
"Tolong jangan lakukan itu, Oma pasti bisa selamat hiks.. hiks.. hiks.." Ucap Nadhira sambil berusaha untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh para Suster tersebut.
Nadhira pun berusaha untuk menghalangi mereka melepaskan peralatan yang ada ditubuh Sarah dan beranggapan bahwa Sarah masih bisa selamat, melihat itu membuat Rifki segera memegangi tangan Nadhira dan langsung memeluknya agar Nadhira tidak memberontak.
"Dhira, biarkan mereka melakukan tugasnya" Ucap Rifki dengan lembutnya kepada Nadhira.
"Tidak Rif aku harus menghentikan mereka, jika mereka melakukan itu nanti Oma akan melemah, aku tidak mau kehilangan Oma, Oma masih bisa selamat jika mereka melakukan itu Oma tidak akan bisa diselamatkan lagi, aku harus menghentikan mereka"
"Dhira, Oma sudah tiada, kau harus mengiklankannya ya, jangan menghalangi mereka untuk melakukan tugasnya"
"Tapi Rif.."
"Sudah jangan dilihat, biar mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan" Ucap Rifki sambil menolehkan wajah Nadhira kearah lain.
Isak tangis Nadhira pun semakin menjadi akan tetapi hanya terdengar lirih karena wajahnya yang ia benamkan didada bidang milik suaminya, sehingga hanya Rifki yang mendengarkannya dengan begitu sangat jelasnya.
Rifki hanya bisa mengusap pelan punggung Nadhira seraya untuk menenangkan, Nadhira sama sekali tidak buruh nasehat akan tetapi dirinya hanya butuh belaian kasih sayang untuk saat ini, percuma saja menasehati orang yang sedang bersedih karena mereka tidak membutuhkan itu.
"Oma, jangan tinggalkan aku" Ucap Nadhira lirih didalam pelukan Rifki.
Setelah terisak tangis begitu lama, hal itu membuat Nadhira merasa sangat mengantuk, dan ia pun tertidur dengan nyenyak didalam dekapan suaminya, meskipun tertidur akan tetapi masih dapat terdengar suara isak tangisnya.
"Aku akan membawa Dhira pulang, kalian juga pulang dan kita sambut kedatangan jenazah Oma Sarah dirumahnya" Ucap Rifki kepada semua orang yang ada didalam ruangan itu dan hanya dijawab anggukan kepala oleh mereka.
Rifki pun lalu mengangkat tubuh Nadhira ala bridal style dan menyandarkan kepala Nadhira didadanya, Rifki lalu membawa Nadhira pergi untuk meninggalkan ruang rawat tersebut, setelah melewati pintu ruangan itu dirinya lalu disambung dengan beberapa anggota Gengcobra.
"Apa yang terjadi Rif?" Tanya Bayu yang sejak dari tadi diluar ruang rawat tersebut.
"Oma Sarah sudah tiada" Jawab Rifki.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un"
"Tolong kalian semua yang ada disini, urusi segala sesuatu untuk kepulangannya, kami akan menunggu dirumahnya"
"Iya Rif, lalu kenapa dengan Nadhira? Kenapa dia tidak sadarkan diri seperti itu?"
"Dia hanya tertidur karena kelelahan menangis, aku akan membawanya pulang, dan sebagaian dari kalian ikut aku untuk mempersiapkan segala dirumah".
"Baik Tuan Muda" Jawab beberapa anggota dari Gengcobra.
Rifki lalu melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan tempat tersebut dan diikuti oleh beberapa anggota Gengcobra dibelakangnya, setiap orang yang dilalui oleh Rifki selalu memberikan pandangan takjub kearah mereka.
Nadhira yang masih menggenakan gaun pengantin yang sama seperti Rifki itu pun mencuri perhatian dari semua orang, bagaimana tidak? Karena itu adalah rumah sakit dan tidak masuk akal jika sepasang pengantin berada didalamnya.
Mereka melihat bahwa pengantin wanitanya tidak sadarkan diri berada didalam pelukan pengantin laki laki apalagi diikuti oleh beberapa orang yang terlihat seperti orang yang sangat penting dengan warna jas yang serasi satu sama lain.
"Siapa mereka semua? Kenapa berada dirumah sakit ini?" Tanya seseorang kepada orang yang ada disebelahnya itu.
"Ngak tau, aku belum pernah melihat wajahnya, tapi dari pakaian yang digunakan oleh anak buahnya itu sepertinya mereka dari perusahaan besar" Jawab temannya itu.
