
Putri sangat terkejut ketika melihat Rifki yang sudah terbaring diatas lantai, dirinya langsung segera berlari kearah anaknya itu. Putri mencoba untuk membangunkan Rifki, dan seketika Rifki membuka kedua matanya untuk menatap kearah Putri.
"Rifki, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa jatuh seperti ini, Nak?" Tanya Putri khawatir.
"Nara, Ma. Dia pergi ninggalin Rifki, dia sangat benci dengan Rifki," Ucap Rifki sambil menitihkan air matanya.
"Pergi? Kenapa dia pergi?"
"Nggak tau, Ma."
"Ya sudah, jangan pikirkan soal itu dulu, Rif. Pasti dia pergi ke rumah Bu Siti, kamu tenang saja. Perlahan lahan dia akan bisa menerimamu sebagai Ayahnya, mungkin dia hanya butuh waktu saja,"
"Iya Ma."
Putri mencoba untuk membantu Rifki naik kembali ke atas kasurnya, ia merasa begitu kasihan terhadap anak laki lakinya itu. Akan tetapi, Putri tidak bisa berbuat apa apa untuk membujuk Kinara, bahkan Kinara sama sekali tidak mau mendengar ucapan dari keluarga Rifki ataupun keluarga Nadhira.
Bagi Kinara mereka semua adalah orang asing yang tiba tiba masuk ke dalam kehidupannya, sehingga dia tidak nampak begitu familiar kepada mereka. Kinara lebih nyaman berada di dalam rumah Bu Siti dan Siska, daripada harus tinggal bersama dengan keluarganya.
"Mama sudah masakin makanan kesukaanmu, kamu makan dulu ya, Nak."
Rifki ingin sekali menolaknya, tapi ia sadar bahwa dirinya harus bisa sembuh demi Kinara. Kinara sudah kehilangan Ibunya, dan dirinya juga tidak mau jika Kinara harus kehilangan Ayahnya juga. Rifki pun menerima suapan dari Putri dengan perlahan lahan, dan menelannya.
*****
Berhari hari kemudian....
Terlihat seorang gadis tengah beradu cekcok dengan orang lain, gadis itu tidak lain adalah Kinara. Terjadilah sebuah keributan di tempat itu, yang di mana Kinara adalah tersangka utama.
"Gimana sih, Mbak. Motor saya rusak nih!" Sentak seorang lelaki yang ada dihadapan Kinara.
"Salah Bapak sendiri, udah tau aku mau lewat kenapa malah menghadang?" Kinara yang mencoba untuk membela diri.
Kinara yang terburu buru dengan urusan yang penting untuknya, ia tidak melihat bahwa ada sebuah motor yang berlawanan dengannya. Dengan refleks penumpang motor itu harus membanting setir, alhasil pemilik motor itu menabrak sebuah warung makan yang ada di tepi jalan.
Motornya mengalami rusak parah, dan dirinya meminta ganti rugi kepada Kinara yang telah membuatnya mengalami kecelakaan. Tapi Kinara tidak mau mengakui bahwa itu adalah kesalahannya, yakin ada pikirkan adalah lelaki itu sendiri yang membanting setir dan menabrak sebuah warung.
Kinara tidak mau mengganti rugi karena dirinya juga tidak memiliki uang, sehingga terjadilah keributan di tempat itu dan pemilik motor mau membawanya ke kantor polisi sebagai pertanggungjawaban, tapi Kinara menolak akan hal itu dan berusaha untuk bergegas pergi dari tempat itu.
Tidak hanya begitu saja, Kinara terus dihadang oleh orang orang agar tidak bisa pergi dari tempat itu. Terjadi sebuah keributan yang sangat parah di tempat itu, bahkan fokus seluruhnya langsung tertuju kepada Kinara dan pengendara motor itu.
Di tengah tengah keributan itu tiba tiba segerombolan orang datang menghampiri keduanya, melihat orang orang yang berpakaian serba rapu dengan menggunakan pakaian hitam membuat seluruh orang yang ada di tempat itu mundur.
Orang yang mereka lihat nampak seperti bukan orang biasa, sehingga mereka tidak mau ikut campur ke dalam masalah itu yang bisa menyebabkan mereka terlibat dalam sebuah masalah. Rifki beserta anak buahnya langsung datang ketempat itu, dia mengetahui hal itu karena mata mata yang diutus olehnya memberitahukan bahwa Kinara tengah terlibat dalam masalah.
