Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Aku akan selalu melindungimu


__ADS_3

"Rifki aku harus membantu mereka" Ucap Nadhira lirih kepada Rifki ketika dirinya melihat bahwa anggota Gengcobra kewalahan menghadapi anak buah dari Syaqila.


"Tapi Dhira, kau sedang terluka saat ini".


"Bayu tidak akan mudah mengalahkan mereka semua karena Syaqila memiliki permata abadi, dan anak buahnya tidak akan mudah untuk dikalahkan, mereka memiliki ilmu kebal".


"Lalu apa yang akan kau lakukan Dhira?".


"Hanya permata iblis yang ada didalam tubuhku yang bisa melemahkan kekuatan dari permata abadi".


"Tidak, aku tidak akan membiarkan dirimu celaka".


"Rifki, aku mohon".


"Tidak Dhira, masih ada cara lain, jika mereka tau bahwa kau memiliki permata iblis maka nyawamu yang akan dalam bahaya".


Mendengar itu membuat Nadhira tidak mampu untuk berkutik lagi dihadapan Rifki, Rifki adalah pemuda yang sangat keras kepala sehingga bernegosiasi dengannya bagaikan bernegosiasi dengan bongkahan batu yang tidak akan pernah mau mengalah kepada lawannya.


Nadhira pun memandangi wajah Rifki yang saat ini sedang terlihat cemas, Nadhira pun melihat kearah anggota Gengcobra yang terlihat begitu kewalahan untuk menghadapi anak buah dari Syaqila.


"Bay! Serang bagian sarafnya dan buat mereka tidak sadarkan diri" Teriak Nadhira kepada Bayu.


"Baik Dhira" Jawab Bayu.


Bayu pun segera melakukan apa yang dikatakan oleh Nadhira, melawan orang yang memiliki ilmu kebal terhadap apapun akan sangat sulit untuk mengalahkannya, sehingga mungkin dengan cara menyerang bagian saraf adalah hal yang mungkin mampu untuk mengalahkan mereka.


Ide Nadhira berhasil untuk membuat anak buah Syaqila tidak sadarkan diri tanpa harus melukai mereka, melihat itu membuat Nadhira dan Rifki tersenyum karena mereka berhasil mengalahkan anak buah Syaqila.


"Idemu sangat bagus Dhira, mereka dengan mudah menumbangkan orang orang itu" Puji Rifki


Nadhira pun sedikit tersenyum kearah Rifki, "Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku Rif, aku tidak tau bahwa itu akan berhasil" Senyum diwajah Nadhira mengembang begitu saja.


"Apapun itu, kau telah berhasil Dhira, kau memang hebat, aku sangat bangga dengan dirimu".


"Kau terlalu melebih lebihkan Rif".


Anggota Gengcobra berhasil mengalahkan mereka semua dan hal itu membuat mereka merasa sangat senang atas keberhasilan yang mereka capai kali ini, sementara Syaqila dan keluarganya merasa bahwa sudah tidak ada cela lagi untuk kabur dari tempat itu.


Melihat posisinya yang sudah dikepung kembali oleh anggota Gengcobra membuat Syaqila segera mengeluarkan sebuah pisau dan menyambar Putri yang berada tidak jauh dari dirinya, Syaqila pun langsung menyandera Putri dengan menjadikan dia sebagai tawanan.


"Mundur kalian semua!" Teriak Syaqila sambil menempelkan pisau dileher Putri.


"Mama!"


"Tante Putri!".


"Apa yang kau lakukan!".


Syaqila perlahan lahan mundur sambil menyeret Putri untuk pergi dari tempat itu, sepertinya Syaqila ingin kabur dari tempat itu, sementara Nadhira mengenggam erat tangan Rifki.


"Selamatkan Tante Putri" Ucap Nadhira dengan menahan rasa sakitnya.


"Lalu bagaimana dengan dirimu Dhira?".


"Aku masih bisa bertahan, jangan biarkan wanita itu bertindak semaunya".


"Baiklah Dhira".


Rifki lalu berdiri dan melangkah mendekat kearah dimana Syaqila menyandera Putri, Putri pun merasa ketakutan untuk saat ini, ia tidak pernah berada didalam posisi seperti ini, Haris pun mengepalkan kedua tangannya.


"Lepaskan istriku!" Teriak Haris.


"Berhenti! Jika kalian ingin dia selamat maka jangan mendekat kemari!" Ucap Syaqila.


