
Rifki pun menyuruh Bayu untuk masuk kedalam ruangannya, dengan segera Bayu bergegas masuk kedalam ruangan tersebut karena dirinya tidak ingin membuat Rifki menunggunya terlalu lama. Setibanya dirinya diruangan tersebut, Rifki lalu menyodorkan ponselnya kepada Bayu.
"Maksudnya apa'an Rif?" Tanya Bayu yang tidak paham dengan ucapan Rifki.
"Baca!" Perintah Rifki kepada Bayu.
Bayu pun langsung mengambil ponselnya itu dan membacanya, Bayu tidak paham dengan maksud dari perkataan Rifki meskipun dirinya sudah membacanya beberapa kali. Itu adalah sebuah bukti penarikan, tapi uang sekecil itu tidak ada apa apanya bagi seorang Rifki.
"Pengeluaran 20 juta untuk apa? Memang ada apa dengan ini, Rif? Apa ada sesuatu yang serius?"
"Ini adalah rekening jatah bulanan untuk Nadhira yang aku kasih, sejak dirinya jatuh dijurang waktu itu, ini baru pertama kalinya terjadi penarikan dan nominalnya tidak sedikit, Bay. Aku merasa ada yang aneh dengan penarikan itu" Jelas Rifki.
"Apa mungkin kartu rekening itu jatuh ke tangan orang lain, Rif? Dan baru pertama kali ini dirinya berani menggunakannya karena berpikir bahwa telah aman untuk memakainya,"
"Tidak mungkin, pin kartu itu hanya aku dan Nadhira yang tau. Jika pun ada yang menggantinya, pasti ada pemberitahuan Bay, lagi pula bagaimana bisa kartu itu ditemukan tanpa lecet sedikitpun? Dan bagaimana bisa orang lain mengetahuinya pinnya"
"Bener juga sih, apa jangan jangan yang melakukan penarikan itu adalah Nadhira sendiri? Dan dirinya benar benar masih hidup,"
"Aku merasa juga begitu, Bay. Mungkin dirinya benar benar masih hidup sampai saat ini,"
"Jika itu benar, kita harus segera mencarinya Rif."
"Priksa datanya Bay, kapan dan dimana terjadi penarikan ini, kita harus kesana secepatnya."
"Baik Rif,"
Bayu pun berkutik dengan laptop yang ada diruang Rifki itu, ia pun memeriksa mengenai penarikan dari kartu rekening milik Nadhira itu, cukup lama dirinya berkutik dengan laptop tersebut akhinya dirinya mengetahui informasi mengenai penarikan itu.
"Penarikan itu terjadi hari ini, Rif. Dan dijam 10 lebih 30 menit tadi siang, dan itu sekitar 3 jam yang lalu. Itu terjadi dijalan pahlawan nomor 64, kota Bima sakti. Letaknya berada sekitar 550km dari sini, apa mungkin Nadhira berada disana?"
Pernyataan itu langsung membuat Rifki bangkit dari duduknya dan langsung bergegas berjalan menuju kearah Bayu, dan ingin memeriksanya sendiri. Dirinya pun membaca hasil dari pencarian Bayu itu, dengan telitinya dirinya membaca setiap informasi yang didapatkan oleh Bayu.
"Butuh waktu berapa lama untuk mencapai tempat itu Bay?" Tanya Rifki.
"Kurang lebih 10 jam, Rif. Tergantung kemacetan yang akan kita peroleh diperjalanan,"
"Perintah anggota Gengcobra sekarang, kita harus kesana sekarang juga!" Perintah Rifki kepada Bayu.
"Baik Rif, aku akan menghubungi anggota Gengcobra sekarang juga,"
Bayu lalu menelpon seseorang melalui ponsel miliknya, tak beberapa lama kemudian telpon itu pun akhinya diangkat oleh seseorang dari seberang saja.
