
Rifki pun menyandarkan punggungnya perlahan lahan disofa itu, punggungnya terasa sangat nyeri saat ini, ia pun berusaha untuk tidak merasakan rasa itu karana ia tidak mau orang lain melihat lukanya itu, bahkan kedua orang tuanya pun tidak mengetahui lukanya itu, yang tau hanyalah anggota Gengcobra.
Semakin lama rasa sakit itu semakin terasa, hal itu membuat Rifki memejamkan kedua matanya, biasanya setelah meminum obat rasa sakit itu akan berkurang akan tetapi tidak kali ini, ia lalu bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Nadhira.
"Dhira, aku mau keluar sebentar ya" Ucap Rifki yang mendapati bahwa Nadhira belum sepenuhnya tertidur nyenyak.
"Mau kemana?" Tanya Nadhira.
"Sebentar saja, biarkan suster menemanimu disini, aku akan segera kembali secepat mungkin"
"Kamu sakit?" Tanya Nadhira ketika melihat kening Rifki berkeringat dingin.
"Ngak, hanya belom makan tadi pagi, aku mau beli makan dulu diluar, boleh ya? Ngak lama kok, apa kamu mau dibelikan cemilan juga sekalian?"
"Ngak usah, pergi saja sana" Jawab Nadhira sambil memejamkan kedua matanya.
"Bentar ya, ngak lama kok"
Rifki pun membalikkan badannya, wajah yang terpancarkan senyum sebelumnya pun hilang dan berubah menjadi wajah kesakitan, Rifki lalu melangkah pergi dari ruangan tersebut karena ia tidak tahan dengan rasa sakitnya itu.
Nadhira menatap kearah kepergiannya itu dengan perasaan yang sulit untuk diartikan, setelah Rifki menutup pintu itu, senyum Rifki yang terpancarkan untuknya tak lagi terlihat oleh Nadhira.
"Apa yang terjadi dengan dia? Sakit apa yang dia alami saat ini?"
*****
Rifki pergi keruang UGD yang ada didalam rumah sakit itu, ia pun membaringkan tubuhnya dalam posisi tengkurap di bangkar yang ada didalam ruangan itu untuk membiarkan Dokter memeriksa kondisi punggungnya itu, entah mengapa obat yang ia minum tidak mampu meredahkan rasa nyerinya padahal biasanya sekali ia minum langsung mendingan.
"Sepertinya luka yang anda alami makin parah karena terjadi infeksi disini" Ucap Dokter lelaki itu setelah memeriksa punggung Rifki.
"Tapi kenapa obat itu sama sekali tidak bekerja? Biasanya langsung mendingan setelah saya meminumnya Dok" Tanya Rifki.
"Obat itu tidak menyembuhkan hanya saja meredahkan rasa sakit saja untuk sementara waktu, dan mengonsumsinya terlalu banyak itu juga tidak baik bagi kesehatan"
"Lalukan apapun Dok, asal lukanya cepat kering"
"Baiklah, kami akan membersihkan lukanya, lain kali jangan sampai terkena air dulu"
"Iya Dok"
Dokter itu pun langsung mengambil tindakan untuk Rifki, Rifki pun memegangi bantal yang ia gunakan dengan erat karena rasa perih yang ia rasakan saat ini, dan hal itu membuat sekujur tubuhnya kini tengah diselimuti oleh keringatnya.
Sudah cukup lama Rifki merasakan perih tersebut, akam tetapi dirinya sendiri tidak tau kapan pengobatan itu akan selesai dilakukan, karena tidak mau membuat Nadhira sendirian lama lama, ia pun menggerakkan tangannya untuk memencet nomor Bayu disana, tak beberapa lama kemudian telponnya pun terhubung.
"Bay, kamu dimana sekarang?" Dengan suara seperti menahan rasa sakit.
"Aku dimarkas Gengcobra Rif, ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu?" Jawab Bayu dari seberang telpon dan nampak sedikit panik karena mendengar suara Rifki yang seperti menahan sakit.
"Tolong kerumah sakit sekarang juga, jaga Nadhira disana, aku tunggu dirimu"
"Iya Rif, aku akan segera kesana"
Rifki pun memutuskan sambungan telpon itu begitu saja, ia meletakkan ponselnya didekatnya dan kembali memeluk bantal tersebut dengan erat karena rasa perih yang ia rasakan itu, meskipun sudah diberi bius oleh Dokter akan tetapi dirinya masih merasakan rasa sakit itu.
