Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Dihadang oleh seseorang


__ADS_3

Karena gerbang tersebut yang tidak terkunci itu pun membuat Bayu mudah sekali untuk membukanya, setelah itu terbuka mereka langsung bergegas masuk kedalam halaman rumah tersebut akan tetapi mereka merasa curiga kenapa rumah itu sepi dan seperti tidak berpenghuni.


Mereka langsung berjalan kearah teras rumah tersebut, pintu rumah tersebut sepertinya telah dikunci sangat eratnya, entah kenapa hanya rumah itu yang dikunci akan tetapi gerbang rumah tersebut sama sekali tidak dikunci.


"Tuan Muda, pintu ini dikunci"


"Dobrak pintunya sekarang!" Perintah Rifki.


"Baik Tuan Muda"


Kini ada 10 anggota Gengcobra yang bersiap siap untuk mendobrak pintu rumah tersebut yang kelihatannya cukup besar itu, beberapa kali percobaan untuk mendobrak sama sekali tidak bisa ia lakukan, akan tetapi percobaan ke 8 langsung membuat pintu itu terbuka dengan lebarnya.


Rifki dan anggota Gengcobra tersebut langsung masuk kedalam rumah itu dan menyebar luas untuk mencari Nadhira akan tetapi rumah itu kelihatan sangat sepi sekali, seperti tidak berpenghuni, salah satu anggota Gengcobra mendekat kearah Rifki dengan nafas yang memburu.


"Lapor Tuan Muda, salah satu anggota kita telah dibunuh dengan sadisnya ditempat ini" Ucapnya setelah berhasil menetralkan pernafasan kembali.


"APA! Dibunuh dengan sadis? Berani sekali orang itu melawan diriku, dimana dia sekarang?" Rifki terkejut mendengarnya hingga membuatnya langsung mengepalkan tangannya dengan erat.


"Ada dikamar sebelah sana Tuan Muda, dia sudah tidak bernyawa dengan kondisi sangat mengenaskan" Ucapnya sambil menunjuk kearah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Ayo cepat kesana!"


"Baik Tuan Muda!"


Rifki dan anggota inti Gengcobra langsung bergegas menuju kearah yang ditunjuk oleh anggota Gengcobra tersebut, Rifki dan yang lainnya segera membelalakkan mata mereka ketika melihat jenazah yang mengenaskan itu.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un... Bukankah ini Wahyu? Orang yang aku perintahkan untuk mengikuti Dokter Lila waktu itu? Kenapa bisa dia meninggal seperti ini? Orang itu benar benar bukan manusia" Tanya Rifki dengan rasa bersalahnya ketika melihat jenazah tersebut dengan darah yang sudah mengering dan juga banyaknya pisau yang menancap pada dadanya.


"Benar Rif, dia Wahyu, pantas saja kartu SD itu mengarah ketempat ini dan juga nomor teleponnya tidak bisa dihubungi, apa jangan jangan dia ketahuan Rif? Dan sekarang Nadhira dipindahkan dari tempat ini ketempat yang jauh, pantas saja rumah ini terlihat kosong dan tidak berpenghuni"


"Kita harus segera mencari Nadhira secepatnya, aku khawatir dengan kondisi Nadhira saat ini, orang itu begitu tega dengan orang lain, dia pasti juga tega dengan Nadhira dan calon anakku"


"Iya Rif, kita harus segera bertindak, sebelum orang itu bertindak macam macam"


"Beberapa dari kalian cepat bawa jenazahnya untuk kembali ke markas, dan makamkan dia dengan layak" Ucap Rifki seraya menatap anggotanya.


"Baik Tuan Muda"


Ada beberapa dari anggota Gengcobra langsung membuka ikatan dari tubuh anggota Gengcobra yang telah menjadi mayat tersebut, melihatnya seperti itu membuat Rifki mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


Tanpa sengaja dia melihat cincin pernikahannya yang dipakai oleh Nadhira terjatuh dilantai itu, ia lalu mengambilnya dan menggenggamnya dengan erat, melihat cicin tersebut yang terlepas dari jari Nadhira membuatnya semakin gelisah.


"Mereka telah membawa Nadhira pergi dari sini, kita terlambat untuk datang kemari" Ucap Rifki sambil mengenggam erat tangannya.


"Lalu kita akan mencarinya kemana lagi Tuan Muda? Kita tidak bisa melacak kepergian mereka sekarang?" Tanya Reno.


