Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kemarahan Nadhira


__ADS_3

Ide yang diberikan oleh Bayu begitu luar biasa bagi Rifki, hingga membuat Rifki seperti sedang merencanakan sesuatu yang tidak akan pernah diketahui oleh Nadhira, dan hal itu membuat Nadhira menelan ludahnya sendiri dengan susah payahnya, entah apa yang tengah mereka rencanakan.


"Ide yang sangat bagus Bay, kau memang sangat cerdas kali ini" Ucap Rifki dengan senyum kemenangan.


"Bay akan ku buat perhitungan denganmu, lihat saja nanti!" Ancam Nadhira sambil menuding Bayu.


"Bay, apa perlu kita menutup juga mulutnya itu? Seingatku didalam mobil ada lakban deh, kita tinggal mencari talinya saja" Tambah Rifki yang tidak mempedulikan Nadhira yang tengah protes.


"Heiii... Kalian mau ngapain!" Ucap Nadhira.


"Kau benar Rif, aku juga pernah melihatnya didalam mobil, warna hitam kan? Yang super tebal itu".


"Iya Bay benar, apakah itu sangat kuat untuk dapat menutup mulut wanita ini?"


"Sepertinya itu jauh lebih kuat Rif, anak Gengcobra saja tidak bisa mematahkannya, apalagi hanya seorang gadis seperti ini, hem... Rasanya itu tidak akan mungkin Rif".


"Apa yang kalian rencanakan! Apa kalian mau menjadikanku tawanan ha?".


"Baguslah kalau begitu Bay, kapan lagi kita akan menyandera seorang gadis didalam markas, sudah cepat carikan sebuah tali, ayo kita ikat dia".


"Baik Tuan Muda".


Melihat Bayu yang hendak berdiri membuat Nadhira semakin geram hingga kedua tangannya segera meraih telinga dari kedua pemuda itu hingga membuat keduanya meringis kesakitan, dan seketika itu membuat keempat anak Gengcobra yang ada disana berusaha sebisa mungkin untuk tidak tertawa meskipun itu sangat susah.


"Apa yang kalian rencanakan itu ha?" Tanya Nadhira dengan nada marahnya.


"Arghh... Ampun Dhira, aku tidak ikut ikut, salahkan saja Tuan Muda" Teriak Bayu.


"Akh... Ini bukan ideku Dhira, salahkan saja Bayu, dia yang memberiku sebuah ide seperti itu" Ucap Rifki menunjuk kearah Bayu.


"Tapi Tuan Muda ini kemauanmu, aku hanya memberi saran saja tapi kau malah menyetujuinya, jadi ini adalah salahmu juga".


"Ini juga adalah idemu kan, jadi salahkan saja Bayu yang memberiku ide gila seperti ini".


"Diam kalian berdua!" Ucap Nadhira sambil mengeratkan pegangannya ditelinga kedua pemuda.


"Dhira lepaskan dulu, nanti telingaku bisa bisa putus loh" Ucap Rifki.


"Biar putus saja sekalian, aku tidak peduli!".


"Apa kata orang nanti, kalau seorang Tuan Muda hanya memiliki satu telinga".


"Mungkin begini Rif, hei ternyata Tuan Muda Abriyanta hanya memiliki satu telinga saja loh, ku pikir dia begitu tampan ternyata telinganya hanya satu, ngak enak banget untuk dilihat" Ucap Bayu sambil menirukan gaya ibu ibu.


"Arghhhh.... Itu bahkan jauh lebih parah" Teriak Rifki yang terlihat putus asa.


"Kenapa kenapa kenapa, ku harus begini kenapa" Ucap Bayu sambil diberi nada hingga ucapan itu terlihat seperti nyanyian meratapi nasib.


"Hiks... Hiks... Hiks..." Tangis keputusan asaan Rifki.


Dengan perlahan lahan Nadhira melepaskan telinga keduanya, dan hal selanjutnya yang keduanya lakukan seketika membuat nafas Nadhira berhenti mendadak, keduanya malah saling berpelukan satu sama lain dengan ratapannya masing masing hingga membuat Nadhira merasa malu dengan tingkah keduanya itu apalagi dilihat banyak orang.


Hal yang keduanya lakukan itu membuat Nadhira hanya bisa menepuk jidatnya sendiri entah drama apalagi yang tengah mereka lakukan saat ini, sementara keempat anak buah Rifki hanya mampu menahan tawanya saja meskipun dapat terdengar dengan samar samar oleh Nadhira.


