Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Melamar pekerjaan


__ADS_3

Kinara memang masih memiliki keluarga, akan tetapi dirinya ikut bersekolah dengan teman temannya dipanti asuhan. Karena akan sulit baginya untuk bisa masuk kedalam sekolah negeri, apalagi dengan identitas yang kurang lengkap seperti kartu keluarga dan juga akta kelahiran.


Untuk membuat sebuah akta kelahiran, disana harus mencantumkan juga nama dari ayahnya. Karena Ana telah membuat identitas baru, sehingga akan kesulitan baginya untuk membuat sebuah kartu keluarga dan bahkan akta kelahiran untuk Kinara.


"Mama nggak ikut makan sama Nara? Mama juga pasti belum makan kan? Mama baru pulang tadi," Tanya Kinara dengan polosnya.


"Mama masih kenyang kok, Nak. Nara makan saja ya? Nanti saja Mama makannya, asalkan Nara kenyang lebih dulu,"


Seorang Ibu tidak akan bisa makan dengan kenyang selama anak anaknya belum makan, dan kebohongan terbesar seorang Ibu adalah mengatakan kenyang padahal dirinya belum makan hanya demi melihat anak anaknya makan dengan kenyang. Hati mereka tidak akan lega jika melihat anak belum kenyang, dan akan khawatir ketika melihat anaknya kelaparan.


"Nara nggak mau, Nara maunya makan sama Mama,"


"Ya udah biar Mama suapin ya?"


"Iya."


Kinara langsung mengulurkan sekotak makanan itu kepada Ana, Ana pun membaca sebuah tulisan yang ada didalam kotak nasi itu, yang bertuliskan 'Sang Dhira' sebagai nama restoran yang telah membagi bagikan makanan itu.


Tanpa diketahui oleh Ana, bahwa restoran tersebut ada dibawah perusahaan Abriyanta Group dan termasuk restoran milik Rifki, Rifki membuat restoran itu untuk mengingatnya kepada Nadhira dan juga agar dirinya bisa membantu masyarakat sekitar yang tidak mampu untuk membeli sesuap nasi.


Didalam sekotak makanan itu, terdapat beberapa lauk yang menggugah seleranya, termasuk dengan lauk ayam kecap yang ada disana. Aromanya sama persis dengan buatan dari seseorang yang dirinya kenal, dan makanan tersebut adalah makanan kesukaannya selama ini.


"Mama, Nara nggak mungkin habis sendirian jika sebanyak ini. Mama ikut makan ya bersama Nara?" Tanya Kinara sambil melihat kearah sekotak makanan tersebut.


"Nara makan dulu, nanti kalo nggak habis baru Mama yang makan,"


"Tapi Ma, itu kan sama saja dengan sisa Nara,"


Mendengar ucapan polos dari Kinara, langsung membuat Ana mengangkat tangannya dan mengusap pelan puncak kepala Kinara. Terkadang dirinya merasa kasihan dengan Kinara yang harus jauh dari Ayahnya, akan tetapi dirinya sendiri tidak ingin membahayakan keduanya hanya karena dirinya ingin berkumpul kembali bersama dengan Rifki.


Ana pun langsung menyendokkan makanan itu dan menguapi Kinara dengan perlahan lahan, melihat anaknya yang makan dengan lahap membuatnya merasa senang. Nasi yang disuapkan oleh seorang Ibu akan terasa sangat berbeda bagi anaknya, bahkan nasi apapun itu akan terlihat sangat lezat jika Ibu yang menyuapkannya.


Kinara terlihat sangat nafsu makan jika disuapi oleh Mamanya, bahkan suapan demi suapan selalu dirinya nikmati dengan semangatnya. Melihat anaknya seperti itu, ada sebuah kesenangan tersendiri bagi seorang Ibu.


"Mama, ini enak sekali," Ucap Kinara.


