
Nadhira kembali kerumah tersebut dengan pikiran yang teramat kacau, dirinya mengenakkan kembali cadar yang sebelumnya dirinya lepaskan. Nadhira keluar dari goa itu ketika waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi, sangat jelas waktu itu jika Bi Sari sudah terbangun dari tidurnya lantaran tugas yang harus dirinya laksanakan.
"Mbak Ana, dari mana saja semalam?" Suara tersebut tiba tiba muncul dari balik gerbang rumah besar yang ada dihadapannya.
"Ah Mbak Sari, biasa Mbak. Suka ngigau kalo malam hari. Kemaren aku pulang sebentar, Mbak. Ngecek kondisi anakku, soalnya takut dia kenapa napa dirumah sama Tantenya," Jawab Nadhira yang sudah berubah menjadi Ana.
"Alhamdulillah kalo Mbak Ana baik baik saja, soalnya kemaren malam terjadi penyerangan disini, Mbak. Ku kira Mbak Ana dicelakai oleh mereka," Bi Sari mengadu kepada Ana.
"Penyerangan? Penyerangan bagaimana maksud Mbak Sari?" Tanya Ana penasaran.
"Kemarin malam disini sangat kacau, Mbak. Bahkan para pekerja diberi obat bius sampe sampe tubuh mereka berceceran dimana mana," Seloroh Bi Sari mengingat hal yang ditemukan ketika dirinya membuka pintu kamarnya.
"Terus mereka baik baik saja, Mbak? Nggak ada yang terluka parah kan?"
"Sebagian dari mereka sih sampe dilarikan ke rumah sakit, Mbak. Soalnya banyak luka sayatan,"
"Astaghfirullah. Kenapa bisa ada kejadian seperti itu disini, Mbak?" Ana pun berpura pura terkejut ketika mendengarkan ucapan dari Bi Sari.
Bi Sari pun menjelaskan kepada Ana mengenai kejadian semalam yang terjadi ditempat itu, meskipun secara tidak lengkap karena hanya itu yang dirinya ketahui. Bi Sari hanya mengetahui bahwa mereka adalah musuh perusahaan Abriyanta, sehingga dengan bagaimanapun caranya mereka harus bisa menyingkirkan musuh perusahaannya itu.
Ana yang memang adalah Nadhira pun berpura pura percaya dengan hal itu, dirinya pun mendengarkan secara seksama ucapan dari Bi Sari. Bahkan dirinya sama sekali tidak berkedip sedikitpun, agar Bi Sari percaya bahwa dirinya sangat terkejut ketika mendengarnya.
"Mulai sekarang kalau mau kemana mana ngomong, ya? Takutnya kamu kenapa kenapa karena adanya kejadian seperti ini, kamu tau semalam pada waktu kekacauan itu terjadi?"
"Iya Mbak. Memang kenapa tentang kejadian semalam, Mbak?"
"Ya kami takut aja kalo kamu jadi korban mereka juga, Mbak Ana. Kamu kan semalam juga nggak ada disini, pergi tanpa bilang bilang,"
"Tapi kemarin saya sudah bilang ke Mbak Tutik kok, Mbak. Apa belum disampaikan?"
"Mbak Tutik? Ah iya, dirinya dilarikan kerumah sakit juga tadi. Pantes saja dia nggak bilang ke aku,"
"Loh kenapa, Mbak? Apa dia terluka parah?"
"Dia mengalami gagarotak ringan, kita nggak tau apa yang terjadi kepadanya, tapi dia ditemukan dibawah tangga sudah seperti itu."
Tanpa disadari oleh Nadhira, ternyata hal yang besar pun telah terjadi dirumah tersebut, dan para korban yang terluka telah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sekitar 10 pekerja dirumah itu dibawa kerumah sakit, sementara yang lainnya hanya tidak sadarkan diri akibat obat bius, akan tetapi sekarang sudah membaik semua.
"Terus Tuan Muda bagaimana, Mbak?"
"Tuan Muda baik baik saja, hanya mengalami luka sayatan dan syukurlah temannya yang jadi Dokter segera menanganinya. Sekarang dia lagi istirahat dikamarnya," Jelas Bi Sari.
"Alhamdulillah kalo nggak kenapa kenapa, kalo begitu saya mau masak dulu ya, Mbak."
"Iya."
