
Kinara pun celingukan didepan rumahnya itu, ia pun mencari celah yang aman untuk menghindari Mamanya yang sedang menunggunya didepan rumah itu. Ana begitu khawatir ketika anaknya belum pulang pulang sampai sekarang, dirinya ingin mencari Kinara akan tetapi tidak tau harus mencarinya dimana.
Ana pun mondar mandir kesana kemari sambil menunggu kepulangan dari anaknya itu, sampai sore Kinara belum kembali pulang juga. Itu semakin membuatnya merasa sangat khawatir dengan anak satu satunya itu.
"Pasti bakalan diomelin sama Mama, aku harus jawab apa kalo ditanya nanti? Mama sih suka ngomel ngomel ngak jelas, kan Nara jadi takut kalo ketemu sama Mama." Guman Kinara sambil bersembunyi dibalik semak semak yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Ana pun berpura pura untuk masuk kedalam rumahnya ketika tanpa sengaja melihat seseorang yang tengah bersembunyi dibalik sebuah semak semak yang berada tidak jauh darinya. Dirinya pun mencoba untuk keluar dari pintu belakang, dirinya langsung bergegas untuk menghampiri seseorang tersebut, dan langsung berdiri dibelakang anaknya.
Ana tidak menyangka bahwa seseorang tersebut adalah anaknya sendiri yang entah sejak kapan sudah bersembunyi disana, ia pun menggeleng gelengkan kepalanya karena kelakuan Kinara yang membuatnya selalu berada didalam rasa khawatirnya terus.
Ana pun menyentuh pundak anaknya, akan tetapi langsung ditangkis oleh anaknya itu. Dirinya pun melakukan hal yang sama, akan tetapi anaknya belum menyadari akan kedatangannya disana dan kembali menangkis tangannya itu.
"Diamlah, nanti Mama tau kalo aku ada disini, terus nanti kena omel lagi," Ucap Kinara yang masih fokus kepada rumahnya tanpa menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang telah menyentuh pundaknya itu.
Akan tetapi, Ana masih tetap menyentuh pundak anaknya tersebut dan lagi lagi ditangkis oleh Kinara. Ana pun bersedekap dada sambil menatap kearah anaknya itu, bahkan anaknya sendiri tidak menyadari akan kedatangannya ditempat itu.
Sejak tadi ditungguin ternyata Kinara berada ditempat itu, Kinara masih tetap fokus kepada halaman rumahnya untuk mencari cela agar tidak diketahui oleh Ibunya, akan tetapi tanpa dirinya sadari bahwa dirinya sudah ketahuan sejak lama.
"Seperti sudah sepi," Bisik Ana ditelinga anaknya.
"Kamu benar, Mama pasti sedang dikamarnya kan? Aman untuk masuk kerumah," Jawab Kinara tanpa menoleh ke belakang bahwa yang berbicara itu adalah Mamanya sendiri.
"Iya mungkin, ayo masuk sekarang,"
Kali ini suara Ana dibuat seperti suara normalnya, dan hal itu langsung membuat Kinara melototkan kedua matanya ketika mendengar suara tersebut, anaknya itu lalu menoleh kebelakangnya dan begitu terkejut ketika melihat sosok Mamanya sudah berdiri dibelakangnya.
"Mama," Ucap Kinara sambil menyengir bagaikan kuda dihadapan Mamanya itu.
"Ngapain disini, Nak?" Tanya Nadhira dengan nada seperti tengah siap untuk menerkam Kinara.
"Itu Ma, itu.. ah anu Ma.."
"Jawab yang bener, jangan itu itu anu anu. Jawab yang benar," Ucap Ana dengan tegasnya.
"Maaf Ma, Nara telat pulangnya saat ini. Tadi Nara jatuh terus Nara nangis deh," Ucap Kinara sambil menundukkan kepalanya.
"Jatuh? Jatuh dimana, Nak? Apanya yang sakit? Kamu ngak papa kan? Kenapa bisa jatuh? Mana yang luka?" Tanya Ana yang beruntun karena khawatirnya dengan kondisi putri semata wayangnya itu.
