
Bayu pun menoleh sekilas kearah Nadhira ketika melihat Nadhira menoleh kepadanya, Bayu langsung bergegas untuk mendekat kearah Putri dan menyerahkan sebuah bingkisan kepada Putri.
"Ini dari Ayah, Tan. Katanya sih untuk Dhira"
"Ngak usah repot repot seperti ini Bay, bilangin sama Pak Bram, Tante ucapkan terima kasih" Ucap Putri yang menerima buah tangan itu.
"Ngak repot kok Tan, gimana kabarmu Dhira?" Tanya Bayu sambil mengharap kearah Nadhira yang sejak tadi menyimak pembicaraan keduanya.
"Alhamdulillah baik Bay" Ucap Nadhira.
"Cepat sembuh ya, Ibuku tadi membuatkanmu air rebusan kacang hijau, katanya sih buat nambah tensi darah, kan aku dengar tensimu rendah Dhira, jadi Ibuku membuatkan ini untukmu, jangan lupa dimimum ya, kasihan Ibuku nanti kalo ngak diminum, jadi sia sia deh, oh iya tadi aku nyentuh rebusan itu rasanya masih hangat"
"Iya, makasih ya Bay, kalian baik banget, sampaikan juga terima kasihku kepada Ibumu ya, maaf juga aku sudah merepotkanmu dan keluargamu Bay"
"Repot apanya sih Dhira? Ibuku malah suka direpotkan seperti ini, lagian dia juga khawatir denganmu, iya udah ya Dhira, aku keluar dulu ya, kalo ada apa apa panggil diriku saja, aku ada diluar"
"Iya"
Bayu pun bergegas keluar untuk menemani Rifki yang sedang berada diluar, melihat kedatangan Bayu membuat Rifki langsung mendongak kearahnya, Bayu yang melihat itu pun langsung duduk disampingnya.
"Gimana keadaan Nadhira? Apa dia mau ngobrol denganmu Bay?" Tanya Rifki.
"Dia baik baik saja kok, dia belum tidur tadi, ya kami sempat untuk mengobrol sebentar tadi"
"Syukurlah, mendengar kabarnya saja sudah cukup bagiku, dia ngak mau bertemu denganku Bay, dia tadi mengusirku dari dalam"
"Iya kah? Sabar aja kalo gitu Rif, mungkin butuh waktu untuk dia memaafkanmu, tapi kau tenang saja, cepat atau lambat dia pasti akan mencarimu"
"Thank Bay"
"Yoi man, jangan galau kayak gini dong, masak Tuan Muda Abriyanta galau sih"
"Gimana ngak galau coba? Istri sendiri saja tidak mau bertemu dengan suaminya"
"Sabar, kau memang serba salah dimatanya, jadi wajar saja dia tidak mau bertemu denganmu"
Putri pun duduk disebelah Nadhira, pandangan Nadhira pun tertuju kearah langit langit kamar rumah sakit itu, ia merasa bosan terus terusan berada didalam rumah sakit, ia pun mencoba untuk memejamkan matanya akan tetapi dirinya tidak bisa untuk melakukan itu.
"Ada apa Nak? Tidak bisa tidur?"
"Dhira bosan Ma, seharian tidur mulu, hanya menatap langit langit kamar dan tembok yang putih bersih tanpa noda ini"
"Sikapmu sama seperti Rifki, dulu juga Rifki seperti ini dan mudah sekali bosan, dia terus meminta kepada Mama untuk membawanya pulang ke Indonesia"
"Memang Rifki dulu sakit apa Ma? Kenapa minta pulang ke Indonesia?"
"Apa Rifki tidak pernah cerita kepadamu Nak?"
"Ngak pernah Ma, dia bahkan tidak mengatakan apapun kepadaku soal dirinya yang sakit"
"Baiklah, akan Mama katakan, tapi jangan beritahu hal ini kepada Rifki kalau Mama yang mengatakannya kepadamu Nak"
"Iya Ma, Dhira janji"
"Selama diluar negeri, dia dikeroyok sama musuh bisnisnya, dan mengalami luka tembakan yang sangat parah, sampai sampai dia mengalami koma selama satu tahun penuh, dan selama itu dia terbaring dirumah sakit karena luka tembakan tersebut mengenai sedikit paru parunya, untung saja nyawanya masih bisa diselamatkan"
"Apa Ma?" Nadhira sangat terkejut ketika mendengar cerita itu, "Kenapa dia merahasiakan ini dariku? Kenapa Mama baru mengatakannya kepadaku?"
