
Selama ini Kinara hanya dibesarkan seorang diri oleh Ana tanpa ikut campur dari Ayahnya. Hal itulah yang membuat Kinara sangat sulit untuk diberitahu, bahkan Kinara bersikap terlalu aktif dalam melakukan apapun termasuk juga membuat masalah dengan orang orang yang ada disekitarnya.
Sering kali Ana mendapatkan protes dari tetangganya karena kenakalan dari Kinara, bahkan Ana sampai pusing harus mendidiknya dengan cara seperti apa. Kinara sebenarnya adalah gadis kecil yang penurut, akan tetapi karena kurangnya didikan dari Ayahnya membuatnya menjadi gadis yang keras kepala dan bahkan sulit untuk diberitahu.
Seorang Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, hal itulah yang membuat Kinara seperti tidak pernah disayangi oleh seorang lelaki. Bahkan, kasih sayang seorang Ibu saja tidak cukup untuk anak perempuannya.
Tidak heran jika Kinara akan tumbuh menjadi gadis yang keras kepala, bandel, dan bahkan sering membuat masalah kepada para tetangganya itu. Ayah adalah orang yang paling ditakuti oleh anak perempuan, sehingga tanpa hadirnya Rifki, tidak ada yang ditakuti oleh Kinara.
Hal itulah yang membuat Kinara dikenal dengan sosok yang suka membuat masalah, bahkan sehari saja dia tidak bisa untuk duduk diam dirumahnya. Meskipun Ana sudah menghukumnya dengan mengurungnya dirumah, akan tetapi Kinara masih bisa kabur lewat cendela rumahnya.
Ana tidak tau lagi harus bagaimana untuk mendidik Kinara, bahkan gadis itu sama sekali tidak menurut dengannya untuk tidak membuat masalah. Dirinya kelelahan seakan akan pikirannya tidak bisa istirahat, karena dia harus bisa menyelesaikan kerusuhan yang telah dibuat oleh anak perempuannya itu.
Disana, Kinara dikenal dengan bocah membuat rusuh. Bahkan seluruh masyarakat sekitar semuanya mengenalnya, karena dirinya yang suka membuat ulah dengan mereka, hingga dirinya dikenal dengan begitu mendalam oleh mereka.
"Tante, Mama ngak marah kan sama Nara?" Tanya Kinara lirih kepada Siska.
"Ngak kok sayang, justru Mama sedih kalo Nara pergi tanpa pamit seperti ini," Ucap Siska sambil mengusap kepala Kinara pelan.
Melihat Kinara kembali bertemu dengan anggota keluarganya itu, membuat Rifki hanya bisa tersenyum. Rifki sama sekali tidak mengenali sosok wanita yang dihadapannya, hal itu membuat Rifki yang berharap bahwa Kinara adalah anaknya pun pupus begitu saja.
"Syukurlah kalo Nara sudah ketemu sama keluarganya, kalo begitu kami pamit dulu," Ucap Rifki.
"Om baik ngak jadi mampir dirumah Nara?" Tanya Kinara sambil melepaskan pelukannya dari kaki Siska dan justru memegangi tangan Rifki dengan eratnya.
"Lain kali saja ya, Nak. Om masih ada urusan kantor, kapan kapan kalo Om ada waktu, Om akan main dirumah Nara," Ucap Rifki sambil berjongkok dihadapan Kinara.
"Om baik janji ya?"
"Iya Nara, habis ini Nara pulang, terus mandi, terus makan yang banyak biar cepat dewasa. Kalo Nara sudah sebesar Tante, Nara boleh nolongin orang seperti tadi,"
"Iya Om baik,"
"Nara ayo pulang, kasihan Mama Nara yang terus bersedih mencari Nara," Ajak Siska.
"Tapi Nara takut, Tante. Gimana kalo Nara makin dimarahi sama Mama?"
"Hem... Tenang aja, ada Tante kok,"
"Iya Tante,"
Siska terus meyakinkan kalau Ana tidak akan memarahi Kinara nantinya, akan tetapi Kinara masih takut untuk pulang ketika tau bahwa dirinya terlambat untuk pulang. Akhinya Kinara pun mau untuk diajak pulang oleh Siska, setelah dibujuk oleh Rifki sendiri.
"Kalo begitu kami pamit dulu ya, Mas. Terima kasih sudah nolongin Nara, memang anaknya sedikit sulit untuk diberitahu. Tapi sebenarnya hatinya baik," Ucap Siska kepada Rifki.
"Namanya juga anak kecil, Mbak. Seiring berjalannya waktu, dia akan bisa belajar menjadi lebih baik kedepannya."
"Iya Mas, kami permisi dulu,"
"Om, Nara pulang dulu ya? Terima kasih sudah dibelikan es cream tadi, rasanya enak banget, Om. Nara sangat suka," Ucap Kinara kepada Rifki.