"Tangan Nara luka, Ma. Tapi untung saja ada Om baik yang ngobatin Nara tadi,"
Kinara pun langsung menunjukkan bekas lukanya itu kepada Ana, melihat bekas luka tersebut langsung membuat Ana cemas. Meskipun itu hanyalah luka kecil, akan tetapi Ana tidak rela jika anak tersayangnya itu terluka walau sedikit.
"Bagaimana bisa terluka seperti ini sih, Nak? Lain kali kalo hati hati kalo jalan, pasti sakit kan?"
"Sakit banget, Ma. Tadi sampe Nara nangis ketika diobati sama Om baik,"
"Nahkan, jangan lari larian lagi. Nanti kalo Nara jatuh lagi gimana?
"Nara ngak main lari larian kok, Ma. Tadi Nara hampir tertabrak sama mobil, Ma. Tapi untung saja Nara ngak papa dan cuma luka seperti ini saja."
"Astaghfirullah Nak, udah Mama bilang kan? Jangan main dijalanan, kalo kamu kenapa kenapa nanti Mama sedih. Kinara mau lihat Mama sedih lagi? Jangan main lari larian,"
"Mama ngak boleh sedih, maafin Nara ya Ma? Tadi Nara mau nyebrang tapi ngak lihat lihat dulu,"
"Jangan diulangi lagi,"
"Iya Ma. Oh iya Ma, tadi Nara ketemu sama Om baik sekali sama Nara, dia naik mobil dan mobilnya besar sekali, Ma. Dan mobilnya itu sangat bagus, mungkin kalo diparkiran depan rumah kayak ngak muat, Ma. Terus dia juga yang ngobatin luka Nara, sambil ditiup tiup biar ngak terasa sakit,"
"Nara sudah bilang terima kasih ngak, ke Om nya? Kan dia sudah ngobatin Nara,"
"Sudah kok, Ma. Tadi Nara sudah bilang terima kasih ke dia, terus dia ngusapin kepala Nara dengan pelan. Dia bilang kalo nama Nara itu bagus, terus dia juga muji Nara, katanya Nara itu cantik."
"Mama jadi penasaran siapa Om baik itu,"
"Dia tampan banget, Ma. Tapi temannya berani ngomelin Nara tadi, untung saja Om baik malah belain Nara dan malah marahin temannya itu. Nara ngerasa seperti diusap oleh Ayah Nara sendiri, Ma. Om itu benar benar baik sama Nara,"
"Kenapa diomelin? Nara berbuat salah ya?"
"Iya sih, Ma. Nara yang salah memang, Nara tadi nyebrang jalan tapi ngak lihat lihat dulu, jadinya hampir ketabrak mobil itu."
"Lain kali jangan mainan dijalanan ya? Banyak kendaraan yang lalu lalang disana, jangan main lari larian sembarangan. Nanti malah ketabrak lagi, nanti yang sakit Nara sendiri kan? Terus Mama sedih kalo Nara kenapa kenapa,"
"Ucapan Mama sama persis dengan ucapan Om baik, dan ngak ada bedanya. Om baik juga ngomong begitu tadi," Kinara pun mengingat ingat tentang ucapan Rifki sebelumnya itu.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Oh iya Ma, apa Nara juga punya seorang Ayah? Nara pengen banget punya Ayah, Ma. Biar sama kayak temen temen Nara yang lainnya,"
Deg
Pertanyaan tersebut langsung membuat hati Ana terasa tercabik cabik, entah apa yang harus dijawabnya saat ini. Ana lalu mengusap kepala anaknya dengan pelannya, dirinya tidak tau lagi apa yang hsrus dikatakannya kepada anaknya itu.
"Nara juga punya Ayah sama kayak temen temen Nara yang lainnya, Ayah Nara adalah orang yang sangat baik, dan penyayang."