"Mama pikir kamu sudah tau Nak, mungkin dia tidak mau kamu khawatir soalnya, ketika kondisi membaik dia baru bisa pulang ke tanah air, mungkin selama itu dia tidak pernah mengabarimu karena dia sendiri pun sedang koma"
"Pantas saja dia hilang kabar selama ini dan tidak pernah mengabari Dhira, Dhira tidak tau soal itu Ma, dan bahkan disaat pertemuan kita untuk pertama kalinya, Dhira malah menyambutnya dengan sebuah pertarungan, pantas saja saat itu Dhira melihat ada yang beda dari Rifki"
"Pertarungan? Kamu memang sangat beda dari yang lain Nak, biasanya orang orang yang lain akan menyambut kekasihnya dengan pelukan hangat, tapi dirimu justru dengan pertarungan"
"Habisnya Dhira terlalu sebal dengannya Ma, Dhira pikir dia melupakanku disana, lalu ketika dia menemui Dhira, Dhira pun langsung menyerangnya"
"Setelah mengetahui ini, apa kamu mau memaafkan dirinya Nak? Kasihan Rifki, dia sangat merindukan dirimu dan ingin sekali bertemu denganmu, dia bahkan tidak bisa tidur nyenyak selama kamu tidak sadarkan diri, air matanya saja tidak pernah berhenti untuk terus menetes"
"Dhira masih belum memikirkan soal itu Ma, Dhira masih kecewa dengan dia, melihat wajahnya saja langsung membuat Nadhira muak, Dhira tidak mau melihatnya lagi"
"Jangan marah kepada seseorang lebih dari tiga hari Nak, itu tidak baik, apalagi Rifki adalah suamimu sekarang dan selamanya, sampai kapanpun masih ada ikatan pernikahan diantara kalian"
"Dhira tidak marah kepadanya Ma, hanya saja ketika melihat wajahnya itu membuat Nadhira terluka, Dhira akan semakin teringat dengan kematian anak Dhira Ma, Dhira akan kembali sedih kalo melihatnya"
"Mungkin butuh waktu agar kalian bisa bersama lagi, Mama paham soal itu kok Nak"
"Makasih ya Ma, sudah mau mengerti Dhira"
"Sama sama Nak"
__ADS_1
Nadhira masih tidak mau bertemu dengan Rifki, Rifki hanya bisa melihat Nadhira dari balik cendela untuk mengetahui bahwa istrinya baik baik saja, ia melihat bahwa Putri tengah mengobrol dengan Nadhira saat ini dan Nadhira pun seperti tertawa bahagia bersama dengan Putri.
Sekilas Putri pun melihat wajah anaknya itu, ia merasa sangat kasihan dengan Rifki karena hanya bisa melihat Nadhira dari kejauhan karena Nadhira sama sekali tidak mau bertemu dengan Rifki walaupun hanya sebentar saja.
"Biarkan dia masuk ya Nak, kasihan dia menunggu diluar" Ucap Putri kepada Nadhira yang juga melihat kearah yang sama.
"Tidak Ma! Kalo dia masuk kemari, Dhira yang akan keluar dari sini, Dhira ngak mau bertemu dengannya saat ini Ma"
"Baiklah, kamu istirahat saja Nak, Mama disini akan menjagamu"
"Makasih Ma"
*****
Seperti biasa, pagi ini Putri sedang menyuapi Nadhira karena Nadhira tidak mau bertemu dengan Rifki akhinya dirinyalah yang menjaga Nadhira dan tidur didalam ruangan tersebut sementara Rifki berada diluar dan tidur dikursi panjang yang disediakan dirumah sakit.
Setelah selesai menyuapi, Putri pun membersihkan peralatan makan tersebut dan membantu Nadhira untuk minum air putih, dengan perlahan lahan Nadhira pun meminumnya, setelahnya Putri langsung menyuruh Nadhira untuk berbaring lagi.
"Mama setelah ini ada urusan, ngak tau pulangnya jam berapa, Mama keluar ngak apa apa kan?" Tanya Putri sambil merapikan selimut Nadhira.
"Kenapa mendadak banget Ma? Apakah itu sangat penting Ma?"
"Mama juga ngak tau, Papamu yang ngabari begitu mendadak tadi sebelum kamu bangun, kalo ngak dituruti nanti Papamu akan ngamuk"
"Oh.. ya udah, Dhira ngak apa apa kok sendirian, Dhira bisa sendiri kok Ma, Mama temui Papa dulu kalo gitu, kali aja ada yang sangat penting"
"Kamu beneran ngak apa apa?"
