
Rifki segera membuka pintu ruangan tersebut dan nampak Bayu yang tengah tertidur disofa sementara Nadhira menatapnya dengan tajam, melihat tatapan tajam dari Nadhira membuat Rifki hanya bisa menyengir kearahnya.
"Maaf ya telat, tadi warungnya antri dan jaraknya lumayan jauh Dhira, jadi aku jalan kaki" Ucap Rifki sambil menyengir kearah Nadhira.
"Ngak usah masuk sekalian, aku ngak butuh dirimu disini sekarang" Jawab Nadhira.
"Maaf Dhira, boleh ya aku masuk"
"Ngak! Keluar sekarang juga"
"Dhira, maaf sayang, jangan usir aku dari sini, biarkan aku diruangan ini ya, Maafkan aku, aku telat"
Nadhira tidak menjawab ucapan Rifki dan langsung membuang muka dari hadapan Rifki, Rifki pun menghela nafas karena Nadhira tidak mau menjawab perkataan itu, mungkin Nadhira kecewa dengan dirinya yang tidak balik balik.
Rifki memandangi wajah Nadhira yang nampak sangat kecewa kepadanya itu dan ia berjalan kearah dimana Bayu yang sedang tertidur dengan pulasnya itu, ia pun membangunkan Bayu dari mimpi indahnya.
"Bay bagun!".
Bayu pun menguap, perlahan lahan ia mulai membuka kedua matanya dan mendapati sosok Rifki sudah berada didepannya, "Kamu baru balik Rif?"
"Iya, kamu boleh pulang sekarang, biar aku yang jaga Nadhira disini"
"Baiklah kalo begitu aku pamit dulu ya"
"Iya, hati hati dijalan"
Bayu pun berpamitan untuk pergi dari ruangan itu, kini kembali hanya tersisa dua orang saja disana, Rifki langsung duduk disofa itu dan dengan pelan pelan ia menyandarkan punggungnya disandaran sofa, ia menatap kearah Nadhira sambil tersenyum tipis.
"Kamu makin lucu, kalo ngambek begitu Dhira"
Nadhira yang tadinya menatap kearah langit langit ruangan tersebut pun membuang muka kearah tembok setelah mendengar ucapan Rifki, melihat itu membuat Rifki terkekeh pelan.
Ruangan itu kembali sunyi, Rifki pun memejamkan kedua matanya karena ia begitu sangat kelalahan saat ini, Rifki tidur dengan posisi duduk didalam ruangan itu, melihat wajah Rifki yang kelelahan tersebut membuat Nadhira tak henti hentinya untuk menatap kearah lelaki itu.
"Kamu sakit apa sebenernya Rif?" Guman Nadhira pelan tanpa terasa air matanya menetes.
*****
Pagi ini Rifki bangun agak siangan karena kelelahannya, setelah sholat subuh tadi dia kembali tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sedikit sakit itu, dengan pelan pelan dirinya bangkit berdiri dari sofa.
"Akh..." Pekik Rifki pelan ketika merasakan perih ditubuhnya.
Melihat Rifki yang mengernyitkan dahinya seperti sedang menahan rasa sakit itu pun tak luput dari perhatian Nadhira, sekilas Rifki melihat Nadhira tengah menatap kearah dan hal itu membuat Rifki langsung menerbitkan sebuah senyuman.
"Pagi sayang, maaf aku baru bangun" Ucap Rifki.
Nadhira sama sekali tidak menjawab sapaan Rifki dipagi itu, justru dirinya langsung menoleh kearah yang lainnya, melihat itu pun membuat senyum diwajah Rifki perlahan lahan luntur, dan dirinya langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Setelahnya Rifki kembali duduk disofa yang ada didalam ruangan tersebut sambil memandangi kearah Nadhira, ia pun tersenyum ketika melihat Nadhira membuka kedua matanya sambil menatap kearah langit langit ruangan itu.
Perhatian Rifki lalu tertuju kepada pintu ruangan tersebut karena tak beberapa lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan tersebut untuk memberikan sarapan pagi kepada Nadhira.
Melihat itu pun membuat Rifki langsung bangkit dari duduknya untuk menerima makanan tersebut, setelahnya ia menaruh makanan tersebut dinakas sebelah Nadhira.
"Sayang ayo makan dulu, nanti tidur lagi" Ucap Rifki dengan lembut kepada Nadhira.
"Ngak lapar" Jawab Nadhira singkat.