Dokter tersebut lalu membersihkan luka Rifki secara perlahan lahan akan tetapi Rifki yang merasakan itu rasanya seperti digosok dengan sangat kasar, Dokter tersebut membersihkan nanah yang ada diluka bekas jahitan tersebut dengan hati hati.
Tidak bisa ditanyakan lagi bagaimana sakitnya luka itu, luka yang memanjang tersebut dari pundak kiri atas sampai pinggang kanan bawah itu kini tengah dipenuhi dengan nanah dan darah, hal itu membuat perban yang menutupinya pun basah karena cairan dari luka itu.
Rasa sakit itu membuat Rifki memejamkan kedua matanya dengan erat, wajah dan tangannya kini tengah dipenuhi dengan keringat yang bercucuran keluar dari dalam tubuhnya pertanda bahwa proses pembersihan itu sangat menyakitkan.
"Teriak saja Mas, kalo mau teriak disini" Ucap Dokter itu bercanda kepada Rifki.
"Saya bukannya mau melahirkan Dok, kenapa harus teriak teriak? Malah nganggu pasien yang lainnya, apalagi nanti ada yang ngira kesurupan" Jawab Rifki sambil menyengir.
"Oh iya, saya pikir anda ingin berteriak karena luka anda ini, kenapa anda bisa memiliki luka sepanjang ini? Pasti rasanya mantap"
"Kurang fokus latihan beladirinya Dok, iya Dok sangat mantap, mantap sakitnya"
Dokter itu pun tertawa mendengar jawaban dari Rifki, ngak ada akhlak emang, pasiennya mati matian menahan rasa sakit malah ditertawakan oleh Dokter itu begitu saja.
*****
Nadhira yang tengah terbaring diatas bangkar rumah sakit tersebut pun membuka kedua matanya ketika mendengar adanya ketukan seseorang dari balik pintu ruangan tersebut, Nadhira pikir itu adalah Rifki yang datang, ternyata salah itu adalah Bayu.
"Gimana keadaanmu Dhira?" Tanya Bayu.
"Alhamdulillah sudah baikan kok, tumben kamu datang kesini Bay?" Jawab Nadhira.
"Tadi Rifki telpon, katanya nyuruh aku datang kemari, emang dia pergi kemana Dhira?"
__ADS_1
"Ngak tau, tadi dia bilang mau beli makan, udah 1 jam ngak balik balik kemari"
"Oh, benar lagi pasti balik kok, apa kamu butuh sesuatu Dhira?"
"Ngak kok Bay, nanti kalo aku butuh aku minta tolong kepadamu kok"
"Iya Dhira"
"Bay, boleh aku tanya sesuatu kepadamu?"
"Tanya aja kali, kenapa mesti harus menanyakan itu kepadaku? Kau mau bertanya kepadaku sebagai apa? Sahabat atau bodyguard?"
"Sebagai sahabatlah"
"Iya, pertanyaannya apa?"
"Apa Rifki sakit? Sakit apa dia?"
"Hemm? Kenapa tiba tiba menanyakan itu? Kenapa tidak bertanya langsung saja kepadanya?"
"Aku tadi menemukan bungkus obat peredah rasa nyeri untuk luka, kenapa dia meminum itu?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Bayu terdiam beberapa saat, Rifki pernah mengatakan kepada bahwa jangan sampai ada yang tau mengenai luka yang ada dipunggungnya itu meskipun itu adalah Nadhira ataupun kedua orang tuanya, Bayu benar benar berada diposisi yang sulit saat ini.
*Flash back on*
Bayu tengah menemani Rifki untuk duduk didepan ruang rawat Nadhira, sampai sekarang Nadhira belum juga sadarkan diri hal itu membuat Rifki sama sekali tidak memperhatikan kesehatannya, saat ini dirinya beserta Rifki sedang berbicara bincang.
"Bay, dimana obatnya yang aku minta tadi, apa kau sudah membawanya?" Ucap Rifki yang merasakan punggungnya sedikit perih.
"Nih Rif, sakit lagi ya?"
"Iya nih Bay, ngak tau kenapa tiba tiba sering kambuh seperti ini belakang ini, padahal lukanya juga sudah lama kenapa belum sembuh sembuh
"Apakah pernah kena air?"