"Lepaskan Mama, bukanlah kau menginginkan diriku? Lepaskan Mama maka aku akan melakukan apapun yang kau inginkan" Ucap Rifki.


"Aku tidak akan percaya dengan dirimu!"


Syaqila lalu bergegas untuk mundur dan perlahan lahan dirinya sampai dihalaman depan dari gedung tersebut akan tetapi langkahnya segera berhenti ketika mendapati bahwa mereka sama sekali tidak menghentikan langkahnya untuk terus mendekat kearah Syaqila.


"Syaqila hentikan ini semua, jangan mengulangi kesalahan yang telah dilakukan oleh leluhurmu" Ucap Aryabima yang perlahan lahan mendekat kearah dimana Syaqila berdiri.

__ADS_1


"Apa kalian ingin aku membunuh wanita ini!".


"Akh..."


"Mama!"


"Putri!"


Syaqila pun sedikit menggores leher Putri hingga mengeluarkan sedikit darah, hal itu membuat Putri mendesah kesakitan, dan semua orang pun langsung berteriak ketika melihat apa yang saat ini dilakukan oleh Syaqila kepada Putri.


"Aku sama sekali tidak bercanda dengan ucapanku, kalian tau kan bahwa kepala adalah serangan vital yang mampu membunuh orang dalam sekejap?".


"Kami akan melakukan apa yang kau mau, tapi tolong lepaskan istriku" Ucap Haris.


"Mundur kalian semua, jangan ada yang berani mendekat kemari".


Syaqila pun mengeratkan pegangannya kepada Putri hingga tidak membiarkan Putri untuk dapat bergerak sedikitpun itu, tiba tiba datanglah seorang pemuda ketempat itu dan langsung muncul didepan Syaqila.


"Hentikan semua ini Qila" Ucap pemuda itu yang tidak lain adalah Algra.


"Kau! Apa kau berada dipihak mereka sekarang?" Tanya Syaqila dengan geramnya.


"Aku sadar dan aku tidak ingin membuat kau mengalami nasib yang sama seperti leluhurmu sebelumnya Qila".


"Apa yang kau katakan!".


"Aku tidak sengaja bertemu dengan Nadhira, dan dia menjelaskan semuanya kepadaku, awalnya aku tidak percaya tapi setelah aku melihatnya aku mulai percaya dengan apa yang dia katakan".


*Flash back on*


Nadhira sedang berlarian untuk keluar dari tempat dimana dirinya disekap sebelumnya oleh Syaqila, melihat Nadhira kabur dari tempat itu membuat Algra segera bergegas untuk menangkapnya karena ia tau bahwa Nadhira adalah tawanan dari orang yang dicintainya saat ini.


"Berhenti!" Ucap Algra menyuruh Nadhira berhenti dan langsung menghadang dirinya.


"Tolong jangan halangi aku" Ucap Nadhira.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini, aku tidak ingin kau menggagalkan rencana dari orang yang aku cintai"


"Maksudmu apa?"


"Permata abadi adalah ilmu yang menentang alam dan dipenuhi oleh kejahatan, jika kau benar benar mencintainya maka kau tidak akan membiarkan dia semakin terperosok dalam kejahatan, meskipun hal itu adalah keinginannya, kau sebagai pasangannya seharusnya tidak mendukung semua apa yang dia inginkan, tapi kau akan mendukung semua yang diinginkan pasanganmu jika itu demi kebaikan".


"Aku tidak percaya dengan ucapanmu, Syaqila tidak mungkin melakukan kejahatan, dia hanya ingin mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan"


"Kau salah, keris pusaka xingsi itu sendiri yang memilih tuannya, Syaqila sama sekali tidak berhak atas keris itu, dengan membunuh Rifki sama halnya dengan kau membiarkan Syaqila menderita, tidak ada yang abadi didunia ini, sebuah kutukan akan jauh lebih ringan daripada harus hidup kekal, hidup yang cukup lama adalah hal yang sangat menyakitkan dimana kita harus lihat semua orang yang kita cintai perlahan lahan meninggalkan kita sendiri didunia, apa kau ingin Syaqila merasakan hal itu?".


"Kau bohong, Syaqila bilang kepadaku bahwa dia harus melakukan itu demi keluarganya, dia harus mendapatkan keris pusaka xingsi itu untuk membalas dendam kepada orang yang telah menghabisi leluhurnya, dan menegakkan keadilan bagi seluruh keluarganya".


