Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Menyiapkan kejutan


__ADS_3

3 bulan kemudian, Nadhira dan Rifki pun sedang menikmati sarapan pagi mereka. Setelah makan, Nadhira lalu mengantarkan Rifki kehalaman depan untuk pergi bekerja.


Seperti biasa, Nadhira akan mengantar Rifki halaman. Setiap Rifki hendak pergi bekerja, Nadhira akan membawakan tasnya dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri yang baik untuk Rifki. Biar bagaimanapun juga Rifki bekerja hanya untuk menghidupinya, dan memberikan yang terbaik untuk Nadhira selama ini.


"Kamu sakit, Dhira?" Tanya Rifki yang melihat Nadhira sejak tadi melamun.


"Ngak kok, Rif."


"Ya sudah kalo gitu. Oh iya, nanti aku mau meeting dengan klien penting, kalo ada apa apa telpon Citra ya, biar Citra beritahu diriku"


Citra adalah sekertaris Nadhira dulu, akan tetapi setelah kedua perusahaan itu bergabung menjadi satu, kini Citra diperkerjakan dikantor Rifki karena kepintarannya dalam menyelesaikan masalah dikantor dan menjadi orang kepercayaannya setelah Pak Bram ( Ayah Bayu ).


"Siap Pak Bos!"


"Anak pintar, jaga diri dirumah, waktunya makan harus makan jangan sampai telat. Kalo butuh apa apa panggil saja Bi Sari, dan jangan keluar rumah sendirian kalo perlu minta anggota Gengcobra untuk menemanimu,"


"Setiap pagi kamu selalu mengatakan itu berulang ulang kali Rif, diriku sampai hafal dengan kata katamu itu, hafal banget pokoknya," Jawab Nadhira.


"Kamu tanggung jawabku Dhira, aku ngak mau kamu kekurangan suatu hal apapun, sebisa mungkin aku akan memberikannya kepadamu,"


"Makasih ya sayang, aku beruntung memiliki dirimu"


"Iya, jangan pernah tinggalkan aku ya."


"Ngak akan pernah,"


Rifki pun mencium kening Nadhira sebelum berangkat, Nadhira pun mencium tangan Rifki. Keduanya terlihat sangat romantis, apa yang dilakukan oleh Rifki dan Nadhira langsung membuat Bayu mengalihkan pandangannya dari keduanya.


Hal itu seakan akan sudah menjadi makanan untuk Bayu tiap harinya, pasangan itu selalu saja membuatnya iri. 4 sahabat yang selalu bersama itu pun sudah memiliki pasangan hanya tinggal dirinya seorang saja yang masih jomblo sampai saat ini.


"Ya sudah aku berangkat dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam warahmatullahi wa bharakatuh, sayang, daa..."


Nadhira menyaksikan kepergian mereka dengan bahagianya, ketika pandangannya sudah tidak melihat lagi bayangan mobil Rifki, Nadhira langsung bergegas menuju ke wastafel untuk mengeluarkan isi perutnya karena mual.


"Apa aku masuk angin?" Tanya Nadhira entah kepada siapa saat ini.


Setelah cukup lama berdiri didekat wastafel, Nadhira langsung masuk kedalam rumahnya kembali. Kelamaan berdiri diluar membuatnya semakin merasa mual dan kelelahan untuk terus mual mual.


Nadhira kini tengah duduk dimeja makannya. Dirinya merasa sangat mual dan seperti sedang masuk angin, dirinya pun mengajak Pak Mun untuk memeriksakan diri dirumah sakit, karena kali ini Rifki sedang bekerja dan dia tidak ingin merepotkan Rifki.


"Non Dhira masuk angin?" Tanya Pak Mun.


"Ngak tau, Pak. Perasaan semalam baik baik saja deh, entah kenapa pagi ini mual gitu"


Belum mendapatkan jawaban dari Pak Mun, Nadhira langsung berlari ke wastafel yang berada dihalaman depan rumahnya. Nadhira lalu memuntahkan seluruh isi perutnya disana, melihat itu membuat Pak Mun langsung berteriak memanggil Bi Sari.


"Non, Non Dhira baik baik saja kan?" Tanya Bi Sari cemas.


"Ngak tau Bi, mual gitu aja." Jawab Nadhira sambil membasuh mulutnya.


"Mau di telponkan Tuan Muda?" Tanya Pak Mun.


"Ngak usah, dia lagi meeting sekarang dan aku ngak mau mengganggu pekerjaannya"


"Tapi Non Dhira muntah muntah begini,"


"Ayo kerumah sakit sekarang saja, Pak. Siapa tau akan dapat obat nanti"


"Baiklah, Non".