"Badanku lengket Bay kalo ngak mandi, nanti kalo Dhira bangun terus akunya bau kan ngak enak, malah semakin membuat Nadhira membenciku nanti"
"Terus kamu pake buat mandi?" Dan langsung mendapat anggukan kepala dari Rifki, "Kenapa ngak sekalian aja berendam dikolam? Biar parahnya ngak nanggung nanggung, udah tau lukanya jangan sampai kena air masih saja dipakai mandi, kau benar benar tidak memperhatikan kesehatanmu Rif" Omel Bayu seperti seorang Ibu Ibu yang tengah memarahi anak anaknya.
"Aku ngak butuh ceramahmu Bay, udah kayak emak emak aja suaramu itu"
"Aku yang nanggung rasa sakitnya sendiri, bukan kamu yang akan merasakannya"
"Auah ngomong sama dirimu kayak ngomong sama tembok saja, ngak bisa dibilangin, bandel"
"Berisik"
Rifki lalu membuka kemasan obat tersebut dan langsung memasukkan obat itu kedalam mulutnya, ia pun menelannya dan langsung meminum air kemasan yang dibawakan oleh Bayu sebelumnya.
"Percuma kalo diobati Rif, jika sikapmu masih tetap seperti itu, susah untuk dibilangi"
"Setidaknya rasa sakitnya berkurang"
"Buka bajumu, biar aku lihat separah apakah lukamu itu, aku kasih ngelihatmu terus mengonsumsi obat itu hanya untuk meredakan rasa sakit"
"Gila kau Bay! Ini tempat umum"
"Yaudah ayo kekamar mandi sekarang"
"Kau mau apa? Kita ini sama sama cowok, masak iya masuk kamar mandi berdua?"
"Pikiranmu Rif, siapa juga yang bakal jatuh cinta dengan dirimu, aku masih waras ya, jangan kau pikir aku jomblo selama ini karena tertarik kepadamu"
Tanpa menunggu jawaban dari Rifki, Bayu langsung menarik tangan Rifki menuju kekamar mandi, ia sama sekali tidak mempedulikan keluhan Rifki yang terus mengeluh karena sikap kasar yang dirinya berikan kepada Rifki saat ini.
"Buka bajumu" Ucap Bayu.
"Ngak" Jawab Rifki.
"Apa perlu aku yang buka? Mau ku sobek sekalian bajumu biar semua melihatmu tanpa baju?"
"Aku ini pemimpinmu, berani sekali kau dengan diriku Bay"
"Aku ngak peduli, aku ngak menganggapmu sebagai pemimpin saat ini, aku menganggapmu sebagai sahabat bukan pemimpin, cepat lepaskan bajumu!"
Dengan terpaksa pun akhinya Rifki melakukan hal yang diperintahkan oleh Bayu itu, meskipun dirinya sedikit kesusahan karena rasa sakit yang ia rasakan dipunggungnya itu, melihat itu pun membuat Bayu merasa iba dan membantunya untuk melepaskan pakaian atasnya itu.
Bayu pun langsung membuka perban yang ada dipunggung Rifki perlahan lahan karena perban itu menempel begitu erat diluka jahitan Rifki yang kini terdapat benjolan benjolan kecil yang berisikan nanah, dan itu pasti rasanya sakit sekali.
__ADS_1
"Ya ampun Rif, lukamu makin parah"
"Aku sudah tau"
"Bentar bentar aku tadi bawa perban juga didalam tasku, aku ganti perbanmu dulu"
"Iya"
Bayu pun melepaskan tas kecil yang ada didadanya saat ini, tas hitam itu pun ia buka resletingnya dan menampakkan perban dan kapas disana, ia pun mengeluarkan kapas tersebut dan dengan perlahan lahan mengusapi luka Rifki menggunakan kapas tersebut.
Rifki yang merasakan itu pun merasa sangat sakit dengan apa yang dilakukan oleh Bayu, kapas yang tadinya terlihat bersih dan putih itu pun kini berubah menjadi kecoklatan karena luka Rifki dan juga darah yang bercampur dengan nanah itu.
"Aku kasihan melihatmu seperti ini Rif"
"Kalo kasihan bangunin Dhira untukku Bay, tanpa dia hidupku tidak ada gunanya"
"Kalo soal itu aku ngak bisa Rif, kalo nanti Nadhira bangun dan melihatmu seperti ini, dia pasti akan menjadi sangat sedih"
"Jangan pernah beritahu Dhira soal ini, aku ngak mau dia menjadi sangat khawatir kepadaku, dia masih marah denganku, aku tidak mau menambah kesedihannya nanti"
"Lalu bagaimana kalo sampai dia tau? Aku harus jawab apa Rif?"