"Rifki huaa.... Sekarang kita hanya memiliki satu telinga saja, hua... Hiks.. hiks.. hiks.."


"Kau benar Bay, entah bagaimana wajahku nantinya, bagaimana aku bisa menjadi pemilik Abriyanta Groub jika ketampananku hilang begitu saja, hua...".


"Bagaimana nanti aku bisa mendapatkan hati seorang gadis jika telingaku hanya satu hiks... Huaa, siapa orang yang mau menjadi pasanganku kelak jika telingaku hanya satu saja".


"Beginilah nasib kita Bay, hiks.. hiks.. hiks.. hilang sudah ketampananku yang selalu aku jaga ini, sungguh begitu tega dirinya hingga membuat telinga kita hilang seperti ini".


"Kau benar Rif, kejam sekali dirinya hingga tega menarik telinga kita berdua, sakit banget rasanya seperti nyawaku juga ikut pergi".


"Drama apalagi sih yang kalian mainkan ini? Telinga kalian berdua pun masih ada ditempatnya, auah terserah kalian berdua saja, aku mau pulang" Ucap Nadhira dan langsung berdiri dari duduknya.


Rifki dan Bayu segera melepaskan pelukannya itu dan segera bangkit berdiri dihadapan Nadhira, melihat itu Nadhira hanya melipat kedua tangannya didepan dadanya dan menghadap kearah keduanya.


"Kau mau kemana Dhira? Kenapa buru buru seperti itu sih?" Tanya Rifki.

__ADS_1


"Mau pulang, drama kalian ngak lucu tauk" Jawab Nadhira dengan sedikit sinis.


"Jalan kaki?" Tanya Bayu dengan nada terkejut.


"Bukan, terbang pinjem sayap burung noh yang ada diatas pohon sebelah".


"Emang dibolehin sama tuh burungnya? Kasihan burungnya ngak punya sayap lagi nanti kalau kamu pinjem ke mereka, lagi enak enaknya terbang mengelilingi angkasa eh kamu pinjem" Ucap Rifki.


"Boleh, malah diberi langsung oleh mereka dua sayap sekaligus".


"Kalau cuma satu sayap mah ngak mungkin bisa terbang lah Dhira".


Mungkin hanya Nadhira saja yang berani untuk melakukan hal itu kepada keduanya apalagi ditempat umum seperti ini, hingga hal itu membuat anggota Gengcobra yang ikut mengumpat dalam hatinya karena tidak bisa menahan tawa mereka sendiri, Nadhira sendiri hampir saja kehabisan kata kata didepan kedua orang itu.


"Anterin pulang" Ucap Nadhira.


"Kenapa pulang? Kau sendiri kan sedang aku culik saat ini" Ucap Rifki.


"Ini sudah malam Rifki, bagaimana kalau Oma menghawatirkan diriku karena belum pulang pulang? Apa kau kau diomelin sama Omaku?"


"Jangan sampe itu terjadi Tuan Muda, beneran deh, omelan Omanya Dhira itu byuhhh..... Sadis banget loh Rif" Kompor Bayu.


"Baiklah, ayo kita antarkan dia pulang saja" Putus Rifki dan langsung berjalan kearah mobilnya.


Ketiganya segera bergegas meninggalkan tempat itu begitupun dengan keempat anggota Gengcobra tersebut, Nadhira segera masuk kedalam mobil itu diikuti oleh Rifki dan Bayu dan beberapa anak buah Rifki duduk dibelakang mereka, tak lama kemudian akhirnya mobil itu segera melanju meninggalkan tempat tersebut.


Setelah sekian lama perjalanan akhinya mereka sampai juga dirumah Nadhira, melihat kedatangan mereka membuat Pak Santo yang tengah berjaga begitu terkejut dan tidak mengenali siapa yang datang ketempat itu, akan tetapi ketika Nadhira membuka kaca mobil tersebut membuat Pak Santo segera bergegas untuk membukakan pintu gerbang tersebut agar mobil itu bisa masuk kehalaman.


Nadhira segera turun dari mobil tersebut setelah mobil itu berhenti dan diikuti oleh Rifki, keduanya berdiri disamping mobil tersebut, melihat itu membuat Pak Santo tidak ingin ketinggalan untuk dapat melihat momen langka tersebut.


"Kalian langsung kembali pulang?" Tanya Nadhira.


"Aku ngak pulang, aku mau buat tenda didepan rumahmu Dhira" Jawab Rifki.