Rifki berjalan dengan tegaknya melewati orang orang yang tengah membicarakan dirinya saat ini, Rifki berjalan dengan tegaknya tanpa merasa terbebani oleh berat badan Nadhira yang saat ini ada didalam gendongannya itu.
Nadhira masih menautkan kedua tangannya kepada leher Rifki, Nadhira merasa sangat nyaman berada didalam gendongan Rifki seperti saat ini, setelah cukup lama menangis rasa kantuknya mulai datang dan menyelimuti dirinya.
Rifki membawa Nadhira masuk kedalam mobilnya yang terparkir dihalaman rumah sakit tersebut, dengan perlahan lahan Rifki menyandarkan kepalanya Nadhira dipundaknya, dan Bayu pun melajukan mobilnya menuju kerumah Nadhira.
"Bay, tolong sampaikan kepada semua orang tentang kematian Oma Sarah, seluruh anggota Gengcobra, anggota Surya Jayantara dan juga perusahaan Abriyanta Groub"
"Iya Rif" Jawab Bayu sambil memfokuskan dirinya kejalanan yang akan dilaluinya.
Nadhira pun menggeliat dan menarik lengan Rifki kedalam pelukannya, Rifki yang merasakan itu hanya bisa tersenyum tipis dan sesekali membelai lembut kepala Nadhira.
"Jangan tinggalkan aku" Ucap Nadhira mengigau dengan lirihnya.
"Aku ada disini Dhira untukmu Dhira" Ucap Rifki sambil menempelkan bibirnya ditelinga Nadhira.
Mobil itu pun berjalan mulai menjauh dari rumah sakit itu dan memecah keramaian kota disore hati menjelang malam itu, setelah cukup lama berada diperjalanan akhirnya mobil tersebut sampailah didepan rumah Nadhira.
Rumah Nadhira saat ini tengah dihias dengan begitu indahnya karena untuk menyambut kedatangan pengantin baru, melihat hanya ada satu mobil yang masuk kedalam halaman membuat Pak Santo yang berjaga ditempat itu kebingungan.
Rifki pun bersiap siap untuk mengangkat tubuh Nadhira dari dalam mobil akan tetapi Nadhira yang merasakan itu mendadak langsung membuka matanya dan menatap kearah Rifki.
__ADS_1
"Kita dimana Rif?" Tanya Nadhira.
"Dirumahmu Dhira, ini akan menjadi rumah kita" Ucap Rifki sambil tersenyum lembut kearah Nadhira.
Rifki memutuskan untuk tinggal bersama Nadhira dirumah itu, biar bagaimanapun juga rumah itu akan sepi jika tidak ditinggali atau bahkan akan rusak dengan sendirinya, Rifki tidak ingin itu terjadi karena disanalah adanya kenangan Nadhira bersama dengan Sarah.
"Kenapa kita kemari?" Tanya Nadhira.
"Kita akan menyambut kedatangan jenazah Oma, jika kau tidak ingin tinggal disini tidak masalah, aku akan membeli sebuah rumah untuk kita tinggal nanti".
"Bukan begitu Rif, aku mau tinggal disini bersamamu, dirumah inilah ari ari Mama dipendam, dan dirumah inilah Mama lahir"
"Baiklah ayo turun"
Rifki pun mengajak Nadhira untuk turun dari mobil itu, melihat hal itu membuat Pak Santo segera mendekat kearah Nadhira dan Rifki, ia merasa penasaran karena keduanya hanya pulang berdua kemari tanpa Sarah dan yang lainnya.
"Nona Muda selamat atas pernikahannya, dimana yang lainnya? Apa mereka tidak ikut pulang Nona?" Tanya Pak Santo.
"Pak tolong persiapkan untuk penyambutan jenazah Oma Sarah" Ucap Rifki.
"Apa? Nyonya besar meninggal?" Ucap Pak Santo begitu sangat terkejut.
Pak Santo sama sekali tidak mengetahui apapun soal pesta pernikahan tersebut, hanya Pak Santo seorang diri yang tinggal di rumah itu untuk menjaga keamanan rumah sehingga dirinya sendiri yang tidak mengetahui kejadian mengenai penyerangan yang dilakukan oleh Theo.
Pak Santo sangat terkejut ketika Rifki mengatakan bahwa Sarah telah tiada, bukankah mereka pergi untuk merayakan hari bahagia atas pernikahan antara Rifki dan Nadhira tapi kenapa diacara itu Sarah telah pergi mendahului mereka.
"Iya Pak, ini semua karena ulah Theo yang menciptakan sebuah pertarungan diacara kita" Ucap Nadhira dengan tetesan air mata.