"Apapun, asal jangan mengatakan tentang lukaku yang ini, aku bisa menghadapi semuanya sendiri dan aku tidak mau Nadhira akan semakin sedih nantinya, cukup dengan kehilangan putra kami saja, aku tidak mau dia bersedih lagi"
"Iya Rif, aku tidak akan mengatakan apapun soal ini kepada Dhira atau yang lainnya, tapi kau harus janji denganku juga bahwa kau akan menjaga lukamu itu, jangan sampai makin parah nantinya"
"Iya Bay, aku akan lebih hati hati mengenai lukaku ini, kau tenang saja soal itu"
"Iya Rif, sini biar aku perban lagi"
*Flash back off*
"Bay, kamu ngak apa apa kan? Kenapa diam saja?"
"Bagaimana kau tau kalo dia meminum obat itu Dhira? Orang dia baik baik saja, kenapa harus meminumnya coba?"
"Aku juga berpikir seperti itu, waktu aku tanya kepadanya dia malah tidak menjawab, justru merebut bungkus obat itu dariku dan mengatakan bahwa dia akan membuang bungkusnya itu"
"Mungkin bungkus orang lain kali Dhira, eh ngak sengaja masuk didalam tasnya, apa dia mengeluarkan sesuatu sebelumnya dari dalam tasnya itu?"
"Iya sih, dia tadi mengeluarkan sajadahnya untuk sholat disini"
"Nah itu bisa jadi, sudah jangan terlalu memikirkan soal itu Dhira, dia ngak kenapa kenapa kok, apa kamu melihat ada yang aneh dengan dia?"
"Ngak juga sih"
"Nah kan, kamu sendiri juga tidak melihat ada yang aneh dengan dia kan? Jadi jangan terlalu dipikirkan soal itu, yang terpenting kamu sembuh dulu"
Benar apa yang dikatakan oleh Bayu kepadanya, mungkin saja Nadhira yang terlalu khawatir dengan lelaki itu, tapi perkataan Bayu seketika menyakinkan dirinya bahwa Rifki memang benar benar tidak kenapa kenapa saat ini.
"Tadi Dokter sudah memeriksaku kayanya lusa nanti aku sudah diperbolehkan pulang kok Bay, jadi aku sudah sembuh sekarang"
"Syukur Alhamdulillah kalo begitu Dhira, aku sangat senang mendengarnya"
"Iya Bay, kamu duduk aja dulu, aku mau tidur"
"Iya Dhira, tidurlah biar aku jaga disini"
Nadhira pun kembali memejamkan kedua matanya meskipun dirinya merasa sangat khawatir dengan Rifki yang tak kunjung datang kembali, entah keman perginya Rifki saat ini, Nadhira sendiri pun tidak tau kenana dia pergi.
*****
"Lain kali jangan sampai terkena air lagi, untung saja infeksinya tidak terlalu parah, kalo merasa sakit lagi beri salep ini biarkan mengering dulu baru ditutup dengan perban, biar tidak terkena gesekan baju" Ucap Dokter menasehati Rifki.
"Iya Dok, terima kasih atas pertolongannya" Jawab Rifki sambil memakai bajunya kembali.
"Jangan lakukan aktivitas yang berat dulu, beladiri sih beladiri tapi juga harus jaga diri, untuk apa beladiri kalo masih melukai diri"
"Beladiri itu bagian hidup saya Dok, kalo ngak latihan bagaimana bisa melindungi istri saya"
"Saya kagum dengan anda"
"Kalo begitu saya permisi dulu ya Dok, pasti istri saya sedang menunggu saya terlalu lama"
"Iya"
Rifki pun merasa panik karena dirinya sudah meninggalkan Nadhira selama 2 jam, karena menunggu salep yang diberikan oleh Dokter itu mengering, ia pun langsung bergegas kembali keruang dimana Nadhira dirawat.
"Haduh, dia bisa makin marah nih" Gumannya.
__ADS_1
Rifki pun berlari agar dirinya segera sampai diruang rawat inap Nadhira, pasti Nadhira akan marah kepadanya karena dirinya telat untuk datang, entah alasan apa yang harus ia gunakan saat ini, karena dirinya sudah pergi selama 2 jam lamanya.