"Iya Nak, sama sama."
"Nanti main lagi ya, Om. Sekarang Nara mau pulang dulu,"
"Insya Allah, nanti kita bisa bertemu lagi. Setelah ini Nara langsung pulang dan mandi terus tidur,"
"Iya Om,"
Siska pun mengajak Kinara untuk kembali pulang kerumahnya, sementara Rifki yang melihat kepergian dari Kinara itu hanya bisa tersenyum kecut, dirinya masih ingin bermain main dengan Kinara tapi anggota keluarganya telah menjemputnya untuk pulang.
"Rif..." Panggil Bayu ketika melihat wajah Rifki seperti tengah menyimpan kesedihan.
"Aku ngak papa, jika anakku ada disini mungkin dia sudah sebesar gadis kecil itu, Bay. Entah dimana keberadaan mereka sekarang, aku benar benar merindukan Dhira, bagaimana keadaannya sekarang, aku juga tidak tau. Bertahun tahun dia pergi meninggalkan diriku, apakah dia tidak berniat untuk kembali lagi bersamaku?" Tanya Rifki dengan nada parau.
"Sabar lah, Rif. Aku yakin dia akan kembali suatu saat nanti, dia tidak akan pernah bisa memisahkan seorang anak dari Ayahnya sendiri untuk waktu yang amat sangat lama, dan pasti takdir itulah yang akan membuatmu bisa bertemu dengan anakmu, Rif. Seandainya dia ada disini, pasti dia sangat cantik seperti Dhira,"
"Dia begitu kejam, Bay. Dia tega memisahkan aku dengan anakku sendiri, aku juga ingin bisa bermain dengan anakku itu,"
"Dia pasti memiliki alasan tersendiri atas apa yang dirinya lakukan, Rif. Bukan hanya 1 atau 5 tahun kita mengenal Dhira, tapi sedari kecil, Rif. Kita tumbuh bersama, melewati setiap suka dan duka selalu bersama, dan kau tau sendiri bahwa dirinya selalu berbuat nekat dan tidak memedulikan dirinya sendiri agar bisa menyelamatkan yang lainnya. Mungkin hal itu juga kini dia lakukan agar melindungimu dan juga anak perempuanmu itu,"
"Aku hanya berharap, bahwa dia dan anakku baik baik saja, Bay. Hidup dengan layak tanpa kekurangan suatu apapun, dimanapun dia berada semoga selalu berada didalam lindungan Allah,"
"Aamiin, kita doakan saja yang terbaik untuk keduanya. Dan aku akan selalu berdoa, semoga kalian berdua cepat untuk dipertemukan kembali dan menjadi keluarga yang bahagia,"
__ADS_1
"Itu harapanku, Bay. Yang aku takutkan hanyalah bagaimana jika anakku membenciku karena selama ini aku tidak pernah menemaninya untuk tumbuh dewasa? Semakin bertambahnya hari, rasa takut itu semakin besar, Bay. Bagaimana jika dia membenciku dan tidak menerimaku sebagai Ayahnya? Apa yang harus aku lakukan nantinya?"
"Cinta datang dengan terbiasa, Rif. Seberapapun bencinya itu jika kita sirami dengan kasih sayang, maka kebencian itu akan berubah menjadi cinta. Apalagi meluluhkan hati seorang anak,"
"Iya, Bay. Aku harap bisa melakukan itu suatu saat nanti,"
*****
Siska membawa Kinara untuk pulang, karena Ana sudah ada dirumah. Sebelumnya Ana terlihat sakit karena paniknya memikirkan Kinara, sehingga Siska menyuruhnya untuk pulang lebih awal agar dirinya bisa istirahat dirumah sambil menunggu kedatangan dari Kinara.
"Mama," Ucap Kinara yang kini tengah mematung didepan pintu rumahnya.
"Darimana saja kamu?" Tanya Ana sambil bergegas menuju kearah Kinara.
"Maafin Nara, Ma. Nara janji ngak bakal ngelakuin hal seperti tadi siang,"
Ana langsung memeluk tubuh gadis kecil itu dengan eratnya, dirinya sangat khawatir kalo terjadi sesuatu dengan Kinara. Apalagi diluar sana masih banyak musuh Papanya yang berkeliar, entah mereka mengenali Kinara atau tidak, akan tetapi Ana terus saja merasa ketakutan.
"Mama demam?" Tanya Kinara yang merasakan tubuh Ibunya terasa hangat.
"Kamu darimana saja? Mama takut kamu kenapa kenapa, Nak. Maafin Mama yang sudah marahi Nara tadi ya, Mama hanya ingin Nara baik baik saja,"
"Nara salah, Ma. Maafin Nara yang sudah buat Mama sakit ya?"
