
Sebelum sampai dipemakaman Nadhira dan Rifki membeli bunga terlebih dahulu, mereka pun kini tengah memasuki area pemakaman tanpa alas kaki, mereka pun berjalan menuju ketempat dimana Sarah dimakamkan.
"Oma, Dhira datang untuk menjenguk Oma," Ucap Nadhira lirih dan langsung meluruhkan tubuhnya dibatu nisan milik Sarah.
Melihat itu membuat Rifki langsung mengusap punggung wanita itu dengan harapan bahwa wanita tersebut akan merasa tenang karena usapan lembut darinya itu, sementara itu air mata Nadhira seakan akan seperti air terjun yang sudah tidak mampu untuk dibendungkan kembali.
"Dhira sangat rindu dengan Oma, Oma kenapa tidak pernah hadir dalam mimpi Dhira? Dhira pengen banget ketemu sama Oma lagi seperti dulu,"
"Jangan nangis sayang, kita doakan saja Oma, semoga beliau tenang dialam barunya."
Tanpa menjawab pertanyaan tersebut Nadhira hanya menganggukkan kepalanya perlahan lahan, Rifki pun membacakan sebuah ayat suci Al-Qur'an dipemakaman tersebut untuk mendoakan mereka yang telah gugur ditempat itu, tak lupa juga ia mendoakan anaknya yang meninggal sebelum dirinya dilahirkan ke dunia ini.
Nadhira hanya mendengarkan suara Rifki yang tengah berdoa itu dalam diamnya, Rifki bukanlah seorang santri akan tetapi suaranya yang membaca ayat suci Al-Qur'an itu begitu sangat menenangkan bagi hati Nadhira.
Rifki pun membacakan dengan memejamkan kedua matanya seraya menundukkan kepalanya dalam, Nadhira lalu menatap wajahnya dengan lekat, wajah orang yang sangat ia sayangi, wajah seseorang yang begitu baik dan tulus kepadanya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
Setelah selesai membaca doa, lelaki tersebut langsung menatap lekat lekat kearah wajah istrinya. Ada perasaan yang bergemuruh didalam perasaannya saat ini, melihat Nadhira yang menangis seperti itu, sontak membuat perasaan Rifki berkecamuk.
"Kenapa Oma ninggalin Dhira secepat ini? Dhira rindu hiks.. hiks.. hiks, Dhira ingin bertemu dengan Oma. Oma, datanglah kemimpi Dhira,"
Nadhira pun menangis sejadi jadinya ketika ditatap oleh Rifki seperti itu, ada begitu banyak kerinduan didalam hatinya saat ini, untuk orang yang tidak akan pernah mungkin kembali lagi didunia.
"Jangan nangis, sayang. Oma sudah tenang, kita doain saja ya, semoga Oma bahagia disana bersama dengan bidadari bidadari yang ada disyurga-Nya" Ucap Rifki sambil mengusap pelan puncak kepala Nadhira.
"Aku sangat rindu dengan Oma, Rif. Aku ingin bertemu dengannya lagi,"
"Iya, aku tau sayang. Kita sangat merindukan Oma, tapi kita hanya bisa berdoa untuk yang terbaik bagi Oma, jangan nangis nanti Oma ikut nangis disana,"
"Dimana makam anak kita, Rif?"
"Ikut aku,"
Rifki pun membantu Nadhira untuk bangkit dari duduknya setelah dirinya bangkit, keduanya pun menuju kearah yang berada tidak jauh dari tempat dimana keduanya berdiri saat ini. Terlihat sebuah pemakaman yang kecil dan dikelilingi oleh pemakaman yang lainnya.
"Ini adalah makam anak kita, Dhira. Dan yang disebelahnya itu adalah pemakaman milik Theo"
Rifki menunjukkan makam tersebut kepada Nadhira, ada rasa sesak dihati Nadhira saat ini ketika melihat makam sahabat dan juga anaknya. Nadhira memandangi wajah Rifki dengan linangan air mata, Rifki yang melihat tatapan sendu milik Nadhira itu pun langsung menghapus air mata gadis itu.
"Jangan sedih, sayang. Kita doakan saja, semoga arwah mereka tenang dialam barunya."
"Theo benar benar sudah ngak ada, Rif?"
Rifki mengangguk pelan kepada Nadhira, "Dia masih ada, tapi alam kita sudah berbeda dengannya."
