
Disatu sisi Clara mencoba untuk mendekat kearah Theo dan menanyakan apa yang akan mereka lakukan setelah ini, dan juga anak buah Rifki selalu mengawasi keduanya semenjak keduanya berada ditempat itu, mungkin mereka berpikir bahwa keduanya akan membuat masalah ditempat itu.
"Sampai kapan kita akan menunggu untuk menjalankan rencana kita?" Tanya Clara kepada Theo dengan berbisik.
"Kita tunggu saja, sebelum pesta ini berakhir kita akan melakukan sesuatu nanti, sementara itu kau dan Manda harus berpura pura dihadapan anak buah Rifki itu" Jawab Theo yang juga berbisik.
"Aku benar benar merasa tidak nyaman jika diawasi seperti ini, bagaikan seorang tahanan tau".
"Sudahlah, sabar sedikit, sebentar lagi pesta akan selesai juga kok".
"Baiklah".
Clara mengeluarkan sesuatu dari dalam saku gaun yang ia kenakan sekarang, dan memberikan itu kepada Theo, itu adalah sebuah serbuk obat yang harus diberikan kepada minuman yang akan diminum oleh Rifki nantinya, melihat itu Theo segera menerima serbuk tersebut dengan diam diam agar anggota Gengcobra tidak mengetahuinya.
"Lakukan tugasmu, anak buah Rifki tidak akan mencurigai dirimu, dia hanya akan mengawasi aku dan Amanda" Ucap Clara kepada Theo.
"Kau tenang saja Clara, akan aku pastikan bahwa Rifki akan segera meminum minuman yang akan aku beri obat darimu ini".
"Jangan sampai gagal, jika kau gagal kau akan kehilangan kesempatan seperti ini lagi, oh iya jangan sampai kau yang meminumnya, atau kau akan menggila ditempat ini nanti, jika Rifki yang meminumnya nanti aku yakin Nadhira pasti akan membencinya nanti".
"Kau tidak perlu cemas soal itu".
Theo mengenggam obat serbuk tersebut dengan eratnya agar tidak ada yang mengetahuinya dan segera memasukkannya kedalam saku jasnya, melihat itu membuat Clara segera bergegas meninggalkannya dan bergabung kembali dengan Amanda agar tidak menimbulkan kecurigaan.
*****
Nadhira dan Rifki tengah sibuk mengobrol bersama sebuah kursi yang jauh dari keramaian bersama dengan beberapa anggota Gengcobra yang berada disekitar mereka untuk menjaga Rifki, sementara Bayu dan Reno memilih untuk berjalan jalan didalam gedung tersebut untuk melihat lihat.
"Citra!" Panggil Nadhira.
Nadhira memanggil Citra dengan kerasnya, hingga hal itu membuat Citra yang berada tidak jauh darinya segera berlari menghampiri Nadhira, ia tidak ingin membuat Nadhira marah kepadanya lagi seperti sebelumnya hingga membuatnya harus menangis karena kemarahan Nadhira kepadanya.
"Ada apa Nona Muda? Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Citra ketika sampai ditempat Nadhira.
"Tolong ambilkan teman saya minuman lagi, minuman digelasnya sudah habis" Ucap Nadhira ketika melihat gelas yang dipakai oleh Rifki sebelumnya telah kosong tiada isinya.
"Baik Nona Muda, apa Nona Muda mau diambilkan minuman juga?".
"Tidak usah, aku sudah kenyang".
"Baiklah kalau begitu Nona Muda".
Akan tetapi perintah itu mampu didengar oleh Theo dan dirinya segera bergegas pergi dari tempat itu untuk menuju kemeja didalam sebuah ruangan kecil dimana teman minuman dan makanan diletakkan ditempat itu, Theo segera menuangkan sebuah serbuk obat kepada sebuah gelas dengan hati hati.
Diatas meja tersebut hanya ada dua gelas yang sudah terisi oleh sirup, Theo segera memberi obat kepada salah satu gelas yang ada ditempat itu, setelah selesai menuangnya ia begitu terkejut dengan kedatangan Citra ketempat itu.
"Tuan Theo ngapain disini sendirian seperti ini? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Citra.
"Ngak ada, cuma mau ngambil minum saja karena haus, kamu sendiri juga ngapain datang kemari sendirian?" Ucap Theo dan langsung mengambil minuman digelas yang lain.
