Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Berurusan dengan polisi


__ADS_3

Tiba tiba ada empat orang yang tengah berlari kearah gadis itu sambil membawa kayu dan juga ada yang membawa senjata tajam, sementara gadis tersebut yang melihat itu segera bangkit dari jatuhnya untuk berlari menghindari keempat orang tersebut akan tetapi gadis itu seperti tidak sanggup untuk bangkit dari duduknya.


"Siapa mereka? Kenapa mereka mengejar gadis kecil itu?" Tanya Nadhira ketika melihat keempat orang tersebut dari dalam mobil.


Nadhira segera keluar dari dalam mobil tersebut untuk mendatangi anak kecil yang tiba tiba lewat didepan mobil mereka tersebut, keempat orang itu sepertinya berniat jahat kepada gadis kecil tersebut, Nadhira segera memeluk tubuh gadis tersebut ketika mengetahui bahwa salah satu dari keempat orang itu hendak memukul gadis tersebut menggunakan kayu yang cukup besar.


Nadhira tengah bersiap siap untuk merasakan sakitnya pukulan itu akan tetapi yang ditunggu tunggu tak kunjung ia rasakan karena tangan Rifki tengah memblokir pukulan tersebut, melihat itu anak Gengcobra yang ada didalam mobil segala berdiri mengitari mereka.


"Kenapa kau kasar sekali dengan gadis ini? Jika kau berani lawan aku, kenapa harus melawan gadis kecil seperti ini, apa kau takut dengan diriku?" Tanya Rifki dengan nada yang sangat dingin.


"Kakak tolong aku hiks.. hiks.. hiks.. mereka ingin menculikku dan meminta tebusan yang banyak kepasa kedua orang tuaku" Ucap gadis itu lirih sambil berlinang air mata.


"Ngak apa apa, sekarang kau aman bersama Kakak, Kakak akan membantumu kok tenang saja ya, sudah jangan nangis lagi seperti ini" Ucap Nadhira sambil menenangkan gadis tersebut.


"Jadi kalian ingin menculik gadis kecil ini? Tidak semudah itu untuk kalian dapat membawa gadis ini pergi dari tempat ini" Rifki memandangi kearah empat orang tersebut satu persatu.


"BUKAN URUSANMU! SERAHKAN GADIS ITU KEPASA KAMI, CEPAT!" Bentak seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka.


"Kalian telah berurusan dengan orang yang salah".


Rifki segera menoleh kearah anak buahnya memberi isyarat untuk segera melumpuhkan keempat orang itu, anak buahnya segera menyerang kearah keempat orang itu sementara Rifki langsung mengangkat tubuh gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya.


Rifki segera memberikan sekotak salep kepada Nadhira untuk mengobati luka yang ada ditangan dan juga dilutut anak kecil tersebut, Nadhira dengan segera menerima kotak tersebut dan dengan perlahan lahan segera mengobati gadis kecil tersebut, gadis itu menangis ketika lukanya diberi sebuah salep oleh Nadhira karena rasa sakitnya.


Melihat gadis tersebut yang menangis Nadhira dapat mengetahui bahwa gadis itu belum pernah terluka sebelumnya sehingga ia berpikir bahwa anak tersebut adalah anak dari orang kaya, Nadhira segera meniup lukanya agar rasa sakit dari obat itu sedikit berkurang.


"Sudah jangan nangis ya, biar tidak infeksi nantinya" Ucap Nadhira sambil menutup luka tersebut.


"Aku mau pulang Kak, hiks.. hiks.. hiks.."


"Iya, kami akan mengantarmu pulang kok, beritahu kami dimana alamat rumahmu, nanti kami akan mengantarmu"


"Aku tidak tau Kak, aku tersesat".


Gadis tersebut tidak mengetahui alamat rumahnya, akan tetapi dirinya menceritakan kepada Nadhira mengenai rumahnya dan bagaimana bentuk rumahnya dari luar dan juga halaman disekitar rumahnya saat ini.


"Rif bagaimana ini?" Tanya Nadhira yang tidak mengetahui ciri ciri rumah tersebut berada dimana.


"Mungkin anak Gengcobra tau soal itu, selama ini merekalah yang sering berada dijalanan, mungkin saja mereka pernah melihat rumah seperti itu, apa sebaiknya kita membawa dia kemarkas dulu? Mungkin saja ada yang mengenalinya".


"Boleh juga".


Rifki melihat bahwa anak buahnya tengah selesai menghadapi mereka, akan tetapi mereka tidak berhasil menghentikan keempat orang tersebut yang berusaha untuk kabur dari tempat itu, hal itu membuat Rifki terlihat kecewa karena tidak bisa menangkap keempat orang itu.