Nadhira langsung masuk kedalam mobil tersebut sambil membawa kantung plastik untuk berjaga jaga disaat dia akan mual. Pak Mun pun menjalankan mobilnya itu dengan kecepatan biasa karena Nadhira yang memintanya.


Sesampainya dirumah sakit, Nadhira langsung bergegas masuk untuk mengambil nomor antrian, sementara Pak Mun memarkirkan mobilnya. Tak beberapa lama kemudian nama Nadhira pun di panggil untuk diperiksa.


"Keluhannya apa Mbak?" Tanya Dokter itu yang mengira bahwa Nadhira masihlah remaja.


"Mual banget, Dok" Jawab Nadhira.


"Apakah ada pusing atau yang lainnya, Mbak?"


"Ngak ada Dok, entah sejak tadi pagi mual mual terus, sudah berkali kali keluar masuk kamar mandi hanya untuk muntah,"


"Mbaknya sudah nikah?"


"Sudah, Dok."


"Kapan terakhir kali Mbaknya menstruasi?"


"Seharusnya minggu kemaren jadwalnya, tapi sampe sekarang belum juga menstruasi, Dok"

__ADS_1


Dokter itu pun tersenyum kepada Nadhira, sementara Nadhira kebingungan kenapa justru dokter itu tersenyum? Dokter tersebut pun menuliskan sesuatu di bukunya.


"Apa yang terjadi, Dok?" Tanya Nadhira penasaran.


"Gejalanya tidak ada, menurut kondisi anda, selamat ya Mbak, mungkin ini tanda tanda hamil muda."


Nadhira membulatkan matanya dan mengerjapkannya beberapa kali untuk mencerna ucapan Dokter tersebut. Seketika itu juga, senyuman cerah diwajah Nadhira langsung mengembang sempurna, dirinya merasa bahagia mendengarnya bahwa akan ada malaikat kecil dikehidupannya.


"Terima kasih Ya Allah, jadi saya hamil, Dok?"


"Menurut pendapat saya Mbak, selebihnya Mbak coba priksa pakai tespek."


"Iya Dok, terima kasih."


Nadhira pun berpamitan untuk keluar dari ruangan itu, senyum kebahagiaan muncul diwajah cantiknya itu. Ia tidak menyangka bahwa dirinya telah dikaruniai oleh seorang janin, ia bertekat bahwa dirinya akan menjaga anaknya itu dengan baik.


Nadhira meminta kepada Pak Mun untuk mampir terlebih dahulu di apotek untuk membeli tespek, dia tidak memberitahukan kabar ini kepada Pak Mun karena dia ingin membuat kejutan untuk Rifki setelah pulang dari kantor.


Sesampainya dirumah, Nadhira langsung masuk kedalam kamar mandi untuk memeriksa hasilnya. Setelah cukup lama dirinya menanti hasil dari tespek tersebut akhinya hasilnya muncul juga.


"Dua garis, artinya aku beneran hamil, terima kasih Ya Allah atas anugerah terindah ini" Seru Nadhira kegirangan ketika mengetahui hasilnya.


Air mata kebahagiaan milik Nadhira itu pun menetes membasahi kedua pipinya, Nadhira lalu mengusap perutnya dengan perlahan lahan. Ini adalah kehamilan keduanya dan dirinya bertekad untuk terus menjaga anaknya agar tidak keguguran lagi.


Nadhira lalu mengambil tespek tersebut dan membawanya menuju kekasurnya, ia berniat untuk memberi kejutan kepada Rifki mengenai kabar kehamilannya. Rifki pasti sangat bahagia mendengarnya dan Nadhira ingin memberi kejutan itu kepada Rifki.


"Sebentar lagi, hari jadi pernikahanku dan Rifki yang ke 1 tahun. Ini sangat menyenangkan jika aku memberikan tespek ini ketika malam itu, pasti Rifki bakalan sangat bahagia."


Nadhira menaruh tespek tersebut didalam sebuah laci yang berada disebelah tempat tidurnya, ia juga menyembunyikannya dibalik sebuah buku. Nadhira langsung bergegas mengambil ponselnya, ia ingin menghubungi Citra sesuai dengan ucapan Rifki sebelum dirinya berangkat bekerja.


"Halo, Cit." Ucap Nadhira ketika ponselnya sudah terhubung.


"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Citra diseberang sana.


"Rifki masih meeting kah?"