"Jangan pernah tinggalin Mama ya, Nak. Mama takut kehilangan Nara, maafin Mama ya, Mama melakukan itu hanya karena tidak ingin Nara kenapa kenapa. Mama sangat menyayangi Nara, Nara adalah harta yang berharga bagi Mama untuk bisa bertahan hidup,"
"Mama, aku tadi bertemu dengan Om baik, dia bilang kalo Mama Nara itu sangat menyayangi Nara dan tidak mau Nara sakit," Ucap Kinara yang masih berada didalam pelukan hangat Ibunya.
"Om baik?"
Ana pun melonggarkan pelukannya itu, dan memegangi kedua pundak anaknya. Tatapan Kinara yang polos itu pun menatap kearah wajah Ana, sementara Ana menatap lekat lekat wajah anak tersayangnya itu.
"Iya Ma, Om yang pernah ngobatin Nara waktu itu, dia baik banget sama Nara. Tadi Om baik juga nolongin Nara yang mau jatuh dari pohon,"
"Siapa Om baik itu? Nara tadi manjat pohon? Kenapa harus manjat pohon, Nak?"
"Siska ngak tau, Kak. Dia memakai jas dan tampan sekali Kak, Nara juga keliatannya akrab banget dengan dia. Seperti dia bukan berasal dari sini deh, Kak. Kayak orang yang berpergian jauh, soalnya Siska juga ngak kenal dengan dia," Sela Siska.
"Nara, jangan mudah percaya sama orang ya, Nak. Kita juga belum kenal dengan dia, nanti kalo dia berniat jahat kepada Nara gimana?" Tanya Ana.
"Tapi dia bukan orang jahat, Ma. Dia baik banget sama Nara, tadi Nara aja diajak untuk beli es cream banyak,"
"Iya Mama tau, tapi Nara harus berhati hati dengan orang yang baru dikenal, dan jangan mudah percaya gitu aja. Apa Nara ngak takut diapa apain sama dia? Kalau Nara diculik sama dia gimana?"
"Nara takut,"
"Mangkanya jangan dekat dekat dengan orang yang tidak dikenal, nanti Nara dijual gimana? Terus Nara ngak bisa ketemu lagi sama Mama dan Tante,"
"Nara ngak mau, Ma. Nara maunya sama Mama dan Tante,"
"Jangan mudah percaya sama orang yang ngak dikenal ya?"
"Iya Ma,"
"Ya sudah, Nara mandi dulu setelah itu makan. Mama sudah siapkan makanan kesukaan Nara,"
"Ayam goreng?"
"Iya,"
Kinara langsung bergegas untuk masuk kedalam rumahnya, dirinya pun langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya itu. Sementara, Ana dan Siska masih tetap berada diruang tamu.
"Siapa Om baik yang dimaksud Nara?" Tanya Ana kepada Siska.
"Ngak tau, Kak. Tapi dari wajahnya hampir mirip seperti wajah Kinara, apa mungkin Kakak kenal?"
"Wajah Kinara jika dilihat lihat hampir mirip dengan suami Kakak, Sis. Apa jangan jangan, Om baik yang dimaksud oleh Kinara adalah Rifki," Ucap Ana menebak.
"Mungkin Kak, tapi aku juga ngak tau pasti soal itu,"
"Kalau memang benar dia adalah Rifki, kita harus pergi dari sini. Aku ngak mau, identitas Kinara terbongkar diusia saat ini, apalagi dirinya masih anak anak yang belum bisa untuk berjaga diri. Belum saatnya Kinara bertemu dengan Ayahnya,"
"Sebenarnya ada apa, Kak? Kakak ngak pernah cerita denganku soal itu, mungkin saja dengan cerita, Kakak bisa menemukan solusinya. Kinara juga berhak tau soal Ayahnya, Kak."
__ADS_1
"Aku tau itu, Sis. Musuh kami terlalu banyak dan mereka mengincar nyawa Kinara, aku tidak akan bisa membiarkan hal itu begitu saja. Apalagi Kinara masih kecil, dan belum bisa untuk beladiri. Aku ngak mau mengambil resiko apapun soal Kinara,"
"Iya Kak, Siska paham kok."
"Kita hanya perlu selidiki siapa Om baik yang dimaksud oleh Nara, aku takut bahwa dia adalah musuh yang berpura pura baik untuk mencuri perhatian Nara. Ketika kita lengah, aku takut dia akan memanfaatkan itu untuk membawa Nara pergi,"
"Kasihan Nara, masih kecil pun sudah memiliki musuh. Bahkan mereka menginginkan nyawa Nara, ngak habis pikir dengan keluarga kalian, Kak. Kenapa harus Nara?"
