingga tubuh mereka bergetar dengan sendirinya, ketika mengetahui bahwa Citra yang maju hal itu membuat mereka merasa lega akan tetapi kali ini Nadhira sendiri yang maju dan itu hampir membuat mereka berhenti bernafas seketika.


"KALIAN BENAR BENAR MENGECEWAKAN!" Bentak Nadhira kepada mereka.


"Maafkan kami Nona Muda, kami benar benar tidak mengetahui soal itu" Ucap orang yang berada didepan Nadhira dengan tubuh bergetar hebat.


"Dari sekian banyak orang disini, apa tidak ada yang mengetahuinya sama sekali?" Tanya Nadhira dengan nada yang sedikit menurun.


"Oh tuhan tolonglah kami" Batin orang yang ada didepan Nadhira.


"THEO!" Panggil Nadhira dengan nada tinggi.


"Iya Dhira" Ucap Theo dan langsung bergegas menuju kearah dimana Nadhira berdiri saat ini.


Ketika Theo sampai ditempat dimana Nadhira berada saat ini, Nadhira hanya berdiam diri tanpa menoleh sedikitpun kearahnya, dan hal itu membuat Theo bertanya tanya dalam batinnya dengan apa yang akan dilakukan oleh Nadhira selanjutnya.


"Menurutmu siapa yang bersalah diantara mereka?" Tanya Nadhira tanpa menoleh sedikitpun.


"Aku tidak tau Dhira" Ucap Theo dengan ragunya.


"Apa jangan jangan kau adalah pelakunya?" Tanya Nadhira sambil melirik kearah Theo dengan tajam.


"Bagaimana mungkin itu diriku Dhira? Kenapa kau bisa menuduhku seperti itu? Kau tau sendiri kan kalau kemarin aku tidak berada di kantor ini".


"Bagaimana mungkin ada seorang maling yang mau mengakuinya dengan mudah? Jika itu terjadi mungkin penjara akan penuh dengan orang orang seperti itu".


"Jadi kau benar benar menuduhku Dhira? Aku tidak menyangka bahwa kau akan melakukan itu kepadaku, kau mengenaliku sejak lama Dhira, kenapa kau bisa meragukan diriku seperti itu?".


"Aku tidak pernah meragukan dirimu Theo, dan aku tidak hanya berbicara kepadamu saja, tapi aku berbicara kepada kalian semua, lantas bagaimana bisa kau berpikir bahwa aku meragukan dirimu?".


"Aku pikir kau meragukanku Dhira".


"Jika kau tidak bersalah kenapa harus takut untuk diragukan? Jika benar kau yang bersalah maka hal itu pantas untuk takut diragukan seperti itu".


Nadhira kembali menatap kearah para pekerjanya itu, dengan satu persatu ia mendatangi mereka sambil menatap wajah mereka yang kini terlihat begitu pucat pasih, seakan akan tidak ada tanda tanda kehidupan dari wajah mereka.


"Aku akan tanya sekali lagi kepada kalian dan jawablah dengan sejujur jujurnya, jika kalian berbohong sedikitpun itu aku pasti akan mengetahuinya dengan sangat mudah".


Nadhira mulai menanyai mereka satu persatu dan tidak ada yang terlewatkan sedikitpun meskipun itu adalah satpam yang mengamankan perusahaan tersebut, dan kini dia berhadapan dengan Citra sang sekertarisnya sendiri.


"Kemana saja dirimu kemarin?" Tanya Nadhira.


"Setelah menutup kantor saya pulang Nona Muda" Jawab Citra tanpa ragu.


"Apa saja yang kau lakukan sejak pulang bekerja?".


"Saya keluar jalan jalan bersama keluarga saya untuk makan malam bersama Nona Muda, setelah itu saya sibuk menonton televisi ketika Nona Muda menelfon saya kemarin malam".


"Apa kau sama sekali tidak mencurigai siapa yang telah melaporkan hal ini?" Tanya Nadhira dengan nada dinginnya, "Untuk apa kamu bekerja disini selama ini jika hanya menemukan pelakunya saja kalian tidak bisa!".

__ADS_1


"Maafkan keteledoran saya kali ini Nona Muda, sebelumnya saya sudah peringatan kepada mereka agar tidak ada yang melaporkan hal itu Nona Muda, tolong maafkan saya dan jangan pecat saya Nona Muda saya mohon" Ucap Citra yang mulai berlinangan air mata.