Ana pun masuk kedalam rumah besar itu, tangannya mendadak merasa nyeri sehingga membuatnya harus buru buru untuk masuk kedalamnya. Ana segera bergegas menuju kekamarnya untuk mengobati lukanya, pertarungan semalam membuat lengan tangannya tersayat senjata tajam, sehingga harus dirinya obati secepatnya.
Terlihat luka sayatan yang panjang ditangannya, terlihat sangat ngeri untuk dilihat oleh orang orang yang jarang melihat luka, akan tetapi terlihat biasa bagi Ana sendiri. Dirinya pun membasuh lukanya itu dengan hati hati karena terasa nyeri, setelahnya dirinya pun mengobatinya dan menutup lukanya dengan sebuah kasa agar tidak menempel pada pakaiannya.
"Gimana kondisi Rifki? Apa dia baik baik saja," Gumannya pelan seraya memikirkan tentang kondisi dari Rifki akibat kejadian kemarin.
Ingin sekali dirinya mendatangi Rifki saat ini dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa Rifki baik baik saja. Ana memegangi luka yang ada ditangannya dengan pandangan lurus kedepan karena khawatir dengan kondisi Rifki, akan tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa apa untuk saat ini.
*****
Pandangan Rifki lurus kedepan, dirinya sedang duduk diatas kasur dan bersandaran disandaran kasurnya. Dirinya masih kepikiran dengan kejadian semalam, dia tidak menyangka bahwa Nadhira akan membiusnya sehingga dirinya tidak bisa mengejar kemana perginya Nadhira.
"Rif, makan dulu, Nak. Kata Bi Sari kamu belum makan semalam," Ucap Putri yang kini duduk didekat Rifki sambil menyodorkan sendok yang berisi makanan didepan mulut Rifki.
__ADS_1
"Rifki nggak lapar, Ma."
"Rifki, jangan buat Mama khawatir dengan seperti ini, Nak. Kamu makan dulu ya?" Putri berusaha membujuk anaknya agar mau makan.
"Rifki mau sendiri, Mama keluar sekarang,"
Putri pun menatap wajah anaknya, tidak biasanya Rifki akan menyuruh mamanya untuk pergi dari dalam kamarnya seperti itu. Akan tetapi, pandangan Rifki sama sekali tidak berubah untuk menatap kedepan, dirinya seakan akan tidak memedulikan orang yang ada disekitarnya.
Wajah Rifki terlihat sangat memperihatinkan saat ini dengan luka yang ada diujung bibirnya dan juga diujung matanya. Tatapannya terlihat sendu karena masih memikirkan tentang kemarin, dirinya bahkan tidak merasa lapar maupun harus saat ini. Melihat itu hanya bisa membuat Putri menghela nafasnya dengan kasar, dirinya bahkan tidak bisa membujuk anak lelakinya itu untuk bisa tersenyum.
"Rifki, apa yang terjadi kemarin, Nak? Kenapa kamu tidak mau cerita sama Mama?" Tanya Putri. Putri tidak tau pasti apa yang terjadi dengan anaknya itu, karena sejak Rifki ditemukan, Rifki tiba tiba berubah seperti saat ini.
"Rifki capek."
"Rifki..."
"Mama bisa keluar sekarang!" Seru Rifki sambil membuang muka dari hadapan Putri.
Putri hanya bisa diam membisu dengan apa yang dilakukan oleh Rifki, dirinya bingung harus bagaimana saat ini untuk menghadapi anaknya itu. Semenjak kejadian kemarin, Rifki nampak begitu murung dan bahkan tidak ada semyuman lagi diwajahnya itu.
Putri menatap lekat lekat wajah anaknya, Rifki benar benar sudah berubah semenjak kepergian Nadhira dalam hidupnya. Tapi kali ini, Rifki terlihat sangat murung daripada biasanya, tiba tiba sosok anak kecil masuk kedalam kamar itu sambil mengintip dibalik pintu.
"Om," Panggil anak tersebut dengan lirih.
Putri pun mendekat kearah Keysa yang ada dibalik disana, Keysa tersenyum kearah Putri sambil menatap sekilas kearah Rifki. Keysa seketika langsung menjatuhkan sebuah pelukan dikaki Putri, karena tinggi tubuhnya yang hanya sepinggang orang dewasa saja.
"Ikut Nenek main keluar saja, ya? Om mu masih butuh istirahat yang banyak," Ucap Putri.
"Emang Om kenapa, Nek? Om sakit?" Tanya Keysa sambil membulatkan matanya, dirinya pun terlihat sangat imut dan menggemaskan.