Nadhira pun berlutut didepan makam anaknya yang berada tidak jauh dari makam Theo. Melihat itu membuat Rifki ikut serta meluruh didekat Nadhira dan memegangi batu nisan milik anaknya yang belum sempat lahir itu.
"Maafin Papa, Nak. Ini adalah penyesalan terbesar Papa karena tidak bisa menyelematkan dirimu, Papa tidak bisa berbuat apa apa karena Allah lebih menyayangimu disana daripada Papa," Ucap Rifki.
"Maafin Mama juga ya, Nak. Mama tidak bisa menjagamu dengan benar, Mama membuatmu tiada sebelum bisa merasakan indahnya dunia ini. Kini Allah lah yang akan menjaga dirimu disana dengan baik, Mama akan selalu menyayangimu, Nak."
Nadhira pun menyandarkan kepalanya dipundak Rifki. Sementara, Rifki pun mengusap puncak kepala Nadhira dengan pelan untuk menenangkan wanita tersebut. Berada didalam pelukan Rifki membuat Nadhira merasakan kenyamanan, siapa sangka bahwa air mata Rifki kini tengah mengalir, akan tetapi langsung dihapus olehnya.
"Dia anak kita, Rif. Dan selalu akan menjadi anak kita,"
"Iya sayang, anak kita yang akan membawa kita menuju syurga-Nya. Dan selamanya akan menjadi anak kita berdua,"
"Theo, aku titipkan anakku kepadamu ya. Ku harap, kau bahagia disana bersama dengan bidadari bidadari surga. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menjaga keponakanmu dengan benar, dan berakhir dengan menghilangkan nyawanya. Tapi kau tenang saja, pengorbananmu tak akan pernah menjadi sia sia."
"Theo sebenarnya orang yang baik, Dhira. Hanya saja, dirinya salah untuk melangkah."
"Kau benar, Rif. Selama ini dirinyalah yang menjagaku dengan baik, dia bahkan sering terluka karena diriku,"
"Sekarang takdir berpihak kepadanya. Dia pun kembali dengan keadaan yang baik, keadaan dimana kita dan dia saling memaafkan"
"Iya Rif,"
*****
"Bu, kenapa aku terasa gugup seperti ini," Ucap Nadhira ketika sedang dimake up in.
Ini adalah hari dimana resepsi pernikahan keduanya diadakan. Nadhira nampak terlihat gugup untuk saat ini, padahal dirinya sudah lama menikah dengan Rifki akan tetapi disaat seperti ini dirinya justru terlihat gugup dan gelisah.
"Lah, bukannya kalian sudah lama menikah ya? Kenapa masih gugup?" Tanya Bi Ira yang sedang duduk tidak jauh dari Nadhira.
"Ngak tau, rasanya kayak pengantin baru saja,"
"Memang pengantin baru lagi, kan kalian mau ngadain resepsinya kali ini,"
__ADS_1
"Iya juga sih, Bu. Dhira rasanya seperti gugup saja,"
"Wajar jika pengantin baru merasa gugup,"
"Tapi Dhira bukan pengantin baru lagi, Bu. Dhira bahkan sudah hampir setahun menikah dengan Rifki,"
Resepsi pernikahan keduanya pun dilaksanakan digedung yang telah Rifki sewa sebelumnya, Nadhira kini berada disebuah ruangan untuk dirias. Sementara, Rifki berada didalam perjalanan menuju ke gedung tersebut bersama dengan kedua orang tuanya beserta Ayu.
"Kakak nikah lagi?" Tanya Ayu penasaran.
"Ngak, hanya resepsinya doang, Ay."
"Kirain mau cari istri lagi, ku laporin ke Kakak ipar,"
"Lama lama ku tendang dirimu ke Amerika, Ay. Biar sekalian ngak ngeresek lagi,"
"Kalo Ayu ditendang ke Amerika, terus yang jagain Mama sama Papa siapa?"
"Ya, Mama buat debay lagi lah."
Ayu pun mencerucutkan bibirnya mendengar jawaban dari Rifki. Mereka kini menuju ke gedung yang telah disewa oleh Rifki, dengan memakai jas hitam membuat Rifki nampak terlihat berwibawa dan terpandang.
*****
Tibalah Rifki beserta keluarga besarnya digedung yang telah ditentukan, mendengar kedatangan dari Rifki membuat Nadhira semakin gugup. Bi Ira memegangi tangan Nadhira yang nampak gemetaran itu, seraya menenangkan wanita itu.