"Maaf Tuan Muda, kami tidak berhasil menangkap mereka" Ucap salah satu anak buahnya.


"Sudahlah, mereka juga sudah kabur terlalu jauh"


"Lalu bagaimana dengan anak ini Tuan Muda?"


"Kalian bahwa saja dia ke markas, mungkin saja ada yang mengerti tentang alamat rumahnya ataupun mengenal anak ini, setelah mengetahuinya segera pulangkan dirinya"


"Baik Tuan Muda".


Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk keluar dari mobil tersebut, dan hal itu membuat para anak buahnya sekaligus Nadhira merasa kebingungan dengan hal itu.


"Tuan Muda, kita mau kemana?" Tanya Nadhira.


"Jalan jalan" Jawab Rifki. "Kalian cepat kembali kemarkas, dan pakai mobilnya, aku mau jalan jalan dengan Nadhira" Ucap Rifki lagi dan seketika membuat seluruh anak buahnya terkejut mendengarnya, karena akan sangat berbahaya jikalau Rifki keluar tanpa pengawasan apalagi setelah kejadian kali ini.


"Tapi Tuan Muda, bagaimana kami bisa meninggalkan anda ditempat ini" Tolak anak buahnya.


"Apa kalian tidak mendengar perintahku sebelumnya? Aku paling tidak suka dibantah"


"Baik Tuan Muda, maafkan saya karena telah berani membantah anda, saya hanya khawatir dengan kondisi anda ....." Sebelum orang tersebut selesai mengucapkan kata, Rifki segera menyahutinya.


"AKU BAIK BAIK SAJA!" Bentak Rifki.


Mendengar bentakan tersebut seketika membuat nyali anak buahnya menciut sementara anak kecil yang berada didalam mobil tiba tiba menangis ketakutan mendengar suara tinggi yang Rifki lontarkan kepada anak buahnya.

__ADS_1


"Rifki, sudah".


Nadhira segera memegangi dada Rifki, Nadhira takut kalau sampai Rifki lebih marah lagi kepada anak buahnya itu sehingga membuat gadis kecil yang mereka tolong akan semakin ketakutan dengan nada tinggi seperti itu.


"Rifki, kenapa kamu tiba tiba emosi seperti ini sih! Mereka hanya menghawatirkan kondisimu saja, karena kau adalah seorang pemimpin bagi mereka, wajar saja jika mereka menghawatirkan dirimu" Ucap Nadhira mencoba menenangkan Rifki.


Mendengar ucapan Nadhira membuat Rifki menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan lahan, ia mencoba untuk menenangkan dirinya, entah mengapa ia terlihat begitu marah dengan anak buahnya itu ketika mereka mengungkit soal kondisinya dihadapan Nadhira.


"Maaf Dhira" Ucap Rifki yang mulai kembali tenang.


"Bukan masalah, aku tau kau pasti kecewa karena mereka tidak bisa menangkap orang orang yang kabur itu, tapi percayalah mereka sudah berusaha sebisa mereka untuk melakukan itu".


Sebenarnya Rifki tidak begitu kecewa dengan kaburnya orang orang yang berniat untuk menculik gadis tersebut akan tetapi dirinya tidak ingin Nadhira mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya ketika berada diluar negeri ataupun tentang penyerangan yang tiba tiba itu.


"Sudah kalian pergi saja, Tuan Muda kalian akan aman bersamaku, kalian tidak perlu khawatir soal itu" Ucap Nadhira memerintahkan kepada para anak buah Rifki untuk segera meninggalkan keduanya.


"Baiklah Tuan Puteri, tolong jaga Tuan Muda kami".


"Iya".


Nadhira mencoba untuk mengusap punggung Rifki perlahan lahan untuk menenangkannya, keduanya melihat bahwa anak Gengcobra segera masuk kedalam mobil tersebut untuk bergegas pergi meninggalkan keduanya ditempat itu.


"Setelah ini kita mau kemana?" Tanya Nadhira sambil melihat sekelilingnya.


"Aku dengar disekitar sini ada begitu banyak orang yang jualan kuliner, mungkin kita bisa mencobanya, sebagai makan malam kita"


"Ternyata pendengaranmu jauh juga ya Rif hehe, aku saja tidak pernah mendengar itu".


"Baiklah tunggu apa lagi, ayo kita pergi" Ucap Rifki dengan semangatnya.


Rifki segera menarik tangan Nadhira untuk menuju ketempat dimana banyak orang yang tengah menjual kuliner tersebut, setelah 15 menit berjalan akhirnya mereka telah sampai disebuah tempat dimana orang orang yang tengah menjual beberapa makanan yang begitu sangat lezat.


