Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Kesedihan bagi Rifki


__ADS_3

Mendengar Dokter tersebut meminta maaf kepada Rifki, hal itu seketika langsung membuat hati Rifki terasa bagaikan tersambar oleh sebuah petir yang sangat keras, dan hal itu sama sekali tidak ingin didengar oleh Rifki.


"Karena kondisi pasien saat ini yang hanya memiliki satu ginjal saja membuat kami tidak tau sampai kapan dia akan bertahan dan mampu untuk melewati masa kritisnya, hanya Allah yang mengetahui sampai kapan dia akan bernafas"


"Apa! Nadhira hanya memiliki satu ginjal?" Rifki sangat terkejut mendengarnya.


Rifki tidak menyangka dengan apa yang dia dengar saat ini, bagaimana mungkin Nadhira hanya memiliki satu ginjal, dan perkataan itu sukses membuat Rifki meneteskan air matanya, ia merasa sangat sedih sekali ketika mendengar tentang Nadhira yang saat ini hanya memiliki satu ginjal.


Bertapa hancurnya hatinya saat mengetahui hal itu, Nadhira tidak pernah mengatakan apapun kepadanya mengenai dirinya yang hanya memiliki satu ginjal kepadanya, sungguh sakit hatinya saat ini, entah apa yang terjadi dengan Nadhira selama ini.


"Apa pasien tidak memberitahukan hal ini kepada anda sebelumnya?".


"Tidak Dok, saya baru mengetahuinya hari ini, tolong lakukan yang terbaik untuk Nadhira, saya akan bayar berapa pun harganya agar Nadhira bisa selamat, tolong selamatkan dia Dok" Air mata Rifki sudah tidak mampu dibendung lagi.


"Mungkin ini sangat berat bagi anda, tapi kami akan mencoba semaksimal mungkin yang terbaik untuk pasien, kami menyarankan untuk membawanya kerumah sakit yang lebih lengkap peralatannya karena rumah sakit ini masih belum memiliki peralatan medis yang dibutuhkan, kami minta maaf atas keterbatasan fasilitas yang ada dirumah sakit ini".


"Lakukan apapun itu Dok, asalkan Nadhira selamat".


"Baiklah Mas, tolong tanda tangani surat ini"


Rifki pun membaca surat tersebut dengan jelas, setelah berhasil memahami maksud dari surat tersebut ia pun akhirnya menandatangani surat tersebut, setelah itu Dokter tersebut segera melakukan tindakan kepada Nadhira.


Rifki keluar dari ruangan itu dengan melamun, ia memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Nadhiranya itu, ia masih tidak menyangka bahwa Nadhira kini hanya memiliki satu ginjal, yang artinya dia pernah mendonorkan ginjalnya entah kepada siapa.


"Bagaimana kondisi Nadhira?" Tanya Bi Ira yang mendekat kearah Rifki.


"Dia akan dilarikan kerumah sakit yang lebih besar Bi, agar mendapatkan perawatan medis yang lengkap" Tangis Rifki pecah seketika.


Melihat Rifki menangis membuat Bi Ira menatap kearah Rifki dengan kedua mata yang berbinar binar, entah seperti apa kondisi Nadhira saat ini kenapa dia sampai harus dilarikan kerumah sakit yang lebih besar daripada dirawat dirumah sakit ini.


"Apa yang terjadi Nak? Katakan hiks.. hiks.. hiks.. katakan! Bagaimana kondisi Nadhira" Tangis Bi Ira juga ikut pecah seketika, ia pun menggoyang goyangkan tubuh Rifki.


"Dia sekarang sedang mengalami keritis Bi, Dokter tidak tau sampai kapan dia akan bertahan, apa yang sebenarnya terjadi kepada Nadhira, Bi? Kenapa bisa Nadhira hanya memiliki satu ginjal saat ini? Katakan kepada Rifki, kenapa ini terjadi kepada Nadhira, apa yang sebenarnya ia lakukan Bi?"


Mendengar pertanyaan Rifki membuat Bi Ira menjatuhkan tubuhnya diatas lantai rumah sakit, ia pun memeluk kedua kakinya dengan lemas, tidak tau lagi apa yang harus ia katakan kepada Rifki saat ini, dan Rifki pun langsung berlutut didepan Bi Ira untuk menantikan jawaban dari pertanyaannya itu.