"Padahal udah lama nikah, masih saja gemetaran kayak pengantin baru aja," Ucap Bi Ira sambil tersenyum hangat kearah Nadhira.
"Ngak tau, Bu. Rasanya seperti kembali nikah lagi,"
"Memang kembali nikah, kan ini resepsinya."
"Rifki ganteng ngak, Bu?" Tanyanya seraya memperhatikan kedatangan Rifki ditempat itu.
"Ganteng sekali, Nak"
"Kok Ibu puji sih, gantengnya Rifki kan hanya untuk Dhira, Bu."
Acara resepsi pun dimulai, seluruh tamu undangan kini tengah menyaksikan resepsi pernikahan Rifki dan Nadhira dengan meriah. Resepsi tersebut dirayakan dengan besar besaran dan mengundang beberapa CEO dari perusahaan lainnya untuk menyaksikan acara tersebut.
Rifki mengucapkan janji didepan banyak orang, janji untuk setia kepada Nadhira seorang. Nadhira juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Rifki, perayaan itu tidak akan pernah dilupakan oleh keduanya.
"Waktu pernikahan kalian, aku tidak datang. Tapi, resepsi kalian saat ini, aku usahakan datang untuk mengucapkan selamat," Ucap Susi yang kini tengah menggandeng tangan Afan, Afan adalah Dokter yang pernah mengobati Rifki.
"Terima kasih atas kehadirannya ya, Sus. Semoga kalian berdua cepat nyusul," Ucap Rifki yang melihat kebahagiaan diwajah keduanya.
"Cie.. bakalan ada pasangan baru nih," Seru Nadhira yang merasa bahagia.
"Doain, nanti kalian juga harus hadir ya," Ucap Afan kepada keduanya.
"Kalo ngak hadir, bakalan aku jemut dirumah kalian." Ancam Susi.
Keempatnya pun tertawa bersama sama, Susi dan Afan terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Karena pekerjaannya sebagai Dokter sehingga membuat Susi dan Nadhira jarang untuk bertemu, sehingga Nadhira tidak mengetahui bahwa hubungan Susi dan Afan sangat dekat.
"Selamat ya, semoga sakinah mawadah warahmah" Ucap seseorang dengan pelan dikejauhan ketika melihat kebahagiaan yang tercipta diwajah Nadhira dan Rifki.
Setelah mengucapkan hal itu, seseorang itu pun pergi dari gedung tersebut.
*****
Nadhira dan Rifki nampak begitu bahagian saat ini, gedung itu terasa begitu ramai untuk merayakan resepsi pernikahan keduanya. Banyak tarian tarian yang dilakukan oleh ahlinya disana, dan diiringi dengan musik yang mengalun indah.
"Mau minum, sayang?" Tanya Rifki seraya menyerahkan segelas minuman kepada Nadhira.
"Minuman apa ini?" Tanya Nadhira balik.
"Alkohol, biar teler berdua." Rifki pun terkekeh setelah mengatakan itu.
"Hah? Kau kan bukan peminum alkohol, Rif. Ngak mau, buang sekarang ngak!"
"Bukannya kau suka ini sayang?"
"Ngak. Aku ngak mau kamu minum itu, itu tidak baik untuk kesehatanmu."
Rifki pun duduk disebelah Nadhira sambil menaruh gelas yang berisi air tersebut dimeja yang ada disebelahnya. Rifki menarik tubuh Nadhira kedalam pelukannya itu, ia pun mengusap pelan puncak kepala Nadhira.
"Sekali kali, Dhira. Kapan lagi bisa minum berdua bersamamu," Ucap Rifki.
__ADS_1
"Kenapa harus minum? Kalo nanti kita bisa menikmati masing masing didalam kamar?"
"Aneh memang"
Rifki langsung menyambar gelas tersebut, ia lalu meminumnya beberapa tegukkan sebelum Nadhira merampasnya dan menaruhnya kembali diatas meja. Nadhira memegangi erat mulut Rifki dan memijat mijat leher Rifki bagian belakang untuk membuat lelaki itu memuntahkan apa yang dirinya minum.
"Kenapa diminum sih! Udah tau ini alkohol. Aku ngak mau kamu minum minuman seperti ini, muntahin Rif" Gerutu Nadhira kepada Rifki.
"Enak Dhira. Manis kayak kamu,"
"Bagaimana bisa alkohol rasanya manis. Muntahin sekarang juga, Rifki!"