"Jika kau tidak percaya dengan diriku, maka ikutilah aku menuju ketempat dimana pernikahan itu akan berlangsung, maka kau akan tau setelah ada disana".


"Bagaimana jika kau menipuku?".


"Maka kau berhak untuk mengambil nyawaku sebagai taruhannya"


"Baiklah aku setuju".


Algra dan Nadhira langsung bergegas menuju kesebuah gedung dimana Rifki dan Syaqila akan melangsungkan pernikahannya, didalam hati Algra sekarang sedang bercampur aduk entah siapa yang harus dipercayainya, antara Syaqila ataukah Nadhira.


"Apa kau percaya dengan ucapanku?" Tanya Nadhira ketika keduanya sedang berada diperjalanan.


"Apakah permata abadi itu berbahaya?" Tanya Algra balik kepada Nadhira.


"Apa selama ini kau tidak mencurigai apa yang dilakukan oleh Syaqila? Jika kau benar benar mencintai Syaqila bagai kau bisa tega melihat dia menikah dengan orang lain, ini bukan hanya tentang permata abadi, tapi ini tentang kekuatan cinta, jika kau jadi aku, apa yang harus kau lakukan ketika melihat orang yang kau cintai itu merenggangkan nyawanya didepan mata kepalamu? Aku tau, kau adalah orang yang baik, hanya saja kau dibutakan oleh cintamu kepada Syaqila, bagaimana bisa kau membiarkan nyawa orang lain melayang hanya karena ambisi dari pasanganmu?".


"Kau benar, memang sudah lama aku merasa curiga dengan dirinya, apalagi dengan sikapnya yang seakan akan memiliki dua sikap yang berbeda".


"Jika saja kau tau bahayanya ketika dia memiliki kekuatan permata abadi seutuhnya, kejahatan akan ada dimana mana, permata abadi mampu membutakan pikiran dan hatinya, bahkan dia tidak akan mengenali ataupun menuruti dirimu".


Algra masih merasa ragu dengan apa yang dikatakan oleh Nadhira saat ini, ia pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Nadhira, ketika keduanya sudah sampai disebuah gedung Nadhira menghentikan langkahnya.


"Tunggu, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu".

__ADS_1


"Apa itu?"


"Pejamkan kedua matamu, maka kau akan tau apa yang sebenarnya terjadi".


"Baiklah".


Algra segera memejamkan kedua matanya, Nadhira lalu mengangguk kepada Nimas, Nimas langsung berubah wujud menjadi sebuah cahaya dan cahaya itu menempel kepada kening Algra, melalui cahaya tersebut Algra dapat melihat kejadian dimasa lalu dengan menggunakan ingatan Nimas.


Dimana adanya seorang pemuda yang memiliki permata abadi yang saat ini berada didalam tubuh Syaqila, pemuda itu terlalu terobsesi dengan kekuatan dari permata abadi sehingga dirinya terus mengumpulkan dan mengumpulkan energi hingga membuat permata yang memiliki aura negatif yang begitu besar.


Tiba tiba ada seseorang yang memiliki kekuatan keris pusaka xingsi yang berhasil mengalahkannya, orang itu lalu menyembunyikan keberadaan dari keris pusaka xingsi agar tidak disalah gunakan dimasa depan, sangat disayangkan bahwa kekuatan dari keris pusaka xingsi kini sudah terpecah menjadi dua.


Sebelum energi itu terpecah, Ayahanda Pangeran Kian terlebih dahulu menemukan keris pusaka xingsi tersebut, dan membuat seluruh dunia bertekuk lutut dihadapannya, begitu banyak masyarakat biasa yang menderita karenanya oleh karena itu Pangeran Kian berinisiatif untuk mencuri keris pusaka xingsi tersebut dari kerajaannya sendiri.


Pangeran Kian sendirilah yang membuat energi dari keris pusaka xingsi tersebut terpecah menjadi dua, sementara permata abadi tersegel dengan begitu sangat eratnya disebuah goa dan tidak ada yang mengetahuinya selama ini.


Leluhur Syaqila yang memiliki dendam dengan Panji, membuat mereka terobsesi untuk mendapatkan energi dari permata abadi itu, Galih berusaha untuk mendapatkan permata abadi akan tetapi dirinya gagal untuk melakukan itu akan tetapi abisinya itu diteruskan anaknya yakni Anhar.