"Makan yang banyak, Nara. Kalau makan jangan sambil berbicara,"


"Iya Ma. Mama juga harus cobain deh,"


Kinara pun mengambil sendok makan yang ada ditangan Ana, dirinya pun berusaha untuk menyendokkan makanan itu dan menyuapkannya kepada Ana. Hal yang dilakukan oleh Kinara, membuatnya kembali teringat dengan Rifki, lagi lagi hal itu langsung membuatnya menitihkan air matanya.


"Mama kenapa menangis?" Tanya Kinara sambil menghapus air mata dari Ana.


"Mama nggak papa kok," Jawab Ana sambil menghapus air matanya itu.


Begitu besar kerinduannya kepada Rifki, bahkan apa yang dilakukan oleh Kinara langsung mampu untuk membuatnya menitihkan air matanya karena sangking rindunya terhadap orang yang paling dicintainya itu.


"Mama jangan sedih, Nara salah ya? Maafin Nara ya Ma?" Kinara pun merasa bersalah ketika melihat Ana menangis, dirinya pun beranggapan bahwa Mamanya menangis karena ulahnya.


Ana pun meletakkan kotak makan tersebut dimeja yang ada didekatnya, dirinya pun membentangkan tangannya dan Kinara langsung bergegas untuk memeluknya. Ana memeluk tubuh kecil anaknya itu dengan sangat eratnya, bahkan dirinya pun sampai terisak lirih ketika merasakan tubuh Kinara.


Siska yang melihat itu ikut serta menitihkan air matanya, akan tetapi langsung dihapus olehnya. Dirinya tidak mengetahui beban berat seperti apa yang harus dipikul oleh Kakak angkatnya seorang diri, bahkan Ana sama sekali tidak pernah bercerita apapun kepadanya tentang kehidupannya.


"Tubuh Mama panas sekali, apa Mama demam?" Tanya Kinara yang merasakan bahwa suhu tubuh Ana meningkat ketika sedang memeluknya.


"Maafin Mama ya, Nara. Mama belum bisa menjadi orang tua yang baik untuk Nara, Mama sangat bersalah dengan Nara. Mama minta maaf, karena tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk Nara," Ucap Ana sambil terisak lirih.


"Mama nggak salah kok, Mama adalah orang yang terbaik untuk Nara. Nara bahagia kok sama Mama,"


Usia Kinara yang masih kecil belum mengerti apa yang dikatakan oleh Mamanya itu, Kinara tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Ana. Bukan seperti itu yang dikatakannya, akan tetapi dirinya meminta maaf karena tidak mampu untuk mempertemukannya dengan sosok Ayahnya.


Apa yang dikatakan Siska benar, bahwa Kinara sangat memerlukan sosok seorang Ayah disampingnya. Wajah polos Kinara pun membuat Ana merasa gundah, apakah dirinya harus kembali bersama Rifki? Ataukah dia harus menunggu sampai Kinara dewasa terlebih dulu? Ana benar benar merasa bingung saat ini.


"Nara, apa Nara baik baik saja?" Tanya Ana kepada anaknya itu.

__ADS_1


"Nara nggak papa kok, Ma. Kenapa Mama nangis? Nara sedih kalo lihat Mama nangis,"


Ana sendiri tau bagaimana masa kecil tanpa kasih sayang Ayahnya, dirinya bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang itu dari kecil, dan bagaimana dirinya tega membuat Kinara juga merasakan apa yang ia rasakan itu. Apalagi Ana sejak kecil sudah ditinggal pergi oleh Ibunya, sehingga dirinya tidak memiliki tempat meluapkan segalanya selain kepada Rifki.


Beruntunglah dirinya memiliki sahabat baik seperti Rifki selama ini, seandainya tidak ada Rifki mungkin hidupnya akan hancur karena Rifki lah yang selalu membimbing setiap langkah kakinya selama ini. Bahkan Rifki selalu mengajarkan kepadanya tentang hal baik dan buruk, hingga dirinya bisa mengetahui apa yang harus dia lakukan dan apa yang harus dia tinggalkan.