"Lalu kenapa dia meninggalkan Nara begitu saja, Ma? Mama pernah janji kan sama Nara dulu, kalo Nara sudah besar Mama akan bawa Nara untuk ketemu sama Papa. Tapi kapan itu, Ma? Nara juga pengen disayang oleh papa."
"Nara, Mama juga sangat rindu dengan Papamu, tapi ini belum waktunya kita akan bertemu kembali dengan Papa. Nara yang sabar ya, Nak. Kalo Nara sudah dewasa dan menjadi gadis yang cantik, kita pasti bertemu dengan Papa."
"Nara sudah dewasa, Ma. Papa jahat kenapa ngak jemput Nara sama Mama, justru dia membiarkan kita begitu saja."
"Nara ngak boleh ngomong gitu,"
"Lalu siapa Papa Nara, Ma? Kenapa dia tidak mau pulang kemari? Nara pengen ketemu sama Papa,"
"Dengarkan penjelasan Mama dulu, Nak."
"Mama jahat!"
Kinara pun langsung bergegas untuk berlari masuk kedalam kamarnya itu, dirinya pun langsung mengunci pintu kamarnya begitu saja. Meskipun usianya masih 10 tahun, akan tetapi Kinara kecil pun mengunci diri didalam kamarnya seorang diri.
"Ada apa, Nak?" Tanya Bu Siti sambil mendekati Ana yang tengah meluruh kelantai saat ini.
"Apa yang harus aku jelaskan kepada Nara mengenai Rifki, Bu? Nara marah sama aku karena tidak bisa menjelaskan apapun mengenai Papanya kepadanya," Ucap Ana sambil menitihkan air matanya.
"Inilah resiko yang aku takutkan selama ini, Nak. Semoga saja, Nara tidak akan pernah membenci Ayahnya sendiri."
"Sepertinya akan sangat sulit untuk merubah jalan pikirannya, Bu. Aku melakukan ini hanya demi kebaikannya, aku ngak mau kehilangan Nara ataupun Rifki. Musuh kami terlalu banyak, dan aku tidak akan sanggup untuk menghadapi mereka untuk melindungi Nara jika sampai mereka tau identitas Nara yang sebenarnya sebelum dirinya tumbuh dewasa."
"Biar Ibu yang berbicara dengan Nara,"
Ana pun menganggukkan kepalanya kepada Ibu angkatnya itu, dirinya pun bergegas untuk menghampiri pintu kamar Nara dan mengetuknya pelan.
"Nara sayang, buka pintunya untuk Nenek, Nak. Nenek mau ngomong sama dirimu," Ucap Bu Siti.
"Nara, sudah dong, Nak. Buka pintunya, Nenek mau masuk,"
"Nara, Nara mau buat Mama nangis lagi?" Ucap Nadhira yang ikut serta mengetuk pintu kamar Kinara.
"Nara mau ketemu sama Papa, Ma. Nara juga pengen tau siapa Papa Kinara,"
"Nara, buka pintunya sekarang atau Mama dobrak?"
"Nak, jangan kasar kasar sama Nara," Ucap Bu Siti memberitahu Ana.
"Tapi Bu, kalau keterusan seperti ini dia bakalan sering ngunci diri didalam kamar,"
"Beritahu dia pelan pelan,"
"Baik Bu,"
Kinara yang kini tengah duduk sambil memeluk kakinya sendiri dipojokan kamar itu pun tengah menangis, pertemuannya dengan Rifki membuatnya menginginkan kehadiran seorang Ayah dalam hidupnya. Dirinya yang selalu hidup tanpa sosok Ayah itu pun kini sangat menginginkan Ayahnya kembali pulang bersamanya.
"Kinara pengen tau siapa Ayah Nara, Ma! Kinara juga pengen punya Ayah seperti teman teman Nara," Ucapnya sambil berteriak dibalik kedua kakinya yang kini dirinya tengah membenamkan wajahnya disana.
"Mama tau, Nara buka pintunya dulu ya? Mama akan kasih tau siapa Ayah Nara," Teriak Ana dari luar.