"Eihh... Belom makan juga masak ngak lapar aja sih, ayo makan dulu nanti tiduran lagi biar cepet sembuh, makan dulu sayang"
"Ngak"
"Mau aku suapin? Ya sudah ayo, biar aku suapin, duduk dulu"
"Ngak"
"Makan sekarang atau kamu yang aku makan?" Rifki pun mendekatkan wajahnya kearah wajah Nadhira, seringai tipis mendadak terbit diwajahnya.
Nadhira pun lalu mendorong tubuh Rifki agar menjauh darinya, hal itu langsung membuat Rifki tertawa karena dia berhasil menggoda Nadhira hingga membuat kedua pipi Nadhira bersemu merah.
"Ngak lucu" Nadhira pun memegangi pipinya karena merasa panas karena Rifki berhasil menggodanya.
"Siapa yang mau melawak Dhira? Ngak ada tuh, ayo bangun makan dulu"
Nadhira pun berusaha untuk bangkit dari tidurnya, akan tetapi ketika Rifki hendak akan membantunya justru Nadhira mengibaskan tangannya agar Rifki tidak membantunya.
"Aku bisa sendiri, aku ngak butuh dirimu disini" Ucap Nadhira sambil menyingkirkan tangan Rifki dari tangannya itu.
"Iya, Nadhiraku memang hebat" Rifki masih tetap menerbitkan sebuah senyuman yang begitu tulus kepada Nadhira.
__ADS_1
Setelah Nadhira bisa duduk, Rifki pun menyodorkan makanan tersebut untuk Nadhira, Nadhira langsung menerimanya tanpa kata kata, dalam diam Nadhira lalu memakannya tanpa mempedulikan Rifki, melihat Nadhira yang makan dengan lahap membuat Rifki merasa sangat senang.
Entah mengapa disaat melihat Nadhira memakan makanannya dengan lahap, ada kebahagiaan tersendiri baginya itu, hal itu membuat Rifki merasa sangat damai dan tentram.
"Ngak makan?" Tanya Nadhira.
Rifki menggelengkan kepalanya pelan, "Nanti aja, setelah kamu selesai makan, aku akan meminta kepada Bayu untuk membelikan makanan, kamu mau dibelikan cemilan juga?"
Nadhira kembali tidak menjawab ucapan Rifki dan memilih untuk melanjutkan makannya agar dirinya bisa segera tidur kembali, melihat itu membuat Rifki hanya bisa menghela nafas berat.
*****
Rifki pun keluar dari ruangan tempat dimana Nadhira dirawat, setelah mengetahui bahwa Bayu sudah datang sambil membawakan makanan untuk Rifki, Rifki meminta izin kepada Nadhira untuk memakannya diluar bersama dengan Bayu.
"Makanlah dulu Rif, setelah itu kita ganti perbannya, aku juga telah membawakan perban dan salep untuk dirimu"
"Makasih Bay"
"Iya, apakah masih terasa sakit?"
"Kadang lukanya terasa perih dan panas saja Bay, tapi untungnya obat yang dari Dokter bekerja, jadi aku bisa menahannya"
"Syukurlah kalo ada kemajuan, apa Dhira sudah tau soal ini Rif?"
"Sepertinya belom tau"
"Ya sudah, makanlah dulu sebelum dingin, setelah itu minum obatnya"
Rifki pun langsung membuka kotak nasi itu, ia lalu memakannya dalam diam sementara Bayu memilih untuk fokus kepada ponselnya, setelah selesai makan Rifki lalu meminum obat yang diberikan oleh Bayu tersebut dengan air mineral yang dibawakan oleh Bayu itu.
"Ayo ganti perbanmu" Ucap Bayu setelah melihat Rifki selesai makan dan minum obat.
"Iya"
Rifki dan Bayu lalu bangkit dari duduknya, keduanya lalu berjalan kearah kamar mandi umum yang berada tidak jauh dari tempat keduanya itu, setelahnya keduanya langsung masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintu tersebut.
Rifki lalu melepas bajunya itu, nampaklah sebuah perban dipunggung Rifki yang tengah melilit ditubuhnya itu, dengan perlahan lahan Bayu mulai membuka perban itu dengan hati hati.
Perban tersebut nampak merekat kuat dengan luka itu sehingga membuat Bayu sedikit kesusahan karenanya, sementara Rifki langsung merasa perih karena apa yang dilakukan oleh Bayu itu, rasanya seperti kulitnya tengah ditarik dan dipisahkan dari tulangnya oleh Bayu.