"Siapkan pasukan, aku tunggu sekarang juga!" Ucap Bayu kepada seseorang yang diseberang telpon.
Bayu lalu memutuskan sambungan tersebut setelah mendengar jawaban dari orang itu, Rifki lalu bangkit dari duduknya untuk mendekat kearah almarinya untuk mengambil jas miliknya itu. Keduanya lalu bergegas keluar dari ruangan pribadi milik Rifki yang ada didalam rumahnya.
Setelah mendengar perintah dari Bayu, Reno segera memerintahkan anggota Gengcobra untuk segera bergegas menuju kerumah Rifki, dirinya beserta anggota Gengcobra mengendarai sekitar 15 mobil hitam yang terlihat mewah dan juga beberapa anggota Gengcobra yang menaiki motor vixion yang juga berwarna hitam serasi dengan pakaian mereka yang serba hitam.
Tak beberapa lama kemudian anggota Gengcobra akhirnya tiba ditempat dimana Rifki berada, melihat itu langsung membuat Rifki langsung naik kedalam mobil yang disopir oleh Reno. Mereka pun langsung menjalankan mobil mobil itu kearah yang dimaksud oleh Rifki.
"Lebih cepat, Ren. Kita harus segera sampai disana," Ucap Rifki kepada Reno.
"Baik Tuan Muda, saya akan menambah kecepatan," Ucap Reno.
Reno pun menambah kecepatan laju mobil tersebut sesuai dengan perintah dari Rifki, Rifki merasa yakin bahwa dirinya akan segera menemukan keberadaan dari Nadhira. Disaat seluruh dunia mengatakan bahwa Nadhira telah tiada, akan tetapi hatinya terus percaya bahwa Nadhira memang masih ada didunia ini dan tidak akan pernah meninggalkannya begitu saja.
"Jika memang benar bahwa Nadhira masih hidup, semoga kalian segera dipertemukan, Rif. Dan kita akan segera menemukan keberadaan Nadhira," Ucap Bayu sambil menepuk pundak Rifki pelan.
"Aamiin, semoga memang benar dia masih hidup," Ucap Rifki.
"Jadi Dhira masih hidup?" Tanya Fajar yang tidak sengaja mendengar ucapan keduanya.
"Ini masih duga'an saja, Jar. Semoga saja itu benar," Jawab Bayu.
"Kalau memang dia masih hidup, kenapa dia tidak kembali pulang?" Tanya Fajar lagi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bayu.
__ADS_1
Bayu tidak mau hanya karena pertanyaan dari Fajar langsung membuat Rifki kembali bersedih seperti sebelumnya. Tatapan itu langsung membuat Fajar menutup mulutnya rapat rapat, sementara Rifki hanya menundukkan kepalanya memikirkan pertanyaan yang diucapkan oleh Fajar.
"Maafkan aku Rif, bukan maksudku untuk bertanya tentang hal seperti itu. Itu hanya pertanyaan tanpa berpikir, abaikan saja," Ucap Fajar yang merasa bersalah karena telah melontarkan pertanyaan itu.
"Jangan pikirkan soal pertanyaan Fajar, Rif. Dia memang suka berbicara tanpa berpikir panjang," Ucap Bayu.
"Iya itu benar Tuan Muda, memang mulutnya tidak bisa dikondisikan," Tambah Vano.
Setelah sekian lama Tuan Mudanya itu bersedih, mereka tidak ingin jika pertanyaan yang dilontarkan oleh Fajar kembali membuatnya terpuruk seperti sebelumnya. Hari ini pertama kalinya Rifki terlihat bersemangat, akan tetapi pertanyaan tersebut langsung membuatnya kembali murung.
"Kita akan segera menemukan Dhira, Rif. Jangan dengarkan ucapan Fajar," Ucap Bayu.
"Apa Dhira sudah tidak mau bertemu denganku lagi? Jika itu benar maka...." Ucap Rifki yang menggantung begitu saja.