"Saya hanya diperintahkan oleh Nona Muda untuk mengambilkan minuman untuk temannya itu, kali aja Tuan butuh bantuan saya"
"Oh, tidak ada"
Theo segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu tanpa menoleh kearah Citra, sementara Citra segera mengambil sebuah gelas yang telah diberi obat oleh Theo sebelumnya, Citra hanya menghela nafasnya dan langsung bergegas untuk memberikan gelas tersebut kepada Nadhira.
Ketika hendak sampai ditempat Nadhira dan Rifki berada, Citra berpapasan dengan Bayu yang akan bergabung dengan yang lainnya, Citra memberi hormat kepada Bayu dengan cara menundukkan kepalanya dihadapan Bayu.
"Apa itu minuman Nadhira?" Tanya Bayu.
"Bukan Tuan Muda, ini untuk temannya".
"Oh, ya sudah berikan saja kepadanya".
"Baik Tuan Muda".
Citra segera bergegas menuju ketempat dimana Rifki dan Nadhira berada, diikuti oleh Bayu dibelakangnya dan beberapa anak Gengcobra lainnya, Citra langsung memberikan minuman itu kepada Nadhira dan segera pergi dari tempat tersebut untuk melakukan tugas yang lainnya.
"Gimana Bay? Apa kau sudah menemukan wanita yang cocok untuk dirimu?" Tanya Nadhira dengan nada menggoda Bayu.
__ADS_1
"Ngak ada, semuanya kelihatannya sombong sombong, mentang mentang mereka anak orang kaya" Ucap Bayu dengan sebalnya.
"Apa yang terjadi denganmu? Apa kau bertemu dengan seseorang yang membuatmu sebal seperti itu sebelumnya?"
"Iya, bisa bisanya dia mengajakku berdebat seperti itu, dia juga lagi yang salah, main nabrak nabrak aja sembarangan tuh orang".
"Hah? Apakah orang itu seorang wanita?"
"Emang wanita, ngak mau ngalah juga kayak seperti kau Dhira yang ngak pernah mau ngalah"
"Hahaha.... Bay jangan terlalu membenci seorang wanita, bisa jadi wanita itu adalah jodohmu, kan kita juga ngak tau takdir akan seperti apa nanti, kalau jodoh nyesel lo nanti" Rifki tertawa mendengar ocehan Bayu yang sedang sebal itu.
"Bagaimana ngak sebal coba, udah dia yang salah lagi malah nyalahin diriku".
Rifki tertawa mendengar omelan Bayu yang sudah mirip dengan Ibu Ibu dipasar itu, melihat tawa Rifki membuat Nadhira ikut tertawa dan sesekali memukul bahu Rifki, dan hal itu membuat Rifki berhenti tertawa akan tetapi Nadhira masih tetap tertawa sambil memukul bahunya.
"Kenapa seorang perempuan kalau ketawa selalu mukul orang yang ada didekatnya?" Tanya Rifki kepada Nadhira.
"Entahlah Tuan Muda, itu masih misteri yang belum bisa dipecahkan saat ini" Ucap Bayu.
"Eh maaf, ngak sengaja" Ucap Nadhira ketika menyadari bahwa Rifki telah berhenti tertawa.
"Sudah kebiasaan bagi seorang wanita, udah salah bilangnya ngak sengaja lagi" Sindir Rifki.
"Kan emang disengaja, eh ngak sengaja maksudnya".
"Yang ikhlas dong minta maafnya".
"Tolong maafkan atas ketidak sengajaan saya Tuan Muda Rifki, saya hanya khilaf kok" Ucap Nadhira sambil mengusap pelan bahu Rifki yang telah dirinya pukuli sebelumnya.
"Iya iya aku maafkan".
Mendengar itu membuat Nadhira tersenyum dengan cerahnya kearah Rifki, Rifki segera mengangkat gelas yang berisi sirup tersebut untuk meminumnya, dengan perlahan lahan ia menempelkan ujung gelas tersebut kepada ujung bibirnya dan dirinya segera meminum minumam yang telah diberi obat tersebut.
Setelah meminumnya Rifki kembali menjauh minuman tersebut diatas meja yang ada disebelahnya, mereka masih sempat untuk bercanda gurau bersama, dan suasana ditempat itu seketika terlihat begitu ramai karena tawa mereka.
"Sial, siapa yang memberi obat perang**ng ini kepadaku, bagaimana ini, cepat atau lambat obat ini akan membuat kesadaranku hilang, aku tidak ingin itu terjadi" Batin Rifki menjerit.