"Bay, lebih pelan sedikit bisa ngak sih, sakit tau"
"Aku tau, tapi setidaknya jangan terlalu kasar"
"Iya Rif, tahan sebentar ya"
Rifki pun memejamkan matanya menikmati rasa sakit itu, jika tidak dinikmati lalu diapakan lagi, dengan perlahan lahan Bayu melepaskan perbannya itu, setelah perban terlepas Bayu segera mengoles salep kepada luka Rifki.
"Sakit ya? Mangkanya jangan bandel jadi orang itu"
"Udah tau sakit, masih aja nanya"
"Tahan sebentar"
Bayu lalu mengoleskan salep tersebut keseluruh luka yang dimiliki oleh Rifki, sesekali Rifki meringis kesakitan ketika dioleskan salep oleh Bayu, setelah itu pun keduanya menunggu salep tersebut mengering.
Sudah cukup lama akhirnya salep tersebut sedikit mengering, Bayu langsung menutup lukanya dengan perban yang telah ia siapkan, setelah itu Rifki kembali memakai bajunya dan keduanya segera bergegas keluar dari kamar mandi.
Rifki lalu masuk kedalam kamar inap Nadhira sementara Bayu langsung berpamitan untuk kembali ke markas, Rifki mendapati bahwa Nadhira kembali memejamkan kedua matanya, wajah Nadhira yang damai itu membuat Rifki merasa bahagia.
"Sudah tidur rupanya" Guman Rifki pelan.
Rifki lalu mendekat kearah Nadhira untuk memandangi wajah Nadhira dari dekat karena ia ingin sekali memeluk tubuh istrinya itu akan tetapi Nadhira tidak mau, ketika jaraknya sudah dekat Nadhira langsung membuka kedua matanya.
"Jangan dekat dekat!" Sontak ucapan itu langsung membuat Rifki menghentikan langkahnya.
"Maafin aku Dhira, aku benar benar minta maaf kepadamu, kenapa kamu belum bisa memaafkanku? Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan maaf darimu itu? Katakan kepadaku"
"Jauhi aku"
"Dhira, maaf"
"Jauhi aku atau keluar dari sini"
"Baiklah, tapi tolong jangan usir aku dari sini"
Nadhira pun menatap tajam kearah Rifki hingga membuat Rifki menundukkan kepalanya dalam, dengan langkah lunglai Rifki lalu berjalan menghampiri sofa yang ada diruang itu sambil menundukkan kepalanya.
*****
__ADS_1
Hari ini Nadhira sudah diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya yang sudah membaik itu, hal itu membuat Putri dan Haris pun menjenguknya dirumah sakit, Putri berharap bahwa hubungan kedua anaknya itu sudah membaik saat ini tapi harapannya sia sia ketika melihat Nadhira dan Rifki masih saling berdiam diri tanpa ada canda tawa.
"Mama kemana saja? Dhira bosen disini" Keluh Nadhira ketika melihat Putri.
"Maafin Mama, Mama banyak urusan Nak" Jawab Putri sambil mengusap pelan puncak kepala Nadhira.
"Kata Dokter hari ini Dhira sudah diperbolehkan pulang, Dhira mau tinggal sama Mama, Dhira ngak mau tinggal sama Rifki"
Mendengar ucapan Nadhira hanya bisa membuat Rifki menundukkan kepalanya dalam, ia sudah berusaha sebisanya untuk mendapatkan maaf dari Nadhira akan tetapi Nadhira sama sekali tidak mau memaafkannya jangankan untuk memaafkan, melihat wajahnya saja Nadhira tidak mau.
Putri dan Haris langsung menoleh kearah Rifki untuk meminta jawaban dari anaknya itu, Rifki yang dipandang oleh keduanya itu pun hanya bisa menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dia mengizinkan Nadhira untuk tinggal bersama kedua orang tuanya beberapa hari.
"Maafkan Rifki" Ucap Rifki sambil menunduk.
"Papa mau ngomong sama kamu sekarang juga, ikut Papa keluar sekarang" Ucap Haris sambil menatap tajam kearah Rifki.
"Iya Pa" Rifki hanya pasrah dengan Papanya itu.
Haris pun melangkah keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh Rifki dari belakangnya sambil menundukkan kepalanya, Rifki pun menutup pintu tersebut dengan rapat setelah ia selesai melewati pintu tersebut.