"Iya. Jangan ganggu Om mu dulu,"
"Udah, ikut Nenek saja ya. Kita main masak masak gimana?"
"Eysa mau, Nek!" Seru Keysa dengan semangatnya.
Putri pun langsung menarik tangan Keysa untuk pergi dari tempat itu, sementara Rifki hanya diam saja tanpa mengatakan sesuatu apapun. Putri pun langsung menutup pintu kamar tersebut setelah dirinya dan cucunya telah keluar, Rifki hanya menghela nafasnya pelan dan dirinya pun menatap kearah foto pernikahannya bersama dengan Nadhira.
"Dosa apa yang telah aku perbuat kepadamu, Dhira? Apakah kesalahanku sama sekali tidak bisa dimaafkan olehmu? Maafkan aku yang pernah menyebabkan anak kita meninggal waktu itu, tapi kenapa kau justru menghukumku begitu keji sampai detik ini? Bahkan aku tidak tau bagaimana wajah anakku sendiri."
Rifki menatap kosong keadah foto tersebut, dirinya telah dibuat bingung oleh sikap Nadhira kepadanya. Jika memang benar Nadhira sudah tidak mencintainya lagi, lantas kenapa dirinya harus menyelamatkan Rifki kemarin? Kenapa diri rela terluka hanya untuk Rifki? Rifki sendiri tidak habis pikir dengan sikap Nadhira terhadapnya.
Tatapan Rifki begitu sendu, begitu banyak rasa sakit yang dirinya rasakan dan bahkan rasa sakit ditubuhnya pun tidak terasa sakit lagi karena ada sakit yang lebih parah yang dirinya rasakan, yakni rasa sakit didadanya lebih tepatnya hatinya. Bertahun tahun dirinya menantikan kedatangan Nadhira, akan tetapi ketika dirinya datang justru Rifki dibius olehnya hingga tidak mampu untuk mengejarnya.
Tanpa disadari oleh Rifki, Ana kini tengah berdiri didepan pintu kamar tersebut sambil menatap kearah pintu. Ana khawatir dengan keadaan Rifki, apalagi mendengar kabar bahwa Rifki tidak mau makan ataupun mengobrol dengan Putri.
"Bi Ana," Panggil seseorang dan langsung membuat Ana sangat terkejut.
"Eh... Tuan Besar, ada apa Tuan?" Ana sangat terkejut ketika melihat adanya Haris yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Kamu ngapain didepan kamar Rifki?" Tanya Haris yang langsung to the point tanpa basa basi lagi.
"Anu Tuan... Saya tadi mau izin sama Tuan Muda, Tuan Besar. Saya mau minta izin untuk pulang sebentar menjenguk anak saya, tapi saya takut untuk masuk kedalam. Apalagi tentang kejadian kemarin," Ucap Ana dengan terbata bata.
"Kamu baru bekerja disini beberapa hari ini, kenapa sudah minta izin pulang saja? Sebenarnya kamu niat bekerja atau nggak sih?"
"Maafkan saya, Tuan Besar. Kalau begitu saya kembali bekerja dulu,"
Ana pun menundukkan pandangannya didepan Haris, dirinya takut jika identitasnya akan terbongkar dihadapan lelaki itu. Sebenarnya dirinya tidak ingin izin untuk pulang saat ini, dirinya hanya ingin melihat kondisi Rifki saja, dan setelah dirinya pun melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Tunggu!" Seru Haris memerintahkan Ana untuk berhenti, sehingga Ana langsung menghentikan langkah kakinya tiba tiba.
"Ada apa, Tuan Besar? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ana yang masih menundukkan kepalanya.
"Tolong buatkan Rifki bubur hangat, setelah itu antarkan masuk kedalam. Aku tunggu,"
"Baik Tuan Besar." Sebuah senyuman Ana pun muncul dibalik cadarnya.
Ana segera bergegas menuju kearah dapurnya, melihat itu langsung membuat Haris memegangi handle pintu dan langsung membuka pintu tersebut. Haris melihat anaknya yang masih duduk sambil bersandarkan pada sandaran tempat tidur, dengan tatapan kosong kedepan tanpa mempedulikan Haris yany baru masuk.
"Sudah aku bilang, Ma. Aku mau sendiri," Ucap Rifki tanpa menoleh kearah siapa yang datang.