Pernafasannya mulai sedikit memburu dan seluruh tubuhnya mulai terada dingin disertai oleh keringat yang bercucuran sangat derasnya, hal itu seketika membuat Rifki terjatuh dilantai merasakan efek dari obat tersebut, dan hal itu membuat Nadhira begitu terkejut dengan apa yang terjadi.
"Rifki kamu kenapa?" Tanya Nadhira dengan khawatir dengan kondisi Rifki.
Nadhira segera mendekat kearah Rifki yang kini tengah terduduk dilantai, dan hal itu membuat anggota Gengcobra sangat menghawatirkan kondisinya saat ini, akan tetapi ketika Nadhira mendekat kearahnya membuat Rifki segera mendorong tubuh Nadhira hingga terjauh didepannya.
"Jangan mendekati aku Dhira" Ucap Rifki dengan nafas yang memburu.
"Akh.."
Nadhira begitu terkejut ketika Rifki mendorongnya dengan keras hingga dirinya terjatuh dilantai didepan Rifki beberapa senti saja, Nadhira pun terlihat begitu sedih dengan apa yang dilakukan oleh Rifki kepadanya kali ini.
Kenapa disaat Rifki terlihat kesakitan seperti ini justru dirinya menyuruh Nadhira untuk pergi menjauh darinya, dan Nadhira sendiri tidak akan mampu untuk melakukan hal itu, ia hanya ingin bersama dengan Rifki, ia takut terjadi sesuatu kepada Rifki yang tiba tiba bermandikan keringat itu.
"Rifki apa yang terjadi denganmu?" Nadhira meneteskan air mata ketika melihat Rifki seakan menahan rasa sakit dengan keringat yang bercucuran sangat derasnya hingga membasahi seluruh tubuhnya itu.
"Rif apa yang terjadi denganmu?" Tanya Bayu.
Bayu segera mendekat kearah Rifki untuk membantunya, tubuh Rifki sudah terlihat begitu lemasnya meskipun dengan nafas yang terus memburu dan keringat yang terus keluar diseluruh kulit yang ada ditubuhnya itu.
"Tubuhmu dingin sekali Rif, apa yang terjadi dengan dirimu" Ucap Bayu ketika menyentuh tangan Rifki.
"Capat bawa aku pergi dari sini Bay, sebelum kesadaranku benar benar hilang, dan aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan nantinya" Bisik Rifki pelan kepada Bayu dengan nafas yang semakin memburu.
Bayu begitu terkejut mendengar bisikan dari Rifki itu, entah apa yang sebenarnya terjadi kepada Rifki kali ini, Bayu sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Rifki itu.
Nadhira sangat tidak tega melihat Rifki seperti itu, hingga membuat Nadhira menangis, akan tetapi setiap Nadhira ingin mendekat kearahnya Rifki selalu mendorong tubuhnya agar menjauh dari dirinya, Nadhira tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Rifki, ia hanya merasa cemas melihat keadaan Rifki seperti itu.
"Jangan dekati aku saat ini Dhira, apa kau tidak mendengar perkataanku! Aku bilang jangan mendekati aku!" Sentak Rifki dengan keras dan juga dengan sekuat tenaga yang ia bisa kepada Nadhira sambil mendorong tubuhnya untuk menjauh dari tubuh Rifki saat ini.
Biarpun Rifki terus mendorong tubuh Nadhira untuk menjauh darinya akan tetapi Nadhira terus berusaha untuk mendekat kearah Rifki, Nadhira menangis ketika melihat Rifki dalam keadaan seperti itu saat ini, Nadhira tidak tau lagi harus berbuat apa kali ini, entah apa yang sebenarnya terjadi kepada Rifki.
__ADS_1
"Bay apa yang terjadi dengan Rifki?" Tanya Nadhira kepada Bayu.
"Aku tidak bisa jelaskannya sekarang Dhira, aku harus segera membawanya pergi dari sini".
Bayu pun mengalungkan tangan Rifki kelehernya dan berusaha untuk membantu Rifki untuk berdiri, Reno pun melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah dilakukan oleh Bayu kali ini, dan kedua orang itu memapah tubuh Rifki yang terlihat sangat lemah itu dengan perlahan lahan.
"Panas sekali" Ucap Rifki pelan.
"Bay hiks.. hiks.. hiks.. kenapa Rifki seperti ini katakan kepadaku Bay, apa yang terjadi dengannya Bay? Kenapa dia terlihat begitu lemas dan berkeringat sangat banyak" Ucap Nadhira dengan tangisan.