Melihat kedatangan Rifki beserta anak buahnya membuat seluruhnya terpanah kepadanya, bagaimana tidak terpanah karena ketampanannya sekaligus orang orang yang ada di belakangnya membuat Rifki terlihat sangat luar biasa.
Pemilik motor itu terlihat ketakutan ketika melihat Rifki dan anak buahnya, tapi tidak dengan general yang justru terlihat santai dan merasa enggan di tempat itu. Pemilik motor terlihat dengan susah payah untuk menelan silivanya sendiri, ia sangat takut berhadapan dengan orang seperti Rifki.
"Ada apa ini?" Tanya Rifki dengan tatapan tajam kearah pengendara motor.
"Dia membuat saya kecelakaan, dan tidak mau mengganti rugi. Bisa bisanya dia mau kabur," Ucap pengendara motor dengan gugup lantaran ketakutan.
Rifki pun menoleh ke arah sebuah motor butut yang terlihat hancur, bagian motor tersebut sudah terlepas dari tempatnya dan dia juga melihat sebuah warung yang kaca maupun pintunya telah pecah. Rifki hanya bisa menghela nafas atas perbuatan dari Kinara, tapi Kinara sama sekali tidak membela dirinya sendiri.
"Nara," Panggil Rifki kepada anaknya lembut.
"Kalo Om hanya mau memarahi Nara, mendingan Om pergi dari sini," Usir Kinara kepada Rifki.
"Jaga ucapanmu, Nara!" Sela Bayu yang tidak suka mendengar ucapan Kinara kepada Rifki.
Rifki langsung mengangkat tangannya untuk mencegah Bayu, Rifki tidak mau jika Kinara semakin membencinya nanti. Kinara pun membuang pandangan dari Rifki dan anak buahnya itu, sementara Rifki hanya bisa menghela nafas.
"Biar aku yang ganti rugi atas semuanya," Pungkas Rifki setelah menenangkan pikirannya.
Bayu pun menganggukkan kepala paham dengan ucapan Rifki, dirinya segera bergegas masuk ke dalam mobilnya untuk mengambil uang yang ada di sana. Setelahnya dirinya memberikan uang tersebut kepada Rifki, jadi pergi sendiri pun langsung memberikannya kepada seseorang yang merasa dirugikan dengan Kinara.
Melihat situasi yang sudah selesai, orang orang yang ada di sana pergi meninggalkan tempat itu dan melakukan aktivitas mereka. kini hanya tersisa Rifki, Kinara, dan anak buah Rifki saja di tempat itu. Situasi di tempat itu pun tidak sepanas sebelumnya, karena masalah tersebut sudah diselesaikan oleh Rifki.
"Nara," Panggil Rifki.
__ADS_1
"Jangan mentang mentang Om membantuku saat ini, terus Om bisa seenaknya mengatur diriku. Jangan beranggapan aku akan menganggap Om berarti dalam hidupku, Om tidak lebih dari orang asing bagiku. Jadi, jangan ikut campur dalam hidupku," Ucap Kinara dengan nada yang tidak mengenakkan.
Rifki terlihat sedang menahan amarahnya karena sikap Kinara kepadanya, tapi dirinya mencoba untuk tetap terlihat santai. Ini semua kesalahannya karena tidak menemani Kinara sejak kecil, jadi dirinya mewajarkan Kinara yang bersikap seperti itu kepadanya.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Sudah lama tidak bertemu," Ucap Rifki kepada Kinara.
"Untuk apa Om peduli denganku? Bukankah selama ini Om juga tidak peduli denganku dan Mama?" Tanya Kinara.
"Maafin Papa, ya? Papa yang salah karena tidak memperhatikan kalian. Katakan kepada Papa, apa yang harus Papa tebus sebagai permintaan maaf? Papa akan lakukan apapun untuk Nara,"
"Pergi dari kehidupanku!"
Kinara pun pergi dari tempat itu dengan kemarahan, sementara Rifki hanya bisa menundukkan kepalanya dalam. Rifki menatap penuh kesedihan ketika melihat kepergian dari Kinara, tapi kakinya terasa berat untuk mengejar anaknya itu.
