
Sudah cukup lama Nadhira menunggu jawaban dari Bayu akan tetapi Bayu belum juga menjawab pertanyaannya itu, dan hal itu langsung membuat Nadhira menggerakkan tangannya untuk menggoyangkan tangan Bayu.
"Bay! Rifki dimana? Kenapa kau justru diam saja Bay? Jawab pertanyaanku sekarang,"
"Loh kok nanya Rifki ke aku? Seharusnya aku yang tanya kepadamu Dhira, Rifki dimana? Kenapa tidak mengantarkanmu kesini? Oh iya, kenapa dia tidak pernah datang kekantor maupun markas? Kemana dia sekarang?"
"Aku ngak tau Bay, sudah seminggu tidak ada kabar darinya, cepat cari Rifki sampai ketemu Bay"
"Rifki hilang? Kenapa baru mengabariku sekarang Dhira! Aku akan memerintahkan anggota Gengcobra untuk mencarinya, semoga tidak terjadi sesuatu dengan dia" Bayu pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang setelah itu.
Bayu pun terlihat sangat panik sambil berusaha untuk menghubungi seseorang diseberang saja, melihat itu semakin membuat Nadhira merasa gelisah dengan apa yang dilakukan oleh Bayu, hal itu membuat Nadhira menjadi tidak tenang dan takut kalau terjadi sesuatu kepada Rifkinya itu.
"Maksudmu apa Bay?"
"Dia terluka, apa kamu tidak tau itu?"
"Terluka? Terluka kenapa Bay? Katakan kepadaku!"
"Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan kepadamu, sebaiknya kita segera mencari Rifki"
"Tapi Bay..."
"Kamu coba hubungi Rifki, aku akan mencarinya"
"Dia tidak bisa dihubungi Bay! Ponselnya sudah dibanting dan dihancurkan oleh Papa"
"Astaga Dhira, gawat, benar benar gawat! Aku pergi dulu, aku harus segera mencarinya"
Belum sempat Nadhira menghentikan langkah Bayu akan tetapi ponselnya tiba tiba berdering dan adanya nomor asing yang melakukan panggilan masuk diponsel tersebut, Nadhira sedikit ragu untuk mengangkatnya.
"Siapa yang telpon? Kenapa nomornya tidak dikenal, angkat ngak ya? Ngak deh, nanti orang jahat, tapi kalo ngak diangkat nanti takutnya penting"
Karena terlalu lama untuk memikirkan itu membuat nada dering ponselnya berhenti, tak beberapa lama kemudian ponselnya kembali berbunyi sehingga membuat Nadhira segera mengangkatnya.
"Halo assalamualaikum, ini dengan siapa ya?" Tanya Nadhira.
"Waalaikumussalam, maaf menganggu waktunya Bu, kami dari pihak rumah sakit Candra Kirana, apakah ini keluarga dari Bapak Rifki Chandra?" Tanya seseorang dari seberang sana.
"Iya, saya istrinya, ada apa dengan Rifki? Apa yang terjadi dengan dirinya?"
"Mohon maaf sebelumnya, kami hanya ingin memberitahukan bahwa suami anda yang bernama Rifki Chandra mengalami kecelakaan yang sangat tragis dan meninggal dunia sebelum sampai dirumah sakit Candra Kirana, mohon kedatangan anda untuk menjemput jenasahnya dirumah sakit dan mengotopsi apakah ini benar benar jenazahnya atau bukan"
"Apa!! Bagaimana bisa?"
"Untuk pemberitahuan lebih lanjutnya, mohon anda segera datang kerumah sakit"
Tangan Nadhira seakan akan melemas dan bergetar hebat mendengarnya, ponselnya tersebut pun langsung terlepas dari genggamannya tangannya dan melundur bebas hingga sebagian layarnya retak karena jatuhnya itu.
"APA! Tidak mungkin hiks.. hiks.. hiks.. huaa... Dia tidak mungkin pergi meninggalkan diriku, tidak mungkin!" Nadhira begitu terkejut mendengar dan kakinya langsung lemas begitu saja hingga membuatnya terjatuh dilantai.
Air mata Nadhira berjatuhan begitu saja, seakan akan dia tidak memiliki tenaga lagi untuk dapat bangkit dari jatuhnya itu, ucapan tersebut berhasil menusuk hatinya hingga membuatnya merasa sangat bersalah dan bersedih saat ini.
"Dia tidak mungkin pergi kan? Dia tidak mungkin meninggalkan diriku kan? Ini semua pasti bohongan bukan kenyataan, dia ngak mungkin pergi secepat ini untuk meninggalkan diriku" Ucap Nadhira lirih dengan pandangan kosong kedepan.