"Itu tidak benar, Rif. Mungkin saja dia memiliki kesulitan untuk bisa bertemu dengan dirimu,"
"Benarkah?"
"Yakinlah soal itu,"
Rifki pun tidak menanggapinya lagi, dirinya terus memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Fajar saat ini. Jika memang benar Nadhira masih hidup, tapi kenapa dirinya tidak balik kerumahnya? Padahal dirinya juga memegang kartu ATM yang bisa membawanya untuk kembali pulang kerumah.
Akan tetapi, Nadhira tidak melakukan hal tersebut. Entah apa yang terjadi dengan Nadhira saat ini, Rifki hanya bisa berdoa semoga Nadhira baik baik saja dan bisa berkumpul kembali seperti sebelumnya.
"Dhira, kamu dimana sayang?" Tanya Rifki lirih entah kepada siapa dirinya bertanya.
Melihat Tuan Muda mereka seperti itu, membuat seluruh anak buahnya yang berada didalam mobil itu merasa iba. Wajah Rifki yang selalu ceria selama ini pun sudah tidak terlihat lagi, kini berubah menjadi wajah datar yang tanpa ekspresi.
Kepergian dari Nadhira benar benar telah merubah hidupnya, Rifki sepertinya sudah tidak memiliki semangat hidup. Rasanya seperti dirinya hidup hanya untuk menunggu giliran untuk dipanggil oleh sang pencipta, tanpa mau berusaha untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik.
*****
Kedatangan Nadhira dari puskesmas itu pun membuat para tetangga berdatangan untuk mengucapkan selamat atas kelahiran anaknya itu. Bahkan tidak sedikit masyarakat disitu merasa prihatin dengan kondisi Nadhira yang melahirkan anaknya tanpa kehadiran dari suaminya.
Bahkan ada yang menyinyir bahwa anak tersebut adalah anak haram sehingga Nadhira kabur dari rumah untuk bisa melahirkan anaknya. Dan bahkan Nadhira sendiri tidak ingin balik kerumahnya dan hal itu membuat tuduhan mereka seakan akan tengah dibenarkan olehnya.
"Ada apa, Sis? Kenapa menangis?" Tanya Nadhira sambil menggendong anaknya.
"Aku tadi ngak sengaja dengar penduduk desa sedang membicarakan Kakak yang buruk buruk disini. Mereka bilang kalo Kinara itu anak haram dan seorang anak yang tak bernasab,"
Deg...
Perkataan itu langsung menorehkan sebuah luka didalam hati Nadhira, ia pun memeluk anaknya dengan eratnya. Ia tidak terima jika anak tersebut dikatakan sebagai anak haram oleh mereka semua, dia adalah anaknya, dia juga memiliki seorang Ayah.
"Anakku bukan anak haram, mengapa mereka tega mengatakan itu, Sis?"
"Aku juga ngak tau Kak, kenapa bisa menyebar kabar seperti itu diluar."
"Mungkin ada yang tidak suka dengan Kakak didesa ini, Sis. Apa Kakak pergi saja dari sini?"
"Kakak ngak boleh pergi, aku dan Ibu sangat menyayangi Kakak seperti Kakak sendiri. Kalo Kakak pergi, aku jadi sedih dan ngak punya teman lagi, terus ngak bisa bermain dengan Nara lagi,"
"Tapi kehadiran Kakak disini membuat kalian susah,"
"Ngak kok, Kak. Siska justru senang karena adanya Kakak disini,"
Tak beberapa lama kemudian datanglah Bu Siti dengan linangan air mata. Baru kemarin Kinara lahir, akan tetapi musibah pun menimpa keluarga tersebut, melihat kedatangan Ibu angkatnya dengan linangan air mata membasahi pipinya, Nadhira lalu bergegas menghampirinya.
"Ada apa, Bu? Kenapa menangis seperti ini?" Tanya Nadhira dengan kedua mata yang berkaca kaca.