"Kinara benar benar kurang ajar, Rif. Jangan pikirkan perkataannya, mungkin itu hanya ucapannya saja karena kemarahan. Bukan dari hatinya," Ucap Bayu mencoba untuk menenangkan Rifki.
"Bay, kita pulang saja," Ajak Rifki.
"Rif, kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa kau sakit?" Tanya Bayu ketika melihat wajah Rifki yang pucat.
"Aku nggak papa,"
"Baiklah."
Rifki dan yang lainnya langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu, suasana disana tampak terlihat kembali normal seperti sebelumnya. Ketika sampai didepan pintu mobil, tiba tiba tubuh Rifki pun menabrak pintu mobilnya.
"Rif, kau kenapa?" Tanya Bayu panik.
"Nggak tau, Bay. Ketika mendengar Nara berkata seperti itu, rasanya sakit," Ucap Rifki sambil memegangi dadanya.
"Sabar ya, Rif. Bagaimanapun juga dia adalah darah dagingmu sendiri,"
"Aku tau hal itu, Bay."
*****
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu rumah Bu Siti tiga kali, dan mengucapkan salam meskipun pintunya belum dibukakan. Tiba tiba Bi Sari keluar dari dalam rumah, dan dirinya terkejut ketika melihat sosok Rifki yang sudah berdiri didepan pintu rumahnya.
"Waalaikumussalam..."
Rifki pun meraih tangan Bu Siti dan menciumnya layaknya seorang anak kepada Ibunya, Bu Siti sendiri bingung kenapa Rifki datang kerumahnya saat ini.
"Ada apa ya, Tuan?" Tanya Bu Siti bingung.
"Apa Nara ada dirumah?" Tanya Rifki.
"Nara sedang pergi, Tuan. Baru saja dia berangkat, apa anda tidak bertemu dengannya dijalan?" Tanya Bu Siti balik.
"Pergi kemana?"
"Dia juga tidak bilang kepada saya, Tuan. Apa ada yang perlu disampaikan kepada Nara?"
"Nggak Bu, aku kesini hanya ingin bertemu dengan Ibu,"
"Kalo begitu, mari masuk, Tuan."
Bu Siti pun mengajak Rifki untuk masuk ke dalam rumah tersebut, dan keduanya pun masuk ke dalam rumah tersebut. Bu Siti mempersilahkan Rifki untuk duduk di ruang tamu, dan dirinya pun membersihkan meja yang ada di depan Rifki untuk mempersilahkan tamunya agar merasa nyaman.
"Tuan mau dibuatkan minum apa?" Tanya Bu Siti.
"Nggak usah, Bu. Jangan repot repot,"
"Nggak repot kok, Tuan."
Bu Siti langsung memanggil Siska untuk datang, dirinya lantas menyuruh Siska untuk membuatkan minuman untuk Rifki. Melihat bahwa Rifki datang ke tempat itu, dirinya langsung bergegas menuju ke dapur dan membuatkan minuman untuk Rifki.
"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Tuan?"
__ADS_1
"Ini soal waktuku, Bu. Hidupku tidak akan lama lagi,"
"Maksud anda apa? Anda jangan berpikiran seperti itu, Tuan. Tidak baik berbicara seperti itu,"
"Bu, aku hanya meminta satu hal kepada anda. Aku ingin Nara bisa menerimaku sebagai Ayahnya sebelum aku tiada, tolong bujuk Nara," Rifki pun meraih tangan Bu Siti sambil memohon kepada wanita paruh baya itu.
"Tuan, saya akan usahakan sebisa mungkin untuk itu. Apa yang terjadi dengan anda? Kenapa anda berbicara seolah olah anda mau pergi sangat jauh?"
"Tidak penting apapun yang terjadi kepadaku, Bu. Terima kasih karena sudah menjaga Nara dengan baik,"
"Bagi kami, Nara adalah kesayangan kami, Tuan. Anda tidak perlu berterima kasih kepada saya,"
Terlihat adanya setitik air mata di pelupuk mata Rifki, akan tetapi Rifki langsung segera menghapusnya secepat mungkin. Bu Siti mencoba untuk menenangkan lelaki yang ada di depannya itu, dirinya membesar pelan pundak Rifki untuk menguatkan lelaki tersebut.
Rifki terlihat menarik nafas dalam dalam sambil memegangi dadanya, terlihatlah sebuah senyuman diwajah Rifki, senyuman yang terlihat sangat sendu.