Rasa sesak pun menyelimuti dadanya, mengetahui kabar seperti itu membuatnya merasa lemas seketika, hal hal yang telah dilalui bersama itu pun perlahan lahan mulai muncul kembali didalam ingatan Nadhira.
((((("Bay, punggung Rifki kenapa? Kenapa bajunya ada bercak darah?" Tanya Nadhira ketika melihat adanya sedikit bercak darah.
"Biarkan Rifki yang akan menjelaskan itu kepadamu Dhira, setelah ini tanyakan saja kepadanya"
"Apa dia terluka?" Dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Bayu, "Kenapa dia bisa terluka? Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya?"
**
"Kenapa ada bungkus obat ini disini?"
"Maaf, aku lupa membuangnya tadi, biar aku buang sekarang ya, biar ngak lupa lagi nanti" Rifki langsung mengambil bungkus obat tersebut dari tangan Nadhira begitu saja.
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
"Aku ngak apa apa, aku juga ngak tau kenapa bungkus obat ini bisa ada disini, ya sudah aku mau buang ini dulu"
"Kalo ngak ada apa apa kenapa kamu sangat gelisah ketika aku melihatnya?"
"Ngak apa apa, hanya pikiranmu saja kali Dhira, obat ini juga kan udah ngak ada isinya, kalo ngak dibuang lalu buat apa ada disini"
"Tapi, itu adalah obat luka, kamu terluka?"
"Ngak, bagaimana mungkin aku bisa terluka, kamu ada ada aja Dhira"
**
"Dhira jangan galak galak, aku jadi takut denganmu" Cicit Rifki pelan.
"Bodoamat! Minggir sana, jangan dekat dekat!"
"Maaf"
Rifki pun menundukkan kepalanya dalam, Nadhira benar benar marah kepadanya saat ini, Nadhira pun meraih sebuah gelas karena dirinya merasa haus, melihat itu membuat Rifki segera mengambilkan gelas yang berisi air itu dari nakas.
"Aku bisa sendiri!" Teriak Nadhira sambil merampas gelas yang ada ditangan Rifki.
"Aku hanya membantumu sayang, maaf ya"
"Aku ngak butuh bantuanmu, aku bisa melakukannya sendiri tanpa dirimu"
"Dhira maaf"
"Duduk disofa atau keluar dari sini sekarang!"
"Baiklah aku akan duduk disofa, jangan marah lagi, nyeremin tau")))
Nadhira kembali teringat perkataan Bayu waktu itu ketika Nadhira bertanya kepada Bayu mengenai punggung Rifki, pertanyaannya kembali terngiang ngiang dikepalanya hingga membuatnya memegangi kepalanya dengan erat.
Nadhira juga teringat dengan dirinya yang menemukan sebuah bungkus obat ditas ransel milik Rifki pada waktu dirinya berada dirumah sakit, ingatan itu pun langsung bersangkutan satu sama lainnya dan mengisi pikiran Nadhira.
"Dhira terlalu jahat denganmu ya Rif, sampai sampai kau meninggalkan Dhira tiba tiba seperti ini, maafin Dhira, Dhira mohon jangan tinggalkan aku seperti ini Rifki, kau pasti baik baik saja kan? Dan itu bukanlah dirimu kan Rif?" Bibir Nadhira bergetar seraya mengatakannya.
"Ada apa Nona Muda? Anda kenapa? Apakah anda sakit?" Tanyanya kepada Nadhira yang kini sudah berderaian air mata.
Tanpa menjawab ucapan tersebut Nadhira langsung berlari menuju kemobilnya tersebut dan masuk kedalamnya dengan cepat, melihat Nadhira yang menangis membuat Pak Mun merasa bingung.
"Apa ada Nona Muda?" Tanya Pak Mun.
"Kita kerumah sakit Candra Kirana Pak, Rifki kecelakaan" Ucap Nadhira dengan linangan air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Innalilahi, baik Non Dhira"
"Ini semua ngak bohong kan? Rifki ngak mungkin ninggalin Dhira sendirian seperti ini, Rifki pasti baik baik saja kan? Dia tidak mungkin ninggalin Dhira seperti ini, Rifki harus tetap hidup, Rifki sudah janji kepada Dhira bahwa Dhira yang akan pergi dulu bukan Rifki"
"Yang tenang Non Dhira, jangan nangis seperti itu, Pak Mun jadi sedih dengernya, kita doakan saja semoga semuanya baik baik saja"
"Dia bohong Pak, dia mengingkari janjinya, dia janji bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Dhira, tapi nyatanya apa? Dia justru pergi"
"Non tenang dulu, kabar itu belum tentu benar adanya, bisa saja kan itu adalah orang lain"
Pak Mun segera menjalankan mobilnya itu untuk menjauh dari tempat Surya Jayantara, Nadhira tak henti hentinya untuk terus meneteskan air mata ketika mendengar kabar bahwa Rifki mengalami kecelakaan.