Rifki mengajak Nadhira untuk menghampiri sebuah lapak yang tengah menjual terang bulan, terlihat begitu menggoda dengan aroma manis yang begitu semerbak membuat Rifki ingin sekali mencobanya, hal itu membuat Rifki langsung memesan makanan tersebut.


"Kamu mau yang mana Dhira?"


"Baiklah, kamu tunggu disini saja, tunggu sampai terang bulannya jadi, aku tidak akan lama kok".


"Kamu mau kemana?"


"Sudah duduk saja disini" Rifki segera menyuruh Nadhira untuk duduk disebuah kursi yang telah di sediakan oleh penjual itu, "Oh iya Pak, nitip perempuan saya ya Pak, jangan sampai ada yang lecet ataupun seseorang yang membuatnya marah".


"Iya Mas" Jawab penjual tersebut.


"Hati hati Rif, jangan lama lama" Ucap Nadhira sedikit khawatir soal itu.


"Aku akan segera kembali".


Rifki segera bergegas pergi dari tempat itu dan meninggal Nadhira seorang diri disana, Nadhira menatap kepergiannya dalam diam hingga bayangannya tak lagi terlihat oleh Nadhira, melihat itu Nadhira hanya mampu menghela nafas.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya Rifki datang juga dengan dua buah kantong plastik ditangan kiri dan kanannya, setelah sampai dilapak terang bulan Rifki segera membayarnya dan bergegas pergi dari tempat tersebut bersama Nadhira, mencari tempat yang cocok untuk keduanya dapat menikmati makanan itu bersama sama.


Rifki melihat sebuah kursi kosong ditepi sebuah taman dan Rifki segera mengajak Nadhira untuk duduk ditempat tersebut, dan Nadhira hanya mengikutinya saja.


"Kamu beli apa Rif?".


"Nih" Ucapnya sambil menyodorkan sebuah kantung plastik kepada Nadhira.


"Apa ini?" Tanya Nadhira.


"Buka aja".


Nadhira segera membuka kantung tersebut dan menemukan sebuah kotak kecil didalamnya, didalam kotak tersebut terdapat sebuah kue yang bentuknya seperti boneka yang sangat lucu akan tetapi memiliki sebuah kumis yang sangat tebal, melihat itu seketika langsung membuat Nadhira tertawa hingga perutnya terasa sedikit kram.


"Lucu kan?" Tanya Rifki sambil meringis.


"Lucu banget, sampe ngak tega untuk memakannya, dimana kamu menemukan ini?".


"Aku sendiri yang membuatnya loh, pinjem lapak orang buat membuatnya, soal rasa tidak perlu untuk ditanyakan lagi, pasti dijamin enak".

__ADS_1


"Benarkah? Aku jadi ingin memakannya, tapi tidak tega karena terlalu lucu dan menggemaskan".


"Makan saja, kalau ngak dimakan juga sayang".


Nadhira segera mengambil sebuah sendok kecil yang ada didalam kotak tersebut, setelah itu dirinya dengan terpaksa harus memotong kaki boneka tersebut dan langsung menyuapkannya kedalam mulutnya, Nadhira begitu terkejut dengan rasa yang menggugah selera makan itu.


"Hemm... Enak banget Rif, coba in deh" Nadhira dengan segera memotong kue itu lagi dan menyuapkannya kedalam mulut Rifki.


Melihat itu Rifki langsung membuka mulutnya, ia pun terkejut dengan rasanya, tidak menyangka bahwa kue tersebut akan seenak itu, melihat Rifki yang sibuk menikmati rasa tersebut membuat Nadhira dengan segera mengoleskan cream kepipi Rifki dengan sebuah tawa penuh kemenangan.


Rifki tidak tinggal diam ia segera membalas perbuatan Nadhira dengan mengoleskan kembali cream tersebut kepada hidung Nadhira, dan hal itu seketika menciptakan sebuah tawa diantara keduanya, karena wajah mereka yang penuh dengan cream dari kue tersebut.


Canda tawa diantara keduanya seketika menarik perhatian orang orang yang ada disekitar mereka, seketika itu juga datanglah dua orang polisi dihadapan keduanya dan hal itu membuat orang orang yang ada disekitar mereka segera menghindar karena mereka takut terlibat dalam urusan mereka.


"Dengan saudara Rifki" Ucap polisi tersebut.


Rifki yang tengah sibuk dengan tawanya bersama Nadhira seketika menoleh kearah kedua polisi tersebut dan raut wajahnya berubah seketika, yang tadinya tertawa begitu manis sekarang menjadi sedingin es balok.


"Iya saya sendiri, ada apa ya Pak?" Tanya Rifki yang sama sekali tidak mengerti kenapa tiba tiba dirinya didatangi oleh polisi.