"Nadhira... Dia... Dia mengorbankan ginjalnya untuk menyelamatkan Papanya Nak, Papanya mengalami kecelakaan hingga membuatnya membutuhkan donor ginjal" Ucap Bi Ira dengan penuh keraguan.


"Kenapa Bibi tidak mencegahnya! Aku tau Nadhira itu keras kepala, tapi kenapa tidak melakukan hal yang lainnya Bi, kenapa! Kenapa! Kenapa Nadhira harus berkorban seperti itu Bi?"


"Rifki, jangan salahkan Bi Ira, salahkan Kakak juga karena Kakak tidak berhasil untuk mencegah hal ini, Nadhira terlalu keras kepala, kami tidak bisa berbuat apa apa untuk menahannya" Ucap Nandhita yang melihat Rifki sedang kecewa saat ini setelah mendengar kebenarannya.


"Kenapa kalian tega membiarkan Nadhira melakukan itu! Kenapa! Hidup dengan satu ginjal bukanlah hal mudah Kak! Kenapa kalian tidak mencegahnya! Ya Allah, tolong selamatkan nyawa Nadhira" Rifki terlihat begitu frustrasi saat ini hingga dirinya menarik narik rambutnya sendiri dengan kedua tangannya dengan sangat kasar.


"Rifki tenanglah, ini dirumah sakit, aku tau ini sakit bagimu ketika mengetahuinya, kalau aku ada diposisi mu juga tidak akan mampu untuk melihat kenyataannya, tenanglah, aku juga merasa sangat sedih saat ini, aku baru mengetahuinya juga Rif" Ucap Bayu yang mencoba untuk menenangkan Rifki meskipun air matanya sendiri lolos begitu saja.


"Kau selama ini berada di kota yang sama dengan Nadhira, kenapa kau tidak mencegahnya Bay! Kenapa! Apa kau tidak tau apa yang dilakukan oleh Nadhira selama ini! Kau tidak becus melaksanakan tugasmu Bay, aku kecewa dengan dirimu".

__ADS_1


"Rifki maafkan aku, aku terlalu bodoh hingga aku kehilangan jejak Nadhira beberapa tahun yang lalu, aku juga tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh Nadhira saat itu, maafkan aku".


"Apa maafmu bisa merubah segalanya Bay? Apa kau bisa mengembalikan ginjal Nadhira lagi? Kau jahat Bay" Terdengar isak tangis yang memilukan, Rifki pun menjatuhkan dirinya dilantai depan ruangan Nadhira.


Bayu pun memejamkan matanya, air matanya lolos begitu saja melewati pipinya, ia tidak menyangka bahwa keadaan Nadhira akan separah ini, isak tangis Rifki lirih membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa sakit hati.


"Tenanglah Rif, Nadhira pasti akan baik baik saja, dia wanita yang kuat" Ucap Bayu sambil mengusap punggung Rifki dengan pelan.


"Bagaimana aku bisa tenang Bay! Nadhira sedang keritis! Kenapa aku baru tau hal ini!"


"Nadhira yang meminta kepada kami untuk merahasiakan hal itu Nak"


Rifki pun memejamkan matanya, ia tidak tau lagi harus apa saat ini, hatinya begitu hancur ketika mengetahui hal tersebut terjadi kepada orang yang sangat dia cintai, apalagi kejadian tersebut terjadi beberapa tahun yang lalu.


"Kenapa Nadhira melakukan itu? Apa dia sudah tidak sayang dengan nyawanya sendiri? Dhira, apa yang membuatmu harus bersikap seperti ini" Ucap Rifki dengan nada yang sudah memelan.


"Kita hanya bisa berdoa Rif, semoga Nadhira mampu melewati masa masa kritisnya" Ucap Bayu sambil mengusap punggung Rifki.


Mungkin ini sangat berat bagi Rifki untuk mengetahui kebenarannya, sementara Bayu sendiri yang baru saja mengetahuinya pun merasa sangat sakit hatinya entah bagaimana perasaan Rifki saat ini, mungkin Rifki masih belum bisa terima tentang keadaanya.


Tak beberapa lama kemudian pintu ruangan dimana Nadhira berada terbuka dengan lebarnya, beberapa Suster pun mendorong sebuah bangkar dimana Nadhira terbaring tidak berdaya diatasnya.


