
Stevan berpikir bahwa dirinya harus belajar lebih dalam kepada Rifki untuk membuat istrinya bahagia bersamanya, karena beberapa minggu lagi dirinya akan kembali keluar negeri bersama dengan Nandhita untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Kak, aku bisa membantu dirimu untuk membuat Kak Dhita senang" Bisik Rifki yang mengetahui sedikit tentang pikiran dari Stevan.
"Maksudmu?"
"Aku tau apa yang Kakak ipar pikirkan itu, sebagai Adik ipar yang baik aku akan membantu dirimu"
"Emang apa yang aku pikirkan? Kau bisa membaca pikiran orang Adik ipar?"
"Anggap saja ini sebagai anugrah yang diberikan oleh Tuhan kepadaku, aku tau apa yang sedang Kakak ipar pikirkan itu, aku bersedia kok untuk memberikan bimbingan secara privat kepada Kakak"
"Beneran kamu?"
"Iya Kak, aku tidak pernah bercanda soal itu, aku tau kalo kalian pasti akan kembali keluar negeri setelah acara tahlilan dirumah ini selesai kan? Om David juga mengatakan itu kepadaku, pasti akan sulit untuk membuat wanitamu merasa senang apalagi dengan wanitaku juga"
"Kau memang Adik ipar yang terbaik Rif, kau pemuda yang sangat beruntung"
"Jangan meragukan keberuntunganku Kak, kau juga beruntung karena memiliki Kak Dhita sebagai istrimu, aku lihat bahwa Kak Dhita itu sangat sulit untuk jatuh cinta jadi usahakan untuk membuatnya terpikat olehmu Kak sehingga tidak akan ada orang lain yang bisa merebutnya darimu"
"Sepertinya kau tau betul kalo soal wanita, apakah kau sering menjelajahi wanita selama ini?"
Bhuk..
Rifki memukul pelan lengan Stevan tersebut setelah Stevan mengatakan hal yang menganggap bahwa dirinya memiliki begitu banyak pacar selama ini, tapi nyatanya hanya ada Nadhira saja didalam hatinya itu.
"Enak saja kalo bilang, untung dirimu adalah Kakak iparku kalo bukan udah ku lepas kepalamu itu"
"Haha.. kau memang Adik iparku yang baik, dan memiliki banyak ekspresi" Tawa Stevan ketika melihat raut wajah Rifki yang berubah ubah.
"Mangkanya belajar dong dari Adik iparmu ini"
"Sip sip, nanti kita melakukan les privat ya"
"Syiap, tapi jangan lupa upahnya juga haha.."
"Kau sudah kaya, butuh upah berapa lagi woi, bahkan perusahaanmu sudah bercabang cabang apalagi sampe berakar, kau adalah CEO dan Presdir diperusahan Abriyanta Groub"
"Ya setidaknya bukan uang yang aku inginkan, tapi sebuah janji bahwa Kakak ipar akan menjaga Kak Dhita sampai kapan pun, jangan pernah berhianat kepada Kak Dhita atau aku sendiri yang akan menghajar Kakak ipar nanti"
"Aku adalah tipe orang setia, jadi kau tidak perlu meragukan diriku soal itu"
"Iya aku tau, aku juga tau kehidupan diluar negeri itu seperti apa, dan aku hanya takut kalo Nadhira sedih nantinya karena itu"
"Iya iya, tenang saja"
Stevan tidak mungkin meninggalkan Nandhita begitu saja, apalagi harus berpisah jauh dalam waktu yang lama karena dirinya juga tidak tau kapan dia akan kembali pulang ke indo, apalagi dia tidak punya keluarga diindo selain Nadhira dan Rifki.
Lagi pula, Nenek dan Kakek dari Nandhita sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sementara Sarah baru saja meninggal dan hal itu membuat Stevan tidak ada alasan lain untuk pulang ke indo selain untuk berkunjung dirumah Nadhira dan Rifki.
Keduanya pun kembali fokus kepada masakan mereka masing masing, Rifki menaburkan penyedap rasa kepada masakannya tersebut dan kembali mengadukan agar penyedap masakannya merata keseluruh makanan tersebut.
"Suamiku keren kan Kak" Ucap Nadhira yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Rifki.
"Paling keren suamiku lah" Nandhita tidak terima jika Adeknya itu membanggakan Rifki.