"Ayo pergi dari sini, mungkin mereka belom jauh dari tempat ini, kita harus mencari mereka sampai dapat, aku tidak mau Nadhiraku kenapa napa"


"Baik Tuan Muda"


"Tuan Muda! Tuan Muda!" Tiba tiba terdengar anggota Gengcobra yang berteriak.


Teriakan itu seketika menghentikan langkah Rifki, mereka semua menoleh kearah anggota Gengcobra yang berteriak itu dan mendapati bahwa Vano dan beberapa anggota Gengcobra tengah berlari kearah Rifki saat ini.


"Ada apa?" Tanya Rifki.


"Kami menemukan seorang wanita yang tengah diikat, sepertinya wanita itu yang pernah datang ke markas Gengcobra beberapa hari yang lalu"


"Mungkinkah itu dia Dokter Lila, beberapa hari yang lalu datang ke markas adalah Dokter Lila"


"Kami tidak tau Tuan Muda, sebaiknya anda melihatnya sendiri"


"Bawa aku kesana sekarang!"


"Baik Tuan Muda"


Rifki langsung melangkahkan kaki meninggalkan tempatnya berdiri itu, ia segera berlari kearah datangnya Vano beserta yang lainnya itu, Vano pun ikut berlari mengejar Rifki bersamaan dengan anggota Gengcobra lainnya.


Terlihat seorang wanita yang diikat dengan kedua mata yang ditutup dengan erat, dan salah satu anggota Gengcobra yang tengah berusaha untuk melepaskan wanita tersebut, iya itu adalah Dokter Lila yang diikat ditempat itu.


"Dokter Lila" Panggil Rifki sambil mendekat kearah Dokter Lila.

__ADS_1


"Tuan anda disini?" Tanya Dokter Lila dengan nada yang sangat ketakutan.


"Dimana Dhira?"


"Tuan cepat pergi dari sini! Selamatkan nyawa Nadhira, dia akan dibawa keluar negeri sekarang, jangan biarkan orang orang itu membawanya pergi Tuan" Dengan linangan air mata Dokter Lila mengatakan hal itu kepada Rifki.


"APA!" Teriak Rifki dan inti Gengcobra bersamaan.


"Iya Tuan, cepat pergi dari sini! Selamat dia sebelum semuanua terlambat, aku tidak tau pasti dia akan dibawah kemana"


"Ke negara mana dia akan membawa Nadhira? Mungkin kau memiliki informasi tentang itu"


"Aku tadi mendengarnya, bahwa dia akan dibawa ke negara Jerman, ketika dirinya mengobrol dengan Nadhira sambil membawanya pergi dari sini"


"Ndre, cari tau kapan keberangkatan pesawat terbang yang menuju ke Jerman hari ini"


"Baik Tuan Muda"


"Kalian, bawa Dokter Lila bersama dengan jenazah Wahyu ke markas, disana ada kedua orang tuanya"


"Orang tua saya sudah ditemukan? Apa mereka berdua baik baik saja Tuan Muda?" Tanya Dokter Lila dengan bahagianya.


"Iya, mereka baik baik saja dan sekarang mereka ada dimarkasku"


"Terima kasih banyak Tuan, terima kasih karena telah menyelamatkan kedua orang tuaku, terima kasih"


Rifki mengangguk kepada Dokter Lila, Rifki dan yang lainnya segera berlari menuju mobil mereka untuk segera mencegah kepergian orang orang itu yang membawa Nadhira, sementara ada 25 orang anggota Gengcobra yang masih tertinggal ditempat itu.


"Mari Dokter Lila, kita pergi dari tempat ini, kami akan antarkan anda menemui kedua orang tua anda setelah kami selesai membereskan jenazah teman kami" Ucap salah satu anggota Gengcobra itu dengan sopan.


"Terima kasih"


*****


Rifki dan anggota Gengcobra yang lainnya berlarian menuju ke mobil mereka masing masing, yang berada diluar halaman rumah besar itu, Bayu langsung membukakan pintu mobil untuk Rifki agar Rifki bisa masuk kedalam mobilnya tersebut.


Ketika Rifki sampai dimobilnya, tak sengaja dirinya melihat secarik kertas berada ditempat duduknya itu, ia lalu mengambil kertas tersebut dan menoleh kesana kemari untuk mencari siapa yang menaruh kertas itu disana.


"Siapa yang menaruh kertas ini disini?" Guman Rifki pelan akan tetapi masih dapat didengar oleh Bayu yang berada disebelahnya.


"Ada apa Rif?" Tanya Bayu.


"Ada yang sengaja menaruh kertas disini"


"Buka saja Rif, mungkin itu adalah petunjuk"


Rifki lalu membuka kertas tersebut dan terlihat sebuah tulisan disana, tapi anehnya disana hanya bertuliskan nomor plat mobil, hal itu membuat Rifki dan Bayu mengerutkan dahi mereka.