Rifki segera bangkit dari duduknya untuk menghadap kearah kedua polisi itu, dan hal itu segera disusul oleh Nadhira yang ikut berdiri disamping Rifki, keduanya sama sekali tidak mengerti kenapa ada dua orang polisi yang mendatangi mereka.


"Atas tuduhan penculikan kepada pemilik sekaligus pemimpin perusahaan Dewatamali, anda ditangkap dan jelaskan semuanya di kantor polisi nanti".


"Ini pasti salah paham, kalian tidak bisa membawa Rifki pergi" Ucap Nadhira.


"Ini sudah peraturan hukum Mbak, seseorang telah melaporkan kepada kami kalau saudara Rifki telah menculik pemilik perusahaan dengan paksa, apalagi membawa seorang wanita pergi tanpa persetujuan dari keluarganya".


Nadhira mengeratkan pegangannya kepada lengan Rifki dan tidak akan membiarkan polisi tersebut membawa Rifki dengan paksa dan memisahkan antara keduanya.


"Laporan itu tidak benar Pak! Dan asal Bapak tau, pemilik perusahaan Dewatamali adalah diriku".


"Jadi anda pemiliknya, saya mendapat sebuah laporan dari perusahaan anda bahwa anda tengah diculik, tolong ikut kami kekantor polisi dan jelaskan semuanya disana" Ucap polisi tersebut dan langsung meminta rekannya untuk menangkap Rifki.


"Dari perusahaan? Siapa yang telah melaporkan itu!"


"Saya tidak bisa memberitahukan hal itu Mbak, identitas orang tersebut dirahasiakan".


"Saya bisa saja menuntut anda dipengadilan, karena telah menangkap orang sembarangan, apakah anda mau berurusan dengan saya? Saya katakan sekali lagi ya Pak, itu adalah perusahaan saya, dan saya tidak merasa diculik dengan paksa disini" Ucap Nadhira dengan tegasnya.


"Maaf Mbak, peraturan tetap peraturan, membawa pergi seorang wanita tanpa persetujuan keluarganya adalah hal yang melanggar aturan, silahkan jelaskan di kantor polisi".


"Tidak, kalian tidak boleh membawa Rifki pergi, ini pasti ada yang salah, saya akan menuntut kalian balik karena telah menangkap orang yang salah! Biar saya hubungi sekertaris saya dulu".


Nadhira dengan segera mengeluarkan ponsel yang ada didalam saku bajunya, ia segera menekan nomor Citra sekertarisnya itu, Citra yang tengah bersantai dengan keluarganya begitu terkejut ketika Nadhira tiba tiba menelfonnya diluar jam kerja seperti ini.


"Halo Citra" Ucap Nadhira ketika telfonnya telah diangkat oleh Citra.


"Iya Nona Muda? Ada apa ya?" Tanya Citra kebingungan diseberang sana.


"Bukankah sudah saya bilang tadi, kenapa ada yang melapor pada polisi! Apa kau sudah tidak menghargai ucapanku sebelumnya!".


"Apa? Ada yang melapor? Nona, anda salah paham, saya sudah memperingatkan seluruh karyawan untuk tidak melaporkan ini, tapi....." Ucap Citra dengan gugup dan perkataan itu segera dipotong oleh Nadhira.


"Besok pagi kumpulkan seluruh karyawan, aku tidak peduli soal apapun itu, kalian benar benar sangat mengecewakan malam ini".


"Baik Nona Muda, saya akan urusi soal ini".


Seketika telfon tersebut mati begitu saja, dan hal itu membuat Citra yang tadinya bersantai didepan tv tiba tiba menjatuhkan dirinya bersandar disandaran kursi tersebut dengan begitu lemasnya, seakan akan tenaganya telah hilang karena ucapan Nadhira.


"Saya sudah menghubungi sekertaris saya, dan dia akan menyelesaikan masalah ini, jadi tolong jangan bawa Rifki pergi dari sini" Ucap Nadhira.


"Saya juga bisa menuntut anda dengan mudah dan mencabut semua jabatan yang anda terima sekarang juga, anda belum tau siapa saya sebenarnya, dan hubungan saya dengan Gengcobra, saya yakin bahwa kalian juga mengetahui tentang Gengcobra" Ancam Rifki yang mulai ikut berbicara.


"Gengcobra?"


Seketika kedua polisi itu berdiam diri, yang dilakukan oleh kedua orang itu adalah kesalahan besar, karena seseorang telah membayar mahal dikantornya untuk dapat menangkap Rifki dengan tuduhan telah menculik pemimpin sebuah perusahaan, dan juga orang itu telah memberikan sebuah bukti vidio dimana Nadhira dimasukkan kedalam sebuah mobil.


...Jangan lupa like, coment dan dukungannya 🥰 Terima kasih ...

__ADS_1


__ADS_2