"Ha?" Nadhira terkejut mendengar itu, "Didalam masih ada kamar kosong jika kalian mau, kenapa harus membuat Tenda didepan rumahku?"


"Kau kan tau sendiri, bagaimana bisa laki laki yang tidak memiliki hubungan keluarga bisa tinggal dirumah gadis, yang ada nanti malah didemo oleh warga sekitar sini, ya sudah kami balik dulu ya Dhira jangan lupa, seminggu!"


"Sayangnya tidak ada penawaran lagi Mbak, harus harga pas disini, itu saja sudah harga paling mentok Mbak, kalo ditawar lagi nanti saya rugi besar".


"Ayolah Rif, bagaimana kalau 5 hari saja? Jangan seminggu dong".


"Tidak, apa mau aku naikkan lagi jadi satu bulan?".


"Baiklah hanya seminggu kan? Aku akan mati kebosanan jika selama itu".


"Ngak akan mati, jika kau paksakan maka akan semakin bahaya, emang kamu mau hal itu terjadi?".


"Ngak mau Rif".


"Ya sudah, kalau begitu kami pamit pulang dulu ya".


"Hati hati dijalan, kalau sudah sampai jangan lupa hubungi aku nanti, aku tidak mau kamu kenapa kenapa dijalan".


"Iya iya bawel, ya sudah waalaikumussalam".


"Assalamualaikum Rifki".


"Hehe.. waalaikumussalam" Rifki tertawa mendengar ucapan Nadhira dan langsung masuk kembali kemobilnya.


Nadhira melambaikan tangannya kepada mobil tersebut yang akan meninggalkan halaman rumahnya, Nadhira memandangi kearah mobil tersebut hingga mobil itu tidak lagi nampak oleh pandangannya karena tertutup oleh bangunan bangunan yang ada ditempat itu.


Melihat kepergian dari mobil tersebut membuat Nadhira segera bergegas masuk kedalam rumahnya, Nadhira segera bergegas menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah itu dirinya segera membaringkan tubuhnya diatas kasur yang sangat empuk itu dengan nyaman.


*****


Nadhira kali ini masuk kedalam perusahaannya dengan kemarahan atas kejadian yang telah ia lalui bersama dengan Rifki kemarin malam, melihat itu seluruh karyawannya begitu takut dengan apa yang terjadi kali ini hingga membuat pimpinan mereka terlihat sangat marah itu.


"Kumpulkan semuanya!" Teriak Nadhira dengan kemarahan.

__ADS_1


"Baik Nona Muda" Ucap Citra dengan ketakutannya.


Citra dengan segera meminta bantuan kepada rekan kerjanya untuk mengumpulkan para karyawan yang ada ditempat itu, ia tidak ingin membuat Nadhira menunggu lama sehingga dirinya berlarian untuk melakukan itu.


"Bu Citra, ada apa dengan Nona Muda? Kenapa dia begitu marah seperti itu? Tidak biasanya dia akan marah seperti itu" Tanya seorang wanita yang juga ikut memanggil rekan rekannya.


"Telah terjadi masalah yang sangat besar, sepertinya kali ini aku tidak akan selamat" Ucapnya dengan nada sedih dan pelan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah perusahaan mengalami kebangkrutan? Atau gimana?"


"Sudahlah, kau pasti akan mengetahuinya sendiri nanti, sebaiknya secepatnya kumpulkan mereka semua sebelum Nona Muda semakin marah".


"Lalu bagaimana dengan diriku? Aku takut kalau aku kehilangan pekerjaan ini".


"Jika kau tidak ingin itu terjadi, jangan banyak bertanya dan cepat kumpulkan mereka!" Perintah Citra dengan tegasnya kepada rekan kerjanya itu.


"Baik Bu Citra".


Citra dan yang lainnya segera bergegas untuk mengumpulkan para pekerja yang ada diperusahan tersebut, bukan hanya itu saja akan tetapi seluruh satpam keamanan juga ikut terlibat dan Nadhira menyuruh mereka untuk berkumpul tanpa terkecuali begitupun dengan Theo.


Nadhira melipat kedua tangannya sambil duduk disebuah kursi yang ada ditempat itu sambil menunggu Citra melakukan tugasnya untuk mengumpulkan seluruh pegawainya, melihat Nadhira yang seperti itu hanya mampu membuat Theo terdiam tanpa banyak bertanya kepada Nadhira.


Nadhira sudah menduga bahwa ini adalah perbuatan dari Theo akan tetapi dirinya masih tetap bertekad untuk mengumpulkan para pekerjanya agar kesalahan seperti ini tidak akan terjadi lagi dimasa yang akan mendatang.