Seakan akan ucapan Haris terus terngiang ngiang dikepalanya, Haris mengatakan bahwa Rifki tidak akan kembali sampai nyawanya tiada, dan hal itu benar benar terjadi saat ini, ingin rasanya Nadhira pergi dari dunia ini sekarang juga.
Ketika berada ditengah tengah perjalanan tiba tiba ponselnya kembali bergetar, nama Mama Putri terpampang di layar ponsel tersebut hal itu membuat Nadhira langsung mengangkat telponnya dengan suara yang bergemetaran.
"Halo Ma"
"Kamu dimana? Pulang sekarang Nak, Mama tunggu dirumah sekarang"
"Dijalan Ma, Dhira kau kerumah sakit"
"Ngak usah, Papamu sudah kesana, sekarang kamu cepat pulang, hati hati dijalan"
__ADS_1
"Iya Ma, Dhira pulang"
Putri lalu mematikan telponnya begitu saja, Nadhira pun hanya menuruti permintaannya tersebut dan menyuruh Pak Mun untuk mengantarnya kembali kerumah kedua mertuanya itu, diperjalanan perasaan Nadhira tidak bisa tenang dan bahkan air matanya tak henti hentinya untuk terus menetes.
Sesampainya dirumah itu, terlihat anggota Gengcobra sudah berkumpul dirumah kedua orang tua Rifki, melihat itu Nadhira segera berlari keluar dari dalam mobilnya itu untuk menghampiri Putri yang berada diruang tamu.
Nadhira berlari tanpa mempedulikan sekitarnya, ia pun langsung menjatuhkan pelukannya ditubuh Putri yang tengah menangis saat ini, ini benar benar mimpi yang terlalu mendadak.
"Ini tidak benar kan Ma? Ini hanya mimpi kan? Rifki tidak mungkin meninggalkan Dhira kan Ma? Jawab Ma, jawab pertanyaan Dhira" Bibir Nadhira bergetar seraya mengatakan hal itu.
"Mama ngak tau Nak, Mama harap ini juga mimpi" Putri pun membalas pelukan Nadhira dengan sangat eratnya.
"Ngak mungkin Ma! Dia pasti baik baik saja"
"Sabar Nak"
"Ngak Ma! Ngak mungkin dia pergi secepat ini kan Ma? Dia ngak mungkin meninggalkan Dhira begitu saja, ngak mungkin"
Terdengar isak tangis Nadhira yang memilukan dan menyayat hati, setelah tidak mendapatkan kabarnya begitu lama kini tiba tiba Rifki memberi kabar bahwa dirinya sudah tiada, itu adalah pukulan yang sangat keras untuk Nadhira.
Tak beberapa lama kemudian datanglah sebuah mobil yang membawa jenazah Rifki menuju kerumah, sebuah bangkar diturunkan dari dalam mobil ambulance dengan sosok seorang yang terbaring diatasnya sambil ditutupi dengan kain yang besar.
"TIDAK MUNGKIN!" Nadhira berteriak histeris.
Nadhira lalu bangkit dan berlari kearahnya itu, hingga dirinya berdiri disamping bangkar tersebut, ia sama sekali tidak mempercayai apa yang saat ini dirinya lihat, sebuah tubuh yang terbaring beserta dengan kain lebar yang menutupinya.
"Ini bukan Rifki kan? Dia tidak mungkin meninggal dunia, dia bukan Rifkiku, Rifki pasti baik baik saja"
Nadhira pun menubrukkan tubuhnya kepada tubuh Rifki untuk memeluk lelaki itu, dapat terdengar suara isak tangis Nadhira yang sangat menyayat hati itu, Haris yang berada disebelah Nadhira pun langsung memegangi pundak Nadhira.
"Rifki tidak mungkin meninggal kan Pa? Ini bukan Rifki kan Pa? Rifkiku masih hidup, tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi kepada Rifki" Tanya Nadhira dengan linangan air mata.