Melihat itu membuat Rifki langsung bangkit dari duduknya, tubuhnya sedikit gemetaran ketika melihat tubuh Nadhira yang terpasang begitu banyak selang dan juga dua infusan ditangannya, yang satu adalah cairan dan satunya adalah darah.


"Aku akan ikut ambulan, Bay tolong bawa mobilnya bersama dengan Bi Ira dan Kak Dhita" Ucap Rifki.


"Apa kau yakin Rif? Apa perlu aku ikut bersamamu? Aku takut kau kenapa kenapa Rif".


"Baik kalau begitu Rif".


Rifki lalu berjalan mengikuti para Suster yang sedang mendorong bangkar dimana Nadhira terbaring tak berdaya dengan beberapa selang tertancap dibadannya saat ini, begitu pun dengan selang oksigen dan lain sebagainya.


Melihat Nadhira yang terbaring tidak sadarkan diri seperti saat ini, hal itu membuat Rifki merasa begitu terpukul apalagi sejak dirinya mengetahui bahwa Nadhira saat ini hanya memiliki satu ginjal saja, entah sampai kapan Nadhira akan sadarkan diri.


Suster tersebut segera memasukkan Nadhira kedalam mobil ambulan yang telah disediakan dirumah sakit tersebut, suara sirine mobil ambulan pun berbunyi begitu nyaringnya, dan Rifki langsung memasuki mobil itu setelah Suster menyuruhnya untuk masuk kedalam.


"Kau harus bertahan Dhira, kau wanita yang kuat, jika kau pergi tolong bawa aku sekalian dengan dirimu, aku tidak mau hidup tanpa dirimu Dhira" Ucap Rifki sambil menggenggam erat tangan Nadhira.


Mobil itu pun melaju dengan cepatnya dan memecah keramaian kota dimalam hari itu, suara sirine ambulan membuat jantung Rifki berdegup kencang, ia sangat takut terjadi sesuatu dengan Nadhira.


"Jangan tinggalkan aku Dhira, kau ingin menikah denganku kan? Bertahanlah aku mohon, kita pasti akan menikah nanti, kita akan membangun sebuah rumah yang dikelilingi oleh bunga mawar merah kesukaanmu, bagunlah Dhira".


Rifki pun menempelkan tangan Nadhira kepada pipinya, ia berharap bahwa Nadhira dapat mendengar suaranya, tetes demi tetesan air mata Rifki membasahi tangan Nadhira, tangan Nadhira terasa begitu hangat bagi Rifki.


Setelah cukup lama melakukan perjalan akhinya mobil ambulan tersebut telah sampailah disebuah gedung rumah sakit yang lebih besar daripada sebelumnya, Rifki segera turun dari mobil tersebut diikuti oleh Suster yang membantu untuk menurunkan bangkar dari dalam mobil.


Para Suster yang ada dirumah sakit tersebut pun segera mendorong bangkar tersebut untuk menuju kesebuah ruangan yang ada didalam rumah sakit itu, Rifki mengikuti mereka dari belakang hingga sampailah dia disebuah ruangan yang tertutup dengan rapatnya.

__ADS_1


"Maaf Mas, silahkan tunggu diluar" Ucap salah satu Suster menyadarkan lamunan Rifki.


"Tolong selamatkan Nadhira, lakukan apapun yang terbaik untuk Dhiraku".


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin yang kami bisa Mas, selebihnya berdoalah kepada Tuhan Yang Maha Esa, hanya kepada-Nya lah kita meminta pertolongan dan hanya Bliau yang mampu mengubah takdir"


"Iya Sus".


Rifki pun duduk didepan ruangan tersebut sambil membaca sholawat nabi didalam hatinya untuk dapat menenangkan pikiran dan perasaannya, tak beberapa lama kemudian Bayu dan lainnya telah tiba ditempat itu dan langsung mendatangi Rifki.


"Bagaimana?" Tanya Bayu dengan perlahan kepada Rifki saat ini.


"Masih sama Bay, dia mengalami koma dan Dokter tidak mengetahui kapan dia akan terbangun dari komanya Bay" Jawab Rifki sambil melamun.


