
Bhukk...
Kinara pun membuang obat yang diberikan oleh Sena itu ke tong sampah, setelahnya dirinya pun menepuk tepukkan kedua tangannya untuk membersihkan debu yang menempel ditangannya saat ini.
"Enak saja nyuruh diriku ngasih ini ke mereka, kalo diriku yang modar gimana? Emang dia mau tanggung jawab? Bisa bisanya diriku yang akan dihukum jika keluarga kaya itu kenapa napa. Lagian Mama juga tidak tertekan seperti apa yang dia katakan, mending diriku tidak ikut campur lebih dalam soal urusannya," Kinara pun menggerutu seorang diri.
Diperjalanan menuju kembali kerumah besar itu, Kinara tanpa sengaja melihat orang berlarian dikejauhannya. Hal itu langsung membuat Kinara menghentikan langkah kakinya, dirinya pun menoleh kearah dimana orang itu berlari dan mendapati segerombolan orang yang tengah mengejarnya.
"Copet! Copet! Ayo tangkap dia!"
"Jangan biarkan dia lolos! Hajar dia!"
Segerombolan orang itu pun berteriak copet, dan nampak lelaki yang mereka kejar masuk kedalam sebuah kerumunan yang sangat ramai. Kinara yang menyaksikan itu pun langsung bergegas untuk ikut serta mengejarnya, tanpa Kinara tau bahwa tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa anggota Gengcobra yang tengah bersantai.
"Ren, hari ini kau gantikan aku untuk melatih calon anggota Gengcobra baru. Aku ada kepentingan pribadi," Ucap Bayu yang sambil menuang secangkir kopi.
"Bara rewel lagi? Kenapa?" Tanya Reno.
"Sepertinya aku akan disibukkan olehnya beberapa hari ini, ini kan hari pertamanya masuk sekolah,"
"Baiklah, aku akan gantikan hari ini."
"Kamu kapan berkeluarga, Ren? Anakku saja umurnya hampir 5 tahun, tapi dirimu masih setia ngejomblo mulu." Bayu pun terkekeh pelan sambil menepuk pundak Reno beberapa kali.
"Tuan Muda belum bahagia, aku tidak mau menikah sebelum menyaksikan bahwa Tuan Muda benar benar bahagia dengan mata kepalaku sendiri."
"Kau terlalu berlebihan soal itu, Ren. Kau sendiri juga butuh bahagia bukan hanya Rifki, kapan kau akan bahagia jika menunggu manusia bahagia?"
"Belum saatnya saja."
Bayu pun terdiam mendengar ucapan Reno, bahkan lelaki itu sama sekali tidak pernah memikirkan soal dirinya sendiri bahkan dia sama sekali tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Sementara Reno hanya menampakkan sebuah senyuman keterpaksaan, entah dirinya yang terpaksa senyum atau begitu banyak beban yang dirinya pikirkan.
"Tolong! Tolong! Copet!" Terdengar suara teriakan dikejauhan yang membuat Bayu langsung mengangkat kepalanya.
"Sepertinya ada yang minta tolong," Ucap Bayu.
"Benar. Mungkin ada seseorang yang dalam bahaya," Seru Vano.
"Baiklah, ayo kita kesana!" Bayu pun mengajak seluruh anggota Gengcobra untuk mendatangi sumber suara yang mereka dengar, dan sebagian dari mereka disuruh untuk tetap berjaga disana.
Bayu, Vano, dan beberapa anggota Gengcobra langsung berlari. Sementara Reno, dirinya masih berada ditempat tersebut untuk mengawasi rumah Rifki karena takut jika suara itu hanyalah sebuah alih alih untuk mengalihkan perhatian mereka. Oleh karena itu, Reno masih berada disana sambil memimpin beberapa anggota Gengcobra yang masih disana, dan Bayu pun menyerahkan tugasnya kepada Reno.
*****
"Eihhh... Mau lari kemana lagi kau?" Tanya Kinara yang kini tengah berhadapan dengan seseorang yang dikejar oleh para warga, dan keduanya berada disebuah gang buntu.
Lelaki yang dikejarnya itu pun langsung menoleh kearah Kinara, dan wajah ketakutannya itu berubah ketika mengetahui bahwa Kinara tengah berdiri seorang diri didepannya. Pencopet tersebut pun menyeringai, ketika melihat wajah cantik milik Kinara.
"Rupanya hanya seorang gadis," Ucap pencopet itu.