"Penduduk desa ingin mengusirmu dan anakmu dari sini, Nak. Mereka bilang bahwa kalian adalah aib didesa ini, Ibu sudah jelaskan kepada mereka yang sebenarnya, tapi mereka tidak mau mendengarkan penjelasan Ibu." Bu Siti pun terisak tangis setelah mengatakan itu kepada Nadhira.
"Mungkin Dhira harus pergi dari desa ini, Bu. Dhira ngak mau mereka mengatakan bahwa Anakku adalah Anak haram, Dhira juga ngak ingin membuat kalian susah seperti ini."
Nadhira lalu memeluk anaknya dengan eratnya, anak ini bukan anak haram dan anaknya juga memiliki seorang Ayah. Seandainya mereka tau siapa Ayah dari Anaknya itu mungkin mereka semua tidak akan berani mengatakan hal itu, bahkan Rifki dengan mudahnya akan mampu untuk meratakan desa itu.
__ADS_1
"Jika harus pergi dari desa ini, maka kita harus pergi bersama sama, Nak." Putus Bu Siti.
"Tidak Bu, rumah ini sangat berarti bagi Ibu karena peninggalan dari suami Ibu. Jika Ibu pergi bersama Dhira, maka Ibu akan kehilangan rumah ini,"
"Rumah bukanlah segalanya, Nak. Kamu sudah Ibu anggap sebagai anak sendiri, dan jika anak Ibu susah maka Ibu tidak bisa membiarkan susah sendirian. Didesa ini juga Ibu tidak memiliki saudara, jadi untuk apa terus berada didesa ini?"
"Maafin Dhira, kehadiran Dhira dikeluarga Ibu membuat Ibu harus seperti ini."
"Jangan katakan seperti itu, Nak. Sekarang kita adalah keluarga, dan keluarga harus saling berbagi suka dan duka."
Bu Siti pun meraih leher kedua anaknya, dan menyandarkan keduanya dipundaknya itu. Dia pun membelai pelan kepala anak anaknya, Siska dan Nadhira pun saling berpandangan.
"Benar kata Ibu, kita ngak boleh berpisah Kak, rumah bukanlah sebuah tempat untuk pulang, tapi rumah yang sebenarnya adalah tempat dimana kita saling menyayangi dan memberi dukungan. Jika tidak adanya Kakak dirumah itu, maka rumah itu akan terlihat sepi" Ucap Siska dengan linangan air mata.
"Semoga Allah membalas kebaikan kalian, terima kasih ya Bu, terima kasih ya Siska. Aku merasa seperti disayangi oleh keluarga sendiri,"
Bu Siti pun lalu mengemasi barang barang mereka, sebelumnya warga mengusirnya maka dia dan yang lainnya harus pergi dari tempat itu. Ketika tengah mengemasi barang barangnya tiba tiba suara para warga terdengar bergemuruh didepan rumah sederhana itu.
"Bu, bagaimana ini?" Tanya Nadhira dengan paniknya.
"Apapun yang terjadi, kita harus bersama sama Kak," Ucap Siska sambil menepuk pundak Nadhira dua kali.
"Ibu sudah siap," Ucap Bu Siti.
Ketiganya pun melangkah menuju kearah pintu utama rumah tersebut, dengan perlahan lahan Siska membuka pintu rumah tersebut, dan terlihatlah beberapa orang tengah berkumpul disana sambil meneriakkan kata kata yang buruk kepada Nadhira dan bayinya.
"Dasar pelac*ur! Berani beraninya tinggal didesa ini," Ucap seorang wanita yang diketahui adalah istri dari kepala desa.
"Sebaiknya kau pergi dari desa ini beserta anakmu itu! Benar benar mencoreng nama baik desa ini,"
"Bu Siti, kenapa dirimu mau menerima orang seperti ini dirumahmu?"