Ana tidak tau lagi harus berbuat apa saat ini, dirinya merasa bimbang antara mempertemukan Kinara dengan Ayahnya ataukah dia tetap menunggu Kinara hingga dewasa dan mengerti semuanya. Keduanya sama sama bertujuan untuk mempertemukan anak dan ayah itu, tapi dengan fersi yang berbeda.


"Nara," Panggil Ana lirih kepada anaknya.


"Mama jangan nangis, ya?"


"Mama nggak nangis kok," Ucap Ana sambil menghapus air katanya dengan tangannya dan perlahan lahan melepaskan pelukannya ditubuh Kinara.


*****


Tok tok tok


Sebuah pintu yang cukup besar pun diketuk oleh seseorang, nampaknya pemilik rumah sedang tidak berada didalam rumah tersebut. Tiba tiba sosok seseorang langsung bergegas untuk membukakan pintu rumah itu, sosok wanita membukakan pintu rumah yang megah itu.


"Maaf Bu, apakah ini benar rumah Tuan Muda Rifki?" Tanya seorang wanita dibalik pintu tersebut.


Terlihat seorang wanita bercadar sambil membawa sebuah tas yang cukup besar, dan tengah berdiri dihadapan wanita yang telah membukakan pintu. Wanita yang ada didalam rumah itu adalah Bi Sari yang membukakan pintu rumah tersebut ketika mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya.


"Benar. Anda siapa ya?" Tanya Bi Sari kebingungan karena melihat sosok wanita bercadar yang ada dihadapannya itu.


"Perkenalkan nama saya Ana, saya tinggal di perumahan Lahanbaru,"


"Ada keperluan apa ya anda kemari?"


"Saya dengar disini membutuhkan tenaga kerja, saya ingin melamar menjadi pembantu rumah tangga disini. Saya sangat membutuhkan uang untuk biaya sekolah anak saya, saya bisa masak, mencuci atau bersih bersih kok, Bu. Tolong bantu saya," Jawab wanita bercadar itu.


"Tapi Tuan Muda Rifki tidak mengatakan apapun tentang itu, apa anda sudah ada janji dengannya sebelumnya?"


"Maaf Mbak, tidak boleh sembarangan orang untuk bertemu dengannya. Mbak bisa kembali nanti,"


"Tapi..."


"Dia tidak ada dirumah, Mbak. Mbak bisa datang lain kali saja,"


"Bolehkah saya menunggunya disini? Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, Mbak. Agar anak saya bisa bersekolah lagi,"


"Baiklah. Anda tunggu disini saja,"


Bi Sari langsung menyuruh Ana untuk duduk disebuah kursi yang ada diteras rumah besar itu, Ana pun hanya menuruti perintah saja, ini sudah cukup membuatnya sangat gugup. Setelah sekian lama dirinya pergi dari rumah itu, dan baru pertama kali dirinya datang lagi ketempat itu.


Ana memandangi halaman sekitarnya, sementara Bi Sari masuk kedalam rumah tersebut. Sama sekali tidak ada perubahan disana, dan mereka benar benar merawat seluruh tanaman yang ada disana dengan baik. Tanaman bunga bungaan yang ada dirumah itu adalah tanaman kesukaannya, dan sampai sekarang tidak ada yang merubahnya sedikitpun.


"Dia tau apa yang aku sukai, bahkan dirinya merawatnya dengan baik. Rifki, aku pulang," Ucapnya lirih sambil memandang halaman sekitarnya.


Tak beberapa lama kemudian, Bi Sari keluar dari rumah tersebut sambil membawakan minuman untuk Ana. Dirinya pun langsung meletakkan minuman itu dimeja yang ada didepan Ana, hal itu langsung membuat Ana menoleh kearahnya karena terkejut atas kedatangannya.


"Perumahan itu cukup jauh dari sini, saya buatkan minuman untuk anda. Mungkin anda kehausan dijalan, jadi saya buatkan minuman," Ucap Bi Sari dengan senyuman ramahnya.