"Ya Allah, mengapa Engkau menguji hamba-Mu seperti ini beratnya, tolong selamatkan nyawa teman kami Ya Allah, Nadhira adalah wanita yang baik, hamba yakin bahwa Engkau tidak akan menguji suatu kaum melebihi batasnya Ya Allah, tolong jangan ambil nyawa Nadhira saat ini".


"Bay, tolong jaga Nadhira, aku ingin ke musholla"


"Iya Rif, apa kau tidak mau ditemani?"


"Tidak usah, aku ingin sendiri saat ini, kalau ada perkembangan apapun dari kondisi Nadhira tolong beritahu aku, sekecil apapun itu".


"Pasti Rif".


Rifki berjalan meninggalkan tempat itu dengan pelan pelan, kakinya terasa sangat lemas saat ini, melihat itu membuat Bayu hanya bisa menghela nafasnya sambil menatap kepergiannya dari tempat itu.


"Kau harus bertahan Dhira, kasihanilah Rifki, aku tidak sanggup untuk melihatnya seperti itu, mungkin ini begitu sangat menyakitkan baginya".


*****


Tak terasa bahwa tiga puluh hari telah berlalu, akan tetapi Nadhira tak kunjung sadarkan diri, Rifki tak henti hentinya terus berdoa dan sesekali dirinya membacakan ayat suci Al Quran disamping Nadhira yang sedang terbaring tidak sadarkan diri.


Setiap hari Rifki selalu mengajak Nadhira untuk mengobrol meskipun tidak ada sahutan dari Nadhira, kadang kala Rifki merasa sedih karena Nadhira sama sekali tidak menanggapi ucapannya itu.


Rifki selalu menyampaikan keluh kesahnya setiap hari kepada Nadhira, entah Nadhira mendengarnya atau tidak akan tetapi Rifki tidak pernah berhenti untuk mengajaknya mengobrol meskipun tanpa tanggapan.


"Apa kau tidak lelah jika terus tertidur seperti ini Dhira? Apa kau tidak ingin sekali saja melihatku? Bukalah matamu Dhira, aku sangat merindukan dirimu, rindu akan tawamu, rindu akan candaanmu, rindu akan senyumanmu, kenapa kau menghukum diriku seperti ini?"


Rifki menatap wajah Nadhira yang terlihat begitu sayup dan memucat, air mata Rifki lolos begitu saja, sudah sekian lama dia menunggu akan tetapi sama sekali tidak ada respon dari Nadhiranya.


"Kau tau hari apa ini Dhira? Ini adalah hari ulang tahunku yang ke 24 tahun, apa kau tidak ingin memberiku kejutan ataupun hanya sekedar ucapan kepadaku? Semua orang sedang merayakannya, di Surya Jayantara sedang mengadakan syukuran begitupun di Gengcobra, tapi aku merasa kesepian tanpa dirimu Dhira, aku tau kau pasti tidak akan menanggapinya, tapi aku hanya ingin bercerita dengan dirimu Dhira".


Hari ini adalah hari ulang tahun Rifki, meskipun semua orang merayakan akan tetapi Rifki sama sekali tidak mau menghadiri perayaan tersebut dan dirinya lebih memilih untuk menemani Nadhira yang koma dirumah sakit itu.


"Dhira, aku mohon kepadamu, disaat hari ulang tahunku ini, aku ingin kau segera siuman, apa kau tidak kau mengabulkan keinginanku? Sampai kapan kau akan tertidur seperti ini Dhira? Bangunlah Dhira, aku mohon".


Rifki menggerakkan tangannya untuk mengusap pelan kepala Nadhira itu, setitik air mata lolos dari ujung mata Nadhira ketika Rifki mengusap kepalanya pelan, Rifki pun menundukkan kepalanya karena Nadhira sama sekali tidak meresponnya.

__ADS_1


Air mata Rifki pun jatuh mengenai tangan Nadhira, dan hal itu membuat Nadhira menggerakkan jari telunjuknya, melihat jari telunjuk Nadhira bergerak hal itu membuat Rifki segera memencet tombol darurat yang ada didekatnya itu.


"Dhira, kau mendengarkan ucapanku? Aku merasa bahagia saat ini, apakah ini kejutan yang kau berikan kepadaku Dhira, cepatlah sadar aku selalu menunggumu disini Dhira, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu" Ucap Rifki dengan bahagianya ketika melihat Nadhira memberikan responnya untuk menanggapi ucapan Rifki.


__ADS_2