"Iya memang kenapa kalau aku seorang gadis? Seharusnya kau lelaki itu kerja dengan halal, kenapa jadi pencopet? Emang kau mau memberi makan keluargamu dengan cara haram?" Tanya Kinara sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Bac*t... Gue nggak butuh nasehat lo, cih.. gadis bau kencur beraninya nasehatin gue," Dengan kasarnya lelaki itu pun berkata.
"Ih kamu kasar, nggak suka ah."
"Minggir!" Sentak lelaki itu.
__ADS_1
Lelaki itu pun mengeluarkan sebuah benda, dan ketika benda itu ditekan terlihatlah sebuah pisau yang sangat tajam disana. Melihat itu langsung membuat Kinara berdecak kesal, kenapa dirinya lagi lagi harus berhadapan dengan musuh yang menggunakan senjata tajam? Dirinya pun kesal karenanya.
"Mau lari ke mana kamu? Kamu tidak bisa pergi dari sini, ikut aku ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu."
"Oh. Rupanya kau sudah bosan hidup ya? Jangan salahkan aku jika aku membunuhmu disini."
"Kau benar. Selama ini diriku merasa bosan karena tidak ada yang diganggu, oleh karena itu aku mau jadi lawanmu."
Bukan Kinara namanya jika dirinya merasa takut, Kinara memang sangat suka bercanda meskipun dalam keadaan terdesak sekalipun. Meskipun dirinya takut melihat pisau yang ada di tangan lelaki itu, tapi dirinya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut itu.
Lelaki itu pun mulai mengayunkan pisau yang ada di tangannya ke arah Kinara, dengan cepatnya Kinara pun langsung menghindari serangan tersebut dengan cara menyerang balik menggunakan kakinya. Kinara melakukan gerakan geser sehingga serangan pisau itu meleset, dan dirinya pun memanfaatkan hal itu untuk menendang ke arah pusat ******** lelaki itu.
"Arghhh...." Teriak lelaki itu.
"Ups... Pasti nyeri ya?" Ucap Kinara ketika mengetahui bahwa lelaki yang ada di hadapannya itu menyengir dan meringis kesakitan.
Aset pribadi lelaki itu pun kena tendangan dari Kinara, hanya melihatnya saja dapat diketahui bahwa lelaki itu sedang sangat kesakitan, apalagi lelaki itu yang merasakannya. Kinara seolah olah tidak memiliki salah setelah melakukannya, tempat itulah adalah kelemahan dari lelaki manapun.
Tidak terima dirinya dikalahkan dengan satu tendangan oleh seorang gadis, pejabat tersebut pun langsung bangkit kembali meskipun sambil menyengir kesakitan. Dirinya kembali melontarkan sebuah serangan ke arah Kinara, dan lagi lagi Kinara pun menangkisnya.
"Mama harus lihat kehebatanku ini! Pasti dia sangat kagum denganku," Seru Kinara dengan senangnya.
"Berani sekali kau menghancurkan asetku! Aku tidak akan membiarkanmu hidup, lihat saja nanti kau akan pulang hanya tinggal nama." Lelaki itu pun mengancam Kinara.
"Berisik!"
Kinara pun seolah olah merasa terganggu dengan ucapan lelaki itu, sehingga dirinya menutup kedua telinganya rapat rapat menggunakan kedua tangannya. Merasa direndahkan oleh seorang gadis, membuat lelaki itu naik pitam, sehingga membuat wajahnya terlihat sangat memerah dan penuh dengan kemarahan.
Keduanya pun terlibat dalam sebuah perkelahian, di gang yang sempit sehingga membuat pergerakan keduanya sedikit terganggu. karena saking tajamnya pisau yang lagi itu bawa, hal itu langsung membuat pakaian Kinara pun terkoyak.
Sebuah benda pun jatuh ke tanah tempat Kinara pijak. Karena saku baju Kinara yang terkoyak hingga membuat sebuah benda jatuh, Kinara pun langsung menoleh ke arah benda tersebut dan mendapati sebuah benda berbentuk tabung di sana.
Kinara pun menekan benda itu, setelah dirinya tekan dia langsung melemparnya ke atas hingga terciptalah sebuah tongkat yang panjang, dia lantas menangkapnya dengan cepat. Kinara langsung menangkis serangan senjata yang terarah kepadanya, lelaki itu lantas terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kinara saat ini.
Kedua senjata itu langsung saling beradu kekuatan, dengan cepatnya Kinara langsung membuat lelaki tersebut terdesak. Lelaki itu ndak berusaha kabur dari tempat itu, karena tanpa sengaja dirinya mendengar sebuah keributan seolah olah orang orang yang telah mengejarnya tadi kedatangan saat.