Anhar merasa gagal untuk mendapatkan permata abadi tersebut, akan tetapi anaknya yang memiliki kejahatan yang begitu besar didalam hatinya akhinya mampu untuk memiliki permata abadi itu, anak dari Anhar adalah Syaqila.


Algra melihat kejadian itu begitu sangat jelas, karena dia tidak kuat untuk melihatnya akhinya dia membuka kedua matanya, ia pun menatap kearah Nadhira yang saat ini berada didepannya.


"Apa itu tadi?" Tanya Algra kebingungan.


"Itu hanyalah sekilas ingatan dari mahluk astral yang menjaga keris pusaka xingsi".


"Jadi, sebenarnya adalah ada sebuah dendam yang mendalam diantara mereka?".


"Iya, dan apa kau ingin dendam itu terus berlangsung sampai saat ini? Ini hanyalah sebuah kesalah pahaman saja".


"Tidak, itu tidak boleh terjadi Dhira".


"Maka kita harus menghentikannya".


"Kau benar Dhira".


*Flash back off*


Mendengar apa yang diceritakan oleh Algra membuat semuanya berdiam diri termasuk juga Syaqila yang tidak mengucapkan apa apa selama cerita itu diceritakan oleh Algra.


"Tidak! Apa kau ingin aku melupakan semuanya!" Bantah Syaqila.


"Apa gunanya jika membiarkan dendam itu terus ada Qila? Sadarlah kau sudah dibutakan oleh dendam itu, jangan biarkan hal itu mengendalikan pikiranmu Qila".


"Jangan dengarkan dia Qila!" Tiba tiba terdengar suara Ibu dari Syaqila.


Perdebatan itu membuat Syaqila lengah dan hal itu segera dimanfaatkan oleh Haris untuk merebut Putri dari tangan Syaqila, Rifki pun langsung membantu Haris untuk menjauhkan Syaqila dari Putri.


Melihat itu Syaqila tidak tinggal diam begitu saja, ia pun segera melakukan gerakan menusuk kearah Rifki, jarak yang dekat tidak terelakan lagi bahwa pisau itu akan menembus dada Rifki akan tetapi dengan segera Nadhira langsung memeluk tubuh Rifki dan menghadang pisau itu.


"Akh..."


"Dhira...."


Pisau yang ada ditangan Syaqila langsung tertancap kepada punggung kanan Nadhira yang saat ini sedang meneluk Rifki agar Rifki tidak terkena pisau tersebut, Nadhira pun langsung memuntahkan seteguk darah segar.


Sebelumnya Nadhira merasa tidak tenang ketika melihat semua mengejar Syaqila, Nadhira takut bahwa akan terjadi sesuatu dengan Rifki sehingga dirinya memaksanya diri untuk bisa berdiri dan ikut untuk mengejar mereka.


Nadhira begitu terkejut ketika Syaqila sudah melukai Putri, dan ia pun berusaha untuk mendekat kearah dimana Rifki berada akan tetapi Rifki sama sekali tidak menyadari keberadaannya ditempat itu.


Ketika dirinya sudah dekat dengan Rifki, ia begitu terkejut ketika Haris melakukan tindakan ditempat itu sementara Rifki langsung menghalangi Syaqila untuk menangkap Putri akan tetapi Syaqila langsung melakukan serangan tusukan kepada Rifki.


Nadhira yang melihat itu tidak tinggal diam begitu saja melainkan langsung memeluk tubuh Rifki agar pisau itu tidak mengenai Rifki dan membiarkan pisau itu mengenai tubuhnya sendiri.


"Akhirnya kau baik baik saja Rifki, Akh..." Desah Nadhira ketika pisau itu dicabut dengan kasarnya oleh Syaqila.


"Dhira! Kenapa kau melakukan ini!" Rifki begitu terkejut ketika Nadhira memeluknya hanya untuk menjadi perisai bagi Rifki dari serangan pisau yang dilakukan oleh Syaqila.


Nadhira merasa sangat nyaman dan hangat didalam pelukan Rifki meskipun punggung kanannya terasa perih karena rusuknya yang diberikan oleh Syaqila kepadanya itu.


Rifki pun memeluk Nadhira dengan sangat eratnya, ia pun dapat melihat noda darah yang ada ditangannya karena darah Nadhira yang mengalir keluar dan mengenai bajunya.

__ADS_1


__ADS_2