"Brengsek tuh anak emang" Ucap Pak Santo sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sudah, jangan menangis lagi, Pak Santo tolong beritahu warga sekitar, termasuk Pak RT"
"Tuan Muda tenang saja, perintah anda akan segera saya lakukan" Ucap Pak Santo dengan hormat.
Rifki mengangguk mendengar jawaban dari Pak Santo, ia pun mengajak Nadhira untuk masuk kedalsm rumahnya, setelah memasuki ruang tamu keduanya begitu terkejut dengan hiasan bunga bunga untuk menyambut kedatangan pengantin baru dirumah ini.
"Seharusnya ini menjadi hari yang membahagiakan untuk kita Rif" Ucap Nadhira dengan sedih menatap ruangan itu yang penuh dengan hiasan.
"Kau benar Dhira, mereka telah mempersiapkan segalanya untuk kita"
"Aku akan ganti baju sendiri, kamu tunggu diluar" Ucap Nadhira mencegah Rifki untuk ikut masuk.
"Kenapa aku tidak boleh masuk? Bukankah kita sudah menikah?"
"Aku belum terbiasa soal itu"
"Sudahlah, biar aku bantu, aku janji tidak akan aneh aneh kok tenang saja".
"Tapi Rif..."
"Dhira, kamu pasti akan kesulitan untuk melepas pakaian yang lebar itu, biar aku bantu".
"Baiklah, tapi janji jangan aneh aneh"
"Iya".
Nadhira pun mengizinkan Rifki untuk ikut bersamanya masuk, Rifki lalu membantu Nadhira untuk melepaskan gaun pengantin yang sedikit lebar tersebut dan juga hiasan yang ada dirambut Nadhira dikamar tamu yang ada dilantai dasar tersebut.
Setelahnya Nadhira pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan make upnya yang tebal itu, akan tetapi make up tersebut sama sekali tidak luntur terkena air bahkan sabun cuci muka sekaligus itu.
"Rif, make upnya terlalu tebal" Keluh Nadhira.
"Coba pake sabun cuci wajah lagi" Ucap Rifki.
"Masih tetap ngak bisa"
"Ya sudah ngak apa apa, nanti hilang sendiri"
Setelah selesai Rifki pun mengajak Nadhira untuk duduk disofa yang ada diruang tamu, untuk menunggu kedatangan dari mobil ambulan yang membawa jenazah Sarah dan juga para warga yang berdatangan untuk bertakziah dirumah itu.
*****
__ADS_1
Di Surya Jayantara saat ini sedang mengadakan doa bersama setelah mengetahui bahwa Sarah telah tiada, mereka pun mengibarkan bendera putih disetiap sisi bangunan tersebut menandakan bahwa mereka ikut berduka atas kematian dari Sarah.
Pak Hendra selaku pemimpin dari Surya Jayantara pun mengumpulkan seluruh anggotanya untuk menuju kesebuah ruangan yang digunakan untuk berkumpul dan menyampaikan sebuah informasi untuk semua orang.
"Ada apa ini Kak? Siapa yang meninggal?" Tanya seorang gadis kecil kepada sosok yang lebih dewasa daripada dirinya.
"Kakak juga ngak tau, kita lihat saja nanti ya" Jawab sosok yang lebih dewasa dari gadis kecil itu.
Semua orang yang ada didalam Surya Jayantara merasa kebingungan dengan apa yang terjadi ditempat itu, mungkinkah sosok yang sangat berarti bagi Surya Jayantara sedang mengalami duka sehingga seluruhnya ikut berbelasungkawa.
Mereka pun langsung berkumpul ditempat yang telah ditentukan oleh Pak Hendra, mereka sangat penasaran dengan apa yang terjadi ditempat itu sehingga petugas Surya Jayantara memasang bendera putih disepanjang lobi Surya Jayantara.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa bharakatuh" Ucap Pak Hendra setelah seluruhnya berkumpul.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wa bharakatuh" Jawab mereka serempak.
"Terima kasih atas kehadiran kepada seluruhnya, mungkin banyak diantara kalian yang bertanya tanya tentang mengapa kalian dikumpulkan disini serta kenapa banyaknya bendera putih yang terpajang"
Mereka mendengarkan dengan seksama apa yang akan disampaikan oleh Pak Hendra kepada semuanya, berita apa yang menyebabkan mereka harus dikumpulkan ditempat itu dan juga alasan mereka memasang bendera putih.