"Ngak mau, sayang. Lagian juga udah masuk ke perutku sekaran, mana bisa dikeluarkan lagi."
Rifki pun menjatuhkan pelukannya ke tubuh Nadhira, ia menarih dagunya dipundak Nadhira seraya memeluknya dengan erat. Nadhira meraih kembali segelas minuman tersebut dan mencium aromanya, sama sekali tidak tercium bau alkohol disana.
"Kau menipuku, Rif?" Tanya Nadhira dengan kesal.
Rifki terkekeh pelan mendengar ucapan Nadhira itu, lalu ia berkata, "Bagaimana aku bisa minum alkohol. Sementara, dirimu saja sudah membuatku candu, itu hanya sirup gula sayang."
"Kau membuatku khawatir, Rif. Aku ngak mau kamu jadi pemabuk seperti Theo"
"Kan enak, biar bisa mabuk mabukan bersamamu, Dhira. Kau kan juga suka itu,"
"Kenapa kamu jadi ngomongin Theo?"
"Kamu mau tau sesuatu ngak?"
"Apa?"
Rifki lalu mengeluarkan ponsel miliknya, keduanya lalu fokus kepada layar ponsel tersebut. Rifki menekan folder vidio yang terlihat dilayar ponselnya, Nadhira memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Rifki saat ini. Kedua matanya membulat lebar ketika menyaksikan sebuah vidio.
"Kapan aku melakukannya?" Tanya Nadhira keheranan dengan rasa malu.
"Bukankah ini lucu sayang?"
"Rifki, itu ngak benar, pasti bukan diriku"
"Lalu siapa lagi?"
"Nyebelin banget sih,"
"Kamu lucu kalo lagi mabuk, mau mabuk lagi?"
"Ngak usah pake alkohol, nafasmu saja sudah membuatku terlena,"
Rifki pun tertawa mendengar ucapan Nadhira, acara resepsi pernikahan mereka berjalan dengan lancarnya tanpa ada halangan apapun. Para tamu undangan pun bahagia karena hidangan yang telah disajikan dengan sempurna oleh mereka, tidak ada yang merasa kurang suatu apapun.
*****
Nadhira dan Rifki kini sudah berada didalam kamar mereka yang dihiasi oleh bunga bunga yang indah. Kamar itu juga telah disemprot oleh aroma parfum mawar yang sangat menyegarkan, keduanya kini sudah terbaring bersebelahan sambil menatap kearah langit langit kamarnya.
Keduanya merasa kelelahan setelah acara resepsi pernikahan, terbaring diatas kasur karena kelelahan itu adalah sesuatu yang melegakan. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan daripada merebahkan tubuh setelah beraktivitas panjang.
"Rasanya seperti malam pertama lagi, suasananya pun sama sekali tidak berubah," Ucap Rifki.
"Iya, sayang. Dulu, malam pertama kita dipenuhi dengan kesedihan atas kepergian Oma untuk selama lamanya, dan sekarang dihatiku hanya ada rasa bahagia ketika kita bersama,"
"Begitu banyak rintangan telah kita lalui bersama, Dhira. Suka dan duka seakan akan tiada akhirnya, meskipun kita baru menikah tapi kita sudah diuji dengan begitu sangat dahsyatnya,"
"Sampai detik ini, hanya dirimu yang paling aku sayangi, Rifki. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu didalam hatiku, tidak akan ada yang memisahkan kita,"
"Aku masih teringat dengan jelas, Dhira. Wajah bahagia dari Oma, disaat aku mengucapkan ijab qobul didepannya, dan sejak saat itu juga. Kau telah resmi menjadi milikku seutuhnya,"
"Selamanya."
Keduanya saling melemparkan sebuah senyuman yang penuh dengan kebahagiaan. Rifki menggunakan lengan tangannya sebagai bantalan untuk Nadhira, Nadhira langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat eratnya seolah olah tidak ingin melepaskan lelaki yang sangat ia cintai itu.
"Mau buat debay lagi sekarang?" Tanya Rifki.
"Masih sanggup?"
"Masih lah, meskipun dari pagi aku tidak berhenti beraktivitas tapi aku kuat kok,"
"Baiklah,"
Rifki pun menarik selimut yang ada ditempat itu untuk menutupi tubuh keduanya, ruangan yang dipenuhi dengan bunga mawar itu terlihat sangat romantis. Dengan suasana yang remang remang indah, keduanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan saat ini.
__ADS_1