"Rifki baik baik saja kok Dhira, kau tidak perlu khawatir mengenai kondisinya saat ini, biarkan aku membawanya pergi sekarang" Ucap Bayu.
"Kalau dia baik baik saja kenapa dia seperti itu Bay hiks.. hiks.. hiks.. katakan kepadaku".
"Dhira dia benar benar ba..."
"Arghh... Cepat bawa aku pergi Bay!" Teriak Rifki.
Belum sempat Bayu melanjutkan perkataannya, Rifki segera berteriak kesakitan dan menyuruhnya untuk segera membawanya pergi dari tempat itu, tidak ada pilihan yang dapat Bayu ambil kali ini, selaim membawa Rifki pergi dari tempat ini.
"Rifki" Ucap Nadhira lirih.
"Kami permisi dulu Dhira" Ucap Bayu.
Bayu dan Reno segera memapah tubuh Rifki yang terlihat begitu lemas itu untuk pergi dari tempat itu dan meninggal Nadhira disana, Nadhira hanya bisa menatap kepergian Rifki dengan kesedihan dihatinya dan dengan linangan air mata.
Nadhira sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Rifki saat ini, Bayu dan Reno segera memapah tubuh Rifki menuju kemobilnya dan memasukkannya kedalam mobil tersebut dengan sedikit kesusahan karena Rifki seakan akan tidak memiliki tenaga.
"Lepaskan bajuku Bay" Ucap Rifki dan sontak membuat Bayu terkejut.
"Melepaskan bajumu? Kenapa?" Tanya Bayu.
"Cepat Bay, aku merasa sangat gerah, aku sudah tidak tahan lagi Bay"
"Baik baik".
Bayu segera melepaskan jas Rifki dan membuka kancing baju Rifki dengan perlahan lahan, AC mobil tersebut terlihat begitu lirih bagi Rifki, obat perang**ng tersebut membuatnya begitu sangat kegerahan dan nafasnya tidak setabil.
Ketika bajunya sudah dilepaskan, telihat tubuh yang begitu indah bak roti sobek tersebut dengan otot otot yang cukup kekar tersematkan disana, akan tetapi luka bekas jahitan yang panjang dan lebar masih membekas disana, dan luka bekas tembakan tersebut masih terlihat begitu sangat jelasknya meskipun lukanya sudah mengering akan tetapi bekasnya tidak mudah untuk hilang.
Rifki memejamkan matanya dengan nafas yang sangat memburu dan terus bertambah cepat tersebut, Bayu pun menyentuh leher Rifki untuk memeriksa suhu tubuhnya itu dan Bayu pun melihat ada yang sedang menegang dibawah sana.
"Ha? Tubuhmu panas sekali Rif" Ucap Bayu yang merasakan bahwa suhu tubuh Rifki meningkat.
"Aku sudah tidak tahan lagi Bay" Ucap Rifki.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu saat ini Rif? Apa ada orang yang dengan sengaja memberimu sebuah obat perang**ng?".
"Iya Bay".
"Tenangkan pikiranmu dulu Rif, usahakan kau mampu untuk menyetabilkan pernafasanmu, dan yakinlah bahwa efek obat itu akan segera selesai".
Rifki hanya mengangguk dan mengambil nafas dalam dalam dan segera menghembuskannya secara perlahan lahan, hal itu terus dilakukan oleh Rifki berulang ulang kali dan dirinya mencoba untuk menenangkan pikirannya itu, tak beberapa lama kemudian terdengar suara telfon dari hp Bayu.
"Halo Dhira, ada apa?" Tanya Bayu setelah telfon tersebut terhubung.
"Bagaimana kondisi Rifki, Bay?" Tanya Nadhira melalui telfon yang ada diseberang sana.
"Kau tidak perlu khawatir soal Rifki, dia baik baik saja kok, hanya saja ada yang dengan sengaja memberi obat perang**ng kepadanya".
"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi! Aku akan mencari tau soal itu Bay"
Tut tut tut
Belum sempat Bayu membalas ucapan Nadhira saat itu akan tetapi Nadhira segera menutup telfonnya itu sepihak saja, dan hal itu membuat Bayu terlihat kesal dengan Nadhira dan langsung memasukkan hpnya kedalam saku jasnya.
"Main matikan saja nih bocah" Gerutu Bayu.
Rifki sama sekali tidak mempedulikan itu, dirinya hanya fokus untuk menyetabilkan kembali pernafasannya yang memburu tersebut, dan mencoba untuk mengurangi efek dari obat tersebut.
__ADS_1