Nadhira hanya menghela nafasnya dengan berat mendengar ucapan Citra yang menyedihkan itu, kini pandangan Nadhira tertuju kepada Theo yang berdiri tidak jauh darinya, Nadhira mendekat kearah Theo sementara Theo hanya mengigit bibirnya sendiri dalam diamnya.


"Kemana saja dirimu kemarin pergi?" Tanya Nadhira kepada Theo dengan tatapan tajam.


"Aku kemarin pergi untuk memeriksa kondisi dari bangunan cabang baru perusahaan ini Dhira, dan bangunannya sudah bisa ditempati dan aku sudah memeriksanya dengan teliti bahwa bangunan itu sangat aman sekarang".


"Aku tidak menanyakan soal itu, aku bertanya kemana kau pergi setelah pulang kerja".


"Aku langsung pulang Dhira, aku tidak pergi kemana mana setelah itu, beneran" Ucapnya dengan sedikit gugup dan ragu.


"BOHONG! Apa kau ingin membohongiku Theo!"


"Dhira aku tidak berniat untuk membohongimu, kenapa kau bisa berpikir seperti itu, apa kau mulai meragukan diriku setelah kehadiran orang itu kembali? Kau terlihat seperti bukan Nadhira yang aku kenal selama ini".


"Theo, asal kau tau ya, antara kau berbohong atau tidak, aku akan mengetahuinya dengan mudah! Jika kau merasa tidak membohongiku kenapa kau sangat ragu untuk mengatakan itu!" Sentak Nadhira dengan nada begitu cepat dan tinggi.


"Aku sama sekali tidak menyangka bahwa kau akan meragukan diriku Dhira! Aku tidak ingin berdebat dengan dirimu Dhira!" Ucap Theo dengan nada yang sedikit tinggi kepada Nadhira.


Melihat pertengkaran keduanya itu membuat para pegawai yang ada di perusahaan itu merasa begitu takut, padahal Theo adalah orang yang paling dipercaya oleh Nadhira dan begitu dekat dengannya selama ini akan tetapi karena masalah seperti ini membuat Theo sangat diragukan oleh Nadhira dan bahkan dibentak bentak olehnya.


Mereka berpikir bahwa orang seperti Theo saja dimarahi oleh Nadhira seperti itu, apalagi dengan mereka yang bahkan tidak dikenal jelas oleh Nadhira, mungkin mereka hanya akan dipandang sebelah mata saja oleh Nadhira dan langsung memecatnya tanpa gaji begitu saja ketika mereka ketahuan karena telah melakukan kesalahan sefatal itu.


Melihat Nadhira yang begitu marah seperti itu membuat para pekerja yang ada ditempat itu meneteskan air matanya dan bahkan ada yang berpelukan satu sama lain dengan kawan kawannya.


"Sepertinya emosi Nona Muda sedang tidak setabil hari ini, kamu yang sabar ya, mungkin setelah Nona Muda tenang kembali keadaan disini pasti akan baik baik saja nantinya" Bisik seseorang kepada Citra yang tengah berlinangan air mata itu.


"Aku hanya takut dipecat olehnya karena kesalahan ini" Ucap Citra sambil mengusap air matanya.


"Nona Muda tidak akan melakukan itu, selama ini kau adalah orang yang paling setia kepada Nona Muda".


"Kau tau Din, ini bukanlah hal yang biasa, Nona Muda tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, apalagi sampai membentak bentak seperti itu".


Melihat Nadhira yang memarahi mereka membuat mereka bertekat untuk tidak akan melakukan hal seperti itu dimasa depan, mereka berjanji pada diri mereka sendiri bahwa mereka akan patuh terhadap perintah Nadhira sehingga kesalahan seperti ini tidak akan pernah terulangi lagi.


Tak beberapa lama kemudian datanglah beberapa orang dengan memakai jas yang begitu serasi satu sama lain dan menjadi sebuah bodyguard untuk mengawal satu orang, dan ditengah tengah mereka terdapat seorang pemuda dengan jas yang berbeda dari yang lainnya dan juga sebuah kacamata hitam yang tengah ia pakai.


Mendengar suara itu seketika membuat mereka semua menoleh kearah sumber suara dan menemukan sosok seorang pemuda yang begitu tampan dengan sebuah jas hitam sehingga membuatnya begitu menawan, kedatangannya kali ini membuat para wanita terpanah karenanya itu, sementara Nadhira dan Theo masih tetap berdebat, pemuda itu langsung mendatangi tempat dimana Nadhira berada.