Rifki berpikir bahwa itu adalah Putri yang baru saja masuk, mendengar suara Rifki yang berat seperti tengah menahan rasa sedih, hal itu membuat Haris sangat tidak tega melihat anaknya seperti itu.
"Rifki ini Papa, Nak. Kamu kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Haris sambil duduk didekat Rifki.
"Papa..." Ucap Rifki lirih sambil menatap kearah Haris.
"Apa yang terjadi kemarin? Kenapa semenjak kejadian kemarin kamu seperti ini, Nak? Ceritakan saja kepada Papa,"
"Rifki ingin berziarah ke makam anak Rifki, Pa. Dhira masih marah denganku gara gara aku tidak bisa menjaga anakku sendiri, Pa. Aku yang menyebabkan anak kita meninggal," Tak terasa setetes air mata Rifki pun mengalir.
"Itu bukan salah kamu, Nak. Kamu sudah melindunginya dengan kemampuan yang kamu bisa,"
"Tapi kenapa Dhira masih menghukumku seperti ini, Pa? Dia bahkan tidak mau kembali bersamaku, dosa ku terlalu besar baginya, Pa. Aku tidak pantas untuk dimaafkan,"
"Dhira melakukan itu pasti ada alasan yang penting, kita tidak tau masalah apa yang sedang dirinya hadapi saat ini. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, itu sama saja kamu tidak memercayai dengan adanya sebuah takdir, Rif. Kamu yang sabar, ya? Pasti suatu saat nanti kalian bisa bersama sama lagi,"
Rifki pun terdiam sambil menundukkan kepalanya, cukup lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu kamar tersebut. Haris pun menyuruhnya untuk masuk kedalam, sosok Ana lalu muncul dibalik pintu sambil membawakan semangkuk bubur hangat.
Ketika dirinya masuk, pandangannya langsung tertuju kepada Rifki yang bahkan Rifki tidak menatapnya sedikitpun. Melihat Rifki baik baik saja membuat perasaannya sedikit lega, akan tetapi melihat adanya sebuah kesedihan diwajahnya membuat hatinya merasa sakit.
"Rifki nggak mau hidup lebih lama lagi, Pa. Apa gunanya Rifki hidup?"
Deg...
Ana yang meletakkan semangkuk bubur dimeja pun mendengar perkataan Rifki itu, seketika hatinya terasa tersayat sayat begitu saja. Tanpa disadari bahwa tangannya menyentuh mangkuk yang panas itu, dirinya pun sangat terkejut dan langsung mengenggam erat jarinya yang terkena mangkuk tersebut.
"Rifki, jangan berpikiran seperti itu, Nak. Allah menciptakan setiap manusia tidak ada yang sia sia, pasti ada hikmah dibalik setiap ujian yang diberikan."
"Maafkan aku, Rif. Ada banyak hal yang harus aku lakukan, aku harap kau bisa bersabar untuk menungguku menyelesaikan semuanya. Bertahanlah sayang, aku yakin kau kuat untuk menghadapinya, kau dan anak kita adalah harta berharga yang aku punya, kalian harus baik baik saja." Batin Ana.
Haris pun menatap kearah Ana, dari gerakan tatapannya itu seolah olah menyuruh Ana untuk keluar dari dalam ruangan tersebut. Ana hanya menganggukkan kepalanya saja, setelah itu dirinya pun melangkah untuk keluar dari dalam ruangan tersebut.
Ana tidak lupa langsung menutup pintu kamar itu, dirinya pun langsung berlari menuju kedapur untuk mengembalikan nampan yang dirinya bawa sebelumnya. Setelah dirinya sampai didapur, mendadak Ana menjatuhkan tubuhnya untuk duduk dilantai sambil bersandarkan tembok.
Ana memegangi hatinya yang terasa sakit mendengar ucapan Rifki sebelumnya, dirinya pun menangis sesenggukan disana. Saat ini didapur terlihat sepi orang, sehingga tidak ada yang tau bahwa dirinya tengah menangis. Dibalik cadar yang dirinya pakai, terdapat bibir yang tengah bergetar menahan isakkan tangis yang akan keluar.
Tuhan, apakah ini harga yang harus aku bayar demi menyelamatkan anak dan suamiku? Ini sangat menyakitkan...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Heppy Reading All...
Jangan lupa terus dukung Author ya? Jangan lupa kasi rate dan vote nya
Dukungan kalian sangat berarti bagi Author agar terus semangat dalam berkarya.
Thanks for watching, see you all
__ADS_1