"Beneran Ma" Senyuman Nadhira pun tercipta.
"Ya sudah Mama pulang dulu ya"
"Iya Ma"
Putri pun mengecup kening Nadhira singkat setelahnya ia bergegas keluar dari ruangan itu, melihat kepergian dari Putri membuat Nadhira kembali memejamkan matanya, Putri datang untuk menemui Rifki yang masih setia menunggu diluar ruangan tersebut.
"Nak, bangun! Atau kau akan kehilangan kesempatan ini" Ucap Putri yang mendapati anaknya masih tertidur dengan posisi duduk yang tidak nyaman itu.
Rifki pun mengeliat ketika dibangunkan oleh Putri tiba tiba, dirinya memang tidak bisa tidur dengan nyenyak lantaran tidurnya dikursi sehingga setelah sholat subuh dirinya sangat mengantuk hingga tanpa sadar dia pun tertidur.
"Apa ada Ma?" Tanya Rifki ketika sudah membuka kedua matanya.
"Cepat cuci muka, bersihkan tubuhmu, Mama tunggu sekarang juga"
"Iya Ma"
Setelah selesai itu semua ia langsung mendatangi Putri kembali yang tengah duduk ditempat dimana dirinya tertidur sebelumnya, Rifki pun langsung duduk disebelah Putri dengan kepalanya yang terus bertanya tanya.
"Ada apa Ma? Apa ada sesuatu yang mendesak seperti itu sampai sampai Mama membangun Rifki begini?" Tanya Rifki lagi.
"Mama mau pulang" Ucap Putri.
"Kenapa mendadak seperti ini Ma? Lalu yang jaga Nadhira didalam siapa Ma?"
"Kamu"
"Aku? Tapi dia kan lagi marahan dengan Rifki saat ini, bagaimana kalo dia akan semakin marah nantinya kalo Rifki masuk kedalam Ma?"
"Itu urusanmu, bagaimana pun dia adalah istrimu, kau harus mencoba untuk mendapatkan hatinya kembali, adanya Mama disini itu juga tidak akan membantu hubungan kalian, Mama juga sudah membujuk dia tapi rasanya itu sia sia, apa kamu masih mencintainya?"
"Rifki masih akan tetap mencintai Nadhira seterusnya Ma, hanya Nadhira yang ada dihati Rifki"
"Kalo begitu cepat temui dia sekarang, ya mungkin dia akan marah kepadamu saat kau masuk nanti, bukankah lebih baik seperti itu daripada harus berjauhan seperti ini?"
"Iya sih Ma, Mama paling tau soal Rifki deh, Rifki jadi semakin sayang dengan Mama, tapi Rifki takut, nanti malah memperparah kondisi Nadhira didalam"
"Ngak akan, Mama yakin itu"
"Tapi Ma..."
"Jangan kebanyakan tapi ah, Mama ngak suka"
Tanpa menunggu jawaban dari Rifki, Putri pun menarik tangan lelaki itu begitu saja, hingga membuat Rifki mau tidak mau harus mengikutinya, Putri pun membawa Rifki masuk kedalam ruangan tempat Nadhira dirawat itu.
Nadhira yang tadi memejamkan mata pun membuka kedua matanya ketika merasakan ada yang masuk kedalam ruangan itu, ia pun melotot ketika melihat Putri membawa Rifki masuk, ia menatap tajam kearah Rifki yang kini tengah menundukkan kepalanya tidak berani untuk menatap kearah Nadhira.
"Kenapa Mama nyuruh dia masuk sih? Dhira ngak suka Ma!" Tanya Nadhira dengan nada marahnya.
"Mama ada urusan sama Papa, ngak tau pulangnya kapan, biarkan dia yang menjagamu disini, pliss turuti kemauan Mama kali ini"
__ADS_1
"Ngak mau Ma, lebih baik Bayu saja yang menjagaku disini daripada dia"
"Bayu ada urusan perusahaan"
"Seharusnya dia yang ngurusi, dia kan pemimpinnya, aku ngak mau dia disini"
"Dia kan suamimu Nak, masak orang lain yang harus menjagamu sih?"
"Tapi Ma..." Nadhira belum sempat menjawab ucapan Putri tapi Putri langsung memotongnya.
"Sudah ya, Mama telat, da..."
"Ma!"