"Terima kasih ya, Bu. Maaf jadi merepotkan anda,"


"Silahkan diminum,"


"Baik Bu."


Ana lalu menggerakkan tangannya untuk mengambil segelas minuman tersebut, dirinya pun langsung meminumnya karena memang dia merasa sangat haus saat ini. Butuh waktu kurang lebih selama 2 jam untuk sampai dirumahnya itu, sehingga dirinya merasa sangat haus.


"Mbak tau alamat ini dari mana? Kenapa bisa tau kalau ini adalah rumah Tuan Muda Rifki?" Bi Sari merasa sangat penasaran dengan sosok wanita yang ada didepannya itu.


Sebenarnya Ana berangkat menuju kerumah itu sejak pukul 7 pagi, dan dirinya tiba dirumah besar itu ketika menunjukkan pukul setengah 10 siang. Akan tetapi dirinya menunggu didepan gerbang selama kurang lebih 2 jam, karena merasa kasihan hal itu langsung membuat Pak Santo menyuruhnya untuk masuk kedalam halaman rumah besar itu agar Bi Sari bisa memberinya minuman.

__ADS_1


"Saya diberitahu teman saya, Bu. Katanya Tuan Muda dirumah ini sangat baik, dan bisa membantu perekonomian keluarga saya. Jadi saya datang kemari untuk melamar pekerjaan,"


"Teman anda namanya siapa?"


Ana pun kebingungan harus menjawabnya apa, karena sebelumnya dirinya asal datang kerumah itu hanya untuk melamar pekerjaan. Ana pun berpikir sejenak untuk bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, dirinya pun menghela nafas pelan.


"Namanya Dokter Affan, katanya saya disuruh untuk melamar disini. Mungkin saja dengan cara bekerja disini, saya bisa menyekolahkan anak anak saya,"


"Dokter Affan..." Bi Sari pun mengingat ingat tentang nama tersebut.


Dokter Affan adalah suami dari Susi. Ana tidak tau bahwa keduanya sudah menikah saat ini, terakhir kali ketika mereka bertemu, Dokter Affan lah yang mengobati luka yang ada dipunggung Rifki. Entah mengapa nama itu yang terpikirkan oleh Ana saat ini, sehingga dirinya mengatakan nama itu.


"Dokter Affan yang menyarankan saya untuk melamar pekerjaan disini," Ucap Ana.


"Baiklah. Mungkin sebentar lagi Tuan Muda akan datang, anda nanti bilang kepadanya sendiri tentang alasan anda ingin bekerja ditempat ini," Ucap Bi Sari kepada Ana.


"Iya Bu."


Ana merasa deg deg an ketika menunggu kedatangan Rifki dirumah tersebut, terakhir kali dirinya bertemu waktu itu Rifki tidak sadarkan diri sehingga dia tidak dapat melihat keindahan mata Rifki ketika membuka kedua matanya. Sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan orang yang paling dicintainya, meskipun dengan identitas yang berbeda ketika bertemu dengannya.


Ana merasa canggung dirumahnya sendiri saat ini, mungkin memang dirinya dianggap orang lain saat ini akan tetapi tidak ada yang mengetahuinya bahwa dia juga adalah pemilik rumah besar itu. Keduanya saling berdiam diri tanpa ada percakapan, sehingga membuat Ana semakin tidak bisa berkata apa apa lagi selain duduk diam dan menunggu kedatangan Rifki dirumah tersebut.


"Kalau boleh tau, mengapa Mbak ingin sekali melamar pekerjaan? Apakah suami Mbak sudah mengizinkan Mbak untuk bekerja?" Tanya Bi Sari tiba tiba kepada Ana.


"Suami saya merantau jauh, Bu. Belakangan ini tidak ada kabar darinya, saya bingung bagaimana cara saya untuk bisa menyekolahkan anak saya, karena belakang ini dirinya tidak pernah mengirimkan uang. Jadi saya memutuskan untuk bekerja tanpa seizin darinya," Ucap Ana beralasan.