"Seandainya anak pertamaku masih hidup, Sis. Bukan Kinara yang akan menjadi incaran mereka, tapi anak pertamaku,"
"Memang ada apa, Kak? Kakak belum pernah cerita soal anak Kakak yang pertama,"
"Dia harus meregangkan nyawa meskipun belum lahir kedunia, waktu itu usia kandunganku masih 6 bulan, Sis. Terjadilah sebuah masalah sehingga kami harus kehilangan janin itu, dan aku ngak mau Kinara mengalami nasib yang sama dengan anakku itu."
*****
Kinara kini tengah tengkurap diatas kasurnya sambil melihat kearah bukunya, dirinya sedang membaca buku tersebut. Ana sesekali menengok kearah anaknya yang belajar sangat rajin itu, tidak biasanya anaknya mau untuk membaca buku.
"Ma, kalo kita rajin belajar, nanti bakalan bisa meraih cita cita kan, Ma? Soalnya, kata guru Nara begitu," Tanya Kinara tanpa menoleh kearah Ana.
"Iya, cita cita Kinara mau jadi apa?" Tanya Ana balik.
"Kinara mau ketemu sama Papa, Ma. Kata Mama, Papa itu baik dan pintar, jadi Nara mau tunjukkan ke Papa nanti kalo Nara juga pintar seperti Papa,"
"Papa Nara pasti bangga sama Nara,"
"Tapi, Papa Nara dimana, Ma? Kenapa tidak pernah nemuin Nara selama ini, Nara juga ngak tau wajah Papa seperti apa,"
"Papamu ada diluar negeri, Nara. Mencari uang demi kita,"
"Tapi kenapa ngak pernah pulang, Ma? Apa dia ngak rindu sama Nara?"
"Kalo Nara sudah besar nanti, Nara bakalan tau soal ini. Untuk sekarang, Nara belajar yang sungguh sungguh ya, biar suatu saat nanti bisa meneruskan perusahaan Papamu,"
"Iya Ma,"
Ana pun mengusap puncak kepala Kinara, bukan hanya Kinara saja yang pengen bertemu dengan Rifki, akan tetapi dirinya juga sangat merindukan sosok Rifki yang sangat berarti baginya. Dirinya tidak bisa bertemu dengan Rifki, karena dia tidak mau identitas Kinara akan terbongkar, dan hal itu akan memancing musuh musuhnya untuk berusaha mencelakakan Kinara.
"Ma, apa Om baik mau menculik Nara?" Tanya Kinara lagi ketika teringat tentang ucapan Mamanya sebelumnya itu.
"Mama tidak kenal dengan dia, bagaimana kalo dia itu musuh dari Papamu? Nara bisa dalam bahaya nantinya,"
"Tapi Om baik itu sangat baik sama Nara, Ma. Dia bahkan tidak pernah berbicara kasar kepada Nara,"
"Memang Nara tau siapa Om baik itu? Berapa kali Nata bertemu?"
"Nara ngak kenal, Ma. Tapi Nara panggilnya Om baik, Nara bertemu dua kali,"
"Nah, Nara sendiri belum kenal kan dengan dia kan? Apalagi cuma bertemu dua kali saja, kalo dia benar benar mau nyulik Nara gimana?"
"Nara ngak mau, Ma. Nara maunya sama Mama sama Papa,"
"Maafin Mama ya, Mama belum bisa bertemu dengan Papamu sekarang. Tapi, semoga secepatnya kita bisa berkumpul lagi seperti dulu,"
"Emang Papa kemana, Ma?"
"Papamu ....." Ucap Ana menggantung mendengar pertanyaan dari anaknya itu, "Dia ada diluar negeri dan sedang mencari uang untuk kita, untuk menghidupi kita biar Nara masih bisa buat beli jajan," Bohong Ana kepada anaknya.
"Tapi kenapa Papa ngak pernah pulang, Ma? Apa dia ngak mau ketemu sama kita?"
Ana pun menerbitkan sebuah senyuman kepada anaknya itu, senyuman yang sulit untuk diartikan dengan jelasnya, dirinya tidak tau apa yang harus ia katakan untuk saat ini. Kinara masih kecil, dan belum mengerti tentang semuanya.
"Apa Papa lebih mentingin bisnisnya daripada ketemu sama kita, Ma? Kenapa dia ngak mau nemuin Nara selama ini? Apa dia ngak peduli sama Nara?"
"Nara ngak boleh berpikiran seperti itu,"
"Tapi temen temen Nara yang ada dipanti, selalu ngomong seperti itu, Ma. Papa Nara ngak pernah pulang karena sibuk dengan kerjanya, emang berapa sih gaji Papa, sampai sampai dirinya tidak pernah pulang hanya untuk menjenguk Nara sebentar."
"Nara! Mama ngak pernah ngajarin kamu bilang seperti itu,"
"Lalu Papa kemana, Ma?"
"Sudah Mama bilang, Papamu bekerja untuk Nara."
__ADS_1