"Pantesan diusir dari rumah, orang perempuan ini sudah rusak,"
Begitu banyak suara yang saling bersahutan untuk meneriaki Nadhira. Nadhira lalu menutup kedua telinganya karena tidak sanggup untuk mendengar ucapan dari mereka semua, sementara Siska lalu memeluknya untuk menjadi pelindung baginya.
Mereka melakukan itu karena adanya isu bahwa kecantikan Nadhira membuat para lelaki yang ada didesa tersebut tergila gila. Bukan Nadhira yang menggoda mereka, akan tetapi mereka sendiri yang tertarik dengan sosok Nadhira. Oleh karena itu, adanya sebuah isu yang buruk mengenai Nadhira, dan para istri yang ada didesa itu tidak menyukai kehadiran dari ditempat itu.
"Pergi kamu dari desa ini! Hamil diluar nikah!"
"Apa mungkin anak itu adalah anak haram juga?"
"ANAKKU BUKAN ANAK HARAM! DIA MASIH MEMILIKI AYAH!" Bentak Nadhira yang tidak terima jika ucapan itu tertuju kepada anaknya.
"Lalu mana Ayahnya? Kau sendiri saja tidak bisa membuktikan kalo kau memang sudah menikah,"
"Kalau kalian tau siapa Ayahnya yang sebenarnya, kalian akan menyesal karena mengatakan hal seperti itu kepada anakku,"
"Halah jangan banyak omong kosong, pergi sekarang dari desa ini, dasar pembawa aib!"
Seorang wanita pun mendorong tubuh Nadhira dengan kerasnya, akan tetapi beruntunglah Siska yang dengan sigapnya memegangi tubuh Nadhira agar dia tidak jatuh. Bu Siti lalu berusaha untuk membukakan jalan untuk kedua anaknya pergi dari tempat itu, ditengah tengah kerumunan orang orang, mereka berjalan untuk pergi dari sana.
Nadhira dan keduanya pun langsung bergegas untuk pergi dari rumah itu, mereka tidak bisa berada diantara kerumunan karena Kinara kecil yang menangis dalam gendongan Nadhira saat ini. Nadhira berusaha untuk melindungi anaknya itu, dan tidak membiarkan anaknya kenapa kenapa.
Tempat itu begitu ramai sehingga membuat Kinara sangat terganggu saat ini, ditengah tengah ramainya penduduk desa, Kinara juga tengah menangis saat ini. Nadhira memeluk dengan erat anaknya itu, ia takut anaknya terkena tangan tangan penduduk yang tidak memiliki perasaan itu.
Ketiganya kini tengah menyusuri jalanan yang ada disana, Kinara saat ini sudah mulai tenang karena tidak ada lagi keributan disekitar. Nadhira pun menutupi wajahnya dengan kain yang ia gunakan untuk menggendongnya, agar anaknya tidak kesilauan karena cahaya matahari disiang yang terang benderang itu.
"Maafin aku ya Bu, Sis. Gara gara aku kalian harus kehilangan rumah kalian," Ucap Nadhira yang merasa bersalah.
"Ngak apa apa Nak, lagian rumah itu juga bukan milik kami sebenarnya. Itu milik mertuaku, dan pasti anak anaknya bakalan mengambil alih rumah itu sekarang, karena itu milik mereka, jadi kami tidak memiliki hak untuk disana," Jelas Bu Siti kepada Nadhira.
"Kita cari tempat berteduh ya, Bu. Kinara pasti haus sekarang,"
"Didepan ada halte, kita berteduh disana dulu untuk beberapa saat,"
__ADS_1
"Iya Bu,"
Mereka pun telah sampai ditempat yang mereka tunjuk sebelumnya, Nadhira lalu menutupkan jilbab panjang ditubuh anaknya itu untuk memberikan asi padanya. Udara memang terlihat sangat panas saat ini, hal itu membuat Nadhira beberapa kali mengusap peluh yang membasahi keningnya itu.