Akan tetapi, Kinara seolah olah tidak memperbolehkannya untuk pergi dari tempat itu, dan mencegah kepergian lelaki itu dengan cara menyerangnya terus terusan. Lelaki itu pun akhirnya kewalahan dengan apa yang dilakukan oleh Kinara, sehingga dirinya pun jatuh tersungkur ke tanah.
Lelaki itu sudah tidak bisa bangkit lagi setelah mendapatkan tendangan beberapa kali dari Kinara, setelah melihat lelaki itu tidak berdaya hal itu langsung membuat Kinara menepuk tangannya untuk membersihkan debu. Ia lalu mendekat ke arah lelaki tersebut untuk mengambil tas yang telah dia copet, akan tetapi dirinya melupakan tentang tongkat yang dirinya bahwa sebelumnya.
Kinara pun melihat segerombolan lelaki yang datang ke tempat itu, Kinara pikir bahwa itu adalah komplotan dari mereka sehingga dirinya buru buru kabur hingga melupakan tongkatnya. Kinara tidak mau mati konyol di tempat itu, sehingga dirinya memilih untuk segera pergi dari tempat tersebut dan meninggalkan lelaki itu.
Segerombolan lelaki itu ternyata adalah Bayu dan anggota Gengcobra lainnya, mereka pun melihat gadis yang kabur dari tempat itu dan hendak untuk mengejarnya akan tetapi perhatiannya tertuju kepada masyarakat yang baru datang ke tempat itu. Kinara berhasil melarikan diri dari tempat itu, dirinya pun bergegas untuk mendatangi seorang ibu ibu yang telah dicopet sebelumnya.
"Kita datang terlambat," Ucap Bayu ketika mendapati lelaki yang telah terkapar di tanah.
Bayu pun menghela nafasnya dengan kasar, karena dirinya datang terlambat di saat lelaki itu sudah terkapar lemas tak berdaya di tanah. Ia pun kehilangan ke mana perginya wanita yang telah menghajar lelaki itu, dirinya tidak tahu kemana perginya wanita itu karena kepergiannya begitu sangat cepat.
Para warga pun berdatangan ke tempat itu, mereka hendak melampiaskan kemarahannya kepada lelaki yang telah mencopet tersebut, akan tetapi kegiatan mereka langsung dihentikan oleh Bayu beserta yang lainnya. Itu sama saja dengan main hakim sendiri, dan anggota Gengcobra tidak ingin adanya seseorang yang kehilangan nyawanya di tempat itu.
"Habisi dia!" Seru salah satu warga.
"Bapak bapak jangan main hakim sendiri! Apakah kalian mau dituntut ke pengadilan sekarang?" Teriak Vano sambil mencegah para warga yang nampak marah.
Sementara lelaki yang tengah terbaring di atas tanah itu sedang menggeram kesakitan, dirinya berpikir bahwa hidupnya akan berakhir saat ini karena kemarahan warga kepadanya. Beruntunglah ada Bayu dan anggota Gengcobra, sehingga kegiatan main hakim sendiri ataupun tidak terjadi.
"Serahkan saja dia kepada kami, biar kami yang akan bawa dia ke kantor polisi," Ucap Bayu.
__ADS_1
"Baiklah." Jawab mereka serempak dengan keterpaksaan.
Dengan kecewanya para warga pun langsung membubarkan diri dari tempat itu, sementara payung merasa sangat lega melihat kepergian mereka. Bayu pun mendekat ke arah lelaki yang tidak berdaya itu, dirinya hendak memeriksa keadaan lelaki tersebut mengapa dengan mudah bisa dikalahkan oleh seorang wanita.
Ketika dirinya hendak memeriksa keadaannya lelaki itu, tanpa sengaja dirinya melihat sebuah tongkat yang tertinggal di sana. Bayu pun langsung mengambilnya, dan menyerahkan tugas untuk membawa lelaki itu ke kantor polisi kepada Vano.
Vano dan beberapa anggota yang lainnya langsung membawa lelaki itu ke kantor polisi dengan cara membopongnya, sementara Bayu dan dua orang lainnya masih berada di sana. Bayu pun mengamati tongkat tersebut dengan cermat, dirinya pun mengingat siapa pemilik tongkat itu, apalagi tongkat tersebut bertuliskan dengan nama 'Kinara' digagang tongkat tersebut.