Tak beberapa lama kemudian, Kinara pun membuka pintu kamarnya, kedua matanya sudah memerah karena menangis. Hal itu langsung membuat Ana segera memeluknya dengan erat, pelukan yang diberikan itu terlihat seperti pelukan yang sangat merindukan seseorang.
"Maafin Mama ya, Nara. Mama ngak bisa bawa Nara untuk ketemu sama Papa, kalo Nara sudah besar nanti Nara bisa bertemu dengan Papa," Ucap Ana dengan nada parau seperti tengah menahan tangisannya.
"Siapa Papa Nara? Kenapa harus nunggu Nara dewasa dulu? Kenapa ngak sekarang aja, Ma?"
"Belum saatnya, Nak. Papa Nara adalah orang yang sangat hebat, bahkan hebat dalam beladiri. Jika Nara ingin bertemu dengan dia, maka Nara harus belajar ilmu beladiri untuk bisa bersama dengannya."
"Kenapa Nara harus belajar beladiri? Kenapa bukan Papa aja yang melindungi Nara? Kata Mama, Papa bisa beladiri,"
"Musuh Papamu sangat banyak, Nak. Sedikit saja dia lengah menjagamu, maka kau..." Ana tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya hingga membuat Kinara merasa bingung dengan penjelasan yang dikatakan oleh Mamanya itu.
__ADS_1
"Mama tolong ajari aku beladiri, aku ingin bertemu dengan Papa,"
"Mama akan ajari Nara beladiri, tapi secara perlahan lahan ya,"
"Mama serius kan? Mama ngak bohong lagi sama Nara kan?"
"Iya Nak, tapi Nara harus janji sama Mama, jangan marah lagi sama Mama seperti tadi ya?"
"Nara janji,"
Kinara pun mengacungkan jari kelingkingnya dan langsung membuat Ana melakukan hal yang sama. Keduanya pun menautkan jemarinya.
Ana lalu memeluk anaknya dengan sangat eratnya, anak satu satunya itu kini telah tumbuh dewasa.
*****
"Mama tolongin Nara!!" Teriak Kinara sambil berlari kearah rumahnya dengan gelisahnya.
Mendengar teriakan itu langsung membuat Ana dan Siska segera keluar dari rumahnya. Mereka melihat Kinara tengah berlari dengan beberapa warga dibelakangnya, entah apa lagi yang dilakukan oleh gadis kecil itu saat ini, hal itu langsung membuat Ana dan Siska menggelengkan kepalanya.
"Astaga ngapain lagi anak ini," Guman Ana ketika melihat Kinara berlari kearahnya dengan beberapa orang yang ada dibelakangnya.
"Entahlah Kak, kenapa dia dikejar kejar seperti itu?" Tanya Siska sambil memandang kearah Kinara.
Setelah sampai ditempat Ana, Kinara langsung bersembunyi dibalik punggung Ibunya itu. Beberapa warga itu langsung menghentikan langkahnya ketika mengetahui anaknya yang dikejarnya itu bersembunyi dibalik punggung Ibunya.
"Ada apa ini, Pak? Kenapa kalian mengejar anak saya seperti ini? Nara melakukan kesalahan apa lagi kali ini, Pak?" Tanya Ana.
"Dia melemparkan sayuran yang aku jual, anak ini benar benar ngak punya sopan santun, berani beraninya melemparkan daganganku begitu saja," Ucap seorang lelaki dengan marahnya.
"Iya Mbak, tiba tiba melemparkannya kepadaku, lihat nih bajuku sampai kotor seperti ini" Jawab seorang wanita yang seperti tengah habis belanja dipasar dengan baju yang tercipta beberapa noda merah karena tomat yang hancur ketika bertabrakan dengan tubuhnya itu.
"Astaga Nara, kenapa kamu berbuat seperti ini?"
"Aku bisa jelaskan kok, Ma. Maafin Nara,"
"Jelaskan kepada Mama sekarang. Ada apa ini, Nara? Kenapa kamu melemparkan seperti ini?" Tanya Ana kepada Kinara.