"Belum Nona, kurang 1 jam lagi akan dimulai."


"Ow.. kalo begitu, aku mau telpon dirinya saja,"


Nadhira langsung memutuskan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari Citra, Nadhira langsung menghubungi nomor Rifki. Sementara Rifki yang sedang berkutat dengan laptopnya itu pun langsung menoleh kearah ponselnya.


"Dhira, tumben banget jam segini sudah telpon." Gumannya pelan seraya melihat kearah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Halo sayang, ada apa?" Tanya Rifki.


"Rif, aku boleh jalan jalan keluar ngak? Aku pengen belanja sesuatu," Ucap Nadhira ketika mendengar sahutan dari Rifki.


"Belanja apa? Nanti aja kalo aku sudah pulang ya,"


"Ngak mau, pengennya sekarang sayang,"


"Iya udah, aku telponkan Reno dulu, tunggu Reno dirumah. Jangan kemana mana dulu,"


"Makasih sayang, muaaahhh..."


"Hemmmmm.... Pengen ku makan sekarang,"


"Sudah sudah, sana katanya mau meeting, daa sayang, see you cintaku"


Nadhira langsung mematikan telponnya begitu saja, seketika itu juga pipinya nampak bersemu merah karena ucapan Rifki. Meskipun sering mendengar gombalan Rifki akan tetapi hal itu sama sekali belum bisa membuat Nadhira terbiasa, dan justru selalu membuatnya berdebar debar.


*****


Mobil yang disopir oleh Reno itu pun masuk kedalam halaman rumah Nadhira, melihat kedatangan mobil tersebut langsung membuat Nadhira bergegas menuju kehalaman rumahnya. Ia melihat beberapa anggota Gengcobra juga berada didalam mobil itu, Reno langsung membukakan pintu mobil untuk Nadhira.


"Kenapa banyak banget anggota Gengcobra?" Tanya Nadhira kepada Reno.


"Sesuai dengan perintah dari Tuan Muda," Jawab Reno sambil sedikit menunduk kearah Nadhira.


"Aku hanya belanja, bukan mau bertempur."


"Tuan Muda juga berpesan, kalau Nona Muda menolak. Katanya, Nona Muda dilarang untuk keluar,"


"Baiklah baiklah, antara diriku ke swalayan ya"


"Baik Nona Muda,"


Nadhira langsung masuk kedalam mobil tersebut, ia duduk ditempat duduk dibelakang sopir. Didalam mobil tersebut terdapat beberapa anggota Gengcobra yang tengah duduk dibelakang Nadhira, hanya Nadhira seorang yang perempuan didalam mobil itu karena yang lainnya adalah lelaki.


"Nona Muda mau cari apa di swalayan?"

__ADS_1


"Aku ngak tau, bentar lagi kan hari ulang tahun pernikahanku. Aku ingin membuat kejutan untuk Rifki, tapi aku ngak tau harus beli apa, kamu jangan bilang ya ke Rifki, nanti malah ngak surprise lagi."


"Oh soal itu, siap Nona Muda."


Tak beberapa lama kemudian mereka akhirnya sampai disebuah swalayan, Nadhira beserta anggota Gengcobra lainnya langsung masuk kedalam swalayan tersebut untuk mencari sesuatu yang spesial untuk Rifki.


Sebenarnya Nadhira merasa risih karena anggota Gengcobra yang mengikutinya, apalagi setiap dirinya melangkah pandangan semua orang langsung terarah kepadanya. Anggota Gengcobra yang terlihat gagah itu pun membuat semua orang terpanah karenanya, Nadhira tidak bisa menolaknya karena jika dia melakukan itu justru Rifki tidak akan mengizinkan dirinya untuk pergi.


"Nona mau belikan kejutan seperti apa?" Tanya Reno yang berjalan dibelakang Nadhira.


"Aku ngak tau, mungkin kamu punya rekomendasi, Ren?" Tanya Nadhira balik.


"Bagaimana kalo jas baru, Nona Muda?"


"Rifki terlalu memiliki banyak jas dirumah. Rasanya semuanya sudah dirinya miliki disini,"


"Susah juga ya,"


"Ayo kelantai atas," Ajak Nadhira.


"Baik Nona Muda!"


Nadhira langsung berjalan mendekat kearah eskalator, mereka pun langsung menaikinya untuk menuju kelantai atas. Sesampainya disana Nadhira tanpa sengaja melihat penjual es cream, tanpa banyak berkata lagi dirinya langsung membelinya karena pengen.