"Papa mau ngomong apa sama Rifki?" Tanya Rifki ketika keduanya sudah berada digazebo yang ada ditengah taman rumah sakit itu.
"Dengan kamu mengizinkan Nadhira tinggal bersama Papa dan Mama, apa kamu sadar kalo dia akan semakin jauh denganmu?"
"Rifki akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari Nadhira Pa, Rifki bingung harus berbuat apa dengan dia, dia bahkan sama sekali tidak mau Rifki bantu"
"Lalu kamu mau menyerah begitu saja?"
"Rifki ngak akan menyerah Pa, meskipun dia tinggal bersama kalian, Rifki akan selalu berusaha untuk mendapatkan hatinya kembali, dengan tinggal bersama kalian, Rifki dapat memastikan bahwa dia baik baik saja Pa"
"Papa akan berusaha untuk membujuknya, kau juga harus tinggal dirumah itu bersama sama"
"Bagaimana bisa Pa? Dia pasti akan marah dan memilih untuk tinggal dirumahnya sendiri dan aku tidak mungkin membiarkan itu terjadi Pa, aku takut dia kenapa kenapa tanpa pengawasan"
Ucapan itu hanya dibalas senyuman oleh Haris, entah apa yang tengah ia rencanakan saat ini, Rifki sama sekali tidak mengerti tentang jalan pikir dari Papanya itu.
*****
Haris pun kembali keruangan itu seorang diri, nampak terlihat Putri tengah membereskan barang barang milik Nadhira disana, Putri yang melihat Haris datang sendirian pun lantas menghentikan aktivitas dan bangkit berdiri dihadapannya.
"Kemana Rifki?" Tanya Putri.
"Sudah aku hajar, dia tidak akan kembali, aku paling tidak suka dengan lelaki yang menyakiti hati wanita seperti itu" Jawab Haris.
Jawaban tersebut langsung membuat Nadhira memandang kearah Haris dengan penuh pertanyaan didalam pikirannya, kenapa Haris langsung menghajar Rifki begitu saja.
"Dia anak kita Mas, kenapa kau lakukan itu, lalu dimana dia sekarang?"
"Udah pergi, aku ngak tau kemana perginya dia"
"Aku harus cari dia"
"Dia sudah besar! Dia tidak mungkin kembali, aku telah mengusirnya dari sini"
"Kenapa Papa melakukan itu?" Tanya Nadhira.
"Dia telah menyakitimu kan Nak? Dan kamu tidak mau melihatnya lagi kan? Mangkanya Papa suruh dia pergi jauh jauh dari sini, dia tidak akan kembali kalo dia masih memiliki nyawa"
"Papa bilang apa ke dia?"
"Papa bilang gini 'selama kamu masih memiliki nyawa, jangan pernah kembali menemui Dhira, kau hanya boleh datang kalau hanya tinggal jasadmu saja', bukankah itu kemauanmu Nak?"
"Mas! Kau sungguh keterlaluan, cepat cari Rifki sekarang juga!" Sentak Putri.
"Dia pasti datang, kalo sudah tinggal jasadnya saja"
Nadhira pun tanpa sengaja melihat adanya bercak darah ditangan dan lengan baju Haris, itu artinya Haris tidak main main dengan ucapannya, ia henar benar telah menghajar Rifki dan juga telah mengusirnya pergi dari sana.
"Darah Rifki? Papa tidak main main dengan pukulan Papa kepadanya?" Tanya Nadhira lirih.
"Pukulan Papa membuatnya muntah darah, dan ujung bibirnya sobek" Jawab Haris sambil membersihkan berkas darah dipunggung tangannya.
Tak beberapa lama kemudian masuklah beberapa perawat untuk melepaskan selang infus yang ada ditangan Nadhira, sementara Haris langsung bergegas pergi untuk menuju kemeja resepsionis untuk membayar biaya opname itu.
"Ma, dia baik baik saja kan?" Tanya Nadhira ketika keduanya tengah berjalan dilorong rumah sakit.
"Pasti baik baik saja" Ada perasaan sedih yang terpancarkan diwajah Putri, "Papamu tidak pernah main main dengan ucapannya selama ini, Mama juga takut kalo dia kenapa kenapa"
"Mama telpon dia saja" Nadhira memberi saran.
__ADS_1
"Mama coba ya"