"Om itu mau mencuri dompet Ibu itu, Ma. Kan mencuri itu dosa, Nara mau nolong Ibu itu dengan melempar tomat eh kena Ibu Ibu itu," Jawab Kinara jujur kepada Mamanya sambil menunjuk kearah seorang lelaki yang bertubuh agak kekar.
"Enak saja kamu bilang! Mau aku hajar!" Sentak seorang lelaki yang ditunjuk oleh Kinara.
Plakkkk.... BHUKKK....
Tubuh lelaki itu langsung terpental begitu saja hingga menubruk tanah yang ada dibelakangnya. Ketika dirinya hendak melontarkan sebuah pukulan kepada Kinara, Ana tidak tinggal diam begitu saja, dirinya langsung menangkisnya dan tanpa ampun langsung melontarkan sebuah tendangan yang sangat keras.
"Selama ini, aku sendiri tidak pernah memukulnya sedikitpun, berani beraninya kau mau memukul anakku dihadapanku sendiri. MAU MATI KAU?" Ucap Ana dengan dinginnya dan juga tegas, dirinya membentak lelaki itu dikalimat terakhirnya.
Ana pun menyuruh Siska untuk memegangi anaknya itu, dan Kinara pun langsung bersembunyi dibalik punggung Siska sambil mengintip apa yang tengah dilakukan oleh Mamanya itu.
Ana begitu emosi saat ini, warga sekitar yang memang tidak pernah melihat dirinya emosi itu pun begitu sangat terkejut. Seluruhnya hanya bisa diam membisu tanpa ada yang berbicara, begitupun wanita yang dimaksudkan oleh Kinara itu.
Tangan lelaki yang ditangkis oleh Ana tersebut pun terasa sangat nyeri, dirinya merasa berbeda dengan wanita yang ada dihadapan itu, entah mengapa tangannya begitu kuat dan bahkan seperti tengah ditabrak oleh sebuah besi panjang.
Ana terlihat menyeramkan bagi lelaki tersebut, karena tatapannya yang tajam. Dirinya pun kembali bangkit dari jatuhnya hendak menyerang kearah Ana, tapi dengan mudahnya dirinya pun menangkisnya dan melontarkan sebuah pukulan dan tendangan bertubi tubi hingga membuat lelaki itu kembali terjatuh diatas tanah.
"Jangan dikira aku akan diam saja jika kau mau memukul anakku! Aku tidak akan tinggal diam begitu saja!" Sentak Ana kepada lelaki itu.
Kinara yang melihat Mamanya melakukan sebuah gerakan beladiri itu pun langsung membulatkan kedua matanya. Ternyata, Mamanya sendiri juga begitu hebat dalam beladiri, hal itu langsung membuat dirinya merasa kagum.
"Mama bilang Papa juga hebat dalam beladiri, tapi kenapa Mama dan Papa harus pisah? Siapa Papaku? Aku pengen ketemu sama Papa," Guman Kinara pelan sambil melihat Mamanya.
Setelah melakukan tendangan beruntun, Ana langsung kembali bergegas untuk menghampiri anaknya. Kinara sendiri pun langsung memegangi baju Ana dengan eratnya, seakan akan dirinya tengah ketakutan saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai gimana kabarnya? Semoga sehat sehat ya
Maafin Auhtor yang selalu telat kirim naskah ya, pekerjaan Author di real live sangat menumpuk bahkan sering begadang. Sebenarnya Auhtor sudah memikirkan gimana endingnya kisah ini, tapi ya begitu waktu untuk mengetiknya yang sulit. Tapi Author akan usahakan untuk update meskipun waktunya yang tidak tau jadwalnya.
Mungkin sambil menunggu update, bisa dibaca karya Author yang lain juga, jangan lupa mampir dikarya Author yang judulnya *Pelatihku* juga ya
Jangan lupa dukungannya biar Auhtor semangat ngetiknya
__ADS_1
Terima kasih