"Tuan, anda tidak merencanakan bunuh diri, kan?" Tanya Bu Siti khawatir.
"Nggak kok, Bu. Bagaimana mungkin aku melakukan itu?"
"Tuan, jangan lakukan hal apapun yang membahayakan nyawa anda. Jangan hiraukan apapun perkataan Nara kepada anda, ia tidak benar benar marah kepada anda kok, saya yakin kalau Nara sebenarnya sangat menyayangi Anda,"
"Terima kasih atas hiburannya, Bu. Kalau begitu saja pamit,"
*****
Rifki tengah duduk seorang diri di sebuah gazebo yang ada di rumahnya, dirinya pun memainkan ponsel yang ada di tangannya. Ada sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya itu, dan dirinya langsung segera memeriksanya.
"Nara mau ponsel baru, ya?" Guman Rifki.
Rifki pun tersenyum setelah berguman, itu adalah pesan yang disampaikan oleh mata matanya. Rifki sengaja menyuruh anak buahnya untuk memata matai pergerakan Kinara, sekaligus untuk menjaga gadis itu dari orang orang jahat yang ingin berniat mencelakainya.
Anak buahnya mengatakan bahwa sebelumnya Kinara tengah bermain dengan teman temannya, dirinya juga telah merekam sebuah video di mana Kinara dan temannya sedang asyik memilih ponsel yang bagus untuk temannya itu.
Di dalam video tersebut Kinara nampak begitu antusias memilihkan pensil yang bagus untuk temannya, dan beberapa kali ia berkata bahwa dia ingin membeli ponsel tersebut tapi tidak memiliki uang. Mudah saja bagi Rifki untuk membeli ponsel yang bagus untuk Kinara, tapi dirinya tidak tahu apakah Kinara mau menerimanya atau tidak.
"Ada apa, Rif?" Tanya Bayu yang baru datang ketempat itu karena menerima panggilan dari Rifki.
"Nara mau ponsel baru, Bay. Aku ingin membelikan dia yang terbaik," Jawab Rifki.
"Tapi bagaimana kalau Nara menolaknya? Sudah banyak barang yang kau belikan untuk dia tapi berujung ditolak mentah mentah olehnya."
"Apa kau memiliki cara lain untuk memberikannya kepada Nara? Tapi jangan sampai dia tau bahwa aku yang membelikannya untuk dia."
"Kenapa? Kalau Nara tidak tau siapa yang memberikannya, bagaimana caramu untuk merebut hatinya?"
"Tidak penting dia mengetahuinya atau tidak, Bay. Aku hanya ingin menuruti keinginan anakku saja, selama ini aku tidak pernah tau apa keinginannya, jadi aku ingin dia tidak kekurangan apapun. Apa kau ada cara?"
"Tante Lia mungkin bisa membantu, lagian dia yang paling dekat dengan Kinara di keluargamu,"
"Ide yang bagus. Ya sudah, kita pergi sekarang,"
"Baik Rif."
Rifki dan Bayu segera bergegas pergi dari tempat itu menuju ke sebuah mall untuk membeli apa yang dirinya butuhkan, dan sesampainya di sana dirinya langsung disambut oleh petugas di sana. Rifki pun di pandu untuk mencari ponsel yang terbaik di sana, dan ada ratusan ponsel yang terbaik di tempat itu.
"Nara suka warna apa ya, Bay?" Tanya Rifki sambil memandangi satu persatu ponsel yang telah disediakan didepannya.
"Warna hitam bagus yang gold juga bagus, tapi aku juga nggak tahu apa kesukaan Nara, Rif. Karena kan kita tidak mengenalnya dari kecil, dan baru belakangan ini kita kenal Nara tapi itu pun tidak seluruhnya. Soal itu, aku sulit untuk memutuskan, Rif."
"Kau benar, Bay. Aku juga bingung,"
"Yang ini aja gimana?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hallo readers tercinta!!!
Apakah masih aman tissunya? Ataukah sudah habis?
__ADS_1
Siapkan jantung anda ya!!!
Btw... Apa yang terjadi dengan Rifki, ya? Yuk terus ikuti kisahnya biar tidak penasaran. Oh iya, jangan lupa terus istighfar ya, jangan marah marah nanti cepat tua... Hehe... Canda tua...