"Dia menepati ucapan Papa, dia tidak akan kembali dengan nyawanya, akhirnya itu terjadi kepadanya dan dia sudah meninggalkan kita"
"Ngak Pa! Rifki ngak mungkin meninggal seperti ini, hiks.. hiks.. hiks.. Rifkiku masih hidup, dia tidak mungkin meninggalkanku begitu saja"
"Kenapa kamu menangis? Sudah jangan menangis, dia sudah pergi, iklaskan saja kepergiannya biar dia tenang dialam barunya"
"Tidak Pa, Rifki tidak boleh meninggalkan Nadhira sendirian seperti ini Pa, ini sama sekali tidak adil bagi Dhira jika harus kehilangan Rifki"
"Sabarlah Nak"
Nadhira pun memeluk tubuh Rifki dengan sangat eratnya, sudah tidak terhitung lagi berapa banyak air mata Nadhira yang berjatuhan saat ini, ia sangat rindu dengan Rifki dan dia tidak mau kehilangan Rifki untuk selama lamanya.
"Rif bangun Rif, kau pernah berjanji bahwa kau tidak akan meninggalkanku kan, dimana janjimu itu Rif, kenapa kau pergi meninggalkanku secepat ini Rif? Kenapa?
Kau harus bangun sekarang juga, kalo kau tidak bangun maka akau akan membencimu seumur hidupku, aku tidak mengizinkanmu pergi! Jangan pergi tinggalkan aku" Nadhira menggoyang goyangkan tubuh Rifki dan berhadap bahwa lelaki itu akan membuka kedua matanya.
Kain yang menutupi wajah Rifki tersebut terbuka karena tertiup angin, hal itu menampakkan kedua mata Rifki yang terpejam dengan eratnya, dan terlihat adanya kedamaian dari wajah Rifki
Nadhira pun memandangi wajah Rifki yang damai itu, ia pun mengusap pelan kepala Rifki dengan penuh kasih sayang meskipun air matanya kerap terus mengalir dengan derasnya itu, dan bibir Rifki nampak terlihat sudah membiru.
Nadhira pun memegangi tangan Rifki dengan erat, dan menenggelamkan wajahnya ditangan tersebut, isak tangis Nadhira terdengar lirih karena tertutup dengan tangan Rifki akan tetapi suaranya mampu terdengar dengan jelas.
"Rifki tidak mungkin tinggalin Dhira kan? Rifki pasti bangun untuk Dhira kan? Rifki jangan pergi, Dhira ngak mau kehilangan Rifki seperti ini, kalo Rifki pergi nanti yang jagain Dhira siapa? Yang akan ngelindungin Dhira dari bahaya siapa? Yang akan membuat Dhira bahagia siapa?
Dhira ngak mau kehilangan Rifki secepat ini, hanya Rifki yang bisa membuat Dhira bahagia, tanpa Rifki disamping Dhira, lalu Dhira bakalan bahagia dengan siapa? Dhira tidak punya alasan lagi untuk bahagia jika kau pergi meninggalkan Dhira seperti ini,
Hanya Rifki yang Dhira punya, Dhira ngak mau Rifki pergi seperti ini, Dhira mohon bawa Dhira sekalian jika ingin pergi, Mama sama Oma sudah ngak ada Rif, kenapa kau juga ingin meninggalkan Dhira seperti ini,
Katanya kamu tidak akan membuat Dhira nangis dan akan selalu menjaga Dhira dengan baik, tapi ini apa Rif? Kau justru membuat Dhira menangis seperti ini sekarang, bangun Rif, jangan buat Dhira menangis seperti ini, Dhira mohon kepadamu,
Kamu ngak boleh pergi begitu saja Rif, aku tidak akan mengizinkan dirimu untuk melakukan itu kepadaku sekarang, kau harus bangun demi diriku,
Kau pernah berjanji kepadaku bahwa akulah yang akan pergi lebih dulu daripada dirimu, tapi kenapa kau sendiri yang melanggar janji itu Rif? Ini sama sekali tidak adil untukku, kenapa kau pergi secepat ini Rif? Kenapa sayang?"
"Sudah Nak, untuk apa ditangisi? Biarkan saja dia pergi, bukankah kau sudah tidak mencintainya lagi? Ikhlas saja dia, bukankah dirimu juga sudah tidak ingin melihat wajahnya lagi?"
"Dhira akan tetap mencintai Rifki, sampai kapan pun cinta Dhira hanya untuk Rifki seorang, Dhira memang marah kepadanya, tapi bukan berarti Dhira mau dia pergi seperti ini Pa, tidak akan ada orang yang bisa menggantikan posisi Rifki dihati Dhira,
__ADS_1
Rifki adalah milik Dhira, selamanya akan seperti itu, Dhira sangat menyayangi Rifki, Rifki adalah kekuatan terbesar bagi Dhira selama ini untuk terus bertahan hidup, dia tidak boleh pergi seperti ini Pa, jika dia pergi siapa lagi yang akan membuat Dhira bahagia? Sementara kebahagiaan Dhira hanyalah Rifki seorang Pa"