"Terserah, bagiku tetap Rifkiku yang terkeren"
"Iya deh iya, penting dirimu senang"
"Nah gitu dong baru namanya Kakakku"
Keduanya pun tertawa melihat kedua lelaki yang tengah memasak tersebut, melihat Nadhira tertawa membuat hati Bi Ira menjadi begitu bahagia dan dirinya pun tersenyum dengan sendirinya sambil menatap wajah cantik Nadhira.
Rifki benar benar telah merubah kesedihan dihati Nadhira menjadi sebuah kebahagiaan sehingga dirinya mampu mengikhlaskan kepergian Sarah, dengan kehadiran Rifki dihidup Nadhira membuat Bi Ira yakin bahwa Nadhira akan bahagia dengan orang yang sangat mencintainya.
Wangi masakan mereka pun tercium dengan sangat jelas, hal itu seketika membuat Nadhira bertambah laparnya apalagi ketiga orang tersebut, meskipun disini hanya Nadhira dan Rifki yang belum makan sejak pagi akan tetapi aroma tersebut membuat mereka terhipnotis oleh aroma tersebut.
"Sayang masih lama kah? Aku sudah sangat lapar" Tanya Nadhira yang mulai tidak sabaran untuk segera mencicipi masakan Rifki.
"Cieee sayang" Goda mereka berbarengan ketika mendengar Nadhira memanggil seperti itu.
Nadhira yang baru menyadari adanya orang lain ditempat itu membuatnya menutup mulut rapat rapat, dan langsung menyembunyikan senyuman tersebut kedalam kedua tangannya yang dirinya gunakan untuk menutup mulutnya.
"Bentar lagi cinta, tunggu ya" Jawab Rifki.
"Sepertinya dunia milik mereka berdua, yuk Sar kita pergi dari sini" Ajak Bi Ira.
"Iya Mbak, ayuk lah daripada disini udah kayak ngontrak di bumi, taulah dunia memang milik mereka berdua" Bi Sari menimpali.
"Eh kalian mau kemana?" Tanya Nadhira yang melihat Bi Ira dan Bi Sari bergegas pergi.
"Kehalaman depan sama yang lainnya" Jawab Bi Ira.
__ADS_1
Bi Ira dan Bi Sari lalu bergegas untuk melangkah pergi dari sana, sementara Nadhira hanya menatap punggung keduanya sesaat setelah itu pandangannya kembali kearah dimana Rifki sedang menggoreng sesuatu.
"Sudah siap" Ucap Rifki sambil membawa nampan ditangannya kearah Nadhira.
"Kakak ipar kok belom?" Tanya Nadhira.
"Maklum belum pernah kedapur" Seru Stevan yang mendengarnya.
"Mangkanya belajar dong dari ahlinya seperti diriku ini" Rifki terlalu sombong karena dirinya yang sudah selesi masak terlebih dahulu daripada Stevan.
"Songong banget sih nih bocah" Gerutu Stevan sambil membawa nampan untuk menyusul Rifki karena dirinya yang baru selesai.
"Biarin" Rifki menjulurkan lidahnya kearah Stevan, "Nih sayang, makanan spesial buat bidadariku" Rifki menaruh nampan yang terdapat masakannya itu didepan Nadhira.
Melihat masakan yang dibuat oleh Rifki membuat Nadhira semakin merasa lapar, capcay kuah saos tiram dengan berbagai macam potong udang dan sayuran terpampang diatas piring dengan aroma yang sangat menggugah selera makan.
Masakan tersebut terlihat begitu spesial untuk Nadhira, sudah cukup lama dirinya tidak pernah memakan makanan buatan Rifki, Rifki memang pandai dalam memasak sehingga rasa dari masakannya tersebut tidak dapat diragukan lagi.
"Kau harus lebih banyak makan makanan yang sehat, seperti buah dan sayuran, aku tidak ingin Nadhiraku kenapa kenapa" Ucap Rifki.
"Terima kasih sayang" Ucap Nadhira dengan senangnya melihat makanan itu.
Sementara Stevan menyajikan bakso ayam kearah Nandhita dengan penuh perhatian yang tidak kalah dari perhatian yang diberikan oleh Rifki kepada Nadhira, keduanya seakan akan berlomba untuk dapat memanjakan istri istrinya masing masing.
"Aku tidak terlalu bisa membuat masakan indo, tapi mungkin ini sedikit mirip dengan masakan indo sih, ku harap kau suka sayang" Stevan memberikan semangkuk bakso kepada Nandhita.