Pemuda itu tidak lain adalah Rifki yang tiba tiba datang ketempat itu, ia merasa curiga bahwa akan terjadi sesuatu diperusahan tersebut ketika mendengar percakapan antara Nadhira dengan sekertarisnya kemarin malam sehingga ia memutuskan untuk datang dan melihatnya.


Rifki segera berjalan kearah Nadhira, setelah dirinya sampai ditempat itu ia dengan cepat memegangi tangan Nadhira dan hal itu membuat Nadhira sontak terkejut karena tangannya yang dipegang dengan tiba tiba seperti itu, Nadhira pikir bahwa itu adalah orang lain sehingga ia mengibaskan tangannya dengan sangat kuatnya.


"Diam kau!" Ucap Nadhira dengan sangat marahnya tanpa menoleh kebelakangnya.


"Baiklah aku akan diam, tidak usah semarah itu kali dengan diriku" Ucap Rifki.


Mendengar bahwa suara itu adalah suara orang yang paling ia kenali membuat Nadhira segera menoleh kearahnya dan menemukan bahwa Rifki sudah berada disebelahnya dengan menggunakan kacamata hitam dan jas yang berwarna hitam, sementara disebelah Rifki terdapat Bayu dan Reno dan beberapa anak buahnya.


"Kenapa kau ada disini!" Ucap Theo dengan marahnya ketika melihat kedatangan Rifki.


"Masalah kita belum selesai Theo!" Ucap Nadhira yang tidak kalah marahnya daripada Theo.


"Sudahlah Dhira, apa kau tidak kasihan dengan bawahan mu itu? Lihatlah mereka semua yang tengah meneteskan air matanya ketika melihat dirimu marah" Ucap Rifki dengan pelan untuk mencoba meluluh kemarahan Nadhira sambil menunjuk kearah para pekerja diperusahan itu.


"Tapi Rif, mereka telah berani melawan perintahku, dan aku paling tidak suka untuk itu".


"Aku tau itu, dan bukan berarti mereka semua telah melakukan kesalahan Dhira, sudah jangan diperpanjang lagi masalah ini, lagian pihakku juga sudah melupakan itu semua, benarkan Bay?" Tanya Rifki kepada Bayu.


"Benar Tuan Muda" Ucap Bayu yang membenarkan perkataan Rifki.


Citra terus berharap bahwa Nadhira tidak akan memecat dirinya karena kelalaiannya kali ini, ia mencoba untuk memohon dengan pelannya kepada Nadhira untuk hal itu dengan linangan air mata yang masih membasahi kedua pipinya itu.


Rifki mengusap pelan punggung Nadhira agar Nadhira merasa lebih tenang daripada sebelumnya, dan Nadhira hanya mampu menghela nafasnya saja, ia benar benar kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Theo kali ini, akan tetapi mendengar perkataan Rifki membuat Nadhira merasa sedikit lebih tenang.


"Nona Muda tolong jangan pecat saya" Ucap Citra yang masih tetap menangis.


"Tidak ada yang akan dipecat Citra, kalian boleh kembali keruangan masing masing dan bekerja kembali" Ucap Nadhira kepada mereka.

__ADS_1


"Benarkah Nona Muda? Nona Muda tidak memecat saya? Maafkan kelalaian saya kali ini Nona".


"Iya, sudah kalian bisa kembali bekerja, dan jangan pernah kalian sesekali melanggar ucapanku"


"Baik Nona Muda, kami akan mengingatnya" Jawab mereka serempak dan langsung bergegas pergi dari tempat itu begitupun dengan Theo.


Melihat itu membuat Rifki merasa lega karena Nadhira tidak mengamuk lagi karena kejadian kemarin malam, Nadhira mengajak Rifki beserta anak buahnya itu untuk masuk kedalam ruang kerjanya dan mengobrol disana.


Mereka segera bergegas pergi keruang kerja Nadhira setelah itu mereka duduk disebuah sofa yang cukup luas bersama sama, Rifki langsung duduk disebelah Nadhira begitupun dengan anak buahnya yang duduk saling bersampingan.


"Bagaimana kondisi kakimu Dhira?" Tanya Rifki.