"Pertama tama, kita ucapkan selamat menempuh hidup baru untuk pemilik Surya Jayantara, yang telah sah menikah hari ini"
Mereka begitu terkejut ketika mendengarnya bahwa pemilik Surya Jayantara telah menikah, beberapa gadis remaja yang mendambakan dapat menikah dengan pemilik Surya Jayantara pun harus pupus begitu saja harapan mereka.
Ini benar benar berita duka bagi mereka, padahal mereka sendiri belum pernah bertemu seperti apa sosok pemuda yang telah menjadi pemimpin Surya Jayantara sejak dirinya masih kecil, bahkan selama mereka tinggal disana pun tidak pernah melihatnya datang ketempat itu.
"Bukankah itu berita yang membahagiakan untuk mereka? Tapi kenapa justru mengibarkan bendera putih?" Guman seorang gadis yang duduk ditempat paling belakang.
"Kau tau ini adalah hari patah hati diseluruh Surya Jayantara, banyak tuh gadis gadis yang sangat mengidam idamkan tentang ketampanan pemuda yang sama sekali belum mereka lihat, mungkin Pak Hendra paham tentang perasaan mereka" Ucap gadis lain yang ada disebelahnya.
"Hus... Kita hanyalah seorang anak yatim piatu, bagaimana mungkin pemimpin Surya Jayantara mau sama kita? Pantaslah mereka patah hati".
"Iya sih, itulah sebabnya kita tidak akan mungkin memiliki seseorang seperti itu, bagaikan karakter fiksi yang tidak nyata, hanya bisa berhayal untuk mendapatkannya tanpa harus merasakan berada didekatnya"
"Kau terlalu pintar untuk merangkat kata kata sobat, kenapa kau tidak menjadi penulis novel saja? Kan lumayan dapat uang"
"Ngak ah, pusing tau nulis novel itu, belum lagi idenya yang sudah mentok, pikiran harus terbagi bagi antara dunia nyata dan halu, mencari ide untuk nulis itu susah, mending kerja yang nyata saja".
"Emang sebegitu parahkah penulis novel itu?"
"Iya, belum lagi ucapan reader yang minta lebih, belum lagi cucian numpuk, rumah berantakan ngak keurus dan banyak lagi dah".
"Sttt... nanti saja ngobrolnya, dengarkan apa yang akan disampaikan oleh Pak Hendra terlebih dulu biar kita ngak penasaran lagi" Ucapnya sambil menempelkan telunjuknya diujung bibirnya.
"Baiklah"
Mereka pun kembali fokus kepada sosok pria dewasa yang saat ini tengah berdiri diantara mereka, pria itu tidak lain adalah Pak Hendra yang dipercaya oleh Aryabima untuk menjaga Surya Jayantara dan memastikan bahwa Surya Jayantara aman terkendali.
"Yang kedua, saya selalu pemimpin Surya Jayantara menyampaikan berita duka atas meninggalnya Ibu Sarah selaku Nenek dari istri Tuan Muda Abriyanta tepat disaat pernikahan, kami akan mengadakan pengajian dan kirim doa untuk almarhumah Ibu Sarah beserta Ibu Lia yang telah lama mendahului kita, Ibunda dari Istri Tuan Muda Abriyanta" Ucap Pak Hendra dengan nada sedih karena turut berduka cita.
"Jadi istrinya sudah tidak memiliki Ibu seperti kita yang ada disini? Tapi dia masih memiliki keluarga juga sih, beda dengan kita" Guman salah satu dari anggota Surya Jayantara pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hay Kakak cintanya Author, sambil menunggu Author Up mampir juga ya dikarya temen author, dijamin keren abis deh, heppy reading
****
"Jangan pernah menghindari Ku, Kakak kamu akan mendapatkan perawatan dan pengobatan ekslusif. Asalkan kamu bersedia menjadi teman tidur ku selama dua Minggu. ucap Daniel Gladuks.
Kelamnya masa lalu telah membentuk Daniel Gladuks menjadi seorang laki-laki yang sangat tidak percaya dengan namanya cinta. Itu sebabnya ia kerap memandang rendah pada wanita. Dan selalu menganggap wanita itu hanya mainan saja. Hal itu yang membuat Daniel Gladuks selalu bergonta ganti pasangan untuk memuaskan nafsu birahinya.
Tetapi Olivia Jason hadir di kehidupannya dengan membawa segala ketulusan yang ia punya.
Akankah Olivia Jason mampu membuat Daniel Gladuks berubah dan dapat percaya bahwa cinta tulus dari seorang wanita benar-benar ada?
Simak ceritanya di "Perawan 500 juta
Original by Morata
FB.nolan s
__ADS_1
Ig.sihalohoherlita