"Nomor mobil! Kenapa kertas ini bertuliskan nomor mobil? Aku tidak mengenali siapa pemilik mobil ini" Ucap Bayu yang sedikit berteriak.


"Apa mungkin ini adalah nomor mobil milik orang yang membawa Nadhira? Dokter Lila mengatakan bahwa Nadhira dibawa pergi dari tempat ini ke bandara, mungkin mereka pergi menggunakan mobil dengan nomor ini" Tanya Rifki.


"Bisa jadi Rif, tapi siapa kira kirq.orang yang menaruh secarik kertas ini disini? Apa tujuannya sebenarnya? Kenapa dia tidak menemui kita secara langsung saja? Kenapa harus menyuruh kita menebak nebak terlebih dahulu sih?"


"Itu soal nanti Bay, sebaiknya kita segera pergi ke bandara untuk menghentikan orang itu, jangan sampai orang itu berhasil membawa Nadhira pergi dari negeri ini"


"Baik Rif"


*****


Ketika mobil yang naikin oleh Nadhira melewati sebuah jalanan yang sepi, tiba tiba ada sebuah mobil yang mepet kearah mobil yang dinaiki oleh Nadhira, mobil tersebut berusaha untuk mendahului mobil yang dinaiki oleh Nadhira tersebut.


Tanpa disangka mobil tersebut langsung banting setir ketika berhasil mendahului mobil yang dinaiki oleh Nadhira hingga membuat mobil itu langsung menabrak mobil tersebut dengan keras akan tetapi tidak sampai menimbulkan korban jiwa.


Nadhira pun menjerit kesakitan akan tetapi suaranya itu pelan karena sebuah lakban yang menutupi mulutnya tersebut, mobil yang dinaikinya tiba tiba mengerem mendadak hingga membuat tangan Nadhira yang diikat tersebut sedikit terdengar seperti tulang yang remuk dan terasa sakit bagi Nadhira.


Mobil mobil yang lainnya pun sama, karena dengan reflek hingga membuat sang supir ikut serta membanting setir agar tidak menabrak mobil yang ada didapan mereka tersebut.


"Apa kalian siap mati?"


"Bos, kami siap kehilangan nyawa, kami merasa bersalah kepada Tuan Muda Rifki, mungkin dengan cara ini kami akan meminta maaf kepada dia, semoga dia cepat datang sebelum kami benar benar kehilangan nyawa"

__ADS_1


"Bagus, kalian luar biasa, aku selalu berada bersama kalian, kita hadapi mereka bersama sama, cepat keluar hadapi mereka, aku akan berusaha untuk membawa Nadhira kabur, jika kalian bertemu Rifki nantinya, katakan kepadanya bahwa aku akan membawa Nadhira kabur dari sini kedalam hutan dekat dengan tempat ini"


"Baik Bos, berhati hatilah, tolong maafkan kesalahan kami selama ini, mungkin kita tidak akan bertemu lagi setelah ini"


"Maafkan juga kesalahanku karena tidak bisa menjadi pemimpin yang baik untuk kalian"


"Kaulah pemimpin terbaik Bos, semoga kita bisa bertemu kembali di syurga"


"Hati hati, kalian harus berjuang menghentikan mereka semua"


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Bos, semuanya dengarkan aku, meskipun nyawa taruhannya, kita harus berjuang!"


"SIAP!" Jawab mereka serempak.


"Bagus! Ayo keluar!"


Dari mobil yang menikung tadi tiba tiba keluar beberapa orang laki laki, mereka terlihat begitu menyeramkan karena pakaian mereka dan juga postur tubuh mereka, Nadhira mengernyitkan dahinya karena dirinya tidak mengetahui siapa orang orang itu sebenarnya.


Dari kejauhan juga berdatangan mobil mobil yang lainnya, ada sekitar 75 orang yang berasal dari anggota misterius tersebut, sementara pihak yang menculik Nadhira itu langsung keluar dari mobil mereka masing masing kecuali Nadhira dan seorang lelaki yang dipanggil Tuan itu.


"Serahkan wanita itu kepadaku!" Teriak seorang lelaki kepada pihak yang menculik Nadhira.


"Tidak akan pernah! Serang mereka!"


Kedua anggota geng tersebut langsung saling menyerang satu sama lainnya, tempat itu terlihat seperti medan petarungan, karena jalanannya yang sepi membuat lokasi tersebut tidak diketahui oleh masyarakat lainnya sehingga tidak ada yang menghentikan mereka untuk bertarung.