Putri pun seperti mengabaikan ucapan Nadhira, ia lalu bergegas keluar dari ruangan tersebut, dan kini hanya tinggal Nadhira dan Rifki berdua, Rifki pun memberanikan diri untuk menatap kearah Nadhira, ketika kedua mata bertemu, Nadhira lalu membuang muka dari Rifki.
"Hai" Ucap Rifki pelan.
"Duduk saja di sofa, jangan dekat dekat denganku" Ucap Nadhira tanpa menoleh.
"Baiklah sayang"
Nadhira pun tidak menyahutinya lagi dan hal itu membuat Rifki hanya bisa pasrah saja dengan perintah Nadhira, ia lalu berjalan kearah sofa yang berada di ruangan tersebut dan langsung duduk disana sambil melihat ke arah Nadhira.
Nadhira yang memang tidak bisa tidur itu pun hanya bisa memandang kearah langit langit kamar itu, hanya ada kesunyian diantara mereka, kedua orang itu pun merasa sangat canggung untuk memulai sebuah percakapan.
Yang biasanya mengobrol dengan hangat dan saling bercanda gurau kini pun hanya saling berdiam diri, Nadhira yang tidak mau mengobrol dengan Rifki dan Rifki yang tidak mau membuat Nadhira semakin marah kepadanya.
"Dhira" Rifki memberanikan diri untuk memanggil nama Nadhira.
"Hem" Hanya dibalas deheman oleh Nadhira.
"Kau masih marah denganku?"
"Pikir sendiri"
Rifki pun tidak melanjutkan ucapannya karena ia tidak mau membuat Nadhira semakin marah disana karena Nadhira bisa saja berbuat nekat saat ini, dan dia tidak mau Nadhira melakukan itu hanya karena dirinya yang salah bicara.
Tak beberapa lama kemudian Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Nadhira, melihat kedatangan Dokter dan Suster ketempat itu pun membuat Rifki langsung bangkit dan mendekat ke arah Nadhira.
Mereka pun langsung memeriksa kondisi Nadhira yang perlahan lahan sudah mulai membaik, Dokter pun tersenyum kearah Nadhira yang juga tengah tersenyum kepada Dokter itu.
"Apa masih ada keluhan Mbak?" Tanya Dokter.
"Sudah ngak ada Dok" Jawab Nadhira.
"Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik, jadi lusa nanti sudah diizinkan untuk pulang, besok masih harus diperiksa lagi perkembangannya"
"Iya Dok, terima kasih Dok" Ucap Rifki.
"Apa anda suaminya?"
"Iya Dok, saya suaminya"
"Tolong jaga dia dengan baik, atur pola makannya, aktivitasnya, jangan sampai dia kelelahan karena akan membuat dia drop lagi, usahakan memberi makan makanan yang bergizi sesuai dengan 4 sehat 5 sempurna"
"Baik Dok, terima kasih"
Dokter tersebut pun meninggalkan ruangan itu beserta beberapa Suster yang mengikutinya, setelah kepergian mereka, ruangan itu kembali sunyi seperti sebelumnya, Rifki melangkah mundur beberapa langkah karena mendapatkan tatapan tajam dari Nadhira.
"Dhira jangan galak galak, aku jadi takut denganmu kalo seperti itu" Cicit Rifki pelan.
"Bodoamat! Minggir sana, jangan dekat dekat!"
"Maaf"
Rifki pun menundukkan kepalanya dalam, Nadhira benar benar marah kepadanya saat ini, Nadhira pun meraih sebuah gelas karena dirinya merasa haus, melihat itu membuat Rifki segera mengambilkan gelas yang berisi air itu dari nakas.
"Aku bisa sendiri!" Teriak Nadhira sambil merampas gelas yang ada ditangan Rifki.
"Aku hanya membantumu sayang, maaf ya"
"Aku ngak butuh bantuanmu, aku bisa melakukannya sendiri tanpa dirimu"
"Dhira maaf"
"Duduk disofa atau keluar dari sini sekarang!"
"Baiklah aku akan duduk disofa, jangan marah lagi, nyeremin tau"
__ADS_1
Rifki pun melangkah menuju ke sofa dengan menundukkan kepalanya dalam, sementara Nadhira langsung meminum air tersebut untuk melegakan tenggorokan itu, sekilas ia menatap kearah Rifki yang tengah memandanginya.
Ia lalu membuang muka dari wajah Rifki dengan malas, ia lalu mengembalikan gelas tersebut dinakas sebelahnya dengan perlahan lahan, setelahnya ia membaringkan tubuhnya dikasur rumah sakit itu.