"Terima kasih sayang, apapun yang kau buat aku pasti akan menyukainya" Ucap Nandhita sambil mengecup kening Stevan yang penuh dengan keringat setelah masak itu.
"Makasih ya sayang"
"Hemm... Enak juga loh" Puji Nandhita setelah menyeruput sesendok kuah bakso tersebut.
"Benarkah?" Tanya Stevan dengan semangatnya.
"Iya sayang" Jawab Nandhita.
Rifki memperhatikan apa yang dilakukan oleh Stevan kepada Nandhita tersebut, keduanya begitu sangat romantis dan dirinya sendiri tidak mau kalah romantisnya dari mereka.
"Sini sayang biar aku suapin" Ucap Rifki kepada Nadhira yang tidak mau kalah.
Stevan dan Rifki seakan akan saling menatap dengan tatapan yang mengintimidasi, keduanya pun berlomba memberikan perhatian kepada istri mereka masing masing, hal itu membuat Nadhira dan Nandhita merasa kebingungan dengan keduanya.
"Kak, Kakak apa yang terjadi dengan kedua lelaki ini? Seperti kayak ngadain lomba aja, padahal keduanya kan sudah menang dihati kita masing masing" Tanya Nadhira sambil berbisik kearah Nandhita.
"Aku merasa heran deh dengan keduanya itu, Rifki juga sejak kemarin udah kayak anak kecil saja"
"Asal kau tau juga, Stevan juga gitu kalo dikamar"
"Kalian ngomongin apa sih? Kelihatannya asik sekali" Tanya Stevan yang melihat kedua wanita itu saling berbisik bisik.
"Kepo! Ini urusan wanita" Jawab Nadhira.
"Mending Kakak diem saja, kalo soal wanita kita ngak bakalan paham deh" Rifki menepuk pelan punggung Stevan dengan santainya.
"Kau benar Adek ipar, pasti nanti kita yang salah lagi disini dan bisa bisa tidak dapat jatah untuk nanti malam" Stevan membenarkan perkataan Rifki.
"Itu sangat mengerikan sekali Kak, aku ma...."
Belum selesai Rifki mengatakan sesuatu kepada Stevan, Nadhira terlebih dahulu memasukkan nasi dan lauk kedalam mulut Rifki menggunakan sendoknya, merasakan itu membuat Rifki segera mengunyahnya dengan perlahan lahan.
"Ternyata masakanku enak juga ya" Puji Rifki setelah menelan nasi yang ada di mulutnya tersebut.
"Kalo makan jangan banyak berbicara sayang, nanti kesedak bagaimana?" Tanya Nadhira.
"Iya iya sayang, suapin lagi lah"
"Mau pake sendok atau sekrup?" Tanya Nadhira dengan senyuman jail.
"Pake corong sekalian juga ngak papa kok sayang"
Nadhira tertawa mendengar jawaban Rifki yang sedikit sensi tersebut, ia pun menyuapi Rifki lagi dengan nasi tersebut dan langsung dilahap oleh Rifki dengan semangatnya, melihat itu membuat Nadhira tersenyum tipis kearah Rifki.
Rifki dan Nadhira itu pun menikmati makanan itu sepiring berdua, keduanya yang merasa sangat lapar sebelumnya itu pun merasa lapar mereka terobati dan energi keduanya pun kembali dengan cepat karena makanan tersebut.
"Masakanmu enak sekali Rif, aku sudah kenyang mau kembali kekamar"
"Makasih atas pujiannya cinta, mau dibantuin?"
"Ngak usah, aku bisa kok"
"Beneran? Udah ngak perih lagi kan?"
"Wih udah unboxing aja nih bocah" Seru Stevan ketika mendengar ucapan Rifki.
__ADS_1
Mendengar itu membuat kedua pipi Nadhira memerah, kenapa Rifki harus mengatakan itu sih bikin malu saja, didalam hatinya kini Nadhira menggerutu atas ucapan dari Rifki, dan Nadhira pun bangkit dari duduknya.
"Bener, aku kembali kekamar dulu ya" Jawab Nadhira.
"Iya sayang, habis ini aku mau kedepan bersama anak Gengcobra, nanti kalo butuh apa apa telpon saja ya"
"Iya sayang"
Nadhira pun bergegas pergi dari meja makan untuk kembali naik kekamarnya yang ada dilantai atas sambil menahan rasa perihnya tersebut akan tetapi dirinya mencoba untuk terlihat biasa biasa saja.