Melihat pertarungan itu membuat perhatian Nadhira dan sosok lelaki yang ada disampingnya itu terarah kepada pertarungan tersebut, Nadhira tidak tau mereka siapa tapi kenapa mereka menghentikan mobil tersebut tiba tiba.


"Apa mungkin mereka juga orang yang tengah mengincar anakku dan menginginkan keris pusaka xingsi dan permata iblis? Tidak, mereka tidak bisa merebut anak ini dariku, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi" Batin Nadhira menjerit.


"Siapa orang orang itu?" Tanya lelaki tersebut.


"Mmm... Mmmm..." Suara Nadhira yang kini bibirnya itu ditutupi oleh lakban.


"Ah lupa, biarkan seperti ini saja, orang orang itu tidak akan bisa merebutmu dariku"


"Mmmm... Mmmmm...."


"Kau mengatakan apa? Bisa diam ngak ha!"


"Mmmmmm.... Mmmmmm....."


Pertarungan itu semakin menjadi jadi ketika adanya darah yang tumpah, tak beberapa lama kemudian adanya beberapa lelaki yang mendobrak untuk masuk kedalam mobil tersebut, ia pun memecahkan kaca yang ada dimobil yang dinaiki oleh Nadhira.


Ciar.... Ciar....


Pecahan kaca tersebut terdengar begitu nyaring hingga membuat Nadhira memejamkan kedua matanya karena takut kalau dirinya akan terkena pecahan kaca tersebut, beberapa orang tersebut langsung memaksa lelaki yang ada didekat Nadhira untuk bertarung dengan mereka.


Mereka menarik tangan lelaki itu untuk keluar dari dalam mobil tersebut dengan paksa, seketika itu juga mereka melibatkan orang itu dalam sebuah pertarungan sama seperti yang lainnya.


Pertarungan itu tak terelakkan lagi, seratus satu orang kini tengah melawan tujuh puluh lima orang, benar benar lawan yang tidak seimbang, ada beberapa orang yang saat ini tengah melawan tiga orang sekaligus itu, dan nampak terlihat seperti sedang kewalahan.


Kini hanya tinggal Nadhira seorang yang berada didalam mobil tersebut tanpa penjagaan, tiba tiba pintu mobil itu dibuka oleh seorang pemuda yang sangat dikenali oleh Nadhira, Nadhira pun sangat terkejut ketika melihat pemuda itu.


"Mmmmmmm..mm.." Entah apa yang dingin dikatakan oleh Nadhira akan tetapi mulutnya itu kini tengah dibungkam oleh lakban yang besar dan mampu merekat dengan kuat.


"Aku akan jelaskan nanti kepadamu, sekarang aku akan membantumu untuk melepaskan ikatan itu, kita harus pergi secepat dari sini" Ucap pemuda tersebut dan langsung dibalas anggukan oleh Nadhira.


Nadhira langsung membelakangi pemuda itu agar ia bisa melepaskan ikatannya itu, pemuda tersebut langsung melepaskan ikatan itu meskipun agak kesusahan karena ikatan tersebut terlalu erat ditangan Nadhira.


Setelah ikatan tersebut telah selesai dilepas, adanya bekas merah yang melingkar dipergelangan tangan Nadhira karena eratnya ikatan itu, Nadhira lalu menarik lakban yang ada dibibirnya dengan kasar hingga membuat bibirnya yang sobek sebelumnya pun kembali berdarah.


"Terima kasih ya atas bantuanmu" Ucap Nadhira.


"Sama sama Dhira tapi bibir kamu terluka, kenapa kau melepaskan lakban itu dengan kasar sih" Ucap pemuda itu khawatir.


"Ini luka bekas tamparan orang jahat itu, tidak ada hubungannya dengan lakban ini, ngak papa ini tidak terlalu sakit juga, kau tidak perlu menghawatirkan soal itu juga"


"Baiklah, kalo boleh aku tau, kenapa mereka menangkapmu Dhira? Apa kau melakukan kesalahan dengan orang orang itu? Apa kau kenal dengan mereka semua?"


"Aku ngak tau, aku juga ngak kenal dengan orang itu sebelumnya, mungkin mereka adalah musuh bisnis Rifki jadi mereka menangkapku" Ucap Nadhira beralasan.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita segera pergi dari sini, sebelum anak buahku kalah ditangan mereka, jumlah mereka lebih banyak daripada anak buahku, aku tidak yakin kalau mereka bisa bertahan lebih lama lagi"


__ADS_2