Kedua tangan Bayu pun bergetar, mulutnya seakan tidak bisa berkata kata saat ini, bahkan air matanya pun seakan akan ingin jatuh. Anggota Gengcobra pun kebingungan dengan reaksi yang ditampakkan oleh Bayu setelah melihat tongkat tersebut.
"Tuan, ada apa dengan anda?" Tanya salah satu dari mereka.
"Wanita itu..." Ucap Bayu menggantung.
*****
Rifki tengah bersantai di depan televisi yang ada di dalam rumahnya, dirinya pun seakan akan tengah fokus pada ponselnya saat ini. Tiba tiba Bayu datang ke tempat itu dengan terburu buru, dirinya pun tanpa salam langsung menemui Rifki hingga membuat Rifki sangat.
"Rif, kamu harus lihat ini!" Teriak Bayu dengan paniknya.
"Ada apa, Bay?" Tanya Rifki heran dan langsung meletakkan ponselnya.
Belum sempat Bayu menjawab pertanyaan dari Rifki, air matanya pun menetes saat itu juga. hal itu langsung membuat Rifki nampak begitu khawatir dengan apa yang dilakukan oleh Bayu, dan langsung menatap Bayu dengan lekat.
"Kenapa denganmu?" Tanya Rifki.
Bayu pun langsung menyerahkan sebuah tongkat yang dirinya temukan itu kepada Rifki, Rifki yang menerimanya pun merasa bingung dan tidak mempercayai apa yang dirinya lihat saat ini. Tongkat itu adalah tongkat milik Nadhira, tanpa menunggu penjelasan dari Bayu sendiri, Rifki pun menitihkan air matanya.
"Dhira..." Suara Rifki yang nampak parau.
"Bukan."
"Maksudmu apa?" Tanya Rifki dengan nada tinggi dan mencengkeram erat kerah baju Bayu.
"Rif, anakmu ada disekitar sini. Tadi kami ingin menolong seseorang yang terkena copet diujung jalan sana, dan ketika kami datang ketempat itu, copet itu sudah terkapar. Sebelum kami tiba ditempat itu, aku melihat seorang gadis berusia sekitar 15 tahunan disana, kami tidak sempat mengejarnya karena para warga yang berdatangan ketempat itu." Bayu pun menjelaskan hal yang sebenarnya kepada Rifki.
"Maksudmu? Yang menggunakan tongkat ini sebelumnya adalah anakku? Apa kau tidak bercanda, Bay?"
"Kalau aku bercanda, bagaimana mungkin aku menemukan tongkat yang bertuliskan 'Kinara' itu? Aku sama sekali tidak bercanda soal ini, Rif. Dia benar benar anakmu,"
"Kemana perginya? Seharusnya kamu cegah dia pergi, Bay!"
"Aku tidak tau, Rif. Maafkan aku yang tidak bisa menghalanginya pergi," Bayu pun menundukkan kepalanya merasa bersalah dengan Rifki.
"Arghhhhh!!" Teriak Rifki.
"Aku sudah menyuruh anak buahmu menyebar ditempat itu untuk mencarinya, kita akan segera menemukannya, Rif. Pertemuanmu dan anakmu semakin dekat,"
"Apapun yang terjadi, temukan dia secepatnya, Bay. Aku tidak mau anakku kenapa napa, kau harus bisa menemukannya secepat mungkin. Apa kau tau wajahnya?"
Bayu pun mengingat kejadian sebelumnya, dan mencoba untuk mengingat ingat wajah gadis yang dirinya temui sebelumnya. Bayu lantas menggelengkan kepalanya, "Wajahnya tidak jelas dilihat olehku, Rif. Karena jarak kita tadi sangat jauh, sehingga aku tidak tau bagaimana wajahnya."
Rifki pun nampak begitu kesal dengan jawaban dari Bayu, dirinya pun mendorong Bayu dengan kasarnya untuk menjauh tubuh Bayu dari tubuhnya. Rifki lantas langsung melangkah pergi dari sana dengan langkah cepat, dan Bayu pun langsung mengejarnya.
"Kau mau kemana, Rif?" Teriak Bayu bertanya.
"Aku mau cari anakku sendiri! Aku tidak akan membiarkannya pergi jauh dariku!" Teriak Rifki dan langsung berlari keluar dari halaman rumah itu.
__ADS_1
"Rif, tunggu aku!"
Bayu pun mengejar Rifki karena tidak ingin membiarkan Rifki seorang diri, dan justru akan berbahaya bagi Rifki jika keluar tanpa pengawasan siapapun.