"Kakiku sudah baik baik saja".


Rifki segera berlutut dihadapan Nadhira dan langsung memeriksakannya sendiri tentang bagaimana kondisi kaki Nadhira saat ini, Rifki tidak mempercayai kata kata 'baik baik saja' ataupun tidak 'apa apa lagi' sebelumnya dirinya memeriksanya sendiri karena Nadhira sering mengatakan itu padahal hal itu berlainan dengan keadaanya sendiri.


"Apa yang kau lakukan Rif?" Tanya Nadhira yang terkejut.


"Aku tidak akan puas dengan jawabanmu itu sebelum aku memeriksanya sendiri".


Rifki langsung memeriksakannya sendiri dan beberapa kali menekan luka tersebut hingga membuat Nadhira mendesis kesakitan dengan apa yang dilakukan oleh Rifki, akan tetapi hal itu tidak sesakit kemarin malam.


"Sudah lumayan membaik daripada kemarin, tapi ini masih terasa sakit bukan?" Tanya Rifki.


"Sedikit kok Rif".


"Lalu kenapa berteriak? Biasanya kau akan tahan dengan sakit, kenapa sampai berteriak seperti itu?".


"Aku hanya terkejut saja tiba tiba kau menekan luka cideraku seperti itu".


"Padahal aku hanya menekankan dengan pelan saja".


"Oh iya kenapa kamu tiba tiba datang kemari? Apa ada sesuatu yang penting?"


"Ngak ada, aku hanya khawatir dengan dirimu saja Dhira, dan benar kan kalau kau sedang marah marah disini, sepertinya dugaanku tidak pernah salah".


Mereka pun mengobrol dengan santainya ditempat itu, dan sesekali mereka bercanda bersama hingga membuat ruangan Nadhira terlihat begitu ramai, hingga beberapa saat kemudian Citra mengetuk pintu ruangan Nadhira dan Nadhira segera mempersilahkan dirinya untuk masuk.


"Maaf menganggu Nona Muda, ini adalah berkas berkas mengenai pembukaan cabang baru perusahaan kita Nona Muda" Ucapnya sambil menyodorkan beberapa map kepada Nadhira dan langsung diterima oleh Nadhira.


"Baiklah, kau bisa kembali keruanganmu sekarang".


"Baik Nona Muda".


Setelah menyerahkan berkas tersebut kepada Nadhira, Citra segera keluar dari ruangan tersebut dengan sangat gugupnya karena salah satu anggota Gengcobra tengah memandanginya, setelah Citra keluar Nadhira segera membaca berkas berkas tersebut dengan sangat teliti.


"Kau ingin membuka cabang baru Dhira?" Tanya Rifki dengan kagumnya.


"Iya Rif, rencananya sih besok lusa mau mengadakan pesta pembukaan cabang baru, kau harus hadir ya".


"Dengan senang hati Nadhira, apa hanya diriku saja yang diundang? Ataukah kau juga mengundang anak Gengcobra juga? Lagian sebagian dari mereka juga sangat mengenalimu".


"Siapapun boleh datang kok Rif, entah dari Abriyanta Groub, Gengcobra atau Surya Jayantara juga boleh ikut kedalam pesta itu, lagian juga itu adalah sebuah perayaan perusahaan dan siapapun boleh mengikutinya walaupun mereka adalah masyarakat sekitar tempat dibangunnya cabang baru ku itu".


"Baiklah aku akan datang bersama dengan anggota Gengcobra juga" Putus Rifki.


"Apakah dengan diriku juga Tuan Muda?" Tanya Reno berharap dirinya juga diajak.


"Iya, kau boleh ikut dengan kami".


"Terima kasih Tuan Muda" Ucap Reno dengan bahagianya.


"Tenang saja kawan kau pasti akan ikut dengan kami kok" Ucap Bayi sambil merangkul pundak Reno.


"Siapa yang mengajak dirimu juga Bay?" Tanya Rifki.


"Meskipun ngak ada yang mengajakku, aku bisa datang sendiri kok".


Jika dihadapan banyak orang Bayu akan begitu sangat hormat dengan Rifki seolah olah dirinya adalah seorang bodyguard yang begitu sangat jahat dan kejam, akan tetapi ketika tidak ada orang lain yang melihatnya ia akan bersikap seperti seorang sahabat kepada sahabatnya sendiri.

__ADS_1


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...


__ADS_2