"Gimana rasanya?" Tanya Stevan kepada Rifki.
"Rasanya apa?"
"Rasanya malam pertama lah, emang apa lagi?"
"Kakak ipar juga tau kan gimana rasanya malam pertama? Kenapa harus tanya ke aku?"
"Hei kalian ini ngmongin apa sih? Kalian berdua emang sudah tidak waras" Ucap Nandhita dan langsung bergegas pergi dari sana karena dirinya juga merasa malu dengan ucapan kedua lelaki itu.
"Kenapa dia?" Guman Stevan.
"Kenapa lagi kalo bukan malu? Lihatlah mukanya memerah sebelumnya, Kakak ipar sih kenapa harus mbahas seperti ini didepan kedua wanita itu"
"Ya maap, habisnya kau sendiri sih yang bertanya kepada Dhira seperti itu, kan aku jadi penasaran"
"Kenapa harus penasaran? Bukankah Kakak ipar juga ngalamin itu? Lagian aku hanya membuka jalan untuk calon anakku saja"
"Sama saja pe'ak, yang namanya malam pertama itu ya membuka jalan"
"Kak, sepertinya Kakak ipar harus mengurangi kata kata mengumpat deh, wanita paling sensitif dengan hal itu"
"Beneran?" Tanya Stevan dengan antusias.
"Iya, coba aja bilang didepan Kak Dhita, pasti ngak bakalan dapat jatah lagi"
"Baiklah aku akan menguranginya"
"Siplah, oh iya Kak, aku mau kedepan dulu ya, ada tamu penting soalnya"
"Oke Adik ipar".
Rifki segera bangkit dari duduknya untuk berjalan kearah ruang tamunya, ia mendapati bahwa ada beberapa orang penting yang ada diperusahan Nadhira dan juga perusahaannya, ia juga melihat kedatangan dari Pak Hendra dan Pak Bram ditempat itu yang sedang mengobrol.
Melihat Rifki yang berjalan kearah mereka membuat mereka menghentikan percakapan mereka dan menoleh kearah Rifki yang berjalan dengan santainya mendatangi mereka semua.
"Maaf saya telat" Ucap Rifki.
"Tidak masalah Tuan Muda, kami hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan anda dan juga turut berduka cita atas meninggalnya Ibu Sarah" Ucap Pak Hendra selaku pemimpin Surya Jayantara.
"Terima kasih Pak, Oh iya Pak Bram bagaimana kondisi perusahaan saat ini?" Tanya Rifki yang mengalihkan pandangannya menuju ke tempat dimana Pak Bram berada.
"Alhamdulillah baik baik saja Tuan Muda"
Pak Bram adalah orang yang dipercaya oleh Aryabima untuk membimbing Rifki dalam perusahaan tersebut sejak Rifki masih kecil, dan Pak Bram juga adalah sosok Ayah bagi Bayu sehingga hubungan mereka sangat dekat.
"Untuk beberapa hari kedepan saya menyerahkan tanggung jawab kepada Pak Bram untuk itu, karena saya belom bisa masuk bekerja beberapa hari ini"
"Baik Tuan Muda, Anda tidak perlu khawatir soal itu, saya akan melaksanakan tugas dengan benar"
"Saya percaya kepada Pak Bram"
"Terima kasih Tuan Muda atas kepercayaannya"
"Jangan sia siakan hal itu ya Pak"
Mereka pun kembali mengobrol santai bersama sama, dan sesekali mereka membicarakan rencana mengenai perusahaan mereka kedepannya akan seperti apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil menunggu update, yuk kak mampir di novel temenku ini
Blurb.
Viola Rinjani, seorang gadis muda berusia 23 tahun harus terpaksa menikah dengan seorang pria yang merupakan suami dari sahabatnya sendiri.
Awalnya, Viola menolak tawaran pernikahan itu. Namun, keadaan yang terus memburuk terasa mencekik leher Viola hingga membuatnya harus mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua.
Biduk rumah tangga pun dimulai, akankah Viola berhasil melewatinya ?
Atau terpuruk dengan segala siksaan dan hinaan yang dilayangkan oleh semua orang ?
Yuk ikuti kisahnya hanya di Noveltoon !
__ADS_1