Para pekerja itu pun merasa takut dengan tatapan Nadhira yang diberikan kepada mereka ketika mereka mulai berdatangan ketempat itu, mereka segera mengambil posisi untuk berbaris ditempat itu sesuai arahan dari pihak keamanan, dan Citra pun bergegas untuk berjalan kearah Nadhira.


"Nona Muda, semuanya sudah berkumpul" Lapornya.


"Jelaskan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi Citra!" Perintah Nadhira kepada Citra sambil berdiri dari tempat duduknya.


Citra sedikit ragu untuk mengatakan itu karena dirinya terlihat begitu gugup dan tidak seperti biasanya, melihat Citra yang hanya berdiam diri cukup lama hingga membuat Nadhira melirik kearahnya dengan tatapan yang sangat tajam seperti layaknya seorang predator yang menemukan mangsanya dan berniat untuk menerkamnya.


Citra pun terlihat begitu gelagapan dan segera mengatakan apa yang sebenarnya terjadi diperusahannya tersebut hingga membuat Nadhira merasa begitu sangat marah kepada mereka, mendengar penjelasan dari Citra seketika membuat seluruh karyawannya terdiam dan ketakutan.


"KATAKAN SEMUANYA! SIAPA YANG BERANI MELAPORKAN ITU!" Bentak Nadhira kepada seluruh karyawannya.


Tidak biasanya Nadhira menggunakan nada tinggi seperti itu, seluruh karyawannya pun tidak ada yang berani untuk menjawab ucapannya tersebut karena mereka benar benar tidak mengerti dan mengetahui tentang siapa yang melaporkan kejadian kemarin kepada pihak kepolisian.


"KENAPA HANYA DIAM SAJA!" Bentak Nadhira lagi ketika melihat mereka hanya mampu berdiam diri.


Lagi lagi mereka tidak berani untuk menjawab ucapan Nadhira, Nadhira memandangi satu persatu pekerjanya itu yang hanya mampu menundukkan kepalanya dihadapan Nadhira tanpa ada yang berani untuk menatapnya, mereka hanya mampu menggenggam tangan mereka masing masing tanpa ada yang berani berkata kata.


Brakkkk...


Nadhira memukul meja yang ada disebelahnya dengan sangat kerasnya karana mereka hanya berdiam diri, mendengar suara pukulan yang sangat keras itu membuat sebagian dari mereka segera memejamkan matanya.


"Kenapa hanya diam? Jika kalian tidak bersalah, kenapa kalian takut? Katakan! Siapa yang telah melanggar perintahku!" Ucap Nadhira.


"Sebaiknya kalian katakan saja, orang itu adalah bagian dari perusahaan ini, jika kalian tidak bisa jujur mengatakannya masalah ini tidak akan selesai" Ucap Citra yang ikut bicara.


"Urus mereka Citra, sampai tidak ada yang mengaku juga, kalian akan berurusan dengan diriku".


"Baik Nona Muda".


Citra segera mendekari kearah mereka satu persatu dan menanyakan tentang apa yang mereka lakukan kemarin dan juga mengecek handphone mereka mengenai panggilan terlahir yang mereka keluarkan kemarin malam.


Theo hanya mampu berdiam diri dan berdiri disamping Nadhira tanpa banyak kata, ia yakin bahwa kali ini dirinya tidak akan selamat dari kemarahan Nadhira, ia hanya berhadap bahwa perbuatannya itu tidak diketahui oleh Nadhira sehingga Nadhira tidak akan pernah membencinya.


"Kenapa kau hanya diam saja Theo?" Tanya Nadhira tanpa menoleh kearah Theo.


"Aku tidak tau apa apa soal ini Dhira, kau tau sendirikan kalau kemarin aku tidak ada dikantor" Ucap Theo mengelak.


"Aku tidak butuh penjelasan Theo, tidak biasanya kau akan berdiam diri seperti ini kalau ada masalah apapun diperusahan".


"Baiklah aku akan membantu Citra"


"Tidak perlu, biarkan itu menjadi urusan Citra".


"Baiklah".

__ADS_1


Theo kembali terdiam dalam ucapannya, berurusan dengan Nadhira saat ini bukanlah hal yang tepat karena saat ini Nadhira masih tengah diselimuti oleh kemarahan yang ada pada dirinya sehingga ia tidak ingin membuat Nadhira semakin marah.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...


__ADS_2