"Kasihan sekali. Memang nasib orang itu berbeda beda, yang sabar ya, Mbak. Mungkin suaminya masih ada masalah disana, sehingga belum sempat untuk mengirim uang dan memberi kabar. Pasti suatu saat nanti kalian bisa bertemu kembali,"


”Iya Bu."


Tin tin


Tiba tiba terdengar bunyi sebuah klakson mobil, hal itu langsung membuat Pak Santo segera bergegas untuk membukakan pintu gerbang. Sebelumnya Pak Santo mengizinkan Ana untuk masuk kedalam karena merasa kasihan, dan menyuruh Ana untuk duduk di gazebo sambil menunggu Rifki datang.


Dirinya merasa terkejut ketika halaman rumah itu sama sekali tidak ada yang berubah selama 11 tahun lamanya. Hanya saja bunga bunga yang ada disana belum bermekaran, sehingga hanya terlihat hijau daun saja. Sebuah mobil pun berhenti didepan rumah besar itu, nampak sosok Bayu yang keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu bagi Rifki.


"Bersikaplah sopan, Tuan Muda sudah datang," Ucap Bi Sari kepada Ana.


"Baik, Bu."


Bi Sari tidak tau bahwa orang yang diajaknya berbicara saat ini adalah Nona Muda nya sendiri, karana dirinya yang memakai sebuah cadar hingga tidak dikenali apalagi ada sedikit perubahan dalam suaranya setelah dirinya melahirkan. Melihat sosok Rifki yang keluar dari mobil, membuat Ana tersenyum bahagia ketika dirinya bisa melihat wajah suaminya itu.


Ana tidak punya pilihan lain, jika dirinya bekerja dirumah itu maka dia bisa menjaga Rifki tanpa mengungkapkan identitasnya, dan melindungi Kinara tanpa ada yang mengetahuinya. Dirinya masih mengingat dengan jelas kejadian yang dialami oleh Rifki beberapa hari yang lalu, hal itulah yang membuatnya datang kerumahnya hanya untuk melamar pekerjaan.


"Siang Tuan Muda," Ucap Bi Sari dengan sopannya kepada Rifki.


"Siang," Jawab Rifki.


Rifki berjalan dengan gagahnya menuju kerumah, dan diikuti oleh Bayu dan Reno dibelakangnya. Dirinya pun menghentikan langkahnya dihadapan Bi Sari, lebih tepatnya ketika dirinya melihat sosok asing berada dilingkungan rumahnya itu.


"Siapa dia, Bi?"


"Dia ingin melamar menjadi pembantu disini, Tuan Muda. Dia datang dari jauh," Ucap Bi Sari yang tidak dihiraukan oleh Rifki.


Pandangan keduanya bertemu, keempat mata keduanya saling menatap satu sama lain. Ana pun tersenyum dibalik cadarnya, dirinya pun menundukkan kepalanya untuk hormat kepada sosok lelaki yang ada dihadapannya itu.


"Nadhira," Ucap Rifki lirih hingga tidak didengar oleh siapapun.


Ana yang memerhatikan mimik bicara Rifki pun mengetahui apa yang Rifki ucapankan. Dari kedua mata wanita yang ada didapannya, hal itu membuat Rifki melihat bayangan Nadhira disana, akan tetapi dirinya sadar bahwa Nadhira tidak akan kembali kepadanya.


"Nama saya Ana, Tuan." Dengan cepatnya Ana langsung berbicara.


"Maaf sebelumnya, Tuan Muda. Katanya dia ingin melamar pekerjaan untuk jadi pembantu disini," Sela Bi Sari.


"Anda bisa cari ditempat lain saja, disini tidak membutuhkan pembantu lagi," Ucap Rifki dengan tegasnya dan langsung melangkah masuk kedalam rumahnya itu. "Bi, suruh dia pergi dari sini," Tambahannya.

__ADS_1


__ADS_2