Nadhira duduk disebuah bangku yang disediakan disana, Nadhira memakan es cream tersebut dengan lahapnya. Nadhira melupakan tujuan utamanya untuk pergi berbelanja karena bertemu dengan es cream yang lezat, melihat Nadhira yang memakan es cream dengan lahapnya membuat anggota Gengcobra hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Enak, dingin banget."


"Nona, Nona ngak melupakan tujuan awal Nona kan?" Tanya Reno.


"Astaga aku lupa, kita tadi kemari untuk apa?" Tanya Nadhira yang nampak panik.


"Ya ampun, Nona Muda. Masak diusia kepala dua aja sudah pelupa, apalagi nanti," Ucap Andre.


"Mau aku mutilasi?" Tanya Nadhira dengan tatapan tajam kearah Andre.


"Sadis amat, Nona".


Andre langsung menutup mulutnya rapat rapat setalah mengatakan itu, Nadhira langsung bangkit dari duduknya untuk berjalan menjauh dari tempat duduknya dan langsung diikuti oleh anggota Gengcobra itu.


Nadhira memasuki sebuah toko pakaian didalam swalayan tersebut, ia lalu memilih milih pakaian yang ada didalam sana. Pedagang itu pun menawarkan sablon gratis untuk Nadhira, dan hal itulah yang membuat Nadhira tertarik untuk memilih milih pakaian yang ada disana.


"Saya mau pakaian untuk cowok yang paling bagus," Ucap Nadhira kepada penjual.


"Baik Nona, mohon ditinggu. Kami akan segera mengambilkannya,"


Tak beberapa lama kemudian, penjual itu mendatangi Nadhira dengan membawakan beberapa pakaian yang diminta oleh nadhira. Nadhira memiliki sebuah pakaian yang berwarna hitam, karena Rifki sangat menyukai pakaian hitam.


"Untuk sablonnya mau ditulisi nama apa, Mbak?" Tanya penjual lagi.


"Kinara, untuk selamanya."


"Baik Mbak, kalo gambarnya mau diberi gambar apa?"


"Bunga mawar kecil, disebelah kiri atas"


"Baik Mbak".


Penjual tersebut segera menyiapkan pesanan milik Nadhira, Nadhira sendiri pun sedang berjalan jalan untuk mencari sebuah kotak tempat dimana dirinya akan menaruh kejutannya itu, ia lalu membeli kotak yang berukuran paling kecil dan juga kotak yang berukuran sedang untuk menaruh pakaiannya itu.


Setelah selesai membeli kotak, Nadhira kembali ketempat dimana dirinya memesan baju, nampaknya baju yang dipesan oleh Nadhira itu pun telah selesai dibuat dan sedang dikeringkan dengan sebuah alat agar cepat kering.


"Desainnya sudah selesai, Mbak." Ucapnya seraya menyerahkan baju tersebut kepada Nadhira untuk dilihat lihat.


Nadhira merasa kagum dengan sablonannya itu, tulisan Kinara terlihat dengan indah. Reno yang ikut serta melihatnya itu pun bertepuk tangan lirih karena bagusnya hasil sablon itu, Reno mengacungkan sebuah jempol kearah Nadhira.


"Nona Muda, aku jamin bahwa Tuan Muda akan senang melihatnya nanti," Ucap Reno.


"Apakah sablonnya ini tahan lama?" Tanya Nadhira.


"Sablon disini sangat bagus, Nona. Kami memilihnya yang paling terbaik, ini bisa bertahan bertahun tahun lamanya," Ucap sang penjual.


"Bagus,"


Nadhira langsung menuju kearah kasir untuk membayarnya, setelah selesai Reno langsung membawakan belanjaan Nadhira itu. Nadhira dan anggota Gengcobra langsung bergegas menuju ke parkiran mobil.


"Oh iya, Ren. Nanti kalo Rifki tanya, jawab aja aku pengen beli es cream ya," Ucap Nadhira memeringatkan kepada Reno.


"Beres Nona Muda, siap laksanakan."


"Awas aja kalo sampe ada yang memberitahukan hal ini kepada Rifki, langsung aku mutilasi nanti!"

__ADS_1


"Nona Muda, kami tidak akan memberitahukan hal ini kepada Tuan Muda kok, tenang saja"


Reno merasa ngeri ketika Nadhira mengatakan hal itu, apalagi membayangkan membayangkan masalalu tepat dimana Nadhira bertarung hingga melukai lawan bertarungnya itu dengan sangat sadisnya.


__ADS_2